(tulisan ini me reply posting zenin adrian dan miranti gumayana di milis forum AMI, agustus 30, 2006, setelah sebelumnya saya memposting judul yang sama ke milis tersebut)

saya bisa makan di warung made kuta, setelah saya mengalami sekian proses, sebuah perjuangan, salah satunya dengan bekerja dulu agar dapat rupiah baru bisa makan di warung tenar itu.
seorang pemulung yang selalu liwat di depan rumah saya, mengorek ngorek tong sampah mencari plastik bekas agar bisa mengais rupiah juga untuk bisa makan besok.
bagi kalangan yang mampu, mungkin hal itu ndak akan terjadi, prosesnya malah “dipersingkat”.
tetapi intinya adalah, kita bekerja dulu, agar bisa menikmati selanjutnya.
itulah hidup, yang menjadi hukum alam.
itulah ruang subjek, dimana kita diposisikan sebagai objek yang musti di”kerja”i untuk mendapatkan sesuatu hasil yang diinginkan.
kalau kita ibaratkan sedang melakukan persetubuhan, prosesnya ndak segampang membalikan tangan, ada sebuah proses (cium, belai, bisikan, menanggalkan baju satu persatu..dst, sampai ke orgasme!)
saya yakin, semuah mahkluk termasuk anda, pasti mengalaminya bukan?

selama ini,
yang terjadi dalam hasil desain adalah ruang telah tertata sedemikain rupa.
bagus!
dan kita masuk kedalamnya menikmatinya, berinteraksi, istilah kerennya, kita berinteraksi dengan ruang atau ruang berinteraksi dengan kita. kalau ndak ada interaksi ndak keren! atau kalau ndak nge-drug ndak gaul!
penikmatan ruang pun berhembus sampai kita bisa yakin bahwa ruang yang kita diami nyaman.
pada posisi seperti ini, kita berada di posisi “subjek” dan ruang itu berdada di predikat “objek”.

pernahkah menemukan sebuah ruang yang memaksa kita untuk melakukan sesuatu dulu sebelum bisa menikmatinya?
ibarat anda datang ke starbuck, memesan coffee late dan membayarnya di kasir tetapi kemudian anda disuruh membuat sendiri kopi yang anda pesan?
pernahkah menemukan sebuah ruang dining yang hanya berisi meja, dan satu kursi tetapi 3 kursi yang lain berada di tempat lain yang jaraknya ada yang 1m, 2m, dan yang ke 3 berada di meja lain dan anda datang ber-4, ruang yang berukuran 3×3 ini pun akhirnya memaksa anda untuk “bekerja” dulu mengumpulkan 3 meja yang terpencar tadi, agar anda bisa duduk bersama sama dengan rekan rekan anda?

pada perancangan sebuah ruang interior, fitness centre sebuah hotel di kawasan nusa dua bali, ada sebuah ruang yang disebut “changing room”.
di dalamnya ada ruang vanity, changing, toilet, shower, steam sauna.
di vanity, biasanya posisi faucet/keran air langsung ada di atas wash basinnya.
bagaimana halnya jikalau posisi wash basin berada sekian jengkal dari krannya?
para tamu musti berpikir dan bekerja dulu agar posisi kran dan wash basinnya berada tepat satu sama lainnya agar ia bisa mencuci tangannya.
selamat datang di ruang subjek!.
bahwa hidup musti bekerja, agar kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan!

salam,
putu di bali, sedang bekerja agar bisa menjadi arsitek yang lebih dan lebih baik.

Popularity: 4% [?]