kertas berlembar-lembar menumpuk di mejaku.

sekarang dibersihkan, sekarang juga aku kehilangan pulpen.

kertas bertumpuk-tumpuk menebal di meja kerjaku.

sekarang dibersihkan, detik itu juga aku bingung di mana penggarisku.

anak anak datang ke ruanganku dengan sekian lembar kertas berisi gambar gambar hotel berbintang.

bau badannya semerbak menyengat membuyarkan konsentrasi.

beda banget dengan bau badanku. terasi busuk.

terkadang aku bingung sendiri memikirkan sedemikian begonya kah tuhan memberi kekayaan bau badan alami manusia yang terkadang begitu pengit menyengat, lebih parah dari bau terasi busuk?, sampai harus menutupinya dengan bau parfum merek berkelas seperti job-job berkelas yang selalu aku garap saban hari?.

sedemikian parahnyakah wajah-wanita tanpa kosmetik sehingga musti dicat tebal dan dilumuri sedemikan berlapis bedak yang mirip dengan tepung terigu itu, biar kelihatan lebih memikat?.

*

aku memandangi tumpukan kertas berlembar-lembar,
penuh garis hitam dan angka-angka.
aku rindu wajah asli meja ini.
lupa sampai ke jidat, seperti apa wajahnya tanpa kosmetik lembaran-lembaran kertas gambar kerja ini di atasnya.
aku garuk semua lembaran kertas itu yang menumpuk menutupi permukaan meja.
berserakan ke mana mana.
berjatuhan lembaran lembaran itu kini menutupi lantai.
mejaku lebar dan luas berwarna hijau.
berukir.
nampak indah si meja yang telah lama menemani mendisain.
tanpa beban.
bikin perut tenang.
beda banget saat aku melihat wanita wanita tanpa kosmetik.
bikin sakit perut, terkadang.
mungkin sama halnya kalau aku tak banyak ngomong di depan para wanita itu,
karena bau busuk mulutku, bikin rontok bedak mereka.
maap.

Popularity: 2% [?]