oleh tjahja tribinuka, dosen muda, institut teknologi sepuluh november, surabaya

Secara umum ada 3 falsafah proses merancang di Indonesia. Pertama adalah proses merancang Western yang diturunkan dari teori dan metoda hasil pemikiran cendekiawan Western. Teori ini masih disembah sujud dan digunakan oleh seluruh Perguruan tinggi di Indonesia. Kedua adalah proses merancang yang sedang berlangsung saat ini entah dari pemikiran siapa, yang jelas melibatkan bentuk, ruang dan struktur (karena masih belum jelas, saya sebut sebagai falsafah indonesiana). Ketiga adalah proses merancang arsitektur nusantara yang akan saya telanjangi dan setubuhi dalam karya tulis ini. Benar-benar akan saya telanjangi dan setubuhi !

Proses perancangan arsitektur Western

gambar-3a.jpg

Secara umum kegiatan merancang bidang profesi dan pendidikan di Indonesia diawali dengan pilihan; dari gubah bentuk, penataan massa dan rekayasa struktur. Kegiatan merancang selanjutnya akan terbagi menjadi dua bagian, yaitu massa bangunan dan lanskap. Aktualisasi dari rancangan tersebut berupa gambar dua dimensi yaitu denah, tampak dan potongan, disertai dengan gambar tiga dimensi berupa perspektif atau aksonometri. Berbeda lagi dengan arsitektur nusantara.

Proses perancangan arsitektur indonesiana

gambar-3b.jpg

Arsitektur nusantara masa lampau tidak memerlukan gambar kerja seperti arsitektur mutakhir. Arsitek terjun langsung dalam proses hingga arsitektur terwujud (=terjadi≠terbangun≠selesai). Arsitek lebih banyak menggunakan tulisan untuk menetapkan space, from dan order. Penjelasan kepada tukang dan pembantunya dilakukan dengan membuat diagram dan sketsa kasar. Esensi dari fenomena ini mengakibatkan kecenderungan bahwa arsitek nusantara adalah ahli yang menguasai kreasi pelaksanaan dan detail dari perwujudan arsitektur
Pengaturan tatanan ruang dilakukan dengan pembagian area di dalam lahan, kemudian menetapkannya dari hal yang paling utama (aspek spiritual) menuju sepele (aspek pelayanan/service). Primbon dalam arsitektur tradisional jawa menetapkan lokasi pintu masuk, sumur dan lain-lain dengan sifat yang berdampak pada kualitas kehidupan penghuninya. Arsitektur tradisional Bali menetapkan ’Sanga mandala’ dan membagi lahan dari yang utama, mengengah (madya) dan buruk (nista). Ruang terbuka yang tidak ternaungi atap di Bali disebut sebagai natah. Pada umumnya ada tiga natah yaitu natah sanggah (merajan), natah bale dan natah paon. Kalau halaman didepan dianggap sebagai natah, maka terdapat empat natah dengan tambahan natah penunggun. Namun ada juga rumah tinggal yang memiliki dua natah yaitu natah merajan dan natah-bale.
Permukiman tradisional toraja diawali pembangunannya dengan menetapkan tongkonan sebagai tanah yang dibatasi secara khusus. Lingkungan alam di sekeliling tongkonan adalah wilayah yang menjadi tanah tongkonan dengan fungsi untuk mata pencaharian, pasar, penyembelihan hewan, upacara penguburan dan lain-lain. Hunian tradisional Jawa diawali perwujudannya dengan memberi sesaji (persembahan kepada pencipta) untuk menandai sudut-sudut lahan. Pada intinya kegiatan penetapan batas lahan tersebut dilakukan sebagai bahan orientasi rancangan dalam pengaturan ruang-ruang arsitektur.
Kegiatan paling awal dari perwujudan arsitektur nusantara adalah penentuan bahan/material arsitektur. Rumah adat Minahasa menggunakan kayu dari jenis pohon yang diambil dari hutan, yaitu kayu besi, linggua, jenis kayu cempaka utan atau pohon wasian (michelia celebia), jenis kayu nantu (palagium obtusifolium), dan kayu maumbi (artocarpus dayphyla mig). Kayu besi digunakan untuk tiang, kayu cempaka untuk dinding dan lantai rumah, kayu nantu untuk rangka atap. Bagi masyarakat strata ekonomi rendah menggunakan bambu petung/ bulu jawa untuk tiang, rangka atap dan nibong untuk lantai rumah, untuk dinding dipakai bambu yang dipecah. Bahan yang dipilih untuk Rumah tradisional Bali adalah kayu jati dengan mempertimbangkan posisinya saat masih menjadi pohon. Ketika digunakan sebagai tiang penyangga harus dalam posisi yang sama bagian atas dan bawahnya.
Demikian pentingnya bahan/material dalam perwujudan arsitektur nusantara. Pertimbangan bahan/material tersebut dapat dipergunakan sebagai kegiatan awal proses merancang arsitektur nusantara masa kini. Pemilihan bahan/material mutakhir ditentukan dengan berbagai pertimbangan yang nantinya dapat mendukung pencapaian kehidupan yang lebih baik dari penghuninya. Pertimbangan pemilihan bahan bukan hanya didasarkan faktor keawetan fisik, kenyamanan akustik dan thermal serta kemananan kesehatan saja, namun juga perlu dipertimbangkan faktor non fisik yang berdampak terhadap baik buruknya perilaku penghuni secara psikologis.
Metoda-metoda hasil analisis arsitektur nusantara dapat diterapkan untuk melanjutkan proses perancangan mutakhir dengan menetapkan batas lahan; mengatur tatanan ruang; membuat tulisan, diagram dan sketsa; serta melakukan perwujudan arsitektur. Usaha untuk melakukan proses ini sedapat mungkin didasarkan atas pertimbangan rasional dan spiritual.

Proses perancangan arsitektur nusantara

gambar-3c.jpg

Popularity: 13% [?]