dipanggil jero itu,
memberi beban berat.
ndak dipakai, kok berasa salah.
dipakai, kok nambah beban.
ndak digubris, kok ancur nanti.
bukannya takut ancur, tapi orang kok sudah tahu akan ancur kok dituju biar ancur.
taunya cumak kerjaan gambar-mengambar.
kalau bisanya melebihi dari itu, terus terang itu bukan saya lagi yang bermain.
pinginnya biasa saja.
mungkin sudah kadung; dulu sudah teken kontrak untuk berjalan di area jro,
jadi sekarang musti dibiasakan.
ntah layak atau kagak,
lihat saja nanti.
tak usaha-usahakan biar cocok.
kalau nanti jalan dikit dikit sempoyongan, ya udah saja.
kan saya manusia biasa.
bukan ironman.

ironman saja kalau bateri habis, musti charge lagi.

tapi,

percaya akan diri sendiri itu lebih penting ketimbang mempermasalahkan sebutan.

Popularity: 1% [?]



POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 1 Jun 2016
  • 0 Comments


  • Email

    menuju keliki,
    saya merambat pelan.
    hanya 30km.
    sekian kendaraan meyalip.
    saya biarkan.
    angin menderu dan mendahului.
    saya biarkan.
    doa-doa terdengar dari bibir terkatup,
    saya biarkan.
    uang-uang melaju berpindah dari tangan ke tangan,
    saya biarkan.
    tawa anak-anak sekolah bederai-derai mendahului laju vw,
    ya sudah saja.
    di tanah keliki,
    saya bersyukur sangat.
    hingga saat ini jumlah terbesar vegetasi itu masih hidup bersama hasil pemikiran.

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 24 May 2016
  • 0 Comments


  • Email

    di dubai,
    selain tentang gigi matahari yang begitu runcing dan kering.
    saya belajar banyak,
    tentang satu hal.
    kalau kontraktor salah, saya musti mengalah.
    kalau saya yang salah,
    saya musti TETAP mengalah.

    ada saatnya arsitektur yang dilahirkan begitu sarat akan pelajaran ke dalam diri.

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 24 May 2016
  • 0 Comments


  • Email

    ingin memfokuskan,
    titik api pada tempat lain.
    tak memamerkan sosok,
    tak memamerkan isi dalaman,
    atau tentang ruang luar.
    tapi pada anak-anak yang telah bekerja siang malam.
    membantu saya hingga ke tepian,
    di mana ombak pecah di bibir bumi.
    meninggalkan jejak dari garis temu langit dan bumi.
    perjuangan dari awal hingga akhir.
    bersama-sama mereka.
    saatnya telah tiba buat mereka.
    bukan buat apa yang saya garap.
    tetapi untuk “dengan siapa saya bekerja”.

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 24 May 2016
  • 0 Comments


  • Email

    di subuh tiba,
    aku mengingatmu.
    sambil mengirim tanya.
    saat raga tiada harga, kemana pergi ia.
    engkau jawab,
    “tak jauh”.

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 24 May 2016
  • 0 Comments


  • Email
    barusan saja bertemu dengan teman lama.

    ia menungangi motor.

    membonceng anak perempuannya yang masih mungil.

    kami berpapasan.

    ia membawa bungkusan gede ditaruh di atas tangki motor hondanya.

    wajahnya penuh suka dan harinya penuh warna.

    kami saling menyapa sebentar.

    dan kemudian berlalu.

    ke tujuan masing masing.

    seperti angin.

    *

    saya buka fb.

    sekian berita menumpuk.

    seperti kue lapis.

    berwarna-warni.

    ada tawa.

    pertemuan.

    suka ria.

    cacian.

    keluh kesah.

    dan poto diri.

    hidup yang bergerak.
    kata orang,
    lets move on!
    seperti angin.

    *

    sementara,

    saya masih terbelenggu dengan puisi lama,

    mengurung diri di balik tembok ruang gelap tanpa cahaya.

    meraba arah yang tak pernah bisa dilihat,

    bertanya tanpa suara.
    mendengar yang tak bersuara.
    di meja kerja yang gelap tanpa cahaya,
    menumpuk perintah,
    menumpuk pekerjaan.
    menumpuklah beban.
    di balik ruang gelap tanpa cahaya,
    tak ada mukzizat.
    yang ada hanya asa buta.

    *

    saya buka instagram,
    dunia penuh kejadian,
    kejadian yang berwarna warni,
    dunia yang begitu luas dan bercahaya,
    penuh dengan pesan.
    saya melihat hidup.
    yang hinggap ke mana mana di ruang berwarna.
    bergerak ke sana ke mari.
    seperti angin.

    *

    dalam ruang gelap,
    cahaya bertanya, “kamu kenapa?, tak bisa melihatku yang begitu benderang?”.

    Popularity: 4% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 19 Aug 2015
  • 0 Comments


  • Email
    hidup dalam keseharian itu, mas dan mbak,

    bukan diukur dengan seberapa banyak rupiah yang anda dapatkan.

    seberapa banyak benda dan material lainnya yang mas dan mbak dapatkan di setiap detik yang liwat saban harinya.

    hidup bahagia itu,

    mas dan mbak,

    diukur seberapa suka dan cinta yang kita keluarkan untuk mengerjakan apa yang mas dan mbak lakukan.

    seberapa suka dan cinta yang kita beri ke sesama.

    rasa cinta kita,

    rasa suka kita,

    adalah segalanya.

    tak bisa ditukar dengan uang atau diukur dengan materi.

    *

    istri saya tak bekerja.

    ia kasih anak-anak saya di rumah hanya cinta dan kasih.

    saya berikan mereka, anak-anak saya, semua benda yang ia butuhkan.

    dari mainan sampai iphone, hingga mobil!.

    supir dan asisten rumah tangga yang mereka perlukan kapan saja.
    dilayani kapan saja.

    mereka, anak-anak saya, lebih dekat ke mamaknya.

    saya hanya pelengkap.
    padahal,
    saya kerja pagi, pulang malam.
    pergi seminggu, di rumah sehari.
    *

    mengerti?

    Popularity: 4% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 18 Aug 2015
  • 0 Comments


  • Email
    saya kesal.

    setiap kali meeting, gambar berubah terus.

    saya kesal.

    setiap kali meeting, selalu saja ada orang orang baru berbaur di meja meeting.

    orang orang baru kemudian ikut memberikan komentar dan keinginan.

    saya turuti.

    saya kesal,

    saat meeting kemudian, gambar berubah lagi.

    ada orang baru lagi yang datang berbaur dan memberi komentar.

    saya turuti.

    gambar berubah lagi.

    tapi,

    untuk kesekian kali,

    saya hadiri meeting.

    dengan wajah gorila.

    kuping saya jarit.

    saya bilang, “kalian mustinya rapat antar sesama dulu.

    suarakan hati, samakan pendapat.

    belajar bernyanyi dengan nada yang sama.

    jangan bikin saya terombang-ambing.

    situasi seperti ini; ubah-mengubah gambar sudah biasa saya temui.

    tapi ini sudah amat sangat keterlaluan.

    saya yakin kalian tak ingin mempermainkan proyek ini?”.

    titik.

    saya tinggalkan mereka.

    saya starter vespa.

    melaju ke studio.

    siang yang garang.

    tanda seru.

    *

    sekian bulan tak ada khabar.

    dengan perasaan berat, saya rubah gambar sesuai dengan suruhan terakhir.

    walau berat, gambar saya kirim.

    ke mereka yang selalu berubah.

    seperti cuaca yang tak bisa dipegang.

    seperti lalat yang sukar ditangkap dengan tangan.

    ia bilang, “terima kasih”.

    saya tak menjawabnya.

    saya sibukkan diri dengan sepeda.

    dengan vw.

    dan vagina.

    *

    hari ini ada khabar menyesakkan.

    “hello putu”, katanya.

    “saya konfirm hari ini bahwa kita akan memakai gambar yg dulu”, katanya.

    saya tanya, “maksudmu?”,

    “iya, gambar yg dulu sebelum anda marah-marah itu”, ia menerangkan.

    saya pergi ke dapur. berlari.

    mengambil pisau.

    saya tusuk ke bagian perut saya.

    saya keluarkan setan yang bersembunyi di dalamnya.

    tuhan tertawa terpingka-pingkal.

    sambil mengirimkan “LIKE” nya.

    Popularity: 2% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 12 Aug 2015
  • 0 Comments


  • Email
    “i feel that i m nothing”, katanya di siang hari.

    kami bertemu di cabang-cabang pohon ancak.

    duduk di sela-sela cabang yang kokoh.

    saya memanjatnya dari pohon ke pohon.

    ia memanjatnya dari bawah pohon di mana kami bertemu.

    burung tekukur berterbangan. merasa diganggu.

    hinggap kemudian di tepian pasir pantai.

    awan menepi ke samping, tak bergumpal.

    sinar matahari menembus dedaunan pohon ancak.

    angin berdesir, ranting-ranting bergerak bernyanyi lirih.

    angin membawa bau.
    bau bebungaan yang datang dari arah bukit. turun menerobos terjalnya hidup mereka yang berjuang di tengah hutan.

    dari cabang-cabang pohon ancak yang kekar, horison langit tergambar nun jauh di sana.

    asap pabrik pembakar sampah mengepul mewarnai langit.

    aku melirik ia.
    selendang merangkul lingkar lehernya. sutera biru.
    tak ada kosmetik yang menemani. jemarinya sibuk meremas dedaunan yang ia petik. gusar dan bingung adalah nyata.
    matanya kini menjadi mata air.
    butir-butir bening bergerak pelan.
    mengalir di tepian mata.
    menitik berjalan meniti keluar tepian kelopak.
    menerobos pori-pori pipi yang bersih.
    melewati dagu kemudian terjatuh ke tanah.
    dari tanah, menghilang bersatu dengan aliran anak sungai yang tersembunyi dalam rangkulan ibu pertiwi.
    hingga akhirnya dibuang ke lautan.
    berasa beban sudah sirna?.
    *
    “ketahuilah”, saya berkata tanpa bibir bergerak dan masih terkatup.
    tak ada yang mendengar.
    bahkan seorang dewapun.
    hanya angin bergerak yang membawa suara.
    burung tekukur yang pergi ke tepain pantai, hinggap kembali di seberang ranting.
    ia mendengar percakapan sepi kami.
    “kamu masih punya keluarga”, suara saya tak ada yang mendengar. kecuali ia.
    “terutama orang tuamu. mereka masih mau mendengar?”, saya bertanya.
    dewapun tak mendengar pertanyaan ini.
    ia menggangguk.
    “ada adik-adik, kan?, yang masih selalu memberi canda gurau. yang masih selalu kamu bisa ejek, kamu  bisa ajak suka ria bersama”, saya berucap tanpa suara.
    ia menggangguk.
    “kalaupun mereka juga telah pergi bersama sepi. kalaupun mereka tak ada karena telah bergumul dengan waktu, setidaknya kamu tetap akan punya satu hal yang selalu bersama menemani”, saya melanjutkan. tanpa suara.
    “apa?”, ia menuangkan kata pertamanya. ia berucap dengan bibirnya terkatup. tak ada yang mampu mendengar suara pertamanya. hanya saya. burung tekukur memiringkan kepalanya. tak ada suara yang ia tangkap.
    “tubuhmu. tempat di mana kamu berada”, saya menjawab. tiada suara.
    “tubuh adalah teman saat kamu masih seukuran mili. tubuh adalah teman saat kamu pada posisi suka dan duka. dalam keadaan sakit ataupun terjungkal. tubuh tak akan meninggalkanmu. kamu dan tubuhmu selalu bersama menyatu”.
    ia menunduk.
    “tuhan bersemayam pada setiap tubuh yang ia cipta”, saya melanjutkan.
    “sujatinya kamu tak pernah sendirian”.
    kami bercakap.
    tanpa suara.
    karena bibir bisa salah.

     

    Popularity: 1% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 12 Aug 2015
  • 0 Comments


  • Email
    hari sabtu lalu,

    saya menginap di rumah tua.

    di singaraja.

    seperti biasa, hanya ada ibu saya.

    dia sendiri.

    bapak sudah hilang bersama debu.

    hanyut bersama air laut.

    terbang bersama angin.

    menepi di entah di mana.

    setelah acara bersama teman teman SMA dulu berakhir, saya pulang ke rumah agak larut.

    larut malam.

    malam yang hitam pekat.

    pekat yang begitu rapat.

    ibu membukakan pintu rumah.

    selalu begitu.

    walau saya sudah semakin memutih di rambut.

    “malam banget”, sapanya.

    “sudah makan?”, pertanyaan yang selalu meletus dan tak pernah dia lupa.

    “iya, acara baru kelar. anak anak baru bubar”, saya menjawab.

    “saya belum makan. tadi sih dikasih makan tapi saya ndak mau makan. perut kok ndak mau makan di restaurant itu. ingin makan di rumah saja”, saya melanjutkan.

    saya ke dapur.

    mengambil piring.

    menyendok nasi.

    lauk dan pauk ala kadarnya.

    sekedarnya.

    sekedarnya inilah yang menghidupi ibu saya.

    sesederhana inilah yang menemani ibu saya.

    setiap hari.

    saban hari.

    tak peduli terik dan hujan.

    tetap seperti ini.

    dan saya,

    anak tertuanya,

    terbang ke mana-mana.

    dari satu negara ke negara lainnya dalam satu hari.

    makanan saya, bukan makanan sekedarnya.

    bukan makanan seadanya.

    tentu bukan!.

    tapi,

    saya begitu menikmati makanan sekedarnya ini.

    pas sekali di lidah saya. jumlahnya tak banyak. dan itu itu saja.

    makanan ibu, membawa saya ke masa silam.

    saya menikmati tiap butir nasi,

    tiap bongkahan daging dan sayur.

    di tiap tiap suap, ada cerita lama.

    mata saya tergenang air.

    selesai makan,

    bak cuci tetap di pojok sana.

    menerima piring bekas dan sebagai tempat membersihkan piring dan gelas serta sendok.

    saya masuk ke ruangan.

    ibu saya tergeletak membungkuk menahan dingin.

    ia tidur di depan tipi.

    selalu begini,

    sejak saya balita.

    hingga anak-anaknya pada besar dan menyebar di kota. beliau tetap tidur beralas karpet tipis dan tipi selalu menyalak.

    saya memandangi ibu saya yang terlelap.

    terlelap di lantai beralas karpet tipis.

    sementara si tipi, tetap menyajikan acaranya.

    dan penonton utamanya telah lelap bersama pekat malam.

    saya memandangi ibu,

    ia membungkuk, melipat kakinya dan badannya.

    udara desa, dingin merayap.

    saya anak tertuanya,

    tidur di kamar kamar hotel.

    hotel sekian  bintang.

    kasur mpuk.

    selimut tebal dan udara ruangan kamar yang begitu merayap berangkulan dengan suhu dingin yang bisa diatur seenak udel!.

    sementara di rumah seng,

    saya tertidur pulas dengan keadaan yang nyaris sama dengan kamar tidur hotel-hotel itu.

    saya memandangi ibu saya,

    yang tak mau diajak tinggal di rumah di mana saya tinggal.

    ia setia dengan rumah di mana anak-anaknya besar dulu.

    tubuhnya dilipat. kakinya menekuk.

    menahan dingin.

    ia lepas, terlelap bersama pekat malam.

    “sejahat apapun kamu, kamu tetap anakku. ibu tetap menyayangimu,…”, katanya di suatu malam saat saya menilpunnya.

    malam yang pekat.

    saya masih bekerja.

    pekat yang penuh maap.

    Popularity: 5% [?]



    POSTED BY PUTU MAHENDRA ON 26 Jul 2015
  • 3 Comments


  • Email