dsc_4343.jpg
31 march
dps-sing, SQ 941-business class
sing-dps, SQ 948-business class
sebuah lembaga yang mengurusi pembangunan di sentosa cove singapore, hendak memperkosa desain kami di sebuah pulau yang kami rancang. saya berangkat bareng architect in charged. baca “fucked by the rules”

pagi berangkat, pulang malamnya. bak beli pisang goreng saja..,
… baca terusannya gan »

Popularity: 3% [?]



POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 23 Apr 2008
  • 3 Comments


  • Email

    josef-2.jpg
    (ditulis dalam rangka pengukuhan josef prijotomo sebagai seorang maha guru arsitektur. di baca publik pertama kali tanggal 10 april 2008, foto oleh wahyu setyawan)

    hari lusa saya baca di kompas pagi, selasa 8 april 2008.
    saya baca di perjalanan pulang dari jakarta menuju denpasar, GA 400, 6.30 am -8.30am.
    seorang profesor dr. boediono, diterima oleh komisi XI DPR sebagai gubernur BI.
    … baca terusannya gan »

    Popularity: 3% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 1 Comment


  • Email

    _dsc1290.jpg

    (dibaca publik milis arsitektur ITS tanggal 16 april 2008)

    laut arab ada di depan mata saya.
    sebuah bangunan lama yang dibuat untuk menyambut seorang ratu inggris yang berlayar ke india, sedang di renovasi.
    dindingnya dari batu alam, nampak kusam dan penuh kotoran burung dara.
    tubuhnya kini diselimuti besi besi pekerja yang tiap harinya membersihkan dan mengganti beberapa batu.
    burung dara menghiasi pelataran the gate of india.
    … baca terusannya gan »

    Popularity: 3% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 1 Comment


  • Email

    (dilempar ke publik pembaca tanggal 17 maret 2008, di milis arsitektur ITS)

    minggu kemarin,
    saya makan siang di pinggiran pantai nusa dua.
    tepatnya di beach barnya novotel yang baru,
    ada proyek hotel di sampingnya yang sedang kami kerjakan.
    saya memesan club sandwich dan coca cola dan boss saya memesan tuna sandwich+diet cook.
    siang itu agak panas, leher saya terasa perih menyengat. merah!.
    … baca terusannya gan »

    Popularity: 3% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 3 Comments


  • Email

    _dsc0604.jpg
    (dilempar ke publik tanggal 25 maret 2008, di milis arsitektur ITS)

    saya tak tahu,
    siapa nama bapak bapak tua itu,
    kami bercakap di sebuah wantilan, desa tenganan pagringsingan, hari minggu lalu 23 maret 2008.

    saat itu,
    hujan membasahi desa tenganan.
    … baca terusannya gan »

    Popularity: 2% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    (di launcing pertama kali tanggal februari 19, 2008 di milis arsitektur ITS)

    seseorang melamar ke sekolah kami di sanur,
    saat dia saya panggil untuk bertemu saya, dia menulis replynya seperti ini :

    Selamat pagi Pak Putu,
    Waah, saya kaget ketika hari itu, jumat 15 feb 08 ditelpon oleh ibu yuli untuk datang ke studio bensley sehubungan dengan lamaran saya.
    Saya merasa masih kurang sekali pak. Bagaimana ya, saya ko jadi ga pede begini…?
    Yang mau saya tanyakan, apa iya Pak Putu sudah melihat portfolio saya? Jangan2 Bapak  belum melihat, dan nanti kaget melihat minimnya portfolio saya. Hehehe…maaf ya pak, saya penasaran…Tapi saya ingin belajar banyak dari kekurangan saya tsb…
    Mohon tanggapan dari Pak Putu…
    Terimakasih ya Pak…

    saya sedikit terkejut,
    baru kali ini ada reply panggilan seperti itu isinya.
    seumur umur!..,
    saya juga berpikir, apa saya salah panggil atau dia yang salah lamar?
    kenapa saat melayangkan lamaran dan dipanggil dan terus kemudian shock berat..
    dan bertanya, “apakah anda salah panggil?”
    saya bertanya ke diri saya sendiri, “apakah saya dalam acara extravaganza?”

    saat saya di Goa, India, pagi tadi,
    saya menjawab emailnya,

    dulu, saya datang ke studio ini dengan 0 pengalaman…
    dididik dengan sabar, dan saya sabar untuk tahu..

    kalao anda mau saya didik, bilang kapan mau ketemu saya?
    best,
    p.m.

    malam ini saya telah di Mumbai, India.
    saya transit 5 jam di mumbai.
    kami di jemput BMW seri 5 di domestik airport.
    melewatkan 5 jam waktu transit di hotel leela, mumbai
    namanya, Pooja, orang hotel leela yang kemudian menghantar saya ke kamar.
    dia menjelaskan segalanya tentang hotel ini,
    “mr. mahendra, anda tinggal 5 jam di sini dengan complimentary!”, pooja berkata sambil tangannya tetap menulis di form tamu.
    pooja menanyakan paspor dan visa saya dan menuliskannya.
    sampai akhirnya meninggalkan saya.
    saya plug kabel internet.
    pelamar tadi, kembali mereply email saya ;

    terimakasih pak, jawabannya sangat membantu, saya akan datang menemui Bapak sesuai undangan dari Bu Yuli tanggal 22 februari besok…
    mohon bimbingannya…

    saya berpikir, dari sekian orang di luar sana, ternyata masih ada orang tak sombong.

    beberapa hari yang lalu, sebelum terbang ke goa,
    saya duduk bergelimpangan di kantor klien yang jaraknya cuman sejengkal langkah dari “gate of india”, mumbai.
    kami mendiskusikan desain yang kami buat untuknya.
    dia duduk di sofa, sedang saya duduk di lantai.
    kakinya yang telanjang, menapaki gambar gambar di atas kanvas kami.
    dan saya duduk di atas kanvas kanvas tadi.
    sang klien yang gemuk, menunjuk gambar gambar kami dengan kakinya.
    rumahnya yang luas yang kami desain, terletak sekitar 30 menit dengan private boat menyebrangi lautan arab ke arah alibaug.
    “orang orang menyebut ini laut arab, tapi sebenanya kita ada di samudra india”, asisten pribadi klein menerangkan saat saya berada di private boatnya.
    klien gemuk masih tetap bertanya,
    dan saya menjelaskan apa yang ditunjuk dengan relax.
    walau agak asing dengan tunjukan kaki, tapi hal itu tak jadi masalah.
    seorang terkaya di indonesia, sempet melakukan hal itu saat kami mempresentasikan gambar gambar di jakarta beberapa bulan yang lalu.
    karena gambar master plan terlalu besar, 3x9m, kami berdiskusi gambar sambil berjalan diatas gambar.
    tunjuk dengan kaki menjadi hal yang lumrah dimata saya.
    karena kemudian saya pun bisa relax menjelaskan disain bersamanya.
    kami menjadi akrab satu sama lain.
    tak ada gap, dirasa.

    sombong adalah hak.
    dan,
    kesombongan ada tempatnya.
    kalau salah menempatkan kesombongan, malah kita akan berhadapan dengan kesombongan dari luar yang mungkin lebih gede ukurannya.
    kalau sudah begini, kesombongan kita mungkin harganya cuman secuil bila dibandingkan dengan kesombongan luar itu yang begitu powerfull.

    bel pintu kamar saya berbunyi.
    saya buka.
    pooja, kembali datang.
    “maap, saya bawakan kartu greeting dari hotel. terima kasih.”
    pooja berlalu.

    saya buka amplop panjang warna hitam,

    dear Mr. Mahendra,
    welcome back!
    its trully a pleasure to have you with us again.
    please do not hasitate to contact me, should you require any personal assistance.

    i wish you a pleasant stay.

    sincerely,

    jeffrey sussman
    general manager


    semoga bisa menangkap, hidup kok penuh makna……

    best,
    p-mumbai, india

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    _dsc0794.jpg

    rekan rekan, dimana saja,
    majalah indonesia architecture, mengontak saya desember lalu, menanyakan apakah mereka bisa menerima tulisan saya tentang lokalitas dalam design arsitektur.
    ini yang ke dua kali, mereka mengontak saya untuk menyumbangkan tulisan.
    kalo ndak salah…..pertama kali mereka mengontak saya beberapa tahun lalu saat mereka akan me-launcing majalah edisi pertamanya.
    saya ndak sempet nulis, jadi tidak saya reply.
    saat yang ke dua kali, saya berusaha menulis, kejar jam tayang untuk edisi february 2008.

    berikut, edisi lengkapnya.
    kenapa edisi lengkap? karena mereka menyunat judul lengkap yang saya kasih.
    juga ada beberapa kesalahan pada keterangan photo photo yang mereka tampilkan.
    saya sudah menanyakan dua hal tersebut, tapi chief editornya ndak balas, maklum, ikan sudah dipanggang, jadi relax saja..

    saya menulis tulisan ini dalam “format” surat kepada arsitek”,

    salam,
    p

    Kepada Arsitek(tur) yang Terhormat,

    Lokalitas dalam Arsitektur

    Pagi itu begitu cerah. Tak seperti hari hari kemarin di mana langit begitu gelap dan selalu ber-air. Angin berhembus begitu kencang silih berganti dengan datangnya air dari langit yang deras. Berita di mana mana isinya cuman banjir, longsor dan pembunuhan. Mungkin ini hari adalah hasil dari apa yang kita perbuat di masa lalu, atau hari kemarin; keserakahan.
    Sinetron tv yang mengetengahkan kehidupan yang tak layak dicerna, membuat pergantian hari menjadi tak begitu bermakna. Sepertinya di luar sana, setiap mahkluk berjuang untuk membuat hari hari mereka ber-isi, isi dengan gelap ataupun terang mungkin tak ada bedanya, peduli siapa?, tanpa harus lagi melihat apa yang disuguhkan tv ataupun aktivitas tetangga sebelah.
    Perkembangan arsitektur yang begitu pelan namun pasti sejak jaman Ramayana. Atau katakanlah, perkembangan arsitektur begitu derasnya semenjak saya berumur enam tahun di mana sungai yang dulunya sebagai tempat di mana saya terjun bebas dan menyelam, kini hanyalah sebuah genangan air sedalam lutut. Dinding sungai yang dulunya dirimbuni oleh semak bambu bambu raksasa dan pohon mangga yang menggelayut menyusuri dindingnya, berubah menjadi deretan rumah rumah tinggal yang pembuangan air bekas cuciannya menganga ke bibir sungai. Lebar sungai yang demikian menganga, sekarang telah menyempit selebar lobang hidung mereka dicaplok pelebaran ruang tidur para rumah rumah tersebut. Dan pada saat hujan tiba, air bah melahap, bukan saja ke arah mereka yang mencaplok itu, tetapi juga mereka yang hidupnya jauh dari areal tersebut. Pola hidup komsumtif kaum urban telah menggerayangi kehidupan pada lapis terbawah dengan pencaplokan itu. Mungkin adalah sebuah mimpi, jika berharap dan berandai, kehidupan yang damai dan alam yang begitu bersih natural di mana semua mahkluk hidup tentram tanpa warna hitam menghiasi keseharian mereka.
    “Architecture without Architect” yang belum menyentuh bagaimana menghasilkan ruang ruang yang bijak tetapi baru kepada tahap “bagaimana kami bisa hidup”.
    Sudah semakin sedikit yang menyadari, bahwa arsitektur yang dulu tercipta yang begitu Ramayana, kini telah bergerak ke arah arsitektur kering, arsitektur Kali Yuga, kering akan kesadaran untuk membuatnya semakin subur, setidaknya buat diri si mahkluk itu sendiri. Kering karena memang arsitektur yang kini banyak tercipta, hadir dengan memangkas dan memperlakukan bumi dengan tak bijaksana. Arsitektur kesemrawutan. Semrawut karena apa yang tercipta itu, telah kita lihat hasilnya melalui publikasi koran dan tv tentang bencana arsitektur dan pembunuhan arsitektur.
    Terlalu banyak mahkluk yang menengadah, memaksa memelototkan matanya menatap matahari, walau akhirnya menjadi buta bukanlah menjadi sebuah masalah bagi mereka. Terlalu banyak orang berlomba ingin menjadi wakil rakyat berkendara sedan hitam mengkilat dan menjauh dari profesi sebagai petani yang berlumur lumut dan bertahta hijaunya kebun sayuran karena mungkin rasa ketela pohon tak senyaman di lidah dibanding rasa steak iga sapi walaupun hanya dikunyah di kaki lima pinggiran jalan berdebu sekalipun. Sesuatu yang ada di atas, selalu membuat yang berada di tempat itu, menjadikan dirinya sebagai mahkluk berkelas.
    Mahkluk ter-atas. Mahkluk terpopuler dan terpublikasi.
    Sinar petromak mungkin tak sesilau lampu merkuri yang semakin banyak menghiasi arsitektur masyarakat kaum urban.

    Pagi itu, saya mencuci mobil di sebuah tempat langganan. Saya tinggalkan karena masih banyak mobil mobil lain yang mengantre.
    Kami, saya dan anak ke dua saya, bhumi, berjalan ke toko sepeda motor yang jaraknya cuman sejengkal langkah setenggak air dari tempat pencucian mobil itu.
    Pagi itu, sehabis mengantar istri ke tempat kerjanya, saya sempatkan menjalani aktivitas ini dan memperkenalkan kehidupan lain ke anak saya yang baru berumur 3.5 tahun, di mana nantinya ia akan berkembang.
    Saya belum mandi, apalagi menyempatkan mencuci muka dan menggosok gigi, seperti jadwal hidup di pagi hari petani desa. Bukan hanya badan saya yang menyebarkan bau, udara yang keluar melalui mulut dan hidung, terasa tak enak dikeluarkan ke lingkungan yang masih pagi ini. Pakaian pun seadanya; kaos oblong bekas tidur semalam, celana pendek dan alas kaki sandal jepit cap “volcom”. Pun anak saya, sami mawon.
    Inilah keseharian seorang udik pedalaman pulau Bali.
    Kami memasuki pelataran toko sepeda motor, tangan kanan saya menggandeng tangan kiri anak saya, sementara tangan kiri saya menggenggam dompet hitam dan i-phone karena memang celana pendek yang saya pakai di pagi itu tak berkantong.
    Bhumi, anak saya, tetap berceloteh tentang mimpi mimpi, dari tempat pencucian mobil itu tak henti berceloteh ramai, tanpa saya tahu apa yang ia omongkan dan apa yang ia impikan. Toko sepeda motor itu, tampak telah terbuka pintunya yang terbuat dari kaca, semua dindingnya dari kaca. Semua motor motor matic dari negeri Italia yang terpajang di dalamnya nampak gagah dari luar. Pelataran di sekitar toko, terbungkus semuanya dengan paving cokelat seakan tak membiarkan bumi tempat ia berpijak untuk bernapas.
    Kami melangkah gontai sambil sesekali saya ikut bernyanyi seperti apa yang bhumi nyanyikan. Kami melewati pos satpam penjaga toko sambil tetap memelototkan mata ke motor motor matic itu. Ruangan dalam toko motor itu nampak masih sepi, ada beberapa orang lalu lalang di situ. Orang orang masih berkumpul di mana pak satpam berada.
    Saat jarak kami sekitar lima meter berlalu setelah pos satpam itu,
    ” Pak pak…, anda mau ke mana?”, pak satpam keluar dari sarangnya sambil tangannya menunjuk kami berdua.
    Anak saya terhenti langkahnya dan menatap ke satpam. Kaku. Mulutnya sepi lagunya menghilang.
    ” Pak, enapa olisi itu?”, bhumi bertanya. Badannya masih tetap kaku. Lagunya hilang.
    ” Apakah saya boleh melihat lihat vespa itu?”,
    Pak polisi versi bhumi, berpikir sejenak sambil menatap kami dari sandal jepit “volcom” saya sampai ke rambut saya yang acak acakan. Bau badan dan udara pengap yang keluar dari mulut dan hidung, berusaha saya tahan agar tak keluar terlalu banyak. Suasana ndeso yang tak karuan mungkin terlalu menganga di depan mata satpam tadi.
    ” Oh, silahkan pak “, pak satpam berlalu, menyatu kembali dengan kerumunan di posnya.
    Akhirnya, tampilan ndeso kami, bisa berlalu.
    Dan Bhumi sudah tak kaku lagi, dia kembali bernyanyi, “bulung kakak tua….”.
    Lokalitas, belum mampu dijual karena memang publik masih berpikir bahwa lokalitas adalah sesuatu yang out of date.

    Ternyata memang, penampilan arsitektur kita yang gemerlap, selalu dan selalu akan mendapat penghormatan yang baik pula. Tanpa musti tahu ada isi atau tidak dibalik yang gemerlap. Dan arsitektur bagi kebanyakan, baru hanya bisa dipandang sebagai kemegahan sebuah bentukan bangunan. Bentukan arsitektur yang mengglobalisasi dengan kehampaan pesan lokalitasnya sendiri. Pertanyaan yang akan timbul mungkin, “apa lokalitas ini penting?”.
    Sama pentingnya dengan sebuah KTP dalam sebuah dompet. KTP itu menunjukkan jati diri. Kelokalan seseorang. Menunjukkan sebuah “trah” yang pada akhirnya kemudian menjelma sebagai sebuah manik manik yang memperkaya keberagaman sebuah kosmos.

    Mata kita telah terlatih untuk demikian meng-agung agungkan kemewahan untuk kaum berpunya dan penampilan lokalitas ndeso tak (atau belum ?) layak untuk memiliki bumi. Atau sekedar memberikan hak kepada lokalitas untuk tampil (memilikinya) belumlah dirasa tepat.
    Marginalitas telah melanda, dan sudah demikan akrab hadir dalam setiap bilik rongga kehidupan ini, dari bawah sampai ke tingkat di negeri di awan. Arsitektur yang layak tampil di negeri adalah arsitektur cap ‘asing” yang didapat dari sekolah asing dan arsitek yang bergaul dengan orang asing dan arsitek asing. Arsitektur yang layak tampil adalah arsitektur yang didapat dari teori asing, buku buku asing yang menyebut istilah istilah asing, nama nama orang asing sehingga jikalau diterangkan sebab musabab kehadiran arsitektur itu, cukup sulit untuk mengerti bagi mereka yang awam dengan “asing” ini tetapi kita merasa berbanggakan diri karena kita pernah tahu dan mendengar asal muasalnya, tanpa musti bisa mengertikannya.
    Arsitektur yang layak pakai dan layak jual adalah arsitektur yang digagas dari klein klien yang pernah menghirup udara di negeri asing ataupun digagas oleh arsitek asing dan membawanya ke bumi buminya sendiri di nusantara ini untuk segera di nyatakan didapat dari tempat yang nun jauh di sana dan mengkontrak arsitek asing (ataupun arsitek anak negeri) untuk menjadikan kawasannya sebagai kawasan mediteranian, kawasan Californian, kawasan pemukiman yang bernuansa San Diego-an dan lainnya.
    Sungguh ironis saat memang apa yang ditampilkan di dalamnya benar benar mediteranian, benar benar Romawi-an, benar benar Californian, benar benar San Diego-an tapi saat keluar dari kawasan tersebut, nuansanya hilang. Yang tinggal hanyalah view perumahan penduduk liar tak berkecukupan menganga menyambut tiap penghuni dari kawasan kawasan pemukiman asing itu, sepanjang jalan keluarnya. Air menggenang di sana sini bekas banjir semalam. Hiruk pikuk pedagang asong mengais rejeki di tiap sudut napas kaum marginal. Duh..Gusti!.
    Mungkin saya terlalu naïf dengan bombardir kata “asing” ini ke segala penjuru bilik sapu rata dan seperti tiada bilik yang benar benar bisa menampilkan di mata saya di negeri ini bahwa ada gaya hidup arsitektur dengan bahan baku dasar arsitektur lokal yang mampu tampil sejajar dengan cap “asing”.
    Tapi itulah gaya hidup sekarang; arsitektur berbau asing yang banyak dicari dan amat banyak konsumennya, menjauh dari segala sesuatu yang berbau amis yang dirasa dari yang berbahan lokal, berbahan yang tak jauh dari mata kita sendiri.

    Saat guru saya, Josep Prijotomo, berada menikmati ruangan kerja saya beberapa hari lalu di pertengahan bulan desember 2007, saya memperdengarkan suara Norah Jones melalui i-phone yang mengalun sayup sayup. Sejenak sang guru memperhatikan melalui pendengarannya kesayupan Norah Jones. Mungkin berusaha menebak si mpunya suara, saya menjelaskan.
    ” itu lagunya Norah Jones, Pak”,
    ” lha iya, kamu ndak bisa megambel?, maksud saya, kamu ndak bisa memainkan gong ?”, beliau bertanya.
    ” ndak bisa Pak”,
    ” lha mangkanya kamu mendengarkan Norah Jones, ketimbang suara gambelan Bali, itu karena kamu ndak bisa memainkannya”.
    ” saya punya tingklik (alat musik dari bambu), tuh ada di teras luar”, saya berusaha keluar dari jeratan pertanyaannya. “anak anak yang memainkannya”, saya melanjutkan.
    ” tapi kamu ndak bisa memainkannya, bukan?”, pertanyaan beliau semakin menyodok.
    ” ndak Pak, ha ha ha..”,
    Kami tertawa.
    Norah Jones masih tetap bernyanyi menghiasi ruang kerja saya saat itu, sementara suara tingklik bambu di teras luar belum menyalak teronggok kaku di atas bangku bambu masih tetap setia menunggu siapa saja yang akan memukulnya untuk bernyanyi.
    Sekali lagi, barang lokal yang jarang ada banyak peminat untuk memainkannya.

    Perilaku kehadiran arsitektur nusantara yang tak jauh jauh amat dari kultur adat budaya yang selalu mentradisi, dihinggapi rasa kekhawatiran yang amat menjadi jadi akan adanya suatu kepunahan. Budaya global yang kini banyak menghinggapi segala pelosok masyarakat yang telah banyak memberi kemudahan dalam hal teknologi dan informasi dalam berarsitektur, menjadikan dirinya sebagai sebuah kehadiran penantang bagi kebudayaan lokal dan tradisional.
    Ada banyak suara suara dalam diskusi arsitektur yang berthema kearifan lokal dalam perancangan arsitektur. Intinya cuman satu : “tengoklah Mangunwijaya…”, dan “tengoklah Mangunwijaya….”, begitu seterusnya. Dan untuk menjawabnya cuman satu : “dicari pengganti Mangunwijaya!”.

    Kekuatan lokalitas nusantara dalam berkehidupan arsitektur telah banyak terbukti untuk selaras dengan alam, malah bisa begitu membantu kita untuk semakin hidup.
    Katakanlah apa yang terjadi di arsitektur Bali sendiri. Kehidupan arsitektur masyarakat Bali (dan masyarakat nusantara lainnya) tak bisa lepas dari kekuatan lokal dirinya sendiri. Di Bali mengenal bagaimana hidup untuk menghormati alam; hidup selaras dengan Tuhannya, selaras dengan manusianya dan selaras dengan lingkungannya yang teristilahkan sebagai Tri Hita Karana. Bagaimana mereka hidup dalam sebuah masa masa bangunan yang selalu mengitari natah, pun bagaimana masa masa tadi membentuk rangkaian pemukiman. “natah” selalu hadir yang difungsikan selain sebagai pusat, juga sebagai tempat “greenery”. Sebagai tempat untuk berinteraksi, sesama, dengan tanami dan hewani, malah dengan yang niskala sekalipun. Pada areal “greenery” ini, akan hidup tetanaman dan hewani. Karena hidup adalah sebuah kekompleksitasan, tetanaman dan hewani pun punya tempat dalam keseharian sehingga mereka pun layak untuk mempunyai harinya sendiri untuk diupakarakan, sebagai Tumpek Uduh untuk tanaman dan tumpek Kandang sebagai hari hewan. Termasuk bagaimana manusia Bali untuk mengistirahatkan alamnya melalui hari raya Nyepi. Pemakaian material material pendukung hidupnya memakai bahan dari alam dengan selalu menempatkan sisi penghormatan kepada alamnya. Karena mereka milik alam.
    Baik dan buruk selalu tampil, seperti halnya siang dan malam karena hal itu semua sebagai sebuah “balancing” kehdupan. Alam ini tak bisa berjalan secara adil dengan menedepankan yang gelap saja atau ang terang saja. Di masyarakat Bali, kehadiran gelap dan terang di kenal sebagai Rwa Bhineda, dua hal yang bertentangan yang selalu ada. Mereka saling melengkapi.
    Arsitektur tak bisa hadir hanya dengan tetanaman saja, atau hanya melalui kehadiran satu “thing” saja. Tak dirasa lengkap.
    Arsitektur yang bermuatan lokalitas, dia akan mewakili sebuah kosmos di mana karya itu terwujud. Dia akan mewakili sebuah gaya hidup bagi siapa yang menghuninya dan dia akan mengekpresikan segalanya tentang alamnya.
    Kebanyakana sekarang, para arsitek berlomba lomba untuk melahap “site” nya untuk menghadirkan arsitektur melalui satu “thing” saja; bangunan!. Dan meminimalkan “greenery” nya. Melupakan kekuatan kelokalannya. Pencarian ilmu pengetahuan yang up to date tak selamanya musti dari luar sana karena alam diri telah menyediakan dengan berlimpah ruah. Kebanggaan regukan ilmu dari luar tanpa kita bisa memakainya untuk merevitalisasi kekuatan kelokalan kita sendiri adalah sebuah kelemahan tersendiri.
    Dalam setiap profesi, termasuk profesi arsitek, di dalamnya selalu terjadi pertengkaran pemikiran. Pemikiran untuk menjadi besar, melalui selaras dengan alam atau melupakannya karena tahu ada di luar sana segelintir manusia sudah meng-“take care” nya.
    Award dan publisitas yang dikenal sampai ke mana mana bukanlah titik akhir dalam perjuangan sebagai arsitek. Yang perlu dikedepankan adalah bagaimana kita yang berprofesi sebagai arsitek selalu mengedepankan kesadaran bahwa profesi ini bisa begitu berpengaruh untuk menempatkan alam ini ke kondisi yang ideal bagi semua mahkluk. Tanpa harus menutup mata akan kebisingan informasi dan teknologi yang datang dari luar, memakainya sebagai sebuah pelengkap bagi kekuatan kelokalitasan nusantara merupakan sebuah kebijakan akan hati nurani kita sendiri. Hati nurani arsitek nusantara. Tuntutan menjadikan semua karya cipta yang ideal dengan segala kelengkapannya seperti apa yang telah tercipta melalui karya besarNya, melalui kearifan kelokalan dimana karya itu akan terwujud, dengan tanpa menutup mata akan hingar bingar diskusi arsitektur yang terjadi melalui pemberitaan CNN ataupun melalui televisi lokal adalah sebuah amanat seorang Mangunwijaya. Berhentilah berpolemik tentang Mangunwijaya kalau kita baru sebatas bisa berkarya arsitektur yang sarat akan kelokalan melalui pesan verbal untuk manusia lain menjalankannya.
    Arsitektur Indonesia begitu berkembang. Dan Rohnya tidak menghuni di ke-semua kehadirannya.

    Semuanya berpulang pada hati nurani. Apakah kita bisa menerima pesan alam yang tersampaikan atau berpura pura tak mendengarkannya demi sebuah publisitas. Kuncinya ada dalam diri.
    Seorang guru kembali bertanya, “habis ini apa?, apakah anda tak perlu sebuah publisitas?”.
    Pohon Jati tak perlu publisitas saat dia telah berperan banyak sebagai paru paru bumi dan menjadikan areal dibawahnya sebuah pernaungan bagi kehidupan lainnya.Yang mereka selalu kerjakan adalah selalu hidup untuk menghidupi diri tanpa merusak kehidupan dirinya apalagi kehidupan lainnya, itulah sebuah dharma hidup dan sebuah korban (yadnya) untuk hidup. Itulah kelokalan sejati pada arsitektur diri.

    Arsitek adalah milik alam. Pakailah profesi ini sebagai jalan untuk menjadi arsitek yang terhormat sebagai sebuah amanat dharma, demi mewujudkan arsitektur yang terhormat

    Popularity: 2% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    _dsc0808.jpg
    (dilauncing pertama kali tanggal agustus 9, 2007 di milis arsitektur ITS)

    “Saya juga gak tau kita harus mancing di kali mana dan pake kail model apa, mungkin juga analogi mancing ini gak tepat. Apalagi kalo ditanyain: apa itu kali? Apa itu kail? Gak bisa dijawab, harus dialami… dan yang paling enak: mancing sambil onani, ha ha ha (dobel kail, 2 tangan terpakai)..”, (AnasHiday, de maya-8 aug., 2007)

    beberapa bulan yang lalu,
    saya mampir ke toko pancing.
    jaraknya cuman segitu menit dari rumah.
    sesampainya di toko pancing itu, bapak toko pancing menghampiri saya.
    “ada yang bisa saya bantu, pak?”,
    “anu, pak, saya mau nyari pancing”, mata saya ke sana ke mari menelisik se isi toko.
    “bapak mau mancing di mana?, atau bapak mau mancing ikan apa?”
    “HAH????”

    hwarakadah..!
    setan demit!.
    lha..saya jadi bingung, pokoknya saya ke toko itu mau beli pancing, tapi si punya toko malah bertanya sesuatu yang kemudian saya juga ndak tahu musti jawab apa!.
    bingung, seperti pernyataan mas anas !.
    maksud hati mau belikan pancing untuk bapak di rumah, tapi saya ndak tahu, si bapak mau mancing ikan apa? dan di mana?
    ternyata mancing aja ada “space” nya toh??
    (mangkanya beredar issu, kok klien kita pada berpikran negative terhadap profesi arsitek!, lha wong kita aja ndak ngerti mau mancing apa? dan di mana?, dan memakai pancing apa!)

    dalam ber-arsitektur,
    atau ber “space”,
    ada istilah “di-arsitekturKEN” dan ada istilah “me-arsitektur”
    atau,
    di “space” KEN, dan me-“space” KEN.
    artinya beda.
    sama bedanya dengan kata “di-rumahKEN” dan “me-rumahKEN”.

    saat saya masuk ke rumah saya yang berluas tanah cuman 1 are dan berluas rumah cuman T45, istri saya bingungnya hampir mati!
    “aduh pak, nih kompor taruh di mana?, lemari besarnya ditaruh dimana ya…belum tipi, anjing anjing mau dikandangKEN dimana???, tuh mobil apa ditaruh di garasi tetangga dulu ya..?…..”
    bingung!

    lain kalau kita berada di proses “me-rumahKEN”,
    seorang fotographer ulung, biasanya mereka telah tahu hasil jepretannya sebelum mereka menjepret. sehingga “menjepret” kemudian hanyalah untuk merealisasikan sesuatu yang sudah ada di otaknya.
    juga seorang arsitek yang baik.

    pun seorang “pancingER”, ndak hanya musti tahu dimana akan mancing, tapi juga musti tahu kail apa yang dipakai, umpannya apa, benangnya jenis apa, dan mancing jam berapa agar dapat IKAN apa!.

    dalam ber-“space”, misalnya,
    si arsitek musti telah memikirkan, si klein duduk di kursi apa?, bahannya apa?, tangannya ditaruh di handrest yang bermaterial apa?, mata si klein menghadap ke mana?, melihat apa?, kakinya di alasi oleh apa?, materialnya apa?, lampu di sekitar kursinya menerangi di sudut mana?, berapa lux kekuatan sinarnya?, kalau duduk dikursi ini trus matanya ke arah kebun, melihat pohon apa?, kalau kemudian dia horny, berapa jaraknya hingga ke bed roomnya…..dll, dll, dll….

    repot?
    kalau kita bisa membedakan apa itu “kail, kais, kait dan kaing”…
    ah ndak segitu repot KOK…
    (tapi kerja kok segitu amat sih…?)

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    (di launcing pertama kali tanggal 8 augustus, 2007 di milis arsitektur ITS)

    seseorang meng-sms saya saat saya berada di jakarta 17 juli 2008 yang lalu,
    “bli, bagaimana caranya mendisain ala ……..? sekarang saya sedang meng-otak atik proyek ……..”

    saya balas, “gambarlah dengan hati dan cinta, lupakan teori!, lupakan KIBLAT”.
    send.

    seseorang yang saya interview beberapa minggu yang lalu,
    bertanya saat interview berakhir, “buku apa yang musti saya baca, agar bisa mengerti arsitektur ?”
    “bacalah kamasutra!”
    ia tertawa.
    ntah maksud dari tawanya itu apa an.
    saya jadi ikutan tertawa.
    he..
    kami tertawa lepas.
    dunia pun ikut tertawa.
    di luar sana, SBY sedang dipermasalahkan oleh exs anggota DPR,
    mungkin hanya beliau yang ndak bisa tertawa saat kami tertawa….

    ingat beberapa tahun yang lalu, saat memberikan kuliah tamu di kampus tersayang, seorang dosen yang duduk di kursi belakang melemparkan pertanyaan ke saya, “saat posisi anda telah seperti ini, di mana posisi kampus akan keberhasilan anda?”.

    pertanyaan ini mungkin setimpal dengan,
    “seberapa besar pengaruh orang tua anda dalam kehidupan anda sekarang ini?”..
    atau,
    “seberapa besar pengaruh yang anda dapat dari teman teman, sahabat, musuh, tetangga, dalam keberhasilan yang telah anda dapatkan sekarang ini?”

    jawaban untuk semua pertanyaan diatas, mungkin saja begini,
    “anda pernah onani? seberapa jauh pengaruhnya terhadap kehidupan sexual anda sekarang ini?”…
    hmmm…

    ada sekian ragam arsitektur di luar sana.
    dari kandang kuda sampai taj mahal.
    dari hantu berkepala naga sampai cut nyak dien,
    dari rumah kardus sampai istana bertahta emasnya sultan brunei,
    membawa saya ke pernyataannya louis khan ;
    “of all things, i honour beginnings.
    i believe, though, that what was has always been,
    what is has always been,
    and what will be has always been”.

    menjadi arsitek,(atau profesi lainnya, termasuk sebagai LONTE!)
    prosesnya sama dengan tumbuh kembang tubuh,
    lahir, menyusui, merangkak, berdiri, berjalan, berlari, akil balik 17 tahunan, 30 tahunan, 40 tahunan dengan gejala perselingkuhan……., dan MATI.

    pada kala remaja,
    ada keinginan untuk “seperti menjadi si A”, atau “si B”, atau, katakanlah, “seperti bapak KU”.
    mengingatkan saya saat saya berada di toko kamera JPC kemang senin lalu,
    saat ada seorang anak umur 20 tahunan belanja lensa dan segala macam dengan menyeret ibunya datang ke toko itu.
    “orang orang yang masih menyusui…”, begitu pikir saya.
    dan wajar, itulah proses.
    (dulu juga saya ajak bapak ke toko sepeda…minta dibelikan satu sepeda)

    “ah..saya ingin seperti p josep”….,
    sekarang, setelah sekian tahun meng-arsitek,
    pikiran itu telah sirna, dan menjelma menjadi :
    “saya ingin menjadi diri saya sendiri”

    mendisain,
    ntah mendisain rumah kardus, mendisain masa depan, mendisain style persetubuhan dengan pasangan anda (hmm….),
    atau,
    mendisain bentuk tubuh ? (apalagi mendisain bentuk panyudara!)
    tak bisa lepas dari pertanyaan “apa itu disain?”
    pertanyaan itu mungkin setimpal dengan “apa itu rumah kardus?”, atau “apa itu masa depan?”, atau “apa itu style persetubuhan?”,
    atau “apa itu panyudara?”

    atau kalau di milis ini, pertanyaannya adalah “apa itu arsitektur?”

    ah…lu kok segitu amat sih…!

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    (dilauncing pertama kali tanggal 8 april, 2008 ke milis arsitektur ITS, renovasi kata dilakukan beberapa )

    jaraknya cuman 30 menit dari hotel mulia senayan.
    airport soekarno hatta pagi itu begitu dekat.
    saya berangkat jam 4.30am.
    pagi masih gelap. tapi deru mesin sudah bergema di luar hotel mulia.
    lain dengan siang kemarin yang membuat saya stuck 3 jam di daerah mall ciputra, dan akhirnya berhasil keluar tol untuk (akhirnya!) memutuskan menginap saja ketimbang berjam jam tergolek di tol tanpa tahu nasib yang jelas.

    starbucks di airport soekarno hatta, dekat gate F,
    pagi itu begitu ramainya.
    seperti biasa, saya memesan coffee latte, medium size dan 3 pentol sandwich.
    sarapan pagi, yang menurut saya begitu mewah.
    maklum, saya orang udik yang begitu terbelalak dengan kehidupan jakarta.
    selama ini cuman menghabiskan hidup di kampung dimana listrik adalah sebuah kemewahan!.

    senin kemarin, saya berada di jakarta demi visa india yang mereka telah tolak buat saya.
    visa tourist yang selama ini saya pakai untuk “business” di mumbai dan daerah lainnya di india.
    “saya pikir, anda terlalu sering ke india dengan visa tourist, saya pikir anda bukan seorang tourist, sepertinya anda punya business besar di india yang membuat anda pergi ke india demikian seringnya”, kata mereka menjelaskan kenapa visa india saya mereka tolak 2 minggu yang lalu.
    akhirnya saya datang ke kedutaan india, demi sebuah visa, demi sebuah meeting dengan klien.
    ngurusnya cuman secuil menit dengan sedikit wawancara yang tak berbelit.
    uang empat ratus tujuh puluh dua ribu, untuk sebuah visa business.
    setelah urusan di embassy beres, pemandangan jalanan kota jakarta terasa begitu mengerikan.

    kembali saya menapaki jalanan jakarta yang berwarna darah! dimana mobil, sepeda dan angkot bercampur dengan harapan manusia kecil untuk bisa makan 3 kali sehari.

    starbucks airport soekarno hatta bertambah ramai.
    coffee latte saya tinggal setengah.
    manusia manusia sibuk sepagi ini begitu banyak berlalu lalang.
    berlari, bercakap, atau sekedar melihat beberapa barang yang dipajang di toko toko yang telah buka.

    arsitektur ini begitu kompleknya.
    membawa pikiran saya akan tulisan stephen hawking.
    tentang perjalanan waktu.
    tentang kelahiran waktu.
    akan kemana arah yang di bawa sang waktu untuk arsitektur yang semakin tua ini.
    keteraturan atau chaos?

    starbucks airport soekarno hatta semakin ramai.
    seiring bertambahnya abang waktu menerangi arsitektur dengan sinar lampu matahari.
    sampai suatu saat nanti, starbucks airport soekano hatta berhenti sejenak, juga sekali lagi nantinya oleh sang waktu.
    beristirahat sejenak, seperti saat saya tidur beberapa jam di hotel mulia kemarin malam,
    demi harapan dan penerbangan selanjutnya.
    melayani manusia manusia lalu lalang di jalanan tepian kota arsitektur yang semakin kompleks ini.

    ada yang tahu, ke mana arah alam ini membawa kita semua?

    arsitektur itu sendiri telah memberikan jawabannya.

    salam dari jakarta yang bermata merah karena melek terus,
    o

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email