di desa keliki, saya menemukan keajaiban.

saya datang bertiga.

arsitek lokal bali ternama, datang dengan rombongannya sendiri.

kami semua berada di site itu, melihat kondisi site sebenarnya.

sebelum datang ke site itu, saya melihat master plan yang sudah rampung dikerjakan oleh arsitek lokal bali ternama itu.

saya membacanya dan sedikit tersenyum sumringah.

masih ada manusia yang meluluhlantakkan kondisi lahan yang sebetulnya sudah bangus.

jurang di bali, di mana mana nampak indah.

manusia yang datang ke lahan di manapun di bali, hanya setitik daging yang numpang liwat.

alam ini telah indah seindah-indahnya sebelum ada tangan tangan manusia datang ikut campur membuat sesuatu yang katanya bisa lebih indah.

*

di site itu,

di desa keliki.

satu jam perjalanan dari studio di mana saya bekerja,

saya bertanya kepadanya, si arsitek lokal bali.

“kenapa musti merontokkan sekian pepohonan yang tinggi dan tua. memotong keadaan site yang sedemikian berkontour itu”.

dia jawab dengan (mungkin) sedikit bergurau.

“jumlah kamar yang diminta sesuai dengan brief operator musti saya bisa dapatkan. lahan sedemikian kecil dan padat dengan pepohonan begini, tak bisa ke arah itu. memangnya pohon pohon ini dibiarkan begini buat penangkal petir?. kalau kita tebang saja dan ganti dengan pohon pohon baru dan tak terlalu tinggi kan lebih gampang merawat?, lebih fresh kelihatan”.

saya terdiam.

tak mau berdebat.

karena tuhan juga diam, tak berucap sepatah katapun.

kenapa pula saya musti berkata hingga liur habis?.

ini ajaib!.

*

di mana mana, siapapun operatornya,

selalu saja desainer hotel diberikan brief yang salah satunya berisi kebutuhan jumlah kamar.

banyak kemudian lahan terekploitasi untuk mengejar jumlah kamar itu.

desainer membabi buta, mengejar setoran ke operator.

yang rugi adalah alam ini.

yang kemudian merembet ke lingkungan sekitar dan ujung ujungnya bencana alam yang tak pernah kebayang akan datang memeluk mereka yang sama sekali tak pernah si desainer itu pikirkan.

disini diekploitasi, di tempat lain menuai bencana.

di sana digaruk dan dipotong, di sini yang menelan musibah.

efek bejana bejana berhubungan.

*

mulailah memikirkan,

jikalau memang lahan sudah besar,

dan musti mendapatan jumlah kebutuhan yang diminta,

biarkanlah site yang menentukan seberapa banyak yang bisa kita garuk.

jangan mata ini didikte oleh aturan main dari operator atau klien.

desainer mestinya bisa berpikir di luar nalar biasa.

lahan besar tapi yang kita garuk hanya secuil saja sudah cukup.

demi alam,

demi lingkungan binaan,

demi masyarakat sekitar,

demi anak cucu,

dan demi nama baik perancang;
bahwa dengan keluar dari aturan main dan memihak kepentingan lingkungan yang sudah semakin parah ini,
percayalah, masih ada operator yang mau menerima jumlah kamar sedikit dan keluar dari masalah pemasukan dengan manaikkan rate roomnya.

*

kita bisa.
sepertinya perancang lain juga pasti bisa.
jangan membuat keajaiban-keajaiban itu, karena manusia besarnya hanya secuil di alam ini.

Popularity: 1% [?]