_DSC5626

ntahlah, selagi kepala mumet, selalu saja ada kejadian yang membuat saya tersenyum. bahkan mungkin, terpingkal pingkal.
ada saja yang menghibur saya, bahwa dalam kepenatan pikiran, solusinya cuman satu; tersenyumlah!.

di suatu siang saat saya keluar dari rumah seng saya, hendak pulang ke rumah.
ada sepasang suami istri, dengan kendaraan honda supranya menyambangi rumah.
mereka berhenti sesaat saya keluar dari pagar rumah.
mata mereka, suami istri itu, memperkosa facade rumah seng saya.
sesekali, mulutnya komat kamit berucap pelan satu sama lainnya.
sang istri tersenyum, menutup mulutnya. matanya masih ke sana ke mari memperhatikan bangunan.
mata sang suami, tak berkedip. bergerak ke sana ke mari. mulutnya tertahan, hendak tertawa. tak seperti istrinya yang bisa tertawa lepas.

“pak yang punya rumah ini?”, sang istri bertanya.
“iya”, saya menjawabnya. kini saya mendekat.
mereka tak pernah lepas untuk memandangi rumah saya.
“saya ada di belakang rumah bapak, sedang bangun rumah juga”, sang istri berkata.
saya mangut mangut.
“seumur umur, pak, saya tak pernah lihat rumah kayak gini!”, sang istri berujar.
mulutnya kini tertawa lebar.
sang suami berusaha menahan tawa.
“saya sudah 30 tahunan, bahkan ada tetangga di belakang bilang ia sudah enam puluh tahun hidup, baru sekali ini lihat rumah kayak gini!”, sang istri kembali tertawa lebar.
saya mangut mangut.
kemudian tersenyum menyambut tawa sang istri.
“berapa tembok kaca itu pak?”, sang istri bertanya.
telunjuknya mengarah ke pagar glass-block.
“ah..itu, ibu musti beli satu biji glass block. trus dipasang satu satu”, saya menjelaskan.
“berapa habis pak?”, si ibu bertanya lagi.
“sebiji sekitar selawe”,
“selawe?, apa itu?”, si ibu bertanya lagi.
“dua lima”, sang suami menjawab. berusaha menjelaskan.
si ibu mangut mangut.
“kalau saya ya pak, hidup cuman sekali nih, kalau mau buat rumah, maka rumah saya musti mewah!”, si ibu berkata sambil tertawa lebar.
“bapak mungkin sudah bosan dengan kemewahan ya?”, dia bertanya lagi.
saya tertawa ngakak. terpingkal pingkal.
ada ada saja siang ini.
tangan si ibu kembali mengarah ke besi tua berbentuk usus meliuk liuk, “dapat dari mana itu pak?”,
“anu bu, saya nyarinya ke rumah rumah pemulung. nyari barang bekas. ada banyak kini di rumah saya. ada banyak juga yang belum terpasang”, saya menjelaskan.
mereka mangut mangut.
“nanti tampaknya sudah begini saja pak?”, si ibu bertanya lagi.
“ah..masih ada yang nambah bu, nantilah itu”, saya menjawabnya.
mereka mangut mangut.

sejenak saya lupa akan kepenatan.
siang yang panas membawa sebuah berkah; tersenyum lebar.

di sore hari, di hari yang sama.
saya menyirami tanaman yang bergelantung di dinding. bergelantung di tong oli.
kendaraan roda dua supra dengan suami istri lainnya, datang mendekat.
mereka memperhatikan dengan seksama.
berhenti di samping seorang tukang.
mereka bercakap.
saya tak ikut bergabung. hanya mendengar.
sesekali mereka tersenyum. saya tetap bermain dengan air.
hari yang indah, penuh hiburan dengan hal hal sederhana.
hari yang indah, penat terasa hilang sejenak.

mungkin lebih baik tersenyum menghadapi segala hal, ketimbang mangut mangut.

Popularity: 2% [?]