hari sabtu lalu,

saya menginap di rumah tua.

di singaraja.

seperti biasa, hanya ada ibu saya.

dia sendiri.

bapak sudah hilang bersama debu.

hanyut bersama air laut.

terbang bersama angin.

menepi di entah di mana.

setelah acara bersama teman teman SMA dulu berakhir, saya pulang ke rumah agak larut.

larut malam.

malam yang hitam pekat.

pekat yang begitu rapat.

ibu membukakan pintu rumah.

selalu begitu.

walau saya sudah semakin memutih di rambut.

“malam banget”, sapanya.

“sudah makan?”, pertanyaan yang selalu meletus dan tak pernah dia lupa.

“iya, acara baru kelar. anak anak baru bubar”, saya menjawab.

“saya belum makan. tadi sih dikasih makan tapi saya ndak mau makan. perut kok ndak mau makan di restaurant itu. ingin makan di rumah saja”, saya melanjutkan.

saya ke dapur.

mengambil piring.

menyendok nasi.

lauk dan pauk ala kadarnya.

sekedarnya.

sekedarnya inilah yang menghidupi ibu saya.

sesederhana inilah yang menemani ibu saya.

setiap hari.

saban hari.

tak peduli terik dan hujan.

tetap seperti ini.

dan saya,

anak tertuanya,

terbang ke mana-mana.

dari satu negara ke negara lainnya dalam satu hari.

makanan saya, bukan makanan sekedarnya.

bukan makanan seadanya.

tentu bukan!.

tapi,

saya begitu menikmati makanan sekedarnya ini.

pas sekali di lidah saya. jumlahnya tak banyak. dan itu itu saja.

makanan ibu, membawa saya ke masa silam.

saya menikmati tiap butir nasi,

tiap bongkahan daging dan sayur.

di tiap tiap suap, ada cerita lama.

mata saya tergenang air.

selesai makan,

bak cuci tetap di pojok sana.

menerima piring bekas dan sebagai tempat membersihkan piring dan gelas serta sendok.

saya masuk ke ruangan.

ibu saya tergeletak membungkuk menahan dingin.

ia tidur di depan tipi.

selalu begini,

sejak saya balita.

hingga anak-anaknya pada besar dan menyebar di kota. beliau tetap tidur beralas karpet tipis dan tipi selalu menyalak.

saya memandangi ibu saya yang terlelap.

terlelap di lantai beralas karpet tipis.

sementara si tipi, tetap menyajikan acaranya.

dan penonton utamanya telah lelap bersama pekat malam.

saya memandangi ibu,

ia membungkuk, melipat kakinya dan badannya.

udara desa, dingin merayap.

saya anak tertuanya,

tidur di kamar kamar hotel.

hotel sekian  bintang.

kasur mpuk.

selimut tebal dan udara ruangan kamar yang begitu merayap berangkulan dengan suhu dingin yang bisa diatur seenak udel!.

sementara di rumah seng,

saya tertidur pulas dengan keadaan yang nyaris sama dengan kamar tidur hotel-hotel itu.

saya memandangi ibu saya,

yang tak mau diajak tinggal di rumah di mana saya tinggal.

ia setia dengan rumah di mana anak-anaknya besar dulu.

tubuhnya dilipat. kakinya menekuk.

menahan dingin.

ia lepas, terlelap bersama pekat malam.

“sejahat apapun kamu, kamu tetap anakku. ibu tetap menyayangimu,…”, katanya di suatu malam saat saya menilpunnya.

malam yang pekat.

saya masih bekerja.

pekat yang penuh maap.

Popularity: 5% [?]