(dibaca publik pertama kali di forum arsitek muda indonesia dan milis arsitektur ITS, 21 agustus 2006)

saya biasanya ke jakarta, menuju karawaci.
ada satu teman yang ikut.
di terminal kedatangan, klien menjemput dengan mercedesnya.
karena bawaan buanyaknya minta ampun, terpaksa hanya boss besar yang naik mercedes dan dalam mercedes tadi ternyata klien menyiapkan satu kendaraan motor roda dua. teman memakainya sekaligus membonceng beberapa barang yang ndak muat di mersedes itu.
saya terpaksa berjalan kaki menuju karawaci!.
mersedes berlalu cepat begitupun teman yang memakai honda supra. mereka berkejaran.
busyet! saya ditinggal!
si boss nyampe di karawaci dalam 1.5jam
teman yang memakai honda supra dalam 2.5 jam
dan saya hampir sehari penuh dengan peluh membasahi tubuh!

sesampainya di karawaci, boss bertanya ke saya, kok lama banget?
“yah namanya jalan kaki boss”, saya jawab sekenanya.
saya bertanya ke boss, gimana rasanya ke karawaci mengendarai mercedes?
“busyet, dingin banget di dalam, jalanan macet!”, katanya
“boss lihat apa saja?” saya bertanya lagi,
“ya mobil macet doang ama gedung gedung!”,
saya bertanya kepada teman yang mengendarai honda supra, apa saja yang dilihat
“wah..betul tuh si boss, jalanan macet, mobil lalu lalang, malah ada jalan kereta api di atas, tumben loh lihat begituan,kan biasanya kereta api jalan di tanah!”, katanya.
mereka bertanya ke saya, kok lama, dan apa yang saya lihat.
“wah, ketemu si sonny di suter, ngobrol tentang arsitektur, trus jalan sebentar eh ada teman se kampus minta tolong digambarin rumah..ya udah saya gambarin dulu rumahnya. selesai itu, yang makan dulu di warteg, ada banyak supir angkot di situ, mereka bercerita tentang susahnya penumpang sekarang, tentang istrinya dan anaknya, tentang perselingkuhan. sampai eneg nih kuping. eh..tau ndak ternyata ada jalan tikus yang bisa membuat gerak kita semakin cepat, ndak ada macet ! dijamin. malah saya temukan masih ada sawah loh di jakarta, kamu bayangin deh! di jakarta ada sawah..hari gini..!tetapi yang paling menarik saat saya membantu melahirkan ibu ibu di kampung apa gitu…………dll dlsb”,

begitulah,
lama…murah, ada sekian hal yang ditangkap,
cepat…mahal dan cuman secuil yang ditangkap!

malah ada yang paling mahal, itu ibaratnya sudah menempuh S3!
saat kita dijemput di soekarno hatta dengan helikopter!
perjalanan dari bandara ke karawaci cuman 4 menit!
apa yang dilihat?
pemandangan alam yang ndak begitu detail, tetapi terlihat begitu indahnya….terasa sudah lengkap hidup ini terbang di atas sana melihat segalanya!

saat saya terbang dari pnomh penh ke siem riap (cambodia) di mana angkor wat berada,
saya dipinjemi buku oleh teman karib, “biar ndak bengong tu”, katanya.
judul buku itu adalah “IT IS NOT HOW BIG YOU ARE, IT IS HOW BIG YOU WANT TO BE”

salam,
putu-belum bisa tidur karena terbiasa dikeloni!

Popularity: 1% [?]



POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    saya dijemput dengan sedan ber-AC dingin.
    perjalanan ke officenya klien dikatakan hampir 1.5-2 jam
    mumbai, pagi itu amat krodit.
    panas di luar.
    saya menghabiskan waktu duduk dengan melihat kiri kanan.
    kota mumbai, tak sepahit getir kota jakarta.

    jakarta telah menuai protes oleh warganya.
    akan ke kroditannya.
    akan ketak aman an nya.
    akan pejabatnya,
    tentang fasilitas umumnya.
    tentang copetnya.
    tentang darahnya!.

    saya tak akan mau hidup di kota seperti itu.

    saya melintas di jalan besar di mumbai,
    dimana tiap mobil yang akan menyalip, ditulis dalam
    undang undang dasarnya,
    untuk mengklakson mobil di depannya.
    kalau tidak, kita yang ada di pantatnya tak akan
    bisa menyalip.
    bayangkan!,
    saat udara yang telah kotor oleh CO2 yang menyesatkan hidung,
    kulit yang terbakar oleh terik matahari, musti juga bising oleh
    suara klakson!.
    tiap pantat truck, selalu ada tulisan, “HORN PLEASE, OK!”

    jejeran rumah kardus menghiasi trotoar jalan raya mumbai.
    mereka memasak, mandi, cuci pakian, cuci motor, di bahu jalan.
    anak anak kecil, nge-ngek di bahu jalan!
    bayangkan!

    dan saya melintas di depan mereka dengan sedan
    ber-AC dingin.
    menjadi arsitek rumah tinggal buat salah satu orang terkaya di india.

    kaum wanita, laki laki, anak anak itu, tetap saja
    melakukan kegiatannya;
    mencuci, masak, ngobrol, nge-ngek, dibahu jalan,
    setiap kali saya melintas di situ.

    saya ingat anak istri di rumah.

    jakarta masih bernasib baik.
    saya masih bernasib baik.
    anda masih bernasib baik.

    james riady, CEO kelompok lippo, menuliskan kata
    kata bijak,
    “nikmati pekerjaan anda dan selalu bersyukur kepada
    allah dengan begitu anda tidak pernah punya beban berat”.

    salam dari sanur,
    p.m.

    2008/3/20 putu mahendra <putu.mahendra@gmail.com>:

    arsitektur, berisi salah satunya tentang hal ini.
    kalau kita bisa keluar dari pengertian tentang
    arsitektur seperti apa yang
    dimengertikan selama ini, maka akan ada banyak
    orang yang berkata seperti
    cak andi.
    9 semester tentang arsitektur
    panjaaaaaaaaaannnggggggggg banget, tak tahu
    apakah yang memberi informasi itu tahu betul
    tentang apa yang dibahasnya.

    sebelum einstein mati, dia sempet menuliskan
    kalimat bijak di diary saya,
    “kebanyakan guru membuang waktunya dengan
    menanyakan pertanyaan yang
    dimaksudkan untk menemukan apa yang murid tidak

    ketahui, sedangkan keindahan

    sejati pada pertanyaan adalah pada tujuannya untuk
    menemukan apa yang murid
    ketahui atau mampu untuk ketahui”.

    kalau kita sedikit usil, bagi mereka yang berprofesi sebagai arsitek, dan menyempatkan diri untuk datang mengikuti
    perkuliahan di kampus oleh beberapa guru, saat anda tekun menyimak apa yang dipaparkan, mungkin kita akan
    sesekali ketawa dengan apa yang sedang dibahas…

    pembahasan “pahit getir” mungkin sulit sekali untuk
    diceritakan, tak sesulit
    saat kita membicarakan kesuksesan diri, kehebatan diri.
    kalau hendak membaca pahit getir, jangan sungkan
    sungkan untuk mampir ke perumahan pinggir kali, perumahan kardus pinggiran rel kereta.
    tak usah bertanya ke mereka, cukup melintas dan cerita pahit getir akan amat memukau!

    saya setiap kali ada di site, menapaki tiap
    jengkal site, tontonan pahit getir selalu ada.
    mangkok besar nasi rantang kaum kuli, terlelapnya
    kaum kuli di alas Koran dan bagaimana mereka makan cukuplah menghibur dibawah terikan matahari.
    kalau mendengar cerita maya tentang hebatnya
    seseorang sambil menonton bagaimana kaum kuli makan, mungkin lebih baik rasanya bercakap dengan kuli
    kuli tersebut ketimbang mendengarkan kuliah para
    dosen.

    hari ini saya bolos kerja.
    penyakit saya kambuh setiap ada pekerjaan yang
    musti digarap cepat.
    tangan kaku dan otak beku. gambar reception saja
    kok ndak bisa, pikir saya.
    untuk pertama kali dalam hidup, saya bergabung
    dengan kaum penjudi!
    saya pergi ke arena tajen di sanur sana.
    bercakap dengan mereka, dan seseklai mereka meng-“introgasi”,
    “kamu siapa?”,
    “wartawan mana?”
    “untuk apa motret?”,
    dan lain lainnya.
    saya menembaknya setiap jotosan pisau taji di kaki
    ayam ayam itu, dengan tangan bergetar!

    hiruk pikuk kaum bebotoh, menyemangati tarian
    berantem ayam jago.

    itu mungkin dunia bahagianya kaum penjudi,
    di sisi lain, terjadi hal yang memilukan saat saya
    berbaur dengan mereka walau hanya beberapa jam.

    di dalam arsitektur, di setiap pertemuan, akan
    selalu hadir sebuah
    “power”, dimana plus dan minus, baik dan buruk,
    datang berbarengan.

    saat kita merasakan pahit getir hidup, diwaktu
    yang sama, ada yang merasakan kebahagiaan hidup.
    saya pikir, dua hal itu tak musti secara nyata dipertanyakan untuk dicari, karena, disadari ataupun tidak, mereka telah hadir
    bersamaan.

    salam dari ruangan kerja saya di sanur,
    p.m.

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    dsc_4292.jpg

    (dibaca pertama kali tanggal 30 mei 2007 di milis arsitektur ITS)

    namanya i ngurah gede japara,
    room mate saya saat kuliah di surabaya dulu.
    mustinya, ia bernama i gusti ngurah gede japara,
    tapi karena ada sesuatu hal di keluarganya, “pangkat keluarga” nya di buang.
    begitu ia bercerita dulu.
    dia sahabat yang amat dekat.
    orang pertama yang memperkenalkan saya kamera nikon di tahun 90.
    orang pertama yang memperkenalkan motor tua BMW seri 27 ke otak saya.
    orang pertama yang ngajari saya motret!
    orang pertama yang memperkenalkan saya HP motorola di tahun itu.
    busyet!

    12 tahun lamanya setelah saya keluar kampus,
    baru akhirnya bertemu dia di telkomsel denpasar.
    sama sama ada urusan tentang HP.
    penampilannya tak berubah,tetap gendut.
    yang berubah, ada anak dan istri yang ikutan.
    ah..bahagianya.
    bertemu dengannya di hari itu, mengingatkan saya akan kamera nikon.

    kamera pertama saya nikon F2, dengan lensa 70-200mm. bekas!, di tahun 1997.
    saya beli dengan gaji sendiri, sekitar 1.750 ribu, saat itu.
    duh senangnya punya kamera “beneran”, walau bekas, he..
    duit habis untuk membeli pilem dan pilem dan pilem.
    kemana mana selalu ada F2. di saku selalu ada sekian rol pilem.
    saya ingin bisa motret!
    tuh kamera telah 2 kali putus layarnya, ndak bisa dikokang.
    sari dan sahabat si bob yang sempet membantu ngurusnya di nikon jakarta.
    kamera yang bagus untuk belajar motert dengan manual.
    acara memotret berhenti di tahun 1998.
    sekarang F2 ada di dry box, istirahat.

    kamera ke dua saya, nikon D200.
    saya beli desember 2006 lalu.
    ntah,
    selama ini cuman motret site, dengan kamera pocket.
    tetapi selama itu pula saya selalu ikut motret bareng bos, sekedar pegang reflektornya,
    atau memindahkan filenya ke applenya,
    belajar menggulung pilem dan memasukkan ke haselbaldnya,
    menghias, mengasapi,
    diajari memakai light meter,
    otak saya saat itu tak tergugah barang secuil.
    ntah (lagi),
    bulan desember tahun lalu, otak saya kok kembali hidup di bagian kameranya.
    saya beli D200 plus beberapa lensa sekaligus!.

    kamera ke tiga saya, nikon F4, bekas yang tak pernah dipakai oleh pemiliknya dulu.
    rekan saya bob yang membantu mendapatkannya.
    bodinya bak luna maya. mulus abis
    kemana mana selalu bawa kamera (lagi)
    motret apapun yang saya lihat.
    ndak ada thema, pokoknya poto saja.
    buku tentang potograpy menumpuk,
    majalah tiap bulan menumpuk.
    dan poto kini telah ada sekitar 11 ribu an,
    beberapa diantaranya anak anak kantor yang semuanya perempuan.
    saya kasih hasilnya dalam frame beneran ukuran A3.
    mereka senang, saya juga senang.

    kamera ke 4 saya, nikon D2xs,
    awal bulan lalu saya beli.
    ini mungkin kamera tergila yang pernah saya miliki.
    di laptop kini isinya cuma poto yang sebagian tentang perempuan.
    saat saya ada di kemang jakarta beberapa minggu yang lalu,
    istri saya 5 kali meng-SMS, “jangan sekali memotret wanita (lagi)!. titik!”

    HAH?

    kamera ke 5 saya, grand Nikon D300!
    bukan main nih mesin!,
    saat membawanya pulang ke rumah, istri bertanya, “apa an tuh?”

    “kamera!”,

    HAH?

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    kata ini ada tanda serunya.
    artinya adalah sebagai sebuah pernyataan, bukan sebuah berita.
    ini juga bukan sebuah penyakit yang saya derita, leher menggelembung!

    saya nggondhok!
    intinya, saya kesal.

    jadwal sebulan, saya pepetkan menjadi 2 minggu saja.
    karena tanggal 17 desember nanti, kantor saya tutup akhir tahun. “business” kembali dibuka nanti tanggal 4 januari 2006.
    karuan saja, semua deadline untuk semua proyek ter-pepet” kan menjadi hanya dalam waktu dua minggu.
    ini memang telah menjadi rencana saya. kantor saya tutup lebih awal.
    mustinya tanggal 22 desember, tetapi alangkah baiknya bisa lebih awal.

    liburan tahunan ini menjadi jadwal tetap tahunan. selama ini, kita sudah bak “bandung bondowoso” dalam mengerjakan job. lelah. tetapi kita hepi terus.
    setelah presentasi pekerjaan, biasanya mereka saya ajak untuk dinner atau lunch. bisa juga saya ajak nonton pilem.
    satu kantor!
    dari kepala sampai staff pada taraf “kaki”, semua ikut. ndak hanya ngajak para arsiteknya, tetapi juga saya ajak tukang kebun dan maid serta “hansip”.
    karena mereka ada dalam satu keluarga.
    kalo dihitung, 2 kantor ini mempunyai 100-an designer, terbagi menjadi kelompok arsitek, interior designer, arsitek landskap, grafis designer.
    kalao mereka hanya diberi kerja melulu, otak akan cepat lelah dan wajah kita cepat sekali tua.
    mangkanya, saya terbiasa mengajak mereka untuk “outing”.

    dan sekarang, seminggu lagi, tempat ini ber-istirahat.
    saya mungkin berkebun, mengantar anak ke TK, ngantar istri ke kantor dan mungkin saya di rumah nonton fashion tipi saja seharian.
    senangnya!

    seminggu lalu, “iblis” datang!
    saya musti meeting di ningbo-china, tanggal 18-19 desember nanti.
    ahh!
    saya bilang, bahwa tanggal itu sudah berada di mana kita tutup untuk “holiday”.
    hyatt ningbo, meeting, dan arsitek lanskap yang incharge di kantor saya di kantor bangkok ndak mau untuk “to be attended”.
    proyek ini, 99.9% dikerjakan oleh arsitek saya di bali. beberapa site planning, saya yang meng-handle. jadi setidaknya, saya tahu banyak, tetapi tidak sebanyak rekan yang menggarapnya. saya cuman meng-cek nya.
    sementara si boss, sudah terjadwalkan untuk di beberapa proyek di thailand.
    “maap putu, tolong saya, tolong untuk datang di meeting ini. saya sudah ada jadwal untuk di chiang rai dan chiang mai. setelah itu, saya musti ke hongkong, dari hongkong musti terbang ke melbourne. jadi saya juga mem”postpone” holiday saya”, begitulah kata Babe.

    arsitek hotel hyatt-ningbo, WATG-newyork (?), interior nya HBA california, orang hyatt dari chicago dan klien yang asli china, dan saya yang orang bali, nantinya berkumpul dan bertemu di satu titik : ningbo-china.
    perjalanan ke ningbo, sabtu 17 desember pagi jam 9 memakai singapore airlines “business class”. dan musti nginep semalam dulu di hongkong karena ndak dapat pesawat yang connect ke ningbo hari itu juga. pesawat cuman bisa ditangkap ke-esokan harinya.
    ahh..terbayang sudah rasa lelah!

    terbayang betapa nggondhok seminggu ini.
    nasib!

    o di bali
    dec. 11, 2005

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    semua yang telah saya dapat, suka dan duka, saya patut syukuri.
    sebuah cerita perjalanan, denpasar-srilanka-denpasar, 3-8 sept. 2005,

    persiapan presentasi gambar resort di srilanka, berjalan sejak 3 minggu yang lalu.., tanggal 3 september, semua proses musti telah kelar. perkiraan saya, saya bisa touch the ground!, mengingat, apa yang telah terkonsep di otak, hampir semuanya telah mulai tergambar di photoshop.

    master plan yang saya buat, walau terpotong oleh site visit ke chongqing-china, telah pula kelar saya buat, rekan saya menggambarnya dengan manisnya melalui photoshop.
    lambat tapi pasti, pelan pelan nampak apa yang saya maksud.
    tanggal 3 september, semua musti telah tercetak di atas canvas, full colours!, sebuah perjuangan hidup dan mati untuk sebuah presentasi di tanggal 4 september di colombo!
    anak anak kemudian lambat namun pasti punya waktu hanya tinggal seminggu lagi untuk menyelesaikannya, ada beberapa yang telah selesai dan saya koreksi.
    waktu mereka kemudian juga terpotong oleh pekerjaan dari proyek lainnya yang musti terselesaikan. pikiran saya mulai goyang!.
    napas saya terhadap waktu mulai terasa sesak.

    rabu, 31 agustus, saat hari pagi dimulai dengan suara tilpun dari sodara,bli putu, menanyakan apakah saya ada di rumah. samar saya dengar bapak mengangkat tilpun. mata saya agak masih berat, kemarin malamnya saya pulang jam 2 pagi. begitu juga hari yang lain. mata masih berat. tapi kuping terasa terjaga bapak berbicara dengan keponakannya yang ada di padang sambian, kira kira 30 menit dari rumah jaraknya. sepertinya genting!, mengingat ibunya sedang sakit parah. kena kanker panyudara. ibunya adalah kakak bapak saya. wajar dia menanyakan apakah saya ada di rumah, saya terlalu banyak bepergian. si bibi telah 2 tahun hidup dengan kanker!
    sigap saya bangun dan menanyakan ke bapak ada apa dengan bibi yang di padang sambian. mereka ingin saya datang pagi itu juga.

    saya datang bersama bapak. bapak yang pertama masuk ke ruang tidurnya, kemudian saya menyusul.
    se-onggok badan 70 tahun yang telah tersisa hanya tulang. betapa kurus raga itu. betapa cepat terkuras!. rambutnya yang putih yang telah terkikis hampir habis.
    tabung udara tersambung dengan selang kecil masuk ke dua lobang hidungnya. selang infus menusuk menyatu dengan tangan.
    “matilah sekarang kakakmu ini, dik”, suaranya memelas hampir tak terdengar, menangis tanpa air mata. tubuhnya dipaksakan bergerak, pelan tapi pasti.
    bapak menyentuh raga yang hampir kosong itu, mengelus rambutnya, mengusap rupanya yang hanya terbungkus kulit keriput.
    saya tergetar,merinding menghadapi maut yang telah di depan gang rumah.
    saya berucap,
    “jikalau engkau ingin raga ini tetap hidup, berilah ia kesembuhan. tapi kalu engkau mau raga ini mati, ambil lah. kalau engkau berkehendak, apapun bisa terjadi”

    bapak keluar ruangan sambil terisak!
    lama saya termenung, menyenandungkan mantram gayatri,kidung tuhan, nyanyian alam, sambil memandangi sang raga yang telah lemah. pandangan bibi ke segala ruang. berusaha menggerakkan tangannya.
    saya menghampirinya, memegang tangannya yang tertusuk jarum infus. dia berusaha berbicara sebuah kata, tertahan karena tiada kekuatan untuk berbicara, mengisyarakan sebuah arti yang ndak bisa saya tangkap.
    saya memegang tangannya, terasa panas, saya berharap para leluhur datang menghampiri, memberi kekuatan, bersama berharap dan pasrah terhadap apapun kehendaknya.
    saya berusaha tersenyum, memandangnya. memandang masa lalu saya yang selalu bibi bersama saya. saat saya menikah, saat 2 anak saya lahir, saat saya sakit. selalu ditemani. kini saya yang menemani pagi yang terkulai ini.
    “pergilah kerja..”, akhirnya suaranya keluar dengan tenaga yang terpaksakan.
    saya keluar, meninggalkannya sendiri di ruang itu. saya duduk bersama paman-suaminya, bli putu dan bapak di ruang tipi.
    saya tinggalkan mereka pagi itu.

    ada bibi dari lombok datang, karena bapak menilpunnya untuk datang. si bibi lombok adalah kakak bapak. bapak adalah yang paling kecil, laki satu satunya.
    bapak menjemput ke pelabuhan kapal di padang bai, karangasem. bapak pergi sendiri, ingin saya menemani, tapi kerjaan saya….??
    “repot tu?”, tanya bapak,
    saya cuman mengangguk.
    mobil berlalu.
    sendiri.

    jumat malem sebelum tanggal 3 september, semua berkumpul di padang sambian. di rumah sodara saya itu. semua saudara bibi yang sakit itu, berkumpul!. reuni. kecuali bapak saya. bapak sakit, mungkin kecapek-an, tapi hari kemarin, bapak sempet bicara dengan istrinya bli putu, mbok kadek, tentang kondisinya yang tidak fit dan terasa meriang. sempet di “tensi” oleh mbok kadek, mengingat dia seorang perawat di rumah sakit swasta di denpasar.
    “wah..paman kayaknya gejala demam berdarah!, mungkin lebih baik opname saja!”
    “hah..?”

    demam berdarah?

    bapak menilpun keponakan yang dokter di rumah sakit swasta yang lain di jalan kartini, namanya mbok ketut.
    mbok ketut menyuruh si bapak untuk datang ke rumah sakitnya di hari sabtu.
    bapak berangkat, diantar adik ketut
    saya (lagi lagi) musti ke kantor, karena sabtu adalah tangal 3 september, tanggal di mana gambar musti kelar.
    sabtu dimana tanggal 3 september, pesawat saya TG 432, 5.00pm ke bangkok.
    napas waktu saya sesak!

    di kantor,
    anak anak sedang sibuk banget,
    sliweran ke sana ke mari,
    canvas hasil cetakan gambar telah menumpuk banyak,
    ada total 26 lembar, paling pendek ukuran 90cm x 1.8m, paling panjang 90cm x 5m,
    saya lihat master plan masih dikotak katik,master plan belum kelar??
    pagi telah berada di jam 11.30 !
    waktu terasa sesak!
    hening tapi hati galau..,
    sms datang,
    mira ngajak saya untuk bermain dengan 2 babies di areal mainan anak anak di sebuah super market.
    busyet!
    saya musti men-service mereka!, menjemput mereka di rumah. ibu sedang sendirian, gelisah menunggu si bapak belum pulang
    bapak belum datang dari rumah sakit?.
    saya tilpun adik ketut,
    “bapak bagaimana?”
    “ndak tahu, tadi diajak mbok ketut pergi kemana githu, saya masih di UGD, nunggu. tapi sepertinya bapak musti opname. positip DB, tapi ada thypusnya juga!. mungkin bapak check in besok pagi, minggu”
    “wah..”

    pulang dari mainan, jam 1.30 siang.
    saya lihat bapak telah datang. tergeletak lunglai di ruang tidurnya.
    “bapak positip DB, dan thypus. besok check in opname di wangaya”, ketut menjelaskan tanpa saya tanya.
    “tadi juga sudah diinfus”
    saya lihat plesteran masih menempel di tangan kanannya.

    saya bergegas.
    menyambar koper, mengisinya dengan beberapa pakaian.
    terbayang beban berat bapak yang musti opname. tapi saya musti berangkat. napas waktu saya telah mulai semakin sesak.
    saya pamitan!
    tadi pagi, adik kadek dan istrinya juga telah berangkat ke jakarta, mereka akan 4 hari di sana. mereka ndak tahu keadan bapak yang musti diopname.
    sementara adik komang saya, kerja pagi. akan baru pulang ke rumah pukul 7 malam.
    saya sembrawut!
    raga ini satu, tapi tidak pikirannya!, melayang sendiri sendiri ke berbagai juta tempat.

    ukuran gambar master plan, 2.7mx5m, terbagi menjadi 3 bagian sama rata : 90cmx5m,
    dari tiga bagian itu, sampai jam 3.45 sore, saya baru mendapatkan satu bagiannya.
    ploter masih mencetak yang bagian ke dua, pelan tapi pasti.
    saya gulung semua gambar yang telah tercetak, saya musti check in!
    dengan di antar teman, mengejar agar bisa sampai pukul 4 sore, kalo tidak, tuh pesawat bakalan terbang tanpa saya!
    terbayang, presentasi ini tanpa master plan!
    mereka saya suruh untuk membawanya ke airport saat kapan pun selesai tercetak, dan musti telah ada di airport sebelum jam 5 sore.
    ntah kenapa waktu berlari sangat cepat, ibarat sebuah pertempuran yang ndak seimbang. terasa sekali bahwa manusia memang mahluk lemah!

    ada sekitar 4 counter TG. 3 diantaranya telah “closed”!
    satu counter tengah melayani sorang penumpang bule. mereka sedang berdebat. saya ndak tahu tentang masalah apa. hari gini berusaha mencari tahu…?
    saya protes!
    protes berat!, kenapa musti menghabiskan debat saat kita sedang “rush in hour!”,
    mereka menyuruh saya ke counter lain.
    untungnya satu counter yang telah “closed” berkenan melayani.
    dan tepat, hanya tinggal satu seat saja!,
    kali ini saya naik dengan kelas “Y”, mengingat business classnya telah full!
    persoalan check in telah beres.
    saya tidak langsung menuju pintu keberangkatan walau telah disuruh untuk langsung menuju ke sana,
    “telah boarding pak”
    “baik mbak, terima kasih”
    saya menunggu gambar itu. menilpun bolak balik ke kantor dan ke HP teman.
    sekali lagi menilpun kantor dan HP teman.
    menilpun dan menilpun!,
    memaki, mencaci,
    tiada yang mendengar, tiada yang merasa,
    kecuali raga ini.
    waktu telah menunjukkan 4.45 sore.
    speaker ruangan mengema memaggil nama saya, ini yang ke dua kalinya. saya kalut!
    ada beberapa petugas TG sedang wara wiri di sekeliling saya, ntah apa yang dicari.
    seorang petugas yang tadi melayani reservasi saya mengenali wajah saya,
    “bapak penumpang TG kan?”
    “iya”
    “aduh, sudah boarding pak, bapak mau naik apa ndak?
    “aduh, saya masih menunggu beberapa tas”
    “naik apa ndak, kalau ndak, saya upload?”, telunjuknya berada di depan hidung saya.
    “naik apa ndak?”, ulangnya.
    saya pasrah, berlalu lunglai menuju pintu 4.
    saya kalah.
    mentertawakan diri sendiri, tertawa sekerasnya. mentertawakan mereka yang mencari saya tadi.
    tapi tiada yang mendengar.

    di counter imigrasi, terasa begitu lancar, mengingat pesawat hanya menunggu kedatangan saya.
    di pesawat, penumpang nampak begitu sesak. penuh. mereka memandangi saya!
    busyet!
    bahkan menaruh koper dan tas kecil saja ndak bisa, semua penuh.
    pramugari mempersilahkan saya menaruh barang barang saya di bagasi business.
    saya duduk lesu!
    jari jemari saya sempet memainkan keyboard HP, meng-sms teman kantor untuk mengirim gambar master plan ke bangkok lewat email. trus menyuruhnya menilpun kantor di bangkok tentang hal ini serta menilpun bos yang masih berada di bangkok. siapa tahu mereka bisa membantu memplotnya, toh juga bos saya akan berangkat dari bangkok.
    dan, terkirim, sedetik kemudian HP saya matikan. pesawat TG bergerak perlahan menuju runway!

    saya baru sadar, hari ini tanggal 3 september, sabtu. kantor idealnya cuman kerja senin sampai jumat.
    walau kantor bangkok tetap kerja di sabtu dan minggu, tetapi mereka tidak pernah mengangkat tilpun atau membaca fax di hari sabtu atau minggu.
    mereka teramat sibuk untuk melakukan hal kecil seperti ini.
    sudahlah…
    saya pasrah!
    pesawat TG melayang di udara, bersama pikiran saya yang sedang kalut pol!
    saya habiskan lamunan di sepanjang jalan, males untuk membaca senopati pamungkasnya arswendo.
    pikiran ini sedang mumet!
    berharap dan berharap, kontak dengan kantor bangkok terjadi.
    berharap dan berharap.
    agar beban ini terkurangi.
    saya hilangkan kegundahan hati dengan mulai membaca senopatinya arswendo, lembar demi lembar.
    napsu makan saya tidak ada saat pramugari TG menawari saya makan malam.
    hati yang sesak bukan bisa disirnakan dengan makanan, setidaknya untuk saat ini?

    pukul 8.30 malem,
    saya berada di bangkok,
    hidupkan HP,
    ada beberapa sms masuk,
    salah satunya tentang kegagalan kantor bali untuk menghubungi kantor bangkok.
    “maap tu, saya telah berusaha..”, nadanya amat sangat berat.
    saya sms balik, agar mereka mengirimkan email master plan ke email saya. siapa tahu saya bisa print nantinya di colombo sana.
    saya habiskan waktu menunggu pesawat cathay pacific di executive loungenya, saya yakin, nantinya saya akan bertemu dengan boss dan rombongan di lounge ini.
    di sinilah nantinya saya musti menjelaskan apa yang sedang terjadi!
    15 menit di lounge,
    bos menepuk pundak saya sambil menggoda dan mengejutkan saya.
    seperti biasanya, musti ada canda dan kejutan kalau bertemu.
    termasuk kejutan master plan saya.
    “what..?”
    begitulah kata pertama yang melesat dari mulut.
    saya jelaskan semuanya, usaha kita mengontak bangkok dan dirinya sendiri.
    “oh..shit!”, lanjutnya.
    dia bengong sambil berkacak pinggang, matanya memandang saya lesu.
    saya jelaskan lagi bahwa kantor bali telah meng-email master plan ke alamat email saya, saya pikir bisa saya buka di mana saja.
    dengan sigap dia mengeluarkan laptopnya dan browsing, lantas memberikan laptopnya ke saya.
    dia berlalu mengambil minuman dan snack.
    “saya lapar, belum makan siang..”, logat bahasa indonesianya nampak jelas terdengar.
    dan benar, master plan telah terkirim ke alamat saya, master plan tertangkap di monitor ini, saya gembira.
    saya tunjukkan ke bos, dia pun senang.
    setidaknya, kita bisa bernapas lega untuk saat ini.

    sampai di colombo jam 11.30 malam, di bali berada di 2.30 pagi.
    butuh 1 jam perjalanan dengan taxi hotel menuju hotel pan asia-colombo.
    saya tertidur dengan 50% pikiran melayang di bali.
    tuhan..ampuni kami!

    minggu, 4 september 2005
    saya ada di lobby hotel pukul 9 pagi.
    sopir penjemput telah menunggu.
    saatnya untuk mempertontonkan apa yang saya buat, apa yang dirasa membebani pikiran saya tentang arti sebuah gambar presentasi yang ndak lengkap!
    tapi, keadaan saya, bill bensley dan ouant-arsitek senior dari bangkok yang ikut nimbrung-di hari minggu yang mulai mendung dan sepertinya akan mulai gerimis ini, segar bugar.
    banyak burung gagak berterbangan di kota colombo ini, andai ini di indonesia, mungkin burung burung ini pasti ditangkapi, dan dijual untuk sesuap nasi!

    kantor klien jaraknya cuman 30menit dari hotel.
    sama seperti saat di hotel, ada banyak burung gagak tumpah ruah di sini. menakjubkan!
    di ruang yang amat sangat luas, meja panjang tersedia dilapisi kain putih. sekitar 20-an orang menantikan apa yang ada di gulungan canvas itu.
    saya buka perlahan, takut canvas jadi cacat atau lecek.
    sebagian terkuak di meja, sebagaian saya taruh di lantai menurut jenis gambarnya.
    mereka takjub!
    boss saya mulai menerangkan, hanya dengan 1/3 site plan, sembari membuka site plan yang lengkap di laptopnya!
    menerangkan satu demi satu apa yang tergambar.
    hujan mulai turun membasahi colombo, burung gagak bertebangan ke sana ke mari mencari perteduhan.
    indah banget.
    acara belum selesai,
    mereka masih tampak antusias.
    saya menyiapkan gambar demi gambar, mereka nampak semangat, membuat hati saya sedikit terhibur.
    klien dan teamnya seperti tersenyum puas dengan apa yang di sodorkan, walau ada beberapa gambar yang hilang.
    mereka ndak bisa berkata apa lagi selain :” your design is more beautifull then roll royce!”

    pikiran saya menelusuk ke bapak, yang saat ni sudah check in di rumah sakit.
    saya ndak bisa terlalu menikmati kemenangan ini!
    berharap saya bisa pulang agak cepat..

    saat orang orang pada mencicipi snack yang disuguhkan klien, dan saya sedang menghirup teh dengan sedikit creamer, mira-istri saya menilpun,
    “halo..”
    “iya..halo, ada apa?”
    ” bibi sudah meninggal, tadi jam dua siang. bapak sudah check in di rumah sakit, diantar adik ketut tadi pagi. si priyah dan bhumi sedang sakit. mereka panas sejak tadi malem. cuma mau memberitahu itu saja”
    klik.
    tilpun mati.
    saya berdiri kaku.
    menjauh dari kerumunan.
    air mata saya menjelma menjadi hujan yang lebat membasahi colombo.
    burung gagak hitam menepi mencari keteduhan.
    orang orang saya lihat nampak puas dengan apa yang terjadi hari minggu pagi,
    kecuali saya,
    …..

    sept. 21, 2005

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 19 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    (saya tulis untuk reply ke afira sutanto di milis forum AMI beberapa bulan lalu..)

    pada usia 17 tahunnya, peter cook bertanya ke saya, “putu, how BIG is BIG?”.
    kami makan siang di warung yang berpemandangan sawah hijau membentang di desa ubud.
    pertanyaan peter cook saya pendam dulu.
    pelayan menghampiri kami dan menghidangkan masakan bali.
    putu : “why did you order the balinese food?”
    peter cook : i want to be a balinese somehow. this kind of food making me as i m real balinese. sure peoples can be balinese by their own ways. they have their own styles and perceptions to be came what they want to be
    putu : so, how BIG is BIG?”
    kami tertawa berbarengan.

    seberapa besar mata kita melihat arsitektur tak dipengaruhi oleh bagaimana kita musti menyikapi arsitektur atas arahan orang lain.
    arsitektur ternyata bukan “bagaimana seharusnya” tapi terkadang juga menjadi “let it be”.

    terkadang saat saya tampil dengan sepatu prada, jam rolex dan kaca mata bermerek CK gara gara agar bisa tampil meng-artis ala rhoma irama , karena dia memakai merek merek tersebut, saya merasa asing. merasa terkekang.tidur tak nyenyak.
    saya berkesenian dengan bekal diri.
    mengertikan arsitektur, bukan oleh gara gara suatu kiblat.
    pembelajaran arsitektur bukan lagi MUSTI berkiblat pada sebuah ujaran yang kemudian ditext kan melalui lusinan buku.
    bukan pula kemudian harus berkiblat kepada sebuah ujaran dari seorang rhoma irama.
    saya sendiri ndak tahu seberapa hebat hidup seorang rhoma irama bagi dirinya sendiri, apalagi seorang peter cook yang musti kita kiblati ujarannya agar besaran bukaan bola mata kita dianggap “terbuka”.

    hidup dalam ber-arsitektur, kemudian mustinya selalu dipandang sebagai sebuah pluralitas.itulah sebuah kiblat. jangan berusaha untuk mengedepankan sebuah “perbedaan” dan dipakai untuk menikam bunga melati gara gara warnanya tidak merah seperti mawar.

    kalau kebenaran dalam ber-arsitektur hanya bisa di dapat dari sebuah kiblat tertentu, saatnya tiba buat kita semua untuk datang berkumpul pada alun alun kota, sambil membawa penggaris agar bisa menentukan mata siapa yang paling sipit!.

    salam,
    p.m. arsitek

    — In forumami@yahoogroups.com, “afirasutanto” <afirawiniera@…> wrote:
    >
    > Rekan David,
    > Iseng aja pas kebetulan baca bukunya Archigram, pertama kali baca buku
    > itu 10 tahun yang lalu….waktu itu kagak ngerti apa sih
    > bagusnya…setelah 10 tahun dan baca lagi baru sedikit ngerti…ada
    > kesamaan spiritnya dengan AMI jadi yah dibandingkan aja.
    > Saya terakhir ketemu Peter Cook tahun lalu waktu dia kasih kritik di
    > Diplomanya AA school…udah 70 tahun usia…tapi semangatnya
    > itu….masih muda sekali…sekarang kayaknya jadi penulis tetap di
    > Architecture Review…di samping Pak Gun dan Pak Sonny, dia salah satu
    > yang banyak membongkar pemikiran saya dalam berarsitektur…Peter Cook
    > mesti kita ketemuin sama Juhara biar agak kebongkar pemikirannya
    > tentang arsitektur:)-
    > Pernah saya tanya niat nggak kasih Lecture di Indonesia, dia jawab
    > bahwa dia punya teman baik Ken Yeang…kayaknya kagak nyambung deh
    > dia…he..he…
    >
    >
    > Life is unique
    > AS
    >
    >
    > — In forumami@yahoogroups.com, David Hutama <ginadi@> wrote:
    > >
    > > bung Afira,
    > >
    > > pertanyaan saya kenapa dibandingkan AMI dan Archigram? bukannya
    > > keduanya memang mempunyai banyak perbedaan baik itu secara historis
    > > maupun karakternya?
    > >
    > > tapi kalo membandingkan bu Afira dengan Peter Cook nah itu mungkin
    > > lebih pas 🙂 buat saya sih.
    > >
    > > salam,
    > >
    > > david
    > >

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 19 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    diskusi dengan mbah petungan beberapa waktu silam….

    menanggapi email rekan mbah petungan,
    terima kasih atas penjelasan dan pencerahan. saya pikir, ndak terlalu panjang, tetapi begitu mengena.

    gagasan tentang “tertindas” nya tamatan arsitektur menjalani profesi yang sebenarnya dan yang lainnya, bukan sekedar teori.
    memang sah sah saja untuk mempertanyaken mengapa begitu lama, masyarakat, dan saya sendiri, mengasosiasikan pendidikan arsitektur nantinya bermuara ke profesi arsitek, bukan yang lainnya, dan selanjutnya penyimpangan akan profesi ini adalah sebuah dosa. seharusnya saya melihat, bagaimana asosiasi ini tercipta dan tidak menyimpulkan secara tergesa gesa bahwa tamat di arsitektur mustinya berprofesi sebagai arsitek, dan penyimpangan akan profesi ini adalah hal yang tekutuk! kesalahan yang lebih tertuju pada lembaga yang memperoduksi tamatan arsitektur ini. lebih dari itu, mustinya juga mempertanyaken mengapa sekarang saya begitu bersemangat menyalahkan diri sendiri bahwa dulu saya menganggapnya dosa? liku liku mana yang membawa saya tiba pada kesimpulan “bersalah” terhadap argument seperti ini? dan liku liku mana yang membawa peradaban kita pada situasi yang aneh, yaitu berkata pada diri sendiri dan khalayak ramai bahwa pengertian insinyur seperti terjelaskan pada email embah petungan, sudah terjadi sejak lama sekali jamannya londo londoan dan akhirnya di “sebut” tidak dosa saat pengertian insinyur atau (yang saya maksudken arsitek, yang lebih tinggi derajatnya ketimbang seorang tukang) bergeser.
    bagaimana pergeseran tersebut? yang kemudian dengan berlagak membebaskan diri dari kodrat “menjadi” di luar arsitek adalah bukan dosa, justru telah mengarahkan pikiran saya akan kekeliruan historis yang besar di mana adalah sah hal itu terjadi karena memang pendidikan yang terjadi seperti itu adanya.
    akan ada banyak orang yang kemudian berargumentasi bahwa jika dewasa ini begitu banyak orang menegaskan pernyataan seperti itu, sebanya tiada lain persepesi itu memang nyata secara historis.

    dari tulisan saya di atas, saya mengungkapkan beberapa keberatan :
    pertama, apakah pendidikan arsitektur yang baru bisa sebatas mencetak sarjana, dan sah jika tamatannya berprofesi sebagai maklar mobil, memang menjadi kenyataan historis?
    kedua, apakah mekanisme kekuasaan pendidikan arsitektur yang telah berakar seperti itu, seperti yang terungkap di milis mbah, esensinya bersipat represif? apakah merupakan hal yang tabu, pantangan, jika kemudian lembaga kampus arsitektur tak bisa di salah ken?

    dengan dua keberatan saya tadi, saya tidak bermaksud untuk mengata ken bahwa penyimpangan profesi tamatan arsitektur tidak di cemooh di masyarakat, sebaliknya malah menguntungkan pihak pencari kerja (dan juga kampus produsen tamatan itu, setidaknya, tamatannya ndak menganggur!). saya juga tidak bermaksud mengatakan masyarakat begitu toleran.
    maka masalah utama, paling tidak awalnya, bukanlah mengetahui apakah kita setuju akan “untouchable” nya kampus akan kasus ini, sahnya penyimpangan profesi tamatan ini, apakah penympangan profesi tamatan arsitektur ini adalah haram atau halal, atau saya harus menyatakan penyimpangan ini adalah hal yang amat penting atau yang remeh dampaknya bagi mbah atau kampus atau rekan rekan lainnya, MELAINKAN masalahnya bahwa memperimbangken kenyataan bahwa penyimpangan tamatan arsitektur, pendidikan arsitektur yang terjadi yang mbah sebutkan tadi, DIWACANAKAN. singkat kata, masalahnya adalah seluruh wacana tadi, seluruh “pewacanaannya”.
    jangan salah kira, bahwa penyimpangan ini (tidak pernah) dilarang.
    atau bisa saya bilang, selama ini kampus arsitektur adalah telah melakukan kebohongan publik atas pendapat publik?

    salam,

    ongki-the great perfectionist+controversional man, flight MH 751 kualalumpur-denpasar, business class always. yang kini telah menyentuh profesi arsitek secara profesional

    On 6/9/06, josef prijotomo <petungan@megatruh.co.id> wrote:

    sudah sejak pertengahan abad 18, sekolah arsitektur terpilah menjadi dua jenis yakni ecole d’architecture dan ecole polytechnique. Ecole d’architecture bisa saja berada di dalam ecole des arts. Kedua sekolah itulah yang menjadi cikal bakal dari sarjana dan insinyur. Insinyur itu aslinya engineer = tukang/pandai mesin (tukang batu, pandai besi dan
    sebagainya). Jadi, insinyur itu sekolah yang menekankan praktek, dan karena itu lulusannya adalah ‘tukang’ atau ‘pandai’. Jangan dimengerti dalam konotasi merendahkan seperti yang berlangsung saat ini, di mana insinyur menganggap dirinya lebih tinggi derajat dan kedudukannya daripada tukang,
    tidak. Insinyur itu tukang yang lebih ahli atau lebih pandai dari tukang-batu atau pandai-besi. Oleh karena itu di jaman Belanda hingga akhir masa Orde Lama, ada sekolah STM-bangunan (sekolah teknik menengah) yang mencetak tenaga tukang, dan ada fakultas sipil dan bangunan yang mencetak insinyur. Sekali lagi, di sini insinyur itu tukang yang lebih ahli daripada tukang lulusan STM. Mengapa demikian, karena dalam jaman Belanda itu banyak diperlukan tenaga ahli di lapangan sebagai pelaksana pembangunan. Mereka yang ahli dalam keilmuan harus sekolah di Belanda. Sampai era Orde Lama kebutuhan akan ahli yang langsung terjun di lapangan masih berlanjut, dan karena itu lulusan fakultas sipil dan bangunan mendapat gelar insinyur.
    Seperti di jaman Belanda, di jaman Orde Lama ini, fakultas sipil dan bangunan juga menerima lulusan SMA untuk dilatih dan diajar menjadi tukang yang ahli, menjadi insinyur.
    Di era Orde Baru, lembaga/sekolahnya mengalami perubahan di mana lulusan sekolah STM itu dapat meningkatkan keahlian ketukangannya dengan menempuh program Diploma (D3, D4); dan dapat lebih mengahlikan diri dengan menempuh program Spesialis (Sp). Jikalau jalur pengajaran seperti ini dipadankan
    dengan yang era Orde Lama, maka seharusnya para lulusan Diploma itulah yang berhak menyandang gelar insinyur, sedang lulusan Spesialis bisa saja dinamakan insinyur-spesialis. Tetapi tidak begitu yang terjadi. Para lulusan Diploma tidak menyandang sebutan/gelar insinyur.
    Dalam jalur lain, ada yang namanya Fakultas dan Jurusan. Akan sangat tolol Orde Baru kalau menyamakan Fakultas dan Jurusan ini persis seperti program Diploma. Karena itu, fakultas dan jurusan dibebani tugas pengajaran untuk mencetak Sarjana. Sarjana lalu pasti bukan tukang; sarjana juga pasti buka insinyur. Sarjana juga bukan lagi ahli yang langsung terjun di lapangan!
    Nah, sampai di sini, sarjana arsitektur, sarjana ekonomi, sarjana hokum menjadi satu paras/level: seseorang yang mendapat pengakuan sebagai memiliki PENGETAHUAN atas ilmu tertentu. Perhatikan, bukan memiliki KEAHLIAN BERPRAKTEK.
    Sekarang, silakan tengok lagi ijazah anda masing-masing: tak ada yang menyebut insinyur, bukan? tetapi menyebut SARJANA TEKNIK (sayang, para sesepuh kita tidak memperjuangkan untuk menyabut SARJANA ARSITEKTUR). Nah,seorang ST tidak berbeda dari seorang SE atau SH, bisa bekerja di demikianbanyak bidang pekerjaan. Dan karena itu, seorang ST dari sekolah arsitekt bukan otomatis adalah arsitek! Lho kok begitu? Iya, karena arsitek itu seorang spesialis, dan karena itu hanya setelah menyelesaikan pengajaran dan pelatihan Spesialis berhak menyandang sebutan sebagai arsitek. Dan, pendidikan Spesialis itu sejajar dengan pendidikan Magister (S2).

    Tukang Insinyur Insinyur Spesialis [ARSITEK]
    STM ———-D3/D4———————-SP

    Pelajar Sarjana Teknik Magister Doktor
    SMA ——— Jurusan ——————-S2 ————-S3

    Dengan gambaran seperti itu, seharusnya dan sepenuhnya benar kalau sekolah arsitektur itu tidak mencetak arsitek, dan selanjutnya, sangat bisa dibenarkan bila lulusannya terlalu sedikit yang jadi arsitek, bukan? Apaartinya, artinya adalah: jangan anda menyalahkan sekolah arsitektur kala tidak mencetak arsitek!

    Kecelakaan Sejarah?
    Sekolah arsitektur ITS didirikan tahun 1965. Pendirian sekolah arsitektur ini dilandasi oleh kenyataan akan terlalu sedikitnya ahli lapangan di bidang arsitektur, insinyur arsitektur. Oleh karena itu, sekolah ini dalam 10 tahun pertama mengkhususkan diri untuk mencetak insinyur, ahli di lapangan. Celakanya, perjalanan selanjutnya dari sekolah arsitektur ITS ini (demikian pula halnya dengan sebagian terbesar sekolah arsitektur di
    Indonesia), tidak mau mengikuti struktur persekolahan yang memisahkan program Diploma dari program sarjana. Sekolah arsitektur ini melaksanakan pengajaran yang menjadi porsi dan hak dari program D3/D4, tetapi menyebut dirinya sebagai program S1, S2 dan S3. Akibatnya menjadi jelas: demikian
    banyak lulusannya yang jadi bingung dan tidak tahu arah, sehingga menghasilkan NATO dan silang pendapat yang SAYANG SEKALI, hanya diramaikan oleh Putu dan Pranoto.

    Jadi, arsitek, profesi, sarjana arsitektur, dan berbagai sebutan lainnya hanya mendatangkan kebingungan karena sekolah arsitektur sendiri tidak memberi kapling untuk menjelaskannya. Bahkan, lebih menyedihkan lagi, sekolah arsitektur masih terus meneriakkan dengan lantang bahwa sekolah ini “mendidik calon arsitek”! Sekolah arsitektur tidak mau melihat bahwa sarjana arsitektur berbeda dari insinyur ataupun arsitek. RUNYAM to,
    keadaannya; apalagi kalau itu terjadi juga di sekolah arsitektur ITS. Sampai di sini, apakah sekolah arsitektur ITS boleh disalahkan? Kenapa tidak boleh, kalau memang salah, bukan?

    Lhadalah, kalau dengan tulisan di atas wacana yang sekarang sedang bergairah itu lantas mandeg, itu namanya juga kecelakaan sejarah! Makanya, teruuuskan wacana.

    embah petungan
    (yang konsekuen dan konsisten dengan ijazah tahun 1976 yang menyebut: sarjana teknik, bukan arsitek dan bukan insinyur)

    Popularity: 3% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 19 Apr 2008
  • 2 Comments


  • Email

    dibaca publik forum AMI dan milis arsitektur ITS, tanggal 6 sept., 2006

    di dapat dari perenungan di bawah kolong jembatan tukad badung, dan hasil komunikasi jarak jauh dengan eyang guru vincentcius ratu agung,

    seorang senopati datang ke ruang saya, membawa beberapa lembar gambar berisikan gambar pavilion untuk sebuah proyek di atas angin.
    kami mengamatinya bersama sama.
    dari hasil perenungan di bawah kolong jembatan, saya memberikan “garam” ke gambar itu.
    “senopati, mari kita berbicara tentang “pembatas”, ruangan saya ada pembatasnya. pembatas itu secara general dapat kita pilah menjadi 2, yang vertikal kita sebut ia sebagai tembok, yang horisontal kita sebut ia lantai dan ceiling.
    bagaimana kita memperlakukan pembatas vertikal dan pembatas horisontal bak ibarat engkau, senopatiku, memperlakukan badanmu.
    saat kapan engkau mengenakan legan panjang atau lengan pendek, saat kapan engkau menutupi kepalamu dengan blangkonmu dan saat kapan engkau memakai celana dalammu di barisan terdepan dari pembatas pembatas yang engkau pakai(ingat superman return), adalah ditentukan bagaimana engkau ingin menghadirkan segala “kekuatan” yang ada di diri”, saya berhenti sebentar, dan melepaskan earing i-pod yang masih menempel di telinga.
    “lihatlah tembok yang engkau gambar, ke-empat sisinya, tembok yang engkau disain kini telah engkau “sulap” sebagai panel panel pintu folded.
    pintu yang engkau buat juga engkau telah reduksi sebagai deretan kayu dan “void” sedemikain sehingga kalau engkau berada di dalam pavilion ini, akan terasa aliran ruang dari luar ke dalam atau sebaliknya. image “open” terbaca dengan jelas.
    begitu juga bagaimana engkau memperlakukan pembatas horisontal yang berada di atas, di ceiling, begitu “open” karena engkau ingin memperlihatkan bagaimana kayu kayu itu merangkai sebuah bentuk”.
    tapi perlakuan itu tak setimpal dengan apa yang engkau buat untuk pembatas horisontal yang ia kita sebut sebagai ‘lantai”, saya berhenti sebentar.
    kening sang senopati agak berkerut.
    “maap, mahkluk konyol, ampuni saya yang ndak nyambung ini, buatlah saya semakin mengerti akan kekonyolan anda. ampun beribu ampun, saya ndak nangkap apa yang mahkluk halus maksudken”, sang senopati duduk mendekat.
    “pembatas horisontal yang ia kita sebut sebagai lantai, bisa kita mainken untuk mendapat buka-an karena di titik di mana ada bukaan ada “view” di bawah yang bagus untuk di tangkap. ingatlah, hal ini telah banyak engkau lakukan pada bangunan bangunan yang berlantai banyak. engkau selalu akan membuat “void” di lantai dua atau tiga atau empat atau lantai atasnya lagi karena lantai bawahnya memiliki “kekuatan” untuk ditampilkan ke lantai yang berada di atas. konsepnya sama, membawa ruang mengalir!. tapi ada sekian arsitek yang selalu melupaken teori ini kalau ia berhadapan pada bangunan hanya satu lantai. pikiran mereka akan bertanya, buka lantai? emang lihat cacing?….”, saya tertawa terkekeh…
    “mahkluk halus yang konyol, saya sekarang mengerti”, sang senopati duduk dengan tenang.
    “kalau ada bukaan pada sebuah tembok yang dibuat dan apa yang ia ingin tangkap di luar sana melalui bukaan tadi, kalau ndak ada sesuatu, sang arsitek akan meng-create “sesuatu di ruang luarnya agar bisa dinikmati dari dalam bangunan melalui bukaan tadi di pembatas vertikal.
    ingat, ia akan meng-create ruang luarnya! (pake tanda seru) agar bukaan tadi tidak hanya berfungsi sebagai “buka-an” belaka. hal ini bisa kamu buat sebagai alat membaca lantai yang perlakuannya beda dengan bagaimana engkau memperlakukan dua pembatas itu di gambar ini. jadi jangan berpikir, “void” pada lantai hanya bisa dilakukan pada bangunan bertingkat saja. itu namanya arsitek kelas AMI-arsitek muda ingusan!.
    tetapi “void” pada lantai juga bisa dilakukan untuk bangunan lantai satu seperti desain kamu ini. tapi ingat, saya ndak mau melihat cacing tanah karena saya sudah punya cacing satu yang bisa besar dan panjang kapan saya mau..hehehekk”, saya terkekeh.
    “ampun mahkluk halus yang konyol, terima kasih atas “garam” anda. saya pamit dulu, kepala saya mumet ingin segera memperbaiki dengan membaca pada level sama untuk semua pembatas pembatas itu. matur nuwun”, sang senopati terbang ke purinya.

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 19 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    sudah 3 hari ini, saya ndak makan pisang goreng.
    makanan camilan paling enak di dunia, mungkin menurut saya, ya pisang goreng.
    ditemui di pinggir jalan di dalam rombong rombong, sampai ke hotel bintang lima.
    setiap hari, pagi dan siang, selalu ‘desert’ dengan pisang goreng.
    ndak lengkap rasanya makan tanpa di sudahi dengan camilan ini.
    atau,
    ndak lengkap rasanya, makan tanpa di dahului dengan melahap pisang goreng.

    terakhir, saya makan pisang goreng, siang senin lalu. mungkin karena cuaca yang kurang baik atau habis makan pisang goreng trus siangnya saya makan nasi goreng.
    terasa sekali ada perubahan mendadak saat saya rasakan sesuatu terjadi di kerongkongan.
    sekali lagi, ini mungkin ada hubungannya atau ndak.
    kerongkongan kemudian terasa sakit saat menelan.
    trus badan ini saya bawa ke pantai jimbaran bersama anak anak untuk makan malam bersama, bersantap seafood bakar di tepi pantai jimbaran yang dulu menjadi “site” teroris untuk di bom!
    tapi,
    disini, ndak ada ‘desert” pisang goreng.
    kerongkongan saya bertambah perih saat menelan sambal khas masakan sini.
    angin berhembus kencang.
    liur yang mustinya keluar dari mulut, kini sudah berani keluar liwat hidung!
    yah….ini tanda saya kena serangan flu!
    sepertinya detak jantung saya bergetar agak pelan.
    saya antar anak anak ke kantor dulu setelah bersantap seafood, terus pulang dan tidur.
    air liur yang datang liwat hidung semakin kencang.
    segelas redoxon dan sebutir ‘neozep’, ndak membuat saya tidur tenang,
    ditambah gigitan setan nyamuk yang beterbangan saking laparnya!.
    busyeet..ndak tahu lagi sakit apa?

    walhasil…flu bertambah parah karena tidur yang tak nyenyak.
    tekanan darah saya ada di 90!
    rendah, biasanya segini kalau sedang berada di bawah.

    hari ini, flu agak baikan,
    sudah seminggu lebih ndak bersetubuh, selain karena kecapekan karena pulang agak malam trus ditembak flu yang datang tiba tiba gara gara makan campuran pisang goreng dan nasi goreng.

    tadi pagi, hendak beli pisang goreng, tetapi ntah kenapa jalan di mana dagang pisang goreng berada, sedang ditutup oleh desa karena ada upacara adat.
    mobil berputar ke jalan lain, ada rombong yang jualan pisang goreng. tetapi rombong ini bukan langganan saya.
    saya berpikir, mungkin bisa minjem motor teman agar bisa melalui jalan di mana pisang goreng langganan saya berada.
    bisikan setan terdengar di telinga kiri untuk bergerak membeli pisang goreng saat saya telah sampai di kantor. ada sederet motor parkir.
    bisikan dokter bergetar, “bapak, jangan makan gorengan dulu ya, dua minggu!”
    kotak biru yang berisi nasi dan lauknya dari istri tak menggoda saya untuk menyantapnya-karena kebiasaan untuk mendahuluinya dengan makan pisang goreng.

    sakau…..

    27 juli, 2006

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 19 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    _dsc0583.jpg

    saya meng-sms adik di suatu sore di hari kamis, manis galungan.
    manis galungan adalah sehari setelah perayaan hari raya galungan, hari raya hindu yang besar di bali. saya baru tiba dari singaraja.
    intinya minta bantuan untuk ikut membantu mengeluarkan mobil yang “stuck” saat saya masuk ke car-port rumah.
    posisi mobil, setengah bodi telah masuk, setengahnya lagi masih di luar.
    keadaanya miring ke arah belakang karena beton penghubung jalan perumahan dengan carport miring tajam.
    roda depannya tenggelam karena jalan perumahan masih berupa tanah urug, belum diaspal oleh developer.
    semakin digas, roda depan semakin mengeruk tanah dan akhirnya bagian bawah pintu-istilahnya rocker (?) mencium bagian atas “jembatan beton penghubung”
    ndak bisa maju, apalagi ke belakang. malah plat rocker manjadi rusak dan pecok cok tergores terbentur dengan badan jembatan.
    berdua berusaha mengeluarkan.
    dongkrak kiri, dongkrak kanan.
    dan,
    memang berakhir dengan sempurna, bisa mengeluarkan si mobil. tetapi cacat di bagian bawah!
    saya pusing!, baru abis hari raya kok dibuat repot.
    besoknya, segera saya “claim” ke asuransi. prosesnya amat sangat gampang dan segera menuju bengkel yang ditunjuk.
    saya tinggalkan mobil di bengkel dan berharap agar cepat selesai.
    saya berjalan ke arah jalan gatot subroto. jalan ini terlentang dari timur ke barat. cukup ramai. menghubungkan terminal bus atau minibus yang dari arah gilimanuk, menuju arah baypass. dari bypass bisa menuju sanur, nusa dua atau ubud. dari bengkel ke jalan gatot subroto cuman 10 menit, atau mungkin kurang.
    saya berhenti tepat di pinggir jalan, maunya menyebrang jalan menuju sebuah pelataran toko yang cukup luas dan agak “shady”, maksud saya biar bisa nunggu taxi dan ndak begitu kepanasan.
    saya lihat di pelataran toko itu, seorang polisi sedang “menilang” sebuah sepeda motor.
    saya menyebrang ke tempat di mana polisi dan “mangsa” nya berada, tetapi berdiri menjauh dari mereka.
    males mendengar.
    kongkalikong ketupat bodong makan kedondong. tinggal sorroongg…
    urusan mereka sepertinya “kelar” di tempat!
    sekali lagi, prosesnya amat sangat cepat dan gampang.

    saya tetap beridiri di posisi semula dan menelpun taxi.
    sepeda motor yang dikemudikan oleh seorang pemuda berumur 27 tahunan dan “pasangannya” meninggalkan sang polisi yang berkaca mata gelap dan berkumis tebal.
    tinggi, helmnya masih menempel di kepala.
    nampak gagah dengan handy talky terselip di bahu, jadi bisa selalu bicara dengan lawannya di sana.
    si pengemudi motor bergerak ke arah saya. sekitar 5 meter dari saya, dia memberhentikan motornya sambil mulutnya mengeluarkan sumpah serapah.
    polisi terdiam, menatap semua kendaraan yang lalu lalang, memperhatikan semua gerak gerik yang mencurigakan sambil tetap mendengarkan suara suara yang datang dari handy talky nya. bom bali 2 baru saja terlewatkan. jadi semua polisi bertugas tepat di posisi masing masing dan selalu siaga.
    tetap siaga, walau ada seorang pengendara mengeluarkan cacian makian setelah ber”negosiasi”.
    istilah kerennya cuek, atau meniru istilahnya gus dur, “githu aja kok repot!”

    si pengendara motor menghampiri saya dan berhenti tepat di sisi saya.
    mulutnya kembali mengeluarkan sumpah serapah.
    “polisi bangsat, brengsek! setan demit!, wong belok sedikit aja di larangan itu kok sudah ditilang. apa ndak bisa dikasi peringatan dulu?. polisi tendas keleng!”
    mereka pun berlalu.
    saya hanya tertawa.

    kini, giliran polisi menghampiri saya.
    “mereka bilang apa pak?” tanya pak polisi gagah
    “ah..ndak tahu pak, mereka ngomong ndak jelas”, saya berusaha menurunkan keadaan.
    “sudah tahu larangan, kenapa musti tetap jalan ke sana. seharusnya saya tadi suruh ke pengadilan saja dan ndak mau menerima uang dari mereka tapi eh.. mereka yang mau seperti ini”, jelasnya kemudian. “kalo saya denger mereka ngomong ndak enak tadi, saya suruh ke pengadilan saja dan mengembalikan uang mereka, gampang kan?, tetapi kenapa marah marah setelahnya?”
    “jadi polisi itu susah”, lanjutnya. ” kita musti nyari uang sendiri untuk menutup “kas” kita”, lanjutnya.
    saya bingung, kas apa?.
    “ada banyak pejabat yang datang ke samsat, mereka menyuruh supir supir mereka datang, atau bawahannya yang datang ke kita. dan mereka biasanya hanya menitipkan surat surat kendaraan nya saja, tanpa ada uang. kalo ndak kita urus kita yang salah, kalo diurus lha..kita membiayai proses samsat mereka dari uang siapa?”
    “terpaksa kita biayai dulu dengan uang sendiri,dari kas sendiri, setelah itu kita berusaha mencari uang untuk menutupnya!” terangnya kemudian.
    saya lebih mengerti kini.
    “hah…! masak ada pejabat seperti itu?”
    “wah…banyak pak!”, pak polisi menjawab dengan seketika. “kita sudah saling bantu, kita perlu, dia yang bantu, saat mereka samsat motor, giliran kita yang bantu”

    kembali ada suara suara dari handy talkynya. pak polisi menjawabnya.
    saya menanti taxi, kok belum nongol.

    inilah kisah hidup bak lingkaran setan!.
    siapa memangsa siapa, ndak jelas. salah siapa? juga ndak tahu ini siapa yang salah?. siapa yang memulai?
    dan ndak tahu kapan lingkaran ini putus!
    bener bener kita berada di dunia ndak jelas??
    mungki musti bersurat kepada setan agar merubah lingkaran setan menjadi lingkaran manusia saja!

    o di bali
    nov. 16, 2005

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 19 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email