Sanur

bensley-design-studios-bali.jpg

pada tahun 2002, di salah satu bulannya, saat saya sedang makan siang di puncak bogor bersama salah seorang klien, yang saat itu selain dia menjalankan businessnya di indonesia, juga menjadi seorang duta besar salah satu negara di luar sana, tilpun saya berdering nyaring, “kriiiiiiiiiiiiiiiinngggggg!”.
boss menilpun, ntah dari tempat mana.
“lagi ngapain tu?”,
“sedang makan siang bersama mr. ………, saya sedang di bogor di sitenya. ada beberapa yang musti dibicarakan dan di revisi”,
“ada problem ndak?”,
kami bercakap panjang lebar tentang proyek ini. saya di bogor, si boss di awan. saya tertawa di bogor. si boss tertawa di awan.
saya bercakap di bogor, dia menjawab dari balik awan.
bhumi dan awan begitu dekat. tak bersekat tak berbatas.
adakah manusia kini berani menyekat semua bagian dalam arsitektur?.
sementara sang klien yang tetap duduk di kursinya tetap sibuk dengan makanannya. mulutnya full dengan makanan mewah kelas atas.
udara bogor begitu sejuknya. suara alam yang begitu akrab dengan suasana desa saya nun jauh di sana.
“putu, kartu nama anda telah kelar, dan di bawah nama anda saya tulis “director”. saya ingin anda sekarang bertanggung jawab dengan studio kita di sanur. anda musti menandatangani semua surat resmi, meng-kontrol semua uang datang dan uang keluar. tolong take care LAH”, suaranya berharap dari jauh.
saya menatap awan, berlari menuju tempat yang lebih lapang agar saya bisa menerawang bebas ke langit yang cerah di bogor. siapa tahu dia ada di sana.
kosong.

tahun 2002, bli wayan susila telah mundur dari sanur. karena kesibukannya dengan job job private yang datang ke arahnya, beliau memutuskan untuk membuat studionya sendiri di lukluk. wayan juga mempunyai reason reason tertentu kenapa musti mundur.
orang ini adalah cikal bakal studio bensley di sanur. dia ada saat bensley pertama kali menapaki bali. memulai studio dengan tempat yang kecil di pantai sanur sana di tahun 1990. berkembang dan berkembang. sampai akhirnya studio yang dipinggir pantai diboyong ke arah desa bet ngandang sanur yang jauh dari pantai dan terpencil menelisik desa sanur. karena kepala kepala di studio semakin bertambah, karena tempat musti mampu menampung. studio diboyong ke pedalaman sanur. kebun yang luas dan jauh dari deru ombak dan mesin mobil.
sunyi.

saya datang ke studio ini bulan april 1996.
lolos dari puluhan pelamar.
bapak saya saat itu mewanti wanti agar saya cepat bekerja. “jangan memikirkan berapa duit gaji yang musti dibayar oleh kantor”, begitu katanya.
“bapak malu, punya anak sarjana kagak bekerja!”, katanya lagi.
saat itu, saya sibuk mengotak atik motor tua. sibuk dengan oli. sibuk dengan gerombolan anak muda yang berhobi aneh, meraung raung dijalanan dengan mesin tua dengan aksesori kendaraan yang aneh!
sibuk pulang pergi bengkel.
sementara uang masih minta ke bapak.
memalukan!

setamat kuliah, saya pergi ke ambon. ada lowongan fresh graduated untuk tamatan arsitek di ambon. saya melamar. saya ingin jauh dari keramaian. pergi ke timur.
sepi.
seminggu di sana hanya membuat pintuk kusen. hanya merenovasi bagunan sekolah. hanya memperbaiki tangga. menggambar jendela.
tak akan membuat saya menjadi arsitek. begitu pongah berpikir di tempat sepi.
kepongahan otak fresh graduated yang merasa dirinya tamat dari sekolah arsitek publik ternama, begitu kuat ada di otak saya. pekerjaan beginian, bukan buat saya!. saya ingin pekerjaan yang lebih gede!. mungkin begitu rasa pongah ini berkata pada diri dan pada ambon saat itu. mau gede kok ke timur?.
arsitek fresh graduated itupun memutuskan pergi.
saya pergi meninggalkan ambon.
menyisakan rasa pongah dan sombong di mata ambon.
pemuda yang sedang mencari jati diri.
berandal!.

saya bertemu popo danes di denpasar.
saya melamar ke situ. dia memanggil.
dan sekali lagi saya amat sombong. maklum, merasa diri tamat dari luar bali.
merasa diri tamatan hebat!.
“maap, gaji saya tak bisa turun. saya minta segitu amat”, saya PD banget. sombong banget.
popo melepas si anak sombong.
saya berlalu. seakan jalan yang saya tapaki keluar sudionya popo mengejek saya, “lu tahu apa tentang arsitektur wahai bayi sombong?”.

di depan rumah, bapak menunggu.
“bagaimana?”, tanyanya.
“ndak tahu”, saya kembali bergumul dengan oli dan mesin.
bapak kecewa.

april 1996 itu, pagi pagi saya datang ke sanur diantar bapak. sebelum masuk ruangan untuk di-interogasi, bapak berpesan, “pokoke terima saja berapa duit yang akan mereka berikan. aku ingin kamu bekerja!, itu saja”.
“bagaimana?”, kata bapak saat saya keluar ruangan.
“ndak tahu!”.
kami meninggalkan sanur. studio itu begitu asri. penuh rerindangan. bangunannya berstyle bali. tersembunyi di balik semak semak. ternaungi oleh pepohonan. hijau.

siang hari, tilpun berdering, “kriiiinnngggg!”,
orang di balik tilpun mengabarkan bahwa saya diterima bekerja di sanur.
bapak tak bisa tidur selama sebulan saking happynya!.
kini saya memulai hari dengan bangun pagi dan bermain titik, garis dan ruang.

awal awal tahun di sanur, begitu nerakanya. membuat saya shock. pulang malam, pulang pagi. jarang bertemu rekan rekan motor tua. saya terasing dari motor tua.
sibuk dengan pekerjaan. tapi saya merasa begitu nyaman. menikmati situasi ini.
sampai di titik jenuh, setan datang ke telinga kanan dan kiri.
merasa pekerjaan lanskap di sanur bukanlah hal yang saya cari.
saya ingin pergi!.
arsitektur adalah building. bukan kebun.
otak pongah saya kembali membisikkan kata setan di telinga.
otak saya dicuci oleh kehebatan gehry, libeskind, hadid. mereka menggarap building. mereka menggarap arsitektur. bukan kebun. bukan landskap!. maap. saya musti pergi!.
karena arsitektur menurut saya adalah bermain building!.

bli ketut, senior saya di sanur waktu itu, menasehati, untuk bisa meluangkan waktu untuk pergi ke site. ikut dia. sekedar untuk membuat otak lapang. mata lapang untuk melihat kedalaman mengertikan arsitektur. agar ndak mendifine arsitektur terlalu dangkal.
saya berkelahi dengan diri. berkelahi dengan emosi diri. berusaha menikmati sudut lain arsitektur. berusaha mengertikan pepohonan. bergaul dengan rerumputan. mengertikan frangifani. bersetubuh dengan textur perdu, menikmati indahnya warna bunga dan dedaunan.
belajar grading plan yang membuat otak saya berpacu dengan angka angka untuk mengkondosikan lahan luas dengan ketinggian tiap titik lahan.
dididik mencuci dengan lokalitas. mencuci dengan detail detail kecil. bangga dengan pekerjaan kecil. memasak dengan hal hal yang ndak typical. memikirkan segala sesuatu dari kecil sampai besar. belajar untuk selalu tampil beda.
bertemu bill bensley sendiri. diskusi dengannya. dia memberikan ilmu ilmu gaibnya yang tak pernah saya dengar. tak pernah saya baca. tak pernah didapat dari sekolah manapun.
dibisiki teori teori aneh yang membuat saya tercengang.
diajak melihat site. bertemu banyak orang. bertemu banyak warna dan keringat. dikenalkan dengan pesawat terbang. diajarkan ber-emosi dengan bijak. diajarkan bercakap dengan manusia kaya. diajarkan makan dengan sumpit. diajarkan bagaimana kita meludah.. diajarkan bagaimana kita hidup dengan orang tua. diajarkan tentang arsitektur dari sisi gelap. diajarkan untuk menerima arsitek pelamar dari wanita, laki, tuli, buta, homo, lesbi. diajarkan tentang pluralitas.

bill bensley menemukan sisi gelap tangan saya yang belum diterangi. diberi fasilitas untuk memanfaatkan kemampuan saya di sisi itu. diberikan kebebasan untuk ber-ekpresi dalam mendisain. diberi pengertian bahwa kita tidak bisa bergerak tanpa orang lain. diberikan pengertian bahwa arsitektur itu begitu kompleksnya. diberikan pengertian bahwa kekuatan kekayaan indonesia untuk DNA disain arsitektur begitu banyaknya, begitu kuatnya. tergantung kita sendiri yang punya ambisi atau tidak untuk memasaknya.

tahun 2002, kami hanya bertiga, maksud saya cuman ada 3 arsitek dan 3 proyek. karena tahun sebelumnya ada 8-10 arsitek. mereka keluar. mereka membangun kerja sendiri. kami bisa hidup dengan proyek proyek itu. ntah di studio bangkok. saya yakin, mereka punya sekian puluh job di sana.

kini, saya memandang arsitektur dengan bijak, dengan mata luas lapang. dengan telinga luas lapang terbuka. arsitek di sanur telah berkembang ke angka lebih dari 30 kepala. proyek di angka lebih dari 30 job di 10 negara. saya tak merasa studio ini besar. saya hanya ingin memandangnya dengan bijak bahwa besar dan kecil punya kelebihan dan kekurangan sendiri.
tak ada yang sempurna dalam arsitektur, temasuk apa yang ada di studio sanur.karena dimanapun kita berada, dipekerjaan apapun kita geluti, selalu ada “pembanding”.
saat apa yang kita punya dirasa belum klop saat dilihat dari sisi apa yang didapat oleh sang “pembanding”, maka kita akan melihat apa yang kita punya adalah hal yang neraka!.
karena kita berpendapat mustinya kita bisa seperti mereka.
dan mustinya, istri saya (atau suami saya?), bisa lebih hot seperti istri mereka (atau suami mereka…..).

ada satu “pembanding” bagi studio sanur. hanya satu. bukan studio anda. bukan studionya ando. tapi studio kami di bangkok. sanur musti bisa berdiri sama tinggi dengan studio bangkok. itu saja.

ohhhh…sanur!

kini, bangkok dan sanur tak hanya mendisain dengan menanam rumput saja. kami mengecor beton building dan memperkaya ruangan dengan furniture all hand made.

gerak gerik kami di arsitektur telah demikian komplit dengan kehadiran kami di semua bagian dalam arsitektur itu sendiri.

semakin komplit dan porak poranda dengan kehadiran arsitektur arsitektur muda nusantara di sanur dengan bekal imu pengetahuan yang didapatnya di masing masing sekolah mereka. mewarnai hingar bingar warna yang dulunya telah ada.

ada ruang gajah yang dimana mas andika, mas dwi, mas dito, mbak dita, mas toro, mabka ratih, mamah riris, mas arief, mbak brian, mas alva, mas agung, bapak dewa yang selalu menginginkan gajah gajah mereka tetap dalam keadaan dingin dengan selalu menutup pintu ruangan.

di lain ruang, ruang window yang diisi oleh asitektur heranisvari, arsitektur dely si tangan tuhan, arsitektur sujay, arsitektur unggul beriringan dengan ruang anjing yang digauli oleh mbak jamilah, mbak meylan, mbak mente, mas oryza, mas rosy dan mas rahardi.

ruang sperma di sisi lain yang selalu ramai oleh gosip gosip jalanan, di penuhi oleh kepala kepala: WW, mas ando, mbak rini si sexy!, mas sasta dan mas nanda si feminis.

ruang ikan di pojokan rumah, diramaikan oleh arsitektur peny si pendiam, mas oka, mas godel si gemuk tubuh dan si hitam cenik.

YOU ARE ALL OUR SUPER STARS!

mereka menghabiskan waktu siang dan malam. gelap dan terang. thick and thin di sanur tanpa tahu berita acara di tipi. bermain basket ball di redupnya mentari. berburu obyek fotography dengan berbolos kerja. menonton beramai ramai di galeria 21 sehingga ruangan theater menjadi ruang kerja bensley. dan memanggang ikan di pantai jimbaran.

pesan saya cuman selembar kata, “jangan mengedepankan egoisitas teori, buka mata buka telinga. buka hati. arsitek yang baik adalah dimana mulut, otak dan tangan berjalan harmoni”

banyak orang bertanya, “kapan punya warung sendiri?”,

profesor josef prijotomo dan profesor gunawan tjahjono sempet menelisik kuping saya, juga tentang pertanyaan itu.

sanur bukan warungku, tetapi sanur adalah warung kami. mari berbagi bersama, besar bersama. berarsitektur bersama.

ada satu pertanyaan kepada beliau, profesor profesor itu, “pak profesor, kapan punya sekolah sendiri?”

ohhhhh….sanur!, ada ada saja.

Popularity: 17% [?]

3 Responses to “Sanur”

  1. PESAN ARSITEK YG TELAH TERCERAHKAN « ARSITEKTUR DWIJENDRA
    February 8th, 2010 at 11:23 pm

    […] SUMBER: klik disini […]

  2. dede
    September 26th, 2012 at 7:37 am

    Selamat malam bli putu, saya benar-benar merasa down ketika membaca blog bli putu.. 1 sisi saya sangat ingin menjadi arsitek dengan penuh karya, disisi lain saya sangat merasa bodoh dan sangat tak berilmu.
    mohon maaf sebelumnya saya belum memperkenalkan diri, saya dede seorang sarjana linglung yang tak tahu harus membawa dirinya kemana. terus terang saya sarjana yang tamat tahun 2010 dan hingga saat ini bekerja dengan pekerjaan yang tidak pasti arahnya. bekerja sebagai drafter dan sudah 2 kali menjadi kutu loncat di 2 perusahaan berbeda. parahnya lagi, saya semakin merasa rendah diri, karena ilmu yang saya dapatkan, di tempat kerja, benar-benar belum dapat saya serap dengan baik.
    Maaf jika sebelumnya saya curhat dengan bli putu, tapi saya benar-benar ingin menjadi seorang arsitek. menjadi anak pertama yang bisa dibanggakan dengan hasil karyanya.. mohon bli putu memberi pencerahan, dimana tempat sebaiknya saya melamar kerja, agar mendapat ilmu dengan senior yang baik dan mau sharing dengan juniornya. suksma tyang ucapkan.. dan semoga tulisan saya tidak mengotori blog bli putu.

  3. p.m.
    September 26th, 2012 at 9:38 am

    om dede, kalau saya mau sukses sebagai pencuri, saya gaul dg pencuri. kalau saya mau sukses bermain uang, mungkin saya lebih baik gaul dg pialang. kalau saya ingin tahu politik, saya main dg orang partai. intinya, kita musti masuk di tempat yg tepat di waktu yg tepat pula. kalau anda sudah masuk tapi belum menemukan apa-apa, jawabannya beragam; belum tepat tempat, belum tepat waktu, bertemu orang salah, bersabar dulu atau lihat ke dalam? maksud saya adalah melihat kemampuan diri. keberhasilan bukan dinilai dari satu titik. banyak faktor. tapi saya selalu memakai satu alat ukur; hati. kalau sudah suka, tabrak saja. jangan melakukan hal yg tidak anda sukai. salam dari rumah seng, putu mahendra

Leave a reply