bolak balik saya pergi.
melihat mock up di seberang sana.
diskusi ini dan itu,
bersama klien dari pagi hingga siang.
sampai suatu ketika,
kami dikeluarkan dari proyek.

saya hanya nyengir.
seperti kuda malu.
seumur-umur, belum pernah mendengar berita studio di mana saya kerja, diberhentikan dengan hormat oleh sang klien.
namanya cerita,
memang tak selalu musti berakhir bagus.
tapi kadangkala,
diberhentikan dari proyek itupun, bisa dianggap bagus pula.
dari suatu sudut tertentu.
sama sama menemukan maknanya.

Popularity: 70% [?]



POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 6 Feb 2013
  • 0 Comments


  • Email

    sekitar 4-5 tahun lalu,
    saya lupa.
    boss saya menilpun.
    dia sedang…ntah di mana.
    saya sedang menyetir kendaraan.
    datang dari singaraja dan sekitar 2 kilo lagi menuju rumah saya di denpasar.
    saya sendirian saja saat itu.
    mobil mobil lalu lalang.
    hari sudah redup.
    manusia manusia hilir mudik dengan kesibukan dan kebutuhan mereka di luar sana
    kami bercakap.
    dan saya bilang bahwa saya sedang menyetir, walau saya menyanggupi untuk tetap berbicara sambil menyetir.
    kami tetap bercakap. tertawa. tak ada yang serius.
    karena saya pikir percakapan akan semakin lama,
    akhirnya saya menepi.
    di depan ada trotoar yg rata dengan jalan.
    bukan trotoar mungkin tepatnya.
    tepatnya semacam jembatan kecil terbuat dari beton penutup got yg selebar 1.5m.
    ia menghubungkan aspal dengan halaman pertokoan di mana circle K berada.
    mobil melaju pelan.
    stir saya banting pelan ke kiri.
    lampu reting saya on-kan.
    saya masih berbicara dengan ia yang ada di seberang sana.
    tanpa saya sadari, ban depan kiri mobil saya masuk lobang.
    “gdubrak..!”.
    ternyata ada lobang di sana!
    di jembatan kecil beton itu.
    mobil saya tak bisa bergerak.
    ia terperosok!.
    “oh..fuck!”, saya berujar tak sadar.
    “what’s up?”, si boss bertanya.
    “mobil saya terperosok, ban kirinya masuk lobang got”, saya jawab.
    hp masih menempel di kuping.
    ia berpindah dari kuping kanan ke kuping kiri.
    dari kuping kiri ke kuping kanan.
    dari kuping kanan berpindah lagi ke kuping kiri.
    keadaan panik sedikit, karena tak tahu musti bagaimana.
    akhirnya, percakapan terhenti.
    tinggal saya sendiri di dalam mobil, berpikir keras musti bagaimana.
    lihat di sekeliling.
    mobil mobil lalu lalang.
    orang orang berseliweran.
    tak ada yang kelihatannya utk menepi dan membantu.
    saya keluar kabin.
    melihat ban kiri yang anjlok ke lobang got.
    ntah dari mana,
    datang orang orang.
    tampilannya sepertinya seperti kuli bangunan.
    mereka membantu saya kemudian.
    tanpa diberi ancang ancang. ada yang mengambil balok kayu.
    ada yang kemudian mendorong mobil yang akhirnya ban mobil saya bisa terangkat dan kembali ke posisi aman.
    saya berterima kasih atas bantuan mereka.
    saya beri beberapa uang.
    saya lupa berapa jumlahnya.
    hati saya lega.
    mereka tersenyum lapang.
    saya juga tersenyum lapang. hari benar benar redup dan gelap.
    mobil beranjak pelan menuju rumah.
    sekitar 4-5 tahun lalu.
    saya lupa tepatnya.
    ….
    ….
    ….
    seminggu lalu,
    suatu sore yang akan beranjak gelap.
    sepulang dari kantor.
    motor saya melaju pelan.
    tepat di mana mobil saya dulu anjlok bannya.
    ada sebuah mobil mengalami hal serupa.
    edannya lagi, jenis mobilnya sama dengan mobil saya.
    beda warna doang.
    pengemudinya seorang ibu ibu.
    nampak anak kecil sedang ada di luar mobil.
    ia menangis.
    mungkin syok.
    satu pria berkaos putih sedang berusaha menolong.
    cuma satu pria berkaos putih itu saja.
    mobil mobil lain tetap berlalu lalang.
    motor motor berlalu lalang juga.
    angin pun sepertinya tak menghiraukan.
    saya melintas.
    mata saya melihat kejadian itu.
    motor tetap berjalan.
    pikiran saya menerawang ke masa lalu.
    ntah pikiran sedang menerawang, saya berpikir pendek;
    jalan saja. tak usah berhenti untuk menolong.
    ntah pikiran sedang lurus, keinginan utk membantu pun datang.
    tapi, motor tetap berlalu.
    sambil berlalu, saya merasakan bagaimana rasanya berada di kejadian seperti itu.
    sejauh 30m berlalu, akhirnya saya berhenti.
    saya menoleh ke belakang.
    pemuda berkaos putih itupun masih sigap menolong.
    ia berpindah pindah tempat. dari pintu depan ke pintu belakang. sambil mendorong-dorong.  keringatnya menepi. membasahi tubuhnya.
    cumak satu orang itu yang sedemikian sibuk berusaha utk mengeluarkan mobil itu dari anjloknya ban di lubang di trotoar.
    motor saya berhenti.
    mata saya memperhatikkan.
    otak saya terbelah dua; menolong atau pulang saja.
    sejauh 30m dari kejadian, saya termangu.
    dalam termangu, di tempat kejadian itu mendadak turun hujan sederas derasnya.
    motor motor menepi.
    pengemudinya mengambil jas hujan.
    dan hati sayapun berbisik bahwa memang sudah tak bisa menolong karena sudah hujan yang sedemikian derasnya di tempat kejadian.
    dan di tempat di mana saya berhenti, dunia masih kering kerontang. tak ada hujan secuilpun.
    saya masih tetap termangu.
    kenapa di sana basah kuyup, sementara di tempat di mana saya berhenti masih kering kerontang.
    jarak cuma selebar daun pisang!.
    saya masih tetap termangu.
    melihat mobil yang terperosok itu.
    melihat satu orang berkaos putih tetap berusaha menolong mengeluarkan bannya.
    melihat satu sosok anak kecil yang masih menangis.
    melihat seorang ibu yang masih memegang stir.
    tak saya sadari,
    motor saya gerakkan menuju kejadian.
    kemudian, motor saya parkir.
    hujan berhenti seketika.
    nyala sinar matahari yang lambat laun mulai redup dihadang hujan deras tadi, kini mulai muncul lagi.
    terus terang, saya masih bingung dengan cerita sore itu dengan kejadian kejadian itu.
    saya menghampiri pemuda berkaos putih itu.
    kami bercakap.
    ntah dari mana, sekian pemuda lain datang.
    dari tampilannya, mereka seperti kuli bangunan.
    sama persis dengan siapa siapa yang telah menolong saya beberapa tahun lalu di tempat yang sama.
    kami mendorong mobil.
    3 orang mengangkat ban depan kiri yang anjlok.
    beberapa orang mendorong dari belakang.
    saya kebagian mendorong dari pintu belakang bagian kiri.
    si ibu menghidupkan mesinnya dan menggas mobil dengan pelan.
    pemuda berkaos putih mendorong dari dinding mobil bagian kanan.
    si anak kecil tadi nampak sumringah.
    ban mobilpun mampu keluar dari lobang itu.
    kami tersenyum.
    si ibu tersenyum.
    si anak kecil sudah tak menangis lagi.
    saya menyelinap keluar dari kerumunan itu setelah segalanya nampak selesai.
    kemudian berlalu menuju toko kecil yang menjual mainan.
    beberapa menit kemudian setelah saya keluar dari toko mainan itu, tempat di mana mobil itu terperosok, telah sepi.
    pemuda berkaos putih telah lenyap.
    pemuda pemuda dengan tampilan kuli bangunan telah sirna.
    si anak kecil yang menangis itupun telah tak ada di tempat.
    saya menyeberang jalan.
    tangan kanan saya menenteng tas kresek hitam berisikan 3 mobil mainan.
    motor saya starter.
    mesinya menderu halus.
    saya pulang ke rumah.
    sore yang beranjak gelap.
    di minggu lalu itu.
    ….
    saya hanya bisa termangu.

    Popularity: 34% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 28 Jan 2013
  • 1 Comment


  • Email

    oleh Josef Prijotomo

     

    Tidak cukup jelas, bagaimanakah penginggrisan dari ruang bersama itu. Mengapa diinggriskan? Terutama adalah karena sumber yang kita percaya masih yang bahasa Inggris itu. Kita masih malas dan mentololkan diri untuk mengetahui arsitektur dengan berpikir kritis, kita lebih nikmat untuk langsung saja mengunyah dan menelan yang dari bahasa Inggris itu. Public space ataukah common space sebagai penginggrisannya? Di situ kita berhadapan dengan sebidang lahan yang tidak diisi dengan sesuatu bangunan, terletak di tengah-tengah lingkungan yang serba bangunan, sehingga bangunan yang berkeliling itu bagaikan dinding dari public space dan common space itu. Tentu, lingkungan dimana bidang lahan itu berletak adalah sebuah town atau bisa pula city (kita masih tolol, mengindonesiakan keduanya dengan kata ’kota’). Apakah di desa tidak kita temui space seperti itu? Pustaka mengenai Eropa nampaknya tidak menyertakan space itu dalam lingkungan desa (maklum, desa bukan wilayah garap yang memikat bagi para ilmuwan arsitektur dan tata kota)

     

    Mengapa tetap ditulis sebagai space, dan bukan ruang? Bahasa Indonesia memiliki ruang dan ruangan. Sungguh tolol kita jikalau keduanya dianggap sama. Mengapa kita tolol, semata-mata karena kita telah mendapat pengesahan sebagai ahli dan sarjana di bidang arsitektur, sedang space adalah salah satu unsur dasar bagi adanya arsitektur. Tidak, keduanya tidak sama, walaupun keduanya diinggriskan dengan cukup satu kata saja, yakni space. Sekarang, kalau space itu kita batasi menjadi ruang saja, maka Prijotomo dan Widyarta telah melontarkan keraguan ada-tidaknya pikiran dan konsep tentang ruang sebagaimana Eropa memilikinya, dan bersumberkan pada Plato. Dalam pandangan Prijotomo dan Widyarta[1], ruang yang dimaksud oleh Plato serta diikuti dengan setia oleh arsitektur Eropa itu adalah ruang yang banyak berkaitan dengan keterlihatan, dan karena itu ruang dikatakan sebagai intangible: ruang sebagai yang ada tetapi tidak terlihat. Dengan menunjuk pada Serat Kandhaning Ringgit Purwa, Prijotomo dan Widyarta menunjuk kentut Semar sebagai asal-usul ruang (kalau Jawa memang mengenal ruang). Mengapa kentut, karena dia tidak terlihat tapi ada. Kentut adalah ruang yang diyakini adanya karena bau dan/atau bunyinya. Jadi, kalau Jawa dianggap memiliki konsep mengenai ruang, maka ruang itu adalah ada yang berkait dengan bunyi dan/atau bau, bukan penglihatan.  Karena tidak terkaitkan pada penglihatan, maka ruang Jawa tak dapat dikatakan sebagai intangible. Ringkas kata, adanya ruang di arsitektur Nusantara masih belum pasti dan meyakinkan adanya.

    Arsitektur Nusantara masih lebih menunjuk tempat (penginggrisannya adalah place) daripada ruang. Penggal demi penggal dan petak demi petak lahan maupun rongga di dalam serta di sekitar bangunan memiliki nama sendiri-sendiri, setiap petak memiliki tanda pengenal diri yang tetap. Demikianlah di jawa misalnya, ada pandhapa, pringgitan, dalem, senthong, gandhok, pagongan, sanggar pamujan, lumbung, pawon ataupun kulah. Dalam hal petak itu tanpa atap khususnya, lalu ada kebon, latar, karang atau pekarangan, oro-oro, alun-alun, bulakan atau bulak, dan sudah barang tentu ada pula lapangan. Di Madura ada tanean, di Bali ada natah, di Nusa tenggara Timur ada natas dan ada pula nata. Semua itu menunjuk pada space yang tanpa atap namun memiliki kekhasan dan kekhususan sehingga memiliki namanya sendiri-sendiri, sehingga lebih tepat bila dikatakan sebagai tempat, bukan space sebagai ruang maupun space sebagai ruangan. Tempat-tempat itu tidak terbatas hanya di nagari atau kutha, tetapi juga bisa ada di desa-desa; bisa berada dalam lingkungan hunian masing-masing, tetapi  ada yang berada di antara sekelompok bangunan. Bahkan bulak atau bulakan adalah tempat yang dikelilingi oleh tetumbuhan serta sangat lapang ukurannya.

    Begitulah tempat-tempat yang tanpa atap (‘terbuka’) yang dihadirkan dalam lingkungan bangunan (dikecualikan dari sini adalah bulak atau bulakan), dengan sengaja dihadirkan sehingga masyarakat bisa melakukan kontak sosial dan kemasyarakatan, agar masyarakat dapat memiliki kesadaran sebagai sebuah kebersamaan antar warga. Sebutan umum (generalisasi).yang paling memadaiuntuk itu adalah tempat bersama, bukan ruang bersama, bukan public space ataupun common space. .

    Tempat-tempat di Nusantara yang tersebutkan tadi masih harus memperoleh kepastian apakah merupakan milik bersama ataukah milik perorangan ataukah milik institusi pemerintah/negara? Di Jawa, alun-alun itu resminya adalah pelataran rumah raja, kraton, dan karena itu merupakan milik perorangan, dalam hal ini adalah raja. Akan tetapi, dengan perkenan dari raja maka alun-alun ini boleh digunakan oleh masyarakat dalam waktu-waktu yang tertentu saja. Sementara itu, ada sejumlah kegiatan dari pihak kraton yang pelaksanaannya juga mengambil tempat di alun-alun, dan karena itu masyarakat diberi perkenan untuk berperan serta. Tidaklah mengherankan bila sehari-harinya alun-alun ini merupakan tempat yang lapang dan senyap. Juga merupakan tempat yang dimiliki pribadi adalah natah di Bali serta tanean di Madura. Untuk Jawa, tempat yang seperti ini adalah latar atau pelataran serta pekarangan. Keadaannya akan lain dengan nata yang di Sumba Barat Daya ataupun Wae Rebo di Flores. Di sana, tempat itu merupakan milik warga serumpun keluarga besar, milik ‘kampung’. Nata lalu merupakan tempat bersama. Walaupun begitu, nata itu tidak dapat digunakan untuk semua kegiatan warga seperti misalnya untuk pasar malam atau panggung pertunjukan setingkat ludruk atau ketoprak. Untuk kegiatan seperti yang tersebutkan terakhir itu, tempatnya adalah pada sebidang lapangan yang berad di luar ‘kampung’. Di lapangan itu pula warga kampung bisa bermain layang-layang, anak-anak melakukan permainan anak, serta antar kampung melakukan kegiatan balap kuda (khususnya di Sumba). Pertanyaannya sekarang, lapangan seperti itu milik siapa? Meskipun pasti bukanlah milik perorangan akan tetapi belum tentu meruakan milik warga, melainkan milik desa atau milik kampung. Yang pasti, dengan adanya lapangan itu, kepemilikan tempat tanpa atap itu bukan lagi milik pribadi. Kepemilikan lalu ikut menjadi penciri dan penanda bagi adanya tempat-tempat tanpa atap yang berbeda.

    ‘Ruang Bersama’ lalu dipertanyakan: milik bersama ataukah bisa digunakan bersama-sama oleh semua warga? Letak dari ‘ruang’, siapa saja yang boleh menggunakan serta penggunaan yang macam manakah itu,  serta siapakah yang dengan sah merupakan pemiliknya adalah kata-kata kunci yang menjadi penentu bagi pencirian serta penamaan sesuatu tempat yang tanpa atap. Dengan berpegang pada kata kunci itulah kita mencari padanan yang paling jitu untuk public space atau common space. Jika ternyata yang bahasa inggris itu tidak mampu padan dengan yang bahasa Indonesia, lakukanlah pengindonesiaan menjadi public space = ruang publik atau common space = ruang bersama. Dengan pengindonesiaan seperti itulah kita tidak lagu rancu dengan lapangan yang juga merupakan tempat bagi warga masyarakat untuk bergiat. Sudah barang tentu, pandangan dan konsepsi yang mendasari penyebutan demi penyebutan di bahasa inggris wajib diketahui dalam usaha melakukan pengindonesiaan. Bukan mustahil bila pandangan dan konsepsinya sangat berbeda (seperti misalnya kasus space di depan).



    [1]  Lihat Prijotomo, Josef et.al (2009): Ruang di Arsitektur Jawa: sebuah Wacana; Wastu lanas Grafika; Surabaya

    Popularity: 50% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 12 Dec 2012
  • 0 Comments


  • Email

     

    josef prijotomo(*2)

     

     

     

    00

    Kita bangsa yang merdeka, dan karena itu juga menjadi bangsa yang memiliki hak untuk bebas dalam berpikir merdeka, terbuka, kritis (meminjam dari Aryo Wisanggeni G). Tak ayal lagi, dalam arsitektur kita juga pasti dan mantap untuk bebas dalam berpikir merdeka,terbuka dan kritis. Itu berarti bahwa arsitektur Eropa (dan manca seumumnya), baik itu filsafatnya, teorinya, sejarahnya maupun terapannya bisa dan boleh untuk dikritisi. Dengan mengkritisi itu pula kita memperoleh kesempatan untuk membangun filsafat, teori, sejarah dan terapan arsitektur yang Indonesia. Dengan mengkritisi kita juga menjadi terbebas dari tuduhan bahwa kita ini para pelaku arsitektur yang malas berpikir dan sangat puas menjadi pelaku yang menelan mentah-mentah segalanya yang Eropa, Amerika atau manca. Pembebasan diri seperti itu pula yang menjadi jalan yang lapang untuk menggali dan membangun pengetahuan arsitektur yang berbasis Nusantara serta mendayagunakannya untuk menghadirkan Indonesia yang adalah Nusantara mengkini.

    Apa yang disajikan berikut ini hanyalah penggal-penggal pengamatan kritis atas arsitektur Eropa, kemudian digunakan untuk mengangkat yang Nusantara. Tentu, belum dan bukan keseluruhan arsitektur Eropa, dan arena itu adalah kewajiban kita bersama untuk mengamati dengan kritis,  demi terbangunnya pengetahuan arsitektur yang Indonesia.

     

     

    01

    Daratan Eropa pasti terisi oleh demikian bermacam anakbangsa. Salah satu petunjuk kuatnya adalah adanya berbagai bahasa dan berbagai busana adat/tradisional. Dari dua petunjuk itu dapat diduga pula bahwa bangunan adat/tradisional juga demikian beragam dan beraneka di daratan Eropa ini, apalagi kalau rentang waktu yang diambil untuk ihwal itu adalah sebelum revolusi industri. Sementara itu, tidak boleh dilupakan adalah strata dan status sosial masyarakat yang tentu saja terdiri dari petani, kelompok agamawan/wait serta bangsawan/raja dan para pedagang. Dari keragaman strata dan status itu, petani praktis tersisihkan dari percaturan sejarah Eropa. Dengan kata lain, sejarah Eropa adalah sejarah kelas/lapis atas masyarakat. Ini berimbas pada arsitekturnya yakni, sejarah arsitektur Eropa dapat dikatakan sebagai sejarah kelas atas Eropa, bukan sejarah dari keseluruhan masyarakat Eropa. Bahwa petani dan kelas bawah disertakan dalam sejarah, itu hanyalah bagian dari kiprah kelas atas saja. Gereja, katedral, basilika, biara, keraton, kastil, hunian para elite serta kota, semua itu saja bangunan yang ditangani oleh sejarah arsitektur Eropa. .

     

    Akan tetapi, semua itu nyaris tidak tersajikan dalam buku paling ‘baku’ bagi sejarah arsitektur Eropa yakni buku A History of Architecture on a Comparative Method buah karya Sir Banister Fletcher. Dari buku yang setebal bantal itu dapat diketahui bahwa sejarah arsitektur Eropa itu sebenarnya adalah sejarah arsitektur berbahan batu. Juga, adalah sejarah dari bangunan-bangunan besar yang mampu bertahan hingga ratusan tahun umurnya. Juga adalah sejarah seni bangunan kelas tinggi. Juga adalah sejarah dari beberapa bangunan yang memiliki mutu dan nilai seni yang adiluhung, yang merupakan ungkapan dari teori arsitektur yang handal, dan berpondasikan filsafat Yunani (dan Romawi). Jadi, tidak semua arsitektur yang ada di Eropa dalam sesuatu jaman atau masa dicakup ke dalam filsafat, sejarah dan teori arsitekturnya. Keberhasilan kekaisaran Romawi dalam menguasai daratan Eropa ternyata secara langsung (namun tersembunyikan dari pernyataan) dijadikan patokan bagi pemilihan bangunan yang difilsafatkan, diteorikan dan disejarahkan.

    Mencermati arsitektur Eropa lebih lanjut akan memperlihatkan bahwa pembuatan bangunan berukuran besar mendatangkan persoalan dalam hal menghadapi ruangan di dalam bangunan yang gelap (dan oleh karena itu sejarah arsitekturnya dapat dikatakan sebagai sejarah penghadiran lubangan pada dinding terluar bangunan). Selanjutnya, dihadapkan musim dingin yang setiap tahun harus dialami selama sekurangnya tiga bulan (makin ke utara akan semakin panjang waktunya), maka tinggal di dalam bangunan adalah kepastian yang tak mungkin ditolak. Di situ, ruangan di dalam bangunan merupakan ‘jagad cilik’ yang terpisah dari ‘jagad besar’ yakni alam dan lingkungan. Di sinilah sejarah arsitekturnya lalu dapat dikatakan sebagai sebuah perjuangan membongkar keterisolasian menjadi penyatuan dengan alam dan lingkungan. Tidak perlu heran bila interioritas adalah salah satu watak dari arsitektur Eropa, dan oleh karena itu persolekan bagian dalam dari bangunan adalah kewajaran yang diperlukan bagi kenikmatan dan kenyamanan berada dalam ruangan. Sesampai di sini lalu menjadi sangat bisa diterima bila lubang pencahayaan alami yang semakin luas adalah sebuah kebutuhan dan sekaligus menjadi salah satu tanda kesejarahan arsitektur Eropa. Betapa tidak, di situ pula lalu ada komposisi artistik/estetik dalam perletakan lubang, perbandingan antara bukan dan tutupan, dan berbagai ihwal yang berkenaan dengan seni bangunan yang artistic dan estetik. Bahkan dalam jaman Renaisans komposisi ini dirumuskan ke dalam model matematika seperti misalnya golden section. Kerinduan akan terang matahari serta menyatukan diri dengan alam dan lingkungan dapat dikatakan sebagai tema abadi filsafat, teori dan sejarah arsitektur Eropa.

     

    Arsitektur Eropa itu tidak terlalu memperhatikan gempa mengingat daratan Eropa bukanlah kawasan yang rentan gempa seperti Indonesia..bangunan seukuran Colliseum atau St.Peter tidak perlu mengkuatirkan diri terhadap gempa meskipun Italia misalnya tergolong sebagai pelanggan gunung api yang meletus. Kita tidak atau belum tahu pasti apakah batu ataukah keabadian yang membuat arsitektur Eropa berketetapan untuk berpihak pada arsitektur batu, dan menyisihkan arsitektur kayu. Pernyataan sejarawan lain, Sir Nikolaus Pevsner, mewakili keberpihakan itu. Dikatakannya, kira-kira begini “Lincoln Cathedral is architecture; a bicycle shed is a building”.

    Bangunan batu adalah bangunan yang dengan langsung mengisolasi bagian dalam dari bangunan dari lingkungan dan alam di luar bangunan. Semakin luas ruangan di dalam bangunan akan semakin meluas pula bagian ruangan di dalam bangunan yang mengalami kegelapan. Hadirnya lubang di dinding batu adalah tuntutan tetapi sekaligus adalah tantangan. Penanganan atas tuntutan sekaligus tantangan inilah yang kemudian membentuk sejarah arsitektur Eropa. Kita akan menyaksikan bahwa dari jaman Yunani yang kuilnya nyaris gelap total menjadi bangunan Barok yang ambigu apakah struktur dinding pemikul ataukah struktur rangka batang, dan karena itu ruangan di dalam menjadi benderang dan dapat diberi persolekan, adalah sebuah perjalanan evolutif system struktur dinding pemikul yang bergulir menjadi sistem struktur rangka batang. Menarik untuk dicatat di sini adalah kehadiran arsitektur Gothik. Meskipun arsitektur ini telah berhasil mengganti struktur dinding pemikul menjadi struktur rangka batang, tetapi karena tidak berinduk pada arsitektur Yunani-Romawi, melainkan berinduk pada anakbangsa Goth yang kurang disenangi, maka nasib arsitektur Gothik menjadi tragis. Dengan hadirnya Renaisans tamatlah riwayat arsitektur Gothik, padahal arsitektur Renaisans masih berstruktur dinding pemikul. Tantangan untuk membuang tembok yang mengisolasi dari lingkungan dan alam juga menjadi tema bagi filsafat, teori dan sejarah arsitektur Eropa.

     

     

    02

    Dari tinjauan ringkas didepan, kita dapat menarik pelajaran mengenai kepastian akan perbedaan yang mantap sebagaimana terjumpai antara arsitektur Eropa dengan arsitektur Nusantara. Dalam berbagai perbincangan seringkali perbedaan ini dikedepankan, tetapi tidak jarang ditemui bahwa perbedaan itu tidak dirinci lebih lanjut. Meski belum sepenuhnya lengkap, kiranya perbedaan yang tergelar berikut ini telah dapat memastikan betapa berbeda arsitektur Nusantara dari arsitektur Eropa itu, khususnya untuk arsitektur Eropa hingga masa neoklasik..

     

    1. Sangat jelas, arsitektur Nusantara berbeda dari arsitektur Eropa; dan karena itu arsitektur Nusantara itu arsitektur dua musim dan arsitektur Eropa itu arsitektur empat musim.

    2. Sangat jelas, arsitektur Nusantara berbeda dari arsitektur Eropa; dan karena itu arsitektur Nusantara melibatkan lautan dan daratan, sedang arsitektur Eropa hanya melibatkan daratan saja.

    3. Sangat jelas, arsitektur Nusantara berbeda dari arsitektur Eropa; dan karena itu arsitektur Nusantara tidak mematikan karya arsitektur anak-bangsanya, sedang arsitektur Eropa mematikan arsitektur anak-benua/bangsanya[*3].

    4. Sangat jelas, arsitektur Nusantara berbeda dari arsitektur Eropa; dan karena itu arsitektur tradisional dilekatkan pada kebudayaan sedang arsitektur Eropa dilekatkan pada seni dan ilmu.

    5. Sangat jelas, arsitektur Nusantara berbeda dari arsitektur Eropa; dan karena itu arsitektur Nusantara adalah arsitektur kayu/organik sedang arsitektur Eropa adalah arsitektur batu/anorganik.

    6. Sangat jelas, arsitektur Nusantara berbeda dari arsitektur Eropa; dan karena itu arsitektur Nusantara adalah arsitektur pernaungan dan arsitektur Eropa adalah arsitektur perlindungan.

    7. Sangat jelas, arsitektur Nusantara berbeda dari arsitektur Eropa; dan karena itu arsitektur Nusantara bersolek di (tampang) luar dan arsitektur Eropa bersolek di (tampang) dalam.

    8. Sangat jelas, arsitektur Nusantara berbeda dari arsitektur Eropa; dan karena itu arsitektur Nusantara berkontruksi tanggap gempa sedang arsitektur Eropa berkonstruksi tanpa gempa.

    9. Sangat jelas, arsitektur Nusantara berbeda dari arsitektur Eropa; dan karena itu arsitektur Nusantara menjadikan perapian utamanya untuk mengawetkan bahan bangunan organiknya, sedang arsitektur Eropa untuk menghangatkan ruangan dan menjadikannya galih (core) dari huniannya.

    10. Sangat jelas, arsitektur Nusantara berbeda dari arsitektur Eropa; dan karena itu arsitektur arsitektur Nusantara mengkonsepkan pelestarian dengan ketergantian, sedang arsitektur Eropa mengkonsepkannya sebagai menjaga dan merawat.

    11. Sangat jelas, arsitektur Nusantara berbeda dari arsitektur Eropa; dan karena itu arsitektur arsitektur Nusantara mengkonsepkan kesementaraan sedang arsitektur Eropa mengkonsepkan keabadian.

    12. Sangat jelas, arsitektur Nusantara berbeda dari arsitektur Eropa; dan karena itu arsitektur Nusantara adalah arsitektur kami/kita, sedangkan arsitektur Eropa adalah arsitektur ’aku’.

     

    Berakhirnya arsitektur Neoklasik Eropa menjadi tak terhindarkan lagi dengan munculnya arsitektur modern. Demikian banyak tulisan telah dibuat untuk memperlihatkan betapa arsitektur modern di Eropa berbeda dari arsitektur pra-modernnya (arsitektur klasik hingga neoklasik). Dalam konteks ini, perbedaan-perbedaan jelas antara arsitektur Eropa dari arsitektur Nusantara dapat dicatat di sini (tentu, belum keseluruhannya, tetapi sudah cukup mewakili dan menjelaskan).

     

    1. Sangat jelas, arsitektur Nusantara berbeda dari arsitektur Eropa; dan karena itu arsitektur Nusantara adalah wilayah pengetahuan yang tidak (mau) diketahui, dan arsitektur Eropa adalah wilayah pengetahuan yang wajib diketahui dan dituruti.

    2. Sangat jelas, arsitektur Nusantara berbeda dari arsitektur Eropa; dan karena itu arsitektur Nusantara dibiarkan remuk di perdesaan, sedang arsitektur Eropa diperjuangkan berdarah-darah untuk dipertahankan keberadaannya.

    3. Sangat jelas, arsitektur Nusantara berbeda dari arsitektur Eropa; dan karena itu arsitektur arsitektur Nusantara masih harus dipelajari agar bisa di-masakini-kan, sedang arsitektur Eropa tinggal dicopas (copy paste) belaka.

    4. Sangat jelas, arsitektur Nusantara berbeda dari arsitektur Eropa; dan karena itu arsitektur arsitektur Nusantara itu adalah ’bicycle shed’ sedang arsitektur Eropa adalah ’Lincoln Cathedral’, kalau meminjam Nikolaus Pevsner dalam membedakan arsitektur dari bangunan.

    5. Sangat jelas, arsitektur Nusantara berbeda dari arsitektur Eropa; dan karena itu arsitektur Nusantara senantiasa dipertanyakan kemampuannya untuk mengkini, sedang arsitektur Eropa tak pernah dipertanyakan ketidaktepatannya bagi Indonesia (masakini).

     

     

    03

    Apabila pelajaran yang dapat dipetik adalah kemantapan akan adanya perbedaan, maka di situ kita harus punya keberanian untuk menegaskan bahwa arsitektur Nusantara itu bukan subordinat dari arsitektur Eropa. Arsitektur Nusantara juga bukan bicycle shed, bahkan dalam ekstrimnya, arsitektur Nusantara itu adalah arsitektur, bukan ‘bukan-arsitektur’. Masih banyak lagi argumen yang bisa diajukan untuk menegaskan hal itu. Dengan keberanian yang kritis seperti itu, kita harus punya kemantapan diri untuk menegaskan bahwa arsitektur Nusantara itu adalah ’liyan’ bagi arsitektur Eropa; arsitektur Nusantara itu adalah arsitektur yang lain (the other) dari arsitektur Eropa. Dengan demikian, arsitektur Nusantara itu setara dengan arsitektur Eropa Klasik pada khususnya.

     

    Dengan menyadari kesetaraan itu, tersadar pula kita bahwa selama ini kita telah mentololkan diri sendiri dalam banyak hal yang berkenaan dengan arsitektur. Ketololan pertama tentu saja adalah dalam hal mindset kita yang masih menempatkan yang eropa sebagai di atas yang Nusantara. Tentu, kita tidak dengan terang-terangan menyatakan seperti itu, tetapi mengatakan bahwa arsitektur kita berbeda dari arsitektur mereka. Ketololan kedua adalah pendidikan arstektur yang lebih menjurus sebagai kepanjangan tangan dari sekolah arsitektur di Eropa. Kalau di Eropa (dan AS) ada kewajiban untuk mengajarkan sejarah arsitektur klasiknya, kenapa kita tidak mewajibkan untuk mengajarkan arsitektur Nusantara dalam mata sejarah? Tentu akan ada yang berkilah, bukankah dasar-dasar arsitektur kita adalah Vitruvius, filsafat dan teori arsitektur yang notabene adalah Eropa? Benar sekali, dasar arsitektur itu dari Eropa, tetapi di situ pula persoalan dasar harus kita kedepankan, yakni: mengapa tidak dasar arsitektur yang Nusantara? Sesampai di sini tentu akan muncul pertanyaan:”apakah dasar arsitektur yang Nusantara itu sudah ada?” Jawabnya cukup mantap: ”memang belum ada”; dan jawaban ini teramat sangat memalukan dan memperlihatkan ketololan diri kita sendiri. Betapa tidak, sekolah arsitektur di Indonesia sudah hadir semenjak awal tahun 1950-an, jadi sudah lebih dari setengah abad lamanya. Dengan puluhan (atau bahkan sudah ratusan) ribu sarjana arsitektur dan insinyur, ribuan magister, ratusan doktor dan lebih dari sepuluh (atau duapuluh?) gurubesar, sungguh memalukan kalau kita tak mampu membangun dasar arsitektur itu. Tetapi, benarkah kita tidak mampu, ataukah sejujurnya  saja, kita tidak mau?

     

     

    04

    Pada saat Jokowi melontarkan pandangan untuk menghadirkan ke-Betawi-an dalam arsitektur bangunan pemerintahan setingkat DKI, maka tak kurang dari tigapuluh tanggapan para arsitek DKI dalam waktu hanya dua hari saja. Sudah dapat diduga sebelumnya, lebih kuat tanggapan yang ‘kurang mendukung’ termunculkan dalam surel-surel dari mail-group iai-architect[*4] itu.

    Ihwal ke-Betawi-an hanyalah ihwal kecil dari ihwal yang lebih besar dan sekaligus lebih mendasar yakni:apakah Betawi/Nusantara itu (mewakili) (ke-)Indonesia(-an); atau apakah ke-Indonesia-an dapat/boleh/bisa diwakili oleh Betawi/Nusantara. Jujur harus diakui bahwa ihwal mendasar ini sudah sekurangnya  semenjak awal 1980-an mengedepan; sudah diperbincangkan dalam sedemikian banyak seminar dan forum ilmiah maupun forum praktisi professional, dan bahkan telah mencapai klimaksnya pada symposium 11-11-11 yang mempertemukan akademisi dengan praktisi untuk menyuarakan pandangan dan pendapatnya tentang tema symposium tadi yakni MATI (Matinya Arsitektur Tradisional Indonesia). Setiap kali perhelatan menjelang usai, simpulan tentang ihwal itu selalu muncul. Tetapi, setiap kali perhelatan itu usai, selesai pula segenap urusan dengan ihwal itu. Dan karena itu, tidak mengherankan bila segenap posting dari isyu ke-Betawi-an itu terkesan sebagai sebuah isyu yang baru, sampai-sampai Ahmad Djuhara mengajak untuk melakukan diskusi lebih serius, padahal beliau ikut berbicara dalam perhelatan 11-11-11 itu. Berikut ini dapat dibaca satu petikan posting dalam milis terebut. .

     

    From: eryudhawan bambang <corbusier@hotmail.com>

    Sender: iai-architect@yahoogroups.com

    Mailing-List: list iai-architect@yahoogroups.com; contact iai-architect-owner@yahoogroups.com

    Delivered-To: mailing list iai-architect@yahoogroups.com

    List-Id: <iai-architect.yahoogroups.com>

    List-Unsubscribe: <mailto:iai-architect-unsubscribe@yahoogroups.com>

    Date: Wed, 21 Nov 2012 19:43:52 +0700

    RR yth,mohon agar dapat meminta kesediaan Pak Her Pramtama melakukan “intervensi dini” thdp isu ini (sejauh benar dan agak mengkhawatirkan). Saya pikir Bapak Gubernur perlu mendapat pandangan dari arsitek di Jakarta agar informasi bisa lebih simetri.Kalau “ornamen Betawi” menjadi kewajiban di bangunan pemerintah daerah, mungkin masih dapat diterima, walau tetap dengan catatan, bahwa Jakarta juga ibukota Republik Indonesia loh. Jadi juga memikul beban sebagai wajah ibukota RI, tdk semata-mata wajah “lokal betawi”.

     

    Sementara itu, dalam media facebook dapat kita temui berikut ini.

    Bambang Eryudhawan

    November 24

    “Pasar Bulu, karya Karsten di Semarang, ca.1930-an: akan dibongkar dan diganti dengan yang baru, yang belum tentu lebih baik. Siapa arsiteknya yang dengan gagah berani maju ke depan untuk menghilangkan karya yang apik ini?”

     

     

     

    05

    Aryo Wisanggeni G menurunkan tulisan berjudul “Rahwana-Sinta: Antara angkara dan kesatria”; dalam Kompas minggu 2-Desember 2012; hal 20. Bagian akhir dari tulisan itu sungguh jitu untuk diterapkan pada ihwal arsitektur yang kita hadapi (mengingat tulisan Wisanggeni itu menunjuk pada pagelaran panggung, bukan arsitektur) arsitektur “Masalahnya, kita bangsa yang terlalu malas untuk melawan lupa ini, terlalu terbiasa menelan mentah apa yang disodorkan kepada kita. Rahwana-Sinta mirip batu uji, apakah kita cukup berpikir merdeka, terbuka, kritis, untuk menerima kemungkinan tafsir sejarah yang berbeda.”

     

     

    Surabaya awal desember 2012



    [1]  Disiapkan dan disajikan sebagai keynote speech dalam Seminar Nasional bertema Semesta Arsitektur Nusantara – 1, diselenggarakan oleh Jurusan Arsitektur Universitas Brawijaya, Malang, 12 Desember 2012

    [2] Gurubesar dan pengajar aarsitektru di Jurusan arsitektur Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya  embah.petungan@gmail.com

    [3]  Benua Eropa terbentuk dari demikian banyak bahasa anak-benuanya, tetapi dalam arsitekturnya hanya menggunakan ‘bahasa latin’ arsitektur saja.

    [4]  Jangan ditanyakan, mengapa disebut iai-architect, dan bukan iai-arsitek. Padahal dengan pasti dan mantap ’arsitek’ itu adalah bahasa Indonesia.

    Popularity: 49% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 12 Dec 2012
  • 0 Comments


  • Email

    perut saya mendadak gila.
    udara sanya begitu panas.
    apa yang mereka bangun tak cocok di pikiran.
    ibaratnya supir banting stir ke kiri, mobil belok ke kanan.
    supir tak menggerakkan stirnya, mobil bergerak membelok ke kiri.
    bukan sulap.
    hanya permainan gila semata.
    ini yang membuat perut saya gila.
    bukan karena panas udara sanya, china.
    ….
    tanggal 1 mei lalu,
    rekan saya mengirim semua perubahan di master plan.
    artinya, sanur telah memberitahu klien tentang perubahan yang terjadi.
    sebelumnya, saya memberitahu liwat “face to face”, saat saya berada di hangzhou dan sanya beberapa hari sebelum tanggal 1 mei.
    sekedar mengingatkan bahwa akan ada perubahan di beberapa tempat.
    setidaknya mereka awas terhadap hari hari yang bergerak ke depan.
    setidaknya saya bersama anak anak, bisa melakukan perubahan gambar dengan tenang.
    tapi,
    semua info yang saya beri, ternyata seperti tak terdengar oleh mereka.
    semua gambar yang direvisi, berlalu begitu saja.
    semua kontak komunikasi seperti menguap ke alam baka.
    artinya, saat saya datang ke site beberapa hari lalu, juli akhir itu, site sudah terkonstruksi berdasar gambar lama.
    semua yang kita garap, lewat begitu saja.
    orang site bilang, “saya tak terima gambar”.
    orang yang saya kirimi gambar, seperti tak merasa dikirimi gambar.
    saat saya berkata bahwa sayapun telah berucap beberapa bulan lalu untuk memberi informasi tentang akan adanya perubahan, merekapun tak ingat.
    otak saya bercampur taek!.
    inilah “typical china” ;
    cepat,
    agresif.
    tapi salah!.

    Popularity: 54% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 30 Jul 2012
  • 0 Comments


  • Email

    lihatlah jalanan kota;
    penuh dengan gaya hidup pemakai jalan.
    mersedes bens melintas.
    pengemudinya berkaca mata D&G.
    tangan kanannya memegang iphone, menempelkannya di telinga.
    tangan kirinya masih tetap memegang kemudi. pakaiannya rapi necis.
    beberapa menit kemudian,
    mobil mewah lainnya membuntuti.
    BMW berwarna hitam.
    bodinya mengkilat.
    pengemudinya perempuan.
    rambutnya hitam lebat.
    sedikit alunan musik berdendang.
    kulitnya putih bersih.
    bau parfum menebar. chanel.
    di depan mobil itu,
    melintas mobil honda.
    berderet ke belakang dan ke depan, sepeda motor sekian merek.
    ada juga mobil yang digandrungi kaum laki;
    jeep.
    SUV.
    sedan bergentayangan.
    suara mesin kendaraan yang terkadang halus.
    terkadang begitu membisingkan.
    kemilau jalanan kota di siang hari,
    lebih semarak saat malam hari dengan tebaran lampunya.
    jalanan kota siang malam,
    seperti parade tujuh belasan.
    aspal yang bergelora.
    aspal yang bergembira.
    melihat geliat kota, lihatlah gelora aspal jalanan.
    ….
    di sisi lain jalan yang tak pernah sepi;

    trotoar yang sepi pengunjung.
    kulitnya berwarna merah paving.
    buram dan membosankan. ringkih tak terawat.
    sesekali ia bongkang, tutup got yang rusak menyembul.
    bau pengap merebak.
    terkadang pedagang asong berumah tangga di sini.
    satu pedagang datang, diikuti oleh pedagang lainnya.
    ia beranak pinak di trotoar.
    baliho baliho pun tumpah ruah di trotoar.
    pejalan kaki tersingkir.
    bagaimana meramaikan trotoar?
    mengisinya dengan pejalan kaki?
    perdu nan lebat?
    pepohonan yang eksotis?
    bisakah trotoar menyaingi kehidupan aspal jalanan kota?
    ….
    panas nian siang tadi.
    gowes dari studio ke jalan hayamwuruk.
    makan siang dengan duik 30 rebu perak di kantong.
    saya sadari,
    cuma saya yang melaju dengan sepeda kumbang di siang itu.
    beradu gegap gempita denga derungan mobil dan sepeda motor.
    mungkin hanya saya yang gila di siang itu.

    Popularity: 50% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 23 Jul 2012
  • 0 Comments


  • Email

    fulkin datang pagi ke ruang kerja saya.
    ia tersenyum.
    mengetok pintu ruang kerja saya yang sudah terbuka lebar.
    alas kakinya dibuka.
    ia melangkah mendekati meja.
    saya sedang membuka email dari klien.
    beberapa balasan detail yang mereka kirim bersama note notenya.
    fulkin kini telah berdiri di samping meja.
    saya tutup macbook pro.
    fulkin mengeluarkan kertas belel dari kantong celananya.
    kertas bekas semen  berwarna cokelat.
    berisi corat coret tentang kolom besi dan kanopi untuk rumah pohon saya.
    saya bertemu anak buahnya beberapa hari lalu.
    saya order beberapa detail dari besi.
    telunjuk saya menari nari di udara.
    anak buahnya memperhatikan.
    mereka mengerti.
    kemudian saya tinggal.
    dan hari ini, sketsa yang hanya berupa garis garis tak karuan itu telah siap.
    siap untuk dihitung.
    konfirmasi diamater besi.
    konfirmasi banyaknya seng bekas.
    konfirmasi sling baja yang saya perlukan.
    setelah konfirmasi selesai.
    ia mengeluarkan kertas nota.
    berisikan item item yang sudah kelar ia kerjakan.
    nota yang musti saya bayar.
    lalu,
    saya bayar. uang berpindah tangan.
    uang yang seharusnya saya pakai untuk terbang ke jakarta hari jumat lalu,

    saya pakai untuk bayar fulkin di pagi ini.

    istilahnya, cash bon dulu.

    diskon sudah ia berikan saat saya mengorder.
    “yang baru ini, jangan mahal mahal boss”, saya berujar.
    fulkin tersenyum lebar.
    “kalok begitu, biar sampeyan saja yang keluar membeli besinya, biar saya yang ngelas saja”, ia menjawab.
    “biar sampeyan tahu harga besinya toh?”, ia melanjutkan.
    “waduh, saya tak ada waktu boss buat keluar beli begituan…”, saya jawab.
    “lha, ini sudah untungnya tipis banget boss…”, ia menjawab.
    “jangan bohong bohong boss, puasa nehh…”, saya berkata.

    “iya boss, bener neh..untungnya tipis banget ini…”, fulkin berkata lagi.

    “adduuuhhhh…saya lagi bangkrut neehhh…”, saya berujar. tubuh saya rebahkan ke kursi kayu.
    fulkin tersenyum.
    “wah, jangan ngomong begitu sampeyan. sampeyan sudah diberi banyak. apa apa sampeyan dikasihNya. sampeyan sudah berada di atas banget. jangan bilang bangkrut begituk..”, ia tersenyum.
    saya tersentak.
    “wah..sampeyan benar. benar..hehehe..maap kalok begitu..”, saya menjawab koreksinya.
    “syukuri saja apa yang diterima boss..”, fulkin melanjutkan lagi.
    jari jemarinya masih menghitung uang yang saya berikan.
    saya terdiam.
    memikirkan apa yang ia ucap barusan.

    Popularity: 37% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 22 Jul 2012
  • 0 Comments


  • Email

    lagu saya cumak satu.
    sabda alam yang dicipta oleh ismail marzuki.
    dinyanyikan oleh bonita and the hush band.

    saya klik berulang ulang.
    sampai jam kerja saya habis dalam sehari.
    ….
    terkadang,
    saya dengerin juwita malam.
    dicipta oleh ismail marzuki.
    dinyanyikan kembali oleh bonita and the hush band.

    saya klik  berkali kali.
    sampai jam kerja saya habis dalam sehari.
    ….
    satu lagu itu,
    membantu saya dalam menemukan banyak hal dalam mendisain.
    otak saya dikilik oleh hanya satu lagu.
    otak saya cepat berpikir hanya dengan mendengar satu lagu, dan berulang ulang.
    gairah saya bangkit hanya dengan mendengar satu lagu.
    beda banget saat saya mendengar sekian lagu melalui radio.
    mungkin mood saya cepat naik hanya dengan cara begini.
    seperti mata melihat hanya satu pangkal paha wanita, ereksi kemudian.
    menstimulus dengan satu hal,
    saya bisa mengVIAGRA otak untuk cepat bangkit dan berkreasi melawan waktu.
    ….
    lagu itu,
    ntah juwita malam.
    atau sabda malam,
    adalah lagu lagu yang mengintatkan saya akan masa kecil;
    bapak membahanakan lagu lagu itu hampir tiap pagi sebelum ia meninggalkan rumah untuk bekerja.
    saya benar benar tak mengerti, kesukaan bapak kok lagu lokal, saat itu.
    kenapa ndak mengkoleksi metalica? duran duran?.
    kini,
    setelah sekian puluh tahun berlalu,
    saya sadar.
    betapa lagu ini yang begitu simple,
    begitu sederhana.
    tapi membawakan begitu sarat pesan.
    dan yang paling penting,
    saya merasakan kehadiran yang telah hilang.
    ….
    saya email ke rekan rekan kantor.
    saya kirim ke rekan rekan seberang.
    sekedar berbagi akan satu hal yang membuat saya menikmati hari.
    satu hal yang  bisa mengingatkan saya akan masa lalu.
    siapa tahu, mereka, rekan rekan saya itu mempunyai memori yang sama akan satu lagu itu.
    apalagi,
    mereka bisa mengisi hari dengan semakin bersemangat.
    sukses buat anda!.

    Popularity: 27% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 17 Jul 2012
  • 0 Comments


  • Email
    saya terdiam lama.

    memandangi selembar kertas berukuran A0.
    di situ tergambar kontur tanah.
    di situ tergambar aliran sungai.
    ada jalan membelah.
    ada angka angka menunjukkan ketinggian masing masing titik.
    di situ ada rencana.
    dan saya belum menemukan sinyal.
    sinyal yang menggerakkan tangan saya untuk memulai sebuah garis.
    merangkai ide.
    berkarya kembali.
    mendisain kembali.
    tentang satu hal;
    arsitektur.
    … baca terusannya gan »

    Popularity: 26% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 13 Jul 2012
  • 0 Comments


  • Email

    hari ini saya terima zoning dari operator spa.
    saya presentasikan spa ini, beberapa bulan lalu.
    boss saya sedang cuti saat itu.
    ia menikmati hari hari menyenangkan di luar sana.
    dan pertunjukkan musti tetap berjalan.
    presentasi musti digelar.
    with or without.
    … baca terusannya gan »

    Popularity: 24% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 12 Jul 2012
  • 0 Comments


  • Email