hidup dalam keseharian itu, mas dan mbak,

bukan diukur dengan seberapa banyak rupiah yang anda dapatkan.

seberapa banyak benda dan material lainnya yang mas dan mbak dapatkan di setiap detik yang liwat saban harinya.

hidup bahagia itu,

mas dan mbak,

diukur seberapa suka dan cinta yang kita keluarkan untuk mengerjakan apa yang mas dan mbak lakukan.

seberapa suka dan cinta yang kita beri ke sesama.

rasa cinta kita,

rasa suka kita,

adalah segalanya.

tak bisa ditukar dengan uang atau diukur dengan materi.

*

istri saya tak bekerja.

ia kasih anak-anak saya di rumah hanya cinta dan kasih.

saya berikan mereka, anak-anak saya, semua benda yang ia butuhkan.

dari mainan sampai iphone, hingga mobil!.

supir dan asisten rumah tangga yang mereka perlukan kapan saja.
dilayani kapan saja.

mereka, anak-anak saya, lebih dekat ke mamaknya.

saya hanya pelengkap.
padahal,
saya kerja pagi, pulang malam.
pergi seminggu, di rumah sehari.
*

mengerti?

Popularity: 4% [?]



POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 18 Aug 2015
  • 0 Comments


  • Email
    saya kesal.

    setiap kali meeting, gambar berubah terus.

    saya kesal.

    setiap kali meeting, selalu saja ada orang orang baru berbaur di meja meeting.

    orang orang baru kemudian ikut memberikan komentar dan keinginan.

    saya turuti.

    saya kesal,

    saat meeting kemudian, gambar berubah lagi.

    ada orang baru lagi yang datang berbaur dan memberi komentar.

    saya turuti.

    gambar berubah lagi.

    tapi,

    untuk kesekian kali,

    saya hadiri meeting.

    dengan wajah gorila.

    kuping saya jarit.

    saya bilang, “kalian mustinya rapat antar sesama dulu.

    suarakan hati, samakan pendapat.

    belajar bernyanyi dengan nada yang sama.

    jangan bikin saya terombang-ambing.

    situasi seperti ini; ubah-mengubah gambar sudah biasa saya temui.

    tapi ini sudah amat sangat keterlaluan.

    saya yakin kalian tak ingin mempermainkan proyek ini?”.

    titik.

    saya tinggalkan mereka.

    saya starter vespa.

    melaju ke studio.

    siang yang garang.

    tanda seru.

    *

    sekian bulan tak ada khabar.

    dengan perasaan berat, saya rubah gambar sesuai dengan suruhan terakhir.

    walau berat, gambar saya kirim.

    ke mereka yang selalu berubah.

    seperti cuaca yang tak bisa dipegang.

    seperti lalat yang sukar ditangkap dengan tangan.

    ia bilang, “terima kasih”.

    saya tak menjawabnya.

    saya sibukkan diri dengan sepeda.

    dengan vw.

    dan vagina.

    *

    hari ini ada khabar menyesakkan.

    “hello putu”, katanya.

    “saya konfirm hari ini bahwa kita akan memakai gambar yg dulu”, katanya.

    saya tanya, “maksudmu?”,

    “iya, gambar yg dulu sebelum anda marah-marah itu”, ia menerangkan.

    saya pergi ke dapur. berlari.

    mengambil pisau.

    saya tusuk ke bagian perut saya.

    saya keluarkan setan yang bersembunyi di dalamnya.

    tuhan tertawa terpingka-pingkal.

    sambil mengirimkan “LIKE” nya.

    Popularity: 2% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 12 Aug 2015
  • 0 Comments


  • Email
    “i feel that i m nothing”, katanya di siang hari.

    kami bertemu di cabang-cabang pohon ancak.

    duduk di sela-sela cabang yang kokoh.

    saya memanjatnya dari pohon ke pohon.

    ia memanjatnya dari bawah pohon di mana kami bertemu.

    burung tekukur berterbangan. merasa diganggu.

    hinggap kemudian di tepian pasir pantai.

    awan menepi ke samping, tak bergumpal.

    sinar matahari menembus dedaunan pohon ancak.

    angin berdesir, ranting-ranting bergerak bernyanyi lirih.

    angin membawa bau.
    bau bebungaan yang datang dari arah bukit. turun menerobos terjalnya hidup mereka yang berjuang di tengah hutan.

    dari cabang-cabang pohon ancak yang kekar, horison langit tergambar nun jauh di sana.

    asap pabrik pembakar sampah mengepul mewarnai langit.

    aku melirik ia.
    selendang merangkul lingkar lehernya. sutera biru.
    tak ada kosmetik yang menemani. jemarinya sibuk meremas dedaunan yang ia petik. gusar dan bingung adalah nyata.
    matanya kini menjadi mata air.
    butir-butir bening bergerak pelan.
    mengalir di tepian mata.
    menitik berjalan meniti keluar tepian kelopak.
    menerobos pori-pori pipi yang bersih.
    melewati dagu kemudian terjatuh ke tanah.
    dari tanah, menghilang bersatu dengan aliran anak sungai yang tersembunyi dalam rangkulan ibu pertiwi.
    hingga akhirnya dibuang ke lautan.
    berasa beban sudah sirna?.
    *
    “ketahuilah”, saya berkata tanpa bibir bergerak dan masih terkatup.
    tak ada yang mendengar.
    bahkan seorang dewapun.
    hanya angin bergerak yang membawa suara.
    burung tekukur yang pergi ke tepain pantai, hinggap kembali di seberang ranting.
    ia mendengar percakapan sepi kami.
    “kamu masih punya keluarga”, suara saya tak ada yang mendengar. kecuali ia.
    “terutama orang tuamu. mereka masih mau mendengar?”, saya bertanya.
    dewapun tak mendengar pertanyaan ini.
    ia menggangguk.
    “ada adik-adik, kan?, yang masih selalu memberi canda gurau. yang masih selalu kamu bisa ejek, kamu  bisa ajak suka ria bersama”, saya berucap tanpa suara.
    ia menggangguk.
    “kalaupun mereka juga telah pergi bersama sepi. kalaupun mereka tak ada karena telah bergumul dengan waktu, setidaknya kamu tetap akan punya satu hal yang selalu bersama menemani”, saya melanjutkan. tanpa suara.
    “apa?”, ia menuangkan kata pertamanya. ia berucap dengan bibirnya terkatup. tak ada yang mampu mendengar suara pertamanya. hanya saya. burung tekukur memiringkan kepalanya. tak ada suara yang ia tangkap.
    “tubuhmu. tempat di mana kamu berada”, saya menjawab. tiada suara.
    “tubuh adalah teman saat kamu masih seukuran mili. tubuh adalah teman saat kamu pada posisi suka dan duka. dalam keadaan sakit ataupun terjungkal. tubuh tak akan meninggalkanmu. kamu dan tubuhmu selalu bersama menyatu”.
    ia menunduk.
    “tuhan bersemayam pada setiap tubuh yang ia cipta”, saya melanjutkan.
    “sujatinya kamu tak pernah sendirian”.
    kami bercakap.
    tanpa suara.
    karena bibir bisa salah.

     

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 12 Aug 2015
  • 0 Comments


  • Email
    hari sabtu lalu,

    saya menginap di rumah tua.

    di singaraja.

    seperti biasa, hanya ada ibu saya.

    dia sendiri.

    bapak sudah hilang bersama debu.

    hanyut bersama air laut.

    terbang bersama angin.

    menepi di entah di mana.

    setelah acara bersama teman teman SMA dulu berakhir, saya pulang ke rumah agak larut.

    larut malam.

    malam yang hitam pekat.

    pekat yang begitu rapat.

    ibu membukakan pintu rumah.

    selalu begitu.

    walau saya sudah semakin memutih di rambut.

    “malam banget”, sapanya.

    “sudah makan?”, pertanyaan yang selalu meletus dan tak pernah dia lupa.

    “iya, acara baru kelar. anak anak baru bubar”, saya menjawab.

    “saya belum makan. tadi sih dikasih makan tapi saya ndak mau makan. perut kok ndak mau makan di restaurant itu. ingin makan di rumah saja”, saya melanjutkan.

    saya ke dapur.

    mengambil piring.

    menyendok nasi.

    lauk dan pauk ala kadarnya.

    sekedarnya.

    sekedarnya inilah yang menghidupi ibu saya.

    sesederhana inilah yang menemani ibu saya.

    setiap hari.

    saban hari.

    tak peduli terik dan hujan.

    tetap seperti ini.

    dan saya,

    anak tertuanya,

    terbang ke mana-mana.

    dari satu negara ke negara lainnya dalam satu hari.

    makanan saya, bukan makanan sekedarnya.

    bukan makanan seadanya.

    tentu bukan!.

    tapi,

    saya begitu menikmati makanan sekedarnya ini.

    pas sekali di lidah saya. jumlahnya tak banyak. dan itu itu saja.

    makanan ibu, membawa saya ke masa silam.

    saya menikmati tiap butir nasi,

    tiap bongkahan daging dan sayur.

    di tiap tiap suap, ada cerita lama.

    mata saya tergenang air.

    selesai makan,

    bak cuci tetap di pojok sana.

    menerima piring bekas dan sebagai tempat membersihkan piring dan gelas serta sendok.

    saya masuk ke ruangan.

    ibu saya tergeletak membungkuk menahan dingin.

    ia tidur di depan tipi.

    selalu begini,

    sejak saya balita.

    hingga anak-anaknya pada besar dan menyebar di kota. beliau tetap tidur beralas karpet tipis dan tipi selalu menyalak.

    saya memandangi ibu saya yang terlelap.

    terlelap di lantai beralas karpet tipis.

    sementara si tipi, tetap menyajikan acaranya.

    dan penonton utamanya telah lelap bersama pekat malam.

    saya memandangi ibu,

    ia membungkuk, melipat kakinya dan badannya.

    udara desa, dingin merayap.

    saya anak tertuanya,

    tidur di kamar kamar hotel.

    hotel sekian  bintang.

    kasur mpuk.

    selimut tebal dan udara ruangan kamar yang begitu merayap berangkulan dengan suhu dingin yang bisa diatur seenak udel!.

    sementara di rumah seng,

    saya tertidur pulas dengan keadaan yang nyaris sama dengan kamar tidur hotel-hotel itu.

    saya memandangi ibu saya,

    yang tak mau diajak tinggal di rumah di mana saya tinggal.

    ia setia dengan rumah di mana anak-anaknya besar dulu.

    tubuhnya dilipat. kakinya menekuk.

    menahan dingin.

    ia lepas, terlelap bersama pekat malam.

    “sejahat apapun kamu, kamu tetap anakku. ibu tetap menyayangimu,…”, katanya di suatu malam saat saya menilpunnya.

    malam yang pekat.

    saya masih bekerja.

    pekat yang penuh maap.

    Popularity: 5% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 26 Jul 2015
  • 3 Comments


  • Email
    hari ini selasa,

    dan kebetulan tilem, di adat hindhu.

    artinya bulan lagi mens, lagi haids.

    tak bersinar dan gelap, mungkin juga bhatara kala menelannya lagi, seperti bulan-bulan lalu.

    bunyi mesin pengebor beton dan pemotong batu masih menemani, suaranya menggema dari balik dinding tetangga.

    ntah hingga kapan.

    baru saja duduk di ruang kerja, menatapi master plan keliki yang sudah saya garuk dan tempel, stipo. gunting lagi, tempel lagi. stipo lagi dan begitu seterusnya.

    lembaran lembaran kertas ukiuran a4 bertebaran berisikan email dari si anu dan si itu.

    sekali lagi tentang pulpen, spidol, cat minyak, mobil-mobilan, penggaris dan lain sebagainya yang menebar kesunyian. menatapi saya tetapi bisu.

    setumpuk surat lamaran yang bernasib tragis, menyudut malu tanpa dosa. dibuang sayang, dibiarkan bikin penuh meja.

    bulan purnama dan tilem, datang bergantian dalam sebulan.

    jaraknya lima belas hari satu sama lain.

    langit mendung,

    awan menebal.

    tadi kaca mobil tua saya berjerawat titik titik air menempel, jatuh dari langit seberang sana.

    saya melongok keluar liwat jendela mobil busuk koreng itu, kenapa masih saja alam ini basah?.

    *

    saya ingat adik adik saya.

    kami bersaudara empat.

    saya anak tertua.

    lahir dari lobang vagina yang sama.

    seterusnya, ada yang jadi arsitek.

    ada yang jadi desianer grafis,

    jadi tukang elektro.

    jadi penggemar hukum.

    kami semua sudah bekerja.

    saya memikir satu hal, satu lobang vagina, satu darah, menyusu pada satu panyudara dan makan dari satu dapur dan didanai dari satu dompet untuk bersekolah.

    nasib membuat kita beda di lahan hidup kini.

    lucu?

    ndak!.

    *

    ada orang mengambil pekerjaan buruh bangunan,

    hidupnya bisa berkecukupan.

    ada orang berdagang bakso, bisa hidup sambil kipas-kipas.

    ada orang yang berjualan kemaluan di pinggir malam, bisa juga menenteng perabotan keren.

    ada yang diberi kehidupan yang mudah, tapi seterusnya masih saja menggali ke sana ke sini membabi buta tanpa henti. lupa arti dan makna syukur.

    ada orang kerjanya tiduran doang, hidupnya mewah banget.

    ada orang yang memeras darah, pontang panting hidup, kerja ini dan narik itu, tetap saja terjungkal.

    punya ambisi, semangat dan kekuatan yang tak terhingga, tetap saja di area dengkul.

    ada orang yang kerjanya tiduran doang, hidup mewah tapi melihat sirik bagaimana hidup si tukang bakso yang bisa hidup berkecukupan itu,
    ada orang marah marah melihat bagaimana si lonte bisa hidup menenteng perabotan mewah karena dirinya sudah pontang panting mencari sesuap nasi.

    lucu?

    kagak!.

    *

    ada banyak aturan hidup.

    ada banyak rambu hidup,

    seperti banyaknya rambu rambu jalan yang dipasang dari ujung gang kecil becek hingga ke jalanan tol beraspal hotmik mulus.

    kenyataannya masih saja ada banyak hidup yang celaka,

    masih saja banyak kehidupan yang melanggar dan hidup tentram.

    masih banyak yang mengikuti rambu-rambu jalanan, hidupnya masih seposisi mata kaki.

    jadi mikir,

    bahagia itu diukur dari mana sih?

    taatnya menjalankan rambu hidup?.

    oh ya?.
    *

    ntah kenapa bunyi mesin pemotong batu dan pembongkar beton berhenti.

    saya merasa berada di puncak gunung,

    hanya mendengar suara burung, desiran angin yang meraba kulit dan gerakan awan yang membuat sinar mentari bisa masuk menerangi ruangan kerja saya.

    mungkin mereka, para pekerja itu, mengerti bahwa hari ini tilem.

    puasa bikin keributan dulu.

    waktunya melirik jati diri.

    bahwa bahagia itu terkadang didapat juga dari hal-hal becek, dari hal-hal miring dan jorok,

    yang jarang ada orang mau mengerti karena mungkin tahu saking seremnya jikalau melanggar aturan main.

    (jadi mikir, kenapa lotus banyak dijadikan contoh; ada hidup yang begitu cemerlang dan bersih dari area yang berlumpur gitu?)

    titik.

    Popularity: 2% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 15 Jun 2015
  • 0 Comments


  • Email
    ada kertas menumpuk di depan mata.

    sekian spidol, pensil, penggaris, skala, stabilo, sekian cat minyak dan sudah pasti; anak anak yang selalu berkunjung ke ruangan saya.

    kepala saya bergeretak, berbunyi merdu dan nyaring; senut..senut..senut.

    ini baru hari senin.

    belum jumat.

    tapi kepala sudah tak beres.

    waktu menipis.

    dan beban belum berkurang sedikitpun.

    mungkin ada yang tak beres.

    pagi pagi klien menilpun.

    tentang proyeknya di ubud.

    pagi pagi project manager menilpun,

    tentang klien yang akan menilpun.

    pagi pagi project manager lain menilpun tentang proyek lain.

    membicarakan ukuran tipi.

    membicarakan ukuran pipa,

    tentang harga semen.
    tentang harga kolam yang tak masuk akal.
    tentang senjata.
    ada teman nanya jadwal ke proyek ini.
    ada email jatuh tentang jadwal penerbangan.
    saya musti makan semuanya.
    jantung saya menyatu dengan lobang pantat!.*

    bunyi mesin memotong batu, di sebelah ruang kerja saya.
    suaranya menyayat dahsyat.
    seperti ujung silet memotong bola mata.
    seperti cacian kurang ajar yang mengaum di depan telinga.
    seperti perut tersayat karena lapar.
    gila!.
    sayatan suara itu membuat kepala saya semakin mendengung kencang.
    hidup terkadang seperti lobang asbak,
    menerima apapun yang datang.
    datang tiba-tiba,
    atau memang sudah kita rencanakan.
    kepala kita memerlukan kelapangan luas,
    agar segalanya itu bisa dikunyah enak dan dikeluarkan melalui lobang pantat dengan enak pula di esok pagi.
    suara HP berbunyi,
    dari nomor yang tak saya kenal.
    saya angkat saja.
    “selamat pagi pak putu, maap mengganggu kesibukan anda di pagi ini. saya dari bank……, mau menawarkan program cici”,
    click!.
    busyet!*

    ini senin,
    kepala saya sudah mulai bising.
    “show me what you are doing on this week”, emailnya jatuh di senin siang ini.
    aahh.

    Popularity: 2% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 15 Jun 2015
  • 0 Comments


  • Email
    sekian orang pada melesat membuat hari esok yang lebih baik dan baik.

    sementara, saya masih tetap berkubang dengan lumpur.

    campuran antara tanah, air dan kotoran babi!.

    saya melihatnya sebagai susu.

    terlalu yakin, terkadang membikin buta.

    kata orang, mata sering menipu.

    tapi saya tak pernah merasa mata ini menipu.
    tak pernah merasa kuping ini menipu.
    dua indera ini menempel sejak lahir, menemani sampai nanti mati.
    bagaimana mungkin mereka ini menipu.
    apalagi menipu tuannya sendiri.
    tapi itulah kenyataan,
    di bangkok saat pesta halloween berlangsung di suatu malam.
    kamera saya tak pernah sedetikpun berhenti merekam susu perempuan yang sedang berlenggak-lenggok di depan sekian mata.
    mereka menari tanpa busana.
    saya menari dengan kamera dengan nafsu birahi babi.
    saat kesibukan merekam dengan kamera itu, teman karib saya datang menghampiri.
    “pssstt….putu, yang kamu potret itu bukan perempuan. dia laki laki. di bangkok, kamu musti hati hati melihat perempuan!”.

    *

    buruh pekerja datang meyakinkan saya.

    saya tak yakin dengan apa yang saya lihat.

    level di dek yang mereka buat sepertinya tak selevel dengan tanda pada patok kayu yang mereka buat juga.

    saya pikir di patok kayu di mana saya duduk, kok berasa lebih rendah dengan dek yang ada di depan mata.

    “air tak pernah bohong, pak putu”, kata buruh itu.

    dia mengambil selang. dia pegang ujung satu. di ujung satunya lagi ada buruh lain.

    mata saya melihat.

    eh, bener.

    ternyata mata bisa menipu.

    saya ada di hari esok, mendisain sejak jaman purba untuk si buruh lakukan sekian tahun berikutnya.
    tapi ntah kenapa saya merasa saya ada di belakang punggungnya dan dia ada di depan hidung saya.
    ntah kenapa saya merasa berada jauh di belakangnya dan dia jauh ada di depan sana.
    mungkin saya terlalu sibuk dengan lumpur, campuran antara tanah+air+kotoran babi. yang saya lihat nyata sebagai susu.
    mata saya tertipu.
    sering tertipu.
    tapi dengan gagah berani saya bilang saya tak tertipu.
    buruh yang makannya di pinggiran jalan penuh debu kiriman dari pantat truck, mengingatkan saya.
    “mata bisa menipu”, katanya berkali-kali.
    *
    saya pandangi tubuh ini,
    berlumuran lumpur.
    campuran tanah+air dan kotoran babi.
    bau menyengat tak berasa.
    orang orang menghindar.
    saya raup dan usapkan ke sekujur tubuh.
    semerbak berasa.
    lalat mendekat dan hinggap.
    orang orang dekat kini meninggalkan dengan mengap-mengap.
    pergi ke hari esok yang lebih baik.
    saya sendirian.
    di perempatan jalan, dengan lumpur.

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 11 Jun 2015
  • 0 Comments


  • Email

    aku ingin tanya,

    orang-orang pada ngapaian berlembar-lembar ke ruang ini ya?

    seperti ndak ada kerjaan bak istri-istri para pejabat yang menghabiskan waktu di salon sambil mengirim sms berisi ajakan selingkuh!

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 28 May 2015
  • 0 Comments


  • Email
    kertas berlembar-lembar menumpuk di mejaku.

    sekarang dibersihkan, sekarang juga aku kehilangan pulpen.

    kertas bertumpuk-tumpuk menebal di meja kerjaku.

    sekarang dibersihkan, detik itu juga aku bingung di mana penggarisku.

    anak anak datang ke ruanganku dengan sekian lembar kertas berisi gambar gambar hotel berbintang.

    bau badannya semerbak menyengat membuyarkan konsentrasi.

    beda banget dengan bau badanku. terasi busuk.

    terkadang aku bingung sendiri memikirkan sedemikian begonya kah tuhan memberi kekayaan bau badan alami manusia yang terkadang begitu pengit menyengat, lebih parah dari bau terasi busuk?, sampai harus menutupinya dengan bau parfum merek berkelas seperti job-job berkelas yang selalu aku garap saban hari?.

    sedemikian parahnyakah wajah-wanita tanpa kosmetik sehingga musti dicat tebal dan dilumuri sedemikan berlapis bedak yang mirip dengan tepung terigu itu, biar kelihatan lebih memikat?.

    *

    aku memandangi tumpukan kertas berlembar-lembar,
    penuh garis hitam dan angka-angka.
    aku rindu wajah asli meja ini.
    lupa sampai ke jidat, seperti apa wajahnya tanpa kosmetik lembaran-lembaran kertas gambar kerja ini di atasnya.
    aku garuk semua lembaran kertas itu yang menumpuk menutupi permukaan meja.
    berserakan ke mana mana.
    berjatuhan lembaran lembaran itu kini menutupi lantai.
    mejaku lebar dan luas berwarna hijau.
    berukir.
    nampak indah si meja yang telah lama menemani mendisain.
    tanpa beban.
    bikin perut tenang.
    beda banget saat aku melihat wanita wanita tanpa kosmetik.
    bikin sakit perut, terkadang.
    mungkin sama halnya kalau aku tak banyak ngomong di depan para wanita itu,
    karena bau busuk mulutku, bikin rontok bedak mereka.
    maap.

    Popularity: 2% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 28 May 2015
  • 0 Comments


  • Email
    mulutku bau bangkai.

    wajahku lebih seram dari anjing.

    tubuhku kumal.

    kemaluanku borok.

    tapi, ada seseorang yang datang kehadapanku dan berkata, “saya mau jadi boss, seperti pak putu. sukses”.

    dia gagah.

    wajahnya penuh semangat saat berkata demikian.

    aku terkekeh, dalam hati.

    wajahku menunduk.

    malu, sambil berpikir keras, “nih orang tahu apa tentang diriku?”.

    beberapa hari lalu, aku baca pertanyaan di dinding kota.

    berwarna merah menyala. ukurannya segede gajah sumatera;

    “pak putu, mau jadi pembicara di kuliah  kita?” tulisnya.

    ini gila!.

    ndak tahu bedanya mana gundoruwo, mana ahmad dhani.

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 28 May 2015
  • 0 Comments


  • Email