tulisan ini diemail ke saya malam ini, oleh profesor josef prijotomo. saya tak menyangka beliau akan menulis tentang apa yang kini saya buat dan belum kelar betul. ibarat bayi, saya merangkak agar bisa menyelesaikan rumah kami di tahun depan. jadi apa yang beliau tulis, baru sebatas apa yang beliau lihat melalui beberapa photo yang saya kirim beberapa minggu lalu. tahun depan saat kelar, saya akan undang beliau untuk melihat dari dekat. semoga beliau semakin merah menilainya.

_DSC3840

dengan lokasi di lingkungan kumuh, Ongky menghadirkan rumahnya yang dia namakan ‘rumah kumuh saya’. Dalam mata awam, rumah ongky memang ikut kumuh. Betapa tidak, seng gelombang bekas dijadikan pagar rumah dan juga dinding bangunan; lalu di sana sini dipasang pot berisi tanaman asli, bukan tanaman plastic. Ada yang ditaruh di tonjolan dinding ada pula yang digantung dari jorokan atap. Warna dan tekstur yang berpangkal dari batamerah dan seng gelombang yang di sana-sini telah berkarat mempermantap kekumuhan, sekali lagi kalau dilihat dengan menggunakan kacamata awam.

_DSC3841

Bagi kacamata orang yang umurnya telah tinggal empat tahun lagi untuk pension sebagai pegawai  negeri, itu sih bukan rumah kumuh. Itu sih rumah yang meng-kumuh, arsitektur yang meng-kumuh. Awalan ‘meng-‘ dalam bahasa Indonesia memiliki kesaktian yang seampuh senjata cakra Sang Kresna. Awalan itu menyatakan bahwa ada kejadian yang dengan sengaja dan sadar dilakukan agar dapat menyerupai sesuatu yang lain. Sebuah metafora. Hahahahahaha, Ongky bermetafora!. Bravo Ky. Ukuran bangunan yang tak bisa disembunyikan atau ditipu sehingga kelihatan menjadi kecil dan ‘kruntelan’ [maaf Ky, bahasa Jawa, aku belum ketemu bahasa Indonesianya apa, apalagi bahasa Balinya] adalah salah satu pertimbanganku untuk mengatakan bahwa rumah Ongky itu rumah yang meng-kumuh. Bangunan berukuran besar yang kumuh memang ada, tapi bukan rumah; gudang atau pabrik yang sudah tak digunakan adalah contohnya. Tapi, ya mana mungkin sosok bangunan rumah Ongky ini membuat kita teringat pada gudang dan pabrik yang telah tak terawat. Warna yang memerah [saya sebaiknya menyebut oranye memerah, dan warna ini sepenuhnya saya angkat dari foto yang saya terima, bukan dari pengamatan saya, Ongky belum mengajak saya ke rumah kumuh-nya, lho] dan cenderung ‘ngejreng’ rasanya ikut membantu menjadikan rumah ini tampil sebagai bangunan yang berukuran besar.

_DSC3842

Sebagai sosok yang tak mau diikat, yang merdeka, juga sebagai sosok yang lebih mengedepankan ‘ini aku’,.rumah Ongky juga telah berkata sama, tidak diikat oleh aturan sebuah rumah itu mestinya seperti ini atau seperti itu dalam tampilan maupun dalam langgam/style-nya. Karena itu, meski dalam sosok (shape) banyak mengesankan kemodernan dalam langgam bangunannya, namun itu hanya sebatas sosok, sebatas sebuah munculan yang samar-samar, tak ubahnya dengan samarnya sesuatu yang ada di kejauhan. Warna merah-bata yang memang lazim bagi tampilan yang mem-Bali juga digarap oleh Ongky untuk hanya menghadirkan diri di kejauhan, sama jauhnya dengan kemodernan.langgam dari bangunan ini.

_DSC3850

Aaah, Ongky bukanlah orang bebas yang samasekali bebas. Dia masih mengikat-dirinya dengan bersetia dan berbakti pada orangtuanya; dia masih setia dan mencintai istri dan anak-anaknya; dia juga masih Bali, Bali dan Bali, Karena itulah dia masih menuliskan PUTU MAHENDRA di KTP dan SIM, dan nama itu pula yang pasti dia tulis di formulir pendaftaran menjadi anggota IAI (putu ; aduh..maap prof., sampai hari ini masalah ini belum kelar. saya sudah mendapat 2 referensi, tapi saya lupa saya taruh di mana form itu. seingat saya, saya sudah taruh di meja, tapi ndak tahu kok hilang. mungkin saya sudah pindahkan, tapi pindah ke mana?. ada yang bisa bantu saya?, otak saya sudah full…).

_DSC3897Kalau sudah beradu bicara dengan dia, dengan segera akan hilanglah Ongky yang tanpa ciri, mengedepanlah Putu yang terlalu sulit untuk mengubah lidahnya dalam melafal ‘t’ sebagai ‘t’, dia masih melafalnya sebagai ‘th’ [lalu, ‘batuk’ menjadi ‘bathuk’, padahal dalam bahasa Jawa, bathuk itu adalah jidat]. Rumah meng-kumuh ini adalah rumah Bali, rumah Putu Mahendra, bukan rumah Ongky! Dalam arsitektur Bali-Nusantara, sebidang tembok yang berwarna merah bata tidak dibiarkan hadir begitu saja, tanpa ada apa-apa. Tembok ini pasti bersolek, dihias dengan menghadirkan patra ini dan patra itu. Ada penghiasan yang menjadikan hiasan itu sebagai emphasis atau artikulasi, dan karena itu lalu semacam pernak-pernik pada tembok. Lalu ada yang ekstrim seperti banyak kita jumpai di Gianyar, dinding tembok menjadi lenyap tertimpa oleh persolekan. Dedaunan, bunga atau/dan satwa adalah ukiran yang dihadirkan pada tembok tadi. Hiasan di Bali-Nusantara adalah dedaunan, bungaan atau satwa yang dibatakan, diparaskan, dibekukan, hiasan ini menggambarkan dedaunan, bebungaan atau satwa. Bli Putu Mahendra bisa saja tidak sadar, dia telah membalikan rumahnya dengan hiasan berupa dedaunan dan bebungaan. Di rumah Putu Mahendra ini, bebungaan dan dedaunan tidak lagi diberi kedudukan sebagai ‘hiasan yang menggambarkan’ tetapi sebagai dirinya sendiri, sebagai daun dan bunga seasli-aslinya, senyata-nyatanya. Kalau dalam Bali-Nusantara dedaunan dan bebungaan adalah metafora, di rumah Putu Mahendra bukan lagi metafora melainkan realita. Hehehe, jangan lupa, toh Ongky juga masih bermetafora dalam hal menghadirkan rumah Bali yang bersolek. Yang ini adalah di penyengkernya. Konstruksi dari pasangan bata adalah menumpuk dan menjejer.Penyengker rumah Putu Mahendra adalah seng gelombang yang ditumpuk (atas-bawah) dan dijejer (kiri-kanan).

_DSC3903

Lalu, tong yang dijadikan pot bunga dan digantung di jorokan atap, apa itu bukan penjor ya? Kalau penjor pakai janur, penjormu pakai tanaman pot. Tiupan angin akan membuat tong bunga ini bergoyang dan menari-nari, tak ubahnya penjor yang terbelai oleh angin yang semilir. Naah, pada tampang bangunan yang di bagian inilah ke-Bali-an mengkristal dengan kuat. Ciri Bali yang tampil dengan festive [apa bahasa Indnesianya, Bli, ceriah dan meriah?] tampil di tampang bagian ini. Rongga kosong di kiri lalu jadi sangat perlu dikasihani, tak punya kemampuan untuk ikut berbicara [tapi mungkin saja berbicara yakni: “betapapun kecil dan sempitnya kapling kamu, sisihkan sedikit untuk anak-cucumu” – hehe, salah satu pikiran dasar dari arsitek Putu Mahendra] Ya, kasihan arsitek Putu Mahendra, kepinginnya berkumuh ria, ternyata telah terperosok ke dalam ber-Bali raya.

_DSC3900

O, bukan rumah kumuh,

_DSC3895

tapi rumah meng-kumuh; bukan rumah tanpa jatidiri, tapi adalah rumah Bali.

(putu ; ahh…profesor, bisa ajah…)

j p

220809

Popularity: 12% [?]