(tulisan ini dipakai untuk me reply tulisan sonny sutanto di forum AMI sekitar bulan September 2006)
membaca “fee” pada “aji memasukan angin rejeki pada lontar kuno feng krkrkrk chuiihh”

sembari menunggu ada workshop bertemakan jurus membuat fee dan menghadapi klien dengan nara sumber P.S.S, Sp PDS Yg. Krt. Ab., ( pinisepuh sonny sutanto, sepuh perguruan danau suter yang keramat abis!), saya memberikan gladi kotornya,
mohon maap kalau terlalu konyol.

saya membaca beberapa lontar lama tentang “fee” dan cara menghadapi klien,
di muat pada kitab lama sebelum jaman belanda, lontarnya agak kusam berjudul
“feng krkrkrk chuiihh..” di karang oleh vincentius lol abis.
dan saya sudah terapkan, ternyata ada hasilnya.
di sana tertulis dengan bahasa preman dan saya menerjemahkannya dengan
sekian kamus bahasa yang ada.

1. krlskhdye6379943ujhdsmqs-00 23892753462892md]] [p][][ow

iwqjnqjoplasjjeu

ysabnnbajiqijqnnbqq11““`..,
plwmn wfvsjhsnsjhjwnnwi128181818181==

==—-===+++))999(90–

artinya :
*buat mereka yang ingin berprofesi sebagai arsitek dengan berjalan sendiri,
memulainya dari saat ia tamat sekolah arsitek sungguh amatlah susah ia untuk
“di-bau-i” oleh khalayak ramai. mengingat ia melemparkan secuil “bau” di
pasar yang sedemikian luasnya yang telah dipenuhi oleh sekian “bau” yang
telah meramaikan pasar” *

saya jelaskan lagi dari arti tersebut di atas,
ada sekian ego yang nantinya hadir ke permukaan saat tamatan arsitek ini
lepas kandang. bagi mereka yang telah diterima di firm arsitek setidaknya
mereka telah “i m a half there” lah. tetapi lain halnya buat mereka yang
memulainya sendiri di garasi. memasarkan “product” mereka musti dari door to
door (seperti pedagang asong cilik di pilem “monster house”), dari telinga
ke telinga. dan jujur saja, klien pertama mereka pastilah si paman, atau si
kakak atau si teman mereka sendiri. pada kasus ini, harga desain menjadi
sesuatu yang berada di posisi “tawar yang lemah”, bak kita belanja di pasar
rakyat. semuanya musti tawar menawar dulu dan tak bisa berpatokan sesuai
dengan “harga di mall” (what you see what you got!).
pada proses seperti ini, arsitek pemula musti memandang hasil karya yang
diberikanya nantinya akan layak untuk ditinggali, bukan memikirkan uang yang
ia dapat dari job itu musti bisa dipakai untuk membeli sebuah mersedez
bens!. karena apa? karena pada proses awal ini, ia berada pada keadaan
dimana ia “menebar maut”. kali aja, hasil karyanya bisa membuat kliennya
puas dan “maut” pun akan berhembus dari mulut ke mulut dari telinga ke
telinga.
ada kejadian yang pasti selalu terjadi saat ia berdiskusi dengan klein.
“ah mahal amat sih, segini doang kok mahal, saya juga bisa gambar!”
kata kata seperti itu pastilah akan selalu muncul buat mereka yang “walk
alone on the street”.
saya mengibaratkan kalau seorang wanita datang ke kamar hotel saya. dia
mempreteli pakiannya satu persatu. akan beda kalau ia langsung tampil bugil
all out di depan mata karena saya pasti bilang, “ah..body lu sama dengan si
miss world, ndak ada beda! ngapain saya musti bayar mahal!”
itu trik saya agar saya bisa membayar ia lebih murah tetapi hasil maximal!
he he
ingatlah, bahwa arsitektur ibarat sebuah cerita pilem. gambar yang
merangkainya juga ibarat cerita pilem. kalau kita lihat di cineplek sana,
cuman poster doang yang nongol duluan.
begitu juga kalau berhadapan dengan klein.
saat pertama bertemu klien, hendaklah si arsitek pemula membawa “poster
pilem” doang. ibarat wanita yang baru melepaskan kancing bajunya dua biji
aja. itu aja cudah cukup.
kalau klien “terangsang”, baru bicara “rupiah”. ingat, jangan membuat
situasi semakin keruh saat klein berusaha menawar. flexible aja dulu dengan
harga, karena arsitek pemula belum setaraf sir norman foster.
jangan pernah membawa gambar yang “all out” saat pertemuan pertama, sisakan
sedikit buat “jeda”.
“yang sisakan sedikit buat jeda” kemudian musti direalisasikan sebagai
permainan kata kata saat pertemuan pertama tadi.
kalau ridwan kamil bilang, “kekuatan komunikasi” musti ada di tiap arsitek.
nah “kekuatan komunikasi” ini lah yang dipakai untuk menjelaskan segala
sesuatu yang belum terlihat di gambar yang baru sebatas “poster pilem” ini,
agar kita tahu arah pembicaraan kita dengan klien, berlanjut atau stop
sampai di sini!.
jangan pernah meninggalkan gambar di klien, kalaupun terpaksa karena ia
ngotot, toh tuh gambar baru sebatas “poster pilem”, jiwanya masih kita yang
pegang.
kekuatan gambar yang baru berupa “poster pilem”, yang amat memegang peranan
penting adalah kekuatan sketsa tangan. maka, latihlah kekuatan sketsa yang
amat sangat berguna pada tahap ini.
kembali ke kekuatan komunikasi tadi, arsitek pemula musti bisa menjelaskan
bahwa arsitektur bisa membuat hidup orang banyak ke arah perubahan yang
lebih baik. kalau arsitek tak mampu menjelaskan hal ini, maka ia akan
menjadi bahan olok olok klien. ada banyak orang awam yang telah banyak
merasakan ruang di sana sini. pengalaman meruangnya malah lebih banyak
ketimbang si arsitek yang 5 tahun belajar meruang di kampus. tentu tugas si
arsitek (pemula) adalah “menguncup” kan pengalaman meruang yang diperoleh si
orang awam ini agar tertata lebih baik.

2. ))*&^%$131262gdhd273872187

932032++<MMKLJKJGH%%4~~~

~~+|||??><L++))**&JKHjkMLKOJlmskaoowiu

ieujhjsduuyrtwgw55454282hsxdnjdm,,,,..,[[[[[[

artinya:
*buat mereka yang ingin berprofesi sebagai arsitek, salah satu yang mungkin
dibilang cepat menemukan jati diri adalah dengan bergabung dengan firm
konsultan arsitek (yang besar)”*
**
saya jelaskan di sini,
kalau kita hendak berdagang nasi goreng, di jalan kecil sekitar rumah maka
pelanggan yang akan datang bisa dihitung dengan jari dan tetap hanya mereka
saja yang akan mengenal. lain halnya kalau kita berdagang nasi goreng dengan
menyewa salah satu ruang di mall besar.
mereka yang telah berhasil masuk dalam sebuah firm arsitek, mereka punya
kans kuat untuk “membuat jaringan”. kalau bisa, isaplah ilmu sekuat dan
selama mungkin jika telah berada di tempat ini.
ibarat kita kembali ke masa pendidikan di kampus, maximal 5 tahun baru bisa
dikatakan lulus kuliah. kalau si arsitek pemula hobinya selalu berpindah
pindah firm maka jati dirinya juga akan lama terbentuk.
keuntungan lain kalau kita masuk di kelompok ini, bahwa desain yang
dihasilkan nantinya ternyata lebih bagus didapat dari banyak kepala. lebih
banyak kepala yang terlibat akan membuat proses desain semakin mantap.
belajar bagaimana membuat sesuatu lebih baik dan baik melalui kritik orang
lain.
kalau kita bekerja sendiri, kritik itu hanya datang dari seorang klien.
mengisap ilmu pada firm besar juga kita bisa tahu “harga mall”.
selepas mengisap ilmu di firm ini, anda bisa menaruh harga layaknya harga
yang tercantum di mall, karena posisinya kini telah berada di “menikmati
maut” bukan menebar maut. jaringannya elah terbentuk.
minimum arsitek ini telah bekerja dengan firm besar selama 10 tahun tanpa
loncat loncat ke hati lainnya!-kata sonny sutanto.

3. msio**&__+?><::”ll;mmlklsijasl;

apiuwt24251618@@@$$%#^&*(&^%$()_

+?>:””””:>..////<Lmjkmnxjjsnwiwoldfndysw[w

[w[w[mm,2238bbbb

artinya :
*perlakukanlah klien anda sebagai sesuatu yang amat exclusive*

saya musti jelaskan disini,
buatlah klien kita berpikir bahwa kita, arsitek yang disewanya, hanya
bekerja untuk dirinya. exclusive hanya buat dia. jangan pernah kita bilang
bahwa kita amat sangat sibuk dengan jadwal kita sampai sampai kita musti
mencari cari jadwal agar bisa melayani. sementara klien kita telah berteriak
teriak untuk sebuah pertemuan.
semua detail yang kita buat, hanya exclusive buat dirinya dan tak bakalan
ditemukan di pekerjaan kita di proyek lain, even, bagaimana ia menaruh
sandal! musti beda dengan bagaimana klien yang lainya menaruh sandal.

semoga berguna, sebelum mendapat kesempatan bertatap muka dengan sonny yang
sutanto di workshop harapan nanti.

salam,
putu-arsitek yang tak akan membuat “firm sendiri”
di himpun dari berbagai halaman di lontar kuno “fengh krkrkrk chuiiih” dan
tambahan dari beberapa primbon serta obrolan sesama arsitek berambut pirang.

Popularity: 2% [?]