“i feel that i m nothing”, katanya di siang hari.

kami bertemu di cabang-cabang pohon ancak.

duduk di sela-sela cabang yang kokoh.

saya memanjatnya dari pohon ke pohon.

ia memanjatnya dari bawah pohon di mana kami bertemu.

burung tekukur berterbangan. merasa diganggu.

hinggap kemudian di tepian pasir pantai.

awan menepi ke samping, tak bergumpal.

sinar matahari menembus dedaunan pohon ancak.

angin berdesir, ranting-ranting bergerak bernyanyi lirih.

angin membawa bau.
bau bebungaan yang datang dari arah bukit. turun menerobos terjalnya hidup mereka yang berjuang di tengah hutan.

dari cabang-cabang pohon ancak yang kekar, horison langit tergambar nun jauh di sana.

asap pabrik pembakar sampah mengepul mewarnai langit.

aku melirik ia.
selendang merangkul lingkar lehernya. sutera biru.
tak ada kosmetik yang menemani. jemarinya sibuk meremas dedaunan yang ia petik. gusar dan bingung adalah nyata.
matanya kini menjadi mata air.
butir-butir bening bergerak pelan.
mengalir di tepian mata.
menitik berjalan meniti keluar tepian kelopak.
menerobos pori-pori pipi yang bersih.
melewati dagu kemudian terjatuh ke tanah.
dari tanah, menghilang bersatu dengan aliran anak sungai yang tersembunyi dalam rangkulan ibu pertiwi.
hingga akhirnya dibuang ke lautan.
berasa beban sudah sirna?.
*
“ketahuilah”, saya berkata tanpa bibir bergerak dan masih terkatup.
tak ada yang mendengar.
bahkan seorang dewapun.
hanya angin bergerak yang membawa suara.
burung tekukur yang pergi ke tepain pantai, hinggap kembali di seberang ranting.
ia mendengar percakapan sepi kami.
“kamu masih punya keluarga”, suara saya tak ada yang mendengar. kecuali ia.
“terutama orang tuamu. mereka masih mau mendengar?”, saya bertanya.
dewapun tak mendengar pertanyaan ini.
ia menggangguk.
“ada adik-adik, kan?, yang masih selalu memberi canda gurau. yang masih selalu kamu bisa ejek, kamu  bisa ajak suka ria bersama”, saya berucap tanpa suara.
ia menggangguk.
“kalaupun mereka juga telah pergi bersama sepi. kalaupun mereka tak ada karena telah bergumul dengan waktu, setidaknya kamu tetap akan punya satu hal yang selalu bersama menemani”, saya melanjutkan. tanpa suara.
“apa?”, ia menuangkan kata pertamanya. ia berucap dengan bibirnya terkatup. tak ada yang mampu mendengar suara pertamanya. hanya saya. burung tekukur memiringkan kepalanya. tak ada suara yang ia tangkap.
“tubuhmu. tempat di mana kamu berada”, saya menjawab. tiada suara.
“tubuh adalah teman saat kamu masih seukuran mili. tubuh adalah teman saat kamu pada posisi suka dan duka. dalam keadaan sakit ataupun terjungkal. tubuh tak akan meninggalkanmu. kamu dan tubuhmu selalu bersama menyatu”.
ia menunduk.
“tuhan bersemayam pada setiap tubuh yang ia cipta”, saya melanjutkan.
“sujatinya kamu tak pernah sendirian”.
kami bercakap.
tanpa suara.
karena bibir bisa salah.

 

Popularity: 1% [?]