beberapa minggu yang lalu,
saya terima surat pengunduran diri dari rekan yang baru 3 bulan kerja di sanur.
saat dia pertama datang di sanur, dia berkata,
“pak, boleh saya terus terang?”,
“silahkan”,
“saya juga melamar kerja di DP architects singapore, kalau saya keterima kerja di sana tapi saya sudah kerja di sini bagaimana dong?, cita cita saya ingin banget kerja di singapore. saya senang tinggal di kota besar dan ndak senang ada di kota kecil. saya sempet berada di singapore liburan beberapa waktu yang lalu, kok nampanya enak banget..ankjuhennoi.l7&8#!U3MM&JKCNklet^7781>>??_+)

@!xx&O(…..))_)(8&^%7&*&&8*******))LLP)<Mnasbhwsgn

encxhcnkkrrhhtyhstabahdkoioi99985739326%%&^%$#@!NM,kLMAK

IUTUkiloernt6675499287***jmmmm))))………”
“boleh, kamu boleh pergi kapanpun kamu mau. kalau saya bisa membantu mendapatkan cita citamu, akan saya kasih!”.
dia happy banget.

“pak, boleh saya dapat referensi kerja?”,
“maap, NDAK!, saya memberikan referensi kerja saat ia telah setahun bersama saya di sini”,
“saya kenal dp architects. saya kenal directornya, saya berjumpa dia saat kami ada di kemang beberapa hari yang lalu. saya kenal MAPS architects singapore. saya tahu LTW design works singapore. saya tahu CSWY singapore, saya tahu AXIS singapore”, saya melanjutkan.
“djuhara tahu mulut saya. sonny sutanto tahu pikiran saya. anak anak AMI tahu mulut saya bau!. kalau kamu buat CV, cantumkan saja kamu pernah kerja di sini dan taruh nama saya di bawahnya kalau mereka ndak percaya kamu pernah kerja selama 3 bulan bareng saya. mereka bisa tilpun saya di sini untuk meyakinkan”.
“maap, saya tak bisa memberikan apa yang kamu inginkan”.
(busyet, aku kok sombong banget!…)

ia berlalu.
kecewa.

saya juga kecewa.
kalau saya mau, awal pertama jumpa, sudah saya tendang saat dia berucap “saya mau kerja di kota besar”.
saya tinggalkan kantor, berjalan kaki menuju warung makan.
jaraknya sekitar 300m.
saya berpikir,
kok kejam banget jadi orang.
apa salahnya berbuat baik (lagi?)
saat balik dari lunch, saya bertanya ke sekretaris,
“surat referensi kerja yang tadi mana?”,
“sudah saya buang, lha kan ndak mau ditanda tangani?”,
“buatkan lagi, saya kok kejam banget jadi orang”

saat saya rapat di jimbaran,
tilpun berdering,
“pak, surat referensinya telah saya terima, terima kasih ya”

salam,
ongki-kejam banget jadi orang!
arsitek lokal di singapore barang sehari

30 mei 2007

Popularity: 1% [?]



POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    _dsc1183.jpg

    (makalah kuliah tamu untuk jurusan arsitektur universitas petra Surabaya)

    Sebuah perjalanan memaknai arsitektur

    A for Architecture!

    Sejak kita berada dalam kandungan dimana kehidupan pertama dimulai, sampai ke masa di mana kita bisa merasakan kehidupan selanjutnya, tempat di mana kita melakukan segalanya dalam hidup, adalah di arsitektur.

    Manusia dikenalkan ke dalam arsitektur sejak amat dini, disadari ataupun tidak, arsitektur telah tumbuh seiring kehidupan awal dimulai. Disadari ataupun tidak, arsitektur ternyata telah dekat di masing masing mahluk sejak amat dini.

    Membicarakan ruang, salah satu komponen utama dalam arsitektur, telah kita alami sedari kita amat sangat kecil dan mengalami proses tumbuh kembang dalam ruang yang amat sangat sederhana. Hidup alam adalah hidup arsitektur. Arsitektur dikenal oleh siapa pun yang hidup di alam. Bahkan oleh seekor semut dan seorang abang becak sekalipun.

    Alam ini telah terangkai oleh bagian satu dengan bagian yang lainnya, oleh titik satu dengan titik yang lainnya yang saling berhubungan dan mempengaruhi. Mereka tak bisa berdiri sendiri dalam bekerja. Dan arsitektur bukan hanya apa yang ada di alam bhumi, bukan yang ada di planet lain. Arsitektur ini berada di alam yang begitu komplek ini.

    Arsitektur musti dipandang secara menyeluruh dalam pengertiannya. Tidak sebagai sebuah pandangan ke apa yang di lihat sebagai bangunan. Tidak juga sebagai apa yang dirancang oleh seorang urban disainer, seorang interior desainer apalagi seorang arsitek lanskap. Tidak juga oleh seorang kuli!.

    Arsitektur berada di semuanya.

    Semuanya berada di arsitektur.

    Arsitektur tidak hanya dilakukan oleh para disainer.
    Arsitektur dilakukan secara sederhana oleh orang orang yang berada di luar profesi arsitek. Ataupupun juga, begitu kompleknya oleh orang orang yang berada di luar yang berprofesi sebagai arsitek.

    Lantas siapa yang bisa disebut sebagai arsitek?

    Anda?

    Ando?

    Gehry

    Sir Norman Foster?

    Djuhara yang orang AMI ?

    Si Doel?

    Atau

    Bang Toyib?

    ……

    Para penari diluar sana, gerakan gerakannya, tetabuhan yang mengiringinya, mengisyaratkan ia sedang melakukan arsitektur. Di sana ada batas, yang membentuk ruang. Di sana ada sebuah aktivitas yang dilakukan saat ia berada di “ruang tari”.

    Suara, bau dan batas gerak serta elemen yang berada di sekeliling penari, ibarat titik garis, dan bidang yang membentuk sebuah ruang.

    Seorang pematung, adalah seorang yang meng-carving ruang dalam sebuah material. Seorang pelukispun adalah seorang desainer ruang dalam tiap lukisannya.

    Arsitektur hadir dalam setiap makna dan konteks.

    Arsitektur musti dipandang dari segala arah dan hanya kita sebagai mahluk tertinggiNya kemudian memilah milah dan memberi garis batas yang tegas bahwa ini yang disebut sebagai arsitektur dan yang berada di luar adalah bukan disebut arsitektur.

    Apakah pengertian arsitektur tiap orang itu (musti) sama? Atau, apakah musti ada makna arsitektur yang standard bagi tiap arsitek atau juga buat semua orang?. Apakah text dalam arsitektur musti selalu dipercaya sebagai sesuatu yang “fixed” ?, yang musti di dewa kan?.

    Jadi,

    Arsitektur itu katakanlah = bangunan?

    Atau

    Arsitektur itu = kota Singapore yang tertata rapi

    Atau,

    Arsitektur itu = Bandara Soekarno Hatta yang mendapat Aga Khan award?

    Atau,

    Arsitektur itu = kandang kuda?

    Siapa yang berhak melabeli ini arsitektur dan itu bukan arsitektur?

    Saya mengutip kuliah umum Soekarno tentang agama di Universitas Indonesia pada tahun 1955 sebagai berikut (saya menempatkan bagaimana publik melihat arsitektur pada saat bagaimana publik melihat agama) :
    “Saya akan menceritakan kepada saudara saudara sekalian hikayat seekor gajah dan empat orang buta. Pada suatu hari Sri Baginda suatu negara menyuruh mendatangkan se ekor gajah beliau di halaman istana dan memerintahkan pada waktu yang sama mendatangkan pula empat orang buta. Setelah gajah dan empat orang buta tiba, maka Sri Baginda meminta supaya orang orang tuna netra itu masing masing menjawab pertanyaan : Apakah gajah itu?. Untuk menjawab pertanyaan itu, ke empat orang buta tadi diperkenankan secara bergilir mendekati gajah itu sambil meraba raba tubuhnya.

    Ke empat orang buta tadi mesing masing memberikan jawaban yang berbeda, yang pertama mendifinisikan gajah sebagai penghalau lalat, besar dan panjang sekaligus agak lunak, karena ia memegang ekor gajah!.

    Orang buta ke dua, menyebut gajah sebagai bambu yang amat besar tetapi kok lunak, karena ia memegang kaki gajah!

    Orang buta ke tiga menjelaskan gajah sebagai daun besar yang tebal, karena ia memegang telinga gajah!

    Orang buta ke empat menjelaskan gajah sebagai pipa karet yang besar karena ia meraba belalai gajah.”

    Begitulah, saat kita identikkan bagaimana ke empat orang buta tadi memaknai “gajah” akan sama saat kita memaknai “arsitektur” itu apa?.

    Semua jawaban di atas itu pada dasarnya benar, walau jawabannya berlainan.
    Jangankan untuk memaknai arsitektur, kita memaknai sebuah “ruang” dalam arsitektur itu apa?, kejadian yang akan ada, mungkin akan masih sama seperti ke empat orang buta tadi men-define apa itu gajah. So what?.
    Saat kita memasuki arsitektur, ntah kebun, ntah desa, kota atau rumah, ada sesuatu yang selalu terjadi di saat kita berada di dalamnya. Adanya sebuah aturan. Aturan harus bagaimana kita di dalamnya. Terlepas itu sudah menjadi sebuah kebiasaan hidup ataukah sebuah hal yang baru. Aturan aturan yang telah terbiasa kita jalani atau memang menjadi sesuatu yang baru kita alami.

    Sama seperti kita berada dalam sebuah tubuh!.

    Ada aturan di dalamnya untuk apa kita ada di dalam tubuh. Segalanya terangkai sebagai sebuah system.

    “Chohatsu suru hako”, kata Tadao Ando saat men-define apa itu arsitektur. Kalau di jabarkan lebih lanjut, kata itu identik dengan “the box that provokes”. Ntah “provokes” yang dimaksud dalam artian yang baik atau mengarah ke hal yang buruk?. Tapi lepas dari “provokes” nya ando, arsitektur dibaca sebagai sesuatu yang punya andil besar dalam merubah kehidupan siapa yang memakainya.

    Tubuh kota, akan berusaha membawa masyarakat pengisinya ke arah yang lebih baik. Tubuh rumah, tubuh anda, akan berusaha menjadikan tiap pengisinya ke arah yang lebih baik. Apakah musti yang baik baik saja?.

    Arsitektur musti di lihat sebagai sesuatu yang tak absolute. Sesuatu yang bukan milik “yang baik” dan juga musti bukan milik “yang buruk”. Musti dipandang sebagai ketidak adaan suatu cara atau gaya yang terbaik, atau landasan yang terbaik atau akhirnya dapat dikatakan bahwa di dalam memandang arsitektur, semuanya mempunyai kesempatan yang sama dalam berkembang dan muncul. Yang musti selalu dikedepankan adalah usaha yang harus mengarah kepada keberagaman pandangan dan tata nilainya.

    Selama ini “award” dalam arsitektur, hanya buat mereka yang “terbaik”. Arsitektur telah di artikan sebagai sesuatu yang “baik”. Karena pada yang “baik”, di sana lah yang memakai arsitektur akan ada dalam kehidupannya yang baik.

    Betulkah?

    Mungkin ada yang salah dengan cara berpikir kita dalam menentukan dan memaknai arsitektur walau secara sederhana?.
    Inilah pola pikir metapisika barat, yang selalu menempatkan garis tegas antara mana yang musti dipakai dan mana yang musti dibuang.
    Ini yang saya sebut sebagai keadaan di mana kita berada di posisi yang “acute”!, beberapa waktu yang lalu dalam diskusi membahas arsitektur itu apa di forum milis AMI.

    Atau mungkin saya yang berada di posisi itu!.
    Arsitektur musti bisa di baca melalui 5 indera. Bukan hanya melalui pembacaan melalui mata. Arsitektur tak identik dengan produk sebuah bangunan. Di dalamnya selalu, dan akan selalu ada sebuah ide, gambar, proses, benturan, masa lalu dan kini sampai ke esokan, dan selalu akan ada sebuah usaha mempertanyakan “text” dalam arsitektur.

    Di dalamnya selalu akan ada sebuah perubahan.

    Seperti kita yang berada dalam sebuah “tubuh”!.

    Pertanyaan yang mungkin akan timbul adalah apakah mungkin hal yang positif saja timbul saat kita di-tubuh-kan? atau saat kita di arsitektur-kan?

    “Everything is possible!”.

    Ini sama artinya saat kita melihat balik dunia pendidikan arsitektur kita (di Indonesia!), ke positif-an barada selalu di “centre”.
    Kebohongan publik pada pendidikan kita?

    Melihat dunia pendidikan arsitektur kita, mari kita menangis melihat para tamatan arsitek dari semua penjuru kampus di Indonesia . Tak ada yang mendengar, apalagi mengusap air mata mereka.

    Dan, siapa yang peduli?

    Anda?,

    Saya?,

    Guru ?,

    Dan siapa yang mengulurkan tangan dan meraup tangan tangan belia yang kini tenggelam oleh gelombang gelombang liar yang memangsanya di dunia luar?, menjadikan tamatan tamatan arsitektur meraup rupiah di profesi lain, dan membuatnya merasa beruntung untuk tidak dilahirkan ke dunia luar sebagai seorang arsitek? saat mereka telah terbuai oleh tumpukan rupiah dan kesibukan di profesinya kini.
    Inilah kewajaran itu.

    Sesuatu yang sudah dianggap amat sangat wajar. Sesuatu yang sudah dipikir “positive”. Bahkan wajar bagi institusi pencetak tamatan arsitektur. Karena yang mereka ingat hanyalah jumlah lulusannya, sudah berapa lulusan arsitektur yang mereka tamatkan. Dan tak pernah ingin tahu, sudah berapa lulusannya berprofesi sebagai arsitek!.

    Wajar, karena belum ada yang mempersoalkan alih profesi yang terjadi di tamatan ini. Bahwa nantinya seorang yang tamat di jurusan arsitektur harus dan musti berprofesi sebagai arsitek (?), dengan bekerja di biro konsultan yang telah ada atau berpraktek sendiri.

    Bahwa amat sangat wajar, karena hal ini juga terjadi di tamatan lain, selain arsitektur.

    Bahwa ini wajar, karena juga terjadi di seluruh kampus di dunia ini!

    Ya, karena dunia mengakui kewajaran ini!.

    Jadi buat apa kemudian musti di perdebatkan?.

    Mungkin telah lebih dari angka 100, jumlah kampus yang mempunyai jurusan arsitektur, di Indonesia. Kalau kita berbicara angka, terlihat memang menampakkan adanya suatu kemajuan. Tidak hanya adanya akademi arsitektur dan program S1, tetapi juga lihatlah kini telah ada diploma D3, magister (S2) sampai program doctoral (S3). Jumlah lulusannya juga telah dilihat sebagai angka ribuan! Menakjubkan!.

    Semuanya hanya berbicara tentang kemajuan yang telah didapat melalui pembacaan angka. Kemajuan yang dibaca sebagai sesuatu yang “positive”.

    Tidak ada sisi negativenya?.

    Saat saya mulai kuliah, ada sekitar 90 an mahasiswa. Saya setidaknya, katakanlah punya sekitar 89-an teman. Cukup banyak memang. Tetapi saat kini telah 15 tahun berlalu, dari 89-an lebih rekan rekan saya, hanya sekitar 2-3 orang yang berprofesi sebagai arsitek!. Adakah yang menyebut ini di angka “kemajuan” tadi?, bila kita melihat prosentase “menjadi” nya tamatan arsitek tiap kampus. They were gone!.

    Terlepas dari keinginan masing masing individu untuk bisa menjadi apa kelak, ketersediaan lapangan kerja di luar sana bukanlah menjadi hal utama yang memicu keganjilan ini. Ada faktor internal dan ekternal yang mungkin bisa diurut. Keduanya berdiri sendiri. Tetapi pada satu level duduk yang sama.

    Perkuliahan adalah identik dengan pembelajaran tentang “ilmu arsitektur” bukan pembelajaran dalam “membuat arsitektur” (josep prijotomo, pada buku “Dari Lamin dan Bilik Pengakuan Dosa”, halaman 3-13, Berkaca Diri Demi Arsitektur Indonesia yang Mandiri).

    Perkuliahan identik dengan pembelajaran text arsitektur; tentang teori dalam arsitektur. Bukan tentang bagaimana “text” itu di hadirkan, dan apa korelasinya dengan arsitektur yang berikutnya.

    Tidak ada usaha untuk, “mempertanyakan” “text” dalam arsitektur.

    Sebuah kefatalan dalam pembelajaran arsitektur.

    Hal ini kemudian, salah satunya, merupakan sebab kenapa tamatan arsitektur menuai rupiah berlimpah dan berbahagia di profesi lain selain sebagai arsitek!.

    Dilain pihak,
    Perdebatan yang kini ada tentang keganjilan (apa boleh disebut ganjil?), selalu menempatkan posisi kampus sebagai pihak yang berada di posisi aman. Mengingat tujuan pendidikannya bukan untuk mencetak arsitek, melainkan baru sebatas mencetak sarjana arsitektur.

    Sebuah kebohongan publik?.

    Ini lah kewajaran yang sudah menjajah pendidikan kita!.

    “still possible..in architecture!”

    Sama saat sebuah konsep rancang tertinggalkan, terlupakan saat proses berlanjut dalam perancangan sebuah proyek.

    Apakah konsep akan selalu musti dipertahankan dalam perancangan?.

    Bagaimana arsitektur itu hadir?,

    Kamasutra- bertektonika
    Arsitektur hadir melalui persetubuhan!. Melalui seks. Seks dalam arsitektur.

    Persetubuhan site dan ide. Site mewakili mereka yang berduit maupun mereka yang hanya mampu membayar dengan ucapan “terima kasih”. Site mewakili segala sesuatu yang tak bergerak, sesuatu yang passive. Sementara ide mewakili mereka yang punya kreativitas. Ide mewakili segalanya yang bergerak, yang aktif. Kreativitas!.
    Persetubuhan 2 hal tersebut, pertemuannya selalu menghasilkan sebuah perubahan, sebuah kekuatan, sebuah tubuh tubuh baru. Langgam langgam baru. Pesetubuhan material dengan segala detailnya. Persetubuhan dalam arsitektur, tak hanya bisa dibaca sebagai persetubuhan dua hal tersebut di atas saja. Perlu juga dilirik bagaimana persetubuhan arsitektur yang akhirnya menempatkan si pemakai arsitektur dengan dirinya sendiri (dengan arsitektur itu sendiri). Kemudian patut juga dibahas bagaimana persetubuhan itu terjadi antara site dimana arsitektur berada dengan site lain, misalnya. Arsitektur, kemudian akan dibaca secara sebuah rangkaian yang begitu komplek.

    Sesungguhnya ketika arsitektur ditubuhkan, ia memiliki hal yang positif dan negative. Bisa dirasa melalui 5 indera. Saat ia tak ditubuhkan, ia tak akan mempunyai dua hal itu.

    Ia hanya berupa text.

    Sama saat manusia ditubuhkan, ia punya kans untuk dilihat dan disentuh. Kita bisa menilainya baik dan buruk, ganteng atupun cantik atau buruk. Untuk bisa dirasa, arsitektur musti dilahirkan, melalui persetubuhan. Melalui seks.

    Persetubuhan, dengan demikian kemudian menjadi sebuah alat bagaimana arsitektur itu dihadirkan.. Bagaimana tubuh tubuh lain hadir. Dan bagaimana selanjutnya tubuh tubuh itu melakukan seks dengan yang lainnya, sehingga sekian tubuh lain pun telah hadir lagi.

    Disadari ataupun tidak, seks kemudian secara sederhana telah, bukan hanya dilakukan oleh mereka yang disebut “mahluk”, tetapi kemudian seks juga ternyata dilakukan atau terjadi pada arsitektur. Dengan seks, arsitektur berkembang pesat. Dengan seks kemudian arsitektur bisa “terbaca”. Melalui seks, arsitektur mempunyai kritik. Tektonika dalam arsitektur, identik dengan kamasutranya Vatsyayana Mallanaga.

    Busyet, masak iya?.

    “Kamasutra”, bukan lagi sebuah produk yang hanya bisa dibaca oleh kaum 17-an. Menyebut kamasutra, orang orang akan selalu menghubungkan dengan serba serbi persetubuhan, eksotika teknik bersetubuh!. Dalam kamasutra, begitu amat ditekankan tentang detail persetubuhan, tata cara ciuman, bagaimana mustinya kuku kuku tangan mencengkram kulit lawan jenis, sampai kecepatan irama/gerakan (maap) penis ke (maap) vagina!.

    Dalam kamasutra, 5 indera musti merasa!, begitupun dalam arsitektur.

    Dalam tektonika arsitektur, bukan saja berbicara bagaimana kusen pintu musti bertemu dengan tembok, bagaimana kita mengelaborasi kaki meja bertemu dengan lantai, apalagi bagaimana balok beton bertemu dengan kolomnya.

    Dalam arsitektur, dibahas bagaimana kita dipertemukan ke dalam arsitektur. Bagaimana arsitektur itu dipertemukan ke bhumi. Dan bagaimana arsitektur itu dipertemukan ke arsitektur lainnya.

    Pada arsitektur, dipertontonkan bagaimana ruang bersetubuh dengan ruang dan menyetubuhi si pemakai ataupun sebaliknya.

    Kesan, rasa dan segala yang timbul saat pertama kali bersetubuh dengan arsitektur, katakanlah saat kaki beradu dengan lantai di porte cochere sebuah rumah, saat itu kita menikmati kata seks dalam arsitektur. Bunyi langkah kaki, adu pandang dengan ruang berserta isinya yang mempertontonkan “seks seks” material pembentuknya.
    5 indera terpuasi. Bukan hanya pada mata.

    Dalam kata lain, tektonika dalam arsitektur, ataupun pada kamasutra, “kreativitas” amat sangat memegang peranan penting.
    Creatifity?,
    What is creatifity?

    Creativity is not copying!

    Saya selalu menyempatkan belajar pada arsitek arsitek yang telah membuat ruang di luar sana. Jarang saya membaca buku tentang arsitektur. Saya tidak percaya akan textbook!. “there is nothing outside the text” (Jacques Derrida).

    Ini bukanlah sebuah ajakan untuk menjauhi buku. Setiap orang punya cara tersendiri untuk mengertikan segala sesuatu tentang apa yang ia geluti. Silahkan membaca buku sebanyak banyaknya, tetapi, jangan lupa untuk selalu menanyakan tentang apa yang telah tersirat di dalamnya.

    Merasakan ruang secara langsung, membuat kita bisa mempertanyakan segala sesuatu yang ada dalam “textbook”. Tetapi, memang perlu dan kita musti tahu dulu segala sesuatu yang ada di textbook. Text book perlu tetapi kemudian untuk dipertanyakan.

    Karena tanda, mencirikan “an absent present”. Manusia menggunakan tanda agar tidak perlu menghadirkan objek secara langsung, meski makna tanda harus ditangguhkan.

    Kata kata yang diucapkan manusia segera hadir dalam kesadarannya, sementara tulisan cenderung merampas eksistensi manusia.
    Itu sebabnya, merasakan ruang secara langsung, melebihi pengalaman dalam pembacaan “text”.
    Belajar ruang secara langsung, membuat kita akan tahu interaksi kita dengan ruang yang terbentuk. Merasakan interaksi kita dengan material, dengan suasana, dengan tektonikanya. Menerjemahkan “text” pembentuk ruang secara langsung. Dengan cara seperti ini, distorsi dalam pembacaan text, bisa diminimalisasi.

    Reaksi kita apa?,

    Menemukan sebab akibat yang ada di dalamnya. Menemukan bagaimana sang desainer memecahkan masalahnya dalam konteks perancangannya dalam skala proyek tersebut. Mempelajari sifat material, mempelajari karakter ruang yang terbentuk melalui olah ruang dengan cara pe-mandat-an segala jenis material. Mempelajari bagaimana ruang tersebut memperlakukan kita saat berada di dalamnya. Mempelajari tubuh!.

    Mempelajari creativitas!.

    Ada dua hal yang secara global bisa ditangkap dari sekian tersebut di atas.
    Penemuan hal hal yang bersifat buruk dalam sebuah desain si perancang dan penemuan segala sesuatu yang bagus, tentunya.

    Terhadap yang pertama, saya selalu menekankan bagaimana caranya agar kita bisa membuatnya lebih baik. Belajar dari kesalahan orang, selalu akan membuat kita bisa mengantisipasi dan bergerak ke hal yang lebih baik. Bukan dengan membuangnya begitu saja, tetapi tetap memakainya sebagai bahan masakan yang mengharuskan kita menjadikannya hal yang bertambah baik untuk dinikmati. Hal ini penting, agar kita terbiasa mengolah sesuatu yang dicap jelek atau biasa saja dalam olah detail dan tidak hanya berpikir bahwa hal yang jelek tidak semestinya untuk dipakai dan diangkat sebagai thema utama.

    Pola pikir seperti ini, tak akan bisa menjadikan kita untuk selalu membuat otak kita selalu dan selalu berpikir untuk menghadirkan hal yang bagus dari bahan yang sudah dianggap basi atau jelek.

    Terhadap yang ke dua,
    Saya selalu menekankan untuk menemukan apa yang baru, apa yang baik dari sebuah rancangan dari disainer lain. Apa yang musti di “highlight”?

    Dari hal ini, saya bisa menemukan bagaimana pola pikir sang perancang dalam membebaskan diri dari kemonotonan!

    “monotonity is the killer of creativity!”.

    Usaha ini bukan untuk membuat kita berada di kondisi “rilex” karena masalah telah terpecahkan begitu saja melalui “someone else”, dan kita hanya kemudian meng-copy paste pada proses perancangan.

    Inilah yang orang bilang sebagai plagiator!.

    Hal yang bisa kita lakukan adalah, mempelajari “kebaikan” desain mereka.

    Mempelajari “kenapa” nya mereka.

    Dari sana kita kemudian berangkat untuk memasaknya lagi dengan cara yang lain dan menghadirkannya kembali menjadi sesuatu yang baru.

    Tidak ada yang sama, karena kita menghadirkan dengan pola pikir yang berbeda dalam memandang permasalahan yang kemungkinan sama.

    Terhadap hal yang jelek dan hal yang buruk dari tiap rancangan dari arsitek lain pada sebuah proyeknya, hal tersebut di atas akan selalu membuat kita meng-upgrade kreativitas kita masing masing. Tidak membiarkan kita hanya sekedar sebagai penonton yang berusaha membicarakan kehebatan perancang perancang lainnya ditiap diskusi arsitektur dan mengkopi paste ide ide mereka secara brutal.

    Pembelajaran ruang yang bekerja pada proses ini tak akan menempatkan sang pembelajar pada proses kreativ yang sesungguhnya, tetapi ia akan ditempatkan pada keadaan masa lalu dari desain yang oleh desainer pertama telah ditinggalkanya.

    Orang orang yang berlomba lomba merasakan ruang secara langsung, musti selalu berpikir untuk selalu bisa berada di keadaan masa depan walau hanya berangkat dari apa yang dia lihat dari ruang yang telah terbentuk dari seorang desainer, baik melalui material, komposisi, tektonika ataupun hal yang lainnya.

    Karena dalam arsitektur, tak ada yang absolute, tidak ada satu cara atau gaya yang terbaik atau landasan hakiki di mana seluruh arsitektur harus berkembang. Gaya klasik, tradisional, modern dan yang lainnya mempunyai posisi dan kesempatan yang sama untuk berkembang.

    Memakai apa yang telah dipakai secara utuh tanpa membuatnya berkembang adalah membuat kemonotonan hidup dalam kenikmatan. Dominasi pandangan dan nilai absolute dalam arsitektur harus segera diakhiri, perkembangan arsitektur mustinya bergerak mengarah ke keragaman pandangan dan tata nilai, bukan keseragaman apalagi kesamaan hal yang telah ada di masa lalu di kekinian.

    Saya masih ingat, seorang arsitek Bangkok menceritakan tentang kuatnya pengaruh “pengalaman seks” dalam mendisain detail detail dalam arsitektur.

    “Putu, apakah anda sudah melakukan seks?”, tanyanya di pelataran gedung Bursa Efek Jakarta, suatu hari.

    Saya jawab, belum!.

    “Anda musti melaukan seks dulu, untuk mendapatkan detail yang bagus”, begitu dia kemudian melanjutkan.

    Saya menanggapinya dengan tertawa.

    Apa betul?

    Tanpa seks, bentukan tak akan pernah terjadi. Tanpa seks tak mungkin kita merasa melalui 5 indera bahwa arsitektur ternyata 4 dimensional (atau lebih?). Bentukan yang terjadi, baik oleh karena dua material yang sama ataupun dengan material yang berbeda. Tanpa seks, tiada arsitektur!.

    Jadi apa betul, seks mempengaruhi rasa kita dalam berolah detail?, menghasilkan detail yang bagus?

    Tubuh, sebenarnya didalamnya berisi sekian ilmu tentang tektonika. Kalau berbicara dalam arsitektur, begitu luas cakupan tentang bagaimana menghasilkan akhiran, pertemuan, penggabungan material, penyertaan unsur bunyi, bau dan rasa, bukan sekedar sebuah “cuci mata” dan pertemuan tembok dengan pintu yang menjadikannya pembatas ruang.

    It is not that easy lah!.

    S, M, L, XL
    Posting saya ke forum AMI, 21 agustus, 2006 :
    “saya biasanya ke jakarta, menuju karawaci.
    ada satu teman yang ikut.
    di terminal kedatangan, klien menjemput dengan mercedesnya.

    karena bawaan buanyaknya minta ampun, terpaksa hanya boss besar yang naik mercedes dan dalam mercedes tadi ternyata klein menyiapkan satu kendaraan motor roda dua. teman memakainya sekaligus membonceng beberapa barang yang ndak muat di mersedes itu.
    saya terpaksa berjalan kaki menuju karawaci!.
    mersedes berlalu cepat begitupun teman yang memakai honda supra. mereka berkejaran.

    busyet! saya ditinggal!

    si boss nyampe di karawaci dalam 1.5jam
    teman yang memakai honda supra dalam 2.5 jam
    dan saya hampir sehari penuh dengan peluh membasahi tubuh!
    sesampainya di karawaci, boss bertanya ke saya, kok lama banget?

    “yah namanya jalan kaki boss”, saya jawab sekenanya.
    saya bertanya ke boss, gimana rasanya ke karawaci mengendarai mercedes?
    “busyet, dingin banget di dalam, jalanan macet!”, katanya
    “boss lihat apa saja?” saya bertanya lagi,
    “ya mobil macet doang ama gedung gedung!”,
    saya bertanya kepada teman yang mengendarai honda supra, apa saja yang dilihat
    “wah..betul tuh si boss, jalanan macet, mobil lalu lalang, malah ada jalan kereta api di atas, tumben loh lihat begituan, kan biasanya kereta api jalan di tanah!”, katanya.
    mereka bertanya ke saya, kok lama, dan apa yang saya lihat.
    “wah, ketemu si sonny di suter, ngobrol tentang arsitektur, trus jalan sebentar eh ada teman se kampus minta tolong digambarin rumah..ya udah saya gambarin dulu rumahnya. selesai itu, yang makan dulu di warteg, ada banyak supir angkot di situ, mereka bercerita tentang susahnya penumpang sekarang, tentang istrinya dan anaknya, tentang perselingkuhan. sampai eneg nih kuping. eh..tau ndak ternyata ada jalan tikus yang bisa membuat gerak kita semakin cepat, ndak ada macet ! dijamin. malah saya temukan masih ada sawah loh di jakarta, kamu bayangin deh! di jakarta ada sawah..hari gini..!tetapi yang paling menarik saat saya membantu melahirkan ibu ibu di kampung apa gitu…………dll dlsb”,

    begitulah,
    lama…murah, ada sekian hal yang ditangkap,
    cepat…mahal dan cuman secuil yang ditangkap!
    malah ada yang paling mahal, itu ibaratnya sudah menempuh S3!
    saat kita dijemput di soekarno hatta dengan helikopter!
    perjalanan dari bandara ke karawaci cuman 4 menit!

    apa yang dilihat?
    pemandangan alam yang ndak begitu detail, tetapi terlihat begitu indahnya….terasa sudah lengkap hidup ini terbang di atas sana melihat segalanya!
    saat saya terbang dari pnomh penh ke siem riap (cambodia) di mana angkor wat berada,
    saya dipinjemi buku oleh teman karib, “biar ndak bengong tu”, katanya.
    judul buku itu adalah “IT IS NOT HOW BIG YOU ARE, IT IS HOW BIG YOU WANT TO BE”

    salam,

    putu-belum bisa tidur karena terbiasa dikeloni!”

    Proses menjadi arsitek, tak sama seperti kita membeli burger di KFC!. Atau membeli camilan “Taro” snack kegemaran anak saya, what you see what you got.

    Begitu halnya dalam membuat arsitektur yang sebenarnya. Segalanya penuh perjuangan. Bukan segampang studio 1 sampai studio 5 pada masa kuliahan. Bukan!.

    Ada proses di dalamnya. Ada proses pencarian diri. Mau kemana saya?, ada proses pengujian “fisik-mental”; kenapa saya musti jadi drafter kamu?, apa kamu ndak tahu saya tamat di Harvard? Kenapa musti men-draf pekerjaan mu?.

    Ada sekian “pengujian” untuk mereka yang baru tamat.
    Dan, itu adalah alami. Menjadi arsitek adalah hanya buat mereka si pemenang. Pemenang segala ujian yang ada di jalan raya. Kesempatan telah ada di sana, segala rekan, segala proyek dari yang type small, medium, large sampai ke XL!
    Dan saya telah membuktikan, bahwa menjadi arsitek tak seperti yang kebanyakan orang kira, dimana kekayaan akan materi bisa di dapat, atau bisa juga kita TIDAK temukan.

    Relative!.

    Ada banyak yang bisa kita raih, di semua profesi, selain menjadi arsitek, kaya, miskin, untung, rugi, sejalan bersama. Ditemukan bisa dimana mana.
    Semua profesi berada pada kesempatan yang sama meraih sukses.
    Arsitektur di profesinya sebagai arsitek, di dalamnya tertulis akan kaidah bagaimana kita memperlakukan alam.
    Arsitek, turut serta dalam membuat “shape” alam ini. Menjadi arsitek, di dalamnya terjadi proses pembelajaran diri juga pembelajaran terhadap orang lain, demi mencapai kehidupan yang lebih baik. Melalui arsitektur, arsitek menghantar kehidupan masyarakat banyak ke arah yang semakin baik.

    Jangan bermimpi terlalu tinggi dulu buat mereka yang pemula untuk mendapatkan pekerjaan gede, klien gede dan segalanya serba gede, karena hidup menjadi arsitek, buat asitek pemula ibarat bayi yang baru mulai merangkak, bukan mereka yang sudah bisa berlari dengan kencang.

    Saya yakin, mereka yang pemula, akan merambah dunia arsitekturnya dengan berkenalan dulu sesama keluarga. Mendapatkan klien dari keluarga, dari teman sesama masa kecil, dan akhirnya mendapat fee dengan ucapan terima kasih.

    Jangan berkecil hati.

    Dari kasus tersebut, jangan pernah kemudian menempatkan klien yang dituju adalah mereka para keluarga dan teman itu. Tapi tempatkan buruan yang kita akan cari adalah mereka yang berada di luar sana. Keluarga dan teman adalah jalan menuju mereka yang ada di luar sana.

    Tentang nilai rupiah yang semestinya didapat buat mereka yang pemula menapaki dunia arsitektur, 50% for fun dan 50% for producing the works.
    Hal ini dipakai agar para klien klien itu tak berujar, “wah, kalau cumin beginian doing mah saya juga bisa gambar!”
    Yang musti selalu diingat buat mereka para pemula, adalah penempatan pendidikan arsitektur buat mereka yang awam terhadap arsitektur. Saya menekankan agar selain rupiah yang ingin digapai, selalu tempatkanlah bagaimana kita bisa mendidik klien klien tersebut untuk semakin mengerti terhadap pentingnya hidup kea rah yang lebih baik melalui arsitektur. Kalau kita sudah membicarakan arsitektur, yang ada di dalamnya adalah olah kreatifitas. Kita berbicara disain.

    Kreatifitas dalam disain, dipercaya bisa membuat hidup menjadi lebih baik.

    Mulailah dari hal hal yang paling kecil, termasuk bagaimana kita musti mendidik seorang tukang sampah sekalipun dalam mendisain rumahnya, kalau kalau anda sebagai arsitek pemula berhadapan dengan klien tukang sampah dan diberi fee ucapan “thank you!” saja.
    Kalau saya bisa menemukan pengalaman pengalaman S, M, L, XL di dunia arsitektur, kenapa musti Rem Koolhass saja yang bisa menuliskannya pada bukunya yang tebal?.
    Bagaimana dengan anda sekalian-mahasiswa arsitektur Universitas Kristen Petra Surabaya?.

    Putu Mahendra, arsitek – www.bensley.com
    Grand Hyatt Singapore, #0940November 24, 2006

    Popularity: 5% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    beberapa hari yang lalu,
    saya terima email dari seorang anggota milis AMI.
    dengan sopannya dia sharing tentang dunia arsitektur,maklum dia ternyata amat sangat terpengaruh dengan apa yang saya sodorkan.
    apa yang saya utarakan tentang arsitek dan arsitektur melalui pendekatan jalan raya, bukan text book apalagi apa kata kampus.

    sampai dia menilai saya arsitek yang didapat bukan via proses sarjana,
    “lha, mas putu yang ndak sarjana saja bisa sukses jadi arsitek, mangkanya saya mau bertanya ke anda, bagaimana caranya. maklum hari ini saya sedang merintis dunia konsultan sendiri bareng ama teman. saya mau berhenti kuliah, wong di kampus dunianya kayak gitu”
    dia berbicara tentang kampusnya yang ndak nyambung, yang otoriter dan tak berhumanities, dan yang yang lainnya….

    ada banyak mahasiswa yang mengadu liwat japri,
    tapi, namanya juga the kids…

    saya bilang saya tamat sarjana,
    ijasah ada, ST.
    tapi saya bukan ST,
    saya arsitek!

    beberapa orang menanyakan, kanapa nama saya tak bergelar,
    apakah dulu tak sekolah?
    ktp saya tak ada gelar,
    kartu nama saya tak bergelar,
    dulu,
    kartu undangan nikah juga tak bergelar.
    tapi darah saya berwarna arsitek, berbau arsitek.
    udara yang saya hirup udara arsitek, rambut rambut dalam hidung saya yang mengsortir, mana udara arsitek mana udara pegawai bank,mana udara koruptor dan pembohong!

    beberapa yang lalu,
    djuhara pernah menyinggung profesi ini di milis ami,
    apakah ada orang yang berani menambahkan kata “arsitek” di namanya.
    saya memulainya, putu mahendra, arsitek,
    dan bertanya ke forum kalau kalau ada yang protes, termasuk dari orang orang IAI,
    tapi ndak ada yang protes,
    wong men-define arsitektur itu apa an, udah repot…

    menganut agama arsitek, saya termasuk orang bergaris keras,
    kalau bukan kuliah di kampus arsitektur, di mana lagi bisa menjadikan diri arsitek,
    wong saya bukan satu dari sejuta umat yang berotak encer dan kaya bak ando.
    kalau ada kampus arsitektur menempatkan tujuan hidupnya baru sebatas mencetak ST,
    mungkin bubarkan saja!
    atau saya laporkan ke Yang Hebat!
    karena di dalamnya telah terjadi pembunuhan karakter,
    bak
    IPDN yang sampai jauh melakukan arti “pembunuhan” yang sebenarnya

    malu…
    (atau saya yang bermimpi!)

    oh indahnya memakai nikon…

    putu

    On 4/15/07, Pranoto <pranoto12@gmail.com> wrote:

    di komunitas milis penggemar gadget kami, sering kali muncul orang orang ndableg yang ngisi kolom agama dengan Nikon atau Canon
    sebagian ngisi dengan agama Palm atau PPC, sekarang mungkin muncul pula agama Symbian, setelah Psion nglepasin dan tentunya yang baru agama RIM
    lalu, ada lagi yang ngisi kolom agamanya dengan windows atau mac, dan mazhab nya di tulis pula OS X Tiger
    sebagian ngisi dengan Linux Ubuntu :)
    saya kalau saja mau ikutan ndableg, mungkin saya isi agama dengan Apple Newton, biar di anggap kelompok berhala, karena ini OS yang sudah mati :)
    kalau dimilis idmoc, tentu saja mereka bilang agamanya Mitsubishi, sedang di Pug mereka bilang agamanya Peugeot dan nabinya almarhum 405 dengan mesin MI6 twin turbo:)

    ******

    sepertinya ini terlihat seperti gejala sinting
    tapi orang orang tadi mungkin mencoba berkata jujur
    bahwa seluruh hidup dan perhatiannya, sebagian besar di curahkan pada hal hal diatas
    dedikasi, waktu dan sumber daya lain juga diabdikan kesana

    segala hal yang menyangkut “ritual” keagamaan di jalani
    misalnya, rajin melakukan bersih bersih registri, atau kalau di otomotif sekali setahun melakukan pembersihan nozzle dan sesekali melakukan italian tune up

    ziarah pun rajin di lakukan
    sesekali ikutan gathering dan saling timba ilmu
    seminggu sekali main ke tempat Ayung di Senen beli red line additif

    dan parahnya, mulai merasa berdosa kalau tidak melakukan ritual dan ziarah diatas
    sebagai bagian dari peribadatan agama
    sama saja kayak yang nulis agamanya sepakbola, tapi melewatkan partai puncak Persebaya lawan Persjia
    sama saja kayak yang nulis agamanya F1, tapi lupa nama Juan Manuel Fangio atau Flavio Briatore

    ******

    jumpa pak Josef, yang sudah naik pangkat dari dosen menjadi guru,
    juga melihat potret yang sama
    jangan jangan agama kedua adalah arsitektur Jawa
    ada kesan kalau arsitektur Jawa itu bukan lagi thesis doktoral bagi si mbah,
    tapi sudah jadi bagian jalan hidup
    dan seolah dimata saya ada jalan sunyi yang kudu di lalui sendiri
    tapi bagi mata batin, mungkin yang di jalani si mbah bukan lagi jalan sunyi
    karena teman batin adalah si arsitektur jawa tadi yang sudah nangkring di separuh hati si mbah
    ha ? di hati ?
    ya, lha ini kan yang dicari para pakar manajemen
    bekerja dengan hati, akhirnya ya seperti bukan bekerja saja…..

    ****

    untung saya sempat nahan diri ndak usil
    mestinya saya kudu usil dan terus beraksi kayak preman pemerintah
    meriksa KTP si mbah, jangan jangan tertulis arsitektur jawa……
    lha, harus bagaimana saya mengomentari karya si mbah ?
    apa ya bisa kalau gitu caranya, karya dan si mbah di pisahkan begitu saja ?

    (mbesok mbesok di teruskan)

    salam,
    pranoto
    lebih baik di kejar anjing daripada di kejar schedule


    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    (dilaunching pertama kali tanggal juli 20, 2007 di milis arsitektur ITS)

    saya datang dengan pesawat pertama, jam 8.10.
    tetapi, biasalah, namanya juga garuda produk dalam negeri, nih peswat delay dan nyampai di jakarta jam 9 tet.
    meeting dengan lippo jam 9.30 am di UPH.

    saya udah ndak enak karena pasti telat.
    dan tak enaknya lagi, kedatangan saya membuat DP architect singapore juga telat karena mereka ( wu-director, rida-architec, suzan-associate) musti menunggu 30 menit di depan KFC airport agar bisa jalan bareng.
    kami ngobrol sebentar, sampai supir mendrive grand new CRV goldnya ke karawaci.

    sempet bengong juga melihat kampus UPH yang wah banget.
    meliwati “kanten” yang nampak seperti resto dengan mahasiswanya yang sibuk dengan laptopnya sendiri sendiri (busyet!), ada sekumpulan mahasiswi yang sedang sibuk buat tugas tempel tempel aneka ragam kain perca.
    busyet!

    heli melintas di atas kampus.
    semenit kemudian toyota alvard gold berhenti tepat di depan saya.
    mrs. james riady datang.
    saya membawa 3 rol besar gambar presentasi.
    “rida, kamu bawa satu, suzan tolong bawa satu lagi dan saya bawa yang satunya. thanks atas pertolongannya”, saya berlalu dan mereka mesem mesem.
    wu-director DP architect sibuk ber HP ria.
    di lantai 2, pak james menyambut dengan segerombolan teamnya dari lippo.

    saya gelar sekitar 25++ lembar gambar presentasi proyek mereka di kemang.
    ukuran gambar terkecil 90cm x 150cm. yang paling gede ukuran 2mx9m.
    site plan kami yang berukuran 2mx6m, kemudian menjadi alas duduk james dan bill saat menerangkan apa yang kami gambar.
    sebelum acara presentasi di mulai, james memperkenalkan teamnya, juga menyebut anak anak desain UPH yang turut datang diundang untuk belajar tentang apa yang kami buat untuk propertynya.

    di sekumpulan anak anak berjas biru itu, saya berteriak agak lembut, “..djuhara mana…djuhara mana….?”
    mereka pada tersenyum, “kok tahu mas?”,
    saya berlalu mempersiapkan gambar ditempel di dinding kaca.

    ahh..andai bisa bertemu kang Dju….sang maestro!

    salam,
    p.m.-fans berat Djuhara, ketua IAI jakarta!

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    (dibaca publik milis arsitektur ITS tanggal 29 mei 2007)

    saya bingung,
    musti ngomong apa?
    atau musti bercerita tentang apa di milis ini.
    menjadi tanggung jawab moderator (secara tak sengaja!) untuk selalu membuat hidup forum ini,
    ada sekian cerita yang musti saya share, “tetapi…ah..lu lagi lu lagi…”,
    atau, “ah..nih cerita udah tahu larinya mau ke mana..”
    atau,
    paling yang bakalan ngomong ya berdua, dia dia aja!.
    tulisan yang telah 500 kata langsung saya delete,
    begitu seterusnya,
    jadi mikir,
    nih milis musti diapaKEN, biar ndak sepi, jadi ndak berkesan “horor” (saking sepinya!) bak thema horor pilem pilem indonesia yang sedang booming!,
    kalau sendirian aja yang ngomong, “ah..mustinya sampeyan bikin blog!”,katanya.
    ya, seperti komentar mereka di milis AMI beberapa bulan yang lalu.

    jumat lalu,
    saya minta ijin untuk tak ngantor,
    di kampung ada keluarga yang punya acara 3 bulanan babynya.
    hidup menjadi bagian orang kampung, walau saya tinggal di denpasar, kalau sudah berkeluarga seperti saya,
    tak bisa lepas dari acara “gotong royong”.
    acara ini (musti) datang,
    kalau ndak, saat kita punya hajatan sejenis, orang orang bakalan berkesan “menjauh”,
    “wong dia aje kagak pernah datang di acara GUE! lha ngapain (musti) datang tohk?”, begitu mungkin mereka akan berucap.
    begitulah, kami sekeluarga mudik.
    pekerjaan saya “hampir” kelar, beberapa bagian ditangani oleh rekan,
    kalau gambarnya kelar, desainnya rampung untuk mereka meng”asistensi”KEN ke bangkok.
    mobil melaju santai di pagi jumat itu.
    di bedugul, saya berhenti sebentar di hutan belantara.
    memasuki hutan sekitar 10-20m ke dalam,
    membawa 2 kamera dan beberapa lensa,
    anak bini menunggu di pinggir jalan. sambil makan roti BREADTALK.
    ada seorang photograper sedang meng-shot calon pengantin, istilahnya mungkin lebih tepat mereka sedang melakukan session pra wedding LAH.
    saya tak menghiraukan.
    tetap masuk ke dalam semak sambil jeprat jepret.
    beberapa saat kemudian, session mereka berhenti dan meninggalkan saya sendiri di hutan bedugul.
    hutan nampak kembali sepi.
    hanya pohon menjulang tinggi dan saya terasa amat kecil.
    hanya berhadapan denganNYA, kami nampak amat sangat KECIL.

    saya berlalu,
    ada sekitar 80 an frame.
    mobil kembali melaju tenang.
    di kampung,
    kakek nenek anak saya menyambut.
    nikmatnya berkumpul lagi.
    di acara 3 bualanan itu, saya bertemu banyak teman waktu kecil.
    Mereka bercakap sesama, saya hanya mendengarkan dari jauh.
    Mereka asyk bicara dan mungkin bingung musti nanya apa ke saya.
    saya juga musti ngomong apa (?),
    atau bercerita apa (?),
    mereka telah saya tinggalkan sejak saya berumur 3 SMP.
    merasa sedikit terasing, obrolan mereka penuh canda dan saya hanya bisa tersenyum di kejauhan.
    saya sibukkan dengan memainkan golok, mencincang daging babi,
    mencincang bawang dan lainnya.
    pekerjaan ini begitu merepotkan tangan saya yang terbiasa bermain dengan pensil dan keyboard.
    mereka menghirup rokok,
    saya ndak bisa!
    mereka menghirup kopi,
    saya ndak bisa (selain STARBUCK!),
    secangkir arak plus bir dihirup,
    saya ndak bisa!
    (lha…sampeyan bisa apa tohk?)

    “tu, kamu pernah mabuk?”, jeffrey wilks-principle LTW design works malaysia- bertanya ke saya saat kami di goa-india beberapa minggu yang lalu.
    “never!”, saya menjawab tegas.
    “how come lah?, use some drugs?”,
    “never!”,
    “hah?, let gets drunk sometime LAH. try to jump out from your daily and dancing on the table like bill did!”,
    “get drunk is not the only way to jump out for my daily LAH!”,
    “you are right, but get drunk is something like we are jump out from WHO we are. it is good to became something that out of our daily”,
    saya merasa terasing dengan pembicaraan seperti ini. biasanya, minuman yang paling keras adalah coke!, sekarang mereka mengorderkan saya margarita!

    begitulah,
    lama tak berjumpa mereka teman teman saat kecil.
    hanya bisa bertemu saat ada acara beginian.

    saat pulang ke rumah,
    “miscall” terlihat di tilpun sekian kali.
    saya biarkan saja. saya sedang “off”, tak melayani order an.
    saat acara cincang mencincang daging babi untuk dibuatkan lawar,
    saya tak membawa tilpun, ingin menikmati acara tanpa suara dering tilpun.
    tapi saat malam 9.30 pm,
    tilpun kembali berbunyi.
    si bos dari jauh berbicara, tentang proyek di india yang musti dikirim besok!.
    kepala pusing karena jarak menganga dari singaraja ke denpasar di malam hari begini.
    saya ada 2 jam perjalanan mobil dari singaraja ke denpasar,
    tak yakin juga apakah gambar yang dikerjakan rekan di kantor nge-match dengan apa yang saya maksudKEN.
    saya tilpun kantor, ada 2 orang sedang on, tapi tidak rekan yang saya limpahkan untuk mengerjakan bagian yang saya suruh.
    TERPAKSA, saya starter mobil dan berangkat ke denpasar malam itu sendirian.
    2 jam bermobil di gelap malam.

    11.15 pm, nyampe di sanur.
    membedah gambar,
    tip ex ini tip ex itu.
    tempel sana tempel sini.
    render ini dan itu,
    ada 2 rekan sedang bekerja untuk proyek lain di ruang sana.
    rekan yang incharge untuk proyek yang saya kerjakan datang juga akhirnya, bersama membedah gambar agar sesuai dengan yang saya inginkan.
    jam 2.30 am, kerjaan kelar.
    2 rekan meninggalkan kantor, juga rekan yang incharge untuk proyek yang saya garap.
    sekarang, sanur cuman ditemani oleh satpam diluar.
    saya melanjutkan gambar proyek lain, yang juga musti dikirim “besok” via email.
    kelar jam 4.30am.
    saya pulang jam 5 pagi. jalan sepi. hanya ada dingin dan gelap.
    suara dengkur terdengar sayup sayup. ntah dimana yang tertidur berada.
    yang jelas, saya masih terjaga baru pulang dari kerja.
    weker saya setel bunyi jam 7 pagi,
    tapi,
    jam 6.30am mata telah terbangun kembali.
    pagi itu,
    saya berlalu ke tukang scanner, maklum neh gambar ukurannya A0 plus, di sanur cuman ada scanner A3.
    detak jantung agak lemah, tidur cuman tidur ayam.
    jam 8.30am, kantor sanur start kerja lagi.
    saya kirim gambar via email, yang ternyata agak stuck.
    “server jahanam!, saya jangan diganggu dah, mata ngantuk neh!..CEPETAN lah…
    begitulah, acara yang saya pikir akan berlalu smoothly, ternyata ada aja yang mengganggu.
    perlu 2 jam lamanya untuk meng-email gambar gambar itu, busyet!.

    kelar itu semua,
    saya berlalu, kembali pulang ke singaraja. mata agak berat, tangan di setir agak lemah.
    tapi sejam di jalan raya, kembali tilpun berdering,
    ahhhrrggggg….F..K!
    “tu gambarnya sudah saya terima, ok banget lah, kapan kamu kerjanya?”
    “tadi malam sampai pagi!”,
    “what?”.
    kini, kepala agak ringan pagi itu.
    Mata sedikit cerah kembali.
    saya setel musik, dengan volume full!, dari seorang biduawanita “DADAKAN”, dari album untuk sebuah soundtrack sebuah pilem “mendadak dangdut” :

    kata orang di atas bumi, kita semua sama,
    kata orang di mata tuhan, tidak ada miskin dan kaya,
    katanya……, katanya…..
    kalau memang benar begitu,
    kenapa nasibku jadi BABU,
    kerja apapun ku tak malu
    tapi hidup kok nggak maju maju
    celana… cuma punya satu

    meski banyak padi di sawah,
    hatiku selalu resah,
    meski tlah ganti pemerintah,
    hidupku selalu susah.

    oh nasib…pembantu
    selalu disuruh suruh

    ongki-arsitek
    marriott orchad road singapore

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    saya berjalan menuju kolam renang,
    ada 5 kolam renang di hotel ini, satu diantaranya berupa “lagoon”.
    dari lift sampai ke lokasi 5 kolam renang itu, lalu lalang tubuh bule ataupun lokal china.
    bikini!.

    barefoot, berjalan tanpa alas kaki, celana pendek dan handuk terlipat di bahu, saya melihat keramaian tubuh yang ada.
    sekian type bikini dan sekian type tubuh, dari yang berumur 5 tahun, sweet seventeen, sampai yang sudah di tahap older.
    dari yang finishingnya hammered, honed, flame sampai ke yang polished!
    saya mengamati bahannya,
    ada yang berwarna merah, merah terbakar sampai ke putih langsat sampai kelihatan urat uratnya.
    ada yang sintal, lembek sampai berotot. menggiurkan!
    saya ingat tubuh di rumah!
    finishing finishing itu, -hanya membicarakan finishing, kumpulan finishing yang serupa itu, telah membentuk ruang.

    karena saya telah tahu tentang “tubuh”, sesuatu yang “hidden” di bikini, bisa saya baca,
    sesuatu yang hidden di CD, saya bisa baca. walau terbungkus rapi.
    kalau telah “merasakan”, amat sangat gampang untuk “membaca”
    amat sangat gampang untuk men-determine, men-judge
    amat sangat gampang untuk menafsir “text” yang ada di dalamnya.

    bandingkan kalau hanya belajar dari video,
    ini ibarat para mahasiswa yang belajar hanya dari sekolah, membaca semua buku, menerima apa yang di kata.
    ‘rasa ruang’ bisa dilihat, tapi tak bisa dirasa secara langsung.
    melihat “tubuh” hanya melalui pilem, pelajaran yang dipetik memang ada, tapi tak akan setajam kalau kita merasakannya secara langsung.
    efeknya berbeda.
    merangkai finishing finishing itu, tanpa tahu efek yang akan timbul, tiada arti yang di dapat.
    saya duduk di jaqquzi, nampak sekian tubuh berbikini datang bergabung, menyatu dalam tubuh kolam.
    saya rasakan ada kesalahan desain pada dudukan dimana nozzle berada.
    dari sini akan terjadi modifikasi agar bisa nyaman untuk desain berikutnya.
    mengamati tingkah laku tubuh itu berada dalam tubuh air, berharap bisa memperbaiki kekurangan yang ada.
    ada dalam suatu ruang, suatu tubuh, musti selalu membawa 2 senjata utama untuk menentukan ruang atau tubuh ini “elok” atau ndak yaitu ada dan tidak ada kah sesuatu yang bisa di copy? kalau ada yang bisa di copy, musti ada hal yang bisa kita perbaiki menjadi satu tubuh yang lebih baik. kalau ada sesuatu yang ndak kita bisa jadikan eferensi, bagian tubuh itu musti bisa kita perbaiki menjadi “seharusnya bagaimana”.
    kalau kita hanya bisa meng-copy, itu sama halnya kalau kita bersetubuh hanya mementingkan agar kita saja yang orgasme, tubuh lain gue pikirin!.
    dan jangan harap ajakan untuk membawa kertas dan pencil bisa menjadikan satu satunya alat untuk membaca. itu artinya membaca bikini bikini tadi hanya dari arah depan saja.

    hotel ini dirancang oleh local designer institut dari beijing, interiornya wilson associate singapore. dan menjadikan dirinya menjadi hotel bintang 5 ke dua setelah hotel gloria sanya. kita menyelesaikan hotel ini tepat saat SARS bangkit untuk yang kali pertama!

    saat berjalan bersama 2 rekan saya menuju ke mandara spa yang berada di lantai dasar, masuk ke dalamnya, bau aroma spa begitu kental. pintu yang guedenya minta ampun membuat dorongan tubuh menekan agak berat. seberat pijatan mereka saat menarikan jari tangan di sekujur tubuh.
    2 therapist menyambut dan saya bilang saya ingin melihat.
    anak anak mulai action memotret setiap sudut.
    sang therapist meng komplain, agar jangan mengambil gambar di setiap jengkal areanya.
    saya bertanya, nih spa siapa yang mendisain, sambil kita bareng bareng masuk ke salah satu kamar treatmentnya. anak anak pada takjub dengan apa yang dia lihat sambil tersenyum saat saya bertanya siapa designer interiornya.
    “..hmmm, sir, saya lupa namanya, tapi dia orang amerika, sebentar sir, saya bertanya ke rekan saya di reception dulu” ia meninggalkan kita tergopoh gopoh. anak anak pada tersenyum dan melihat semua detail.
    saat therapist tadi kembali, dia menyebut nama.
    saya cuman mengangguk angguk dan anak anak pada kembali tersenyum puas.
    “boleh saya photo”, saya kembali bertanya walau saya tahu dia akan berkata tidak.
    dia kembali menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. senyum lokal china.
    saya mengeluarkan kartu nama, dan ia membacanya.
    “..aduh, maap sir, saya tidak tahu, tapi memang aturan di spa ini tidak boleh ada yang memotret. tapi sekali lagi mohon maap karena saya tidak tahu anda. tapi kini, anda boleh memotretnya, silahkan”, dia agak malu.
    anak anak tersenyum dan menjawab, “no problem lah”
    anak anak mulai membaca tubuh spa mandara hotel ini, merasakan material kulit tubuhnya, menyentuh tiap kulitnya, menggerayangi sekujur “hidden” area, mereka menemukan dunianya!
    sekali lagi, dua senjata itu saya pakai untuk membaca, walau desain ini datang dari dapur sendiri.
    adakah sesuatu yang bisa di copy dan membuatnya menjadi hal baru? atau sesuatu yang ndak beres dan menjadikannya lebih baik?

    “there is always something more powerfull to read te “box” with nuked and unite with it rather then we only doing those all thing without knowing what is it”

    putu yang punya mahendra
    sheraton sanya-hainan, china
    21 agustus, 2006

    Popularity: 4% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    (dibaca publik pertama kali di forum arsitek muda indonesia dan milis arsitektur ITS, 21 agustus 2006)

    saya biasanya ke jakarta, menuju karawaci.
    ada satu teman yang ikut.
    di terminal kedatangan, klien menjemput dengan mercedesnya.
    karena bawaan buanyaknya minta ampun, terpaksa hanya boss besar yang naik mercedes dan dalam mercedes tadi ternyata klien menyiapkan satu kendaraan motor roda dua. teman memakainya sekaligus membonceng beberapa barang yang ndak muat di mersedes itu.
    saya terpaksa berjalan kaki menuju karawaci!.
    mersedes berlalu cepat begitupun teman yang memakai honda supra. mereka berkejaran.
    busyet! saya ditinggal!
    si boss nyampe di karawaci dalam 1.5jam
    teman yang memakai honda supra dalam 2.5 jam
    dan saya hampir sehari penuh dengan peluh membasahi tubuh!

    sesampainya di karawaci, boss bertanya ke saya, kok lama banget?
    “yah namanya jalan kaki boss”, saya jawab sekenanya.
    saya bertanya ke boss, gimana rasanya ke karawaci mengendarai mercedes?
    “busyet, dingin banget di dalam, jalanan macet!”, katanya
    “boss lihat apa saja?” saya bertanya lagi,
    “ya mobil macet doang ama gedung gedung!”,
    saya bertanya kepada teman yang mengendarai honda supra, apa saja yang dilihat
    “wah..betul tuh si boss, jalanan macet, mobil lalu lalang, malah ada jalan kereta api di atas, tumben loh lihat begituan,kan biasanya kereta api jalan di tanah!”, katanya.
    mereka bertanya ke saya, kok lama, dan apa yang saya lihat.
    “wah, ketemu si sonny di suter, ngobrol tentang arsitektur, trus jalan sebentar eh ada teman se kampus minta tolong digambarin rumah..ya udah saya gambarin dulu rumahnya. selesai itu, yang makan dulu di warteg, ada banyak supir angkot di situ, mereka bercerita tentang susahnya penumpang sekarang, tentang istrinya dan anaknya, tentang perselingkuhan. sampai eneg nih kuping. eh..tau ndak ternyata ada jalan tikus yang bisa membuat gerak kita semakin cepat, ndak ada macet ! dijamin. malah saya temukan masih ada sawah loh di jakarta, kamu bayangin deh! di jakarta ada sawah..hari gini..!tetapi yang paling menarik saat saya membantu melahirkan ibu ibu di kampung apa gitu…………dll dlsb”,

    begitulah,
    lama…murah, ada sekian hal yang ditangkap,
    cepat…mahal dan cuman secuil yang ditangkap!

    malah ada yang paling mahal, itu ibaratnya sudah menempuh S3!
    saat kita dijemput di soekarno hatta dengan helikopter!
    perjalanan dari bandara ke karawaci cuman 4 menit!
    apa yang dilihat?
    pemandangan alam yang ndak begitu detail, tetapi terlihat begitu indahnya….terasa sudah lengkap hidup ini terbang di atas sana melihat segalanya!

    saat saya terbang dari pnomh penh ke siem riap (cambodia) di mana angkor wat berada,
    saya dipinjemi buku oleh teman karib, “biar ndak bengong tu”, katanya.
    judul buku itu adalah “IT IS NOT HOW BIG YOU ARE, IT IS HOW BIG YOU WANT TO BE”

    salam,
    putu-belum bisa tidur karena terbiasa dikeloni!

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    saya dijemput dengan sedan ber-AC dingin.
    perjalanan ke officenya klien dikatakan hampir 1.5-2 jam
    mumbai, pagi itu amat krodit.
    panas di luar.
    saya menghabiskan waktu duduk dengan melihat kiri kanan.
    kota mumbai, tak sepahit getir kota jakarta.

    jakarta telah menuai protes oleh warganya.
    akan ke kroditannya.
    akan ketak aman an nya.
    akan pejabatnya,
    tentang fasilitas umumnya.
    tentang copetnya.
    tentang darahnya!.

    saya tak akan mau hidup di kota seperti itu.

    saya melintas di jalan besar di mumbai,
    dimana tiap mobil yang akan menyalip, ditulis dalam
    undang undang dasarnya,
    untuk mengklakson mobil di depannya.
    kalau tidak, kita yang ada di pantatnya tak akan
    bisa menyalip.
    bayangkan!,
    saat udara yang telah kotor oleh CO2 yang menyesatkan hidung,
    kulit yang terbakar oleh terik matahari, musti juga bising oleh
    suara klakson!.
    tiap pantat truck, selalu ada tulisan, “HORN PLEASE, OK!”

    jejeran rumah kardus menghiasi trotoar jalan raya mumbai.
    mereka memasak, mandi, cuci pakian, cuci motor, di bahu jalan.
    anak anak kecil, nge-ngek di bahu jalan!
    bayangkan!

    dan saya melintas di depan mereka dengan sedan
    ber-AC dingin.
    menjadi arsitek rumah tinggal buat salah satu orang terkaya di india.

    kaum wanita, laki laki, anak anak itu, tetap saja
    melakukan kegiatannya;
    mencuci, masak, ngobrol, nge-ngek, dibahu jalan,
    setiap kali saya melintas di situ.

    saya ingat anak istri di rumah.

    jakarta masih bernasib baik.
    saya masih bernasib baik.
    anda masih bernasib baik.

    james riady, CEO kelompok lippo, menuliskan kata
    kata bijak,
    “nikmati pekerjaan anda dan selalu bersyukur kepada
    allah dengan begitu anda tidak pernah punya beban berat”.

    salam dari sanur,
    p.m.

    2008/3/20 putu mahendra <putu.mahendra@gmail.com>:

    arsitektur, berisi salah satunya tentang hal ini.
    kalau kita bisa keluar dari pengertian tentang
    arsitektur seperti apa yang
    dimengertikan selama ini, maka akan ada banyak
    orang yang berkata seperti
    cak andi.
    9 semester tentang arsitektur
    panjaaaaaaaaaannnggggggggg banget, tak tahu
    apakah yang memberi informasi itu tahu betul
    tentang apa yang dibahasnya.

    sebelum einstein mati, dia sempet menuliskan
    kalimat bijak di diary saya,
    “kebanyakan guru membuang waktunya dengan
    menanyakan pertanyaan yang
    dimaksudkan untk menemukan apa yang murid tidak

    ketahui, sedangkan keindahan

    sejati pada pertanyaan adalah pada tujuannya untuk
    menemukan apa yang murid
    ketahui atau mampu untuk ketahui”.

    kalau kita sedikit usil, bagi mereka yang berprofesi sebagai arsitek, dan menyempatkan diri untuk datang mengikuti
    perkuliahan di kampus oleh beberapa guru, saat anda tekun menyimak apa yang dipaparkan, mungkin kita akan
    sesekali ketawa dengan apa yang sedang dibahas…

    pembahasan “pahit getir” mungkin sulit sekali untuk
    diceritakan, tak sesulit
    saat kita membicarakan kesuksesan diri, kehebatan diri.
    kalau hendak membaca pahit getir, jangan sungkan
    sungkan untuk mampir ke perumahan pinggir kali, perumahan kardus pinggiran rel kereta.
    tak usah bertanya ke mereka, cukup melintas dan cerita pahit getir akan amat memukau!

    saya setiap kali ada di site, menapaki tiap
    jengkal site, tontonan pahit getir selalu ada.
    mangkok besar nasi rantang kaum kuli, terlelapnya
    kaum kuli di alas Koran dan bagaimana mereka makan cukuplah menghibur dibawah terikan matahari.
    kalau mendengar cerita maya tentang hebatnya
    seseorang sambil menonton bagaimana kaum kuli makan, mungkin lebih baik rasanya bercakap dengan kuli
    kuli tersebut ketimbang mendengarkan kuliah para
    dosen.

    hari ini saya bolos kerja.
    penyakit saya kambuh setiap ada pekerjaan yang
    musti digarap cepat.
    tangan kaku dan otak beku. gambar reception saja
    kok ndak bisa, pikir saya.
    untuk pertama kali dalam hidup, saya bergabung
    dengan kaum penjudi!
    saya pergi ke arena tajen di sanur sana.
    bercakap dengan mereka, dan seseklai mereka meng-“introgasi”,
    “kamu siapa?”,
    “wartawan mana?”
    “untuk apa motret?”,
    dan lain lainnya.
    saya menembaknya setiap jotosan pisau taji di kaki
    ayam ayam itu, dengan tangan bergetar!

    hiruk pikuk kaum bebotoh, menyemangati tarian
    berantem ayam jago.

    itu mungkin dunia bahagianya kaum penjudi,
    di sisi lain, terjadi hal yang memilukan saat saya
    berbaur dengan mereka walau hanya beberapa jam.

    di dalam arsitektur, di setiap pertemuan, akan
    selalu hadir sebuah
    “power”, dimana plus dan minus, baik dan buruk,
    datang berbarengan.

    saat kita merasakan pahit getir hidup, diwaktu
    yang sama, ada yang merasakan kebahagiaan hidup.
    saya pikir, dua hal itu tak musti secara nyata dipertanyakan untuk dicari, karena, disadari ataupun tidak, mereka telah hadir
    bersamaan.

    salam dari ruangan kerja saya di sanur,
    p.m.

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    dsc_4292.jpg

    (dibaca pertama kali tanggal 30 mei 2007 di milis arsitektur ITS)

    namanya i ngurah gede japara,
    room mate saya saat kuliah di surabaya dulu.
    mustinya, ia bernama i gusti ngurah gede japara,
    tapi karena ada sesuatu hal di keluarganya, “pangkat keluarga” nya di buang.
    begitu ia bercerita dulu.
    dia sahabat yang amat dekat.
    orang pertama yang memperkenalkan saya kamera nikon di tahun 90.
    orang pertama yang memperkenalkan motor tua BMW seri 27 ke otak saya.
    orang pertama yang ngajari saya motret!
    orang pertama yang memperkenalkan saya HP motorola di tahun itu.
    busyet!

    12 tahun lamanya setelah saya keluar kampus,
    baru akhirnya bertemu dia di telkomsel denpasar.
    sama sama ada urusan tentang HP.
    penampilannya tak berubah,tetap gendut.
    yang berubah, ada anak dan istri yang ikutan.
    ah..bahagianya.
    bertemu dengannya di hari itu, mengingatkan saya akan kamera nikon.

    kamera pertama saya nikon F2, dengan lensa 70-200mm. bekas!, di tahun 1997.
    saya beli dengan gaji sendiri, sekitar 1.750 ribu, saat itu.
    duh senangnya punya kamera “beneran”, walau bekas, he..
    duit habis untuk membeli pilem dan pilem dan pilem.
    kemana mana selalu ada F2. di saku selalu ada sekian rol pilem.
    saya ingin bisa motret!
    tuh kamera telah 2 kali putus layarnya, ndak bisa dikokang.
    sari dan sahabat si bob yang sempet membantu ngurusnya di nikon jakarta.
    kamera yang bagus untuk belajar motert dengan manual.
    acara memotret berhenti di tahun 1998.
    sekarang F2 ada di dry box, istirahat.

    kamera ke dua saya, nikon D200.
    saya beli desember 2006 lalu.
    ntah,
    selama ini cuman motret site, dengan kamera pocket.
    tetapi selama itu pula saya selalu ikut motret bareng bos, sekedar pegang reflektornya,
    atau memindahkan filenya ke applenya,
    belajar menggulung pilem dan memasukkan ke haselbaldnya,
    menghias, mengasapi,
    diajari memakai light meter,
    otak saya saat itu tak tergugah barang secuil.
    ntah (lagi),
    bulan desember tahun lalu, otak saya kok kembali hidup di bagian kameranya.
    saya beli D200 plus beberapa lensa sekaligus!.

    kamera ke tiga saya, nikon F4, bekas yang tak pernah dipakai oleh pemiliknya dulu.
    rekan saya bob yang membantu mendapatkannya.
    bodinya bak luna maya. mulus abis
    kemana mana selalu bawa kamera (lagi)
    motret apapun yang saya lihat.
    ndak ada thema, pokoknya poto saja.
    buku tentang potograpy menumpuk,
    majalah tiap bulan menumpuk.
    dan poto kini telah ada sekitar 11 ribu an,
    beberapa diantaranya anak anak kantor yang semuanya perempuan.
    saya kasih hasilnya dalam frame beneran ukuran A3.
    mereka senang, saya juga senang.

    kamera ke 4 saya, nikon D2xs,
    awal bulan lalu saya beli.
    ini mungkin kamera tergila yang pernah saya miliki.
    di laptop kini isinya cuma poto yang sebagian tentang perempuan.
    saat saya ada di kemang jakarta beberapa minggu yang lalu,
    istri saya 5 kali meng-SMS, “jangan sekali memotret wanita (lagi)!. titik!”

    HAH?

    kamera ke 5 saya, grand Nikon D300!
    bukan main nih mesin!,
    saat membawanya pulang ke rumah, istri bertanya, “apa an tuh?”

    “kamera!”,

    HAH?

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    kata ini ada tanda serunya.
    artinya adalah sebagai sebuah pernyataan, bukan sebuah berita.
    ini juga bukan sebuah penyakit yang saya derita, leher menggelembung!

    saya nggondhok!
    intinya, saya kesal.

    jadwal sebulan, saya pepetkan menjadi 2 minggu saja.
    karena tanggal 17 desember nanti, kantor saya tutup akhir tahun. “business” kembali dibuka nanti tanggal 4 januari 2006.
    karuan saja, semua deadline untuk semua proyek ter-pepet” kan menjadi hanya dalam waktu dua minggu.
    ini memang telah menjadi rencana saya. kantor saya tutup lebih awal.
    mustinya tanggal 22 desember, tetapi alangkah baiknya bisa lebih awal.

    liburan tahunan ini menjadi jadwal tetap tahunan. selama ini, kita sudah bak “bandung bondowoso” dalam mengerjakan job. lelah. tetapi kita hepi terus.
    setelah presentasi pekerjaan, biasanya mereka saya ajak untuk dinner atau lunch. bisa juga saya ajak nonton pilem.
    satu kantor!
    dari kepala sampai staff pada taraf “kaki”, semua ikut. ndak hanya ngajak para arsiteknya, tetapi juga saya ajak tukang kebun dan maid serta “hansip”.
    karena mereka ada dalam satu keluarga.
    kalo dihitung, 2 kantor ini mempunyai 100-an designer, terbagi menjadi kelompok arsitek, interior designer, arsitek landskap, grafis designer.
    kalao mereka hanya diberi kerja melulu, otak akan cepat lelah dan wajah kita cepat sekali tua.
    mangkanya, saya terbiasa mengajak mereka untuk “outing”.

    dan sekarang, seminggu lagi, tempat ini ber-istirahat.
    saya mungkin berkebun, mengantar anak ke TK, ngantar istri ke kantor dan mungkin saya di rumah nonton fashion tipi saja seharian.
    senangnya!

    seminggu lalu, “iblis” datang!
    saya musti meeting di ningbo-china, tanggal 18-19 desember nanti.
    ahh!
    saya bilang, bahwa tanggal itu sudah berada di mana kita tutup untuk “holiday”.
    hyatt ningbo, meeting, dan arsitek lanskap yang incharge di kantor saya di kantor bangkok ndak mau untuk “to be attended”.
    proyek ini, 99.9% dikerjakan oleh arsitek saya di bali. beberapa site planning, saya yang meng-handle. jadi setidaknya, saya tahu banyak, tetapi tidak sebanyak rekan yang menggarapnya. saya cuman meng-cek nya.
    sementara si boss, sudah terjadwalkan untuk di beberapa proyek di thailand.
    “maap putu, tolong saya, tolong untuk datang di meeting ini. saya sudah ada jadwal untuk di chiang rai dan chiang mai. setelah itu, saya musti ke hongkong, dari hongkong musti terbang ke melbourne. jadi saya juga mem”postpone” holiday saya”, begitulah kata Babe.

    arsitek hotel hyatt-ningbo, WATG-newyork (?), interior nya HBA california, orang hyatt dari chicago dan klien yang asli china, dan saya yang orang bali, nantinya berkumpul dan bertemu di satu titik : ningbo-china.
    perjalanan ke ningbo, sabtu 17 desember pagi jam 9 memakai singapore airlines “business class”. dan musti nginep semalam dulu di hongkong karena ndak dapat pesawat yang connect ke ningbo hari itu juga. pesawat cuman bisa ditangkap ke-esokan harinya.
    ahh..terbayang sudah rasa lelah!

    terbayang betapa nggondhok seminggu ini.
    nasib!

    o di bali
    dec. 11, 2005

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email