diskusi dengan mbah petungan beberapa waktu silam….

menanggapi email rekan mbah petungan,
terima kasih atas penjelasan dan pencerahan. saya pikir, ndak terlalu panjang, tetapi begitu mengena.

gagasan tentang “tertindas” nya tamatan arsitektur menjalani profesi yang sebenarnya dan yang lainnya, bukan sekedar teori.
memang sah sah saja untuk mempertanyaken mengapa begitu lama, masyarakat, dan saya sendiri, mengasosiasikan pendidikan arsitektur nantinya bermuara ke profesi arsitek, bukan yang lainnya, dan selanjutnya penyimpangan akan profesi ini adalah sebuah dosa. seharusnya saya melihat, bagaimana asosiasi ini tercipta dan tidak menyimpulkan secara tergesa gesa bahwa tamat di arsitektur mustinya berprofesi sebagai arsitek, dan penyimpangan akan profesi ini adalah hal yang tekutuk! kesalahan yang lebih tertuju pada lembaga yang memperoduksi tamatan arsitektur ini. lebih dari itu, mustinya juga mempertanyaken mengapa sekarang saya begitu bersemangat menyalahkan diri sendiri bahwa dulu saya menganggapnya dosa? liku liku mana yang membawa saya tiba pada kesimpulan “bersalah” terhadap argument seperti ini? dan liku liku mana yang membawa peradaban kita pada situasi yang aneh, yaitu berkata pada diri sendiri dan khalayak ramai bahwa pengertian insinyur seperti terjelaskan pada email embah petungan, sudah terjadi sejak lama sekali jamannya londo londoan dan akhirnya di “sebut” tidak dosa saat pengertian insinyur atau (yang saya maksudken arsitek, yang lebih tinggi derajatnya ketimbang seorang tukang) bergeser.
bagaimana pergeseran tersebut? yang kemudian dengan berlagak membebaskan diri dari kodrat “menjadi” di luar arsitek adalah bukan dosa, justru telah mengarahkan pikiran saya akan kekeliruan historis yang besar di mana adalah sah hal itu terjadi karena memang pendidikan yang terjadi seperti itu adanya.
akan ada banyak orang yang kemudian berargumentasi bahwa jika dewasa ini begitu banyak orang menegaskan pernyataan seperti itu, sebanya tiada lain persepesi itu memang nyata secara historis.

dari tulisan saya di atas, saya mengungkapkan beberapa keberatan :
pertama, apakah pendidikan arsitektur yang baru bisa sebatas mencetak sarjana, dan sah jika tamatannya berprofesi sebagai maklar mobil, memang menjadi kenyataan historis?
kedua, apakah mekanisme kekuasaan pendidikan arsitektur yang telah berakar seperti itu, seperti yang terungkap di milis mbah, esensinya bersipat represif? apakah merupakan hal yang tabu, pantangan, jika kemudian lembaga kampus arsitektur tak bisa di salah ken?

dengan dua keberatan saya tadi, saya tidak bermaksud untuk mengata ken bahwa penyimpangan profesi tamatan arsitektur tidak di cemooh di masyarakat, sebaliknya malah menguntungkan pihak pencari kerja (dan juga kampus produsen tamatan itu, setidaknya, tamatannya ndak menganggur!). saya juga tidak bermaksud mengatakan masyarakat begitu toleran.
maka masalah utama, paling tidak awalnya, bukanlah mengetahui apakah kita setuju akan “untouchable” nya kampus akan kasus ini, sahnya penyimpangan profesi tamatan ini, apakah penympangan profesi tamatan arsitektur ini adalah haram atau halal, atau saya harus menyatakan penyimpangan ini adalah hal yang amat penting atau yang remeh dampaknya bagi mbah atau kampus atau rekan rekan lainnya, MELAINKAN masalahnya bahwa memperimbangken kenyataan bahwa penyimpangan tamatan arsitektur, pendidikan arsitektur yang terjadi yang mbah sebutkan tadi, DIWACANAKAN. singkat kata, masalahnya adalah seluruh wacana tadi, seluruh “pewacanaannya”.
jangan salah kira, bahwa penyimpangan ini (tidak pernah) dilarang.
atau bisa saya bilang, selama ini kampus arsitektur adalah telah melakukan kebohongan publik atas pendapat publik?

salam,

ongki-the great perfectionist+controversional man, flight MH 751 kualalumpur-denpasar, business class always. yang kini telah menyentuh profesi arsitek secara profesional

On 6/9/06, josef prijotomo <petungan@megatruh.co.id> wrote:

sudah sejak pertengahan abad 18, sekolah arsitektur terpilah menjadi dua jenis yakni ecole d’architecture dan ecole polytechnique. Ecole d’architecture bisa saja berada di dalam ecole des arts. Kedua sekolah itulah yang menjadi cikal bakal dari sarjana dan insinyur. Insinyur itu aslinya engineer = tukang/pandai mesin (tukang batu, pandai besi dan
sebagainya). Jadi, insinyur itu sekolah yang menekankan praktek, dan karena itu lulusannya adalah ‘tukang’ atau ‘pandai’. Jangan dimengerti dalam konotasi merendahkan seperti yang berlangsung saat ini, di mana insinyur menganggap dirinya lebih tinggi derajat dan kedudukannya daripada tukang,
tidak. Insinyur itu tukang yang lebih ahli atau lebih pandai dari tukang-batu atau pandai-besi. Oleh karena itu di jaman Belanda hingga akhir masa Orde Lama, ada sekolah STM-bangunan (sekolah teknik menengah) yang mencetak tenaga tukang, dan ada fakultas sipil dan bangunan yang mencetak insinyur. Sekali lagi, di sini insinyur itu tukang yang lebih ahli daripada tukang lulusan STM. Mengapa demikian, karena dalam jaman Belanda itu banyak diperlukan tenaga ahli di lapangan sebagai pelaksana pembangunan. Mereka yang ahli dalam keilmuan harus sekolah di Belanda. Sampai era Orde Lama kebutuhan akan ahli yang langsung terjun di lapangan masih berlanjut, dan karena itu lulusan fakultas sipil dan bangunan mendapat gelar insinyur.
Seperti di jaman Belanda, di jaman Orde Lama ini, fakultas sipil dan bangunan juga menerima lulusan SMA untuk dilatih dan diajar menjadi tukang yang ahli, menjadi insinyur.
Di era Orde Baru, lembaga/sekolahnya mengalami perubahan di mana lulusan sekolah STM itu dapat meningkatkan keahlian ketukangannya dengan menempuh program Diploma (D3, D4); dan dapat lebih mengahlikan diri dengan menempuh program Spesialis (Sp). Jikalau jalur pengajaran seperti ini dipadankan
dengan yang era Orde Lama, maka seharusnya para lulusan Diploma itulah yang berhak menyandang gelar insinyur, sedang lulusan Spesialis bisa saja dinamakan insinyur-spesialis. Tetapi tidak begitu yang terjadi. Para lulusan Diploma tidak menyandang sebutan/gelar insinyur.
Dalam jalur lain, ada yang namanya Fakultas dan Jurusan. Akan sangat tolol Orde Baru kalau menyamakan Fakultas dan Jurusan ini persis seperti program Diploma. Karena itu, fakultas dan jurusan dibebani tugas pengajaran untuk mencetak Sarjana. Sarjana lalu pasti bukan tukang; sarjana juga pasti buka insinyur. Sarjana juga bukan lagi ahli yang langsung terjun di lapangan!
Nah, sampai di sini, sarjana arsitektur, sarjana ekonomi, sarjana hokum menjadi satu paras/level: seseorang yang mendapat pengakuan sebagai memiliki PENGETAHUAN atas ilmu tertentu. Perhatikan, bukan memiliki KEAHLIAN BERPRAKTEK.
Sekarang, silakan tengok lagi ijazah anda masing-masing: tak ada yang menyebut insinyur, bukan? tetapi menyebut SARJANA TEKNIK (sayang, para sesepuh kita tidak memperjuangkan untuk menyabut SARJANA ARSITEKTUR). Nah,seorang ST tidak berbeda dari seorang SE atau SH, bisa bekerja di demikianbanyak bidang pekerjaan. Dan karena itu, seorang ST dari sekolah arsitekt bukan otomatis adalah arsitek! Lho kok begitu? Iya, karena arsitek itu seorang spesialis, dan karena itu hanya setelah menyelesaikan pengajaran dan pelatihan Spesialis berhak menyandang sebutan sebagai arsitek. Dan, pendidikan Spesialis itu sejajar dengan pendidikan Magister (S2).

Tukang Insinyur Insinyur Spesialis [ARSITEK]
STM ———-D3/D4———————-SP

Pelajar Sarjana Teknik Magister Doktor
SMA ——— Jurusan ——————-S2 ————-S3

Dengan gambaran seperti itu, seharusnya dan sepenuhnya benar kalau sekolah arsitektur itu tidak mencetak arsitek, dan selanjutnya, sangat bisa dibenarkan bila lulusannya terlalu sedikit yang jadi arsitek, bukan? Apaartinya, artinya adalah: jangan anda menyalahkan sekolah arsitektur kala tidak mencetak arsitek!

Kecelakaan Sejarah?
Sekolah arsitektur ITS didirikan tahun 1965. Pendirian sekolah arsitektur ini dilandasi oleh kenyataan akan terlalu sedikitnya ahli lapangan di bidang arsitektur, insinyur arsitektur. Oleh karena itu, sekolah ini dalam 10 tahun pertama mengkhususkan diri untuk mencetak insinyur, ahli di lapangan. Celakanya, perjalanan selanjutnya dari sekolah arsitektur ITS ini (demikian pula halnya dengan sebagian terbesar sekolah arsitektur di
Indonesia), tidak mau mengikuti struktur persekolahan yang memisahkan program Diploma dari program sarjana. Sekolah arsitektur ini melaksanakan pengajaran yang menjadi porsi dan hak dari program D3/D4, tetapi menyebut dirinya sebagai program S1, S2 dan S3. Akibatnya menjadi jelas: demikian
banyak lulusannya yang jadi bingung dan tidak tahu arah, sehingga menghasilkan NATO dan silang pendapat yang SAYANG SEKALI, hanya diramaikan oleh Putu dan Pranoto.

Jadi, arsitek, profesi, sarjana arsitektur, dan berbagai sebutan lainnya hanya mendatangkan kebingungan karena sekolah arsitektur sendiri tidak memberi kapling untuk menjelaskannya. Bahkan, lebih menyedihkan lagi, sekolah arsitektur masih terus meneriakkan dengan lantang bahwa sekolah ini “mendidik calon arsitek”! Sekolah arsitektur tidak mau melihat bahwa sarjana arsitektur berbeda dari insinyur ataupun arsitek. RUNYAM to,
keadaannya; apalagi kalau itu terjadi juga di sekolah arsitektur ITS. Sampai di sini, apakah sekolah arsitektur ITS boleh disalahkan? Kenapa tidak boleh, kalau memang salah, bukan?

Lhadalah, kalau dengan tulisan di atas wacana yang sekarang sedang bergairah itu lantas mandeg, itu namanya juga kecelakaan sejarah! Makanya, teruuuskan wacana.

embah petungan
(yang konsekuen dan konsisten dengan ijazah tahun 1976 yang menyebut: sarjana teknik, bukan arsitek dan bukan insinyur)

Popularity: 3% [?]