saya menerima sms dari sahabat,
“ulasanku tentang kolam renang ada di jawa pos hari ini”, begitu kira kira bunyinya.
saya berlari keluar, mencari office boy dan menyuruhnya membeli.
namun, berita itu tak ada di jawa pos.
koran ini yang beredar di bali, mengalami “penyunatan” halaman, jadi berita kolam renang dari sahabat ndak bisa dibaca.
ntah yang diomongin kolam renang apa.
tapi saya salut!

beberapa hari yang lalu,
kembali sahabat mengirimkan smsnya,
“ulasanku tentang tangga dan ramp, kini ada di jawa pos.
mumpung saya ada di jalan, saya berhenti di warung koran,
membeli jawa pos, biar tahu, ulasan tentang ramp dan tangga dari sahabat dekat,
siapa tahu, saya bisa menambah Elmu darinya.
tapi,
lagi lagi saya sial.
jawa pos memang tak memberikan halaman yang sama banyak, sama seperti saat ia beredar di surabaya.
saya mendongkol. dan mengiriminya sms.
“saya rugi 3500 perak”, send!

lagi lagi saya balas sms sahabat saya itu,
“ulasan tentang karir saya, dibahas di majalah indonesia design, edisi maret 2007″, begitu kira kira bunyinya
saya kirimkan lagi sms ke sahabat itu,
“kalau cuman dibaca di surabaya doang, kapan bisa jadi orang TOP?”, send.

jauh beberapa bulan yang lalu,
saya baca di milis kami ini, peluncuran sebuah buku,
terus beberapa minggu yang lalu, berita open house buku itu kembali di gelar,
sayang, saya tak bisa datang,
kemudian,
tentang, ulasan buku itu di kompas.
hmmmm…
nikmatnya

setahun yang lalu,
kami mendisain sebuah pulau di singapore,
ada sebuah pulau lagi yang jaraknya cuman lima belas menit jalan kaki dari pulau yang kami disain,
tapi pulau ini di didisain oleh rekan kami di bangkok.
beda pendekatan, beda pemikiran,
beda tamatan dia s2 urban planning harvard, sementara saya s1 arsitek ITS, s2 landscape architect di JALANAN, interior desainer DI JALANAN!)
saat kami mempresentasikan pulau yang kami rancang, klien berujar, “desain ini jauh lebih baik dari pulau yang pertama!”.
saya agak kikuk, untungnya arsitek untuk pulau itu ndak ada di prsentasi kami ini. walau kita satu kantor, tapi ucapan itu cukup membuat saya sedikit terhibur.
beberapa minggu yang lalu,
saya ada di singapore untuk pulau ini.
dan juga untuk pulau yang satunya lagi, dan arsiteknya ada di situ. kami bertemu di pulau yang ia desain.
alammmmaaaaaaakkkkk…….desainnya ttttooopppppp cer abieeessszzzzz!
saya jadi berpikir, saya musti bisa berada di atasnya kembali, maklum, klien telah berujar DULU.
saya musti “merapatkan barisan!
kami benar benar DIADU!
tapi saya salut, saya bilang disainya buagus pol!, dia tersenyum.
dan saya menunggu hasil konstruksi desain yang saya buat di pulau sebelah.

malam ini,
saya baru nyampe di bangkok,
saya ajak 2 rekan,
mobil jemputan saya belok an ke kantor, maksudnya untuk memperkenalkan dunia kantor bangkok ke 2 rekan ini,
beberapa artworks yang dipakai untuk 4 seasons di china, mengusik mata saya.
top abis!
saya menebak, tentunya anak havard ini lagi yang berkarya, garisnya sama, garisnya amat saya kenal.
dan memang benar.
hmmm….

kompetisi,
kadang membuat kita merasa terbawah,
tapi,
kalau kita bisa membuat diri kita berada di posisi yang benar,
kompetisi akan membuat hidup semakin nikmat….

salam,
o-bangkokian

Popularity: 1% [?]



POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 1 Comment


  • Email

    (diskusi yang dipancing oleh mas pranoto di milis arsitektur ITS, 11 agustus, 2007)

    Bli Putu,

    Saya pancing sampeyan untuk misuh lagi.

    Siapa tahu pisuhan sampeyan mengagetkan resi Josef dari nikmatnya mendengar suara perkutut Jawa.
    Mbah Petungan sudah resmi memeluk agama arsitektur Jawa, sebagai agama tidak resmi beliau.

    Arsitektur Jawa jelas jelas adalah nilai warisan yang tidak boleh berlalu begitu saja, sehingga jangan seperti suara knalpot Bajaj.

    Maka, si mbah merelakan dirinya memeluk erat erat Arsitektur Jawa sambil berusaha menularkan virus luhur bin adiluhung.

    Baiklah.

    Saya ingin memenggal segala pondasi bangunan budaya yang seolah sebuah nilai waris tanpa gugat.

    Persis seperti para makelar tanah yang tiba tiba bilang, bahwa hak tanah Kemang Village gugur dengan sendirinya,

    Karena pewaris asli adalah mbah Jambrong yang dapat surat dari Kompeni pada masa Sultan Agung menyerang.

    Jadi, si makelar nggugat bukan lagi pemerintah DKI, BPN, atau bahkan bukan pemerintah RI, tapi nariknya mulai dari jaman kumpeni.
    Dimana sumber kapak gugat saya ?,

    Di kepala kita dan di memori.
    Analog dengan komputer, para memori yang menduduki kehormatan untuk duduk di BIOS, adalah yang pertama memerintah bagaimana selanjutnya si komputer bekerja.

    Dialah yang menentukan, kedudukan memori memori selanjutnya, mau berapa giga pun diatasnya, tetaplah si BIOS dibaca duluan sama si komputer.

    Dalam ilmu jaringan NGN (Next Generation Networks), merekalah yang nangkring di Core Network, dan beroleh ke agungan mahkota 3GCN.

    Saat inisiasi Core Network, maka segala perilaku maupun urut urutan pemuatan menurut saja logika yang di susun oleh mas BIOS yang nangkring di low level.
    Hari ini saya mau nakal dan mengaduk ngaduk memori yang tidak tampak di depan layar komputer.

    Supaya ndak muter muter, langsung saya tarik ke permukaan yang tampak di layar.
    Kalau nyebut Delhi, saya koq cenderung meng identifikasi kan dengan taksi Fiat kuno 1100, Bajaj pakai CNG dengan argo dan Kingfisher.

    Sama sekali bukan Taj Mahal, mungkin kompleks Nizamuddin lebih India saat malam hari.

    Apalagi saat sang bajaj meliuk liuk cari solusi….
    Kenangan saya mengenai Yogya masa lalu, ya huruf huruf iklan yang tersusun indah dan tipografi nya menarik, Malioboro, suara pedagang yang khas di Bering Harjo,teater Gandrik dan tentu saja bahasa sampakan.

    Kehadiran Borobudur dan Prambanan, tidak serta merta membuat ada hubungan dengan kota Yogya dalam memori saya.

    Ini benar: ada teman saya kalau ditanya dulu, kemana tujuan utamanya kalau ke Yogya, maka, dia bilang ke Bering Harjo.

    Belanja apa?,

    Ndak belanja apa apa, Cuma mau nawar dan dari sana bisa ngobrol sama pedagang, mendengar dialek Yogya dan di selingi minum dawet.

    Nah, kalau udah gitu, itu baru namanya ke Yogya….

    Logika begini, benar benar merusak kaidah landmark suatu kota.

    Kenangan tentang Jakarta, mungkin sudah bukan Monas lagi,

    Orang akan teriak: Ya, saya di Jakarta !,
    Kenafa ? Karena tiba tiba terhambat macet di jalan bebas hambatan.

    Banyak yang curiga kalau Zouk di Singapore mulai jadi landmark melebih patung Merlion,
    Grand Bazaar Istanbul lebih kuat meninggalkan gores memori daripada Hagia Sophia,
    Petronas Tower jelas sudah menggeser aneka peninggalan lama KL.
    Kalau saya mah, jelas nasi kandar Pelita adalah landmark nya KL.
    Dan landmark nya Comal jelas kepiting Prima.
    Kadang sang landmark tidak melulu berupa bangunan keren, bisa juga sekedar stasiun kereta macam subway Moskow yang begitu khas.
    Artinya, ada tawuran di kepala untuk adu kuat siapa yang memberi kesan lebih dan layak menjadi bagian dari label suatu daerah.

    Kita tahu kalau kita di Bangalore, karena begitu banyak orang seliweran pakai tas laptop dan pakai jaket Comverse, TechMahindra, Microsoft dll.

    Kita tahu, bahwa kita di Saudi, kalau lihat plafon toko kelontong selalu bertaburan lampu neon,

    Kita tahu, bahwa ini pasti Gaza, bukan dari Piramida, tapi dari angkot VW Combi putih tanpa pintu yang berkeliaran,

    Kita tahu, bahwa ini Isfahan, bukan dari reaktor nuklirnya, tapi dari Peugeot 405 yang berkeliaran dimana mana,

    Kita tahu, bahwa kita mendekati Damaskus, saat terbangun dan melihat bus bus diseberang sana jalan dengan kap mesin yang sengaja dibuka,

    Dan jangan lupa, para schumacher gagal yaitu para sopir Suzuki pick up yang ngebut menembus gang gang selebar 2 meter di Aleppo,
    Apa ini sama dengan fenomena orang yang lebih suka duduk di tangga, meski sudah di sediakan kursi ?,

    Gimana nih Bli ?,

    Salam ndak bisa tidur, Jakarta 11 agustus,

    Pranoto

    putu menjawab :

    “Kadang sang landmark tidak melulu berupa bangunan keren, bisa juga sekedar stasiun kereta macam subway Moskow yang begitu khas
    Artinya, ada tawuran di kepala untuk adu kuat siapa yang memberi kesan lebih dan layak menjadi bagian dari label suatu daerah…Salam ndak bisa tidur, Jakarta 11 agustus, pranoto, aug., 11, 2007 di ars-its@yahoogroups.com ”

    mas pranoto,
    di luar sana,
    ada lahan yang yang diberi label “golkar”, “demokrat”,
    ada juga yang diberi nama “PDI P”, ada juga “landmark” yang baru saja dibentuk.

    nah,
    pertanyaan sampeyan tak kembalikan lagi ke sampeyan tapi tak plitir sedikit:
    yang menjadikan semua “label” diatas menjadi satu satunya “landmark”, siapa sih?
    apa gus dur?
    apa SBY?
    apa mbah jombrang?

    kalau tahun lalu, label “demokrat” menjadi landmark, saya tak yakin “label” ini akan tetap menjadi landmark,
    kenapa?

    di arsitektur, perubahan adalah “wajib”.
    “grow up” adalah hal yang mutlak!

    semoga senin yang indah,
    salam dari bilik dosa,

    o

    rekan andi me reply ;

    Walah ini sama saja dengan pertanyaan atau pernyataan
    :
    Pengen tau si anu agamanya apa ?
    Jawabannya bisa aja :
    1. Lihat aja di KTP-nya, islam, kristen, katolik,
    budha ato hindu.
    2. Lihat aja kelakuan ibadahnya, kalo sering ke mesjid
    ya islam, kalo sering ke gereja ya pasti nasrani, kalo
    sering ke pura ya pasti hindu.
    Tapi yang jelas engga pernah dibahas adalah kualitas
    akhlak si anu…

    Lha kalo arsitektur menjadi agama tidak resmi, yg jadi
    pertanyaan adalah tuhannya siapa, siapa nabinya dan
    kitab sucinya apa ? Kata Bli Putu Ongki bahwa di
    arsitektur, perubahan adalah “wajib” dan “grow up”
    adalah hal yang mutlak! Maka kitabnya bisa
    berubah-ubah dan mengalami perkembangan… Walah
    umatnya bisa kacau eker-ekeran….

    Arsitektur boleh men-jawa atau men-padang atau
    men-irian, tapi yg pasti sekarang gebyok kamar
    dijadikan muka rumah, sentongnya malah ilang, apalagi
    pendopo. Sudah salah kedaden. Masak tamu tidak lagi
    masuk pendopo, tapi langsung masuk kamar ??? Apa yg
    mau disuguhkan ??? Teh, kopi atau malah susu jaran
    goyang ??? Uedan wenak tenan…

    Nah kalo ‘penjaga’dunia arsitektur aja suka mengacak2
    pakemnya sendiri, kira2 bangga engga kita jadi arsitek
    ?

    putu menjawab rekan andi :

    Walah ini sama saja dengan pertanyaan atau pernyataan

    ongki : terkadang memang begitu. kenapa musti pertanyaan dijawab oleh sebuah jawaban?
    hidup kok terlalu gampang. apakah ndak boleh pertanyaan kemudian dijawab dengan pertanyaan?. apakah kasus seperti ini tidak ada di publik?,
    saya menyelipkan “kreativitas” pemikiran si penanya agar kemudian otaknya bermain main.
    saya ingat beberapa pilem pilem menerapkan ending yang melibatkan penonton untuk berpikir kemudian “bagaimana akhirnya?” sebuah pilem yang digarap. the inggredible, contohnya.
    diskusi akan berlanjut, dan berlanjut, karena ada “orgasme terputus” di sana.
    pada kasus studio kami di sanur, kalau saya menemukan gambar yang digarap salah, saya hanya bilang, “mas, gambar kamu salah!”.
    dan dia akan bertanya, “salahnya di mana pak?”.
    “mbuh, kamu saja yang nyari, saya akan ke mejamu 30 menit lagi, tolong temukan!”.

    :
    Pengen tau si anu agamanya apa ?
    Jawabannya bisa aja :
    1. Lihat aja di KTP-nya, islam, kristen, katolik,
    budha ato hindu.

    ongki : ini sudah OOT, tapi okelah, melenceng sedikit. cobalah datang ke tengger di bromo sana. orang di KTPnya beragama NIKON, tapi realitasnya dia beragama CANON, kenapa? jawabannya simple, “ikut arus!, kalau ndak, mereka tidak dapat fasilitas hidup!.
    apa yang ter”ketik” di kertas, belum tentu begitu adanya.
    kemarin saya terbang dengan business class garuda. pramugari datang ke meja saya membawa sebotol aqua dan akan menuangkan aqua ke gelas saya yang kebetulan isinya sudah setengah. saya stop dia dan bilang, “bu..ini sprite!”

    2. Lihat aja kelakuan ibadahnya, kalo sering ke mesjid
    ya islam, kalo sering ke gereja ya pasti nasrani, kalo
    sering ke pura ya pasti hindu.

    ongki : ini sudah melenceng dari rel kita.
    kata “agama” yang dimaksud pada posting pertama mas pranoto, pengertiannya lain dengan kata “agama” yang sampeyan bahas di point ini.

    Tapi yang jelas engga pernah dibahas adalah kualitas
    akhlak si anu…

    ongki : yang beginian mah, diserahkan ke masing masing person. kenapa musti dibahas?, sepertinya NTE tak kenal lagu “manusia setengah dewa” nya iwan fals yang saya nyanyikan kemarin lalu.
    budek kali ya…

    sekali lagi, bahasan ini telah melenceng dari rel.
    seharusnya kita bisa duduk sama tinggi dan berdiri sama rendah memaknai “agama” yang dilontarkan.

    Lha kalo arsitektur menjadi agama tidak resmi, yg jadi
    pertanyaan adalah tuhannya siapa, siapa nabinya dan
    kitab sucinya apa ?

    ongki : profesi saya arsitek. tertulis di KTP. saya memaknai arsitektur bukan sebagai pembahasan tentang building. lebih dari itu. saya dapat dari persetubuhan saya selama ini dengan arsitektur. di otak saya, dalam arsitektur, tuhannya adalah alam ini. kalau sudah berbicara dengan alam, kita tak akan lepas dari DIA yang ada di tiap mahkluk.
    dari kaca mata makna arsitektur ini, kalau mau lebih spesipik, tidak ada beda antara tuhan agama A, tuhan agama B dengan siapa tuhan nya “ARSITEKTUR”.
    lha..kemudian kalau ada pertanyaan, siapa tuhannya anjing? sama?
    kalau kemudian ada pendapat beda, misalnya dari sampeyan.. ya itu wajar.

    Kata Bli Putu Ongki bahwa di
    arsitektur, perubahan adalah “wajib” dan “grow up”
    adalah hal yang mutlak!

    ongki : hidup itu selalu berubah. lihat saja kejadian tiap hari disekeliling anda. ini kalau kita melihat arsitektur dari kaca mata yang saya sebut di atas.
    kalau dulu dalam arsitektur ada “arsitektur tradisional”, lha jaman kan kini telah berubah. arsitektur tradisional kini mungkin telah berada di tumpukan yang paling bawah, walau sesekali timbul tenggelam dipakai sebagai style.
    “tubuh” kan selalu “grow up”. lha mana ada orang buat rumah cuman berhenti di tahap pondasi. stop terus tak berkembang?
    mana ada pohon jambu stop berkembang pada tahap akar doang?
    mana ada gambar stop berkembang pada setitik garis saja?
    mana ada hari cuman di isi oleh senin aja trus berhenti?

    saya sulit men-judge pola pikir sampeyan…
    ya karena kita membahasnya dari tempat yang berbeda.

    Maka kitabnya bisa
    berubah-ubah dan mengalami perkembangan… Walah
    umatnya bisa kacau eker-ekeran….

    ongki : dalam pemikiran saya, arsitektur yang saya pegang berkitab “jangan merusak alam. hiduplah dengan cinta melalui arsitektur. di arsitektur. di alam ini.
    jalan ke arah ini, buanyak!. itu yang selalu berubah. karena apa? karena proses “kreativitas”. saya percaya, arsitektur, alam ini, dicipta melalui proses “kreativitas”.

    Arsitektur boleh men-jawa atau men-padang atau
    men-irian, tapi yg pasti sekarang gebyok kamar
    dijadikan muka rumah, sentongnya malah ilang, apalagi
    pendopo. Sudah salah kedaden. Masak tamu tidak lagi
    masuk pendopo, tapi langsung masuk kamar ??? Apa yg
    mau disuguhkan ??? Teh, kopi atau malah susu jaran
    goyang ??? Uedan wenak tenan…

    ongki: dalam hidup, dalam arsitektur, di alam ini, dikenal istilah “fashion-able”.
    fashion-able, telah dikenal sejak jama “awal” hidup.
    fashion, tak hanya ada di mahkluk yang disebut manusia, wong anjing saja mengerti apa itu “fashion”. anjing saya 5, semuanya musti ke salon tiap 2 minggu. biar cakep gituh lohh..
    dalam “fashion”, adalah sah jika saya kemudian membuat meja yang kakinya ke atas, menerobos paham gravitasi.
    kenapa, itulah kreativitas.
    tubuh saya yang berKTP bali, apa salah kalau sewaktu waktu berbaju ala padang?
    musti ada pemahaman yang mendalam dalam mengertikan : “kulit” – “tubuh” dan “isi”.

    Nah kalo ‘penjaga’ dunia arsitektur aja suka mengacak2
    pakemnya sendiri, kira2 bangga engga kita jadi arsitek
    ?

    ongki : saya bangga menjadi arsitek. saya bangga akan guru guru saya, kampus saya, rekan rekan se almamater. mereka selalu ada di samping saya saat saya menggambar. guru heroik saya tetap DIA yang terbesar. kalau DIA telah mendisain seAPIK INI, kanapa sang murid musti mengacak acaknya?
    mana ada guru mengajari musidnya untuk merusak arsitektur.
    justru saya musti ikut membuatnya semakin bagus. arsitektur, di dalamnya ada sebuah pembelajaran bagaimana menghormati alam, merawatnya dan mendevelopnya agar semakin baik. termasuk mendidik otak otak berpikiran semrawut kayak kang andi
    he he he..

    buat mas pranoto,
    sampeyan telah puas dengan jawaban saya?

    salam dari bilik DOSA,
    o

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    _dsc0393.jpg

    ada beberapa yang saya temui baru kali ini.
    ntah siapa mereka, saya tak ambil pusing.
    mungkin konsultan konsultan yang baru gabung di proyek ini.
    saya tetap menyibukkan diri untuk mempersiapkan gambar.

    orang orang yang baru kali ini saya temui, nampak sedang membagi bagikan kartu nama mereka.
    akhirnya sampai ke muka saya.
    dua kartu nama nyantol di tangan saya;
    david chislett, FCSI
    pricipal

    joey hsu
    director of marketing-asia

    keduanya dari kantor yang sama, umurnya 40 tahunan kali,

    kemudian datang lagi seseorang, lawrence d. lee, IALD-principal

    saya pun memberikan kartu nama,
    beruntung di kartu nama saya tertulis, putu mahendra-managing director!
    ha ha..

    begitulah,
    jangan pernah keder terhadap lawan main,
    sekalipun kita baru tamat sd,
    saya selalu berpesan di studio, bahwa unjuk gigi itu perlu saat ada sekian kekuatan yang telah mewarnai latarbelakang gerak kita.
    walau sekolah kita tak mengenal gerakan kita,
    setidaknya mereka diluar telah tahu..

    salam winter,
    o A65
    jan9, 2007

    Popularity: 2% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    saya penggemar berat buah durian. terutama durian bangkok.
    saya perkenalkan buah durian ke anak pertama saya saat dia berumur 2 tahun. ia memakan satu biji.
    adiknya, juga penggemar buah durian.
    kami sekeluarga penggemar berat buah ini.
    dari jarak sekilo, mungkin baunya udah tercium.
    menyengat!
    kami menanam buah durian bangkok di desa.
    kebetulan ada ladang secuil.

    bulan desember lalu, ada arsitek kami yang berhenti dari sanur.
    Namanya mas X.
    setelah dia melewati “masa pubertas”, saya tanya ke dia, apakah ia akan melanjutkan disini atau pergi mencari peluang lain.
    karena peluangnya masih ada buat dia untuk melanjutkan ke tahap berikutnya.
    kenapa musti saya tanya?
    jam kerja kita amat gila.
    super gila!
    saya ndak mau dia menjadi gila karena ndak punya jam pribadi barang sejenak buat nonton tipi misalnya.
    saya ndak mau ia kerja tertekan.
    tidak ada happines.
    dia menjawab saat itu, dia mau berhenti bulan desember nanti. karena akan melanjutkan studi ke belanda.
    mengambil urban planning, katanya.
    saya senang ada dari kita akan studi lagi.
    saya merelakan dia meninggalkan kami di desember itu saat kami tutup kantor untuk libur tahunan.
    kami beri dia bonus dan surat referensi kerja, walau baru 5 bulan. saya ingin dia happy diluar sana.
    saya ingin dia menjadi student urban planning kelak dan bekerja ditempat yang lebih baik dari studio kami.
    saya ingin dia kelak punya jam jam yang tak ketat seperti kita di sanur.
    saya berharap dia “menjadi” kelak.

    hari ini, teman saya datang ke ruang saya.
    “tu, tadi babe nilpun. dia nanya si “x”, katanya dia melamar kerja di singapore dan membawa gambar gambar kita. babe ditilpun tan hock beng. tapi si “x” ini ndak ngelamar di studionya hock beng, ntah di mana gitu di singapore, mungkin tempat di mana si “x”ini melamar kerja-ngontak hock beng dan kemudian hock beng kontak babe!”.

    saya tertegun.
    katanya meneruskan studinya, kenapa sekarang ada berita begini?.
    trus dia membawa gambar gambar kita yang sedang hot hotnya dikonstruksi di singapore.
    hitungan detik, kabar pasti akan tersiar sampai ke bangkok dan bali.

    dia ndak tahu, gambar gambar itu dan tanda tangan saya di referensi kerjanya bak buah durian,
    namanya juga buah durian……
    baunya menyengat!

    ongki-petani durian yang sukses

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    ada sekitar 5 kerjaan di singapore.

    dulu, ke singapore cuman transit doang,
    kala ke china, berhenti beberapa menit di singapore
    jadi pingin tahu, singapore kotanya kayak apa an ya?
    kata orang, dilarang buang rokok di sembarang tempat,
    dilarang berludah di publik area (beda banget ama di china!)
    dan dilarang ini itu lainnya,
    kalau ndak, denda!

    “hidup di singapore musti selalu kerja”, chuah bilang ke saya.
    “walau saat kamu tua sekalipun!”.
    busyet!

    aturan main dalam mendisain,
    di singapore ribet ala makkkkkk banget.
    kuping ini sampe merah saat tahu gambar musti di revisi, revisi dan revisi..gara gara rules.

    benar benar designed is FUCKED BY THE RULES!
    semboyannya gus dur kayaknya ndak berlaku di sini
    “gituh ajah kok rehpot…..”

    sementara saya,
    dihari yang sudah pagi ini,
    masih saja di FUCKED BY THE INTERNET

    tidur ah,
    lupaKEN dulu gambar,

    ongki-sing

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 1 Comment


  • Email

    (diskusi di milis arsitektur ITS, june 7, 2006)

    kalau tukang, mereka bekerja sesuai dengan perintah apa yang diinginkan klien. tukang tidak menciptakan sesuatu yang baru.
    saya selama ini, selalu mencipta, selalu yang baru dan memberikan pengaruhnya kepada si pemakai. beda tukang dengan arsitek di situ.
    saya tahu, mungkin sampeyan ndak pernah berada diproses tersebut selama ini.

    singa menjadi tikus atau gajah, maksud saya adalah tamatan arsitek yang dirubah pasar karena keadaan. atau juga tamatan lain yang kemudian berkerja tidak dibidangnya. mereka bisa menjadi jagoan dibidang baru tersebut atau hanya blowing with the wind..

    architecture refer to ando, is the box that provokes,
    architecture refer to putu, is the body itself, your body, the body where you live.

    adik raja ubud hanya menjadi arsitek buat propertynya sendiri. tidak ada klien lain selain dirinya menggunakan dia sebagai arsitek.

    arsitek sejati, apapun maunya dia dan terlaksana tanpa reaksi penolakan secuilpun, yang saya tahu cuman bisa dilakukan oleh tuhan.
    he he..
    sudah hampir 12 tahun saya berkarya, memberikan konsep ide yang murni dari kita, akan selalu bersebrangan dengan klien.
    kita berangkat bersama sama menuju apa yang kita inginkan.
    tidak bisa frontal musti sejalan.

    pasar melirik, lebih karena hasil kerja, bukan nama (dulu). kalau hasil kerja kita bagus maka dengan sendirinya nama kita akan banyak dihirup..

    romo mangun, arsitek kaya. tapi bukan di materi. namanya kaya bukan karena dia kaya akan karya. karyanya cuman secuil tetapi monumental.
    saya kaya, tetapi bukan di uang. pengalaman saya seabreg melebihi pengalaman guru saya (kali). maka saya pantas bilang bahwa menjadi arsitek bisa kaya (bukan uang), setidaknya air kencing sudah membekas di mana mana (walau tak selebar cak pranoto)

    bagi mereka yang berprofesi arsitek fresh dan nyantol di sini,
    saya berpesan,
    untuk menjadi arsitek yang mapan, mungkin susah kalau dengan berjalan sendiri, berpraktek sendiri.
    saran saya, sampeyan musti bisa nyantol di firm arsitek yang bernyali, plus, sampeyan musti bisa berkerja pada tempat ini paling sedikit 10 tahun lamanya, agar sampeyan mengerti akan arah mana yang dituju dan menemukan jati diri.
    kalau melihat arsitek super star di indonesia, djuhara (eks PAI) sonny (eks DCM), irianto (eks PAI), yori (dengan hans awal), andra martin (eks hadiprana), mereka habisakan waktunya bergulat dengan firm besar sebelum menjadi posisi sekarang.

    kalau hanya mengandalkan gerak sendiri, takutnya sampeyan menjadi anggota dari “orang orang protes”, bahwa ternyata “hanya menjadi lonte ternyata yang bisa kaya”.

    o

    On 6/7/06, Joe <athayadutasarana@telkom.net> wrote:

    Untuk memeriahkan “perseteruan” kali ini ,saya coba lempar sesuatu yang agak kontroversial.

    Kalau melihat pembicaraan2 sebelum ini saya mendapat pemikiran bahwa ada sesuatu yang missing yang mengakibatkan pendapat yang gak ketemu , dan lalu semuanya menjadi SALAH nampaknya. sehingga sampai saat inipun tidak ada jawaban yang memuaskan saya , tentang kepastian seseorang boleh – tidak boleh menyebut dirinya REAL ARSITEK (jawaban semua orang adalah arsitek sama sekali tidak memuaskan saya ), kenapa demikian ? , karena menurut saya ujung dari kedua kubu jawaban sebelum ini akhirnya merujuk pada suatu hasil bahwa kita semua sebenarnya adalah TUKANG belaka , bukan ARSITEK , baik yang bekerja dibidang arsitektur ataupun menyerempet2 itu.

    Saya coba saring beberapa pointers penting,
    pertama : suatu pendapat seorang real arsitek tidaklah singa yang menjadi tikus , yang diartikan dialah yang seyogyanya menjadi penentu kebaikan tentang satu obyek arsitektur itu.
    kedua : tidak ada garapan arsitektur maka orang tidak bisa jadi arsitek tentu saja, yang ada hanya menggambar di kertas
    ketiga : pendapat bahwa seorang real arsiteker adalah “the box that provokes” (terus terang saya kepingin membacanya , dimana?)

    Semua itu nampaknya berujung pada satu-satunya kesamaan yang hampir pasti benar yaitu ” the Project” , sehingga kalau seseorang ingin bisa disebut menjadi REAL ARSITEK , benar-benar yang tanpa ada intrusion dan halangan ,murni dari siapapun tentang karya itu , maka dia harus menjadi “OWNER” of the projet , really own the “BOX ” , bagaimana caranya? tentunya dia harus “kaya ” dulu , baik KAYA secara materiil dan menjadi Donald Trumps misalnya atau paling tidak seperti adik nya raja UBUD ;) , atau KAYA “NAMA” , sehingga the owner pasrah bongkokan , gak pake tanya macam2. wis opo jaremu (sesuatu hal mustahil , bukan?), Untuk jadi kaya secara materiil , gak usah dijelasin , untuk bisa Kaya Nama , maka prosesnya macam2 , get the trust supaya pasar “ngeh” dengan karyamu bukan semudah membalik telapak tangan , you harus jadi tukang dulu dari paling bawah dan manut apa kata bowheer,get his trust, membuatnya terlena ,dan lama2 pasrah (itu kalau proyeknya terus berlanjut) atau “promote beyond your actuals” ke publik istilah kerennya MArk UPs , atau hitchiking with the pro’s sehingga lama-lama you sendiri cepat dikenal. Semua cara adalah SAH

    Intinya dia lah yang memiliki “project” itu (big and small) baik secara Actual ataupun Literal , sehingga tidak ada rintangan segi “apapun” juga untuk mewujudkan apa-apa yang dianggapnya “baik” , itulah “Arsitek” sejati yang sesungguhnya menurut saya, diluar itu semua maka adalah “tukang” belaka saja belum pantas menamakan diri Arsitek.

    JAdi pernyataan ” Arsitek bisa juga jadi Kaya” adalah sebuah kekeliruan , yang benar adalah ” loe harus jadi kaya dulu untuk bisa jadi arsitek” :)))))

    Nah lo

    Joe A20

    Popularity: 2% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    taxi saya berhenti tepat di komplek “henderson industrial park” singapore.
    ada sekian blok building di kawasan ini, dan kantornya berada di blok 219, di lantai 2-7.
    ho weng kong, singaporean, yang mungkin telah berumur 70 tahunan. ntahlah.
    rambutnya telah putih dan badannya agak sedikit bungkuk. keriput di wajahnya menandakan dirinya telah banyak mengecap sekian proses kehidupan.

    dia menyalami saya sembari meraih satu dari bawaan saya. tetapi saya menepisnya. tak masalah saya bawa sendiri, saya menerangkan. kami tertawa dan ngobrol menuju kantornya.
    ntahlah, kalau berhadapan dengan orang orang berumur lanjut, saya ingin selalu akrab. mengingatkan saya akan kakek saya dulu.
    dia bercerita panjang lebar tentang maket yang dia buat untuk proyek kami di sentosa cove. orang orang telah menunggu saya di ruangannya.
    dia menyuruh saya menaruh bawaan saya di ruangannya dan menghantarkan saya selanjutnya betemu dengan team.

    di sana ada orang klien dan ada dua arsiteknya untuk proyek ini. mereka mengelilingi maket pulau yang kami garap. di ruangan yang lumayan besar ini, ada juga orang orangnya ho weng kong sedang merakit maket. amat sangat detail. pekerjaan beginian mengharuskan orang yang menggarap amat sabar dan memahami bahasa gambar. dan ho weng kong telah melakukan pekerjaan ini sekian puluh tahun lamanya.
    “saya tamat arsitek”, begitu dia bercerita. “tetapi saya lebih memilih menjadi pembuat maket ketimbang menjadi arsitek. dari sini kemudian saya belajar banyak tentang arsitektur dan arsitek. membaca gambar plan, mustinya seorang arsitek telah juga dapat mengimajinasikan 3 dimensinya. saya selalu menerapkan hal itu. saat saya menerima gambar plan, saya telah tahu bagaimana bila ia di 3 dimensikan!”, ia menerangkan ke kami.

    ada sekian pertanyaan yang dilontarkan ke saya tentang detail yang kami buat. saya menerangkannya agar ia nantinya mengerti tentang segala yang kami inginkan. orang orang pada masih mengelilingi maket yang belum selesai 100%. pada maket pulau yang berisi 29 unit rumah tinggal berkelas amat mewah, yang di arsitek-i oleh 2 arsitek singapore, nampak jelas bagaimana arsitek 1 dengan arsitek ke 2 memperlihatkan taringnya sendiri sendiri. warna atap genteng yang tak menyatu dengan yang lainnya. arsitek 1 memakai warna genteng coklat gelap, arsitek ke 2 memakai warna coklat agal muda.
    “kenapa kita musti memakai warna atap berbeda dalam satu kawasan?”, saya bertanya kepada dua arsitek itu.
    “tak tahu, saya ingin seperti itu”, arsitek 1
    “ha ha, bos saya ingin warna itu”, arsitek 2
    “apakah kalian ingin menunjukan bahwa kalian adalah orang orang kuat?”
    kami tertawa berbarengan.

    ho weng kong, saat dia menjemput saya, menerangkan bagaimana susahnya membuat warna atap senada. ia selalu ingin agar warnanya sama diantara 2 arsitek yang ia hadapi.
    tetapi, ho weng kong, kali ini berhadapan dengan arsitek yang tidak mau mengalah satu sama lainnya.
    jadi beitulah, kawasan itu berwarna poleng!. satunya amat gelap, yang lainnya agak muda.

    ho weng kong, mengajak kami melihat sebuah maket yang telah dipamerkan beberapa waktu yang lalu. sebuah proyek yang akan terbangun di singapore. tepatnya di keppel bay, dekat dengan sentosa cove.
    kami bergegas menuju lantai 7, tetapi di bliok gedung yang lainnya.

    saat pertama saya lihat maket yang dia ingin kami lihat, saya telah mengenal siapa desainernya.
    adalah daniel libeskind.
    saya membaca proyeknya di singapore ini, ntah di majalah, ntah di koran koran. tak disangka, ho weng kong, juga yang membuat maket nya daniel.
    saya mengamatinya dari dekat. terdiri dari beberapa tower yang pipih dan melengkung ke atas seperti bungkuk udang dan ada rangka rangka di ujubg tower yang difungsikan sebagai kebun.
    permainan acak site plannya begitu kontras dengan tata ruang tetangganya. ini proyek apartemen dan beberapa villa.
    inilah proyek daniel libeskind yang bertema “reflection at keppel bay, singapore.
    ho weng kong, menjelaskan bagaimana ia membaca gambar gambar daniel yang miring ke sana ke mari. ia hanya diberi plan, dan 2 tampak. selebihnya ia dan anak buahnya berusaha mengertikan gambar daniel dengan 3 dimensi bantuan komputer. skala maket 1:400, tetapi ho weng kong mendetail manusia amat sangat bagusnya!.
    ho weng kong, selalu ingin belajar dan belajar bagaimana caranya apa yang ia buat mendekati hasil nyata. dia selalu mempush anak anaknya untuk menghasilkan sesuatu yang amat sangat detail. di situ dia merasa kebahagian dalam bekerja saat ia berhasil mewujudkannya.
    dia menjelaskan, bagaimana ia menghadiri rapat di NY sekedar ingin tahu apa yang daniel inginkan pada proyeknya ini.
    saya pikir, ho weng kong, seorang pekerja yang tahu betul bagaimana caranya menghasilkan sebuah produk yang layak.
    sebuah produk yang ia tahu betul tiap detailnya.
    sebuah produk yang berani ia pertanggung-jawabkan ke layak annya untuk tiap klien. untuk tiap konsumen.

    tak seperti produk kita yang berCAP ADAM AIR!.

    salam,
    o-A65
    jan. 16, 2007

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    Suatu hari di waktu itu…

    sejak 3 minggu yang lalu, saya berada di posisi tawar menawar salary dengan PROJECT ARCHITECT dari konsultan ternama, XXX di jakarta.
    sebutlah namanya si “anjing”, yang kemudian saya tahu ia pertama kali mengirim CVnya ke “kepala” di, studio kami, bukan ke “leher”.
    “kepala” mengirimkan reply dari email si “anjing” dan meng -CC ke “leher”.
    saya terima banyak email yang applicantnya langsung meng-apply ke “kepala”.
    hal yang lumrah.
    “kepala” menyuruh si anjing langsung berhubungan dengan si “leher”.
    dan saya bilang ke si anjing, bahwa saya tak tahu apa dengan keahliannya dan alangkah bagusnya kalau saya bisa melihat hasil karyanya.

    Kantor XXX, dibawah dibawah mr. YYY, saya kenal nama ini sekitar 9 tahun yang lalu saat kami mengerjakan 4 season regent residence jakarta.
    kami mengerjakan kebunnya, dan YYY mengerjakan interiornya.

    begitulah, si anjing kemudian mengirimkan sekitar sepuluh handfree drawingsnya ke saya.
    bagus!
    mungkin telah terbiasa gambar dengan tangan.
    si anjing tamat di perguruan di bandung.
    pada tahap yang agak private saya tanya salarynya saat bersama YYY.
    dia menyebut angka 12.
    hidup di jakarta dengan posisi sebagai project arsitek, angka 12 mungkin cukup reasonable (kali?)
    saya down ke level 8, dan si aning bergerak turun ke level 10, kata dia, istrinya sedang hamil, jadi mohon pertimbangannya, lanjutnya.
    dia bilang salarynya ada di level 10, plus plus, mangkanya dapatnya 12, lanjutnya.
    saya push dia untuk menerima 8 selama 3-4 bulan, kemudian kalau dia membuat saya hepi, saya bilang akan memberi tambahan kenaikan lagi.
    dia menerimanya agak berat, dan berjanji akan “confirm” selang waktu 15 hari karena musti bicara untuk “pamit” ke YYY.
    dan berharap jika dia bisa berbicara langsung masalah salary langsung ke “kepala”.
    “monggo mas,” saya menjawabnya dengan hepi. “tapi, percayalah, akan bounced ke saya lagi. studio ini kalau saya mau miring ke kiri akan miring ke kiri, kalau saya mau miring ke kanan, akan miring ke kanan. tapi anda bisa coba, siapa tahu sukses. dan selama ini tak ada yang sukses!”

    saya berbicara kemudian dengan “kepala” tentang keadaan ini.
    beberapa hari kemudian, si anjing mengirimkan news terbarunya.
    “pak putu, ternyata mr. bensley mengirim email ke YYY, dan kemudian YYY memanggil saya dan mengintrogasi saya”, kata si anjing.
    “selanjutnya, YYY menaikkan gaji saya ke 14, karena saya tetap ingin ke studio anda, mohon kebijaksanaan pak putu untuk menaikkan, paling tidak sama dengan salary yang akan diberi YYY”, si anjing melanjutkan.

    saya tak menjawab.
    saya berbicara dengan “kepala”,
    “did you contact tom?, he raised his salary to 14, now what?
    “kepala” menjawab, “i spoke with YYY, he said his salary is 5 ++, and i dont want to hire a liar!”.
    the case is totaly closed and i hate a liar!

    saya menjawab email si anjing, saya bilang dia lebih baik bekerja tetap dengan YYY.
    tapi dia berusaha untuk calm down dengan menerima salary pertama yang saya beri, dan tak menerima 14 dari YYY.
    ini sungguh aneh, tapi saya tahu dia seorang a pure liar man.
    saya jawab, kesempatannya telah hangus, tanpa saya bongkar kebohongannya.

    itu makanya, di tulisan terdepan, saya beri nama dia si ANJING!

    o-pencinta anjing ras!

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    jumat kemarin, saya di jakarta.
    presentasi proyek yang ada di nusa dua, yang punya orang lokal indonesia yang tenar.
    teman datang membawa sisa gambar yang belum sempet terprint kemarinnya.
    tapi dia bilang, “maap bli putu, ada lima site section lagi yang belum terprint”
    “busyet, lu kalau saya tinggal bisa kerja komplit sih..?”, jantung saya berdetak mulai agak keras. tapi berusaha tenang, saya tahu mereka telah berusaha.
    “tapi, semuanya kita print di A3 dan ada di CD”
    saya puter CD di komputer, tapi ndak tahu, tuh komputer hang, kebesaran file kali?
    anyway,
    pesentasi berjalan dengan amat sangat sukses, walau ada secuil revisi, biasalah.
    kejadian ini mengingatkan saat kita presentasi gambar di srilanka, yang belum terprint ada sekitar 6-7 gambar, dan termasuk MASTER PLAN.

    saya pulang ke bali jumat malem, dang langsung taxi menuju kantor, waktu telah menunjukkan jam 9 liwat malem.
    anak anak masih pada kerja, ada sekian tumpukan kertas yang telah terprint.
    inilah kantor sesuibuk airport new york?

    sabtu pagi, saya datang ke kantor jam 7 an. ada segeletak body kecapaian tidur di teras depan dan teras belakang.
    sisanya, sibuk ngeprint berseliweran dan ada juga yang ngatur kertas yang telah diprint, bersiap di bendel.
    sekali lagi, “maap, ndak semua bisa terprint, tapi sudah terangkum di CD” , kata job’s captain.
    he he…

    dari bali ke singapore, SQ butuh waktu 2. jam, dari singapore trus ke guangzhou, 4 jam. meeting untuk proyek ini ada di kota ningbo.
    tapi apa daya, pesawat yang dari guangzhou menuju ningbo via shanghai, delay sekitar lebih dari 1 jam.
    mendarat di shanghai, jam 10 malem sementara pesawat saya yang ke shanghai berangkat jam 10 malem juga,
    “BUSYET, AKU TETINGGAL LAGI!”
    otak mumet, tepatnya mumet di daerah diantara dua mata, ndak pusing, tapi mumet.
    saya ndak tahu musti bagaimana, karena kalaopun besok nyampe di ningbo, musti pergi ke mana, rapat di mana? tilpun siapa?
    saya berusaha datang ke konter chek in, siapa tahu tuh pesawat delay juga, tapi mereka bilang,” ah..lu bung, gimana sih, pesawat sudah terbang.., besok saja”.
    hm……..
    bandara hongqiao shanghai, saya tinggalkan, taxi menuju grand hyatt shanghai, yang berada di jinmao tower, gedung tertinggi di shanghai.
    dari sini bisa lihat the great sungai huang pu dan oriental tv tower yang bentuknya lucu..


    saya pingin cepat pulang,
    main sama 2 babies dan 5 anjing..
    dan bertemu anak anak di kantor and say, “thanks for all, for all the greats!”

    salam,
    o
    gis, thanks atas hiburan sms nya selama mumet di perjalanan ini.
    16 juli 2006

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    ada dua rekan yang menikah baru baru ini,
    mereka sedang “indrayen”
    mesin mereka sedang galak galaknya!

    kemarin siang saya ada di airport hongkong,
    berputar putar dan melihat sekeliling.
    ada satu rekan yang saya ajak ke hongkong.
    ia sibuk juga mencari sesuatu buat oleh oleh.
    saya biarkan ia berkeliaran sendiri.
    saya selalu sempatkan untuk menengok toko buku di airport ini.
    toko buku mengungkap sekian cerita dari sekian orang.

    dan selalu meluangkan waktu untuk sekedar melihat majalah “playboy”,
    cuman di airport hongkong, saya bisa melirik playboy, dan cuman di toko buku di thailand yang bisa membeli dengan bebas majalah penthouse.

    tapi akhirnya saya males juga membeli,
    isinya cuman begituan doang,
    ndak ada beda.

    buku tentang “SEX”, amat sangat terbuka dijual di toko buku ini.
    kembali saya mencari buku tentang “kama sutra”
    ada satu yang menurut saya bagus.
    saya membelinya,
    kali ini buat saya sendiri,
    kali ini untuk dipajang di meja kerja saya.
    karena, sebelumnya, saya membeli sekian buku “kama sutra”, saya hadiahkan buat mereka yang baru saja menikah.

    hari ini,
    saya di kantor,
    saya membuka beberapa lembar “kama sutra”,
    dan kemudian saya bergegas ke ruang “sperms”, sambil menenteng “kama sutra”,
    saya berikan ke seorang wanita muda yang baru saja menikah,
    “ini kama sutra, kamu boleh pinjem, tapi ingat, ini musti kembali ke saya suatu saat nanti”, saya taruh kama sutra di atas keyboardnya dan saya berlalu.
    si wanita muda yang baru saja menikah, tersenyum malu.
    saya tinggalkan dia sendirian yang tangannya mulai gatal untuk membuka kama sutra.

    30 menit kemudian,
    mesin absensi berbunyi, “jegleg..”
    saya melirik keluar siapa yang meninggalkan kantor,
    si wanita muda yang baru saja menikah telah berada di parkiran, men-starter motornya dan berlalu meninggalkan kantor.
    kama sutra bersembunyi di balik tas nya yang kecil.

    saya senang,
    jika apa yang saya buat bisa membuat orang lain juga senang.

    salam dari jauh,
    O-A 65
    oct. 25, 2006

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email