dibaca publik forum AMI dan milis arsitektur ITS, tanggal 6 sept., 2006

di dapat dari perenungan di bawah kolong jembatan tukad badung, dan hasil komunikasi jarak jauh dengan eyang guru vincentcius ratu agung,

seorang senopati datang ke ruang saya, membawa beberapa lembar gambar berisikan gambar pavilion untuk sebuah proyek di atas angin.
kami mengamatinya bersama sama.
dari hasil perenungan di bawah kolong jembatan, saya memberikan “garam” ke gambar itu.
“senopati, mari kita berbicara tentang “pembatas”, ruangan saya ada pembatasnya. pembatas itu secara general dapat kita pilah menjadi 2, yang vertikal kita sebut ia sebagai tembok, yang horisontal kita sebut ia lantai dan ceiling.
bagaimana kita memperlakukan pembatas vertikal dan pembatas horisontal bak ibarat engkau, senopatiku, memperlakukan badanmu.
saat kapan engkau mengenakan legan panjang atau lengan pendek, saat kapan engkau menutupi kepalamu dengan blangkonmu dan saat kapan engkau memakai celana dalammu di barisan terdepan dari pembatas pembatas yang engkau pakai(ingat superman return), adalah ditentukan bagaimana engkau ingin menghadirkan segala “kekuatan” yang ada di diri”, saya berhenti sebentar, dan melepaskan earing i-pod yang masih menempel di telinga.
“lihatlah tembok yang engkau gambar, ke-empat sisinya, tembok yang engkau disain kini telah engkau “sulap” sebagai panel panel pintu folded.
pintu yang engkau buat juga engkau telah reduksi sebagai deretan kayu dan “void” sedemikain sehingga kalau engkau berada di dalam pavilion ini, akan terasa aliran ruang dari luar ke dalam atau sebaliknya. image “open” terbaca dengan jelas.
begitu juga bagaimana engkau memperlakukan pembatas horisontal yang berada di atas, di ceiling, begitu “open” karena engkau ingin memperlihatkan bagaimana kayu kayu itu merangkai sebuah bentuk”.
tapi perlakuan itu tak setimpal dengan apa yang engkau buat untuk pembatas horisontal yang ia kita sebut sebagai ‘lantai”, saya berhenti sebentar.
kening sang senopati agak berkerut.
“maap, mahkluk konyol, ampuni saya yang ndak nyambung ini, buatlah saya semakin mengerti akan kekonyolan anda. ampun beribu ampun, saya ndak nangkap apa yang mahkluk halus maksudken”, sang senopati duduk mendekat.
“pembatas horisontal yang ia kita sebut sebagai lantai, bisa kita mainken untuk mendapat buka-an karena di titik di mana ada bukaan ada “view” di bawah yang bagus untuk di tangkap. ingatlah, hal ini telah banyak engkau lakukan pada bangunan bangunan yang berlantai banyak. engkau selalu akan membuat “void” di lantai dua atau tiga atau empat atau lantai atasnya lagi karena lantai bawahnya memiliki “kekuatan” untuk ditampilkan ke lantai yang berada di atas. konsepnya sama, membawa ruang mengalir!. tapi ada sekian arsitek yang selalu melupaken teori ini kalau ia berhadapan pada bangunan hanya satu lantai. pikiran mereka akan bertanya, buka lantai? emang lihat cacing?….”, saya tertawa terkekeh…
“mahkluk halus yang konyol, saya sekarang mengerti”, sang senopati duduk dengan tenang.
“kalau ada bukaan pada sebuah tembok yang dibuat dan apa yang ia ingin tangkap di luar sana melalui bukaan tadi, kalau ndak ada sesuatu, sang arsitek akan meng-create “sesuatu di ruang luarnya agar bisa dinikmati dari dalam bangunan melalui bukaan tadi di pembatas vertikal.
ingat, ia akan meng-create ruang luarnya! (pake tanda seru) agar bukaan tadi tidak hanya berfungsi sebagai “buka-an” belaka. hal ini bisa kamu buat sebagai alat membaca lantai yang perlakuannya beda dengan bagaimana engkau memperlakukan dua pembatas itu di gambar ini. jadi jangan berpikir, “void” pada lantai hanya bisa dilakukan pada bangunan bertingkat saja. itu namanya arsitek kelas AMI-arsitek muda ingusan!.
tetapi “void” pada lantai juga bisa dilakukan untuk bangunan lantai satu seperti desain kamu ini. tapi ingat, saya ndak mau melihat cacing tanah karena saya sudah punya cacing satu yang bisa besar dan panjang kapan saya mau..hehehekk”, saya terkekeh.
“ampun mahkluk halus yang konyol, terima kasih atas “garam” anda. saya pamit dulu, kepala saya mumet ingin segera memperbaiki dengan membaca pada level sama untuk semua pembatas pembatas itu. matur nuwun”, sang senopati terbang ke purinya.

Popularity: 1% [?]



POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 19 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    sudah 3 hari ini, saya ndak makan pisang goreng.
    makanan camilan paling enak di dunia, mungkin menurut saya, ya pisang goreng.
    ditemui di pinggir jalan di dalam rombong rombong, sampai ke hotel bintang lima.
    setiap hari, pagi dan siang, selalu ‘desert’ dengan pisang goreng.
    ndak lengkap rasanya makan tanpa di sudahi dengan camilan ini.
    atau,
    ndak lengkap rasanya, makan tanpa di dahului dengan melahap pisang goreng.

    terakhir, saya makan pisang goreng, siang senin lalu. mungkin karena cuaca yang kurang baik atau habis makan pisang goreng trus siangnya saya makan nasi goreng.
    terasa sekali ada perubahan mendadak saat saya rasakan sesuatu terjadi di kerongkongan.
    sekali lagi, ini mungkin ada hubungannya atau ndak.
    kerongkongan kemudian terasa sakit saat menelan.
    trus badan ini saya bawa ke pantai jimbaran bersama anak anak untuk makan malam bersama, bersantap seafood bakar di tepi pantai jimbaran yang dulu menjadi “site” teroris untuk di bom!
    tapi,
    disini, ndak ada ‘desert” pisang goreng.
    kerongkongan saya bertambah perih saat menelan sambal khas masakan sini.
    angin berhembus kencang.
    liur yang mustinya keluar dari mulut, kini sudah berani keluar liwat hidung!
    yah….ini tanda saya kena serangan flu!
    sepertinya detak jantung saya bergetar agak pelan.
    saya antar anak anak ke kantor dulu setelah bersantap seafood, terus pulang dan tidur.
    air liur yang datang liwat hidung semakin kencang.
    segelas redoxon dan sebutir ‘neozep’, ndak membuat saya tidur tenang,
    ditambah gigitan setan nyamuk yang beterbangan saking laparnya!.
    busyeet..ndak tahu lagi sakit apa?

    walhasil…flu bertambah parah karena tidur yang tak nyenyak.
    tekanan darah saya ada di 90!
    rendah, biasanya segini kalau sedang berada di bawah.

    hari ini, flu agak baikan,
    sudah seminggu lebih ndak bersetubuh, selain karena kecapekan karena pulang agak malam trus ditembak flu yang datang tiba tiba gara gara makan campuran pisang goreng dan nasi goreng.

    tadi pagi, hendak beli pisang goreng, tetapi ntah kenapa jalan di mana dagang pisang goreng berada, sedang ditutup oleh desa karena ada upacara adat.
    mobil berputar ke jalan lain, ada rombong yang jualan pisang goreng. tetapi rombong ini bukan langganan saya.
    saya berpikir, mungkin bisa minjem motor teman agar bisa melalui jalan di mana pisang goreng langganan saya berada.
    bisikan setan terdengar di telinga kiri untuk bergerak membeli pisang goreng saat saya telah sampai di kantor. ada sederet motor parkir.
    bisikan dokter bergetar, “bapak, jangan makan gorengan dulu ya, dua minggu!”
    kotak biru yang berisi nasi dan lauknya dari istri tak menggoda saya untuk menyantapnya-karena kebiasaan untuk mendahuluinya dengan makan pisang goreng.

    sakau…..

    27 juli, 2006

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 19 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    _dsc0583.jpg

    saya meng-sms adik di suatu sore di hari kamis, manis galungan.
    manis galungan adalah sehari setelah perayaan hari raya galungan, hari raya hindu yang besar di bali. saya baru tiba dari singaraja.
    intinya minta bantuan untuk ikut membantu mengeluarkan mobil yang “stuck” saat saya masuk ke car-port rumah.
    posisi mobil, setengah bodi telah masuk, setengahnya lagi masih di luar.
    keadaanya miring ke arah belakang karena beton penghubung jalan perumahan dengan carport miring tajam.
    roda depannya tenggelam karena jalan perumahan masih berupa tanah urug, belum diaspal oleh developer.
    semakin digas, roda depan semakin mengeruk tanah dan akhirnya bagian bawah pintu-istilahnya rocker (?) mencium bagian atas “jembatan beton penghubung”
    ndak bisa maju, apalagi ke belakang. malah plat rocker manjadi rusak dan pecok cok tergores terbentur dengan badan jembatan.
    berdua berusaha mengeluarkan.
    dongkrak kiri, dongkrak kanan.
    dan,
    memang berakhir dengan sempurna, bisa mengeluarkan si mobil. tetapi cacat di bagian bawah!
    saya pusing!, baru abis hari raya kok dibuat repot.
    besoknya, segera saya “claim” ke asuransi. prosesnya amat sangat gampang dan segera menuju bengkel yang ditunjuk.
    saya tinggalkan mobil di bengkel dan berharap agar cepat selesai.
    saya berjalan ke arah jalan gatot subroto. jalan ini terlentang dari timur ke barat. cukup ramai. menghubungkan terminal bus atau minibus yang dari arah gilimanuk, menuju arah baypass. dari bypass bisa menuju sanur, nusa dua atau ubud. dari bengkel ke jalan gatot subroto cuman 10 menit, atau mungkin kurang.
    saya berhenti tepat di pinggir jalan, maunya menyebrang jalan menuju sebuah pelataran toko yang cukup luas dan agak “shady”, maksud saya biar bisa nunggu taxi dan ndak begitu kepanasan.
    saya lihat di pelataran toko itu, seorang polisi sedang “menilang” sebuah sepeda motor.
    saya menyebrang ke tempat di mana polisi dan “mangsa” nya berada, tetapi berdiri menjauh dari mereka.
    males mendengar.
    kongkalikong ketupat bodong makan kedondong. tinggal sorroongg…
    urusan mereka sepertinya “kelar” di tempat!
    sekali lagi, prosesnya amat sangat cepat dan gampang.

    saya tetap beridiri di posisi semula dan menelpun taxi.
    sepeda motor yang dikemudikan oleh seorang pemuda berumur 27 tahunan dan “pasangannya” meninggalkan sang polisi yang berkaca mata gelap dan berkumis tebal.
    tinggi, helmnya masih menempel di kepala.
    nampak gagah dengan handy talky terselip di bahu, jadi bisa selalu bicara dengan lawannya di sana.
    si pengemudi motor bergerak ke arah saya. sekitar 5 meter dari saya, dia memberhentikan motornya sambil mulutnya mengeluarkan sumpah serapah.
    polisi terdiam, menatap semua kendaraan yang lalu lalang, memperhatikan semua gerak gerik yang mencurigakan sambil tetap mendengarkan suara suara yang datang dari handy talky nya. bom bali 2 baru saja terlewatkan. jadi semua polisi bertugas tepat di posisi masing masing dan selalu siaga.
    tetap siaga, walau ada seorang pengendara mengeluarkan cacian makian setelah ber”negosiasi”.
    istilah kerennya cuek, atau meniru istilahnya gus dur, “githu aja kok repot!”

    si pengendara motor menghampiri saya dan berhenti tepat di sisi saya.
    mulutnya kembali mengeluarkan sumpah serapah.
    “polisi bangsat, brengsek! setan demit!, wong belok sedikit aja di larangan itu kok sudah ditilang. apa ndak bisa dikasi peringatan dulu?. polisi tendas keleng!”
    mereka pun berlalu.
    saya hanya tertawa.

    kini, giliran polisi menghampiri saya.
    “mereka bilang apa pak?” tanya pak polisi gagah
    “ah..ndak tahu pak, mereka ngomong ndak jelas”, saya berusaha menurunkan keadaan.
    “sudah tahu larangan, kenapa musti tetap jalan ke sana. seharusnya saya tadi suruh ke pengadilan saja dan ndak mau menerima uang dari mereka tapi eh.. mereka yang mau seperti ini”, jelasnya kemudian. “kalo saya denger mereka ngomong ndak enak tadi, saya suruh ke pengadilan saja dan mengembalikan uang mereka, gampang kan?, tetapi kenapa marah marah setelahnya?”
    “jadi polisi itu susah”, lanjutnya. ” kita musti nyari uang sendiri untuk menutup “kas” kita”, lanjutnya.
    saya bingung, kas apa?.
    “ada banyak pejabat yang datang ke samsat, mereka menyuruh supir supir mereka datang, atau bawahannya yang datang ke kita. dan mereka biasanya hanya menitipkan surat surat kendaraan nya saja, tanpa ada uang. kalo ndak kita urus kita yang salah, kalo diurus lha..kita membiayai proses samsat mereka dari uang siapa?”
    “terpaksa kita biayai dulu dengan uang sendiri,dari kas sendiri, setelah itu kita berusaha mencari uang untuk menutupnya!” terangnya kemudian.
    saya lebih mengerti kini.
    “hah…! masak ada pejabat seperti itu?”
    “wah…banyak pak!”, pak polisi menjawab dengan seketika. “kita sudah saling bantu, kita perlu, dia yang bantu, saat mereka samsat motor, giliran kita yang bantu”

    kembali ada suara suara dari handy talkynya. pak polisi menjawabnya.
    saya menanti taxi, kok belum nongol.

    inilah kisah hidup bak lingkaran setan!.
    siapa memangsa siapa, ndak jelas. salah siapa? juga ndak tahu ini siapa yang salah?. siapa yang memulai?
    dan ndak tahu kapan lingkaran ini putus!
    bener bener kita berada di dunia ndak jelas??
    mungki musti bersurat kepada setan agar merubah lingkaran setan menjadi lingkaran manusia saja!

    o di bali
    nov. 16, 2005

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 19 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    dua minggu yang lalu,
    saya ke kantor pusat, untuk 3 jam meeting proyek di china.
    di sebelah saya duduk seorang perempuan berjilbab. kita berdua saja yang sepertinya lokal, karena di sekeliling pada berambut pirang dan berdasi. cuman saya yang bersandal jepit. pramugari menyuguhkan saya minuman juice. saya ambil apple juicenya. inilah service penumpang kelas “business”.

    si perempuan berjilbab menyapa saya, “domestik..?” katanya.
    saya bengong beberapa saat. dan agak bingung, maksud pertanyaan nya apa.
    trus dia melanjutkan lagi, “orang lokal ya..?”
    “ya”, jawab saya. “saya orang bali asli. mau ke bangkok ya..?”
    “iya”, jawab perempuan itu. kemudian dia bicara panjang lebar.
    saya tahu kemudian bahwa perempuan ini hendak ke bangkok dan ini merupakan perjalan pertamanya ke luar. “this is my first trip” katanya.

    si perempuan bertanya tentang segala hal. tentang imigrasi, tentang baht, tentang taxi, tentang hotel yang ditujunya.
    saya tanya ngapain dia ke bangkok.
    “training, selama 2 minggu”, katanya lagi.
    saya pikir dia bekerja di perhotelan, tapi kemudian setelah dia menjelaskan dimana dia bekerja, saya melotot..
    “saya dari UNPAD..!”
    “jadi kamu dosen…?” tanya saya. “walaaaahhhh…..!”
    “trus ngapain mau ke bangkok, tapi berangkatnya dari bali..?”
    “ya saya ndak ngerti, karena ticketnya emang disediakan musti berangkat dari bali, jadi ya dari bandung ke bali dulu, sambil jalan jalan lah. khan duitnya gratis..”
    “gratis..?”
    “iya.., gratis, dibiayai oleh swedia!, saya dapat bea siswa untuk hak asasi manusia. saya dosen HI di unpad, baru awal tahun 2004 yang lalu jadi dosen”.
    “eh..boleh nanya, gimana tuh caranya nyari beas siswa seperti itu..?”
    “wah..mas banyak. nyarinya di internet…, musti rajin nyari, rajin mencoba…”
    “trus…kamu rencananya nyari S2 di mana?”,
    “saya masih apply di kanada, jawabannya bulan nopember ini. kalo bisa sih, maunya nyari S2nya di luar saja mas. selain ilmunya lebih, khan dapat pengalaman lain juga toh.., ya…liwat bea siswa kan bisa..”.

    saya inget, tahun 1996, saya mencoba mencari bea siswa ke australia, tapi gagal. sedih..!
    saya salut akan dosen perempuan ini, rajin amat nyari kesempatan untuk kuliah di luar.
    saya ingat dengan teman saya,yang dosen di kampus yang baru saja menyelesaikan S2.
    saya tanya ke dia, kenapa nyari S2 di indonesia, kok ndak ke luar.
    jawabnya, anulah..itulah. dan jawaban yang paling gampang, “formalitas, dosen kan musti S2″, katanya.
    wah….saya takut jadi dosen.

    sehabis makan malam disuguhkan, saatnya menikmati desert.

    pramugari membawakan beberapa buah segar, ada anggur, jeruk, pepaya, semangka. di sebelah buah buahan tadi, ada sederet minuman anggur.
    si pramugari bertanya ke perempaun berjilbab itu, mau desert apa.
    “red wine please”, kata perempuan berjilbab.
    saya agak terkejut, aduh nih perempuan minum anggur juga…? walah…mak..
    si pramugari mengambil gelas dan hendak menuangkan anggur merah. tapi mendadak si perempaun berjilbab tadi bilang..”no..no..no..!, i want this”, sambil tangannya menunjuk buah anggur.
    walah……

    makan anggur ah..,

    ongki, sanur-bali
    Oct. 15, 2004

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 19 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    (tulisan ini me reply posting zenin adrian dan miranti gumayana di milis forum AMI, agustus 30, 2006, setelah sebelumnya saya memposting judul yang sama ke milis tersebut)

    saya bisa makan di warung made kuta, setelah saya mengalami sekian proses, sebuah perjuangan, salah satunya dengan bekerja dulu agar dapat rupiah baru bisa makan di warung tenar itu.
    seorang pemulung yang selalu liwat di depan rumah saya, mengorek ngorek tong sampah mencari plastik bekas agar bisa mengais rupiah juga untuk bisa makan besok.
    bagi kalangan yang mampu, mungkin hal itu ndak akan terjadi, prosesnya malah “dipersingkat”.
    tetapi intinya adalah, kita bekerja dulu, agar bisa menikmati selanjutnya.
    itulah hidup, yang menjadi hukum alam.
    itulah ruang subjek, dimana kita diposisikan sebagai objek yang musti di”kerja”i untuk mendapatkan sesuatu hasil yang diinginkan.
    kalau kita ibaratkan sedang melakukan persetubuhan, prosesnya ndak segampang membalikan tangan, ada sebuah proses (cium, belai, bisikan, menanggalkan baju satu persatu..dst, sampai ke orgasme!)
    saya yakin, semuah mahkluk termasuk anda, pasti mengalaminya bukan?

    selama ini,
    yang terjadi dalam hasil desain adalah ruang telah tertata sedemikain rupa.
    bagus!
    dan kita masuk kedalamnya menikmatinya, berinteraksi, istilah kerennya, kita berinteraksi dengan ruang atau ruang berinteraksi dengan kita. kalau ndak ada interaksi ndak keren! atau kalau ndak nge-drug ndak gaul!
    penikmatan ruang pun berhembus sampai kita bisa yakin bahwa ruang yang kita diami nyaman.
    pada posisi seperti ini, kita berada di posisi “subjek” dan ruang itu berdada di predikat “objek”.

    pernahkah menemukan sebuah ruang yang memaksa kita untuk melakukan sesuatu dulu sebelum bisa menikmatinya?
    ibarat anda datang ke starbuck, memesan coffee late dan membayarnya di kasir tetapi kemudian anda disuruh membuat sendiri kopi yang anda pesan?
    pernahkah menemukan sebuah ruang dining yang hanya berisi meja, dan satu kursi tetapi 3 kursi yang lain berada di tempat lain yang jaraknya ada yang 1m, 2m, dan yang ke 3 berada di meja lain dan anda datang ber-4, ruang yang berukuran 3×3 ini pun akhirnya memaksa anda untuk “bekerja” dulu mengumpulkan 3 meja yang terpencar tadi, agar anda bisa duduk bersama sama dengan rekan rekan anda?

    pada perancangan sebuah ruang interior, fitness centre sebuah hotel di kawasan nusa dua bali, ada sebuah ruang yang disebut “changing room”.
    di dalamnya ada ruang vanity, changing, toilet, shower, steam sauna.
    di vanity, biasanya posisi faucet/keran air langsung ada di atas wash basinnya.
    bagaimana halnya jikalau posisi wash basin berada sekian jengkal dari krannya?
    para tamu musti berpikir dan bekerja dulu agar posisi kran dan wash basinnya berada tepat satu sama lainnya agar ia bisa mencuci tangannya.
    selamat datang di ruang subjek!.
    bahwa hidup musti bekerja, agar kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan!

    salam,
    putu di bali, sedang bekerja agar bisa menjadi arsitek yang lebih dan lebih baik.

    Popularity: 4% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 19 Apr 2008
  • 1 Comment


  • Email

    ini yang ke dua kalinya terjadi..,
    setelah yang pertama beberapa minggu yang lalu, saat terbang ke goa dari bangkok,
    kini terjadi lagi, saat terbang dari bangkok ke danang, vietnam.

    saya set jam di HP untuk berdering pukul enam pagi.
    flight saya ke danang-vietnam ada di sembilan pagi WIB.
    saya tertidur sekitar jam 12 malam lebih sedikit, jadi ada sisa waktu sekitar 5 jam untuk tidur (pulas..?)
    penerbangan DPS-BKK yang 4 jam membuat saya kecapekan.
    dari mulai tertidur sampai jam 6 pagi, ada sekian kali saya terbangun,
    tidur beginian tidak bakalan membuat badan kembali fit.
    malah saya semakin tak bisa tidur saat terbangun kembali pukul enam kurang lima menit.
    selalu begini, mata lebih dulu terjaga dari alarm.
    hari telah terang,
    ada suara suara kecil di luar sana,
    saya lihat 2 rekan yang ikut perjalanan bali-vietnam sedang keliling kebun rumah bill.
    mereka pertama kali ke bangkok dan “keluar”.
    saya bergegas mandi,
    maklum, kota bangkok parahnya bukan main jika dibandingkan dengan jakarta.
    tetapi, sampai saya telah siap berangkat, bill belum menampakkan batang hidungnya.
    saya tenang saja, kalau terlambat, terlambat for ALL!.

    dan begitulah,
    perjalanan dari rumah ke airport swarnabhumi mencretnya bukan main.
    saya pasrah..,
    “driver” sibuk menilpun kantor untuk menyiapakan jadwal terbang dengan jam yang lebih siang, (siapa tahu dapat…?)
    bill menilpun kantor pesawat yang kita pakai terbang ke danang,
    tapi,
    semuanya sepertinya ndak berhasil.
    kami akhirnya nyampe di swarnabhumi pukul 8.30am,
    sedang pesawat terbang pukul 9.00am!,
    beruntung, kita masih bisa check in!,
    dengan satu syarat : kita musti bawa sendiri barang bawaan tas-koper besar besar itu ke gate dan beri ke petugas yang sudah menunggu di situ!.
    saya bawa 3 barang,
    yang pertama koper gede; isinya tripod, reflector, sepatu, pakaian, buku buku, kertas kertas serta gambar.
    yang ke dua, back-pack, isinya kamera plus 5 lensa
    yang ke tiga, tas jingjing, isinya laptop, buku buku bacaan, charger.
    itu semua menggelantung di pundak dan terseret.
    BERAT! abis..
    kami berlari,
    dan berlari ke gate D1 yang jaraknya sekitar 400m,
    anak anak pada meninggalkan saya, mereka membawa bawaan yang lebih ringan.
    badan saya terkekeh menyeret ketiganya.
    napas ter-engah terseok!.
    ah…kenapa musti begini terus…
    “running shoes”, begitu akrab di kuping saat nasib digantung pada jam terbang yang telah fix!.

    kami akhirnya nyampe di gate dan koper berpindah tangan ke petugas.
    bis kemudian menghantar ke pesawat yang cocoknya di sebut sebagai pesawat jet pribadi.
    kecil mungil, mengingatkan saya akan kemungilan pesawat LION.
    pramugari menyambut di bibir pintu, dan memang tak ada kelas BUSINESS.
    mata saya terbelalak melihat kursi kosong pol!
    saat saya hitung, total penumpang ada 8 orang dan kursi semuanya ada 60-70 seats.
    dan dari 8 orang itu, kami ber-4,
    jadi tahu,
    kenapa mereka masih meng-open seats walau saat check in tadi waktu telah menunjukkan pukul 8.35 am!

    salam,
    o-hanoi, Vietnam
    6 april 2007

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 19 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    3 minggu yang lalu, rini bertanya kepada beberapa rekan wanita di kantor.
    “bagaimana caranya tahu kalo kita hamil?”, tanyanya di suatu pagi pada 2 orang wanita yang kebetulan 2 wanita ini sedang hamil besar.
    “kamu bisa beli alatnya di apotek, murah kok”, jawab wanita pertama. “dan gampang!” lanjutnya.
    “emang kamu hamil rin?” tanya wanita ke dua
    “ndak kok, hanya pingin tahu aja”
    mereka pun terlibat pembicaraan seru masalah ini.
    saya hanya mendengarkannya sambil menggambar.

    beberapa hari kemudian, rini memakai baju hamil dipadu dengan blue jin.
    orang orang semakin yakin anak ini sedang hamil, dan semain menggodanya.
    saat saya ada waktu untuk bercakap dengan rini, saya bertanya tentang hamilnya dia.
    “kamu hamil?”
    “ndak, bli putu ngarang!”
    “lha, anak anak bilang kamu sedang banyak bertanya tentang hamil, jangan jangan kamu memang bener hamil!”
    rini ngeloyor pergi.
    saya cari lagi dia.
    saya beri dia tips!
    “rini…”
    “kalo kamu ndak pingin hamil, tanpa memakai kondom, saya beritahu caranya”
    “boleh, apaan?”, rini menghentikan jari jemarinya menari di atas keyboard dan menoleh ke mata saya.
    antusias!
    “kalo liwat mulut dan sampai ketelen ndak bakalan hamil!”
    matanya melotot dan kembali bekerja.
    anak anak lain pada ketawa ngakak.
    seminggu liwat dan hampir 5 hari saya ada di luar kantor.
    saat saya kembali ngantor lagi kemarin, rini datang ke ruang saya untuk asistensi gambar.
    saya heran, bicaranya ndak jelas, dan sayapun bertanya kenapa kok dia bicara sambil menutup mulutnya.
    “kamu kenapa, kok bicara sambil menutup mulut gitu?”
    “saya sariawan!”
    “hah!”

    jadi?

    o di bali
    nov. 12, 2005

    Popularity: 2% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 19 Apr 2008
  • 3 Comments


  • Email

    26 nov. 2004
    lotus cafe, sheraton sanya, hainan-china. 7.00pm

    sebenernya saya mau makan malam di kamar saja. baru mau
    mesen makan malam, temen saya Oh, lanskap arsitek dari
    kantor bangkok menelpon saya.
    intinya ia menyuruh saya turun dan bergabung dengan nya
    yang sedang makan malam di lotus cafe, dibawah lobbyhotel
    sheraton sanya. dia bilang, ada puluhan miss world sedang
    makan malam di cafe tersebut.

    puluhan poster miss world terpampang di kota ini. saya
    baca dari airport sampai ke hotel sheraton ini. saya
    pikir, acaranya masih lama. tetapi saya salah!
    final miss world yang ke 54 akan digelar tanggal 4
    desember ini. dan mereka, para miss world sudah check in
    di hotel!

    busyet!
    inilah wanita pilihan yang hampir sempurna!
    tadi pagi saya sudah mencak mencak, kayaknya saya ndak
    bisa melihat satupun miss world di hotel ini, karena sudah
    harus nengok site dan pulang pasti agak malam.
    tetapi nasib berkata lain. malam ini di depan saya
    berseliweran puluhan wanita yang berpredikat “miss world”,
    antre mengambil makanan di samping saya.
    busyet!…

    letih nengok site sepanjang hari ini, terhapus dengan
    kemolekan wanita cantik yang datang dari penjuru dunia…

    saat ini saya berpikir, amat bersyukur menjadi arsitek,
    yang bisa melihat dari dekat para miss world miss world
    itu….

    saya ndak kepingin terkenal seperti para wanita wanita
    itu…
    cuman bersyukur, profesi saya menghantarkan saya bisa
    melihat dari deket kejadian dunia itu…

    para wanita itu, telah hilang dari pandangan kini.
    saya musti kembali ke kamar.
    besok perjalanan yang amat melelahkan :
    sanya-hongkong-singapore-denpasar ( empat negara dalam
    sehari..)

    ongki-arsitek
    sheraton sanya, hainan, china

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 19 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    (dibaca oleh publik milis arsitektur ITS, 30 mei 2007)

    namanya ngurah,
    tepatnya dia anak bali yang berkasta “gusti”,
    purinya ada di sukasada, singaraja. 2 jam perjalanan mobil dari denpasar ke arah utara bali.
    kami kenal saat kami ada kerjaan di ubud.
    saat itu, dia kontraktor, kami designer.
    rumahnya ada di sekitar batu bulan.
    luas.
    ada mercy tua nangkring.
    anaknya gemuk gemuk, mungkin ada 3 saat itu, saya lupa.
    istrinya dari jawa, seorang dokter gigi!.
    lengkap.

    saya sempat diundang ke rumahnya yang luas.
    memberi masukan bagaimana seharusnya rumahnya, he…
    karena dia bertanya, maka saya pun memberikan ide.
    dari facade tembok pagarnya, kemudian jalan masuknya, kemudian taman tamannya,
    sampai teras.
    waktu itu, kami ngobrol bak sahabat dekat yang lama tak jumpa.
    selesai proyek di ubud.
    saya tak mendengar suaranya lagi,
    ntah kerja di mana dia sekarang.
    seingat saya, sekian tahun saya di sanur,
    hanya sekali saya “nyambi” kerja untuk diri sendiri dengan “upah” di luar jam kantor,
    ya karena dia yang menawarkan ada seorang bule sedang membangun villa di jimbaran sana.
    hanya sekali, itu saja.
    cukup!.
    itupun karena saya sedang “crushed” dengan bos.
    otak saya saat itu sedang ndak bagus posisinya.

    beberapa tahun yang lalu,
    dia menilpun saya.
    menawarkan pekerjaan lagi.
    saya menjawabnya dengan santai dan canda.
    “ntar dah, sehabis saya datang dari luar”.
    dia terus menunggu.

    dia datang lagi dengan pekerjaan lain, hotel lagi.
    kembali saya ada di luar lagi.
    seorang rekan lain langsung datang ke sanur, “sempet gambarin hotel rekan saya?”.
    “wah?”,

    saya ndak tahu,
    apakah ini stupid atau apa.
    “maap, saya tak akan memberikan desain di luar”, saya berkata dalam hati. “bukannya sombong atau telah tak kekurangan uang, tapi saya tak ingin rakus dan membohongi kantor sanur serta bos saya yang ndak tahu sedang di mana. juga saya tak mau dibohongi”, hati kecil saya kembali berujar pelan.
    dan mulut berkata ke mereka, “ya, nanti saya akan kesana lihat sitenya, tapi minggu ini saya ada di luar. abis dari sana saya hubungi kamu lagi”.
    antara hati dan mulut sudah ndak sinkron.
    mungkin saya perlu memeriksakan diri ke ahli jiwa atau ke dokter ahli syaraf karena saya selalu berpikir mungkin ada syaraf yang putus beberapa(?)

    minggu lalu,
    ngurah menilpun saya lagi,
    “tu ada spa di ubud yang mau direnopasi, saya sodorkan contoh alam bina yang pernah saya garap ke dia, dan dia amat sangat tertarik. kapan kamu bisa lihat site?”,
    “aku selalu membawa namamu kemana mana”, katanya lagi.
    “wah, besok saya ada di india, 5 hari. saya tilpun kamu setelah saya ada di bali, OK?”,

    say my name, say my name, say my stupid name….

    ongki-arsitek stupid!

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 19 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    (ini terjadi di 13 mei 2007)

    kemarin malam,
    seseorang datang ke komputer saya.
    dan bertanya tentang konsultan A yang ada di bali.
    kami bercakap.
    dia ada di jepang, sedang belajar, dan saya ada di Goa india, sedang ber-arsitektur.
    “maap pak putu, boleh saya tahu bagaimana pendapat bapak tentang konsultan A?”,
    “konsultan A itu anak lanskap asli, ndak pernah buat BUILDING, ndak pernah buat INTERIOR”,
    “wah, saya mau berarsitektur”,
    “lha, sampeyan meng-artikan arsitektur itu apa an?”
    “hum…”

    ini sudah ke sekian kali, ada yang berujar seperti itu.
    mungkin, ibarat sejarah, bahwa G30S PKI itu, ceritanya “musti” begitu!

    saya melanjutkan,
    “boleh saya tahu, yang disebut kue itu yang mana?”,
    “apa nagasari?, apa burger? atau tart?”,
    “kalau kamu mau “berkendara”, apa musti naik supra? atau jazz? atau mercedes?”
    “lha, semuanya “berkendara”,
    “semuanya “kue” toh?”,

    saya menerangkan arsitektur ke mas yang di jepang agak simple dan mudah;
    “kalau kamu bermain di tempat tidur, yang terpenting bukan “size!”,
    saya melanjutkan,
    “yang menjadi thema utama kemudian adalah “creativity” dan “cordination”,
    “?”, dia bertanya, agak bingung sambil mengirimkan wajah baby yahoo tertawa.
    saya melanjutkan,
    “kantor kecil, kantor besar, kerjaan building, kerjaan kebun, atau interior, bukan kemudian menjadi yang utama dalam berarsitektur”,
    “tetapi adalah keativitas kita. kemudian kordinasi teknik kita membuat detail”,
    “pendetailan sebuah perkawinan/persetubuhan material atau apapun dalam detail, intinya cuman dua; mereka itu sejenis (homosex, lesbi, atau hubungan pendetailan tak sejenis (hetero SEX)”
    ” HA HA HA”, si mas di jepang tertawa lebar.

    gitu aja kok repot!,

    salam dari jauh,
    ongki di goa india

    Popularity: 5% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 19 Apr 2008
  • 1 Comment


  • Email