saya sedang berkonflik dengan penguasa.

dan ini bukan yang pertama kali.

ini yang kesekian kalinya.

dan saya menikmati.

bedanya sang penguasa masih tetap hepi.

dan saya dengan pikiran kalut.

menikmati kekalutan, adalah ibarat kaki kelindas roda truck dan saya musti tetap tersenyum.

*

desain yang saya bikin, berubah seberubah-rubahnya.

ini biasa.

tetapi kalau yang merubah bukan dari kita sendiri, itu yang membuat kasus menjadi tak biasa.

sang penguasa menilpun saya.

“kamu oke dengan desain yang baru?”, katanya.

bagaimana saya tak oke, karena segala hal telah berubah.

dengan ringan dan gamblang saya katakan bahwa saya oke saja. dengan alasan yang ringan dan gamblang pula, saya utarakan beberapa alasan yang menunjang bahwa saya ok.

walau alasan yang mengada ada, setidaknya agar badai cepat reda.

pernah saya berkata untuk diri saya sendiri bahwa ini bukan masalah siapa yang mendisain apa dan semestinya dibangun saja karena klien sudah approved.

tetapi masalah yang terpenting adalah bahwa ini bukan proyek si A atau si B.

pandanglah ini sebagai proyek bersama, desainlah dengan bagusnya tanpa memandang siapa yang menggarap pertama kalinya.

hasil akhir adalah bahwa inilah hasil kerja payah susah penuh derita dari studio ini.

bukan, ini hasil kerjaku atau hasil revisimu terhadap pekerjaanku.

tetapi, terkadang nasehat bijak yang datang dari hati nurani saya ini, justru membuat saya semaput sendiri.

termenung sendiri.

dan sakit hati sendiri.

memang benar bahwa kita begitu lihai untuk menasehati kesusahan orang lain.

tetapi begitu susah penuh derita saat menasehati diri sendiri.

*

saya sedang ada konflik dengan penguasa.

ada satu lagi desain yang tiba tiba dirubah dengan gamblangnya.

dan dengan seketika juga saya musti membela pekerjaan yang telah jauh melangkah itu.

ujung-ujungnya, sebuah pertanyaan datang dengan gagah, “putu, memang kamu ada ide lain?, boleh saya lihat?”.

saya sendiri tak tahu masalah kenapa musti bongkar sauh dan pergi meningalkan desain yang kita bicarakan sudah bagus itu?.

dengan ringan saya jawab, “emang kamu tidak suka dengan apa yang sudah kita garap selama ini?. yang membuat kamu tidak suka itu, yang mana?”.

begitulah.

diskusi penuh tanya dan kalimat bertubi tubi datang silih berganti.

dan kita bersalaman dan mengerti satu sama lain.

bahwa kita sudah tahu saling kenal telah sekian lama dan sekian proyek telah kita garap bareng bareng.

terbang bareng.

makan bareng.

bikin awan dan sorgapun bareng bareng.

setidaknya ada hal hal yang tidak saya suka dan begitupun sebaliknya.

disanalah inti dari pertemanan.

terkadang tak musti sejalan dan tak musti sependapat.

*

saya sedang berkonflik dengan penguasa.

terkadang proses ini membuat saya sakit perut tak ketulung dan sempet menyebabkan setiap kali melihat manusia seperti melihat seekor anjing.

beruntung bahwa saya sempat mengalaminya sekian kali dan bisa lolos dari proses ini dengan baik.

seperti hari ini.

rasa “like” dan “love” terhadap apa yang saya garap saban hari di studio, selalu membuat saya semakin hidup.

melihat anak anak bekerja mandiri dengan pekerjaannya, membuat saya bahagia bahwa ini pertanda saya berhasil dan berjalan sesuai dengan track.

dalam hidup, terkadang kesialan datang tak diundang.
seakan tuhan sedang meludah dan air ludanya menempel di muka kita.
rejeki yang besar dipandang menjadi sedemikian kecilnya dan tak berarti saat kesialan kecil datang menghujam.

“kita tak mesti menang dalam segala permainan hidup”, saya utarakan ini kepada seorang wanita saat kami terbang bersama ke negeri seberang sana.

Popularity: 1% [?]



POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 4 Apr 2015
  • 0 Comments


  • Email
    saya memikirkan seseorang.

    melihat ia akan datang ke depan hidung saya.

    mata saya menerawang, melihat kebun di luar sana.

    tiga menit setelah saya berpikir seperti itu, orang yang saya pikirkan itu telah berada di depan hidung saya.

    “pak, gambarnya mana?”.

    busyet!.

    **

    seseorang ibu muda sedang menata kursi dan meja makan di sebuah warung di renon.

    perutnya buncit dan besar.

    ia hamil di umur kehamilan yang sudah tua, saya pikir.

    saya memarkir vespa putih saya di siang hari yang terik itu.

    matahari mengumbar panas, menelisik hingga ke selangkangan kota.

    “anaknya perempuan”, begitu saya mendengar samar samar.

    saya melihat di sekeliling.

    hanya ada saya dan pepohonan serta perdu. tak ada orang lain selain saya di parkiran warung itu.

    saya tak menggubris.

    saya duduk dan mengambil koran.

    memesan nasi campur dan segelas es teh manis.

    membaca koran di siang itu, bahwa pilem fast and furious sedang meradang negeri ini.

    si ibu muda yang sedang hamil tua itu kemudian menghampiri membawa nampan berisi pesanan.

    saya tanya seenak udel, “umur berapa kehamilannya”,

    “delapan bulan”, dia menjawab.

    “sudah discan?”, saya bertanya.

    dia menggangguk. matanya melirik saya dengan tatapan penuh tanya.

    “terus, dapat apa?”, saya tanya.

    “perempuan”, katanya.

    saya tertawa.

    “terima saja dulu. anak pertama kan?”, saya tanya.

    dia menggangguk.

    manusia hanya bisa menerka nerka. dan masih ada sebuah kekuatan yang tak bisa dilawannya dan tak bisa ditandingi.

    yang terpenting lagi adalah si ibu sehat dan si anak juga selamat.

    **

    di pura penataran agung dalem ped, nusa penida.

    ada sekian banyak orang berjubel.

    para jro mangku berdiri di lantai sebuah pavilion.

    sementara mereka yang habis sembahyang, berkerumun mengelilingi pavilion itu.

    mereka berebut sesuatu.

    para jro mangku itu membagi-bagikan sesuatu.

    karena jumlah yang dibagikan itu sedikit sementara yang meminta begitu tumpah ruah, desak desakan dan dorong mendrong tak bisa dihindari.

    saya menjauh dari kerumunan itu. tak ikut berebutan dan berdesakan di siang yang begitu terik mencekam.

    sinar matahari meregang, menusuk kulit tiap manusia di siang itu.

    dalam terik, saya berucap dalam hati saja, “bolehkah saya meminta sedikit apa yang mereka rebutkan itu, ratu bhatara sasuhunan saya?”.

    orang orang bertambah banyak. desakan dan dorongan serta untaian tangan ke atas untuk meraup apa yang dilempar dari atas lantai oleh para jro mangku itu, semakin keras bergoyang ke kanan ke kiri.

    sepuluh menit hingga lima belas menit setelah saya memohon dan berkata dalam hati, seseorang keluar dari kerumunan itu dan memberi sesuatu sambil berujar, “ini jro…”.

    ia memberi sesuatu yang mereka rebutkan itu ke tangan saya.

    **

    ada tubuh tergolek kaku di kamar rawat inap.

    ia sudah tak sadarkan diri.

    untuk beberapa hari.

    saya menghampirinya.

    istrinya menatap tubuh yang kaku itu dengan mata sembab.

    nafas sang tubuh kaku, bergerak kasar.

    anaknya berjaga di luar kamar.

    saya sentuh kakinya.

    saya menatap wajahnya yang matanya sudah terpejam.

    “saya hanya menunggu anak laki laki terkecil saya saja. betapa kangen saya akan dirinya. bisa ndak suruh ia datang ke sini hari ini?. kalau ndak bisa dia datang, maka saya akan pergi”, kata si tubuh yang kaku itu.

    saya sampaikan ke istrinya yang bermata sembab.

    saya suruh anaknya yang berjaga di depan kamar untuk menilpun saudaranya untuk segera datang ke rumah sakit ini.

    lima menit kemudian, dokter datang. saya keluar ruangan.

    sang dokter memeriksanya. dan memberi sedikiit info kepada sang istri yang matanya sembab itu.

    dokter keluar ruangan itu.

    saya masuk lagi.

    “kata dokter, paman baik baik saja”, sang istri menerangkan.

    “syukurlah”, saya berujar pelan.

    saya tinggalkan mereka itu.

    kembali mengemudi ke denpasar.

    sesampainya di denpasar, saya menerima khabar bahwa sang tubuh yang kaku itu telah meninggal.

    **

    ada banyak hal aneh terjadi pada diri ini. ada sekian tak bisa dihitung,
    hidup di dunia terang benderang begini, menyaksikan segalanya dengan kasat mata, tak membuat saya heboh seheboh-hebohnya. mata kita menyaksikan dan bisa didiskusikan dengan segelas kopi dan satu bungkus nagasari serta mata tetap melirik bokong pedagang warung.
    sejak 2 tahun ini, kenyataannya bahwa saya menerima segala hal yang mustahil kini sedikit demi sedikit menerjang saya, dunia yang tak pernah saya sangka. dunia yang tak bisa dirasakan oleh kebanyakan orang.
    mengetahui sesuatu akan terjadi di hari hari berikutnya.
    merasakan sesuatu yang tak dirasakan oleh manusia biasa.
    mendengar sesuatu yang tak bisa didengar oleh sewajarnya orang.
    terkadang bikin ngeh.
    terkadang saya tak percaya total.
    dalam ketakpercayaan saya itu, apa yang saya tak percayai itu terjadi dalam beberapa hari kedepannya di depan mata.
    terkadang, orang orang di sekitar tak begitu menggubris.
    digubris atau kagak, terkadang bukan menjadi urusan saya.
    walau terkadang lagi, hal hal begini membuat hidup saya penuh kalut.
    dalam kalut,
    saya memohon.
    “bisakah hidup saya menjadi tenang dengan segala hal yang engkau beri kini?”,
    tuhan tak menjawab.
    sedemikian banyak jumlah kebetulan-kebetulan ini, ntah sampai kapan.

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 4 Apr 2015
  • 0 Comments


  • Email
    kalau sudah menthok,

    dan klien sudah tak bisa digeser keputusannya,

    serta ia yang saya ajak kerja di seberang sana juga mengikuti apa yang klien mau,

    maka,

    saatnya bagi saya untuk tiduran dulu.

    tak mengikuti perkembangan proyek itu.

    menjauh.

    biarlah anak anak dan kapten proyek yang mengendalikannya.

    saya membasahi diri dengan air. biar adem.

    melihat lihat barang dagangan di mall mall. cuci mata.

    bersepeda di jalanan kota. biar otot lentur.

    ambil sepatu dan jogging siang. melihat bokong ibu ibu muda berbelanja di warung depan rumah.

    menikmati makanan kesukaan di warung warung pinggiran. memanjakan lidah.

    bertemu teman di bengkel vw ataupun sekedar berbelanja mobil mobilan mini diecast. detoksisasi pikran.

    sepertinya lebih menyenangkan ketimbang bergulat dengan sesuatu yang membuat saya berdarah.

    apalagi kalau sebagian besar proyek itu membuat nasib saya galau segalau-galaunya.

    maka bisa ditebak bahwa sayapun akhirnya memilih untuk sakit.

    tiduran di rumah.

    tak berbicara satupun dengan siapapun.

    bahkan kepada tuhan.

    berdamai dengan diri, adalah satu satunya cara bagaimana saya bisa keluar dari kalut.

    kalau sudah tiada tempat bisa dipakai untuk berbagi.

    dan sudah tak ada siapa yang kita bisa ajak untuk berbagi,

    maka di seantero jagat ini, masih tinggal satu satunya harapan yang bisa diajak berbagi kalut.

    yaitu diri kita sendiri.

    diri saya sendiri.

    menghabiskan waktu untuk menyendiri.

    menikmati waktu dengan menyendiri.

    dan menemukan obat untuk menyembuhkan kalut dari dalam diri sendiri,

    saya percaya bisa memberi hasil yang maksimal.

    bisa bernegosiasi terhadap semua hal yang menjatuhkan, dengan diri sendiri.

    menemukan jalan keluar dari dalam diri sendiri.

    nasihat, saran dan apapun itu yang keluar dari hati nurani, adalah sebuah muksizat.

    diri ini begitu mengerti apapun yang terjadi dalam diri.

    semua permasalahan dari yang sekecil kacang tanah sampai sebesar pegunungan everest sekalipun, masih kecil nilainya ketimbang lapangnya hati nurani dalam diri ini.

    itu makanya, saya membuka diri saya sendiri untuk bisa dinasehati oleh hati nurani saya sendiri yang selalu dekat, dan ikut kemanapun saya pergi.

    setelah tenang dan bisa bernegosiasi dengan diri sendiri, saya pun datang menghampiri semua yang dulu saya tinggalkan sejenak.

    kembali tertawa.

    kembali memegang pensil.

    berteriak teriak menghibur mereka yang ikutan menggarap pekerjaan.

    minta es teh manis segelas seukuran gajah.

    menulis email dan mengirimkan ke siapa saja yang ada di luar sana.

    nasib terkadang begitu gelap dan penuh tikungan tajam untuk menjalaninya.

    kita musti bisa menikmati iramanya dalam keadaan gelap ataupun terang dengan hati lapang dan bahagia selalu.

    benar ndak?

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 4 Apr 2015
  • 0 Comments


  • Email
    ini setelah meeting bubar:

    seorang teman bertanya.

    “kenal si A?”, katanya.

    “siapa dia?”, saya balik bertanya.

    dia menjelaskan.

    saya hanya tersenyum doang sambil menggeleng.

    “saya tak punya teman selain teman teman di kantor”, saya berkata.

    “dan juga dia”, saya merangkul seseorang di sebelah saya. dia kontraktor kecil proyek yang akan kita bangun.

    yang saya rangkul, tertawa.

    kami tertawa.

    “saya orangnya kuper banget. jarang berteman”, saya tambahin lagi.

    orang pertama yang bertanya tadi, tersenyum.

    siang yang kering.

    angin berdesir pelan.

    burung burung bersahutan.

    mereka menggali teman dengan suara suara itu.

    berkomunikasi antar sesamanya.

    tak seperti saya.

    hidup di dasar bui.

    Popularity: 2% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 3 Apr 2015
  • 0 Comments


  • Email
     “saya sukanya di belakang layar”, saya bilang itu kepada tuhan.

    dia tersenyum.

    “anda yang selalu musti ada di panggung. di layar itu. bukan saya”, saya berkata lagi.

    tuhan tersenyum.

    ia tak berkata apa apa saat kami berjalan di sebuah proyek.
    hanya senyum.

    saya sudah mengalami banyak hal.

    ke meeting dengan maserati, memecah heningnya jalanan kota.

    dijemput dengan private jet, membelah awan india.

    berkeliling pegunungan everest di nepal.

    menikmati birunya langit paris.

    tertahan di imigrasi amerika, karena issu teroris yang masih hangat.

    distop masuk ke areal pura di chennai, india.

    dibantu petugas hotel keluar dari bea cukai changi saat membawa sekian luggage.

    ditusuk dinginnya suhu alam saat di ningbo.

    hujan es menyambut.

    tangisan istri saat meninggalkannya terbang lama.

    anak anak saya yang lahir dan kemudian saya tinggalkan untuk terbang.

    cacian dan makian saat desain yang saya buat tak beres.

    mobil pick up butut menjemput dari hotel ke proyek.

    dan lain lain.

    lain lainnya lagi.

    dan lagi.

    hingga lidah terputus, hal lain lain ini tak akan habis.

    memori di otak saya telah menipis.

    susah mengungkap semuanya.

    bahagia ini, musti dibagi.

    kepada siapa saja yang saya temui di studio.

    kalau ada waktu, sempatkan diri untuk berbagi cerita cerita penting.

    usaha usaha penting walau kecil.

    saya ingin mereka juga berbahagia.

    sebahagia saya bekerja di studio ini.

    hal hal jelek, jangan sekali kali terjadi kepada mereka.

    cukuplah saya yang mengalami.

    kalaupun musti terjadi-hal hal jelek itu, biarlah terjadi karena memang musti terjadi.

    kalau saya bisa membendingnya biar tak terjadi, maka saya akan lakukan.

    impian saya amat sangat kecil.

    membuat mereka happy.

    membuat mereka mengalami kebahagian seperti saya.

    mendidik mereka hingga mereka mengerti.

    bahwa penting sekali kita tahu apa yang kita kerjakan.

    kalau sudah di tahap ini, didiklah yang lainnya agar bisa juga di tahap ini.

    agar besok hari adalah mimpi yang menjadi nyata. nyata bersama.

    siapkan mereka untuk mandiri kelak. mandiri bersama.

    mengajari cara cara menukik.
    mengajari cara cara menyalip.
    menyetel gas.
    mengerem.
    membuat awan dan mimpi.
    menyelinap dan menghilang.
    bercumbu dan beranak pinak.
    bila perlu;
    mengajari mereka menangis agar surga bergetar!.
    biar mereka benar benar mengerti. walau usaha ini belum begitu sempurna dan menyeluruh kena,
    setidaknya saya sudah berusaha dikit dikit ke arah itu.
    agar mereka berada di”kejelasan” hidup.

    tidak seperti saya ini yang tak jelas.

    itu makanya,

    karena saya mengganggap diri saya ini adalah orang yang tak jelas,

    penting banget buat saya untuk tak mempertontonkan muka di layar.

    jauh dari hingar bingar komunitas arsitektur ini dan itu.

    pergi menjauh dari dunia tenar.

    menyendiri di bawah kaki langit.

    menikmati ketidakjelasan ini.

    karena yang paling penting bagi saya kini adalah menyiapkan mereka yang muda muda itu siap.

    siap saat saya pergi.

    dan siap saat mereka akan berjalan sendiri.

    karena bekal sudah dilihat layak dan cukup buat mengarungi hidup.

    kalaupun nantinya mereka tetap bertahan,


    … baca terusannya gan »

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 3 Apr 2015
  • 0 Comments


  • Email
    “jangan memutuskan sesuatu saat kamu galau”, saya menyarankan kepada seekor lebah!.

    ia terbang ke sana ke mari. hinggap, dan terbang lagi.

    hinggap dan terbang lagi.

    hinggap dan terbang lagi.

    hinggap dan terbang lagi.
    terbang.
    hinggap lagi.

    “kalau engkau lakukan, mungkin akibatnya akan juga parah”, saya melanjutkan.

    ia terbang.

    ke sana ke mari. seperti panas yang membuat dia musti ke sana ke mari.

    trus hinggap ntah di mana.

    terbang lagi.

    menghilang.

    datang lagi ke muka saya sebulan kemudian.

    dan memang ia memutuskan saat ia galau.

    dunia semakin runyam.

    dan anjing bersorak.

    menang!.

    hotel intercont di canggu, akhirnya karam juga dari studio ini.

    saya memulainya dengan alot.

    bongkar.

    pasang.

    bongkar lagi.

    pasang lagi.

    send.

    ditolak mentah mentah.

    bongkar lagi.

    pasang lagi.

    bongkar!.

    pasang.

    send.

    ditolak!
    bongkar dan pasang lagi.

    begitulah.

    berasa ingin mati.

    proses alot ini membuat pikiran saya tersisih hingga ke trotoar.

    tercebur akhirnya ke got.

    mengalir dengan busa cucian rumah rumah pinggir sungai.

    menyatu dengan kotoran tikus dan bau bangkai anjing.

    tubuh saya 125% ; galau!.

    dalam keadaan galau;

    pikiran yang datang bukan bisikan peri.

    toh juga,

    saya bermesin diesel.

    lama panasnya.

    dan akhirnya juga urusan desain beres juga.

    menyenangkan.
    walau akhirnya proyek ini karam ditelah terumbu karang.

    semalam,

    teman di jakarta menasehati.

    “kalau sedang “mens”, jangan sekali kali memutuskan sesuatu”, katanya.

    saya tertawa.

    ingat kejadian saat saya memberi saran kepada seekor lebah.

    bedanya.

    ia menerjang saja apapun yang ada di depan mata.

    saat ia galau.

    saat ia sedang “mens”.

    ingin juga saya melakukannya.

    tapi keadaan menyenangkan akan selalu tiba saat badai reda.

    saya telah mengalaminya.


    … baca terusannya gan »

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 3 Apr 2015
  • 0 Comments


  • Email
    ada email dari seberang.

    di malam kalut, saya buka dan baca.

    isinya tentang desain kita di salah satu hotel di bali.

    dari seberang bertanya, “sudah pernah lihat ini?”.

    desain saya yang untuk sekian kalinya diungkap di sebuah majalah.

    majalah apa?, saya juga tak mau tahu.

    saya jawab sekenanya saja.

    “belum. saya sudah lama tak pernah baca majalah lagi.

    send.

    kini,

    desain terbangun atau kagak, bukan menjadi masalah besar.

    lihat gambar dibangun dan menjadi nyata lantas diungkap gemah ripah loh jinawi oleh majalah majalah tenar di luar sana, sudah membuat saya bebal.

    mata saya sudah rabun. tak berbinar binar lagi saat menyaksikan mereka membangunnya.

    ntah karena apa.

    kebanyakan gambar telah menjadi nyata?

    atau memang perut sudah mulai eneg menyaksikan hal begini.

    hari ini,

    ada meeting di sebali, gianyar.

    pagi buta telah merasakan dinginnya air PAM.

    meninggalkan rumah dalam keadaan semaput.

    menunggangi vespa meluncur ke site proyek.

    sepanjang jalan, penuh berkah oleh suara gamelan di tiap pura.

    masyarakat berduyun duyun tumpah ruah di pelataran pura untuk bergantian bersembahyang.

    semalam, saya mengirim email untuk bisa pergi ke singaraja untuk ikut melakukan melasti bersama masyarakat desa, di esok pagi, yaitu hari ini.

    tapi sepertinya meeting hari ini tak bisa saya tinggalkan.

    “meeting ini sudah aku set up jauh jauh hari, kalau kamu ada acara mustinya bisa memberitahu jauh jauh hari”, balasnya.
    sepertinya tuhan tak bisa bernafas kalau tak ada saya.

    lebih baik meninggalkan acara melasti di desa ketimbang meninggalkan meeting yang memompa duit agar saya bisa bernafas. mungkin!.

    mungkin upacara odalan di desa, dikira tak menghasilkan duit.
    ya udah saja.
    wajah saya kaku.
    tak bisa tersenyum.
    bertemu dengan kontraktor.
    bertemu dengan orang orang besar.
    di site itu,
    di pagi itu,
    saya sibuk dengan pikiran saya sendiri.
    sehingga,
    terkadang sudut sudut terntentu dari sebuah proyek terbangun,
    atau detail detail tertentu yang terungkap diberi warna warni kalimat kalimat spektakuler di beberapa majalah majalah kelas dollar, saya sudah tak menghiraukannya lagi.
    saya lebih senang memandangi diri saya sendiri,
    membayangkan diri saya sendiri.
    kalau saya nantinya mati terkubur dan dimakan ulat,
    memang tuhan bisa hidup tanpa saya?sudah barang pasti; BISA!

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 3 Apr 2015
  • 0 Comments


  • Email
    ingat desa julah,

    pikiran saya menjadi parah.

    lebih parah ketimbang membusuknya daging manusia yang tanpa darah.

    saya datang dengan berbekal mulut dan harapan.

    sementara,
    ada orang yang datang ke desa itu dengan membawa angin perubahan dan 7 truk lembaran seratus ribuan yang masih kenceng!.
    anda pilih mana?

    …..

    manusia lebih memilih selembar uang dari pada adat budaya.

    karena uang lebih bisa menghidupi.

    sementara adat budaya yang lebih mengekang.

    kata orang.

    …..

    ingat desa julah,
    saya semakin menggebu-gebu ingin mendapatkan uang (banyak) juga.

    agar dengan uang, saya bisa meluluhlantakkan adat budaya kita:

    bahwa uang adalah segalanya!

    Popularity: 100% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 9 May 2013
  • 3 Comments


  • Email
    anak muda,

    lihatlah bagaimana tukang bakso yang setiap sore datang ke studio saya.

    perawakannya gendut.

    bakul baksonya digendongkannya di jok belakang motornya.

    ia tak memakai helm.

    hanya topi yang menutupi kepalanya.

    mungkin ia pikir, di luar sana masih ada toko yang menjual kepala.

    sehingga kalau ada apa apa dengan kepalanya, ia bisa beli di toko itu.

    tapi ini,

    bukan masalah kepala.
    ini masalah bagaimana ia begitu enjoi dengan kehidupannya sebagai pedagang bakso.

    sesekali saya memesan baksonya.
    dapat pentol besar.

    ada tahu.
    ada ketupatnya.

    “pedas pak putu?”, begitu ia selalu bertanya.

    dan pada saat ia memberikan mangkok putihnya yang telah berisi bakso, saya bayar dengan uang lima ribu rupiah saja.

    ia tersenyum bangga.
    saya memakan baksonya dengan senang.

    kami sama sama menikmati kesenangan hidup.
    saya diservis baik.
    sayapun merasa senang dengan hasil kerjanya.

    tak tahu berapa duik ia dapatkan sehari dengan berkeliling berdagang bakso.

    katakanlan sampai 200 rebu.

    total pendapatannya perbulan ada di angka 6 juta rupiah.

    lumayan buat hidup sebulan bersama anak istri.

    anak muda,

    kalau melihat pekerjaan sebagai tukang bakso,

    mungkin anda akan merasa kepincut.

    karena dengan bekerja sebagai arsitek fresh di kota besar saja, gaji anda hanya berkisaran di angka 2 jutaan sampai 3 jutaan.

    banyak obrolan di dunia maya yang begitu terperosok memikirkan angka dan angka.

    jarang sekali saya membaca pemikiran tentang bagaimana menikmati hidup dengan nyaman.

    hidup bukan dinilai dari seberapa besar angka yang anda dapatkan selama sebulan melalui pekerjaan yang anda geluti.

    hidup dinilai dari seberapa bahagia anda melakukan pekerjaan.
    seberapa besar dan tentram hati anda mengarungi hidup bersama dengan apa yang anda geluti.

    studio di mana saya bekerja,

    begitu dekat jaraknya dengan area lokalisasi.

    terkadang kalau saya pulang meliwati daerah ini pas malam hari,

    suara parfum menusuk hidung.

    para ojek menantikan wanita malam ini keluar dari kostnya.
    diantar kemudian ke tempat tempat yang telah menjadi janji.
    katakanlah mereka sekali pakai bisa mendapat sekitar 300 rebu sampai lima ratus rebu.
    atau paling apes, bisa mengantongi uang tujuh puluh lima rebu perak sekali jos.
    toh hasilnya masih berada di atas angka yang diterima oleh para fresh grad arsitek yang bekerja di kota kota besar.
    kalau anda memikirkan angka sebagai nilai hidup,
    kenapa ndak jadi lonte saja?

    sungai dengan air yang dangkal, tak mampu memberikan banyak kehidupan buat penghuni air.

    bikin hidup anda lebih bermanfaat dengan membuatnya lebih dalam dalam berpikir.

    dan temukan makna arti kata “cukup”,

    dengan selalu bersyukur terhadap apa yang telah didapat.
    sukses buat anda semua.

    Popularity: 100% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 2 May 2013
  • 1 Comment


  • Email

    so, galih,
    anda sudah pergi?.

    call me when you arrived there.
    i really need to talk.
    but,
    if you are still busy with the god,
    just drop me your fucking messages.

    penyelasan selalu datang setelah kejadian.
    ada banyak hal yang ingin saya bicarakan.
    ada banyak kejadian yang ingin saya bagi.
    saya menemukan “bapak” pada diri anda. and you are so pergi begitu saja?
    so, galih,
    anda sudah pergi?
    call me,
    whenever your business done there.
    saya akan tunggu.
    days will fuck me dead.

    Popularity: 87% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 7 Feb 2013
  • 0 Comments


  • Email