ada berita dari seberang sungai,

anjing pak kepala desa meninggal, kena santet.

orang berduyun-duyun melayat.

membawa bungkusan sebagai tanda belasungkawa.

orang orang berpakaian hitam hitam.

berkaca mata hitam.

matanya sembab.

mulutnya monyong dower karena lama menangis.

jalannya lesu, karena banyak darah keluar dari mata.

awan menebal.

matahari menyelinap ke garasi,

dan angin berhenti bertiup.

dan pak kepala desa semaput.

sejak anjingnya meninggal kena santet 3 hari lalu, dia pingsan.

belum sadar hingga kini.

aku termangu.

masih ada santet di saat masing masing pembesuk itu, membawa ipad dan iphone 6+?

masih ada santet di saat kaki kaki para pembesuk itu, berlapis prada?

di saat berseliweran mereka dengan mobil berbau dealer?

aku menguap.

meludah ke angkasa.

siapa tahu pantat tuhan terkena ludahku.

*

ada email datang dengan sendirinya di hadapanku.

ntah bagaimana cara kerjanya, tiba tiba tulisan dengan sekian huruf mati dan huruf hidup sampai begitu saja.

klik.

enter.

send.

sedetik kemudian, ada di depan hidung penerima.

tanpa pak pos.

aneh.

ajaib.

mungkin begitu juga cara kerja santet.

pengirimnya tak jelas siapa.

dikirim liwat apa, via pos? via internet? atau dikirim langsung dengan tangannya sendiri?

tak ada yang tahu.

tiba tiba, doar!.

yang disantet, mati!.

katam!.

*

kepalaku pusing, mikirin santet.

jangan jangan, aku telah kena santet!

terbukti kini,

bahwa aku sendiri.

menepi.

di dalam tanah.

digerogoti ulat bangkai.

di atas sana,

terpampang namaku.

putu mahendra-arsitek berkelas.

lahir tanggal satu, bulan empat belas, tahun seribu sembilan ratus tujuh puluh dua.

meninggal tanggal dua, bulan lima belas, tahun duaribu duaratus lima belas.

 

Popularity: 1% [?]



POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 28 May 2015
  • 0 Comments


  • Email
    hari ini ada anjing bercerita kepadaku.
    aku menikah dengan seorang lonte, katanya.
    aku ingin dia, wanita lonte itu, bisa berhenti menjadikan dirinya santapan kaum laki laki binal, katanya lagi.
    aku ingin dia, si wanita lonte itu, berubah menjadi wanita terhormat.
    makan dengan uang terhormat, bukan uang hina. walaupun jumlahnya secuil.
    aku ingin melupakan masa lalunya, sebagai wanita lonte. penyegar suasana haus kaum laki.
    pemberi dahaga sorga bagi kaum pemilik penis.
    begitu ia bercerita dalam sebuah bus malam menuju kota malang.
    gelap di luar.
    desing angin berhembus kencang sesaat ketika bus saling salip dengan kendaraan lainnya.
    langit temaram.
    bintang bersembunyi di balik gelap, kupingnya mencuri pembicaraan kita.
    cita-cita yang begitu tinggi.
    *

    “wanitamu bahagia?”, aku bertanya.
    asap mengepul dari mulutnya.
    matanya menerawang.
    mulutnya yang moncong, penuh dengan liur.
    sekali lagi mengepulkan asap rokok.
    “hari pertama kami menjadi suami istri, aku memanggilnya lonte”, katanya.
    “hari ke dua, aku memanggilnya lonte”,
    “hari ke tiga dan selanjutnya, kapanpun aku melihatnya. aku selalu memanggilnya lonte”, katanya.
    terkesima aku.
    “aku tak punya nama lain selain lonte, untuk memanggilnya. toh masa lalunya yang melatarbelakangi begitu. salahkah?”, katanya.
    terkesima lagi.
    “bagaimana kamu bisa membawa wanitamu malupakan masa lalu dengan tetap memanggilnya lonte?” aku bertanya.
    anjing itu terkekeh.
    “kamu lupa, bahwa aku adalah anjing?”.

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 28 May 2015
  • 0 Comments


  • Email
    datanglah ke bali.

    melihat bebukitan.

    sawah dan ladang.

    daerah jimbaran yang tandus.

    ubud yang menghijau dan ramai bunyi pepahatan dan suara gong.

    tanah yang subur di mana kita berpijak dan nantinya sebagai lahan menanam bangkai.

    bagi sebagian arsitek “luar” yang mencari makan di bali,

    dan semua pemuda pemudi lokal yang berprofesi sebagai arsitek;

    lahan lahan berkontor dan lebat oleh vegetasi,

    dibabat habis,

    kontor dipotong bak memenggal leher kebo.

    pepohonan dan semua vegetasi dicukur seperti mencukur rambut kemaluan.

    etika ini memang tak serta merta diatur dalam sebuah undang undang,

    semua orang berhak untuk melakukan segala hal terhadap tanah di mana berpijak.

    kalau sudah merasa bisa memperlakukan jongos jongos pekerja yang menggarap proyek dengan baiknya,

    mungkin sudah dianggap terlalu tinggi presetasinya,

    lebih tinggi ketimbang membuka hati utk memperlakukan tanah yang alami dengan bijak.

    di sebuah hutan lebat di ubud,

    saya bilang dengan hormat untuk tak membakar lahan hanya gara gara sepuntung rokok saat melihat sebagian besar dari rombongan mulutnya mengeluarkan asap.

    saya ingat sonny sutanto saat mengajak saya ke immigrant saat restaurant ini belum kelar.

    menghardik para pekerja yang ketahuan merokok di dalam ruangan di mana jobnya sedang digarap.

    beberapa hari lalu saya menerima sms, ‘kamu kurang ajar!”.

    mungkin saya telah mencuri wakul nasi dia atau memperkosa istrinya.

    banyak orang baru bisa berteriak teriak kurang ajar terhadap yang lainnya,

    tanpa tahu bahwa dirinya sendiri juga telah melakukan hal yang kurang ajar pada sudut mata yg lain,

    sama pahitnya dengan berteriak hore karena kita begitu “care” dengan para jongos pekerja,

    tapi tak terlalu perhatian dengan tanah di mana kita berpijak.

    (karena mungkin tanah kita berpijak, hanya dipakai nantinya untk menanam bangkai)

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 18 May 2015
  • 0 Comments


  • Email
    ibu saya dan bapak saya, saat saya di SMA dulu masih memakai cincin kawin.

    saat saya beranjak kuliah, mereka masih memakai cincin itu.

    saat saat saya ada di semester besar dan menuju tugas akhir, cincin itu sudah tak pernah lagi dipakai.

    katanya, dijual untuk beaya saya kuliah.

    itu mungkin kekayaan terakhir yang mereka jual untuk beaya saya kuliah.
    *

    saya menikmati jerih payah bapak dan ibu saya kini.

    hidup saya serba cukup.

    adik adik juga sudah pada bekerja.

    saat saya sering bepergian ke china,

    ibu saya berpesan untuk dibelikan cincin dari batu giok.

    saya belikan saat saya ada di guangzhou.

    berwarna hijau.

    dan ia pakai sepanjang hari.

    saya ingat masa lalu,

    saat mereka, orang tua saya, masih memakai cincin kawin.

    cumak bedanya, saya hanya menyaksikan cincin berwarna hijau itu di jari ibu saya.

    karena bapak sudah hilang, menyatu dengan air dan udara.
    *

    makanya,

    kini saya sering berpikir,

    bahwa kekayaan terbesar yang diberi orang tua saya kepada anak anaknya adalah cumak satu.

    pendidikan.

    ingat pesan bapak saya terhadap saya di hari hari akhir sebelum ia menghilang.

    sekolahkan anak anakmu setinggi mungkin.
    *

    air mata saya sering tergenang.

    saat berada di ruang kerja saya.

    ditemani sekian arsitek muda untuk sekian job prestisius.

    kaki saya tak beralas menyatu dengan lantai.

    berasa dingin.

    mungkin begini dingin saat berada ditanam di bawah tanah sana.

    sama dinginnya saat bapak saat dibalut es.

    semoga cincin berwarna hijau yang dipakai ibu saya, membuat ia hidup semakin hangat.
    *

    amin.

    Popularity: 45% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 30 Apr 2015
  • 0 Comments


  • Email
    banyak hal bisa dipetik dari penglaman kita;

    salah satu kontraktor telah memenangkan tender atas gambar satu restaurant di langkawi.

    dan piling sudah kering berdasar gambar yang dimenangkan oleh kontraktor itu.

    mendadak kemudian gambar berubah;

    buildingnya berubah.
    interiornya berubah.
    kita meeting dengan representative klien.
    saya di sanur.
    boss kita di bangkok.
    representative klien di langkawi.
    menggunakan produk masa kini;
    go to meeting.
    bukan sulap bukan magic.
    gambar perubahan total itu lancar dicerna dan diterima.
    orang struktur mengulang menghitung.
    anak anak mengulang menggambar dari nol.
    kontraktor datang jauh jauh dari KL untuk mengertikan semua perubahan.
    saya merenung.
    bukan sulap,
    bukan juga magic.
    ini sebuah kenyataan dari sebuah proses.
    proses mengertikan bahwa segala hal bisa terjadi.

    Popularity: 2% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 22 Apr 2015
  • 0 Comments


  • Email

    kadang,

    saya malu dipanggil jro.

    terlalu tinggi, menurut saya.

    di satu sisi, saya belum bisa apa-apa.

    baru bisa meraba-raba.

    apalagi lawan bicara membalas omongan saya dengan tutur kata yang lebih halus.

    jadi kikuk.

    nabe saya di singaraja, menyuruh saya untuk segera mewinten ke tingkatan yang lebih tinggi.

    jro mangku gede.

    dengan “pangkat” yang sekarang saja, saya tak bisa me-mantra.

    tak mengerti dengan be-banten-an.

    menyelesaikan upacara kecil saja, masih gagap.

    terkadang,

    saya malu dipanggil jro.

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 22 Apr 2015
  • 0 Comments


  • Email
    “kamu punya tempo cepat.

    ngerjakan ini, ngerjakan itu.

    terbang sana, terbang sini.

    check sana, check sini.

    urus ini dan itu.

    kalau sekarang kamu berhenti,

    ada sekian kepala bergelayut di pundakmu,

    hidup dengan tempo lambat dengan tiba tiba,

    jangan-jangan akan membuat kamu sakit”.

    (desa lukluk, badung. 30 maret, 2015)

    Popularity: 2% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 6 Apr 2015
  • 0 Comments


  • Email
    gambar sudah di level CD.

    construction drawings.

    beratnya bukan 50%.

    bukan juga di 75%.

    tetapi sudah 100% CD.

    untuk paket interior dan arsitektur.

    gambar itu juga sudah disebar ke kontraktor, untuk ditenderkan.

    piling sudah selesai.

    beberapa minggu lalu,

    datang telegram dari sebarang,

    isinya bikin sesak.

    fasade dan interiornya dirubah.

    wow!.

    *

    saya termangu.

    lama terdiam.

    memandangi desain lama yang kini akan dirubah.

    sketsa datang dari seberang.

    sekian image kursi dan meja serta pernak pernik lainnya bertubi tubi datang dari langit bak hujan deras tanpa mendung.

    anak anak tanya,

    ini mau diapakan?.

    saya jawab enteng, “lakukan saja”.

    *

    inilah namanya bahwa hidup di esok hari tiada menentu.

    ibarat rencana sudah matang.

    penyerangan sudah diatur bersih.

    tinggal klik enter,

    proses akan berjalan lancar.

    tidur bisa tenang.

    dengan bonus mimpi memeluk luna maya.

    di pagi yang masih gelap dan ayam jago belumlah berkokok,

    segalanya berubah.

    mimpi indah tinggal kenangan.

    dan luna mayapun hanya sebagai hal yang maya.

    *

    saya telah melihat begini ini sekian kali,

    tapi,

    nyeri serta ngerinya masih tetap berasa dan susah untuk hilang dan habis.

    perihnya berasa dari ujung ke ujung.

    dan parahnya, ujungnya kita tak tahu di mana. makanya saya bilang susah hilangnya.

    kenyataan pahit memang selalu akan ada,

    tapi kalau datangnya tanpa alasan jelas dan tiba tiba,

    mulut hanya bisa bilang satu kata saja.

    “wow!

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 6 Apr 2015
  • 0 Comments


  • Email
    mungkin saya spesial.

    punya muka tebal menghabiskan waktu di satu studio sejak dilahirkan hingga mati nanti.

    menjadi jongos pekerja, digaji oleh seseorang, dibentak dan dipakai tameng.

    memakai topeng berpura pura bahagia, tertawa yang semestinya menangis.

    bekerja yang semestinya ada di odalan pura.

    terbang menjelajah rupiah yang semestinya bermain dengan anak.

    bahagia saya, mungkin dicap kualitas 4, bukan original astra punya.

    *

    mungkin saya spesial.
    jatuh bangun memproduksi desain yang terkadang ditolak mentah mentah.
    tebal muka untuk tetap berdiri saat gambar dilempar.
    kepala batu saat suara tak didengar.
    mencak mencak di depan banyak orang saat malu sudah kering.
    orang hanya mampu melihat hasil akhir,
    bahwa pada akhirnya akan indah.
    kebanyakan berpikir untuk selalu berakhir indah.
    saya spesial mungkin.
    ntah indah atau beracun sekalipun,
    saya berusaha untuk menemukan kebahagiaan di sana.
    *

    mungkin saya spesial,

    saat banyak dari mereka telah mempunyai biro sendiri.

    mengejar proyek sendiri,

    bisa menggaji anak anak muda,

    berbicara di depan mimbar tentang bagaimana caranya memulai bisnis.

    menampangkan muka dengan senyum lebar membawa arti sukses.

    percaya diri ke mana mana dengan merek merek terkenal.

    bergaul dengan seantero jagat.

    dan menikmati malam dengan mimpi indah.

    sementara di level yang dicap paling nyaman,

    saya menghabiskan waktu menjadi jongos pekerja, selamanya.

    ya, selamanya.

    apakah nasib ditentukan oleh majalah?

    *

    mungkin saya manusia spesial.

    kebahagian menurut saya adalah saat saya bisa membuat orang lain bahagia.

    terkadang saya melupakan kebahagian buat diri sendiri.
    lupa kebahagiaan keluarga dan acara keluarga.
    meninggalkan kecerian dan kebersamaan.
    sibuk membangun mimpi yang mungkin tak akan menjadi nyata.
    dibuai angan angan jauh membumbung tinggi,
    mendaki langit berusaha meraih bintang.
    lupa diri akan suatu saat bisa terperosok jauh ke dasar jurang,
    dibakar api dan dimakan ulat bangkai.
    saat otak bebal,
    terkadang kejahatan adalah kenikmatan.
    *
    mungkin saya sedang sial.
    memaku pantat saya pada satu poros dunia profesi desain:
    menjadi jongos.
    apakah kebahagian hidup tak bisa diraih melalui profesi jongos?

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 5 Apr 2015
  • 0 Comments


  • Email
    di desa keliki, saya menemukan keajaiban.

    saya datang bertiga.

    arsitek lokal bali ternama, datang dengan rombongannya sendiri.

    kami semua berada di site itu, melihat kondisi site sebenarnya.

    sebelum datang ke site itu, saya melihat master plan yang sudah rampung dikerjakan oleh arsitek lokal bali ternama itu.

    saya membacanya dan sedikit tersenyum sumringah.

    masih ada manusia yang meluluhlantakkan kondisi lahan yang sebetulnya sudah bangus.

    jurang di bali, di mana mana nampak indah.

    manusia yang datang ke lahan di manapun di bali, hanya setitik daging yang numpang liwat.

    alam ini telah indah seindah-indahnya sebelum ada tangan tangan manusia datang ikut campur membuat sesuatu yang katanya bisa lebih indah.

    *

    di site itu,

    di desa keliki.

    satu jam perjalanan dari studio di mana saya bekerja,

    saya bertanya kepadanya, si arsitek lokal bali.

    “kenapa musti merontokkan sekian pepohonan yang tinggi dan tua. memotong keadaan site yang sedemikian berkontour itu”.

    dia jawab dengan (mungkin) sedikit bergurau.

    “jumlah kamar yang diminta sesuai dengan brief operator musti saya bisa dapatkan. lahan sedemikian kecil dan padat dengan pepohonan begini, tak bisa ke arah itu. memangnya pohon pohon ini dibiarkan begini buat penangkal petir?. kalau kita tebang saja dan ganti dengan pohon pohon baru dan tak terlalu tinggi kan lebih gampang merawat?, lebih fresh kelihatan”.

    saya terdiam.

    tak mau berdebat.

    karena tuhan juga diam, tak berucap sepatah katapun.

    kenapa pula saya musti berkata hingga liur habis?.

    ini ajaib!.

    *

    di mana mana, siapapun operatornya,

    selalu saja desainer hotel diberikan brief yang salah satunya berisi kebutuhan jumlah kamar.

    banyak kemudian lahan terekploitasi untuk mengejar jumlah kamar itu.

    desainer membabi buta, mengejar setoran ke operator.

    yang rugi adalah alam ini.

    yang kemudian merembet ke lingkungan sekitar dan ujung ujungnya bencana alam yang tak pernah kebayang akan datang memeluk mereka yang sama sekali tak pernah si desainer itu pikirkan.

    disini diekploitasi, di tempat lain menuai bencana.

    di sana digaruk dan dipotong, di sini yang menelan musibah.

    efek bejana bejana berhubungan.

    *

    mulailah memikirkan,

    jikalau memang lahan sudah besar,

    dan musti mendapatan jumlah kebutuhan yang diminta,

    biarkanlah site yang menentukan seberapa banyak yang bisa kita garuk.

    jangan mata ini didikte oleh aturan main dari operator atau klien.

    desainer mestinya bisa berpikir di luar nalar biasa.

    lahan besar tapi yang kita garuk hanya secuil saja sudah cukup.

    demi alam,

    demi lingkungan binaan,

    demi masyarakat sekitar,

    demi anak cucu,

    dan demi nama baik perancang;
    bahwa dengan keluar dari aturan main dan memihak kepentingan lingkungan yang sudah semakin parah ini,
    percayalah, masih ada operator yang mau menerima jumlah kamar sedikit dan keluar dari masalah pemasukan dengan manaikkan rate roomnya.

    *

    kita bisa.
    sepertinya perancang lain juga pasti bisa.
    jangan membuat keajaiban-keajaiban itu, karena manusia besarnya hanya secuil di alam ini.

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 5 Apr 2015
  • 0 Comments


  • Email