_dsc0794.jpg

rekan rekan, dimana saja,
majalah indonesia architecture, mengontak saya desember lalu, menanyakan apakah mereka bisa menerima tulisan saya tentang lokalitas dalam design arsitektur.
ini yang ke dua kali, mereka mengontak saya untuk menyumbangkan tulisan.
kalo ndak salah…..pertama kali mereka mengontak saya beberapa tahun lalu saat mereka akan me-launcing majalah edisi pertamanya.
saya ndak sempet nulis, jadi tidak saya reply.
saat yang ke dua kali, saya berusaha menulis, kejar jam tayang untuk edisi february 2008.

berikut, edisi lengkapnya.
kenapa edisi lengkap? karena mereka menyunat judul lengkap yang saya kasih.
juga ada beberapa kesalahan pada keterangan photo photo yang mereka tampilkan.
saya sudah menanyakan dua hal tersebut, tapi chief editornya ndak balas, maklum, ikan sudah dipanggang, jadi relax saja..

saya menulis tulisan ini dalam “format” surat kepada arsitek”,

salam,
p

Kepada Arsitek(tur) yang Terhormat,

Lokalitas dalam Arsitektur

Pagi itu begitu cerah. Tak seperti hari hari kemarin di mana langit begitu gelap dan selalu ber-air. Angin berhembus begitu kencang silih berganti dengan datangnya air dari langit yang deras. Berita di mana mana isinya cuman banjir, longsor dan pembunuhan. Mungkin ini hari adalah hasil dari apa yang kita perbuat di masa lalu, atau hari kemarin; keserakahan.
Sinetron tv yang mengetengahkan kehidupan yang tak layak dicerna, membuat pergantian hari menjadi tak begitu bermakna. Sepertinya di luar sana, setiap mahkluk berjuang untuk membuat hari hari mereka ber-isi, isi dengan gelap ataupun terang mungkin tak ada bedanya, peduli siapa?, tanpa harus lagi melihat apa yang disuguhkan tv ataupun aktivitas tetangga sebelah.
Perkembangan arsitektur yang begitu pelan namun pasti sejak jaman Ramayana. Atau katakanlah, perkembangan arsitektur begitu derasnya semenjak saya berumur enam tahun di mana sungai yang dulunya sebagai tempat di mana saya terjun bebas dan menyelam, kini hanyalah sebuah genangan air sedalam lutut. Dinding sungai yang dulunya dirimbuni oleh semak bambu bambu raksasa dan pohon mangga yang menggelayut menyusuri dindingnya, berubah menjadi deretan rumah rumah tinggal yang pembuangan air bekas cuciannya menganga ke bibir sungai. Lebar sungai yang demikian menganga, sekarang telah menyempit selebar lobang hidung mereka dicaplok pelebaran ruang tidur para rumah rumah tersebut. Dan pada saat hujan tiba, air bah melahap, bukan saja ke arah mereka yang mencaplok itu, tetapi juga mereka yang hidupnya jauh dari areal tersebut. Pola hidup komsumtif kaum urban telah menggerayangi kehidupan pada lapis terbawah dengan pencaplokan itu. Mungkin adalah sebuah mimpi, jika berharap dan berandai, kehidupan yang damai dan alam yang begitu bersih natural di mana semua mahkluk hidup tentram tanpa warna hitam menghiasi keseharian mereka.
“Architecture without Architect” yang belum menyentuh bagaimana menghasilkan ruang ruang yang bijak tetapi baru kepada tahap “bagaimana kami bisa hidup”.
Sudah semakin sedikit yang menyadari, bahwa arsitektur yang dulu tercipta yang begitu Ramayana, kini telah bergerak ke arah arsitektur kering, arsitektur Kali Yuga, kering akan kesadaran untuk membuatnya semakin subur, setidaknya buat diri si mahkluk itu sendiri. Kering karena memang arsitektur yang kini banyak tercipta, hadir dengan memangkas dan memperlakukan bumi dengan tak bijaksana. Arsitektur kesemrawutan. Semrawut karena apa yang tercipta itu, telah kita lihat hasilnya melalui publikasi koran dan tv tentang bencana arsitektur dan pembunuhan arsitektur.
Terlalu banyak mahkluk yang menengadah, memaksa memelototkan matanya menatap matahari, walau akhirnya menjadi buta bukanlah menjadi sebuah masalah bagi mereka. Terlalu banyak orang berlomba ingin menjadi wakil rakyat berkendara sedan hitam mengkilat dan menjauh dari profesi sebagai petani yang berlumur lumut dan bertahta hijaunya kebun sayuran karena mungkin rasa ketela pohon tak senyaman di lidah dibanding rasa steak iga sapi walaupun hanya dikunyah di kaki lima pinggiran jalan berdebu sekalipun. Sesuatu yang ada di atas, selalu membuat yang berada di tempat itu, menjadikan dirinya sebagai mahkluk berkelas.
Mahkluk ter-atas. Mahkluk terpopuler dan terpublikasi.
Sinar petromak mungkin tak sesilau lampu merkuri yang semakin banyak menghiasi arsitektur masyarakat kaum urban.

Pagi itu, saya mencuci mobil di sebuah tempat langganan. Saya tinggalkan karena masih banyak mobil mobil lain yang mengantre.
Kami, saya dan anak ke dua saya, bhumi, berjalan ke toko sepeda motor yang jaraknya cuman sejengkal langkah setenggak air dari tempat pencucian mobil itu.
Pagi itu, sehabis mengantar istri ke tempat kerjanya, saya sempatkan menjalani aktivitas ini dan memperkenalkan kehidupan lain ke anak saya yang baru berumur 3.5 tahun, di mana nantinya ia akan berkembang.
Saya belum mandi, apalagi menyempatkan mencuci muka dan menggosok gigi, seperti jadwal hidup di pagi hari petani desa. Bukan hanya badan saya yang menyebarkan bau, udara yang keluar melalui mulut dan hidung, terasa tak enak dikeluarkan ke lingkungan yang masih pagi ini. Pakaian pun seadanya; kaos oblong bekas tidur semalam, celana pendek dan alas kaki sandal jepit cap “volcom”. Pun anak saya, sami mawon.
Inilah keseharian seorang udik pedalaman pulau Bali.
Kami memasuki pelataran toko sepeda motor, tangan kanan saya menggandeng tangan kiri anak saya, sementara tangan kiri saya menggenggam dompet hitam dan i-phone karena memang celana pendek yang saya pakai di pagi itu tak berkantong.
Bhumi, anak saya, tetap berceloteh tentang mimpi mimpi, dari tempat pencucian mobil itu tak henti berceloteh ramai, tanpa saya tahu apa yang ia omongkan dan apa yang ia impikan. Toko sepeda motor itu, tampak telah terbuka pintunya yang terbuat dari kaca, semua dindingnya dari kaca. Semua motor motor matic dari negeri Italia yang terpajang di dalamnya nampak gagah dari luar. Pelataran di sekitar toko, terbungkus semuanya dengan paving cokelat seakan tak membiarkan bumi tempat ia berpijak untuk bernapas.
Kami melangkah gontai sambil sesekali saya ikut bernyanyi seperti apa yang bhumi nyanyikan. Kami melewati pos satpam penjaga toko sambil tetap memelototkan mata ke motor motor matic itu. Ruangan dalam toko motor itu nampak masih sepi, ada beberapa orang lalu lalang di situ. Orang orang masih berkumpul di mana pak satpam berada.
Saat jarak kami sekitar lima meter berlalu setelah pos satpam itu,
” Pak pak…, anda mau ke mana?”, pak satpam keluar dari sarangnya sambil tangannya menunjuk kami berdua.
Anak saya terhenti langkahnya dan menatap ke satpam. Kaku. Mulutnya sepi lagunya menghilang.
” Pak, enapa olisi itu?”, bhumi bertanya. Badannya masih tetap kaku. Lagunya hilang.
” Apakah saya boleh melihat lihat vespa itu?”,
Pak polisi versi bhumi, berpikir sejenak sambil menatap kami dari sandal jepit “volcom” saya sampai ke rambut saya yang acak acakan. Bau badan dan udara pengap yang keluar dari mulut dan hidung, berusaha saya tahan agar tak keluar terlalu banyak. Suasana ndeso yang tak karuan mungkin terlalu menganga di depan mata satpam tadi.
” Oh, silahkan pak “, pak satpam berlalu, menyatu kembali dengan kerumunan di posnya.
Akhirnya, tampilan ndeso kami, bisa berlalu.
Dan Bhumi sudah tak kaku lagi, dia kembali bernyanyi, “bulung kakak tua….”.
Lokalitas, belum mampu dijual karena memang publik masih berpikir bahwa lokalitas adalah sesuatu yang out of date.

Ternyata memang, penampilan arsitektur kita yang gemerlap, selalu dan selalu akan mendapat penghormatan yang baik pula. Tanpa musti tahu ada isi atau tidak dibalik yang gemerlap. Dan arsitektur bagi kebanyakan, baru hanya bisa dipandang sebagai kemegahan sebuah bentukan bangunan. Bentukan arsitektur yang mengglobalisasi dengan kehampaan pesan lokalitasnya sendiri. Pertanyaan yang akan timbul mungkin, “apa lokalitas ini penting?”.
Sama pentingnya dengan sebuah KTP dalam sebuah dompet. KTP itu menunjukkan jati diri. Kelokalan seseorang. Menunjukkan sebuah “trah” yang pada akhirnya kemudian menjelma sebagai sebuah manik manik yang memperkaya keberagaman sebuah kosmos.

Mata kita telah terlatih untuk demikian meng-agung agungkan kemewahan untuk kaum berpunya dan penampilan lokalitas ndeso tak (atau belum ?) layak untuk memiliki bumi. Atau sekedar memberikan hak kepada lokalitas untuk tampil (memilikinya) belumlah dirasa tepat.
Marginalitas telah melanda, dan sudah demikan akrab hadir dalam setiap bilik rongga kehidupan ini, dari bawah sampai ke tingkat di negeri di awan. Arsitektur yang layak tampil di negeri adalah arsitektur cap ‘asing” yang didapat dari sekolah asing dan arsitek yang bergaul dengan orang asing dan arsitek asing. Arsitektur yang layak tampil adalah arsitektur yang didapat dari teori asing, buku buku asing yang menyebut istilah istilah asing, nama nama orang asing sehingga jikalau diterangkan sebab musabab kehadiran arsitektur itu, cukup sulit untuk mengerti bagi mereka yang awam dengan “asing” ini tetapi kita merasa berbanggakan diri karena kita pernah tahu dan mendengar asal muasalnya, tanpa musti bisa mengertikannya.
Arsitektur yang layak pakai dan layak jual adalah arsitektur yang digagas dari klein klien yang pernah menghirup udara di negeri asing ataupun digagas oleh arsitek asing dan membawanya ke bumi buminya sendiri di nusantara ini untuk segera di nyatakan didapat dari tempat yang nun jauh di sana dan mengkontrak arsitek asing (ataupun arsitek anak negeri) untuk menjadikan kawasannya sebagai kawasan mediteranian, kawasan Californian, kawasan pemukiman yang bernuansa San Diego-an dan lainnya.
Sungguh ironis saat memang apa yang ditampilkan di dalamnya benar benar mediteranian, benar benar Romawi-an, benar benar Californian, benar benar San Diego-an tapi saat keluar dari kawasan tersebut, nuansanya hilang. Yang tinggal hanyalah view perumahan penduduk liar tak berkecukupan menganga menyambut tiap penghuni dari kawasan kawasan pemukiman asing itu, sepanjang jalan keluarnya. Air menggenang di sana sini bekas banjir semalam. Hiruk pikuk pedagang asong mengais rejeki di tiap sudut napas kaum marginal. Duh..Gusti!.
Mungkin saya terlalu naïf dengan bombardir kata “asing” ini ke segala penjuru bilik sapu rata dan seperti tiada bilik yang benar benar bisa menampilkan di mata saya di negeri ini bahwa ada gaya hidup arsitektur dengan bahan baku dasar arsitektur lokal yang mampu tampil sejajar dengan cap “asing”.
Tapi itulah gaya hidup sekarang; arsitektur berbau asing yang banyak dicari dan amat banyak konsumennya, menjauh dari segala sesuatu yang berbau amis yang dirasa dari yang berbahan lokal, berbahan yang tak jauh dari mata kita sendiri.

Saat guru saya, Josep Prijotomo, berada menikmati ruangan kerja saya beberapa hari lalu di pertengahan bulan desember 2007, saya memperdengarkan suara Norah Jones melalui i-phone yang mengalun sayup sayup. Sejenak sang guru memperhatikan melalui pendengarannya kesayupan Norah Jones. Mungkin berusaha menebak si mpunya suara, saya menjelaskan.
” itu lagunya Norah Jones, Pak”,
” lha iya, kamu ndak bisa megambel?, maksud saya, kamu ndak bisa memainkan gong ?”, beliau bertanya.
” ndak bisa Pak”,
” lha mangkanya kamu mendengarkan Norah Jones, ketimbang suara gambelan Bali, itu karena kamu ndak bisa memainkannya”.
” saya punya tingklik (alat musik dari bambu), tuh ada di teras luar”, saya berusaha keluar dari jeratan pertanyaannya. “anak anak yang memainkannya”, saya melanjutkan.
” tapi kamu ndak bisa memainkannya, bukan?”, pertanyaan beliau semakin menyodok.
” ndak Pak, ha ha ha..”,
Kami tertawa.
Norah Jones masih tetap bernyanyi menghiasi ruang kerja saya saat itu, sementara suara tingklik bambu di teras luar belum menyalak teronggok kaku di atas bangku bambu masih tetap setia menunggu siapa saja yang akan memukulnya untuk bernyanyi.
Sekali lagi, barang lokal yang jarang ada banyak peminat untuk memainkannya.

Perilaku kehadiran arsitektur nusantara yang tak jauh jauh amat dari kultur adat budaya yang selalu mentradisi, dihinggapi rasa kekhawatiran yang amat menjadi jadi akan adanya suatu kepunahan. Budaya global yang kini banyak menghinggapi segala pelosok masyarakat yang telah banyak memberi kemudahan dalam hal teknologi dan informasi dalam berarsitektur, menjadikan dirinya sebagai sebuah kehadiran penantang bagi kebudayaan lokal dan tradisional.
Ada banyak suara suara dalam diskusi arsitektur yang berthema kearifan lokal dalam perancangan arsitektur. Intinya cuman satu : “tengoklah Mangunwijaya…”, dan “tengoklah Mangunwijaya….”, begitu seterusnya. Dan untuk menjawabnya cuman satu : “dicari pengganti Mangunwijaya!”.

Kekuatan lokalitas nusantara dalam berkehidupan arsitektur telah banyak terbukti untuk selaras dengan alam, malah bisa begitu membantu kita untuk semakin hidup.
Katakanlah apa yang terjadi di arsitektur Bali sendiri. Kehidupan arsitektur masyarakat Bali (dan masyarakat nusantara lainnya) tak bisa lepas dari kekuatan lokal dirinya sendiri. Di Bali mengenal bagaimana hidup untuk menghormati alam; hidup selaras dengan Tuhannya, selaras dengan manusianya dan selaras dengan lingkungannya yang teristilahkan sebagai Tri Hita Karana. Bagaimana mereka hidup dalam sebuah masa masa bangunan yang selalu mengitari natah, pun bagaimana masa masa tadi membentuk rangkaian pemukiman. “natah” selalu hadir yang difungsikan selain sebagai pusat, juga sebagai tempat “greenery”. Sebagai tempat untuk berinteraksi, sesama, dengan tanami dan hewani, malah dengan yang niskala sekalipun. Pada areal “greenery” ini, akan hidup tetanaman dan hewani. Karena hidup adalah sebuah kekompleksitasan, tetanaman dan hewani pun punya tempat dalam keseharian sehingga mereka pun layak untuk mempunyai harinya sendiri untuk diupakarakan, sebagai Tumpek Uduh untuk tanaman dan tumpek Kandang sebagai hari hewan. Termasuk bagaimana manusia Bali untuk mengistirahatkan alamnya melalui hari raya Nyepi. Pemakaian material material pendukung hidupnya memakai bahan dari alam dengan selalu menempatkan sisi penghormatan kepada alamnya. Karena mereka milik alam.
Baik dan buruk selalu tampil, seperti halnya siang dan malam karena hal itu semua sebagai sebuah “balancing” kehdupan. Alam ini tak bisa berjalan secara adil dengan menedepankan yang gelap saja atau ang terang saja. Di masyarakat Bali, kehadiran gelap dan terang di kenal sebagai Rwa Bhineda, dua hal yang bertentangan yang selalu ada. Mereka saling melengkapi.
Arsitektur tak bisa hadir hanya dengan tetanaman saja, atau hanya melalui kehadiran satu “thing” saja. Tak dirasa lengkap.
Arsitektur yang bermuatan lokalitas, dia akan mewakili sebuah kosmos di mana karya itu terwujud. Dia akan mewakili sebuah gaya hidup bagi siapa yang menghuninya dan dia akan mengekpresikan segalanya tentang alamnya.
Kebanyakana sekarang, para arsitek berlomba lomba untuk melahap “site” nya untuk menghadirkan arsitektur melalui satu “thing” saja; bangunan!. Dan meminimalkan “greenery” nya. Melupakan kekuatan kelokalannya. Pencarian ilmu pengetahuan yang up to date tak selamanya musti dari luar sana karena alam diri telah menyediakan dengan berlimpah ruah. Kebanggaan regukan ilmu dari luar tanpa kita bisa memakainya untuk merevitalisasi kekuatan kelokalan kita sendiri adalah sebuah kelemahan tersendiri.
Dalam setiap profesi, termasuk profesi arsitek, di dalamnya selalu terjadi pertengkaran pemikiran. Pemikiran untuk menjadi besar, melalui selaras dengan alam atau melupakannya karena tahu ada di luar sana segelintir manusia sudah meng-“take care” nya.
Award dan publisitas yang dikenal sampai ke mana mana bukanlah titik akhir dalam perjuangan sebagai arsitek. Yang perlu dikedepankan adalah bagaimana kita yang berprofesi sebagai arsitek selalu mengedepankan kesadaran bahwa profesi ini bisa begitu berpengaruh untuk menempatkan alam ini ke kondisi yang ideal bagi semua mahkluk. Tanpa harus menutup mata akan kebisingan informasi dan teknologi yang datang dari luar, memakainya sebagai sebuah pelengkap bagi kekuatan kelokalitasan nusantara merupakan sebuah kebijakan akan hati nurani kita sendiri. Hati nurani arsitek nusantara. Tuntutan menjadikan semua karya cipta yang ideal dengan segala kelengkapannya seperti apa yang telah tercipta melalui karya besarNya, melalui kearifan kelokalan dimana karya itu akan terwujud, dengan tanpa menutup mata akan hingar bingar diskusi arsitektur yang terjadi melalui pemberitaan CNN ataupun melalui televisi lokal adalah sebuah amanat seorang Mangunwijaya. Berhentilah berpolemik tentang Mangunwijaya kalau kita baru sebatas bisa berkarya arsitektur yang sarat akan kelokalan melalui pesan verbal untuk manusia lain menjalankannya.
Arsitektur Indonesia begitu berkembang. Dan Rohnya tidak menghuni di ke-semua kehadirannya.

Semuanya berpulang pada hati nurani. Apakah kita bisa menerima pesan alam yang tersampaikan atau berpura pura tak mendengarkannya demi sebuah publisitas. Kuncinya ada dalam diri.
Seorang guru kembali bertanya, “habis ini apa?, apakah anda tak perlu sebuah publisitas?”.
Pohon Jati tak perlu publisitas saat dia telah berperan banyak sebagai paru paru bumi dan menjadikan areal dibawahnya sebuah pernaungan bagi kehidupan lainnya.Yang mereka selalu kerjakan adalah selalu hidup untuk menghidupi diri tanpa merusak kehidupan dirinya apalagi kehidupan lainnya, itulah sebuah dharma hidup dan sebuah korban (yadnya) untuk hidup. Itulah kelokalan sejati pada arsitektur diri.

Arsitek adalah milik alam. Pakailah profesi ini sebagai jalan untuk menjadi arsitek yang terhormat sebagai sebuah amanat dharma, demi mewujudkan arsitektur yang terhormat

Popularity: 2% [?]



POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    _dsc0808.jpg
    (dilauncing pertama kali tanggal agustus 9, 2007 di milis arsitektur ITS)

    “Saya juga gak tau kita harus mancing di kali mana dan pake kail model apa, mungkin juga analogi mancing ini gak tepat. Apalagi kalo ditanyain: apa itu kali? Apa itu kail? Gak bisa dijawab, harus dialami… dan yang paling enak: mancing sambil onani, ha ha ha (dobel kail, 2 tangan terpakai)..”, (AnasHiday, de maya-8 aug., 2007)

    beberapa bulan yang lalu,
    saya mampir ke toko pancing.
    jaraknya cuman segitu menit dari rumah.
    sesampainya di toko pancing itu, bapak toko pancing menghampiri saya.
    “ada yang bisa saya bantu, pak?”,
    “anu, pak, saya mau nyari pancing”, mata saya ke sana ke mari menelisik se isi toko.
    “bapak mau mancing di mana?, atau bapak mau mancing ikan apa?”
    “HAH????”

    hwarakadah..!
    setan demit!.
    lha..saya jadi bingung, pokoknya saya ke toko itu mau beli pancing, tapi si punya toko malah bertanya sesuatu yang kemudian saya juga ndak tahu musti jawab apa!.
    bingung, seperti pernyataan mas anas !.
    maksud hati mau belikan pancing untuk bapak di rumah, tapi saya ndak tahu, si bapak mau mancing ikan apa? dan di mana?
    ternyata mancing aja ada “space” nya toh??
    (mangkanya beredar issu, kok klien kita pada berpikran negative terhadap profesi arsitek!, lha wong kita aja ndak ngerti mau mancing apa? dan di mana?, dan memakai pancing apa!)

    dalam ber-arsitektur,
    atau ber “space”,
    ada istilah “di-arsitekturKEN” dan ada istilah “me-arsitektur”
    atau,
    di “space” KEN, dan me-“space” KEN.
    artinya beda.
    sama bedanya dengan kata “di-rumahKEN” dan “me-rumahKEN”.

    saat saya masuk ke rumah saya yang berluas tanah cuman 1 are dan berluas rumah cuman T45, istri saya bingungnya hampir mati!
    “aduh pak, nih kompor taruh di mana?, lemari besarnya ditaruh dimana ya…belum tipi, anjing anjing mau dikandangKEN dimana???, tuh mobil apa ditaruh di garasi tetangga dulu ya..?…..”
    bingung!

    lain kalau kita berada di proses “me-rumahKEN”,
    seorang fotographer ulung, biasanya mereka telah tahu hasil jepretannya sebelum mereka menjepret. sehingga “menjepret” kemudian hanyalah untuk merealisasikan sesuatu yang sudah ada di otaknya.
    juga seorang arsitek yang baik.

    pun seorang “pancingER”, ndak hanya musti tahu dimana akan mancing, tapi juga musti tahu kail apa yang dipakai, umpannya apa, benangnya jenis apa, dan mancing jam berapa agar dapat IKAN apa!.

    dalam ber-“space”, misalnya,
    si arsitek musti telah memikirkan, si klein duduk di kursi apa?, bahannya apa?, tangannya ditaruh di handrest yang bermaterial apa?, mata si klein menghadap ke mana?, melihat apa?, kakinya di alasi oleh apa?, materialnya apa?, lampu di sekitar kursinya menerangi di sudut mana?, berapa lux kekuatan sinarnya?, kalau duduk dikursi ini trus matanya ke arah kebun, melihat pohon apa?, kalau kemudian dia horny, berapa jaraknya hingga ke bed roomnya…..dll, dll, dll….

    repot?
    kalau kita bisa membedakan apa itu “kail, kais, kait dan kaing”…
    ah ndak segitu repot KOK…
    (tapi kerja kok segitu amat sih…?)

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    (di launcing pertama kali tanggal 8 augustus, 2007 di milis arsitektur ITS)

    seseorang meng-sms saya saat saya berada di jakarta 17 juli 2008 yang lalu,
    “bli, bagaimana caranya mendisain ala ……..? sekarang saya sedang meng-otak atik proyek ……..”

    saya balas, “gambarlah dengan hati dan cinta, lupakan teori!, lupakan KIBLAT”.
    send.

    seseorang yang saya interview beberapa minggu yang lalu,
    bertanya saat interview berakhir, “buku apa yang musti saya baca, agar bisa mengerti arsitektur ?”
    “bacalah kamasutra!”
    ia tertawa.
    ntah maksud dari tawanya itu apa an.
    saya jadi ikutan tertawa.
    he..
    kami tertawa lepas.
    dunia pun ikut tertawa.
    di luar sana, SBY sedang dipermasalahkan oleh exs anggota DPR,
    mungkin hanya beliau yang ndak bisa tertawa saat kami tertawa….

    ingat beberapa tahun yang lalu, saat memberikan kuliah tamu di kampus tersayang, seorang dosen yang duduk di kursi belakang melemparkan pertanyaan ke saya, “saat posisi anda telah seperti ini, di mana posisi kampus akan keberhasilan anda?”.

    pertanyaan ini mungkin setimpal dengan,
    “seberapa besar pengaruh orang tua anda dalam kehidupan anda sekarang ini?”..
    atau,
    “seberapa besar pengaruh yang anda dapat dari teman teman, sahabat, musuh, tetangga, dalam keberhasilan yang telah anda dapatkan sekarang ini?”

    jawaban untuk semua pertanyaan diatas, mungkin saja begini,
    “anda pernah onani? seberapa jauh pengaruhnya terhadap kehidupan sexual anda sekarang ini?”…
    hmmm…

    ada sekian ragam arsitektur di luar sana.
    dari kandang kuda sampai taj mahal.
    dari hantu berkepala naga sampai cut nyak dien,
    dari rumah kardus sampai istana bertahta emasnya sultan brunei,
    membawa saya ke pernyataannya louis khan ;
    “of all things, i honour beginnings.
    i believe, though, that what was has always been,
    what is has always been,
    and what will be has always been”.

    menjadi arsitek,(atau profesi lainnya, termasuk sebagai LONTE!)
    prosesnya sama dengan tumbuh kembang tubuh,
    lahir, menyusui, merangkak, berdiri, berjalan, berlari, akil balik 17 tahunan, 30 tahunan, 40 tahunan dengan gejala perselingkuhan……., dan MATI.

    pada kala remaja,
    ada keinginan untuk “seperti menjadi si A”, atau “si B”, atau, katakanlah, “seperti bapak KU”.
    mengingatkan saya saat saya berada di toko kamera JPC kemang senin lalu,
    saat ada seorang anak umur 20 tahunan belanja lensa dan segala macam dengan menyeret ibunya datang ke toko itu.
    “orang orang yang masih menyusui…”, begitu pikir saya.
    dan wajar, itulah proses.
    (dulu juga saya ajak bapak ke toko sepeda…minta dibelikan satu sepeda)

    “ah..saya ingin seperti p josep”….,
    sekarang, setelah sekian tahun meng-arsitek,
    pikiran itu telah sirna, dan menjelma menjadi :
    “saya ingin menjadi diri saya sendiri”

    mendisain,
    ntah mendisain rumah kardus, mendisain masa depan, mendisain style persetubuhan dengan pasangan anda (hmm….),
    atau,
    mendisain bentuk tubuh ? (apalagi mendisain bentuk panyudara!)
    tak bisa lepas dari pertanyaan “apa itu disain?”
    pertanyaan itu mungkin setimpal dengan “apa itu rumah kardus?”, atau “apa itu masa depan?”, atau “apa itu style persetubuhan?”,
    atau “apa itu panyudara?”

    atau kalau di milis ini, pertanyaannya adalah “apa itu arsitektur?”

    ah…lu kok segitu amat sih…!

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    (dilauncing pertama kali tanggal 8 april, 2008 ke milis arsitektur ITS, renovasi kata dilakukan beberapa )

    jaraknya cuman 30 menit dari hotel mulia senayan.
    airport soekarno hatta pagi itu begitu dekat.
    saya berangkat jam 4.30am.
    pagi masih gelap. tapi deru mesin sudah bergema di luar hotel mulia.
    lain dengan siang kemarin yang membuat saya stuck 3 jam di daerah mall ciputra, dan akhirnya berhasil keluar tol untuk (akhirnya!) memutuskan menginap saja ketimbang berjam jam tergolek di tol tanpa tahu nasib yang jelas.

    starbucks di airport soekarno hatta, dekat gate F,
    pagi itu begitu ramainya.
    seperti biasa, saya memesan coffee latte, medium size dan 3 pentol sandwich.
    sarapan pagi, yang menurut saya begitu mewah.
    maklum, saya orang udik yang begitu terbelalak dengan kehidupan jakarta.
    selama ini cuman menghabiskan hidup di kampung dimana listrik adalah sebuah kemewahan!.

    senin kemarin, saya berada di jakarta demi visa india yang mereka telah tolak buat saya.
    visa tourist yang selama ini saya pakai untuk “business” di mumbai dan daerah lainnya di india.
    “saya pikir, anda terlalu sering ke india dengan visa tourist, saya pikir anda bukan seorang tourist, sepertinya anda punya business besar di india yang membuat anda pergi ke india demikian seringnya”, kata mereka menjelaskan kenapa visa india saya mereka tolak 2 minggu yang lalu.
    akhirnya saya datang ke kedutaan india, demi sebuah visa, demi sebuah meeting dengan klien.
    ngurusnya cuman secuil menit dengan sedikit wawancara yang tak berbelit.
    uang empat ratus tujuh puluh dua ribu, untuk sebuah visa business.
    setelah urusan di embassy beres, pemandangan jalanan kota jakarta terasa begitu mengerikan.

    kembali saya menapaki jalanan jakarta yang berwarna darah! dimana mobil, sepeda dan angkot bercampur dengan harapan manusia kecil untuk bisa makan 3 kali sehari.

    starbucks airport soekarno hatta bertambah ramai.
    coffee latte saya tinggal setengah.
    manusia manusia sibuk sepagi ini begitu banyak berlalu lalang.
    berlari, bercakap, atau sekedar melihat beberapa barang yang dipajang di toko toko yang telah buka.

    arsitektur ini begitu kompleknya.
    membawa pikiran saya akan tulisan stephen hawking.
    tentang perjalanan waktu.
    tentang kelahiran waktu.
    akan kemana arah yang di bawa sang waktu untuk arsitektur yang semakin tua ini.
    keteraturan atau chaos?

    starbucks airport soekarno hatta semakin ramai.
    seiring bertambahnya abang waktu menerangi arsitektur dengan sinar lampu matahari.
    sampai suatu saat nanti, starbucks airport soekano hatta berhenti sejenak, juga sekali lagi nantinya oleh sang waktu.
    beristirahat sejenak, seperti saat saya tidur beberapa jam di hotel mulia kemarin malam,
    demi harapan dan penerbangan selanjutnya.
    melayani manusia manusia lalu lalang di jalanan tepian kota arsitektur yang semakin kompleks ini.

    ada yang tahu, ke mana arah alam ini membawa kita semua?

    arsitektur itu sendiri telah memberikan jawabannya.

    salam dari jakarta yang bermata merah karena melek terus,
    o

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    dsc_0120.JPG

    hari minggu yang lalu,
    saya sekeluarga menjadi supporter pertandingan mewarnai buat anak perempuan saya yang baru lima setengah tahun.’
    timezone matahari denpasar, menyelenggarakan acara itu.
    kami berempat berangkat, dengan perlengkapan seadanya, sama seperti perlengkapan yang biasanya dipakai untuk menggambar dan mewarnai di rumah.
    sesampai di timezone matahari, si priyah, anak saya, kembali musti daftar ulang.

    setengah jam kemudian, pertandigan pun dimulai,
    anak saya duduk di nomor 27, berada di tengah tengah anak anak yang lain,
    pesertanya hampir empat puluh kepala, lumayan.
    para orang tua, duduk menyampingi barisan anak anak,
    walau panitya menyuruh agar para orang tua duduk menjauh dan membiarkan anak anaknya berlomba dengan tanpa hasutan dan tekanan dari masing masing orang tua.
    saya duduk menjauh, saya percaya, priyah bisa survive!.

    saya memesan mie goreng, karena memang belum makan pagi.
    mira dan bhumi mainan di time zone.
    anak anak memulai mewarnai selembaran yang dikasih panitya.
    saya keluarkan ipod, dan mendengarkan lagunya kapten, “misi canggih” lagu pertama mereka di album itu.
    suaranya menghentak!.

    ada beberapa anak yang datang terlambat dan segera duduk agak di belakang.
    saya melahap mie goreng, dan mira datang bersama bhumi.
    mereka melihat priyah yang sedang asyik menggambar.
    orang tua lain pada banyak yang mendekat ke arah di mana anaknya berada.
    anak anak itu, seperti mendapat semangat hidup.
    para orang tua, kini tampak memulai menjadikan dirinya “guide” bagi anak anak itu,
    memberikan “dikte” terhadap warna apa yang musti dipakai,
    memberikan perintah terhadap apa yang musti dilakukan,
    tentang apa yang musti ditambahkan dalam gambar tersebut.
    mira menghampiri saya, dan mencoba mencicipi mie goreng yang di piring saya.
    para rang tua sibuk memberikan “order”!

    saya mendekat ke barisan anak anak tadi,
    priyah sudah hampir selesai,
    warnanya belepotan, ada sekian bagian yang keluar dari garis dan bentuk badut yang tergambar di lembar itu.
    tapi, itulah anak anak.
    priyah bertanya, “pak, musti apa lagi, sudah hampir selesai”,
    “tambah awan”, saya berucap sesuka hati saja,
    priyah pun menggambar awan di sana sini, dan mewarnai awan awan itu,
    saya berlalu dan kembali duduk.
    nampak si priyah celinguk celinguk,
    saya kembali mendekat,
    “pak, sudah ada awan, selesai?”,
    “tambah bunga, tambah matahari, tambah pesawat terbang, tambah rumahnya badut”,
    kembali priyah menggambar, tangannya mulai kotor oleh crayon crayonnya.
    orang tua yang berdiri di samping saya, tetap sibuk mendikte anak nya;
    “pake warna merah sekarang, yang di ujung itu”, kata mereka,
    “topinya warna hitam, sekarang!”, kata orang tua yang lain,
    “tuh, yang disudut kiri, pake warna merah, yang cepat gambarnya”, yang lain pada membantu anaknya,
    saya kembali meninggalkan priyah yang kini mulai suibuk menambahkan gambar gambarnya.
    saya duduk, sambil melihat deretan orang tua tadi yang sibuk meng-guidi anaknya.

    priyah mengangkat gambarnya sambil melihat saya.
    tuh kertas telah penuh dengan warna dan tambahan objek.
    busyet!.
    saya suruh priyah memberikan ke panitya.
    anak anak lain pada sibuk mengambar.
    tampak seorang anak menangis sambil tetap mewarnai dan orang tuanya tetap memberikan semangat untuk tetap berlomba.
    si anak membasuh air matanya yang deras mengalir.
    ntah apa yang terjadi?

    tapi, ternyata guide meng guide anak, biar begini biar begitu, ndak cuman terjadi pada lomba ini,
    diluar sana, alamak, banyaknya bukan main,
    coba kalau ndak mau bertindak seperti apa yang orang tua mau, mungkinkah kita kena skak mati?

    masih ingat di kepala, di masa kuliah dulu,
    sekian mahasiswa menjadikan kepala dan otaknya sebagai kepanjangan tangan dari otak dan pikiran dosen,
    kejadian tersebut di atas di lomba mewarnai tadi, mengingatkan saya akan masa kuliah dulu.

    masa lalu,
    yang tak harus juga terjadi pada anak anak lain,

    “?”
    ongki
    5 agustus, 2006

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    biasanya selalu ada teman yang menemani.
    “capek”, katanya. saya merindukan habitat yang dulu pernah ada..
    kamar grand hyatt bundaran HI yang besar tampak semakin besar karena sendiri.
    lalu lalang kendaraan di bundaran HI tak mampu membuat ramai.
    saya hanya menghabiskan malam dengan tidur, berharap hari cepat berganti.
    ini perjalanan keluar saya yang pertama di tahun 2007, singgah semalam di jakarta, untuk kemudian esok harinya terbang ke hongkong dan lanjut ke ningbo-china.
    jadwal penerbangan dari bali menuju hongkong atau china begitu jelek. kadang saya bisa terbang langsung dari bali ke hongkong, kadang musti singgah semalam dulu di jakarta agar bisa menagkap pesawat ke hongkong.
    ntah..

    saya baca buku yang membuat heboh jakarta beberapa tahun yang lalu.
    “jakarta, the undercover”,
    busyet,kehidupan jakarta yang cukup menggiurkan!
    mata kian redup, dan lelap kemudian.

    taksi silver bird menghantarkan saya di senin pagi ke soekarno hatta. melihat keramaian yang mulai merangkak, kesibukan orang di pinggir jalan, sungguh suasana yang tak pernah mati menghuni jakarta.
    ntah jam berapa jakarta mulai ramai lagi?,
    anak anak pastilah pada mulai bangun tidur, sementara saya telah berada di taksi lagi.
    kesibukan masyarakat kota, ntah ada apa dibalik itu semua.
    sedikit telah saya baca di buku itu.
    hm..manusia..
    di dunia ini,
    hanya ada dua yang bisa merubah otak manusia.
    yang pertama adalah uang,
    yang ke dua adalah SEX!
    itu telah ada sejak alam ini tercipta.

    kru cathai pacific di konter soekarno hatta sudah amat mengenal wajah saya. kami berbincang panjang tentang kegiatan yang saya lakukan.
    saya tinggalkan mereka dan kemudian menghabiskan jam tunggu pesawat di starbuck.
    acara yang selalu saya lakukan.
    saya tak meminum kopi, selain starbuck!

    meeting kali ini agak berbeda.
    kami akan mempresentasikan gambar interior dari indoor pool park hyatt ningbo.
    seharusnya, acara beginian musti bersama bos besar.
    karena saya ndak pernah melakukannya sendiri. rasa percaya diri saya kurang kalau melakukan presentasi konsep sendiri.
    karena yang saya hadapi adalah klien, interior desainer dari san fransisco, orang hyatt dari hongkong dan beijing, kitchen designer dari shanghai, lighting desainer dari hongkong dan seattle.
    mereka pada orang orang ber-umur semua.
    sedang, saya baru seumur jagung.
    di antara para desainer itu, saya yang paling muda!
    agak sedikit keder, walau acara presentasi begini selalu saya ikuti bersama bos besar. prosesi bagaimana caranya mempresentasikan sudah tahu benar. tetapi kalau melakukannya sendiri, walah…!
    tapi, itulah, meeting kali ini agak beda.
    menggelar gambar presentasi sendiri.
    biasanya kalau pergi sendiri cuman membahas gambar konstruksi.
    tapi ini memang beda. ini yang pertama kali saya lakukan.

    dari hongkong ke ningbo ditempuh hampir 2 jam
    saya mendarat jam 8 malam.
    bercelana jean dan kaos oblong yang saya bungkus lagi dengan jaket kaldero hitam. sementara kaki bersandal jepit tetapi saya bungkus dengan kaos kaki agar dingin tak masuk dengan kerasnya.
    tetapi, mungkin pakian saya itu tak cukup melawan dinginnya winter ningbo yang bersuhu 3-4 derajat C malam itu.
    dingin begitu menyengat!
    asap keluar dari hidung dan mulut saat berucap, mengingatkan saya akan adegan di pilem pilem itu.
    saya dijemput anak muda dari team klien, mobil segera meninggalkan bandara ningbo.
    suhu di dalam mobil begitu hangat, dingin di luar telah pergi sesaat.

    adalah hotel bintang 4, fortune bond hotel,
    dimana kami, desainernya, selalu di-inapkan di sini.
    mustinya kami menginap di hotel berbrand yang lebih tinggi, tetapi klien yang satu ini ingin mengontrol uangnya dengan ketat, seperti kejadian yang satu ini:

    saya nyampe di hotel mungkin sudah agak malam. jam 9 malam-an.
    anak muda yang menjemput saya, sedang mengurus segala sesuatunya di reception.
    lalu, dia mengantar saya ke kamar, karena barang bawaan saya amat banyak.
    saat ada di depan kamar, seorang wanita house keeping hotel juga hendak masuk kekamr saya.
    anak muda tadi berbicara panjang lebar dengan perempuan house keeping.
    saya ndak ngerti apa yang mereka bicarakan. saya ndak ngerti bahasa “cantonese”.
    saya buka pintu kamar, anak muda tadi ikut membantu saya memasukkan barang barang saya.
    dan perempuan tadi juga ikut masuk, kemudian melakukan aksinya.
    sang perempuan house keeping mengumpulkan semua snack, minuman ringan yang ada di cabinet.
    ia kumpulkan semuanya! dan memasukkannya ke dalam mini bar dan menguncinya!
    anak muda tadi bingung dan menilpun seseorang dim luar sana.
    saya geli.
    biasanya,
    kamar telah bersih dari snack dan minuman di lemari dan mini bar telah terkunci.
    tapi kali ini, mungkin mereka terlambat untuk melakukannya.
    jadi kejadian aksi bersih bersih itupun terjadi tepat di depan mata!
    busyet, tumbennya ketemu klien begini pelit!
    sang anak muda meminta maap atas kejadian itu.
    mungkin dia tak tahu kalo bosnya sedemikian pelitnya.

    tiga puluh menit kemudian,
    seorang dari team klien datang ke kamar saya.
    namanya billy, transleter dari gang klien.
    dia hendak menanyakan jadwal saya besok.
    tentang segala sesuatu yang ingin saya presentasikan, tentang konsepnya apa, idenya apa, gambarnya kayak apa, dll…dsb.
    saya jawab, “itu ndak bisa saya bicarakan malam ini. saya hanya akan berbicara tentang presentasi pada hari H. tidak malam ini, termasuk ke anda, walau anda seorang dewa sekalipun. jadi plis beri saya waktu yang cukup untuk tidur dan mohon tinggalkan saya sendiri!, saya capek terbang”,
    dia agak kecewa dan tetap ingin mengulik ngulik apa yang saya bawa untuk besok.
    “plis putu, bukannya saya ingin membocorkan apa yang kamu bawa, saya bukan desainer, saya hanya ingin apa yang anda bicarakan besok agar bisa saya “translete” ke bos saya dengan baik. itu saja!”
    “maap, anda musti menghormati hukum kami, saya ndak akan ngomong tentang gambar presentasi selain hari H, dan mohon anda tinggalkan saya!”
    saya tuntun dia ke pintu kamar dan membuangnya.
    what’s a man!

    shogun dilawan!

    begitulah,
    saat hari H,
    saya buka gambar yang telah terbungkus rapi. orang orang telah berkumpul.
    gambar gambar yang 4 m panjang memenuhi meja meeting
    acara berjalan begitu lancar.
    dan mereka semua tampak puas dengan apa yang kami garap.
    what’s a story…

    malam ini,
    kamar hotel tak terlalu dingin, saya set di suhu yang hangat, tak sedingin suhu 4 derajat di luar sana.
    saya menunggu hari esok untuk terbang lagi ke hongkong-singapore dan bali,
    sementara minggu depan telah ada jadwal terbang lagi.
    minggu depannya lagi..
    minggu depannya lagi
    minggu depannya lagi,
    dan lagi…

    masih ingat sebelum berangkat beberapa hari yang lalu,
    tukang kebun di kantor bertanya ke saya,
    “emang kapan kamu berada di rumah?….”

    salam,
    o A65
    jan. 9, 2007

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    (ditulis dalam rangka DIES NATALIS 42 JURUSAN  ARSITEKTUR ITS , di milis arsitektur ITS, tanggal 24 oktober 2007)

    arsitektur its,
    ternyata anda sudah semakin tua.
    (42 tahun?, yang bener..?)

    yang tua mungkin bukan arsitektur its nya,
    bisa saja orang orang yang bercokol didalamnya,
    bisa saja sistem yang dipakai di dalamnya,
    bisa saja menu yang disajikan,
    juga bisa murid murid di dalamnya,
    termasuk juga para alumninya.
    loh, kenapa yang tua bukan arsitektur its nya?

    arsitektur its adalah sebuah nama,
    nama “tubuh”
    jadi siapa pun bisa kenal dan bisa menyebut “tubuh” ini saat ada di dalamnya.
    sama seperti si wahyu,
    atau bob
    atau pak josep,
    atau bu asri.
    wahyu, bob, josef atau asri, adalah sebuah reference ke sesuatu yang diwakili.

    sama juga dengan kfc,
    kfc ndak bisa lepas dengan burger,
    atau dengan kentang gorengnya.
    lalu,
    kentang goreng yang mana? atau burger yang mana?
    karena di pasaran ada banyak burger, ada banyak kentang goreng.
    terus yang akan membedakannya adalah bahwa burgernya kfc rasanya seperti ini,
    pelayannya seperti ini, pakaian pelayannya seperti ini, dll
    kfc ndak pernag tua,
    yang bertambah tua adalah pelayannya, menunya, aturannya.
    sehingg selalu perlu diperbaharui.
    agar apa?
    agar bisa bersaing di luar sana.

    arsitektur its tak jauh beda dengan kfc,
    atau,
    arsitektur its tak jauh beda dengan mobil all new honda crv saya (maap..!)
    loh kok gitu?
    yang membuat kfc banyak di serbu konsumen,
    atau yang membuat all new honda crv saya lincah dijalan dan save di jalan,
    bukan mobilnya, juga bukan kfc nya.
    tetapi,
    siapa dan apa di dalamnya.

    arsitektur its itu tak pernah tua,
    tak pernah bertambah umur,
    yang mungkin bertambah umur dan semakin lanjut adalah siapa dan apa di dalamnya.

    mari melihat kembali milis di masa lalu,
    kalau ada orang yang bilang bahwa,
    “setinggi tinggi bangau terbang, toh juga akan balik ke rumahnya. sejauh jauh alumni its berkelana, kalau BE-OL TOH JUGA pakai WC jongkok jua”.
    ini ada benarnya.
    sama benarnya dengan :
    “sejauh jauh guru guru its dikirim untuk belajar dan pulang dengan gelar S2, S3, kalau mengajar kemudian di kelas TOH JUGA kualitasnya SAMA dengan saat mereka bergelar S1”.
    lha..tamatannya kayak apa nantinya?.

    arsitektur its itu tak pernah tua.
    yang tua adalah orang orang di dalamnya.
    ya supirnya, ya kernetnya, ya mekaniknya, ya spare partnya, ya menunya, ya aturannya.
    parahnya,
    orang orang menyebut dengan meriahnya dan bangganya bahwa arsitektur its semakin tua dengan dies natalisnya tiap tahun.
    sementara alat alat dan sistem di dalamnya selalu saja merasa muda. berjiwa muda!
    kita tahu, sifat jiwa muda.
    egonya keras, saya yang paling hebat, jingkrak jingkrak, dugem.
    parah!
    loh, emang ndak ada sifat jiwa muda yang sehat?
    he..pikir saja.

    kita sudah semakin tua,
    semakin tua semoga bergerak ke semakin berisi.
    supirnya semakin berisi dan bijak dan di dukung oleh kernet, mekanik serta alat alat dan spare partnya semakin berisi pula.
    gunanya apa?
    agar kfc kita semakin diserbu konsumen,
    agar 10 burger kfc yang masuk ke perut, bisa 75%nya diserap tubuh dan memproduksi tanaga,
    sisanyan biar menjadi kotoran dan yang lainnya.
    selama ini 10 burger kfc its yang masuk ke perut, 99.9% keluar menjadi kotoran.
    karena pelayan di dalamnya selalu saja merasa berjiwa muda, hal ini bukanlah membuat mereka “ngeh”, maklum jiwa muda.

    mari jadikan proses bertambah tua ini, untuk bisa menjadikan arsitektur its semakin berkualitas!

    salam dari bali,
    putu mahendra A-65
    arsitek

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    (surat buat kampus arsitektur ITS, dalam rangka dies natalis 41nya)

    rekan rekan alumni arsitektur its, yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga, penjual komputer, pemelihara anjing ras sampai mereka yang telah duduk di kursi pejabat,

    salam arsitektur ITS!,

    menyikapi email dari saudara bapak bambang tentang dies natalis arsitektur its, 41 tahun!, saya pribadi ingin mengajak rekan rekan semua untuk kembali lebih bringas menyuarakan wacana wacana untuk memajukan kondisi pendidikan arsitektur di indonesia umumnya dan kampus arsitektur its pada khususnya.
    bahwa perjuangan tak hanya bisa dilakukan oleh individu semata tetapi perjuangan ke arah yang lebih baik musti dipikul secara bersama sama.
    saya mengerti bahwa hari esok tiada yang tahu dan kita memang telah memulainya dari kehidupan di kelas secara bersama sama tanpa tahu arah profesi yang nanti kita dapatkan kelak bukan sebagai arsitek semata.
    tanpa musti menuding siapa yang menjadi kambing belang berjenggot harimau, bahwa semestinya kampus tercinta segera berbenah dan berbenah karena riak riak kecil yang terwacanakan dari seberang bukan sebuah suara yang tak patut di dengarkan.

    karena juga memang, kita bukan sekuntum mawar yang selalu mengharumkan kebun rumah, tak seindah orangenya langit pagi oleh sinaran matahari, suara suara kecil yang mungkin tak men-enak-an telinga kaum pejabat kampus yang saya hormati, hendaknya bisa dapat dirundingkan dalam setiap rapat pleno di ruangan yang ber AC sambil menghirup sedapnya kretek dji sam soe.

    saya tahu, rekan rekan sekalian telah hidup layak di luar profesi yang semestinya di idam idamkan saat kuliah dulu. profesi yang kata orang ndak terlalu mendatangkan rupiah yang menggiurkan, tapi keadaan ini tak semestinya mengharuskan kita untuk berontak untuk menutup setiap kampus yang berisi jurusan arsitektur!
    keadaan ini tak juga musti kita sepelekan karena keadaan alumni yang telah mapan di luar sana.
    tetapi, sekali lagi kemapanan alumni dari rupiah yang mengalir ke kantongnya yang ia dapat dari pofesi lain selain arsitek, bukan pula musti menjadikan kampus tercinta kita tidur lelap ileran membasahi bantal guling!
    katakanlah saya mahluk pemimpi yang selalu menempatkan tamatan arsitektur musti berprofesi sebagai arsitek tidak sebagai pengusaha anjing ras, karena memang saya sadar, kesalahan profesi yang saya geluti sekarang, bergelut dengan anjing anjing, walau mendatangkan sekian rupiah setiap harinya, hati ini terasa pilu kalau orang bertanya kepada saya pribadi, “anda tamat di mana, kok pinter mengembangbiakkan anjing?”.

    melalui momen yang amat bahagia ini, saya mengajak rekan rekan sekalian untuk berpikir sejenak akan masa lalu saat kita bersama sama berada dalam satu kelas dulu. memuakkan!! saat musti berhadapan dengan dosen dosen gendeng, indah, saat mana kita berjumpa dengan dosen baik hati, dan semakin indah saja saat dosen atau temen sekelas ini menjadi istri atau suami kita..oh..
    sejenak saya merasakan taek anjing bak pisang gorengnya pak madjid kalau ingat masa itu.

    lihatlah kumpulan acara yang akan ada di acara dies natalis itu, betapa membahagiakan kita. bukan hanya angka 41 membuat kita telah semakin tua, tetapi juga membuktikan bahwa masa lalu tiada berubah dari tahun ke tahun!.
    ini mungkin yang membuat kita semakin “menetap” di posisi sekarang ini. semakin percaya diri bahwa apa yang kita buat telah membuahkan hasil maximal.
    mari getarkan lelapnya tidur pendidikan kita!

    rekan rekan alumni,
    mari kita perangi keadaan yang membuat kita terlena,
    anda di situ,
    saya di sini,
    kita bersama sama!
    apapun yang kita buat dengan berlandaskan kebaikan, kebaikan juga yang akan kita dapatkan!

    salam arsitektur,
    salam perjuangan,
    semoga kampus kita, arsitektur its, bukan “scarecrow” di ladang padi itu,

    terima kasih,

    ongki, 0702
    presiden partai asu!

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    susah kalo membaca banyak gambar..
    apalagi saat pusing, melihat semuanya berantakan, bukannya
    semangat yang datang, tetapi pingin meninggalkan kantor
    dan pulang.
    ada beberapa proyek yang jarang saya cek, tetapi saya tahu
    kualitas penggambarannya masih amburadul. kalo saya suruh
    untuk memperbaikinya, pekerjaan lain akan
    berantakan…mbuh!
    susahnya akan bertambah parah saat saya memerlukannya
    untuk meeting. apalagi jadwalnya dadakan.
    jarang saya cek karena waktu saya yang sudah krodit.
    jarang saya cek karena sudah ada rekan yang meng-handle.
    ya..sudah ada rekan.
    ternyata, ndak seperti yang dibayangkan.
    kalo pun ke semua proyek musti saya cek gambarnya satu
    demi satu, mungkin saya ndak pernah pulang dan makan
    bersama anak dan istri.

    malu terungkap saat saya musti membicarakannya dengan
    “atasan” di kantor pusat.
    seperti kemarin siang saat saya nyampe di bangkok.
    bangkok sudah mulai hujan, taxi mercedes menghantarkan
    saya kembali mampir ke kantor ini.
    hampir 1.5jam perjalanan menuju kantor, kena macet disana
    sini.

    kantor ini telah krodit, walau berlantai dua dan ada
    basement.

    ada 4 proyek saya bicarakan. para atasan hanya punya
    beberapa menit untuk 4 proyek.
    tapi cukup membuat gambar gambar itu musti tertata dengan
    baik.
    saya berpikir tentang banyak orang yang musti
    mengerjakannya,
    tapi terkadang banyak orang juga ndak akan mampu
    menyelesaikan masalah seperti ini.
    semakin banyak akan semakin banyak pula yang akan datang!

    tapi,
    setidaknya, jadi semakin sadar, perlu banyak waktu untuk
    melihat pekerjaan mereka yang dikantor.
    dan sepertinya semakin sedikit waktu buat “diri”,
    pesawat saya jam 9.50-an menuju guangzhou-china dan nyampe
    mungkin jam 2 siang nanti.
    hampir 3 jam menunggu di sana, dan pesawat lain menghantar
    saya menuju sanya dimana proyek itu berada.

    ah..lelah!
    salam perdamaian!
    o-bangkok
    nov. 8, 2005

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    “in architecture, there is a part that is the result of logical reasoning and a part that is created through the senses. there is always a point where they clash. i dont think architecture can be created without that collision” (tadao ando-architect without any formals education)

    “more that what you have read, for sure, architecture is almost a part of yourself. to be an architecture is closely to be yourself. having a sex for example, is one of the way to understand how the architecture is created” (putu mahendra-architect without any teories).

    putu-bara api di semak pulau bali
    forum AMI, 8 september 2006

    Popularity: 4% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email