ini tentang hidup manusia di dunia materialistik.
semoga ndak ada yang tersinggung, hehehehe

…..

saya terbang dari paris menuju LA.
dengan pesawat super jumbo, super raksasa. terbesar di kelas manapun.
airbus 380.
boss duduk di kursi first class.
saya duduk di business class.
apa bedanya antara class itu?, saya tak mau memikirkan.
hanya satu di otak saya, tidur!.
sampai di kota itu,
petugas imigrasi menahan saya.
ia menggiring ke ruang “alien”.
ruang khusus, ruang di mana kemudian saya tahu adalah ruang interogasi buat mereka yang mungkin kena stempel “dicurigai”, 🙂
wajah saya gembrong.
rambut brandal panjang.
kumis brewok, jenggot sombong menggelantung.
itu mungkin yang membuat saya juga musti masuk ke ruang itu.
bersama mereka yang sebagian besar berkulit hitam.
sebagian bersorban. sisanya mereka yang bermata sipit.
ruangan penuh oleh manusia manusia seperti itu.
dan saya adalah salah satunya.
“nama?”, petugas bertanya.
“putu mahendra”, saya jawab.
“pekerjaan?”,
“arsitek”.
“asal?”,
“saya asli bali. anda pernah ke bali?”.
“untuk apa datang ke sini?”,
“saya ada proyek di puerto rico”.
“ngapain?”,
“saya desainer landskap utk hotel ritz carlton di puerto rico”.
“apa bedanya arsitek dan landskap arsitek?”,
“landskap arsitek adalah…..”, saya menjelaskan panjang lebar.
pertanyaan datang kemudian. bertubi tubi
setelah itu, saya tak keluar. tetap duduk lagi untuk proses berikutnya.
saya terduduk lemas.
pesawat musti tersambung dari kota ini menuju puerto rico.
dan gara gara wajah saya yang berantakan, pesawat terbang ke puerto rico tanpa saya.
baru saja saya menikmati tingkat kehidupan yang dramatis, diservis dengan makanan yang menakjubkan.
terbang dg business class.
selimut tebal penghangat ruangan.
pramugari yang sexy perempuan perancis.
melayang di udara melintasi antar benoa.
kini, di malam itu,
saya teronggok tak berdaya.
….
desember lalu.
saat awan tebal menggelayut di atas sana.
saya berjalan berjingkrak jingkrak melewati paving trotoar jalanan yang basah.
orchad road, nampak ramai oleh lalu lalang manusia, walau hujan rintik rintik menderai.
jalan ini tak pernah sepi. selalu ramai oleh manusia manusia yang ingin dilihat dan melihat.
orchad adalah lambang, bahwa anda telah menjadi manusia berkelas. menjadi ratu dan raja dunia.
dunia materialistik.
saya ajak anak bini, masuk ke salah satu butik.
butik yang menjual tas dan sandal serta segala hal yang fashionable; louis vuitton.
istri saya tak pernah masuk ke tempat beginian. sayapun tak pernah.
orang musti ngantre untuk bisa masuk. tak tahu, apa yang mereka cari ke situ.
lifestyle?.
di dalam butik itu,
mata disuguhi oleh drama kehidupan yang begitu cantiknya.
orang orang berdandan dengan indah. kami tidak.
sangat tahu aturan. kami tidak.
fashion-able. saya dg sandal jepit.
istri saya tertawa, melihat harga tas yang sedemikian melangit.
saya terbiasa dengan beginian. kehidupan yang fashionable. 5 stars.
profesi saya telah membawa diri ini ke dalam hal hal,,,yang gitu deh.
“mir, kamu pilih satu tas. ae beli deh”, saya berkata di ruangan yang dingin itu.
“hah???????, yang bener saja. masak beli tas seharga puluhan juta kayak gitu?, buat apa???”, istri membelalakkan mata.
“sudahlah, beli saja satu. pilih saja”, saya memaksanya utk memilih satu di antara sekian tas yang berderet di rak.
istri dengan berat hati, memilih satu tas.
saya gesek satu kartu.
dan kami meninggalkan butik itu.
hujan masih rintik rintik.
manusia manusia lalu lalang.
tas LV itupun dipakainya.
hanya beberapa hari.
sehabis itu, ya …gitu deh.
teronggok di pojok meja.
bersama dompet prada yang saya kasih saat ia berulang tahun beberapa tahun silam.
mungkin level hidup saya dan istri tak seperti mereka yang berdandan di butik louis vuitton itu.
barang barang yang menjadi incaran manusia materialistik di luar sana,
teronggok seperti sampah, tak berdaya.
di rumah yang berbahan seng bekas.
…..
beberapa bulan lalu,
saya berada di plaza indonesia, jakarta.
ada meeting di kota itu dan saya datang sehari sebelum hari meeting.
melanglang dulu di kota.
membeli spare part vw di atrium senen.
trus singgah di plaza indonesia.
di mall yang selalu ramai itu,
saya mampir di salah satu butik.
berlogo 2 huruf capital.
staff yang rapi dan santun, menyambangi saya.
pakaian saya yang udik, rambut ugal dan bau mulut yang busuk, ia menyapa.
“ada yang bisa saya bantu?”.
saya tersenyum tanpa membuka mulut. takut ia akan bersin bersin karena menghirup bau mulut saya….
“mau lihat lihat saja bang, boleh ya..”, saya menjawab.
“silahkan mas..tak apa”, ia menjawab.
pengunjung berdatangan ke butik ini.
pakaian mereka yang…ya gitu deh.
tingkah laku mereka yang….ya gitu deh.
aroma wangi mereka yang…ya gitu deh.
cumak saya yang…ya gitu deh.
“tas ini berapa an bang?”, saya tanya.
staff meninggalkan saya.
ke mejanya, mengetik sesuatu. kode tas ia masukkan.
harga dolar. dan ia memencet tuts kalkulator. sepertinya saya ada di las vegas.
ia mencari harga dalam rupiah.
ia datang kemudian, menghampiri saya.
“36 juta delapan ratus ribu”, ia berujar.
mulutnya tersenyum simpul.
saya berusaha menampakkan wajah terpesona, “HAH….?”.
tangan membentuk huruf V di bawah dagu, seperti penyanyi wanita wanita yang ngetop itu.
“kalau anda punya duik sebesar 36 juta delapan ratus rebu rupiah, anda mau beli tas ini atau beli yang lainnya?”, saya tanya.
wajahnya mengeras. ia berusaha berpikir.
“yaa..saya beli yang lain aja mas..”, ia tertawa.
saya gesek kartu kredit.
wajah staff butik itupun puas. walau ia tak mampu untuk memiliki, setidaknya ia bisa menjual satu tas di sore itu.
dalam kepura-puraan wajah yang masih menampakkan keterpesonaan karena harga selangit itu, saya berpikir, “apa yang saya cari?”.
kini,
tas itu setia menemani kemanapun saya terbang.
ada tag nama saya yang menggelantung, PM.
terasa hambar.
atau tepatnya, saya tak merasakan dentum gelegar seperti yang dirasa oleh mereka yang mengejar materialistik kehidupan.
apa yang mereka cari dengan sebuah logo?.
nasib tas berlogo itupun sama dengan tas tas lain berkelas milik istri saya,
teronggok di pojokan saat ndak dipakai.
mereka mengejar, saya membuang.
sampah materialistik kehidupan kaum atas.
…..
jumat lalu,
saya ada di pernikahan adik misan.
dia satu satunya anak laki di keluarga paman.
kami menjemput mempelai wanita, di kampung di mana saya sempat habiskan masa kanak kanak saya.
kampung di mana asal muasal ibunda saya besar.
di kampung yang penduduknya sedemikian padatnya, rumah dibelah oleh gang gang amat sangat sempit.
motor yang lalu lalang, membuat pengendaranya musti menurunkan 2 kakinya agar motor berjalan seimbang saat melampui rerumahan kalau orang orang duduk di teras rumah mereka.
kami berpapasan. seperti semut.
saling menyapa. seperti semut.
kepala menggangguk, tanda minta permisi untuk liwat.
seperti halnya sebagian besar rumah rumah di kampung ini,
begitu juga rumah di mana mempelai wanita tinggal.
sempit.
sumur air menjadi bagian khas dan yang musti ada.
teras kecil yang menganga langsung ke halaman yang juga sempit.
teras itupun kemudian menjadi foyer untuk masuk ke 3 kamar tidur.
itu saja.
tak ada living room yang exclusive.
tak ada dapur expos seperti di majalah majalah interior.
tak ada pernak pernik yang menyilaukan mata, selain tipi dan poto anggota keluarga.
tak ada kursi, tamu ataupun yang punya rumah duduk bersila ber-alas tikar atau karpet sederhana murahan.
itu saja.
dan mereka bisa hidup tentram.
tak ada material kehidupan yang menyilaukan mata.
tak ada aroma wewangian bak semerbak mereka yang saya lihat di hotel hotel berbintang apalagi di butik butik itu.
saya berpikir,
warga kampung ini bisa tentram.
bisa makan tanpa merusak hidup orang lain. hati yang sederhana.
mereka bisa.
mustinya sayapun bisa.

Popularity: 9% [?]