tetangga.
ini tentang tetangga sebelah.
mungkin saya agak kasar.
tapi, kasar saya sudah ndak bisa saya tahan.
facade rumah saya yang bagian belakang,
di suatu waktu terganggu oleh sampah bekas rumah.
tetangga di belakang, selesai membangun rumahnya.
nampak bagus.
kata majalah ibu kota; minimalis.
saban saya liwat di depan rumahnya, di belakang rumah saya,
saat pagi pagi bersepeda ke kantor, tumpukan kayu bekas dan kusen serta tangga kayu menyender di tembok pagar.
memang benar facade rumah saya kumuh.
memang benar tembok pagar saya berlapis seng bekas yang sudah porak poranda.
dan sekali lagi,
memang benar kemudian tembok pagar saya nampak jorok.
karena saya mendisainnya dengan akal sehat.
dengan pikiran mapan.
dan dengan perut penuh setiap saat.
dan,
saat saban hari saban pagi saya liwat di belakang rumah saya untuk ngantor,
perut saya mendadak sakit.
mules tak ketulung.
melihat facade rumah tembok belakang kini menempel penyakit kanker.
penyakit hasil olahan tetangga belakang rumah.
sampah bangunannya tergeletak menempel di facade rumah belakang.
ini mengganggu mata saya.
saya biarkan.
mungkin ini hanya sementara.
….
seminggu berlalu.
sampah bangunan itu masih tetap memeluk tembok seng saya.
mata saya memar.
….
malam berganti pagi.
pagi beranjak malam.
sore berlalu mengganti kegiatan.
sampah itu masih menempel dengan senang hati.
hati saya galau.
….
pagi itu,
saya berkendara membonceng istri.
liwat di belakang rumah.
dari jauh, mata sudah berubah seketika menjadi rabun senja.
dongkol saya sudah sebesar ban truck tronton.
sampah bangunan ini masih saja memeluk tembok.
saya hanya berlalu.
sambil memperhatikan rumah yang baru saja selesai.
kami bepergian di pagi itu.
membeli lauk pauk untuk ganjalan perut.
berdua saja, anak anak di rumah bermain crayon dan buku gambar.
saat kembali dari warung,
ada beberapa orang yang berada di depan rumah baru itu.
hati saya begitu ceria.
seperti penyanyi cheerybelle dengan gayanya yang aduhai.
saya berhenti di depan mereka.
saya turun dari motor.
istri saya kaku.
wajahnya tegang.
“maap, siapa yang punya sampah bangunan ini?”, saya bertanya pada mereka.
“saya pak, kenapa ya?”, salah satu dari mereka menjawab.
“bisa dipindah?, mengotori rumah saya”, saya tanya.
“oh gitu ya?”, ia menjawab lagi.
“tolong dipindah sekarang. kalau tidak saya akan pindah dan taruh di lobang mulut kamu!”, saya tak kuat menahan emosi.
mereka terdiam. mangut mangut.
“anda bisa membuat lingkungan bersih ndak?”, saya tanya.
“baik pak..baik..akan saya pindah. sekarang ya…”, ia menjawab.
motor saya starter.
kami berlalu.
sepuluh menit kemudian. lorong biasanya saya lalui untuk bersepeda ke kantor telah bersih dari sampah bangunan.
facade tembok pagar saya, kembali normal seperti keinginan saya.
….
di malam hari di kamar 4 seasons hangzhou.
saya di sms istri.
isinya keluhan.
“busyet…tetangga di depan berkaraoke dengan volume tinggi jam segini ini…!”
saya lihat jam di atas meja.
22.00.
gila habis!

Popularity: 1% [?]