sejak dulu,
rejeki sering nongol dalam bait bait doa.
komat kamit doa.
dalam hening malam.
pada megah ruangan tempat suci.
dan pada sanubari.
baik sanubari seorang lonte,
sanubari pekerja harian, dagang bakso, artis, boss, jongos hingga orang suci.
ia selalu nampak.
selalu diucap.
seperti sayur tanpa garam.
doa belum selesai diucap tanpa kata rejeki.
ntah tuhan nanti mengabulkan atau kagak,
itu urusan nanti.

rejeki dicari.
begitu diburu.
hingga mataharipun menyinari tiap jengkal tubuh bhumi ini,
agar pencari rejeki lebih mudah menemukan.
hingga malampun tiba, bulan membantu menelisik tiap pojok di mana rejeki berada.
kadang ia berada di tempat ramai,
kadang tersembunyi di semak belukar.
yang paling banyak, ia tak terlihat. tapi nyata.
kadang datang tiba tiba, tak diundang.
rejeki identik dengan kenikmatan.
manusia tak memasukkan sial dalam keluarga rejeki.
menurut saya ini aneh.
tapi ya sudahlah.
saking banyaknya pencari rejeki,
dan begitu susahnya bertemu dengannya,
rejeki ibarat vagina.
sudah letaknya tersembunyi,
“space” nya sempit.
tapi kalau sudah menemukannya,
orang selalu berucap lantang.
alhamdulillah.

Popularity: 1% [?]