(di launcing pertama kali tanggal 8 augustus, 2007 di milis arsitektur ITS)

seseorang meng-sms saya saat saya berada di jakarta 17 juli 2008 yang lalu,
“bli, bagaimana caranya mendisain ala ……..? sekarang saya sedang meng-otak atik proyek ……..”

saya balas, “gambarlah dengan hati dan cinta, lupakan teori!, lupakan KIBLAT”.
send.

seseorang yang saya interview beberapa minggu yang lalu,
bertanya saat interview berakhir, “buku apa yang musti saya baca, agar bisa mengerti arsitektur ?”
“bacalah kamasutra!”
ia tertawa.
ntah maksud dari tawanya itu apa an.
saya jadi ikutan tertawa.
he..
kami tertawa lepas.
dunia pun ikut tertawa.
di luar sana, SBY sedang dipermasalahkan oleh exs anggota DPR,
mungkin hanya beliau yang ndak bisa tertawa saat kami tertawa….

ingat beberapa tahun yang lalu, saat memberikan kuliah tamu di kampus tersayang, seorang dosen yang duduk di kursi belakang melemparkan pertanyaan ke saya, “saat posisi anda telah seperti ini, di mana posisi kampus akan keberhasilan anda?”.

pertanyaan ini mungkin setimpal dengan,
“seberapa besar pengaruh orang tua anda dalam kehidupan anda sekarang ini?”..
atau,
“seberapa besar pengaruh yang anda dapat dari teman teman, sahabat, musuh, tetangga, dalam keberhasilan yang telah anda dapatkan sekarang ini?”

jawaban untuk semua pertanyaan diatas, mungkin saja begini,
“anda pernah onani? seberapa jauh pengaruhnya terhadap kehidupan sexual anda sekarang ini?”…
hmmm…

ada sekian ragam arsitektur di luar sana.
dari kandang kuda sampai taj mahal.
dari hantu berkepala naga sampai cut nyak dien,
dari rumah kardus sampai istana bertahta emasnya sultan brunei,
membawa saya ke pernyataannya louis khan ;
“of all things, i honour beginnings.
i believe, though, that what was has always been,
what is has always been,
and what will be has always been”.

menjadi arsitek,(atau profesi lainnya, termasuk sebagai LONTE!)
prosesnya sama dengan tumbuh kembang tubuh,
lahir, menyusui, merangkak, berdiri, berjalan, berlari, akil balik 17 tahunan, 30 tahunan, 40 tahunan dengan gejala perselingkuhan……., dan MATI.

pada kala remaja,
ada keinginan untuk “seperti menjadi si A”, atau “si B”, atau, katakanlah, “seperti bapak KU”.
mengingatkan saya saat saya berada di toko kamera JPC kemang senin lalu,
saat ada seorang anak umur 20 tahunan belanja lensa dan segala macam dengan menyeret ibunya datang ke toko itu.
“orang orang yang masih menyusui…”, begitu pikir saya.
dan wajar, itulah proses.
(dulu juga saya ajak bapak ke toko sepeda…minta dibelikan satu sepeda)

“ah..saya ingin seperti p josep”….,
sekarang, setelah sekian tahun meng-arsitek,
pikiran itu telah sirna, dan menjelma menjadi :
“saya ingin menjadi diri saya sendiri”

mendisain,
ntah mendisain rumah kardus, mendisain masa depan, mendisain style persetubuhan dengan pasangan anda (hmm….),
atau,
mendisain bentuk tubuh ? (apalagi mendisain bentuk panyudara!)
tak bisa lepas dari pertanyaan “apa itu disain?”
pertanyaan itu mungkin setimpal dengan “apa itu rumah kardus?”, atau “apa itu masa depan?”, atau “apa itu style persetubuhan?”,
atau “apa itu panyudara?”

atau kalau di milis ini, pertanyaannya adalah “apa itu arsitektur?”

ah…lu kok segitu amat sih…!

Popularity: 1% [?]



POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    (dilauncing pertama kali tanggal 8 april, 2008 ke milis arsitektur ITS, renovasi kata dilakukan beberapa )

    jaraknya cuman 30 menit dari hotel mulia senayan.
    airport soekarno hatta pagi itu begitu dekat.
    saya berangkat jam 4.30am.
    pagi masih gelap. tapi deru mesin sudah bergema di luar hotel mulia.
    lain dengan siang kemarin yang membuat saya stuck 3 jam di daerah mall ciputra, dan akhirnya berhasil keluar tol untuk (akhirnya!) memutuskan menginap saja ketimbang berjam jam tergolek di tol tanpa tahu nasib yang jelas.

    starbucks di airport soekarno hatta, dekat gate F,
    pagi itu begitu ramainya.
    seperti biasa, saya memesan coffee latte, medium size dan 3 pentol sandwich.
    sarapan pagi, yang menurut saya begitu mewah.
    maklum, saya orang udik yang begitu terbelalak dengan kehidupan jakarta.
    selama ini cuman menghabiskan hidup di kampung dimana listrik adalah sebuah kemewahan!.

    senin kemarin, saya berada di jakarta demi visa india yang mereka telah tolak buat saya.
    visa tourist yang selama ini saya pakai untuk “business” di mumbai dan daerah lainnya di india.
    “saya pikir, anda terlalu sering ke india dengan visa tourist, saya pikir anda bukan seorang tourist, sepertinya anda punya business besar di india yang membuat anda pergi ke india demikian seringnya”, kata mereka menjelaskan kenapa visa india saya mereka tolak 2 minggu yang lalu.
    akhirnya saya datang ke kedutaan india, demi sebuah visa, demi sebuah meeting dengan klien.
    ngurusnya cuman secuil menit dengan sedikit wawancara yang tak berbelit.
    uang empat ratus tujuh puluh dua ribu, untuk sebuah visa business.
    setelah urusan di embassy beres, pemandangan jalanan kota jakarta terasa begitu mengerikan.

    kembali saya menapaki jalanan jakarta yang berwarna darah! dimana mobil, sepeda dan angkot bercampur dengan harapan manusia kecil untuk bisa makan 3 kali sehari.

    starbucks airport soekarno hatta bertambah ramai.
    coffee latte saya tinggal setengah.
    manusia manusia sibuk sepagi ini begitu banyak berlalu lalang.
    berlari, bercakap, atau sekedar melihat beberapa barang yang dipajang di toko toko yang telah buka.

    arsitektur ini begitu kompleknya.
    membawa pikiran saya akan tulisan stephen hawking.
    tentang perjalanan waktu.
    tentang kelahiran waktu.
    akan kemana arah yang di bawa sang waktu untuk arsitektur yang semakin tua ini.
    keteraturan atau chaos?

    starbucks airport soekarno hatta semakin ramai.
    seiring bertambahnya abang waktu menerangi arsitektur dengan sinar lampu matahari.
    sampai suatu saat nanti, starbucks airport soekano hatta berhenti sejenak, juga sekali lagi nantinya oleh sang waktu.
    beristirahat sejenak, seperti saat saya tidur beberapa jam di hotel mulia kemarin malam,
    demi harapan dan penerbangan selanjutnya.
    melayani manusia manusia lalu lalang di jalanan tepian kota arsitektur yang semakin kompleks ini.

    ada yang tahu, ke mana arah alam ini membawa kita semua?

    arsitektur itu sendiri telah memberikan jawabannya.

    salam dari jakarta yang bermata merah karena melek terus,
    o

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    dsc_0120.JPG

    hari minggu yang lalu,
    saya sekeluarga menjadi supporter pertandingan mewarnai buat anak perempuan saya yang baru lima setengah tahun.’
    timezone matahari denpasar, menyelenggarakan acara itu.
    kami berempat berangkat, dengan perlengkapan seadanya, sama seperti perlengkapan yang biasanya dipakai untuk menggambar dan mewarnai di rumah.
    sesampai di timezone matahari, si priyah, anak saya, kembali musti daftar ulang.

    setengah jam kemudian, pertandigan pun dimulai,
    anak saya duduk di nomor 27, berada di tengah tengah anak anak yang lain,
    pesertanya hampir empat puluh kepala, lumayan.
    para orang tua, duduk menyampingi barisan anak anak,
    walau panitya menyuruh agar para orang tua duduk menjauh dan membiarkan anak anaknya berlomba dengan tanpa hasutan dan tekanan dari masing masing orang tua.
    saya duduk menjauh, saya percaya, priyah bisa survive!.

    saya memesan mie goreng, karena memang belum makan pagi.
    mira dan bhumi mainan di time zone.
    anak anak memulai mewarnai selembaran yang dikasih panitya.
    saya keluarkan ipod, dan mendengarkan lagunya kapten, “misi canggih” lagu pertama mereka di album itu.
    suaranya menghentak!.

    ada beberapa anak yang datang terlambat dan segera duduk agak di belakang.
    saya melahap mie goreng, dan mira datang bersama bhumi.
    mereka melihat priyah yang sedang asyik menggambar.
    orang tua lain pada banyak yang mendekat ke arah di mana anaknya berada.
    anak anak itu, seperti mendapat semangat hidup.
    para orang tua, kini tampak memulai menjadikan dirinya “guide” bagi anak anak itu,
    memberikan “dikte” terhadap warna apa yang musti dipakai,
    memberikan perintah terhadap apa yang musti dilakukan,
    tentang apa yang musti ditambahkan dalam gambar tersebut.
    mira menghampiri saya, dan mencoba mencicipi mie goreng yang di piring saya.
    para rang tua sibuk memberikan “order”!

    saya mendekat ke barisan anak anak tadi,
    priyah sudah hampir selesai,
    warnanya belepotan, ada sekian bagian yang keluar dari garis dan bentuk badut yang tergambar di lembar itu.
    tapi, itulah anak anak.
    priyah bertanya, “pak, musti apa lagi, sudah hampir selesai”,
    “tambah awan”, saya berucap sesuka hati saja,
    priyah pun menggambar awan di sana sini, dan mewarnai awan awan itu,
    saya berlalu dan kembali duduk.
    nampak si priyah celinguk celinguk,
    saya kembali mendekat,
    “pak, sudah ada awan, selesai?”,
    “tambah bunga, tambah matahari, tambah pesawat terbang, tambah rumahnya badut”,
    kembali priyah menggambar, tangannya mulai kotor oleh crayon crayonnya.
    orang tua yang berdiri di samping saya, tetap sibuk mendikte anak nya;
    “pake warna merah sekarang, yang di ujung itu”, kata mereka,
    “topinya warna hitam, sekarang!”, kata orang tua yang lain,
    “tuh, yang disudut kiri, pake warna merah, yang cepat gambarnya”, yang lain pada membantu anaknya,
    saya kembali meninggalkan priyah yang kini mulai suibuk menambahkan gambar gambarnya.
    saya duduk, sambil melihat deretan orang tua tadi yang sibuk meng-guidi anaknya.

    priyah mengangkat gambarnya sambil melihat saya.
    tuh kertas telah penuh dengan warna dan tambahan objek.
    busyet!.
    saya suruh priyah memberikan ke panitya.
    anak anak lain pada sibuk mengambar.
    tampak seorang anak menangis sambil tetap mewarnai dan orang tuanya tetap memberikan semangat untuk tetap berlomba.
    si anak membasuh air matanya yang deras mengalir.
    ntah apa yang terjadi?

    tapi, ternyata guide meng guide anak, biar begini biar begitu, ndak cuman terjadi pada lomba ini,
    diluar sana, alamak, banyaknya bukan main,
    coba kalau ndak mau bertindak seperti apa yang orang tua mau, mungkinkah kita kena skak mati?

    masih ingat di kepala, di masa kuliah dulu,
    sekian mahasiswa menjadikan kepala dan otaknya sebagai kepanjangan tangan dari otak dan pikiran dosen,
    kejadian tersebut di atas di lomba mewarnai tadi, mengingatkan saya akan masa kuliah dulu.

    masa lalu,
    yang tak harus juga terjadi pada anak anak lain,

    “?”
    ongki
    5 agustus, 2006

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    biasanya selalu ada teman yang menemani.
    “capek”, katanya. saya merindukan habitat yang dulu pernah ada..
    kamar grand hyatt bundaran HI yang besar tampak semakin besar karena sendiri.
    lalu lalang kendaraan di bundaran HI tak mampu membuat ramai.
    saya hanya menghabiskan malam dengan tidur, berharap hari cepat berganti.
    ini perjalanan keluar saya yang pertama di tahun 2007, singgah semalam di jakarta, untuk kemudian esok harinya terbang ke hongkong dan lanjut ke ningbo-china.
    jadwal penerbangan dari bali menuju hongkong atau china begitu jelek. kadang saya bisa terbang langsung dari bali ke hongkong, kadang musti singgah semalam dulu di jakarta agar bisa menagkap pesawat ke hongkong.
    ntah..

    saya baca buku yang membuat heboh jakarta beberapa tahun yang lalu.
    “jakarta, the undercover”,
    busyet,kehidupan jakarta yang cukup menggiurkan!
    mata kian redup, dan lelap kemudian.

    taksi silver bird menghantarkan saya di senin pagi ke soekarno hatta. melihat keramaian yang mulai merangkak, kesibukan orang di pinggir jalan, sungguh suasana yang tak pernah mati menghuni jakarta.
    ntah jam berapa jakarta mulai ramai lagi?,
    anak anak pastilah pada mulai bangun tidur, sementara saya telah berada di taksi lagi.
    kesibukan masyarakat kota, ntah ada apa dibalik itu semua.
    sedikit telah saya baca di buku itu.
    hm..manusia..
    di dunia ini,
    hanya ada dua yang bisa merubah otak manusia.
    yang pertama adalah uang,
    yang ke dua adalah SEX!
    itu telah ada sejak alam ini tercipta.

    kru cathai pacific di konter soekarno hatta sudah amat mengenal wajah saya. kami berbincang panjang tentang kegiatan yang saya lakukan.
    saya tinggalkan mereka dan kemudian menghabiskan jam tunggu pesawat di starbuck.
    acara yang selalu saya lakukan.
    saya tak meminum kopi, selain starbuck!

    meeting kali ini agak berbeda.
    kami akan mempresentasikan gambar interior dari indoor pool park hyatt ningbo.
    seharusnya, acara beginian musti bersama bos besar.
    karena saya ndak pernah melakukannya sendiri. rasa percaya diri saya kurang kalau melakukan presentasi konsep sendiri.
    karena yang saya hadapi adalah klien, interior desainer dari san fransisco, orang hyatt dari hongkong dan beijing, kitchen designer dari shanghai, lighting desainer dari hongkong dan seattle.
    mereka pada orang orang ber-umur semua.
    sedang, saya baru seumur jagung.
    di antara para desainer itu, saya yang paling muda!
    agak sedikit keder, walau acara presentasi begini selalu saya ikuti bersama bos besar. prosesi bagaimana caranya mempresentasikan sudah tahu benar. tetapi kalau melakukannya sendiri, walah…!
    tapi, itulah, meeting kali ini agak beda.
    menggelar gambar presentasi sendiri.
    biasanya kalau pergi sendiri cuman membahas gambar konstruksi.
    tapi ini memang beda. ini yang pertama kali saya lakukan.

    dari hongkong ke ningbo ditempuh hampir 2 jam
    saya mendarat jam 8 malam.
    bercelana jean dan kaos oblong yang saya bungkus lagi dengan jaket kaldero hitam. sementara kaki bersandal jepit tetapi saya bungkus dengan kaos kaki agar dingin tak masuk dengan kerasnya.
    tetapi, mungkin pakian saya itu tak cukup melawan dinginnya winter ningbo yang bersuhu 3-4 derajat C malam itu.
    dingin begitu menyengat!
    asap keluar dari hidung dan mulut saat berucap, mengingatkan saya akan adegan di pilem pilem itu.
    saya dijemput anak muda dari team klien, mobil segera meninggalkan bandara ningbo.
    suhu di dalam mobil begitu hangat, dingin di luar telah pergi sesaat.

    adalah hotel bintang 4, fortune bond hotel,
    dimana kami, desainernya, selalu di-inapkan di sini.
    mustinya kami menginap di hotel berbrand yang lebih tinggi, tetapi klien yang satu ini ingin mengontrol uangnya dengan ketat, seperti kejadian yang satu ini:

    saya nyampe di hotel mungkin sudah agak malam. jam 9 malam-an.
    anak muda yang menjemput saya, sedang mengurus segala sesuatunya di reception.
    lalu, dia mengantar saya ke kamar, karena barang bawaan saya amat banyak.
    saat ada di depan kamar, seorang wanita house keeping hotel juga hendak masuk kekamr saya.
    anak muda tadi berbicara panjang lebar dengan perempuan house keeping.
    saya ndak ngerti apa yang mereka bicarakan. saya ndak ngerti bahasa “cantonese”.
    saya buka pintu kamar, anak muda tadi ikut membantu saya memasukkan barang barang saya.
    dan perempuan tadi juga ikut masuk, kemudian melakukan aksinya.
    sang perempuan house keeping mengumpulkan semua snack, minuman ringan yang ada di cabinet.
    ia kumpulkan semuanya! dan memasukkannya ke dalam mini bar dan menguncinya!
    anak muda tadi bingung dan menilpun seseorang dim luar sana.
    saya geli.
    biasanya,
    kamar telah bersih dari snack dan minuman di lemari dan mini bar telah terkunci.
    tapi kali ini, mungkin mereka terlambat untuk melakukannya.
    jadi kejadian aksi bersih bersih itupun terjadi tepat di depan mata!
    busyet, tumbennya ketemu klien begini pelit!
    sang anak muda meminta maap atas kejadian itu.
    mungkin dia tak tahu kalo bosnya sedemikian pelitnya.

    tiga puluh menit kemudian,
    seorang dari team klien datang ke kamar saya.
    namanya billy, transleter dari gang klien.
    dia hendak menanyakan jadwal saya besok.
    tentang segala sesuatu yang ingin saya presentasikan, tentang konsepnya apa, idenya apa, gambarnya kayak apa, dll…dsb.
    saya jawab, “itu ndak bisa saya bicarakan malam ini. saya hanya akan berbicara tentang presentasi pada hari H. tidak malam ini, termasuk ke anda, walau anda seorang dewa sekalipun. jadi plis beri saya waktu yang cukup untuk tidur dan mohon tinggalkan saya sendiri!, saya capek terbang”,
    dia agak kecewa dan tetap ingin mengulik ngulik apa yang saya bawa untuk besok.
    “plis putu, bukannya saya ingin membocorkan apa yang kamu bawa, saya bukan desainer, saya hanya ingin apa yang anda bicarakan besok agar bisa saya “translete” ke bos saya dengan baik. itu saja!”
    “maap, anda musti menghormati hukum kami, saya ndak akan ngomong tentang gambar presentasi selain hari H, dan mohon anda tinggalkan saya!”
    saya tuntun dia ke pintu kamar dan membuangnya.
    what’s a man!

    shogun dilawan!

    begitulah,
    saat hari H,
    saya buka gambar yang telah terbungkus rapi. orang orang telah berkumpul.
    gambar gambar yang 4 m panjang memenuhi meja meeting
    acara berjalan begitu lancar.
    dan mereka semua tampak puas dengan apa yang kami garap.
    what’s a story…

    malam ini,
    kamar hotel tak terlalu dingin, saya set di suhu yang hangat, tak sedingin suhu 4 derajat di luar sana.
    saya menunggu hari esok untuk terbang lagi ke hongkong-singapore dan bali,
    sementara minggu depan telah ada jadwal terbang lagi.
    minggu depannya lagi..
    minggu depannya lagi
    minggu depannya lagi,
    dan lagi…

    masih ingat sebelum berangkat beberapa hari yang lalu,
    tukang kebun di kantor bertanya ke saya,
    “emang kapan kamu berada di rumah?….”

    salam,
    o A65
    jan. 9, 2007

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    (ditulis dalam rangka DIES NATALIS 42 JURUSAN  ARSITEKTUR ITS , di milis arsitektur ITS, tanggal 24 oktober 2007)

    arsitektur its,
    ternyata anda sudah semakin tua.
    (42 tahun?, yang bener..?)

    yang tua mungkin bukan arsitektur its nya,
    bisa saja orang orang yang bercokol didalamnya,
    bisa saja sistem yang dipakai di dalamnya,
    bisa saja menu yang disajikan,
    juga bisa murid murid di dalamnya,
    termasuk juga para alumninya.
    loh, kenapa yang tua bukan arsitektur its nya?

    arsitektur its adalah sebuah nama,
    nama “tubuh”
    jadi siapa pun bisa kenal dan bisa menyebut “tubuh” ini saat ada di dalamnya.
    sama seperti si wahyu,
    atau bob
    atau pak josep,
    atau bu asri.
    wahyu, bob, josef atau asri, adalah sebuah reference ke sesuatu yang diwakili.

    sama juga dengan kfc,
    kfc ndak bisa lepas dengan burger,
    atau dengan kentang gorengnya.
    lalu,
    kentang goreng yang mana? atau burger yang mana?
    karena di pasaran ada banyak burger, ada banyak kentang goreng.
    terus yang akan membedakannya adalah bahwa burgernya kfc rasanya seperti ini,
    pelayannya seperti ini, pakaian pelayannya seperti ini, dll
    kfc ndak pernag tua,
    yang bertambah tua adalah pelayannya, menunya, aturannya.
    sehingg selalu perlu diperbaharui.
    agar apa?
    agar bisa bersaing di luar sana.

    arsitektur its tak jauh beda dengan kfc,
    atau,
    arsitektur its tak jauh beda dengan mobil all new honda crv saya (maap..!)
    loh kok gitu?
    yang membuat kfc banyak di serbu konsumen,
    atau yang membuat all new honda crv saya lincah dijalan dan save di jalan,
    bukan mobilnya, juga bukan kfc nya.
    tetapi,
    siapa dan apa di dalamnya.

    arsitektur its itu tak pernah tua,
    tak pernah bertambah umur,
    yang mungkin bertambah umur dan semakin lanjut adalah siapa dan apa di dalamnya.

    mari melihat kembali milis di masa lalu,
    kalau ada orang yang bilang bahwa,
    “setinggi tinggi bangau terbang, toh juga akan balik ke rumahnya. sejauh jauh alumni its berkelana, kalau BE-OL TOH JUGA pakai WC jongkok jua”.
    ini ada benarnya.
    sama benarnya dengan :
    “sejauh jauh guru guru its dikirim untuk belajar dan pulang dengan gelar S2, S3, kalau mengajar kemudian di kelas TOH JUGA kualitasnya SAMA dengan saat mereka bergelar S1”.
    lha..tamatannya kayak apa nantinya?.

    arsitektur its itu tak pernah tua.
    yang tua adalah orang orang di dalamnya.
    ya supirnya, ya kernetnya, ya mekaniknya, ya spare partnya, ya menunya, ya aturannya.
    parahnya,
    orang orang menyebut dengan meriahnya dan bangganya bahwa arsitektur its semakin tua dengan dies natalisnya tiap tahun.
    sementara alat alat dan sistem di dalamnya selalu saja merasa muda. berjiwa muda!
    kita tahu, sifat jiwa muda.
    egonya keras, saya yang paling hebat, jingkrak jingkrak, dugem.
    parah!
    loh, emang ndak ada sifat jiwa muda yang sehat?
    he..pikir saja.

    kita sudah semakin tua,
    semakin tua semoga bergerak ke semakin berisi.
    supirnya semakin berisi dan bijak dan di dukung oleh kernet, mekanik serta alat alat dan spare partnya semakin berisi pula.
    gunanya apa?
    agar kfc kita semakin diserbu konsumen,
    agar 10 burger kfc yang masuk ke perut, bisa 75%nya diserap tubuh dan memproduksi tanaga,
    sisanyan biar menjadi kotoran dan yang lainnya.
    selama ini 10 burger kfc its yang masuk ke perut, 99.9% keluar menjadi kotoran.
    karena pelayan di dalamnya selalu saja merasa berjiwa muda, hal ini bukanlah membuat mereka “ngeh”, maklum jiwa muda.

    mari jadikan proses bertambah tua ini, untuk bisa menjadikan arsitektur its semakin berkualitas!

    salam dari bali,
    putu mahendra A-65
    arsitek

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    (surat buat kampus arsitektur ITS, dalam rangka dies natalis 41nya)

    rekan rekan alumni arsitektur its, yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga, penjual komputer, pemelihara anjing ras sampai mereka yang telah duduk di kursi pejabat,

    salam arsitektur ITS!,

    menyikapi email dari saudara bapak bambang tentang dies natalis arsitektur its, 41 tahun!, saya pribadi ingin mengajak rekan rekan semua untuk kembali lebih bringas menyuarakan wacana wacana untuk memajukan kondisi pendidikan arsitektur di indonesia umumnya dan kampus arsitektur its pada khususnya.
    bahwa perjuangan tak hanya bisa dilakukan oleh individu semata tetapi perjuangan ke arah yang lebih baik musti dipikul secara bersama sama.
    saya mengerti bahwa hari esok tiada yang tahu dan kita memang telah memulainya dari kehidupan di kelas secara bersama sama tanpa tahu arah profesi yang nanti kita dapatkan kelak bukan sebagai arsitek semata.
    tanpa musti menuding siapa yang menjadi kambing belang berjenggot harimau, bahwa semestinya kampus tercinta segera berbenah dan berbenah karena riak riak kecil yang terwacanakan dari seberang bukan sebuah suara yang tak patut di dengarkan.

    karena juga memang, kita bukan sekuntum mawar yang selalu mengharumkan kebun rumah, tak seindah orangenya langit pagi oleh sinaran matahari, suara suara kecil yang mungkin tak men-enak-an telinga kaum pejabat kampus yang saya hormati, hendaknya bisa dapat dirundingkan dalam setiap rapat pleno di ruangan yang ber AC sambil menghirup sedapnya kretek dji sam soe.

    saya tahu, rekan rekan sekalian telah hidup layak di luar profesi yang semestinya di idam idamkan saat kuliah dulu. profesi yang kata orang ndak terlalu mendatangkan rupiah yang menggiurkan, tapi keadaan ini tak semestinya mengharuskan kita untuk berontak untuk menutup setiap kampus yang berisi jurusan arsitektur!
    keadaan ini tak juga musti kita sepelekan karena keadaan alumni yang telah mapan di luar sana.
    tetapi, sekali lagi kemapanan alumni dari rupiah yang mengalir ke kantongnya yang ia dapat dari pofesi lain selain arsitek, bukan pula musti menjadikan kampus tercinta kita tidur lelap ileran membasahi bantal guling!
    katakanlah saya mahluk pemimpi yang selalu menempatkan tamatan arsitektur musti berprofesi sebagai arsitek tidak sebagai pengusaha anjing ras, karena memang saya sadar, kesalahan profesi yang saya geluti sekarang, bergelut dengan anjing anjing, walau mendatangkan sekian rupiah setiap harinya, hati ini terasa pilu kalau orang bertanya kepada saya pribadi, “anda tamat di mana, kok pinter mengembangbiakkan anjing?”.

    melalui momen yang amat bahagia ini, saya mengajak rekan rekan sekalian untuk berpikir sejenak akan masa lalu saat kita bersama sama berada dalam satu kelas dulu. memuakkan!! saat musti berhadapan dengan dosen dosen gendeng, indah, saat mana kita berjumpa dengan dosen baik hati, dan semakin indah saja saat dosen atau temen sekelas ini menjadi istri atau suami kita..oh..
    sejenak saya merasakan taek anjing bak pisang gorengnya pak madjid kalau ingat masa itu.

    lihatlah kumpulan acara yang akan ada di acara dies natalis itu, betapa membahagiakan kita. bukan hanya angka 41 membuat kita telah semakin tua, tetapi juga membuktikan bahwa masa lalu tiada berubah dari tahun ke tahun!.
    ini mungkin yang membuat kita semakin “menetap” di posisi sekarang ini. semakin percaya diri bahwa apa yang kita buat telah membuahkan hasil maximal.
    mari getarkan lelapnya tidur pendidikan kita!

    rekan rekan alumni,
    mari kita perangi keadaan yang membuat kita terlena,
    anda di situ,
    saya di sini,
    kita bersama sama!
    apapun yang kita buat dengan berlandaskan kebaikan, kebaikan juga yang akan kita dapatkan!

    salam arsitektur,
    salam perjuangan,
    semoga kampus kita, arsitektur its, bukan “scarecrow” di ladang padi itu,

    terima kasih,

    ongki, 0702
    presiden partai asu!

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    susah kalo membaca banyak gambar..
    apalagi saat pusing, melihat semuanya berantakan, bukannya
    semangat yang datang, tetapi pingin meninggalkan kantor
    dan pulang.
    ada beberapa proyek yang jarang saya cek, tetapi saya tahu
    kualitas penggambarannya masih amburadul. kalo saya suruh
    untuk memperbaikinya, pekerjaan lain akan
    berantakan…mbuh!
    susahnya akan bertambah parah saat saya memerlukannya
    untuk meeting. apalagi jadwalnya dadakan.
    jarang saya cek karena waktu saya yang sudah krodit.
    jarang saya cek karena sudah ada rekan yang meng-handle.
    ya..sudah ada rekan.
    ternyata, ndak seperti yang dibayangkan.
    kalo pun ke semua proyek musti saya cek gambarnya satu
    demi satu, mungkin saya ndak pernah pulang dan makan
    bersama anak dan istri.

    malu terungkap saat saya musti membicarakannya dengan
    “atasan” di kantor pusat.
    seperti kemarin siang saat saya nyampe di bangkok.
    bangkok sudah mulai hujan, taxi mercedes menghantarkan
    saya kembali mampir ke kantor ini.
    hampir 1.5jam perjalanan menuju kantor, kena macet disana
    sini.

    kantor ini telah krodit, walau berlantai dua dan ada
    basement.

    ada 4 proyek saya bicarakan. para atasan hanya punya
    beberapa menit untuk 4 proyek.
    tapi cukup membuat gambar gambar itu musti tertata dengan
    baik.
    saya berpikir tentang banyak orang yang musti
    mengerjakannya,
    tapi terkadang banyak orang juga ndak akan mampu
    menyelesaikan masalah seperti ini.
    semakin banyak akan semakin banyak pula yang akan datang!

    tapi,
    setidaknya, jadi semakin sadar, perlu banyak waktu untuk
    melihat pekerjaan mereka yang dikantor.
    dan sepertinya semakin sedikit waktu buat “diri”,
    pesawat saya jam 9.50-an menuju guangzhou-china dan nyampe
    mungkin jam 2 siang nanti.
    hampir 3 jam menunggu di sana, dan pesawat lain menghantar
    saya menuju sanya dimana proyek itu berada.

    ah..lelah!
    salam perdamaian!
    o-bangkok
    nov. 8, 2005

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    “in architecture, there is a part that is the result of logical reasoning and a part that is created through the senses. there is always a point where they clash. i dont think architecture can be created without that collision” (tadao ando-architect without any formals education)

    “more that what you have read, for sure, architecture is almost a part of yourself. to be an architecture is closely to be yourself. having a sex for example, is one of the way to understand how the architecture is created” (putu mahendra-architect without any teories).

    putu-bara api di semak pulau bali
    forum AMI, 8 september 2006

    Popularity: 4% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    mbah petungan menulis :

    Sekadar mengingatkan kembali kearifan Nusantara, silakan baca tulisan yang
    saya buat atas pesanan majalah Sketsa yang akan terbit bulan depan. Tentu,
    dapat saja di situ dilakukan penggantian menjadi konstruksi ikat.

    Arsitektur Nusantara tidak tergolong ‘portable architecture’!
    Josef Prijotomo

    “Kapan pindahnya, kok saya tak diberitahu?” lalu “keponakanku akan pindah
    rumah dalam dua minggu mendatang”. Tentu tidak terdengar asing di telinga
    kita, dan mesti tak terlalu kita persoalkan isi atau maknanya, kita dengan
    pasti telah mengetahui apa yang dimaksud dengan pertanyaan dan pernyataan
    itu. Bahkan kalau kedua kalimat tadi diinggriskan, kita juga tak terlalu
    direpotkan oleh pindah = pindah rumah = move, moving, mengingat
    penginggrisannya tidak keliru. Hampir tak pernah kita persoalkan dengan
    kritis, mengapakah di Indonesia ini orang menggunakan ‘pindah rumah’ untuk
    menyatakan bahwa dia beralih dari tempat yang satu ke tempat yang lain.
    Dalam jaman yang sudah serba teknologi ini, beralih dari tempat yang satu
    ke tempat yang lain sudah tidak lagi melibatkan pengalihan tempat tinggal
    yang sekarang dihuni, karena dengan beralih ke tempat tinggal yang baru
    akan ditinggalkanlah tempat tinggal yang lama. Kalau demikian halnya,
    apakah masih tepat pernyataan ‘pindah rumah’ itu? Selanjutnya, bila
    demikianlah halnya di hari ini, apakah di masa silam keadaannya tidak
    seperti itu?

    Arsitektur Nusantara adalah arsitektur yang berbasis pasak sebagai bahan
    sambungan, bukan paku. Dengan demikian, kalau kita terkagum-kagum pada
    arsitektur Nusantara karena tidak memakai paku, itu sebenarnya adalah
    sebuah petunjuk (indikator) bahwa yang terkagum-kagum ini justru tak kenal
    dengan arsitektur Nusantara. Bila mengenal pasak sebagai basis bahan
    penyambung gelagar, maka perkenalan lebih lanjut akan menunjukkan bahwa
    pada dasarnya arsitektur Nusantara adalah arsitektur yang tidak memakai
    logam sebagai bahan bangunannya. Ini bukan berarti bahwa masyarakat
    Nusantara tidak mengenal logam; masyarakat Nusantara sepenuhnya
    memanfaatkan seluruh kayu dan bahan organik sebagai bahan bangunannya.
    Pemakaian bahan organik mengandung konsekuensi yang sepernuhnya dipahami
    oleh arsitektur Nusantara yakni: bahan organik pasti lapuk dimakan oleh
    waktu. Bagian bangunan yang mengalami pelapukan lalu menuntut adanya
    penggantian oleh bahan yang baru, yang tentu saja, juga bahan bangunan yang
    organik. Di situ, bagian yang lauk dicopot dan diganti oleh bagian bangunan
    yang baru. Seiring perjalanan waktu dan bertambahnya pengetahuan, bahan
    bangunan yang organik dapat dipilah ke dalam bahan yang cepat lapuk dan
    bahan yang lambat lapuknya. Dengan memakai bahan bangunan yang berkualitas
    lambat lapuknya, bangunan menjadi semakin bertambah jarng mengalami
    pergantian bahan bangunan. Di situ pencopotan tidak lagi sering dilakukan,
    namun teknik perangkaian yang memungkinkan pencopotan tidak banyak
    mengalami perubahan atau penyesuaian: pasak tetap dipakai sebagai bahan
    penyambung bagian bangunan.

    Kemampuan untuk membuat bangunan yang semakin halus mutu pengerjaannya,
    tentunya berjalan seiring dengan penggunaan perkakas membangun, khususnya
    perkakas yang dipakai untuk membuat sambungan. Bila pada awalnya perkakas
    yang dipakai hanya mampu menghasilkan sambungan yang memiliki presisi yang
    rendah (dan karena itu rakitannya bisa bergoyang-goyang), maka dengan
    menggunakan perkakas yang lebih baru, presisi dari sambungan sudah mampu
    menghasilkan rakitan yang nyaris tak bergoyang-goyang, padahal alat
    penyambungnya masih tetap memakai pasak. Selanjutnya, mutu pekerjaan yang
    semakin halus (bangunan lalu semakin cantik oleh adanya ornamen dan
    dekorasi) juga tidak banyak mempengaruhi pikiran dasar membuat bangunan
    yang dapat dicopot bagiannya, untuk kemudian diganti dengan bahan yang baru.
    Dari sini dapat dilihat bahwa keadaan bangunan yang bergoyang-goyang
    menyamping bukanlah pertanda bahwa bangunan ini sudah dalam keadaan yang
    membahayakan keselamatan penghuni; di situ keadaan tadi justru menjadi
    keadaan awal atau keadaan asal dari perakitan bagian-bagian bangunan.
    Keadaan akhir yang terjadi adalah keadaan di saat setiap sambungan akan
    saling mengunci, dan ini terjadi dari keadaan bangunan yang justru tidak
    tegaklurus, jadi pada keadaan bangunan yang menyerong, yang doyong. Di sini
    lagi-lagi harus dikatakan bahwa bangunan yang tidak tegaklurus dengan tanah
    itu bukanlah keadaan yang membahayakan; justru sebaliknya, berada dalam
    keadaan yang sangat aman. Dengan demikian tidak mengherankan bila bangunan
    seperti ini lalu menjadi bangunan yang tahan gempa, mengingat di saat gempa
    berlangsung bangunan akan menjadi bergoyang-goyang menyamping. Adalah pasak
    yang mendapat tugas agar di saat bergoyang ke samping tidak mengakibatkan
    copotnya bagian-bagian yang saling bersambung tadi.

    Sambungan dengan pasak juga membuka peluang lain dalam memperlakukan
    bangunan. Jikalau diberi tanda-tanda yang khusus pada setiap bagian
    bangunan yang merupakan titik-titik persambungan dengan bagian lain, apa
    yang dapat dilakukan? Kini bangunan dapat dibongkar tanpa ada kekuatiran
    untuk mengalami kekeliruan dalam perakitan kembali. Saat dilakukan
    perakitan kembali, tanda-tanda khusus saling dicocokkan satu dengan yang
    lain, dan terrakitlah bangunan tadi. Dan oleh karena itu, tidak
    mengherankan bila di awal tahun 2007 yang silam, sebuah bangunan Jawa
    berukuran sekitar 10 x 10 meter yang ada di sebuah desa dekat kota Pati,
    Jawa Tengah, telah dibongkar dan diboyong ke Surabaya. Sesampai di
    Surabaya, hanya diperlukan waktu selama satu hari dan tenaga sebanyak
    kurang dari 20 orang untuk merakit komponen struktural bangunannya. Apabila
    ukuran bangunan tidak terlalu besar, bisa saja bangunan ini dicopoti
    bagian-bagian non-strukturalnya, dan yang tertinggal hanyalah bagian
    rakitan yang struktural saja. Dengan sejumlah tenaga pengangkut, rakitan
    kerangka struktural bangunan ini lalu diboyong ke tempat yang lain. Gambar
    sampul dari buku Roxanne Waterson yang terkenal itu, The Living House,
    dengan bagus sekali memotret kerangka bangunan yang sedang diboyong. Dengan
    cara dibongkar dan dengan cara diboyong, bangunan lalu bisa dialihkan dari
    tempat yang satu ke tempat yang lain, itulah peluang yang terjadi dengan
    penggunaan pasak sebagai bahan penyambung. Pada pertengahan 2001 sebuah
    kejadian di desa Maron, Ponorogo – Jawa Timur, juga patut dicatat di sini.
    Salah seorang warga desa itu telah membeli bangunan joglo milik sesama
    warga desa itu. Yang dibeli hanya bangunannya saja, tidak termasuk lahan
    pekarangannya, dan oleh karena itu bangunan itu diboyong dari tempat semula
    ke tempat yang baru. Bangunan lalu bisa dijual-beli tanpa menyertakan
    kapling tempat bangunan itu berada.
    Peluang bongkar-pasang atau boyong lalu dengan jitu dikaitkan dengan ihwal
    kepindahan penghuni dari satu tempat ke tempat lain. Kepindahan ke tempat
    yang baru tidak hanya dilaksanakan dengan membawa barang-barang milik
    penghuni, tetapi juga menyertakan bangunan tempat berhuni itu. Pindah tak
    lagi menunjuk pada pindahnya penghuni beserta barang miliknya, tetapi juga
    memindahkan bangunan huniannya. Di sinilah pernyataan ‘pindah rumah’
    memiliki akar pengertiannya. Ya, pindah rumah menyatakan bahwa yang pindah
    itu termasuk rumahnya, huniannya.
    Apakah kepindahan itu dapat dilakukan sehingga dapat terjadi seperti
    peristiwa di awal 2007, yakni kepindahan yang lintas propinsi (dari Jawa
    Tengah ke Jawa Timur)? Dalam masa silam arsitektur Nusantara kejadian ini
    nyaris tidak terjadi. Mengapa demikian, tak lain adalah karena kepindahan
    yang demikian jauh itu berpeluang untuk dimengerti oleh masyarakat bahwa
    yang pindah itu telah mendapat hukuman berupa pengasingan dan pengusiran
    dari komunitasnya. Adanya kawasan Baduy Dalam dan Baduy Luar adalah contoh
    kecil dari kejadian itu. Dengan demikian, batas-batas kepindahan seseorang
    dan bangunannya menjadi bergantung pada luas-sempitnya komunitas. Bila di
    masa sekarang ini komunitas Jawa sudah menjangkau luasan sebesar Jawa
    Tengah dan Jawa Timur misalnya, kepindahan bangunan dari Jawa Tengah ke
    Jawa Timur tentu tidak akan diartikan sebagai pertanda sanksi atau hukuman.
    Itu berarti bahwa di masa sekarang memindah rumah Jawa ke Arso, Papua, juga
    tak bermasalah mengingat Arso memiliki komunitas Jawa.

    Dari peninjauan atas bangunan Nusantara ini dapat diketahui bahwa pembuatan
    bangunan yang bisa diboyong atau dibongkar-pasang bukanlah gagasan atau
    tujuan awal dari pembuatannya. Kemampuan diboyong dan dibongkar-pasang
    adalah peluang yang timbul dari teknik mengkonstruksi bangunan, bukan
    sebagai gagasan atau tujuan dalam membangun dan berarsitektur. Arsitektur
    Nusantara tidak dihadirkan dengan tujuan agar bisa dibongkar dan diboyong!
    Oleh karena itu, sangat keliru kalau mengelompokkan arsitektur Nusantara
    sebagai ‘portable architecture’ bilamana yang dimaksud adalah portabilitas
    (portability) sebagai gagasan dan tujuan.
    (Josef prijotomo pada milis arsitektur ITS, 2 mei 2007)

    putu me-reply tulisan beliau;

    saat kita membicarakan “design” itu apa, sama artinya saat kita membicarakan “sendok” itu apa?
    atau sama halnya saat kita bertanya “paku” itu apa”,
    kalau “definisi” sendok sudah dimengerti, maka ndak ada bedanya antara sendok makan dengan sendok nasi, Lho..h?
    jadi,
    kalau berbicara tentang paku, dan telah mengerti dengan “paku” itu apa an”, maka ntah suatu saat kita membuat bangunan dengan “lem” untuk mem-“paku” kan, atau memakai sendok garpu untuk mem-“paku” kan, adalah tak ada bedanya.

    jadi kalau ada yang bilang pernah membuat bangunan “tanpa paku” walah…..wong pondasi aja kita bisa sebut sebagai “paku” kok….
    mana ada bangunan bisa “ereksi” tanpa “paku”.

    jadi,
    “what they dont teach you at architecture school?”,

    pendidikan kita ibarat “efek domino”,
    kalau satu domino jatuh ke arah dimana deretan domino berada, maka ia akan jatuh terus menimpa rekan rekan domino yang lainnya, tak bakalan kita temui domino jatuh menentang arah!.

    kalau sekolah lain serong ke kiri, kita ikut serong kekiri, ndak salah khan?
    kalau sedang demam selingkuh, kita ikut, ndak salah kan?
    kalau tamat di mesin tapi kerja di kapal pesiar jadi room boy, ndak salah khan?

    wah, kok sampeyan repot amat?
    ….tapi ndak salah khan?

    salam,
    o

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    ini cerita tentang arsitektur,
    atau mungkin tepatnya, ini cerita tentang “nothingness”,
    yang diceritakan kembali agar kita semakin bisa bercerita tentang apa yang dialami.
    atau mungkin cerita yang tak harus diceritakan,
    wah, kok semakin di”repot” kan begitu,
    ?

    saya duduk berdua di ruang saya dengan seorang pelamar yang saya undang bertemu bertatap muka dengan saya.
    ini adalah orang yang ke sekian melayangkan lamarannya,
    katanya kenal saya di forum AMI.
    ada sekian orang yang berasal dari “forum AMI” melayangkan lamarannya sejak saya “drop out”,
    pertanyaan yang selalu mencuat saat bertemu, selalu :”kenapa bapak keluar dari forum AMI?”,
    “hah..?”.

    saya membalik balikan bendel lamarannya.
    kami berdiskusi tentang apa yang ia buat selama ini.
    salah satunya tentang arsitektur yang ia buat.
    “saya sependapat dengan bapak, bahwa arsitektur itu tak sekedar ngomong tentang building doang, tapi lebih luas dari itu”, katanya.
    saya melihat ada bangunan BCA yang ia buat saat ia “magang” di atelir 6 jakarta.
    “kami mempropose ke klien untuk membuat disain ini di pakai buat kantor BCA dari ujung sumatra sampai ke ujung irian!”, katanya. “saya ikut meeting dengan direksi BCA
    bersama team saya plus salah satu arsitek senior dari atelier 6”, lanjutnya lagi.
    “hah..?”
    mata saya menatap tajam ke matanya.
    “kalau ini buat desain TA, mah bagus, tapi kalau diterapkan di lapangan, apalagi dipakai oleh ujung sumatra sampai ujung irian, kayaknya saudara salah tempat!”, saya tertawa terkekeh.
    hari gini membuat “arsitektur” itu “typical?
    mana ada kebun isinya cuman mawar doang!
    ini yang disebut sebagai “architecture harassement”!.

    saya sedang merenovasi arsitektur karya charles corea di india.
    kami membuat beberapa tambahan di tanah kosong yang belum terbangun atau ter-develop.
    salah satunya sedang membuat bangunan resepsion nya.
    sketsa saya telah rampung, ada bangunannya, ada gardennya sekaligus ada interiornya. komplete!.
    saya lemparkan ke anak baru.
    saya suruh dia mengembangkannya lagi ke tiga bagian itu.
    sekian hari kutak kutik, sampai ia akhirnya mendetail “bench” ala bakpao.
    “mungkin kamu buat detail bangunannya aja, jangan sentuh interiornya dulu”, saya menyela pekerjaannya.
    “jadi arsitekturnya aja di buat?”, jawabnya.
    saya jadi semakin bingung, sedemikian parahkan mereka men-define arsitektur itu apa an?

    pertanyaan setimpal mungkin begini,
    “yang disebut alas kaki itu yang mana?”
    sandal jepit!, bukan yang lainnya.

    beberapa hari yang lalu,
    sonny sutanto memforward ke milis AMI tentang “prostitute” dalam arsitektur.
    saya mereplynya via japri, dengan sedikit canda. ia pun mereply dengan canda juga.
    maklum kangen.
    berbicara tentang “prostitute”, ada sebuah proyek kami di bali yang viewnya ke samudra india.
    dengan kontor yang amat curam di bibir pantainya. sexy!
    arsitek pertama, memotong site bak kue tart dalam menghadirkan arsitekturnya.
    sampai alam itupun ndak jelas dan kehilangan wajah aslinya.
    kami datang dengan aturan main cuman satu; ada seribu pohon existing di sana, kalau property anda telah kelar maka ke seribu pohon existing itu tetap ada. ada amat sexy kontor di sana, maka ke-sexy-an kontor tadi tak akan berubah saat kapan property anda jadi!
    klien menyanggupi!.
    seiring jalannya gambar, keinginan klien lambat laun bergerak ke cara “pemotongan kue tart”,
    kami bilang, “kami bukan melakukan “architecture’s prostitute!”.

    saat arsitektur di”garap” sebelah mata,
    sama artinya saat kita hanya ingin memenuhi keinginan diri sendiri,
    hanya memikirkan “rasa enak” diri sendiri.
    arsitektur adalah pekerjaan team.
    sama nikmatnya saat melihat poster pilem trus beli tiket, terus masuk gedung bioskop-terus duduk di kursi terus melihat “extra”, terus pilemnya sendiri sampai ada “the end”.
    tak bisa melihatnya dengan satu bagian saja, dan telah merasa puas dan mengerti dan tahu betul apa isi pilem spiderman 3 hanya dengan melihat posternya saja.

    “siapapun yang masuk ke studio kami, adalah tugas kami untuk membuatnya menjadi arsitek”, begitu saya melayangkan omongan ke salah satu rekan yang datang untuk diskusi di ruangan saya.
    “karena dengan begitu, kami dan saya sendiri menjadi merasa berarti”, saya melanjutkan.

    pekerjaan “menjadikan arsitek” buat seseorang yang datang ke studio, bukan start saat ia tamat dari sekolah dan melamar.
    ferari itu dari gudang pembuatan mesinnya, sudah ditulis besar besar, bahwa mesinnya nanti musti menjadi juara di lap manapun.
    begitu juga saat kampus arsitektur mendidik anak didiknya, musti selalu bak bagaimana ferari itu menaruh cita citanya.
    dari anak didik itu duduk di semester awal, kampus itu MUSTINYA telah bermimpi untuk menjadikan semua anak didiknya “menjadi arsitek”, bukan sekedar dapat bekerja.
    kalau cuman “sekedar dapat bekerja, kampus itu ibarat memproduksi bemo!, sekedar bisa jalan di jalan raya cukuplah, wong kampus lain juga baru sebatas bisa buat bajaj!.

    nah, kampus arsitektur ITS itu selama ini memproduksi “bemo” apa “ferrari” ?,

    salam,
    ongki-ferrari

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email