“in architecture, there is a part that is the result of logical reasoning and a part that is created through the senses. there is always a point where they clash. i dont think architecture can be created without that collision” (tadao ando-architect without any formals education)

“more that what you have read, for sure, architecture is almost a part of yourself. to be an architecture is closely to be yourself. having a sex for example, is one of the way to understand how the architecture is created” (putu mahendra-architect without any teories).

putu-bara api di semak pulau bali
forum AMI, 8 september 2006

Popularity: 4% [?]



POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    mbah petungan menulis :

    Sekadar mengingatkan kembali kearifan Nusantara, silakan baca tulisan yang
    saya buat atas pesanan majalah Sketsa yang akan terbit bulan depan. Tentu,
    dapat saja di situ dilakukan penggantian menjadi konstruksi ikat.

    Arsitektur Nusantara tidak tergolong ‘portable architecture’!
    Josef Prijotomo

    “Kapan pindahnya, kok saya tak diberitahu?” lalu “keponakanku akan pindah
    rumah dalam dua minggu mendatang”. Tentu tidak terdengar asing di telinga
    kita, dan mesti tak terlalu kita persoalkan isi atau maknanya, kita dengan
    pasti telah mengetahui apa yang dimaksud dengan pertanyaan dan pernyataan
    itu. Bahkan kalau kedua kalimat tadi diinggriskan, kita juga tak terlalu
    direpotkan oleh pindah = pindah rumah = move, moving, mengingat
    penginggrisannya tidak keliru. Hampir tak pernah kita persoalkan dengan
    kritis, mengapakah di Indonesia ini orang menggunakan ‘pindah rumah’ untuk
    menyatakan bahwa dia beralih dari tempat yang satu ke tempat yang lain.
    Dalam jaman yang sudah serba teknologi ini, beralih dari tempat yang satu
    ke tempat yang lain sudah tidak lagi melibatkan pengalihan tempat tinggal
    yang sekarang dihuni, karena dengan beralih ke tempat tinggal yang baru
    akan ditinggalkanlah tempat tinggal yang lama. Kalau demikian halnya,
    apakah masih tepat pernyataan ‘pindah rumah’ itu? Selanjutnya, bila
    demikianlah halnya di hari ini, apakah di masa silam keadaannya tidak
    seperti itu?

    Arsitektur Nusantara adalah arsitektur yang berbasis pasak sebagai bahan
    sambungan, bukan paku. Dengan demikian, kalau kita terkagum-kagum pada
    arsitektur Nusantara karena tidak memakai paku, itu sebenarnya adalah
    sebuah petunjuk (indikator) bahwa yang terkagum-kagum ini justru tak kenal
    dengan arsitektur Nusantara. Bila mengenal pasak sebagai basis bahan
    penyambung gelagar, maka perkenalan lebih lanjut akan menunjukkan bahwa
    pada dasarnya arsitektur Nusantara adalah arsitektur yang tidak memakai
    logam sebagai bahan bangunannya. Ini bukan berarti bahwa masyarakat
    Nusantara tidak mengenal logam; masyarakat Nusantara sepenuhnya
    memanfaatkan seluruh kayu dan bahan organik sebagai bahan bangunannya.
    Pemakaian bahan organik mengandung konsekuensi yang sepernuhnya dipahami
    oleh arsitektur Nusantara yakni: bahan organik pasti lapuk dimakan oleh
    waktu. Bagian bangunan yang mengalami pelapukan lalu menuntut adanya
    penggantian oleh bahan yang baru, yang tentu saja, juga bahan bangunan yang
    organik. Di situ, bagian yang lauk dicopot dan diganti oleh bagian bangunan
    yang baru. Seiring perjalanan waktu dan bertambahnya pengetahuan, bahan
    bangunan yang organik dapat dipilah ke dalam bahan yang cepat lapuk dan
    bahan yang lambat lapuknya. Dengan memakai bahan bangunan yang berkualitas
    lambat lapuknya, bangunan menjadi semakin bertambah jarng mengalami
    pergantian bahan bangunan. Di situ pencopotan tidak lagi sering dilakukan,
    namun teknik perangkaian yang memungkinkan pencopotan tidak banyak
    mengalami perubahan atau penyesuaian: pasak tetap dipakai sebagai bahan
    penyambung bagian bangunan.

    Kemampuan untuk membuat bangunan yang semakin halus mutu pengerjaannya,
    tentunya berjalan seiring dengan penggunaan perkakas membangun, khususnya
    perkakas yang dipakai untuk membuat sambungan. Bila pada awalnya perkakas
    yang dipakai hanya mampu menghasilkan sambungan yang memiliki presisi yang
    rendah (dan karena itu rakitannya bisa bergoyang-goyang), maka dengan
    menggunakan perkakas yang lebih baru, presisi dari sambungan sudah mampu
    menghasilkan rakitan yang nyaris tak bergoyang-goyang, padahal alat
    penyambungnya masih tetap memakai pasak. Selanjutnya, mutu pekerjaan yang
    semakin halus (bangunan lalu semakin cantik oleh adanya ornamen dan
    dekorasi) juga tidak banyak mempengaruhi pikiran dasar membuat bangunan
    yang dapat dicopot bagiannya, untuk kemudian diganti dengan bahan yang baru.
    Dari sini dapat dilihat bahwa keadaan bangunan yang bergoyang-goyang
    menyamping bukanlah pertanda bahwa bangunan ini sudah dalam keadaan yang
    membahayakan keselamatan penghuni; di situ keadaan tadi justru menjadi
    keadaan awal atau keadaan asal dari perakitan bagian-bagian bangunan.
    Keadaan akhir yang terjadi adalah keadaan di saat setiap sambungan akan
    saling mengunci, dan ini terjadi dari keadaan bangunan yang justru tidak
    tegaklurus, jadi pada keadaan bangunan yang menyerong, yang doyong. Di sini
    lagi-lagi harus dikatakan bahwa bangunan yang tidak tegaklurus dengan tanah
    itu bukanlah keadaan yang membahayakan; justru sebaliknya, berada dalam
    keadaan yang sangat aman. Dengan demikian tidak mengherankan bila bangunan
    seperti ini lalu menjadi bangunan yang tahan gempa, mengingat di saat gempa
    berlangsung bangunan akan menjadi bergoyang-goyang menyamping. Adalah pasak
    yang mendapat tugas agar di saat bergoyang ke samping tidak mengakibatkan
    copotnya bagian-bagian yang saling bersambung tadi.

    Sambungan dengan pasak juga membuka peluang lain dalam memperlakukan
    bangunan. Jikalau diberi tanda-tanda yang khusus pada setiap bagian
    bangunan yang merupakan titik-titik persambungan dengan bagian lain, apa
    yang dapat dilakukan? Kini bangunan dapat dibongkar tanpa ada kekuatiran
    untuk mengalami kekeliruan dalam perakitan kembali. Saat dilakukan
    perakitan kembali, tanda-tanda khusus saling dicocokkan satu dengan yang
    lain, dan terrakitlah bangunan tadi. Dan oleh karena itu, tidak
    mengherankan bila di awal tahun 2007 yang silam, sebuah bangunan Jawa
    berukuran sekitar 10 x 10 meter yang ada di sebuah desa dekat kota Pati,
    Jawa Tengah, telah dibongkar dan diboyong ke Surabaya. Sesampai di
    Surabaya, hanya diperlukan waktu selama satu hari dan tenaga sebanyak
    kurang dari 20 orang untuk merakit komponen struktural bangunannya. Apabila
    ukuran bangunan tidak terlalu besar, bisa saja bangunan ini dicopoti
    bagian-bagian non-strukturalnya, dan yang tertinggal hanyalah bagian
    rakitan yang struktural saja. Dengan sejumlah tenaga pengangkut, rakitan
    kerangka struktural bangunan ini lalu diboyong ke tempat yang lain. Gambar
    sampul dari buku Roxanne Waterson yang terkenal itu, The Living House,
    dengan bagus sekali memotret kerangka bangunan yang sedang diboyong. Dengan
    cara dibongkar dan dengan cara diboyong, bangunan lalu bisa dialihkan dari
    tempat yang satu ke tempat yang lain, itulah peluang yang terjadi dengan
    penggunaan pasak sebagai bahan penyambung. Pada pertengahan 2001 sebuah
    kejadian di desa Maron, Ponorogo – Jawa Timur, juga patut dicatat di sini.
    Salah seorang warga desa itu telah membeli bangunan joglo milik sesama
    warga desa itu. Yang dibeli hanya bangunannya saja, tidak termasuk lahan
    pekarangannya, dan oleh karena itu bangunan itu diboyong dari tempat semula
    ke tempat yang baru. Bangunan lalu bisa dijual-beli tanpa menyertakan
    kapling tempat bangunan itu berada.
    Peluang bongkar-pasang atau boyong lalu dengan jitu dikaitkan dengan ihwal
    kepindahan penghuni dari satu tempat ke tempat lain. Kepindahan ke tempat
    yang baru tidak hanya dilaksanakan dengan membawa barang-barang milik
    penghuni, tetapi juga menyertakan bangunan tempat berhuni itu. Pindah tak
    lagi menunjuk pada pindahnya penghuni beserta barang miliknya, tetapi juga
    memindahkan bangunan huniannya. Di sinilah pernyataan ‘pindah rumah’
    memiliki akar pengertiannya. Ya, pindah rumah menyatakan bahwa yang pindah
    itu termasuk rumahnya, huniannya.
    Apakah kepindahan itu dapat dilakukan sehingga dapat terjadi seperti
    peristiwa di awal 2007, yakni kepindahan yang lintas propinsi (dari Jawa
    Tengah ke Jawa Timur)? Dalam masa silam arsitektur Nusantara kejadian ini
    nyaris tidak terjadi. Mengapa demikian, tak lain adalah karena kepindahan
    yang demikian jauh itu berpeluang untuk dimengerti oleh masyarakat bahwa
    yang pindah itu telah mendapat hukuman berupa pengasingan dan pengusiran
    dari komunitasnya. Adanya kawasan Baduy Dalam dan Baduy Luar adalah contoh
    kecil dari kejadian itu. Dengan demikian, batas-batas kepindahan seseorang
    dan bangunannya menjadi bergantung pada luas-sempitnya komunitas. Bila di
    masa sekarang ini komunitas Jawa sudah menjangkau luasan sebesar Jawa
    Tengah dan Jawa Timur misalnya, kepindahan bangunan dari Jawa Tengah ke
    Jawa Timur tentu tidak akan diartikan sebagai pertanda sanksi atau hukuman.
    Itu berarti bahwa di masa sekarang memindah rumah Jawa ke Arso, Papua, juga
    tak bermasalah mengingat Arso memiliki komunitas Jawa.

    Dari peninjauan atas bangunan Nusantara ini dapat diketahui bahwa pembuatan
    bangunan yang bisa diboyong atau dibongkar-pasang bukanlah gagasan atau
    tujuan awal dari pembuatannya. Kemampuan diboyong dan dibongkar-pasang
    adalah peluang yang timbul dari teknik mengkonstruksi bangunan, bukan
    sebagai gagasan atau tujuan dalam membangun dan berarsitektur. Arsitektur
    Nusantara tidak dihadirkan dengan tujuan agar bisa dibongkar dan diboyong!
    Oleh karena itu, sangat keliru kalau mengelompokkan arsitektur Nusantara
    sebagai ‘portable architecture’ bilamana yang dimaksud adalah portabilitas
    (portability) sebagai gagasan dan tujuan.
    (Josef prijotomo pada milis arsitektur ITS, 2 mei 2007)

    putu me-reply tulisan beliau;

    saat kita membicarakan “design” itu apa, sama artinya saat kita membicarakan “sendok” itu apa?
    atau sama halnya saat kita bertanya “paku” itu apa”,
    kalau “definisi” sendok sudah dimengerti, maka ndak ada bedanya antara sendok makan dengan sendok nasi, Lho..h?
    jadi,
    kalau berbicara tentang paku, dan telah mengerti dengan “paku” itu apa an”, maka ntah suatu saat kita membuat bangunan dengan “lem” untuk mem-“paku” kan, atau memakai sendok garpu untuk mem-“paku” kan, adalah tak ada bedanya.

    jadi kalau ada yang bilang pernah membuat bangunan “tanpa paku” walah…..wong pondasi aja kita bisa sebut sebagai “paku” kok….
    mana ada bangunan bisa “ereksi” tanpa “paku”.

    jadi,
    “what they dont teach you at architecture school?”,

    pendidikan kita ibarat “efek domino”,
    kalau satu domino jatuh ke arah dimana deretan domino berada, maka ia akan jatuh terus menimpa rekan rekan domino yang lainnya, tak bakalan kita temui domino jatuh menentang arah!.

    kalau sekolah lain serong ke kiri, kita ikut serong kekiri, ndak salah khan?
    kalau sedang demam selingkuh, kita ikut, ndak salah kan?
    kalau tamat di mesin tapi kerja di kapal pesiar jadi room boy, ndak salah khan?

    wah, kok sampeyan repot amat?
    ….tapi ndak salah khan?

    salam,
    o

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    ini cerita tentang arsitektur,
    atau mungkin tepatnya, ini cerita tentang “nothingness”,
    yang diceritakan kembali agar kita semakin bisa bercerita tentang apa yang dialami.
    atau mungkin cerita yang tak harus diceritakan,
    wah, kok semakin di”repot” kan begitu,
    ?

    saya duduk berdua di ruang saya dengan seorang pelamar yang saya undang bertemu bertatap muka dengan saya.
    ini adalah orang yang ke sekian melayangkan lamarannya,
    katanya kenal saya di forum AMI.
    ada sekian orang yang berasal dari “forum AMI” melayangkan lamarannya sejak saya “drop out”,
    pertanyaan yang selalu mencuat saat bertemu, selalu :”kenapa bapak keluar dari forum AMI?”,
    “hah..?”.

    saya membalik balikan bendel lamarannya.
    kami berdiskusi tentang apa yang ia buat selama ini.
    salah satunya tentang arsitektur yang ia buat.
    “saya sependapat dengan bapak, bahwa arsitektur itu tak sekedar ngomong tentang building doang, tapi lebih luas dari itu”, katanya.
    saya melihat ada bangunan BCA yang ia buat saat ia “magang” di atelir 6 jakarta.
    “kami mempropose ke klien untuk membuat disain ini di pakai buat kantor BCA dari ujung sumatra sampai ke ujung irian!”, katanya. “saya ikut meeting dengan direksi BCA
    bersama team saya plus salah satu arsitek senior dari atelier 6″, lanjutnya lagi.
    “hah..?”
    mata saya menatap tajam ke matanya.
    “kalau ini buat desain TA, mah bagus, tapi kalau diterapkan di lapangan, apalagi dipakai oleh ujung sumatra sampai ujung irian, kayaknya saudara salah tempat!”, saya tertawa terkekeh.
    hari gini membuat “arsitektur” itu “typical?
    mana ada kebun isinya cuman mawar doang!
    ini yang disebut sebagai “architecture harassement”!.

    saya sedang merenovasi arsitektur karya charles corea di india.
    kami membuat beberapa tambahan di tanah kosong yang belum terbangun atau ter-develop.
    salah satunya sedang membuat bangunan resepsion nya.
    sketsa saya telah rampung, ada bangunannya, ada gardennya sekaligus ada interiornya. komplete!.
    saya lemparkan ke anak baru.
    saya suruh dia mengembangkannya lagi ke tiga bagian itu.
    sekian hari kutak kutik, sampai ia akhirnya mendetail “bench” ala bakpao.
    “mungkin kamu buat detail bangunannya aja, jangan sentuh interiornya dulu”, saya menyela pekerjaannya.
    “jadi arsitekturnya aja di buat?”, jawabnya.
    saya jadi semakin bingung, sedemikian parahkan mereka men-define arsitektur itu apa an?

    pertanyaan setimpal mungkin begini,
    “yang disebut alas kaki itu yang mana?”
    sandal jepit!, bukan yang lainnya.

    beberapa hari yang lalu,
    sonny sutanto memforward ke milis AMI tentang “prostitute” dalam arsitektur.
    saya mereplynya via japri, dengan sedikit canda. ia pun mereply dengan canda juga.
    maklum kangen.
    berbicara tentang “prostitute”, ada sebuah proyek kami di bali yang viewnya ke samudra india.
    dengan kontor yang amat curam di bibir pantainya. sexy!
    arsitek pertama, memotong site bak kue tart dalam menghadirkan arsitekturnya.
    sampai alam itupun ndak jelas dan kehilangan wajah aslinya.
    kami datang dengan aturan main cuman satu; ada seribu pohon existing di sana, kalau property anda telah kelar maka ke seribu pohon existing itu tetap ada. ada amat sexy kontor di sana, maka ke-sexy-an kontor tadi tak akan berubah saat kapan property anda jadi!
    klien menyanggupi!.
    seiring jalannya gambar, keinginan klien lambat laun bergerak ke cara “pemotongan kue tart”,
    kami bilang, “kami bukan melakukan “architecture’s prostitute!”.

    saat arsitektur di”garap” sebelah mata,
    sama artinya saat kita hanya ingin memenuhi keinginan diri sendiri,
    hanya memikirkan “rasa enak” diri sendiri.
    arsitektur adalah pekerjaan team.
    sama nikmatnya saat melihat poster pilem trus beli tiket, terus masuk gedung bioskop-terus duduk di kursi terus melihat “extra”, terus pilemnya sendiri sampai ada “the end”.
    tak bisa melihatnya dengan satu bagian saja, dan telah merasa puas dan mengerti dan tahu betul apa isi pilem spiderman 3 hanya dengan melihat posternya saja.

    “siapapun yang masuk ke studio kami, adalah tugas kami untuk membuatnya menjadi arsitek”, begitu saya melayangkan omongan ke salah satu rekan yang datang untuk diskusi di ruangan saya.
    “karena dengan begitu, kami dan saya sendiri menjadi merasa berarti”, saya melanjutkan.

    pekerjaan “menjadikan arsitek” buat seseorang yang datang ke studio, bukan start saat ia tamat dari sekolah dan melamar.
    ferari itu dari gudang pembuatan mesinnya, sudah ditulis besar besar, bahwa mesinnya nanti musti menjadi juara di lap manapun.
    begitu juga saat kampus arsitektur mendidik anak didiknya, musti selalu bak bagaimana ferari itu menaruh cita citanya.
    dari anak didik itu duduk di semester awal, kampus itu MUSTINYA telah bermimpi untuk menjadikan semua anak didiknya “menjadi arsitek”, bukan sekedar dapat bekerja.
    kalau cuman “sekedar dapat bekerja, kampus itu ibarat memproduksi bemo!, sekedar bisa jalan di jalan raya cukuplah, wong kampus lain juga baru sebatas bisa buat bajaj!.

    nah, kampus arsitektur ITS itu selama ini memproduksi “bemo” apa “ferrari” ?,

    salam,
    ongki-ferrari

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    hujan lebat di denpasar pagi ini.
    tadi pagi sekitar jam 4 an, angin galak suaranya bak kapal helikopter.
    saya takut, atap rumah terbang.
    mata saya terjaga dan kuping masih terangkat bak kuping anjing saya saat dia mendengar sesuatu, kupingnya pasti terangkat, hap! ada apa gerangan?
    namun semenit kemudian, saya berusaha terlelap lagi, badan masih terasa capek. pulang kantor jam setengah dua belas tadi.
    suara angin liwat di atas tadi sungguh serem, bunyinya menakutkan.
    2 babies tertidur lelap.

    saya berangkat ke kantor jam 8 tadi pagi,
    hujan mulai tampak sangar.
    banyak pohon yang melorot dan ada sekiat got yang meluap.
    mungkin karena hujan yang ndak henti, istri saya ndak bisa keluar beli makanan buat di masak.
    pikiran saya kesana kemari mencari sesuatu yang bisa di santap pagi ini.
    perut telah lapar.
    saya ingat dengan kfc sanur yang deket dengan kantor.
    saya berlaju menuju pusat hidangan siap saji ini, dan memang pintunya telah terbuka lebar dan konternya telah terisi oleh pelayan pelayannya.
    nampak beberapa orang dari mereka sedang melap lantai dan ada yang duduk di kursi sambil menulis sesuatu.
    saya segera masuk, dan menuju konter.
    “burg…”
    “maap pak, kami belum buka, nanti jam 10″, pelayan segera melahap kata yang belum sempet habis saya keluarkan.
    “oh..ok..”

    hm indahnya pagi ini dengan membawa perut lapar ke sana ke mari. jalanan kota nampak basah dan mulai macet
    setengah sembilan di kantor, masih sepi.
    saya menilpun orang orang yang sedang rapat di SF, tele konferen.
    sembari membuka gambar gambar yang di bicarakan, kerongkongan yang haus dan perut lapar ikut meramaikan rapat antar tempat. komputer agak ngadat..padahal otaknya satu giga!
    orang orang interior dan arsitek yang duduk di masing masing kantornya sendiri sendiri, mereka meraka ini yang bermain dengan milimeter ukuran ruang sementara saya duduk di kantor saya di sanur yang bermain dengan meter ukuran ruang dan beranggapan datang ke SF mungkin hanya untuk menikmati meeting yang sejam dua jam. landskap, presisinya amat flexible.
    mata saya sedikit kantuk.
    “putu, are you still there”
    ” oh..ya..ya, i m so sleepy as you are all only talking about building and interior. so please wake me up by your queries of our work”
    mereka tertawa sambil menawarkan saya secangkir kopi.
    sambungan terputus ntah kenapa, saya coba untuk menghubungi lagi, tapi linenya sibuk.
    ah..sudahlah!

    bos sedang joging pagi ini di bangkok, dia menilpun saya.
    “i m glad you not go to SF”
    “well, i think this is not a bad choice of me, i have my tele conference this morning with them and my time was used only for hearing and sleeping for sure. there was nothing to discuss yet for our works, if any i could solve right away. easy. there are so many thing coming everyday to my email talking about something that not for us”
    “yeah..me too, i just want to say..hey..i dont care about this, they are about 50 emails talking about shaft everyday..oh god!”
    “too funny nah..”
    “everything is ok?”
    “yeah..everything is ok, everyone sitting and working for their own job, and it is hard rain now here in bali. cool huh..”
    and bla..bla..bla..

    perut saya lapar.
    jam sudah di sepuluh liwat tiga puluh menit.
    saya mengambil payung dan bergegas ke mobil. keluar mencari burger yang tadi ndak sempet ke beli.
    makan pagi dulu…yiiuuukkkk.

    jan. 26, 2006

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    saya menerima sms dari sahabat,
    “ulasanku tentang kolam renang ada di jawa pos hari ini”, begitu kira kira bunyinya.
    saya berlari keluar, mencari office boy dan menyuruhnya membeli.
    namun, berita itu tak ada di jawa pos.
    koran ini yang beredar di bali, mengalami “penyunatan” halaman, jadi berita kolam renang dari sahabat ndak bisa dibaca.
    ntah yang diomongin kolam renang apa.
    tapi saya salut!

    beberapa hari yang lalu,
    kembali sahabat mengirimkan smsnya,
    “ulasanku tentang tangga dan ramp, kini ada di jawa pos.
    mumpung saya ada di jalan, saya berhenti di warung koran,
    membeli jawa pos, biar tahu, ulasan tentang ramp dan tangga dari sahabat dekat,
    siapa tahu, saya bisa menambah Elmu darinya.
    tapi,
    lagi lagi saya sial.
    jawa pos memang tak memberikan halaman yang sama banyak, sama seperti saat ia beredar di surabaya.
    saya mendongkol. dan mengiriminya sms.
    “saya rugi 3500 perak”, send!

    lagi lagi saya balas sms sahabat saya itu,
    “ulasan tentang karir saya, dibahas di majalah indonesia design, edisi maret 2007″, begitu kira kira bunyinya
    saya kirimkan lagi sms ke sahabat itu,
    “kalau cuman dibaca di surabaya doang, kapan bisa jadi orang TOP?”, send.

    jauh beberapa bulan yang lalu,
    saya baca di milis kami ini, peluncuran sebuah buku,
    terus beberapa minggu yang lalu, berita open house buku itu kembali di gelar,
    sayang, saya tak bisa datang,
    kemudian,
    tentang, ulasan buku itu di kompas.
    hmmmm…
    nikmatnya

    setahun yang lalu,
    kami mendisain sebuah pulau di singapore,
    ada sebuah pulau lagi yang jaraknya cuman lima belas menit jalan kaki dari pulau yang kami disain,
    tapi pulau ini di didisain oleh rekan kami di bangkok.
    beda pendekatan, beda pemikiran,
    beda tamatan dia s2 urban planning harvard, sementara saya s1 arsitek ITS, s2 landscape architect di JALANAN, interior desainer DI JALANAN!)
    saat kami mempresentasikan pulau yang kami rancang, klien berujar, “desain ini jauh lebih baik dari pulau yang pertama!”.
    saya agak kikuk, untungnya arsitek untuk pulau itu ndak ada di prsentasi kami ini. walau kita satu kantor, tapi ucapan itu cukup membuat saya sedikit terhibur.
    beberapa minggu yang lalu,
    saya ada di singapore untuk pulau ini.
    dan juga untuk pulau yang satunya lagi, dan arsiteknya ada di situ. kami bertemu di pulau yang ia desain.
    alammmmaaaaaaakkkkk…….desainnya ttttooopppppp cer abieeessszzzzz!
    saya jadi berpikir, saya musti bisa berada di atasnya kembali, maklum, klien telah berujar DULU.
    saya musti “merapatkan barisan!
    kami benar benar DIADU!
    tapi saya salut, saya bilang disainya buagus pol!, dia tersenyum.
    dan saya menunggu hasil konstruksi desain yang saya buat di pulau sebelah.

    malam ini,
    saya baru nyampe di bangkok,
    saya ajak 2 rekan,
    mobil jemputan saya belok an ke kantor, maksudnya untuk memperkenalkan dunia kantor bangkok ke 2 rekan ini,
    beberapa artworks yang dipakai untuk 4 seasons di china, mengusik mata saya.
    top abis!
    saya menebak, tentunya anak havard ini lagi yang berkarya, garisnya sama, garisnya amat saya kenal.
    dan memang benar.
    hmmm….

    kompetisi,
    kadang membuat kita merasa terbawah,
    tapi,
    kalau kita bisa membuat diri kita berada di posisi yang benar,
    kompetisi akan membuat hidup semakin nikmat….

    salam,
    o-bangkokian

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 1 Comment


  • Email

    (diskusi yang dipancing oleh mas pranoto di milis arsitektur ITS, 11 agustus, 2007)

    Bli Putu,

    Saya pancing sampeyan untuk misuh lagi.

    Siapa tahu pisuhan sampeyan mengagetkan resi Josef dari nikmatnya mendengar suara perkutut Jawa.
    Mbah Petungan sudah resmi memeluk agama arsitektur Jawa, sebagai agama tidak resmi beliau.

    Arsitektur Jawa jelas jelas adalah nilai warisan yang tidak boleh berlalu begitu saja, sehingga jangan seperti suara knalpot Bajaj.

    Maka, si mbah merelakan dirinya memeluk erat erat Arsitektur Jawa sambil berusaha menularkan virus luhur bin adiluhung.

    Baiklah.

    Saya ingin memenggal segala pondasi bangunan budaya yang seolah sebuah nilai waris tanpa gugat.

    Persis seperti para makelar tanah yang tiba tiba bilang, bahwa hak tanah Kemang Village gugur dengan sendirinya,

    Karena pewaris asli adalah mbah Jambrong yang dapat surat dari Kompeni pada masa Sultan Agung menyerang.

    Jadi, si makelar nggugat bukan lagi pemerintah DKI, BPN, atau bahkan bukan pemerintah RI, tapi nariknya mulai dari jaman kumpeni.
    Dimana sumber kapak gugat saya ?,

    Di kepala kita dan di memori.
    Analog dengan komputer, para memori yang menduduki kehormatan untuk duduk di BIOS, adalah yang pertama memerintah bagaimana selanjutnya si komputer bekerja.

    Dialah yang menentukan, kedudukan memori memori selanjutnya, mau berapa giga pun diatasnya, tetaplah si BIOS dibaca duluan sama si komputer.

    Dalam ilmu jaringan NGN (Next Generation Networks), merekalah yang nangkring di Core Network, dan beroleh ke agungan mahkota 3GCN.

    Saat inisiasi Core Network, maka segala perilaku maupun urut urutan pemuatan menurut saja logika yang di susun oleh mas BIOS yang nangkring di low level.
    Hari ini saya mau nakal dan mengaduk ngaduk memori yang tidak tampak di depan layar komputer.

    Supaya ndak muter muter, langsung saya tarik ke permukaan yang tampak di layar.
    Kalau nyebut Delhi, saya koq cenderung meng identifikasi kan dengan taksi Fiat kuno 1100, Bajaj pakai CNG dengan argo dan Kingfisher.

    Sama sekali bukan Taj Mahal, mungkin kompleks Nizamuddin lebih India saat malam hari.

    Apalagi saat sang bajaj meliuk liuk cari solusi….
    Kenangan saya mengenai Yogya masa lalu, ya huruf huruf iklan yang tersusun indah dan tipografi nya menarik, Malioboro, suara pedagang yang khas di Bering Harjo,teater Gandrik dan tentu saja bahasa sampakan.

    Kehadiran Borobudur dan Prambanan, tidak serta merta membuat ada hubungan dengan kota Yogya dalam memori saya.

    Ini benar: ada teman saya kalau ditanya dulu, kemana tujuan utamanya kalau ke Yogya, maka, dia bilang ke Bering Harjo.

    Belanja apa?,

    Ndak belanja apa apa, Cuma mau nawar dan dari sana bisa ngobrol sama pedagang, mendengar dialek Yogya dan di selingi minum dawet.

    Nah, kalau udah gitu, itu baru namanya ke Yogya….

    Logika begini, benar benar merusak kaidah landmark suatu kota.

    Kenangan tentang Jakarta, mungkin sudah bukan Monas lagi,

    Orang akan teriak: Ya, saya di Jakarta !,
    Kenafa ? Karena tiba tiba terhambat macet di jalan bebas hambatan.

    Banyak yang curiga kalau Zouk di Singapore mulai jadi landmark melebih patung Merlion,
    Grand Bazaar Istanbul lebih kuat meninggalkan gores memori daripada Hagia Sophia,
    Petronas Tower jelas sudah menggeser aneka peninggalan lama KL.
    Kalau saya mah, jelas nasi kandar Pelita adalah landmark nya KL.
    Dan landmark nya Comal jelas kepiting Prima.
    Kadang sang landmark tidak melulu berupa bangunan keren, bisa juga sekedar stasiun kereta macam subway Moskow yang begitu khas.
    Artinya, ada tawuran di kepala untuk adu kuat siapa yang memberi kesan lebih dan layak menjadi bagian dari label suatu daerah.

    Kita tahu kalau kita di Bangalore, karena begitu banyak orang seliweran pakai tas laptop dan pakai jaket Comverse, TechMahindra, Microsoft dll.

    Kita tahu, bahwa kita di Saudi, kalau lihat plafon toko kelontong selalu bertaburan lampu neon,

    Kita tahu, bahwa ini pasti Gaza, bukan dari Piramida, tapi dari angkot VW Combi putih tanpa pintu yang berkeliaran,

    Kita tahu, bahwa ini Isfahan, bukan dari reaktor nuklirnya, tapi dari Peugeot 405 yang berkeliaran dimana mana,

    Kita tahu, bahwa kita mendekati Damaskus, saat terbangun dan melihat bus bus diseberang sana jalan dengan kap mesin yang sengaja dibuka,

    Dan jangan lupa, para schumacher gagal yaitu para sopir Suzuki pick up yang ngebut menembus gang gang selebar 2 meter di Aleppo,
    Apa ini sama dengan fenomena orang yang lebih suka duduk di tangga, meski sudah di sediakan kursi ?,

    Gimana nih Bli ?,

    Salam ndak bisa tidur, Jakarta 11 agustus,

    Pranoto

    putu menjawab :

    “Kadang sang landmark tidak melulu berupa bangunan keren, bisa juga sekedar stasiun kereta macam subway Moskow yang begitu khas
    Artinya, ada tawuran di kepala untuk adu kuat siapa yang memberi kesan lebih dan layak menjadi bagian dari label suatu daerah…Salam ndak bisa tidur, Jakarta 11 agustus, pranoto, aug., 11, 2007 di ars-its@yahoogroups.com ”

    mas pranoto,
    di luar sana,
    ada lahan yang yang diberi label “golkar”, “demokrat”,
    ada juga yang diberi nama “PDI P”, ada juga “landmark” yang baru saja dibentuk.

    nah,
    pertanyaan sampeyan tak kembalikan lagi ke sampeyan tapi tak plitir sedikit:
    yang menjadikan semua “label” diatas menjadi satu satunya “landmark”, siapa sih?
    apa gus dur?
    apa SBY?
    apa mbah jombrang?

    kalau tahun lalu, label “demokrat” menjadi landmark, saya tak yakin “label” ini akan tetap menjadi landmark,
    kenapa?

    di arsitektur, perubahan adalah “wajib”.
    “grow up” adalah hal yang mutlak!

    semoga senin yang indah,
    salam dari bilik dosa,

    o

    rekan andi me reply ;

    Walah ini sama saja dengan pertanyaan atau pernyataan
    :
    Pengen tau si anu agamanya apa ?
    Jawabannya bisa aja :
    1. Lihat aja di KTP-nya, islam, kristen, katolik,
    budha ato hindu.
    2. Lihat aja kelakuan ibadahnya, kalo sering ke mesjid
    ya islam, kalo sering ke gereja ya pasti nasrani, kalo
    sering ke pura ya pasti hindu.
    Tapi yang jelas engga pernah dibahas adalah kualitas
    akhlak si anu…

    Lha kalo arsitektur menjadi agama tidak resmi, yg jadi
    pertanyaan adalah tuhannya siapa, siapa nabinya dan
    kitab sucinya apa ? Kata Bli Putu Ongki bahwa di
    arsitektur, perubahan adalah “wajib” dan “grow up”
    adalah hal yang mutlak! Maka kitabnya bisa
    berubah-ubah dan mengalami perkembangan… Walah
    umatnya bisa kacau eker-ekeran….

    Arsitektur boleh men-jawa atau men-padang atau
    men-irian, tapi yg pasti sekarang gebyok kamar
    dijadikan muka rumah, sentongnya malah ilang, apalagi
    pendopo. Sudah salah kedaden. Masak tamu tidak lagi
    masuk pendopo, tapi langsung masuk kamar ??? Apa yg
    mau disuguhkan ??? Teh, kopi atau malah susu jaran
    goyang ??? Uedan wenak tenan…

    Nah kalo ‘penjaga’dunia arsitektur aja suka mengacak2
    pakemnya sendiri, kira2 bangga engga kita jadi arsitek
    ?

    putu menjawab rekan andi :

    Walah ini sama saja dengan pertanyaan atau pernyataan

    ongki : terkadang memang begitu. kenapa musti pertanyaan dijawab oleh sebuah jawaban?
    hidup kok terlalu gampang. apakah ndak boleh pertanyaan kemudian dijawab dengan pertanyaan?. apakah kasus seperti ini tidak ada di publik?,
    saya menyelipkan “kreativitas” pemikiran si penanya agar kemudian otaknya bermain main.
    saya ingat beberapa pilem pilem menerapkan ending yang melibatkan penonton untuk berpikir kemudian “bagaimana akhirnya?” sebuah pilem yang digarap. the inggredible, contohnya.
    diskusi akan berlanjut, dan berlanjut, karena ada “orgasme terputus” di sana.
    pada kasus studio kami di sanur, kalau saya menemukan gambar yang digarap salah, saya hanya bilang, “mas, gambar kamu salah!”.
    dan dia akan bertanya, “salahnya di mana pak?”.
    “mbuh, kamu saja yang nyari, saya akan ke mejamu 30 menit lagi, tolong temukan!”.

    :
    Pengen tau si anu agamanya apa ?
    Jawabannya bisa aja :
    1. Lihat aja di KTP-nya, islam, kristen, katolik,
    budha ato hindu.

    ongki : ini sudah OOT, tapi okelah, melenceng sedikit. cobalah datang ke tengger di bromo sana. orang di KTPnya beragama NIKON, tapi realitasnya dia beragama CANON, kenapa? jawabannya simple, “ikut arus!, kalau ndak, mereka tidak dapat fasilitas hidup!.
    apa yang ter”ketik” di kertas, belum tentu begitu adanya.
    kemarin saya terbang dengan business class garuda. pramugari datang ke meja saya membawa sebotol aqua dan akan menuangkan aqua ke gelas saya yang kebetulan isinya sudah setengah. saya stop dia dan bilang, “bu..ini sprite!”

    2. Lihat aja kelakuan ibadahnya, kalo sering ke mesjid
    ya islam, kalo sering ke gereja ya pasti nasrani, kalo
    sering ke pura ya pasti hindu.

    ongki : ini sudah melenceng dari rel kita.
    kata “agama” yang dimaksud pada posting pertama mas pranoto, pengertiannya lain dengan kata “agama” yang sampeyan bahas di point ini.

    Tapi yang jelas engga pernah dibahas adalah kualitas
    akhlak si anu…

    ongki : yang beginian mah, diserahkan ke masing masing person. kenapa musti dibahas?, sepertinya NTE tak kenal lagu “manusia setengah dewa” nya iwan fals yang saya nyanyikan kemarin lalu.
    budek kali ya…

    sekali lagi, bahasan ini telah melenceng dari rel.
    seharusnya kita bisa duduk sama tinggi dan berdiri sama rendah memaknai “agama” yang dilontarkan.

    Lha kalo arsitektur menjadi agama tidak resmi, yg jadi
    pertanyaan adalah tuhannya siapa, siapa nabinya dan
    kitab sucinya apa ?

    ongki : profesi saya arsitek. tertulis di KTP. saya memaknai arsitektur bukan sebagai pembahasan tentang building. lebih dari itu. saya dapat dari persetubuhan saya selama ini dengan arsitektur. di otak saya, dalam arsitektur, tuhannya adalah alam ini. kalau sudah berbicara dengan alam, kita tak akan lepas dari DIA yang ada di tiap mahkluk.
    dari kaca mata makna arsitektur ini, kalau mau lebih spesipik, tidak ada beda antara tuhan agama A, tuhan agama B dengan siapa tuhan nya “ARSITEKTUR”.
    lha..kemudian kalau ada pertanyaan, siapa tuhannya anjing? sama?
    kalau kemudian ada pendapat beda, misalnya dari sampeyan.. ya itu wajar.

    Kata Bli Putu Ongki bahwa di
    arsitektur, perubahan adalah “wajib” dan “grow up”
    adalah hal yang mutlak!

    ongki : hidup itu selalu berubah. lihat saja kejadian tiap hari disekeliling anda. ini kalau kita melihat arsitektur dari kaca mata yang saya sebut di atas.
    kalau dulu dalam arsitektur ada “arsitektur tradisional”, lha jaman kan kini telah berubah. arsitektur tradisional kini mungkin telah berada di tumpukan yang paling bawah, walau sesekali timbul tenggelam dipakai sebagai style.
    “tubuh” kan selalu “grow up”. lha mana ada orang buat rumah cuman berhenti di tahap pondasi. stop terus tak berkembang?
    mana ada pohon jambu stop berkembang pada tahap akar doang?
    mana ada gambar stop berkembang pada setitik garis saja?
    mana ada hari cuman di isi oleh senin aja trus berhenti?

    saya sulit men-judge pola pikir sampeyan…
    ya karena kita membahasnya dari tempat yang berbeda.

    Maka kitabnya bisa
    berubah-ubah dan mengalami perkembangan… Walah
    umatnya bisa kacau eker-ekeran….

    ongki : dalam pemikiran saya, arsitektur yang saya pegang berkitab “jangan merusak alam. hiduplah dengan cinta melalui arsitektur. di arsitektur. di alam ini.
    jalan ke arah ini, buanyak!. itu yang selalu berubah. karena apa? karena proses “kreativitas”. saya percaya, arsitektur, alam ini, dicipta melalui proses “kreativitas”.

    Arsitektur boleh men-jawa atau men-padang atau
    men-irian, tapi yg pasti sekarang gebyok kamar
    dijadikan muka rumah, sentongnya malah ilang, apalagi
    pendopo. Sudah salah kedaden. Masak tamu tidak lagi
    masuk pendopo, tapi langsung masuk kamar ??? Apa yg
    mau disuguhkan ??? Teh, kopi atau malah susu jaran
    goyang ??? Uedan wenak tenan…

    ongki: dalam hidup, dalam arsitektur, di alam ini, dikenal istilah “fashion-able”.
    fashion-able, telah dikenal sejak jama “awal” hidup.
    fashion, tak hanya ada di mahkluk yang disebut manusia, wong anjing saja mengerti apa itu “fashion”. anjing saya 5, semuanya musti ke salon tiap 2 minggu. biar cakep gituh lohh..
    dalam “fashion”, adalah sah jika saya kemudian membuat meja yang kakinya ke atas, menerobos paham gravitasi.
    kenapa, itulah kreativitas.
    tubuh saya yang berKTP bali, apa salah kalau sewaktu waktu berbaju ala padang?
    musti ada pemahaman yang mendalam dalam mengertikan : “kulit” – “tubuh” dan “isi”.

    Nah kalo ‘penjaga’ dunia arsitektur aja suka mengacak2
    pakemnya sendiri, kira2 bangga engga kita jadi arsitek
    ?

    ongki : saya bangga menjadi arsitek. saya bangga akan guru guru saya, kampus saya, rekan rekan se almamater. mereka selalu ada di samping saya saat saya menggambar. guru heroik saya tetap DIA yang terbesar. kalau DIA telah mendisain seAPIK INI, kanapa sang murid musti mengacak acaknya?
    mana ada guru mengajari musidnya untuk merusak arsitektur.
    justru saya musti ikut membuatnya semakin bagus. arsitektur, di dalamnya ada sebuah pembelajaran bagaimana menghormati alam, merawatnya dan mendevelopnya agar semakin baik. termasuk mendidik otak otak berpikiran semrawut kayak kang andi
    he he he..

    buat mas pranoto,
    sampeyan telah puas dengan jawaban saya?

    salam dari bilik DOSA,
    o

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    _dsc0393.jpg

    ada beberapa yang saya temui baru kali ini.
    ntah siapa mereka, saya tak ambil pusing.
    mungkin konsultan konsultan yang baru gabung di proyek ini.
    saya tetap menyibukkan diri untuk mempersiapkan gambar.

    orang orang yang baru kali ini saya temui, nampak sedang membagi bagikan kartu nama mereka.
    akhirnya sampai ke muka saya.
    dua kartu nama nyantol di tangan saya;
    david chislett, FCSI
    pricipal

    joey hsu
    director of marketing-asia

    keduanya dari kantor yang sama, umurnya 40 tahunan kali,

    kemudian datang lagi seseorang, lawrence d. lee, IALD-principal

    saya pun memberikan kartu nama,
    beruntung di kartu nama saya tertulis, putu mahendra-managing director!
    ha ha..

    begitulah,
    jangan pernah keder terhadap lawan main,
    sekalipun kita baru tamat sd,
    saya selalu berpesan di studio, bahwa unjuk gigi itu perlu saat ada sekian kekuatan yang telah mewarnai latarbelakang gerak kita.
    walau sekolah kita tak mengenal gerakan kita,
    setidaknya mereka diluar telah tahu..

    salam winter,
    o A65
    jan9, 2007

    Popularity: 2% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    saya penggemar berat buah durian. terutama durian bangkok.
    saya perkenalkan buah durian ke anak pertama saya saat dia berumur 2 tahun. ia memakan satu biji.
    adiknya, juga penggemar buah durian.
    kami sekeluarga penggemar berat buah ini.
    dari jarak sekilo, mungkin baunya udah tercium.
    menyengat!
    kami menanam buah durian bangkok di desa.
    kebetulan ada ladang secuil.

    bulan desember lalu, ada arsitek kami yang berhenti dari sanur.
    Namanya mas X.
    setelah dia melewati “masa pubertas”, saya tanya ke dia, apakah ia akan melanjutkan disini atau pergi mencari peluang lain.
    karena peluangnya masih ada buat dia untuk melanjutkan ke tahap berikutnya.
    kenapa musti saya tanya?
    jam kerja kita amat gila.
    super gila!
    saya ndak mau dia menjadi gila karena ndak punya jam pribadi barang sejenak buat nonton tipi misalnya.
    saya ndak mau ia kerja tertekan.
    tidak ada happines.
    dia menjawab saat itu, dia mau berhenti bulan desember nanti. karena akan melanjutkan studi ke belanda.
    mengambil urban planning, katanya.
    saya senang ada dari kita akan studi lagi.
    saya merelakan dia meninggalkan kami di desember itu saat kami tutup kantor untuk libur tahunan.
    kami beri dia bonus dan surat referensi kerja, walau baru 5 bulan. saya ingin dia happy diluar sana.
    saya ingin dia menjadi student urban planning kelak dan bekerja ditempat yang lebih baik dari studio kami.
    saya ingin dia kelak punya jam jam yang tak ketat seperti kita di sanur.
    saya berharap dia “menjadi” kelak.

    hari ini, teman saya datang ke ruang saya.
    “tu, tadi babe nilpun. dia nanya si “x”, katanya dia melamar kerja di singapore dan membawa gambar gambar kita. babe ditilpun tan hock beng. tapi si “x” ini ndak ngelamar di studionya hock beng, ntah di mana gitu di singapore, mungkin tempat di mana si “x”ini melamar kerja-ngontak hock beng dan kemudian hock beng kontak babe!”.

    saya tertegun.
    katanya meneruskan studinya, kenapa sekarang ada berita begini?.
    trus dia membawa gambar gambar kita yang sedang hot hotnya dikonstruksi di singapore.
    hitungan detik, kabar pasti akan tersiar sampai ke bangkok dan bali.

    dia ndak tahu, gambar gambar itu dan tanda tangan saya di referensi kerjanya bak buah durian,
    namanya juga buah durian……
    baunya menyengat!

    ongki-petani durian yang sukses

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email

    ada sekitar 5 kerjaan di singapore.

    dulu, ke singapore cuman transit doang,
    kala ke china, berhenti beberapa menit di singapore
    jadi pingin tahu, singapore kotanya kayak apa an ya?
    kata orang, dilarang buang rokok di sembarang tempat,
    dilarang berludah di publik area (beda banget ama di china!)
    dan dilarang ini itu lainnya,
    kalau ndak, denda!

    “hidup di singapore musti selalu kerja”, chuah bilang ke saya.
    “walau saat kamu tua sekalipun!”.
    busyet!

    aturan main dalam mendisain,
    di singapore ribet ala makkkkkk banget.
    kuping ini sampe merah saat tahu gambar musti di revisi, revisi dan revisi..gara gara rules.

    benar benar designed is FUCKED BY THE RULES!
    semboyannya gus dur kayaknya ndak berlaku di sini
    “gituh ajah kok rehpot…..”

    sementara saya,
    dihari yang sudah pagi ini,
    masih saja di FUCKED BY THE INTERNET

    tidur ah,
    lupaKEN dulu gambar,

    ongki-sing

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 1 Comment


  • Email

    (diskusi di milis arsitektur ITS, june 7, 2006)

    kalau tukang, mereka bekerja sesuai dengan perintah apa yang diinginkan klien. tukang tidak menciptakan sesuatu yang baru.
    saya selama ini, selalu mencipta, selalu yang baru dan memberikan pengaruhnya kepada si pemakai. beda tukang dengan arsitek di situ.
    saya tahu, mungkin sampeyan ndak pernah berada diproses tersebut selama ini.

    singa menjadi tikus atau gajah, maksud saya adalah tamatan arsitek yang dirubah pasar karena keadaan. atau juga tamatan lain yang kemudian berkerja tidak dibidangnya. mereka bisa menjadi jagoan dibidang baru tersebut atau hanya blowing with the wind..

    architecture refer to ando, is the box that provokes,
    architecture refer to putu, is the body itself, your body, the body where you live.

    adik raja ubud hanya menjadi arsitek buat propertynya sendiri. tidak ada klien lain selain dirinya menggunakan dia sebagai arsitek.

    arsitek sejati, apapun maunya dia dan terlaksana tanpa reaksi penolakan secuilpun, yang saya tahu cuman bisa dilakukan oleh tuhan.
    he he..
    sudah hampir 12 tahun saya berkarya, memberikan konsep ide yang murni dari kita, akan selalu bersebrangan dengan klien.
    kita berangkat bersama sama menuju apa yang kita inginkan.
    tidak bisa frontal musti sejalan.

    pasar melirik, lebih karena hasil kerja, bukan nama (dulu). kalau hasil kerja kita bagus maka dengan sendirinya nama kita akan banyak dihirup..

    romo mangun, arsitek kaya. tapi bukan di materi. namanya kaya bukan karena dia kaya akan karya. karyanya cuman secuil tetapi monumental.
    saya kaya, tetapi bukan di uang. pengalaman saya seabreg melebihi pengalaman guru saya (kali). maka saya pantas bilang bahwa menjadi arsitek bisa kaya (bukan uang), setidaknya air kencing sudah membekas di mana mana (walau tak selebar cak pranoto)

    bagi mereka yang berprofesi arsitek fresh dan nyantol di sini,
    saya berpesan,
    untuk menjadi arsitek yang mapan, mungkin susah kalau dengan berjalan sendiri, berpraktek sendiri.
    saran saya, sampeyan musti bisa nyantol di firm arsitek yang bernyali, plus, sampeyan musti bisa berkerja pada tempat ini paling sedikit 10 tahun lamanya, agar sampeyan mengerti akan arah mana yang dituju dan menemukan jati diri.
    kalau melihat arsitek super star di indonesia, djuhara (eks PAI) sonny (eks DCM), irianto (eks PAI), yori (dengan hans awal), andra martin (eks hadiprana), mereka habisakan waktunya bergulat dengan firm besar sebelum menjadi posisi sekarang.

    kalau hanya mengandalkan gerak sendiri, takutnya sampeyan menjadi anggota dari “orang orang protes”, bahwa ternyata “hanya menjadi lonte ternyata yang bisa kaya”.

    o

    On 6/7/06, Joe <athayadutasarana@telkom.net> wrote:

    Untuk memeriahkan “perseteruan” kali ini ,saya coba lempar sesuatu yang agak kontroversial.

    Kalau melihat pembicaraan2 sebelum ini saya mendapat pemikiran bahwa ada sesuatu yang missing yang mengakibatkan pendapat yang gak ketemu , dan lalu semuanya menjadi SALAH nampaknya. sehingga sampai saat inipun tidak ada jawaban yang memuaskan saya , tentang kepastian seseorang boleh – tidak boleh menyebut dirinya REAL ARSITEK (jawaban semua orang adalah arsitek sama sekali tidak memuaskan saya ), kenapa demikian ? , karena menurut saya ujung dari kedua kubu jawaban sebelum ini akhirnya merujuk pada suatu hasil bahwa kita semua sebenarnya adalah TUKANG belaka , bukan ARSITEK , baik yang bekerja dibidang arsitektur ataupun menyerempet2 itu.

    Saya coba saring beberapa pointers penting,
    pertama : suatu pendapat seorang real arsitek tidaklah singa yang menjadi tikus , yang diartikan dialah yang seyogyanya menjadi penentu kebaikan tentang satu obyek arsitektur itu.
    kedua : tidak ada garapan arsitektur maka orang tidak bisa jadi arsitek tentu saja, yang ada hanya menggambar di kertas
    ketiga : pendapat bahwa seorang real arsiteker adalah “the box that provokes” (terus terang saya kepingin membacanya , dimana?)

    Semua itu nampaknya berujung pada satu-satunya kesamaan yang hampir pasti benar yaitu ” the Project” , sehingga kalau seseorang ingin bisa disebut menjadi REAL ARSITEK , benar-benar yang tanpa ada intrusion dan halangan ,murni dari siapapun tentang karya itu , maka dia harus menjadi “OWNER” of the projet , really own the “BOX ” , bagaimana caranya? tentunya dia harus “kaya ” dulu , baik KAYA secara materiil dan menjadi Donald Trumps misalnya atau paling tidak seperti adik nya raja UBUD ;) , atau KAYA “NAMA” , sehingga the owner pasrah bongkokan , gak pake tanya macam2. wis opo jaremu (sesuatu hal mustahil , bukan?), Untuk jadi kaya secara materiil , gak usah dijelasin , untuk bisa Kaya Nama , maka prosesnya macam2 , get the trust supaya pasar “ngeh” dengan karyamu bukan semudah membalik telapak tangan , you harus jadi tukang dulu dari paling bawah dan manut apa kata bowheer,get his trust, membuatnya terlena ,dan lama2 pasrah (itu kalau proyeknya terus berlanjut) atau “promote beyond your actuals” ke publik istilah kerennya MArk UPs , atau hitchiking with the pro’s sehingga lama-lama you sendiri cepat dikenal. Semua cara adalah SAH

    Intinya dia lah yang memiliki “project” itu (big and small) baik secara Actual ataupun Literal , sehingga tidak ada rintangan segi “apapun” juga untuk mewujudkan apa-apa yang dianggapnya “baik” , itulah “Arsitek” sejati yang sesungguhnya menurut saya, diluar itu semua maka adalah “tukang” belaka saja belum pantas menamakan diri Arsitek.

    JAdi pernyataan ” Arsitek bisa juga jadi Kaya” adalah sebuah kekeliruan , yang benar adalah ” loe harus jadi kaya dulu untuk bisa jadi arsitek” :)))))

    Nah lo

    Joe A20

    Popularity: 2% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 21 Apr 2008
  • 0 Comments


  • Email