josef prijotomo(*2)

 

 

 

00

Kita bangsa yang merdeka, dan karena itu juga menjadi bangsa yang memiliki hak untuk bebas dalam berpikir merdeka, terbuka, kritis (meminjam dari Aryo Wisanggeni G). Tak ayal lagi, dalam arsitektur kita juga pasti dan mantap untuk bebas dalam berpikir merdeka,terbuka dan kritis. Itu berarti bahwa arsitektur Eropa (dan manca seumumnya), baik itu filsafatnya, teorinya, sejarahnya maupun terapannya bisa dan boleh untuk dikritisi. Dengan mengkritisi itu pula kita memperoleh kesempatan untuk membangun filsafat, teori, sejarah dan terapan arsitektur yang Indonesia. Dengan mengkritisi kita juga menjadi terbebas dari tuduhan bahwa kita ini para pelaku arsitektur yang malas berpikir dan sangat puas menjadi pelaku yang menelan mentah-mentah segalanya yang Eropa, Amerika atau manca. Pembebasan diri seperti itu pula yang menjadi jalan yang lapang untuk menggali dan membangun pengetahuan arsitektur yang berbasis Nusantara serta mendayagunakannya untuk menghadirkan Indonesia yang adalah Nusantara mengkini.

Apa yang disajikan berikut ini hanyalah penggal-penggal pengamatan kritis atas arsitektur Eropa, kemudian digunakan untuk mengangkat yang Nusantara. Tentu, belum dan bukan keseluruhan arsitektur Eropa, dan arena itu adalah kewajiban kita bersama untuk mengamati dengan kritis,  demi terbangunnya pengetahuan arsitektur yang Indonesia.

 

 

01

Daratan Eropa pasti terisi oleh demikian bermacam anakbangsa. Salah satu petunjuk kuatnya adalah adanya berbagai bahasa dan berbagai busana adat/tradisional. Dari dua petunjuk itu dapat diduga pula bahwa bangunan adat/tradisional juga demikian beragam dan beraneka di daratan Eropa ini, apalagi kalau rentang waktu yang diambil untuk ihwal itu adalah sebelum revolusi industri. Sementara itu, tidak boleh dilupakan adalah strata dan status sosial masyarakat yang tentu saja terdiri dari petani, kelompok agamawan/wait serta bangsawan/raja dan para pedagang. Dari keragaman strata dan status itu, petani praktis tersisihkan dari percaturan sejarah Eropa. Dengan kata lain, sejarah Eropa adalah sejarah kelas/lapis atas masyarakat. Ini berimbas pada arsitekturnya yakni, sejarah arsitektur Eropa dapat dikatakan sebagai sejarah kelas atas Eropa, bukan sejarah dari keseluruhan masyarakat Eropa. Bahwa petani dan kelas bawah disertakan dalam sejarah, itu hanyalah bagian dari kiprah kelas atas saja. Gereja, katedral, basilika, biara, keraton, kastil, hunian para elite serta kota, semua itu saja bangunan yang ditangani oleh sejarah arsitektur Eropa. .

 

Akan tetapi, semua itu nyaris tidak tersajikan dalam buku paling ‘baku’ bagi sejarah arsitektur Eropa yakni buku A History of Architecture on a Comparative Method buah karya Sir Banister Fletcher. Dari buku yang setebal bantal itu dapat diketahui bahwa sejarah arsitektur Eropa itu sebenarnya adalah sejarah arsitektur berbahan batu. Juga, adalah sejarah dari bangunan-bangunan besar yang mampu bertahan hingga ratusan tahun umurnya. Juga adalah sejarah seni bangunan kelas tinggi. Juga adalah sejarah dari beberapa bangunan yang memiliki mutu dan nilai seni yang adiluhung, yang merupakan ungkapan dari teori arsitektur yang handal, dan berpondasikan filsafat Yunani (dan Romawi). Jadi, tidak semua arsitektur yang ada di Eropa dalam sesuatu jaman atau masa dicakup ke dalam filsafat, sejarah dan teori arsitekturnya. Keberhasilan kekaisaran Romawi dalam menguasai daratan Eropa ternyata secara langsung (namun tersembunyikan dari pernyataan) dijadikan patokan bagi pemilihan bangunan yang difilsafatkan, diteorikan dan disejarahkan.

Mencermati arsitektur Eropa lebih lanjut akan memperlihatkan bahwa pembuatan bangunan berukuran besar mendatangkan persoalan dalam hal menghadapi ruangan di dalam bangunan yang gelap (dan oleh karena itu sejarah arsitekturnya dapat dikatakan sebagai sejarah penghadiran lubangan pada dinding terluar bangunan). Selanjutnya, dihadapkan musim dingin yang setiap tahun harus dialami selama sekurangnya tiga bulan (makin ke utara akan semakin panjang waktunya), maka tinggal di dalam bangunan adalah kepastian yang tak mungkin ditolak. Di situ, ruangan di dalam bangunan merupakan ‘jagad cilik’ yang terpisah dari ‘jagad besar’ yakni alam dan lingkungan. Di sinilah sejarah arsitekturnya lalu dapat dikatakan sebagai sebuah perjuangan membongkar keterisolasian menjadi penyatuan dengan alam dan lingkungan. Tidak perlu heran bila interioritas adalah salah satu watak dari arsitektur Eropa, dan oleh karena itu persolekan bagian dalam dari bangunan adalah kewajaran yang diperlukan bagi kenikmatan dan kenyamanan berada dalam ruangan. Sesampai di sini lalu menjadi sangat bisa diterima bila lubang pencahayaan alami yang semakin luas adalah sebuah kebutuhan dan sekaligus menjadi salah satu tanda kesejarahan arsitektur Eropa. Betapa tidak, di situ pula lalu ada komposisi artistik/estetik dalam perletakan lubang, perbandingan antara bukan dan tutupan, dan berbagai ihwal yang berkenaan dengan seni bangunan yang artistic dan estetik. Bahkan dalam jaman Renaisans komposisi ini dirumuskan ke dalam model matematika seperti misalnya golden section. Kerinduan akan terang matahari serta menyatukan diri dengan alam dan lingkungan dapat dikatakan sebagai tema abadi filsafat, teori dan sejarah arsitektur Eropa.

 

Arsitektur Eropa itu tidak terlalu memperhatikan gempa mengingat daratan Eropa bukanlah kawasan yang rentan gempa seperti Indonesia..bangunan seukuran Colliseum atau St.Peter tidak perlu mengkuatirkan diri terhadap gempa meskipun Italia misalnya tergolong sebagai pelanggan gunung api yang meletus. Kita tidak atau belum tahu pasti apakah batu ataukah keabadian yang membuat arsitektur Eropa berketetapan untuk berpihak pada arsitektur batu, dan menyisihkan arsitektur kayu. Pernyataan sejarawan lain, Sir Nikolaus Pevsner, mewakili keberpihakan itu. Dikatakannya, kira-kira begini “Lincoln Cathedral is architecture; a bicycle shed is a building”.

Bangunan batu adalah bangunan yang dengan langsung mengisolasi bagian dalam dari bangunan dari lingkungan dan alam di luar bangunan. Semakin luas ruangan di dalam bangunan akan semakin meluas pula bagian ruangan di dalam bangunan yang mengalami kegelapan. Hadirnya lubang di dinding batu adalah tuntutan tetapi sekaligus adalah tantangan. Penanganan atas tuntutan sekaligus tantangan inilah yang kemudian membentuk sejarah arsitektur Eropa. Kita akan menyaksikan bahwa dari jaman Yunani yang kuilnya nyaris gelap total menjadi bangunan Barok yang ambigu apakah struktur dinding pemikul ataukah struktur rangka batang, dan karena itu ruangan di dalam menjadi benderang dan dapat diberi persolekan, adalah sebuah perjalanan evolutif system struktur dinding pemikul yang bergulir menjadi sistem struktur rangka batang. Menarik untuk dicatat di sini adalah kehadiran arsitektur Gothik. Meskipun arsitektur ini telah berhasil mengganti struktur dinding pemikul menjadi struktur rangka batang, tetapi karena tidak berinduk pada arsitektur Yunani-Romawi, melainkan berinduk pada anakbangsa Goth yang kurang disenangi, maka nasib arsitektur Gothik menjadi tragis. Dengan hadirnya Renaisans tamatlah riwayat arsitektur Gothik, padahal arsitektur Renaisans masih berstruktur dinding pemikul. Tantangan untuk membuang tembok yang mengisolasi dari lingkungan dan alam juga menjadi tema bagi filsafat, teori dan sejarah arsitektur Eropa.

 

 

02

Dari tinjauan ringkas didepan, kita dapat menarik pelajaran mengenai kepastian akan perbedaan yang mantap sebagaimana terjumpai antara arsitektur Eropa dengan arsitektur Nusantara. Dalam berbagai perbincangan seringkali perbedaan ini dikedepankan, tetapi tidak jarang ditemui bahwa perbedaan itu tidak dirinci lebih lanjut. Meski belum sepenuhnya lengkap, kiranya perbedaan yang tergelar berikut ini telah dapat memastikan betapa berbeda arsitektur Nusantara dari arsitektur Eropa itu, khususnya untuk arsitektur Eropa hingga masa neoklasik..

 

1. Sangat jelas, arsitektur Nusantara berbeda dari arsitektur Eropa; dan karena itu arsitektur Nusantara itu arsitektur dua musim dan arsitektur Eropa itu arsitektur empat musim.

2. Sangat jelas, arsitektur Nusantara berbeda dari arsitektur Eropa; dan karena itu arsitektur Nusantara melibatkan lautan dan daratan, sedang arsitektur Eropa hanya melibatkan daratan saja.

3. Sangat jelas, arsitektur Nusantara berbeda dari arsitektur Eropa; dan karena itu arsitektur Nusantara tidak mematikan karya arsitektur anak-bangsanya, sedang arsitektur Eropa mematikan arsitektur anak-benua/bangsanya[*3].

4. Sangat jelas, arsitektur Nusantara berbeda dari arsitektur Eropa; dan karena itu arsitektur tradisional dilekatkan pada kebudayaan sedang arsitektur Eropa dilekatkan pada seni dan ilmu.

5. Sangat jelas, arsitektur Nusantara berbeda dari arsitektur Eropa; dan karena itu arsitektur Nusantara adalah arsitektur kayu/organik sedang arsitektur Eropa adalah arsitektur batu/anorganik.

6. Sangat jelas, arsitektur Nusantara berbeda dari arsitektur Eropa; dan karena itu arsitektur Nusantara adalah arsitektur pernaungan dan arsitektur Eropa adalah arsitektur perlindungan.

7. Sangat jelas, arsitektur Nusantara berbeda dari arsitektur Eropa; dan karena itu arsitektur Nusantara bersolek di (tampang) luar dan arsitektur Eropa bersolek di (tampang) dalam.

8. Sangat jelas, arsitektur Nusantara berbeda dari arsitektur Eropa; dan karena itu arsitektur Nusantara berkontruksi tanggap gempa sedang arsitektur Eropa berkonstruksi tanpa gempa.

9. Sangat jelas, arsitektur Nusantara berbeda dari arsitektur Eropa; dan karena itu arsitektur Nusantara menjadikan perapian utamanya untuk mengawetkan bahan bangunan organiknya, sedang arsitektur Eropa untuk menghangatkan ruangan dan menjadikannya galih (core) dari huniannya.

10. Sangat jelas, arsitektur Nusantara berbeda dari arsitektur Eropa; dan karena itu arsitektur arsitektur Nusantara mengkonsepkan pelestarian dengan ketergantian, sedang arsitektur Eropa mengkonsepkannya sebagai menjaga dan merawat.

11. Sangat jelas, arsitektur Nusantara berbeda dari arsitektur Eropa; dan karena itu arsitektur arsitektur Nusantara mengkonsepkan kesementaraan sedang arsitektur Eropa mengkonsepkan keabadian.

12. Sangat jelas, arsitektur Nusantara berbeda dari arsitektur Eropa; dan karena itu arsitektur Nusantara adalah arsitektur kami/kita, sedangkan arsitektur Eropa adalah arsitektur ’aku’.

 

Berakhirnya arsitektur Neoklasik Eropa menjadi tak terhindarkan lagi dengan munculnya arsitektur modern. Demikian banyak tulisan telah dibuat untuk memperlihatkan betapa arsitektur modern di Eropa berbeda dari arsitektur pra-modernnya (arsitektur klasik hingga neoklasik). Dalam konteks ini, perbedaan-perbedaan jelas antara arsitektur Eropa dari arsitektur Nusantara dapat dicatat di sini (tentu, belum keseluruhannya, tetapi sudah cukup mewakili dan menjelaskan).

 

1. Sangat jelas, arsitektur Nusantara berbeda dari arsitektur Eropa; dan karena itu arsitektur Nusantara adalah wilayah pengetahuan yang tidak (mau) diketahui, dan arsitektur Eropa adalah wilayah pengetahuan yang wajib diketahui dan dituruti.

2. Sangat jelas, arsitektur Nusantara berbeda dari arsitektur Eropa; dan karena itu arsitektur Nusantara dibiarkan remuk di perdesaan, sedang arsitektur Eropa diperjuangkan berdarah-darah untuk dipertahankan keberadaannya.

3. Sangat jelas, arsitektur Nusantara berbeda dari arsitektur Eropa; dan karena itu arsitektur arsitektur Nusantara masih harus dipelajari agar bisa di-masakini-kan, sedang arsitektur Eropa tinggal dicopas (copy paste) belaka.

4. Sangat jelas, arsitektur Nusantara berbeda dari arsitektur Eropa; dan karena itu arsitektur arsitektur Nusantara itu adalah ’bicycle shed’ sedang arsitektur Eropa adalah ’Lincoln Cathedral’, kalau meminjam Nikolaus Pevsner dalam membedakan arsitektur dari bangunan.

5. Sangat jelas, arsitektur Nusantara berbeda dari arsitektur Eropa; dan karena itu arsitektur Nusantara senantiasa dipertanyakan kemampuannya untuk mengkini, sedang arsitektur Eropa tak pernah dipertanyakan ketidaktepatannya bagi Indonesia (masakini).

 

 

03

Apabila pelajaran yang dapat dipetik adalah kemantapan akan adanya perbedaan, maka di situ kita harus punya keberanian untuk menegaskan bahwa arsitektur Nusantara itu bukan subordinat dari arsitektur Eropa. Arsitektur Nusantara juga bukan bicycle shed, bahkan dalam ekstrimnya, arsitektur Nusantara itu adalah arsitektur, bukan ‘bukan-arsitektur’. Masih banyak lagi argumen yang bisa diajukan untuk menegaskan hal itu. Dengan keberanian yang kritis seperti itu, kita harus punya kemantapan diri untuk menegaskan bahwa arsitektur Nusantara itu adalah ’liyan’ bagi arsitektur Eropa; arsitektur Nusantara itu adalah arsitektur yang lain (the other) dari arsitektur Eropa. Dengan demikian, arsitektur Nusantara itu setara dengan arsitektur Eropa Klasik pada khususnya.

 

Dengan menyadari kesetaraan itu, tersadar pula kita bahwa selama ini kita telah mentololkan diri sendiri dalam banyak hal yang berkenaan dengan arsitektur. Ketololan pertama tentu saja adalah dalam hal mindset kita yang masih menempatkan yang eropa sebagai di atas yang Nusantara. Tentu, kita tidak dengan terang-terangan menyatakan seperti itu, tetapi mengatakan bahwa arsitektur kita berbeda dari arsitektur mereka. Ketololan kedua adalah pendidikan arstektur yang lebih menjurus sebagai kepanjangan tangan dari sekolah arsitektur di Eropa. Kalau di Eropa (dan AS) ada kewajiban untuk mengajarkan sejarah arsitektur klasiknya, kenapa kita tidak mewajibkan untuk mengajarkan arsitektur Nusantara dalam mata sejarah? Tentu akan ada yang berkilah, bukankah dasar-dasar arsitektur kita adalah Vitruvius, filsafat dan teori arsitektur yang notabene adalah Eropa? Benar sekali, dasar arsitektur itu dari Eropa, tetapi di situ pula persoalan dasar harus kita kedepankan, yakni: mengapa tidak dasar arsitektur yang Nusantara? Sesampai di sini tentu akan muncul pertanyaan:”apakah dasar arsitektur yang Nusantara itu sudah ada?” Jawabnya cukup mantap: ”memang belum ada”; dan jawaban ini teramat sangat memalukan dan memperlihatkan ketololan diri kita sendiri. Betapa tidak, sekolah arsitektur di Indonesia sudah hadir semenjak awal tahun 1950-an, jadi sudah lebih dari setengah abad lamanya. Dengan puluhan (atau bahkan sudah ratusan) ribu sarjana arsitektur dan insinyur, ribuan magister, ratusan doktor dan lebih dari sepuluh (atau duapuluh?) gurubesar, sungguh memalukan kalau kita tak mampu membangun dasar arsitektur itu. Tetapi, benarkah kita tidak mampu, ataukah sejujurnya  saja, kita tidak mau?

 

 

04

Pada saat Jokowi melontarkan pandangan untuk menghadirkan ke-Betawi-an dalam arsitektur bangunan pemerintahan setingkat DKI, maka tak kurang dari tigapuluh tanggapan para arsitek DKI dalam waktu hanya dua hari saja. Sudah dapat diduga sebelumnya, lebih kuat tanggapan yang ‘kurang mendukung’ termunculkan dalam surel-surel dari mail-group iai-architect[*4] itu.

Ihwal ke-Betawi-an hanyalah ihwal kecil dari ihwal yang lebih besar dan sekaligus lebih mendasar yakni:apakah Betawi/Nusantara itu (mewakili) (ke-)Indonesia(-an); atau apakah ke-Indonesia-an dapat/boleh/bisa diwakili oleh Betawi/Nusantara. Jujur harus diakui bahwa ihwal mendasar ini sudah sekurangnya  semenjak awal 1980-an mengedepan; sudah diperbincangkan dalam sedemikian banyak seminar dan forum ilmiah maupun forum praktisi professional, dan bahkan telah mencapai klimaksnya pada symposium 11-11-11 yang mempertemukan akademisi dengan praktisi untuk menyuarakan pandangan dan pendapatnya tentang tema symposium tadi yakni MATI (Matinya Arsitektur Tradisional Indonesia). Setiap kali perhelatan menjelang usai, simpulan tentang ihwal itu selalu muncul. Tetapi, setiap kali perhelatan itu usai, selesai pula segenap urusan dengan ihwal itu. Dan karena itu, tidak mengherankan bila segenap posting dari isyu ke-Betawi-an itu terkesan sebagai sebuah isyu yang baru, sampai-sampai Ahmad Djuhara mengajak untuk melakukan diskusi lebih serius, padahal beliau ikut berbicara dalam perhelatan 11-11-11 itu. Berikut ini dapat dibaca satu petikan posting dalam milis terebut. .

 

From: eryudhawan bambang <corbusier@hotmail.com>

Sender: iai-architect@yahoogroups.com

Mailing-List: list iai-architect@yahoogroups.com; contact iai-architect-owner@yahoogroups.com

Delivered-To: mailing list iai-architect@yahoogroups.com

List-Id: <iai-architect.yahoogroups.com>

List-Unsubscribe: <mailto:iai-architect-unsubscribe@yahoogroups.com>

Date: Wed, 21 Nov 2012 19:43:52 +0700

RR yth,mohon agar dapat meminta kesediaan Pak Her Pramtama melakukan “intervensi dini” thdp isu ini (sejauh benar dan agak mengkhawatirkan). Saya pikir Bapak Gubernur perlu mendapat pandangan dari arsitek di Jakarta agar informasi bisa lebih simetri.Kalau “ornamen Betawi” menjadi kewajiban di bangunan pemerintah daerah, mungkin masih dapat diterima, walau tetap dengan catatan, bahwa Jakarta juga ibukota Republik Indonesia loh. Jadi juga memikul beban sebagai wajah ibukota RI, tdk semata-mata wajah “lokal betawi”.

 

Sementara itu, dalam media facebook dapat kita temui berikut ini.

Bambang Eryudhawan

November 24

“Pasar Bulu, karya Karsten di Semarang, ca.1930-an: akan dibongkar dan diganti dengan yang baru, yang belum tentu lebih baik. Siapa arsiteknya yang dengan gagah berani maju ke depan untuk menghilangkan karya yang apik ini?”

 

 

 

05

Aryo Wisanggeni G menurunkan tulisan berjudul “Rahwana-Sinta: Antara angkara dan kesatria”; dalam Kompas minggu 2-Desember 2012; hal 20. Bagian akhir dari tulisan itu sungguh jitu untuk diterapkan pada ihwal arsitektur yang kita hadapi (mengingat tulisan Wisanggeni itu menunjuk pada pagelaran panggung, bukan arsitektur) arsitektur “Masalahnya, kita bangsa yang terlalu malas untuk melawan lupa ini, terlalu terbiasa menelan mentah apa yang disodorkan kepada kita. Rahwana-Sinta mirip batu uji, apakah kita cukup berpikir merdeka, terbuka, kritis, untuk menerima kemungkinan tafsir sejarah yang berbeda.”

 

 

Surabaya awal desember 2012



[1]  Disiapkan dan disajikan sebagai keynote speech dalam Seminar Nasional bertema Semesta Arsitektur Nusantara – 1, diselenggarakan oleh Jurusan Arsitektur Universitas Brawijaya, Malang, 12 Desember 2012

[2] Gurubesar dan pengajar aarsitektru di Jurusan arsitektur Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya  embah.petungan@gmail.com

[3]  Benua Eropa terbentuk dari demikian banyak bahasa anak-benuanya, tetapi dalam arsitekturnya hanya menggunakan ‘bahasa latin’ arsitektur saja.

[4]  Jangan ditanyakan, mengapa disebut iai-architect, dan bukan iai-arsitek. Padahal dengan pasti dan mantap ’arsitek’ itu adalah bahasa Indonesia.

Popularity: 49% [?]