banyak hal bisa dipetik dari penglaman kita;

salah satu kontraktor telah memenangkan tender atas gambar satu restaurant di langkawi.

dan piling sudah kering berdasar gambar yang dimenangkan oleh kontraktor itu.

mendadak kemudian gambar berubah;

buildingnya berubah.
interiornya berubah.
kita meeting dengan representative klien.
saya di sanur.
boss kita di bangkok.
representative klien di langkawi.
menggunakan produk masa kini;
go to meeting.
bukan sulap bukan magic.
gambar perubahan total itu lancar dicerna dan diterima.
orang struktur mengulang menghitung.
anak anak mengulang menggambar dari nol.
kontraktor datang jauh jauh dari KL untuk mengertikan semua perubahan.
saya merenung.
bukan sulap,
bukan juga magic.
ini sebuah kenyataan dari sebuah proses.
proses mengertikan bahwa segala hal bisa terjadi.

Popularity: 2% [?]



POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 22 Apr 2015
  • 0 Comments


  • Email

    kadang,

    saya malu dipanggil jro.

    terlalu tinggi, menurut saya.

    di satu sisi, saya belum bisa apa-apa.

    baru bisa meraba-raba.

    apalagi lawan bicara membalas omongan saya dengan tutur kata yang lebih halus.

    jadi kikuk.

    nabe saya di singaraja, menyuruh saya untuk segera mewinten ke tingkatan yang lebih tinggi.

    jro mangku gede.

    dengan “pangkat” yang sekarang saja, saya tak bisa me-mantra.

    tak mengerti dengan be-banten-an.

    menyelesaikan upacara kecil saja, masih gagap.

    terkadang,

    saya malu dipanggil jro.

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 22 Apr 2015
  • 0 Comments


  • Email
    “kamu punya tempo cepat.

    ngerjakan ini, ngerjakan itu.

    terbang sana, terbang sini.

    check sana, check sini.

    urus ini dan itu.

    kalau sekarang kamu berhenti,

    ada sekian kepala bergelayut di pundakmu,

    hidup dengan tempo lambat dengan tiba tiba,

    jangan-jangan akan membuat kamu sakit”.

    (desa lukluk, badung. 30 maret, 2015)

    Popularity: 2% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 6 Apr 2015
  • 0 Comments


  • Email
    gambar sudah di level CD.

    construction drawings.

    beratnya bukan 50%.

    bukan juga di 75%.

    tetapi sudah 100% CD.

    untuk paket interior dan arsitektur.

    gambar itu juga sudah disebar ke kontraktor, untuk ditenderkan.

    piling sudah selesai.

    beberapa minggu lalu,

    datang telegram dari sebarang,

    isinya bikin sesak.

    fasade dan interiornya dirubah.

    wow!.

    *

    saya termangu.

    lama terdiam.

    memandangi desain lama yang kini akan dirubah.

    sketsa datang dari seberang.

    sekian image kursi dan meja serta pernak pernik lainnya bertubi tubi datang dari langit bak hujan deras tanpa mendung.

    anak anak tanya,

    ini mau diapakan?.

    saya jawab enteng, “lakukan saja”.

    *

    inilah namanya bahwa hidup di esok hari tiada menentu.

    ibarat rencana sudah matang.

    penyerangan sudah diatur bersih.

    tinggal klik enter,

    proses akan berjalan lancar.

    tidur bisa tenang.

    dengan bonus mimpi memeluk luna maya.

    di pagi yang masih gelap dan ayam jago belumlah berkokok,

    segalanya berubah.

    mimpi indah tinggal kenangan.

    dan luna mayapun hanya sebagai hal yang maya.

    *

    saya telah melihat begini ini sekian kali,

    tapi,

    nyeri serta ngerinya masih tetap berasa dan susah untuk hilang dan habis.

    perihnya berasa dari ujung ke ujung.

    dan parahnya, ujungnya kita tak tahu di mana. makanya saya bilang susah hilangnya.

    kenyataan pahit memang selalu akan ada,

    tapi kalau datangnya tanpa alasan jelas dan tiba tiba,

    mulut hanya bisa bilang satu kata saja.

    “wow!

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 6 Apr 2015
  • 0 Comments


  • Email
    mungkin saya spesial.

    punya muka tebal menghabiskan waktu di satu studio sejak dilahirkan hingga mati nanti.

    menjadi jongos pekerja, digaji oleh seseorang, dibentak dan dipakai tameng.

    memakai topeng berpura pura bahagia, tertawa yang semestinya menangis.

    bekerja yang semestinya ada di odalan pura.

    terbang menjelajah rupiah yang semestinya bermain dengan anak.

    bahagia saya, mungkin dicap kualitas 4, bukan original astra punya.

    *

    mungkin saya spesial.
    jatuh bangun memproduksi desain yang terkadang ditolak mentah mentah.
    tebal muka untuk tetap berdiri saat gambar dilempar.
    kepala batu saat suara tak didengar.
    mencak mencak di depan banyak orang saat malu sudah kering.
    orang hanya mampu melihat hasil akhir,
    bahwa pada akhirnya akan indah.
    kebanyakan berpikir untuk selalu berakhir indah.
    saya spesial mungkin.
    ntah indah atau beracun sekalipun,
    saya berusaha untuk menemukan kebahagiaan di sana.
    *

    mungkin saya spesial,

    saat banyak dari mereka telah mempunyai biro sendiri.

    mengejar proyek sendiri,

    bisa menggaji anak anak muda,

    berbicara di depan mimbar tentang bagaimana caranya memulai bisnis.

    menampangkan muka dengan senyum lebar membawa arti sukses.

    percaya diri ke mana mana dengan merek merek terkenal.

    bergaul dengan seantero jagat.

    dan menikmati malam dengan mimpi indah.

    sementara di level yang dicap paling nyaman,

    saya menghabiskan waktu menjadi jongos pekerja, selamanya.

    ya, selamanya.

    apakah nasib ditentukan oleh majalah?

    *

    mungkin saya manusia spesial.

    kebahagian menurut saya adalah saat saya bisa membuat orang lain bahagia.

    terkadang saya melupakan kebahagian buat diri sendiri.
    lupa kebahagiaan keluarga dan acara keluarga.
    meninggalkan kecerian dan kebersamaan.
    sibuk membangun mimpi yang mungkin tak akan menjadi nyata.
    dibuai angan angan jauh membumbung tinggi,
    mendaki langit berusaha meraih bintang.
    lupa diri akan suatu saat bisa terperosok jauh ke dasar jurang,
    dibakar api dan dimakan ulat bangkai.
    saat otak bebal,
    terkadang kejahatan adalah kenikmatan.
    *
    mungkin saya sedang sial.
    memaku pantat saya pada satu poros dunia profesi desain:
    menjadi jongos.
    apakah kebahagian hidup tak bisa diraih melalui profesi jongos?

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 5 Apr 2015
  • 0 Comments


  • Email
    di desa keliki, saya menemukan keajaiban.

    saya datang bertiga.

    arsitek lokal bali ternama, datang dengan rombongannya sendiri.

    kami semua berada di site itu, melihat kondisi site sebenarnya.

    sebelum datang ke site itu, saya melihat master plan yang sudah rampung dikerjakan oleh arsitek lokal bali ternama itu.

    saya membacanya dan sedikit tersenyum sumringah.

    masih ada manusia yang meluluhlantakkan kondisi lahan yang sebetulnya sudah bangus.

    jurang di bali, di mana mana nampak indah.

    manusia yang datang ke lahan di manapun di bali, hanya setitik daging yang numpang liwat.

    alam ini telah indah seindah-indahnya sebelum ada tangan tangan manusia datang ikut campur membuat sesuatu yang katanya bisa lebih indah.

    *

    di site itu,

    di desa keliki.

    satu jam perjalanan dari studio di mana saya bekerja,

    saya bertanya kepadanya, si arsitek lokal bali.

    “kenapa musti merontokkan sekian pepohonan yang tinggi dan tua. memotong keadaan site yang sedemikian berkontour itu”.

    dia jawab dengan (mungkin) sedikit bergurau.

    “jumlah kamar yang diminta sesuai dengan brief operator musti saya bisa dapatkan. lahan sedemikian kecil dan padat dengan pepohonan begini, tak bisa ke arah itu. memangnya pohon pohon ini dibiarkan begini buat penangkal petir?. kalau kita tebang saja dan ganti dengan pohon pohon baru dan tak terlalu tinggi kan lebih gampang merawat?, lebih fresh kelihatan”.

    saya terdiam.

    tak mau berdebat.

    karena tuhan juga diam, tak berucap sepatah katapun.

    kenapa pula saya musti berkata hingga liur habis?.

    ini ajaib!.

    *

    di mana mana, siapapun operatornya,

    selalu saja desainer hotel diberikan brief yang salah satunya berisi kebutuhan jumlah kamar.

    banyak kemudian lahan terekploitasi untuk mengejar jumlah kamar itu.

    desainer membabi buta, mengejar setoran ke operator.

    yang rugi adalah alam ini.

    yang kemudian merembet ke lingkungan sekitar dan ujung ujungnya bencana alam yang tak pernah kebayang akan datang memeluk mereka yang sama sekali tak pernah si desainer itu pikirkan.

    disini diekploitasi, di tempat lain menuai bencana.

    di sana digaruk dan dipotong, di sini yang menelan musibah.

    efek bejana bejana berhubungan.

    *

    mulailah memikirkan,

    jikalau memang lahan sudah besar,

    dan musti mendapatan jumlah kebutuhan yang diminta,

    biarkanlah site yang menentukan seberapa banyak yang bisa kita garuk.

    jangan mata ini didikte oleh aturan main dari operator atau klien.

    desainer mestinya bisa berpikir di luar nalar biasa.

    lahan besar tapi yang kita garuk hanya secuil saja sudah cukup.

    demi alam,

    demi lingkungan binaan,

    demi masyarakat sekitar,

    demi anak cucu,

    dan demi nama baik perancang;
    bahwa dengan keluar dari aturan main dan memihak kepentingan lingkungan yang sudah semakin parah ini,
    percayalah, masih ada operator yang mau menerima jumlah kamar sedikit dan keluar dari masalah pemasukan dengan manaikkan rate roomnya.

    *

    kita bisa.
    sepertinya perancang lain juga pasti bisa.
    jangan membuat keajaiban-keajaiban itu, karena manusia besarnya hanya secuil di alam ini.

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 5 Apr 2015
  • 0 Comments


  • Email
    saya sedang berkonflik dengan penguasa.

    dan ini bukan yang pertama kali.

    ini yang kesekian kalinya.

    dan saya menikmati.

    bedanya sang penguasa masih tetap hepi.

    dan saya dengan pikiran kalut.

    menikmati kekalutan, adalah ibarat kaki kelindas roda truck dan saya musti tetap tersenyum.

    *

    desain yang saya bikin, berubah seberubah-rubahnya.

    ini biasa.

    tetapi kalau yang merubah bukan dari kita sendiri, itu yang membuat kasus menjadi tak biasa.

    sang penguasa menilpun saya.

    “kamu oke dengan desain yang baru?”, katanya.

    bagaimana saya tak oke, karena segala hal telah berubah.

    dengan ringan dan gamblang saya katakan bahwa saya oke saja. dengan alasan yang ringan dan gamblang pula, saya utarakan beberapa alasan yang menunjang bahwa saya ok.

    walau alasan yang mengada ada, setidaknya agar badai cepat reda.

    pernah saya berkata untuk diri saya sendiri bahwa ini bukan masalah siapa yang mendisain apa dan semestinya dibangun saja karena klien sudah approved.

    tetapi masalah yang terpenting adalah bahwa ini bukan proyek si A atau si B.

    pandanglah ini sebagai proyek bersama, desainlah dengan bagusnya tanpa memandang siapa yang menggarap pertama kalinya.

    hasil akhir adalah bahwa inilah hasil kerja payah susah penuh derita dari studio ini.

    bukan, ini hasil kerjaku atau hasil revisimu terhadap pekerjaanku.

    tetapi, terkadang nasehat bijak yang datang dari hati nurani saya ini, justru membuat saya semaput sendiri.

    termenung sendiri.

    dan sakit hati sendiri.

    memang benar bahwa kita begitu lihai untuk menasehati kesusahan orang lain.

    tetapi begitu susah penuh derita saat menasehati diri sendiri.

    *

    saya sedang ada konflik dengan penguasa.

    ada satu lagi desain yang tiba tiba dirubah dengan gamblangnya.

    dan dengan seketika juga saya musti membela pekerjaan yang telah jauh melangkah itu.

    ujung-ujungnya, sebuah pertanyaan datang dengan gagah, “putu, memang kamu ada ide lain?, boleh saya lihat?”.

    saya sendiri tak tahu masalah kenapa musti bongkar sauh dan pergi meningalkan desain yang kita bicarakan sudah bagus itu?.

    dengan ringan saya jawab, “emang kamu tidak suka dengan apa yang sudah kita garap selama ini?. yang membuat kamu tidak suka itu, yang mana?”.

    begitulah.

    diskusi penuh tanya dan kalimat bertubi tubi datang silih berganti.

    dan kita bersalaman dan mengerti satu sama lain.

    bahwa kita sudah tahu saling kenal telah sekian lama dan sekian proyek telah kita garap bareng bareng.

    terbang bareng.

    makan bareng.

    bikin awan dan sorgapun bareng bareng.

    setidaknya ada hal hal yang tidak saya suka dan begitupun sebaliknya.

    disanalah inti dari pertemanan.

    terkadang tak musti sejalan dan tak musti sependapat.

    *

    saya sedang berkonflik dengan penguasa.

    terkadang proses ini membuat saya sakit perut tak ketulung dan sempet menyebabkan setiap kali melihat manusia seperti melihat seekor anjing.

    beruntung bahwa saya sempat mengalaminya sekian kali dan bisa lolos dari proses ini dengan baik.

    seperti hari ini.

    rasa “like” dan “love” terhadap apa yang saya garap saban hari di studio, selalu membuat saya semakin hidup.

    melihat anak anak bekerja mandiri dengan pekerjaannya, membuat saya bahagia bahwa ini pertanda saya berhasil dan berjalan sesuai dengan track.

    dalam hidup, terkadang kesialan datang tak diundang.
    seakan tuhan sedang meludah dan air ludanya menempel di muka kita.
    rejeki yang besar dipandang menjadi sedemikian kecilnya dan tak berarti saat kesialan kecil datang menghujam.

    “kita tak mesti menang dalam segala permainan hidup”, saya utarakan ini kepada seorang wanita saat kami terbang bersama ke negeri seberang sana.

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 4 Apr 2015
  • 0 Comments


  • Email
    saya memikirkan seseorang.

    melihat ia akan datang ke depan hidung saya.

    mata saya menerawang, melihat kebun di luar sana.

    tiga menit setelah saya berpikir seperti itu, orang yang saya pikirkan itu telah berada di depan hidung saya.

    “pak, gambarnya mana?”.

    busyet!.

    **

    seseorang ibu muda sedang menata kursi dan meja makan di sebuah warung di renon.

    perutnya buncit dan besar.

    ia hamil di umur kehamilan yang sudah tua, saya pikir.

    saya memarkir vespa putih saya di siang hari yang terik itu.

    matahari mengumbar panas, menelisik hingga ke selangkangan kota.

    “anaknya perempuan”, begitu saya mendengar samar samar.

    saya melihat di sekeliling.

    hanya ada saya dan pepohonan serta perdu. tak ada orang lain selain saya di parkiran warung itu.

    saya tak menggubris.

    saya duduk dan mengambil koran.

    memesan nasi campur dan segelas es teh manis.

    membaca koran di siang itu, bahwa pilem fast and furious sedang meradang negeri ini.

    si ibu muda yang sedang hamil tua itu kemudian menghampiri membawa nampan berisi pesanan.

    saya tanya seenak udel, “umur berapa kehamilannya”,

    “delapan bulan”, dia menjawab.

    “sudah discan?”, saya bertanya.

    dia menggangguk. matanya melirik saya dengan tatapan penuh tanya.

    “terus, dapat apa?”, saya tanya.

    “perempuan”, katanya.

    saya tertawa.

    “terima saja dulu. anak pertama kan?”, saya tanya.

    dia menggangguk.

    manusia hanya bisa menerka nerka. dan masih ada sebuah kekuatan yang tak bisa dilawannya dan tak bisa ditandingi.

    yang terpenting lagi adalah si ibu sehat dan si anak juga selamat.

    **

    di pura penataran agung dalem ped, nusa penida.

    ada sekian banyak orang berjubel.

    para jro mangku berdiri di lantai sebuah pavilion.

    sementara mereka yang habis sembahyang, berkerumun mengelilingi pavilion itu.

    mereka berebut sesuatu.

    para jro mangku itu membagi-bagikan sesuatu.

    karena jumlah yang dibagikan itu sedikit sementara yang meminta begitu tumpah ruah, desak desakan dan dorong mendrong tak bisa dihindari.

    saya menjauh dari kerumunan itu. tak ikut berebutan dan berdesakan di siang yang begitu terik mencekam.

    sinar matahari meregang, menusuk kulit tiap manusia di siang itu.

    dalam terik, saya berucap dalam hati saja, “bolehkah saya meminta sedikit apa yang mereka rebutkan itu, ratu bhatara sasuhunan saya?”.

    orang orang bertambah banyak. desakan dan dorongan serta untaian tangan ke atas untuk meraup apa yang dilempar dari atas lantai oleh para jro mangku itu, semakin keras bergoyang ke kanan ke kiri.

    sepuluh menit hingga lima belas menit setelah saya memohon dan berkata dalam hati, seseorang keluar dari kerumunan itu dan memberi sesuatu sambil berujar, “ini jro…”.

    ia memberi sesuatu yang mereka rebutkan itu ke tangan saya.

    **

    ada tubuh tergolek kaku di kamar rawat inap.

    ia sudah tak sadarkan diri.

    untuk beberapa hari.

    saya menghampirinya.

    istrinya menatap tubuh yang kaku itu dengan mata sembab.

    nafas sang tubuh kaku, bergerak kasar.

    anaknya berjaga di luar kamar.

    saya sentuh kakinya.

    saya menatap wajahnya yang matanya sudah terpejam.

    “saya hanya menunggu anak laki laki terkecil saya saja. betapa kangen saya akan dirinya. bisa ndak suruh ia datang ke sini hari ini?. kalau ndak bisa dia datang, maka saya akan pergi”, kata si tubuh yang kaku itu.

    saya sampaikan ke istrinya yang bermata sembab.

    saya suruh anaknya yang berjaga di depan kamar untuk menilpun saudaranya untuk segera datang ke rumah sakit ini.

    lima menit kemudian, dokter datang. saya keluar ruangan.

    sang dokter memeriksanya. dan memberi sedikiit info kepada sang istri yang matanya sembab itu.

    dokter keluar ruangan itu.

    saya masuk lagi.

    “kata dokter, paman baik baik saja”, sang istri menerangkan.

    “syukurlah”, saya berujar pelan.

    saya tinggalkan mereka itu.

    kembali mengemudi ke denpasar.

    sesampainya di denpasar, saya menerima khabar bahwa sang tubuh yang kaku itu telah meninggal.

    **

    ada banyak hal aneh terjadi pada diri ini. ada sekian tak bisa dihitung,
    hidup di dunia terang benderang begini, menyaksikan segalanya dengan kasat mata, tak membuat saya heboh seheboh-hebohnya. mata kita menyaksikan dan bisa didiskusikan dengan segelas kopi dan satu bungkus nagasari serta mata tetap melirik bokong pedagang warung.
    sejak 2 tahun ini, kenyataannya bahwa saya menerima segala hal yang mustahil kini sedikit demi sedikit menerjang saya, dunia yang tak pernah saya sangka. dunia yang tak bisa dirasakan oleh kebanyakan orang.
    mengetahui sesuatu akan terjadi di hari hari berikutnya.
    merasakan sesuatu yang tak dirasakan oleh manusia biasa.
    mendengar sesuatu yang tak bisa didengar oleh sewajarnya orang.
    terkadang bikin ngeh.
    terkadang saya tak percaya total.
    dalam ketakpercayaan saya itu, apa yang saya tak percayai itu terjadi dalam beberapa hari kedepannya di depan mata.
    terkadang, orang orang di sekitar tak begitu menggubris.
    digubris atau kagak, terkadang bukan menjadi urusan saya.
    walau terkadang lagi, hal hal begini membuat hidup saya penuh kalut.
    dalam kalut,
    saya memohon.
    “bisakah hidup saya menjadi tenang dengan segala hal yang engkau beri kini?”,
    tuhan tak menjawab.
    sedemikian banyak jumlah kebetulan-kebetulan ini, ntah sampai kapan.

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 4 Apr 2015
  • 0 Comments


  • Email
    kalau sudah menthok,

    dan klien sudah tak bisa digeser keputusannya,

    serta ia yang saya ajak kerja di seberang sana juga mengikuti apa yang klien mau,

    maka,

    saatnya bagi saya untuk tiduran dulu.

    tak mengikuti perkembangan proyek itu.

    menjauh.

    biarlah anak anak dan kapten proyek yang mengendalikannya.

    saya membasahi diri dengan air. biar adem.

    melihat lihat barang dagangan di mall mall. cuci mata.

    bersepeda di jalanan kota. biar otot lentur.

    ambil sepatu dan jogging siang. melihat bokong ibu ibu muda berbelanja di warung depan rumah.

    menikmati makanan kesukaan di warung warung pinggiran. memanjakan lidah.

    bertemu teman di bengkel vw ataupun sekedar berbelanja mobil mobilan mini diecast. detoksisasi pikran.

    sepertinya lebih menyenangkan ketimbang bergulat dengan sesuatu yang membuat saya berdarah.

    apalagi kalau sebagian besar proyek itu membuat nasib saya galau segalau-galaunya.

    maka bisa ditebak bahwa sayapun akhirnya memilih untuk sakit.

    tiduran di rumah.

    tak berbicara satupun dengan siapapun.

    bahkan kepada tuhan.

    berdamai dengan diri, adalah satu satunya cara bagaimana saya bisa keluar dari kalut.

    kalau sudah tiada tempat bisa dipakai untuk berbagi.

    dan sudah tak ada siapa yang kita bisa ajak untuk berbagi,

    maka di seantero jagat ini, masih tinggal satu satunya harapan yang bisa diajak berbagi kalut.

    yaitu diri kita sendiri.

    diri saya sendiri.

    menghabiskan waktu untuk menyendiri.

    menikmati waktu dengan menyendiri.

    dan menemukan obat untuk menyembuhkan kalut dari dalam diri sendiri,

    saya percaya bisa memberi hasil yang maksimal.

    bisa bernegosiasi terhadap semua hal yang menjatuhkan, dengan diri sendiri.

    menemukan jalan keluar dari dalam diri sendiri.

    nasihat, saran dan apapun itu yang keluar dari hati nurani, adalah sebuah muksizat.

    diri ini begitu mengerti apapun yang terjadi dalam diri.

    semua permasalahan dari yang sekecil kacang tanah sampai sebesar pegunungan everest sekalipun, masih kecil nilainya ketimbang lapangnya hati nurani dalam diri ini.

    itu makanya, saya membuka diri saya sendiri untuk bisa dinasehati oleh hati nurani saya sendiri yang selalu dekat, dan ikut kemanapun saya pergi.

    setelah tenang dan bisa bernegosiasi dengan diri sendiri, saya pun datang menghampiri semua yang dulu saya tinggalkan sejenak.

    kembali tertawa.

    kembali memegang pensil.

    berteriak teriak menghibur mereka yang ikutan menggarap pekerjaan.

    minta es teh manis segelas seukuran gajah.

    menulis email dan mengirimkan ke siapa saja yang ada di luar sana.

    nasib terkadang begitu gelap dan penuh tikungan tajam untuk menjalaninya.

    kita musti bisa menikmati iramanya dalam keadaan gelap ataupun terang dengan hati lapang dan bahagia selalu.

    benar ndak?

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 4 Apr 2015
  • 0 Comments


  • Email
    ini setelah meeting bubar:

    seorang teman bertanya.

    “kenal si A?”, katanya.

    “siapa dia?”, saya balik bertanya.

    dia menjelaskan.

    saya hanya tersenyum doang sambil menggeleng.

    “saya tak punya teman selain teman teman di kantor”, saya berkata.

    “dan juga dia”, saya merangkul seseorang di sebelah saya. dia kontraktor kecil proyek yang akan kita bangun.

    yang saya rangkul, tertawa.

    kami tertawa.

    “saya orangnya kuper banget. jarang berteman”, saya tambahin lagi.

    orang pertama yang bertanya tadi, tersenyum.

    siang yang kering.

    angin berdesir pelan.

    burung burung bersahutan.

    mereka menggali teman dengan suara suara itu.

    berkomunikasi antar sesamanya.

    tak seperti saya.

    hidup di dasar bui.

    Popularity: 2% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 3 Apr 2015
  • 0 Comments


  • Email