hari ini selasa,

dan kebetulan tilem, di adat hindhu.

artinya bulan lagi mens, lagi haids.

tak bersinar dan gelap, mungkin juga bhatara kala menelannya lagi, seperti bulan-bulan lalu.

bunyi mesin pengebor beton dan pemotong batu masih menemani, suaranya menggema dari balik dinding tetangga.

ntah hingga kapan.

baru saja duduk di ruang kerja, menatapi master plan keliki yang sudah saya garuk dan tempel, stipo. gunting lagi, tempel lagi. stipo lagi dan begitu seterusnya.

lembaran lembaran kertas ukiuran a4 bertebaran berisikan email dari si anu dan si itu.

sekali lagi tentang pulpen, spidol, cat minyak, mobil-mobilan, penggaris dan lain sebagainya yang menebar kesunyian. menatapi saya tetapi bisu.

setumpuk surat lamaran yang bernasib tragis, menyudut malu tanpa dosa. dibuang sayang, dibiarkan bikin penuh meja.

bulan purnama dan tilem, datang bergantian dalam sebulan.

jaraknya lima belas hari satu sama lain.

langit mendung,

awan menebal.

tadi kaca mobil tua saya berjerawat titik titik air menempel, jatuh dari langit seberang sana.

saya melongok keluar liwat jendela mobil busuk koreng itu, kenapa masih saja alam ini basah?.

*

saya ingat adik adik saya.

kami bersaudara empat.

saya anak tertua.

lahir dari lobang vagina yang sama.

seterusnya, ada yang jadi arsitek.

ada yang jadi desianer grafis,

jadi tukang elektro.

jadi penggemar hukum.

kami semua sudah bekerja.

saya memikir satu hal, satu lobang vagina, satu darah, menyusu pada satu panyudara dan makan dari satu dapur dan didanai dari satu dompet untuk bersekolah.

nasib membuat kita beda di lahan hidup kini.

lucu?

ndak!.

*

ada orang mengambil pekerjaan buruh bangunan,

hidupnya bisa berkecukupan.

ada orang berdagang bakso, bisa hidup sambil kipas-kipas.

ada orang yang berjualan kemaluan di pinggir malam, bisa juga menenteng perabotan keren.

ada yang diberi kehidupan yang mudah, tapi seterusnya masih saja menggali ke sana ke sini membabi buta tanpa henti. lupa arti dan makna syukur.

ada orang kerjanya tiduran doang, hidupnya mewah banget.

ada orang yang memeras darah, pontang panting hidup, kerja ini dan narik itu, tetap saja terjungkal.

punya ambisi, semangat dan kekuatan yang tak terhingga, tetap saja di area dengkul.

ada orang yang kerjanya tiduran doang, hidup mewah tapi melihat sirik bagaimana hidup si tukang bakso yang bisa hidup berkecukupan itu,
ada orang marah marah melihat bagaimana si lonte bisa hidup menenteng perabotan mewah karena dirinya sudah pontang panting mencari sesuap nasi.

lucu?

kagak!.

*

ada banyak aturan hidup.

ada banyak rambu hidup,

seperti banyaknya rambu rambu jalan yang dipasang dari ujung gang kecil becek hingga ke jalanan tol beraspal hotmik mulus.

kenyataannya masih saja ada banyak hidup yang celaka,

masih saja banyak kehidupan yang melanggar dan hidup tentram.

masih banyak yang mengikuti rambu-rambu jalanan, hidupnya masih seposisi mata kaki.

jadi mikir,

bahagia itu diukur dari mana sih?

taatnya menjalankan rambu hidup?.

oh ya?.
*

ntah kenapa bunyi mesin pemotong batu dan pembongkar beton berhenti.

saya merasa berada di puncak gunung,

hanya mendengar suara burung, desiran angin yang meraba kulit dan gerakan awan yang membuat sinar mentari bisa masuk menerangi ruangan kerja saya.

mungkin mereka, para pekerja itu, mengerti bahwa hari ini tilem.

puasa bikin keributan dulu.

waktunya melirik jati diri.

bahwa bahagia itu terkadang didapat juga dari hal-hal becek, dari hal-hal miring dan jorok,

yang jarang ada orang mau mengerti karena mungkin tahu saking seremnya jikalau melanggar aturan main.

(jadi mikir, kenapa lotus banyak dijadikan contoh; ada hidup yang begitu cemerlang dan bersih dari area yang berlumpur gitu?)

titik.

Popularity: 2% [?]