nasib saya ada di paris.
di hari itu,
saya terbang ke paris.
tak ada janji.
tak ada mimpi.
paris datang begitu saja.
tiket terpesan begitu saja.
dan akhirnya,
visa paris yang memerlukan waktu minimal sebulan,
datang juga ke pangkuan dalam 3 minggu lama.
sihir?
bukan.
….
pagi di paris.
udaranya membuat tubuh bergetar.
darah saya berubah berwarna pink.
warna anak muda.
wajah saya mengencang mulus.
wajah bayi.
tingkah laku saya gemericik.
wajah dora si explorer!.
saya menjadi anak anak tulen.
paris,
seperti sebagian orang,
adalah segalanya.
ia telah menyuntikkan pesan di bongkol pantat saya,
bahwa nasib memang tak ada yang tahu.
just follows your heart’s beat!
then you will know what will be happened.
….
memandangi wajah paris,
didindingi oleh tembok tua setua pohon kepuh di kuburan desa saya,
membawa mata saya menerawangi manusia manusia di tahun tua,
akan kebisaan mereka.
akan keterampilan mereka. yang kemudian membuat paris meraja-lela.
sama terampilnya dengan manusia manusia yang mendirikan borobudur.
sama terampilnya akan kebisaan manusia bali yang mencipta tari kecak.
manusia dicipta dengan keberagaman kebisaan,
untuk suatu tempat dan waktu tertentu.
….
saya tak punya uang banyak,
untuk bepergian hingga ke kota paris.
pun tak pernah menyangka ada nasib untuk singgah di sini.
yang saya punya hanya satu;
harta.
harta yang bukan berbentuk duik.
emas berlian atau mobil mewah, pun tanah sekian hektar luas.
harta saya cuma satu;
kebisaan, keterampilan.
dengan ini, saya bisa ke mana mana.
termasuk membangun arsitektur bagi manusia manusia itu.
sama halnya dengan manusia manusia yang membangun arsitektur lama yang saya pandangi di kota paris.
kalau dilirik dengan uang, saya manusia begitu kecil mrengil.
kalau ditilik dari kebisaan dan keterampilan,
saya ingin sebagai raksasa buto ijo!.
mari raih dan jaga harta anda yang sebenarnya!
yyiiuuuukkkk…
Popularity: 1% [?]
Leave a reply