di malam yang begitu dingin di kota beijing, saya teringat kejadian di jakarta beberapa tahun lalu;
kami tertawa terbahak bahak saat menyadari betapa kejadian dalam sehari itu penuh warna dan level hidup.
di jakarta, saat jalanan sorenya yang penuh dengan kendaraan berburu pulang, saya berada dalam sebuah taxi bersama bill.
ia memandangi dunia luar yang penuh kendaraan, sambil jejari tangannya tetap bermain dengan tuts macbook pronya.
saya melamun. hidup di jakarta, bukan saja susah tetapi juga menjemukan.
“putu, baru tadi pagi kita dijemput dengan heli dari bandara soekarna hatta ke site”, begitu ia memulai. “trus pindah ke proyek lainnya, kita dijemput dengan mercedes”, ia tertawa.
“kemudian kita pindah ke proyek lainnya, dijemput dengan innova”, saya melanjutkan. “kini, kita bandara dengan taxi!”, saya melanjutkan.
dalam taxi menuju bandara itu, kami tertawa, melepas penat. mata saya berair karena mulut penuh tawa.
bahagia.

di malam itu, saya berdiri kaku menunggu taxi.
udara beijing begitu dinginnya. manusia manusia lalu lalang dengan pakaian yang tebal.
tangannya bersarung, setebal sarung tinju.
kendaraan begitu ramainya.
taxi tak ada yang kosong.
lama saya menunggu taxi.
“maap putu, saya tak bisa menyediakan mobil buat anda untuk balik ke hotel anda. saya lupa, semua supir kantor sudah pulang”, li cheng berkata. “maap, maap sekali lagi”, ia melanjutkan.
“tak apalah”, saya menjawabnya. badan mulai gemetar.
taxi berlalu sekian banyaknya. tapi semuanya full.
di sisi kanan dan kiri jalan aspal yang penuh kendaraan itu, salju menumpuk.
saya berusaha untuk menyentuhnya dengan sepatu, salju tak ubahnya dengan serutan es balok yang saya lihat pada semangkuk es campur.
baru kali ini, setelah saya pergi ke mana mana, melihat salju dengan dinginnya.

tadi pagi, kami berangkat ke tempat meeting dengan maserati.
saat kami turun dan meninggalkan maserati, deruman mesin maserati begitu menggetarkan dada.
saat tadi kami berada di dalam kabinnya, sang supir melajukannya dengan santai. tak terasa suaranya yang heboh.
“putu, can you feel your seat heating up?”, brian bertanya. punggungnya digerak gerakkan. sepertinya ia nyaman.
“no lah, i feel cold!”.
ia tersenyum.
kanan kiri aspal, penuh salju. pepohonan berdiri kaku tanpa dedaunan. seakan mereka ingin berpesan untuk segera mendapatkan musim semi.

kami berdua, saya dan li cheng, masih beridir kaku. menunggu taxi.
“li cheng, bisa tilpun saja hotel di mana saya menginap?, suruh mereka menjemput saya di sini”, badan saya sudah digerogoti udara dingin. gemeretak gigi tak terasa bergerak sendiri.
hidung berasap saat bernafas, persis seperti pilem kartun saat sapi mengendus!.
li cheng menilpun. berbicara bahasa china. saya tak mengerti.
“maap putu, kendaaraan hotel tak tersedia”, li cheng berkata.
kini, tubuh terasa telah berubah jadi es. pakaian saya tak setebal tembok.
saat tadi di ruang meeting, manusia MGM berkata guyon,”pakaian kamu cuman segitu tebal putu?”, ia tertawa.
“setidaknya, saya menghabiskan waktu hampir 90% di dalam ruang, jadi saya hanya memakai pakaian ini saja sudah cukup”, saya menjawabnya.

dan malam itu saat taxi tak kunjung tiba,
pakaian ini tak mampu memberi perlindungan.
saya putus asa. kalah oleh dingin beijing.
“putu, kamu lebih baik masuk ke kantor saya lagi, biar saya yang menunggu taxi di sini. nanti kalau sudah dapat, biar saya yang mencari ke sana”, li cheng berkata.
kami bergerak ke arah kantornya.
malam sudah demikian dingin. manusia berjalan di trotoar berjubel. jam pulang.
beberapa di antaranya bergerombol di trotoar. bercakap dan tertawa. dingin bukan musuh buat mereka. mereka menikmati suara alam.
berjalan beberapa langkah, li cheng berhasil menangkap taxi kosong.
saya tersenyum bahagia.
dalam kabin taxi. dingin dikuras oleh hawa hangat kabin.

dalam kabin taxi itu, saya teringat dengan kejadian di jakarta itu; come with the rich, back with the ordinary. satu hal yang selalu saya rasakan terhadap ke duanya;

bahagia.

Popularity: 3% [?]