(tulisan ini disumbangkan oleh tjahja tribinuka-dosen di ars. ITS surabaya, januari 1 lalu. baru kali ini saya posting dikarenakan oleh kesibukan yang luar biasa di sanur. mohon maap sebesar besarnya buat mas tjahja)

Banyak filsuf menterjemahkan arti ‘ruang arsitektur’, semua bisa berbeda sudut pandang. Plato menterjemahkan ‘ruang arsitektur’sebagai lingkungan sekeliling yang terpengaruhi manusia. Aristoteles menterjemahkan ‘ruang arsitektur’sebagai lingkungan sekeliling yang mempengaruhi manusia, Lao Tze menterjemahkan ‘ruang arsitektur’sebagai jeda ‘ketiadaan’ antara ‘pembatas dan isi’ yang ‘ada’, Einsten menterjemahkan ‘ruang arsitektur’dengan pemahaman relatifitas yang terpengaruhi waktu, Sephen Hawkins dengan ‘string theory’ sepertinya menterjemahkan ‘ruang arsitektur’ sebagai dampak dari pembatasnya. Masyarakat Nusantara menterjemahkan ‘ruang arsitektur’ dengan kesaktian prana rasa yang tidak ingin terbatasi ‘enclosure’ apapun.

gmb-h01.jpg
Gambar 1. Beda ruang Plato, Aristoteles, Lao Tze, Einsten, Stephen Hawkins dan ruang Nusantara

secara ringkas ‘ruang arsitektur’adalah jarak yang tercipta antara seorang individu dengan obyek disekelilingnya. Dalam psikologi lingkungan, ‘ruang arsitektur’ dipahami dnegan konsep bahwa seseorang memilliki ‘bubble keintiman’, sebuah ruang personal yang membatasi privasi manusia dengan manusia tak dikenal lain. ‘bubble’ ini dapat menyatu jika dua orang cukup dekat, bahkan lebih dari dua dan tiga orang-pun dapat terjadi satu ‘bubble’ keintiman. Besarnya ‘bubble’ keintiman antara pri adan wanita berbeda-beda.

‘Bubble’ keintiman ini sifatnya juga berlapis-lapis. Lapisan pertama adalah untuk diri sendiri dan suami/istri, lapis kedua untuk saudara, lapis ketiga untuk teman, dan seterusnya. Pemahaman ’bubble’ membuat orang dapat sukses mendesain ’ruang arsitektur’. Bagaimana dengan ’ruang nusantara’ ?

gmb-h02.jpg
Gambar 2. Analisis tentang ‘bubble’ keintiman secara umum

gmb-h03.jpg
Gambar 4. hubungan ’bubble’ keintiman dengan keinginan kekuasaan manusia secara umum

Ruang nusantara dipahami sebagi sebuah tempat (place). Masyarakat nusantara tidak suka dibatasi enclosure masif yang turut serta membatasi pikiran. Seluruh suara, udara, warna dan nuansa dari alam adalah hal yang perlu dinikmati. Dinding kayu atau batu akan selalu diselesaikan dengan desain bagi penciptaan ‘place’, bukan ‘space’. Lorong candi borobudur saat sepi pengunjung akan tetap terasa ramai dengan kehadiran patung dan relief manusia, tumbuhan serta hewan. Dinding kosong selalu diukir pola sulur tumbuhan dan berbagai makhluk hidup lain. dinding papan atau bambu selalu menyisakan celah yang dapat menggambarkan cuaca di luar bangunan. Meresapkan sedikit iklim di luar agar terakrabi ke dalam kulit.

Sebuah ruang modern yang clear and clean, jika diisi sebuah patung bali akan menjadi ‘place’ budaya Bali, jika diisi patung Toraja akan menjadi ‘place’ budaya Toraja, jika diisi patung Julius Caesar akan menjadi ‘place’ Itali, jika diisi patung Pharaoh akan menjadi ‘place’ Mesir. Begitu pentingnya ‘place’ daripada ‘space’, apalagi kalau isinya bukan patung, tapi manusia. Para penari bali yang sedang bersolek mempersiapkan acara spiritual, akan lebih pasti menjadikan ‘space’ sebagai ‘place’ budaya Bali.

gmb-h04.jpg
Gambar 5. ruang modern yang menjelma menjadi berbagai ‘place’

Begitulah upaya masyarakat nusantara meleburkan ‘enclosure’ dengan ‘space’ kemudian meng-gubah-nya dengan ‘activity’ sehingga menghasilkan ‘place’. Sebuah fenomena yang hangat akrab mendukung daya hidup manusia, mendukung tingginya budaya. Hampir tidak ada sesuatupun elemen ‘ruang’, baik pembatas maupun isinya yang tidak memiliki makna ganda, triple sampai makna kuarter. Sampai dengan alat pertanian-pun tidak hanya fungsi efektifnya untuk mencangkul, tapi juga makna dari kata ’cangkul’ beserta makna tiap-tiap elemen dari gagang kayu sampai mata besi cangkulnya. Semua makna mengarahkan manusia agar mensukuri dan mengingat Sang Pencipta.

gmb-h05.jpg
Gambar 6. Ruang ’Kolonial Belanda !’ dengan enclosure ”budak nusantara !”

Sudah barang tentu pembentukan ruang dari refleksi denah tidak akan berlaku pada masyarakat nusantara. Memberlakukan arsitektur seperti benda dua dimensional tak berjiwa adalah kehinaan yang harus dihindari setiap kalang dan undagi. Lihatlah bangunan Minang yag bentuknya membesar ke atas, untuk menggambar denahnya harus dengan pemerkosaan kenyataan proyeksi dengan menganggap bangunan itu tegak lurus ke bawah. Tidak bisa, benar-benar tidak bisa bagi kita nusantara, jika yang dihadirkan itu adalah ’space’, harus sebuah ’place’.

gmb-h06.jpg
Gambar 7. Berbagai material ’enclosure’ ruang Nusantara, tidak ingin terbaca sebagai ’pembatas’, dengan pengukiran dan celah yang menginspirasikan nalar alam ’luar ruang’ melalui mata. Adakah cara modern untuk mencapainya ?… jawab : amat banyak cara…

Bukan taman indah yang hanya bisa dilihat mata, tapi taman yang bisa ditapaki, disentuh dan menghasilkan buah pula. Bahkan taman berupa hamparan sawah dan subak itu lebih bisa diterima bagi nusantara. Ruang luar yang hidup dengan setiap petaninya, hidup dengan segenap perubahan nuansa hijau dan kuning saat panen. Ruang luar inilah yang lebih ’laku dieksport’.

Popularity: 15% [?]