saya di sini lagi.
starbucks soekarno hatta. menunggu pesawat menuju rumah di bali.
semalam sampai hari ini, duduk di starbucks airport ini, sedikitnya ada 50 manusia baru yang ditemui. dari supir taxi sampai manusia penggede.
sejak semalam, sampai hari ini, ada 10 job baru yang masuk ke kepala. dari tanah seukuran 20 are sampai tanah seukuran 100 hektar!. amazing!.dari batas site berupa gedung kaca menjulang tinggi, sampai batas site gunung dan lembah serta air terjun alami. dari pengalaman berkendara dengan silver bird, mobil klien sampai private heli. makan makanan ikan bakar kelas hotel arya duta sampai twister KFC. dari manusia manusia intelektual berkeliaran di sekeliling site, sampai manusia manusia yang memasak nasinya di tanah kebunnya dengan bara arang dan panci berpantat hitam legam. dari kuping yang disuguhi oleh suara deru mesin mersedes bens dan obrolan tentang bursa efek sampai desiran angin yang membuat dedaunan pinus bergerincing menyapu. dari mereka yang berjas berdasi dan berblazer dengan aroma badan dari parfum channel sampai mereka yang bertelanjang dada dengan jari tangan menebal karena setiap hari dipakai untuk memecah bebatuan dan ketiaknya menebar bau keringat kusam. hari yang luar biasa beragam.

arsitektur adalah laku. di sana terjadi segala macam pertemuan. minggu minggu ini banyak kejadian menyadarkan saya kembali, tentang berarsitektur. tentang mimpi mimpi berarsitektur yang seharusnya musti dan musti ke arah yang lebih baik, sampai pertempuran yang menemukan kegagalan dalam berproses. arsitektur adalah sekumpulan laku, di mana hari ini berkata a, mungkin semenit kemudian bisa berubah menjadi z. arsitektur adalah masalah peri laku, dan waktu adalah perubah yang selalu, dan selalu hadir.

beberapa hari lalu, saya sempatkan menelusuk desa tenganan dauh tukad. dauh artinya barat dan tukad artinya sungai. tenganan di bali ada dua. yang pertama bernama tenganan pegringsingan, berkulit asli bali. darahnya berisi asli darah bali, tiada percampuran dengan darah lain. mereka ada sejak bali ada. yang ke dua, tenganan dauh tukad. darahnya telah bercampur dengan hindhu majapahit. adat istiadatnya hampir sama dengan tenganan pegringsingan, tetapi mereka sedikit mentwistnya sehingga cocok dengan darah campuran. menusuk desa tenganan dauh tukad yang menjorok ke semak semak perbukitan, menyadarkan saya akan pentingnya nature bagi arsitektur ini. matahari hanya direalisasikan sebagai bayang bayang pohon besar. lukisan cahayanya berupa warna gelap yang menempel di jalan tanah ataupun aspal. saya masuk ke desa itu seperti masuk ke terowongan pohon. ada seorang bule sedang berlari pagi bertelanjang dada, napasnya stabil menghirup udara natural tenganan. saya mengendarai mobil membelah jalanan itu dan merasa malu karena kendaraan ini telah menyumbangkan CO2nya di tengah tengah alaminya udara tenganan dauh tukad. setelah sekian lama menelusuk rerimbunan pohon dan lukisan cahaya, ruang terbuka menyambut kedatangan deru mesin menuju desa ini. kecil mungil dan beratap alang alang, sedikit telah memakai genteng. kawasan tenganan, sampai hari ini cuman secuil bidang yang memakan kehijauan keseluruhan. kawasan tenganan adalah secuil waktu yang mampu bertahan dengan sedikit perubahan.

hari ini saya terbang melintas karawaci menuju pinggiran bogor dengan private heli. dasar orang udik, berkelana di atas kota itu dengan mesin mini, membuat kepala saya pusing dan perut mual. keringat dingin membasahi tengkuk. sebuah ciri bahwa kehidupan seperti ini tak layak untuk dicerna setiap saat. ini yang ke sekian kali kami dijemput dengan private heli dan terbang menuju site. menatap ke arah bawah, bertebaran kawasan hunian, genting genting rumah atap penduduk, bertebaran bak karpet menutupi sekian hektar kawasan jakarta. ruang ruang yang telah menyulap kawasan hijau menjadi pemukiman. perbandingan warna oranye genting vs hijau rumput yang demikian menakjubkan. bagaimana perkembangan di bawah sana memperlihatkan arsitektur sebuah laku, dan perubahan adalah sebuah keharusan, termasuk perubahan ruang hijau menjadi oranyenya genting.

arsitektur, di mana tubuh adalah sebuah kantong laku. berbicara tentang laku, di setiap tubuh selalu saja dijumpai sebuah laku yang beranekaragaman. dan keanekaragaman adalah sebuah penghormatan terhadap “waktu”.

Popularity: 4% [?]