datanglah ke bali.

melihat bebukitan.

sawah dan ladang.

daerah jimbaran yang tandus.

ubud yang menghijau dan ramai bunyi pepahatan dan suara gong.

tanah yang subur di mana kita berpijak dan nantinya sebagai lahan menanam bangkai.

bagi sebagian arsitek “luar” yang mencari makan di bali,

dan semua pemuda pemudi lokal yang berprofesi sebagai arsitek;

lahan lahan berkontor dan lebat oleh vegetasi,

dibabat habis,

kontor dipotong bak memenggal leher kebo.

pepohonan dan semua vegetasi dicukur seperti mencukur rambut kemaluan.

etika ini memang tak serta merta diatur dalam sebuah undang undang,

semua orang berhak untuk melakukan segala hal terhadap tanah di mana berpijak.

kalau sudah merasa bisa memperlakukan jongos jongos pekerja yang menggarap proyek dengan baiknya,

mungkin sudah dianggap terlalu tinggi presetasinya,

lebih tinggi ketimbang membuka hati utk memperlakukan tanah yang alami dengan bijak.

di sebuah hutan lebat di ubud,

saya bilang dengan hormat untuk tak membakar lahan hanya gara gara sepuntung rokok saat melihat sebagian besar dari rombongan mulutnya mengeluarkan asap.

saya ingat sonny sutanto saat mengajak saya ke immigrant saat restaurant ini belum kelar.

menghardik para pekerja yang ketahuan merokok di dalam ruangan di mana jobnya sedang digarap.

beberapa hari lalu saya menerima sms, ‘kamu kurang ajar!”.

mungkin saya telah mencuri wakul nasi dia atau memperkosa istrinya.

banyak orang baru bisa berteriak teriak kurang ajar terhadap yang lainnya,

tanpa tahu bahwa dirinya sendiri juga telah melakukan hal yang kurang ajar pada sudut mata yg lain,

sama pahitnya dengan berteriak hore karena kita begitu “care” dengan para jongos pekerja,

tapi tak terlalu perhatian dengan tanah di mana kita berpijak.

(karena mungkin tanah kita berpijak, hanya dipakai nantinya untk menanam bangkai)

Popularity: 1% [?]