oleh tjahja tribinuka, dosen muda, institut teknologi sepuluh november, surabaya

Sampai saat ini semua perguruan tinggi penyelenggara pendidikan arsitektur di Indonesia masih meggunakan falsafah Western. Penyusunan Kurikulum mengacu pada teori-teori dari pemikir Western dan memang kata arsitektur sendiri juga diturunkan dari bahasa Yunani. Demikian pula dengan buku acuan yang digunakan untuk mengulas teori dan metoda perancangan arsitektur bersumber dari pemikiran yang pemahaman arsitekturnya berbeda dengan pemahaman masyarakat negara kita.
Penulis Westwern (saya terbiasa menulis secara ilmiah, namun dilarang Putu Mahendra mencantumkan referensi, karena tidak ingin membuat orang yang direferensikan menjadi lebih ngetop melalui situsnya) mengklasifikasikan warisan budaya menjadi dua bagian, yaitu warisan budaya yang bergerak (movable herietage) dan yang tidak bergerak (immovable herietage), arsitektur termasuk dalam kelompok warisan budaya yang tidak bergerak. Klasifikasi ini perlu dikritisi dengan potensi yang terdapat di arsitektur nusantara, karena rumah lanting yang sudah ada di Kalimantan Selatan sejak abad ke-17 adalah obyek arsitektur yang terapung di sungai. Masyarakat membuat rumah lanting karena faktor geografis yang disebabkan tingginya perbedaan pasang-surut sungai, dan faktor ekonomis yang disebabkan mata pencaharian utamanya sebagai nelayan. Fakta tersebut menunjukkan bahwa kerugian besar akan terjadi jika masyarakat tidak menelusuri dan mengklasifikasikan sendiri potensi yang terdapat pada arsitektur nusantara. Sebenarnya ide arsitektural masyarakat nusantara masa lampau tidak kalah dengan arsitek-arsitek kaliber internasional.

gambar-2a.jpg
Ide mobillitas rumah terapung/lanting di Kalimantan dibandingkan dengan teater terapung ’Teatro del Mundo’ di Venesia tahun 1989 yang dirancang Aldo Rossi (Peraih Pritzker Architecture Prize 1990)

gambar-2b.jpg
Ide rumah vernakular mengambang di Papua dibandingkan dengan rumah modern di Leymen, Perancis yang dirancang Jacques Herzog dan Pierre de Meuron (Peraih Pritzker Architecture Prize 2001)

gambar-2c.jpg
Ide bentuk bangunan tropis arsitektur tradisional Aceh dibandingkan dengan Rumah modern di Australia tahun 1994 yang dirancang Glenn Murcutt (Peraih Pritzker Architecture Prize 2002)

gambar-2d.jpg
Ide bentuk dinamis rumah adat Toraja dibandingkan dengan Vitra Fire Station di Jerman tahun 1993 yang dirancang Zaha Hadid (Peraih Pritzker Architecture Prize 2004)

gambar-2e.jpg
Ide menggunakan ruang bawah sebagai place untuk Rumah Panjang suku Dayak dibandingkan dengan ruang bawah Cartier Foundation for Contemporary Art di Perancis tahun 1994 yang dirancang Jean Nouvel (Peraih Pritzker Architecture Prize 2008)

Pemikir Westwern membedakan proses perancangan menjadi jalur kasat mata (tangible) dan tidak kasat mata (intangible). Walaupun proses perancangan arsitektur nusantara termasuk jalur intangible yang tergolong Exotic dan Multicultural, namun penjelasannya tidak ada yang sesuai dengan karakteristik proses rancang arsitektur nusantara. Dalam pemikiran Westwern  lahan dibahas dengan potensi topografi dan eksotisme, sedangkan arsitektur nusantara memahami lahan dalam pandangan kosmologis yang punya orientasi dan hubungan dengan kehidupan manusia. Penjelasan tentang bahan/material berhubungan dengan ke-alamiah-an dan estetika, sedangkan arsitektur nusantara menetapkan bahan/material sebagai sumber yang memiliki potensi dan berpengaruh mempengaruhi baik buruknya kehidupan manusia. Penjelasan tetang detail arsitektur lebih didasari kebanggaan dengan teknologi vernakular, sedangkan arsitektur nusantara memandang detail arsitektur secara rasional dan lebih mementingkan aspek simbolik. Perbedaan dan ketidak jelasan ini justru pemicu yang dapat digunakan untuk aktualisasi jati diri proses merancang arsitektur nusantara.

Popularity: 13% [?]