subuh pagi aku mencarimu.
saat matahari masih buta tak mampu berpendar.
mengelilingi kota yang masih senyap.
embun subuh membasahi dinding kota.
suara dengkur penghuninya memekakkan sanubari.
dewa dewi di atas sana sedang bermalas malasan.
aku sibuk mencarimu.
dalam kepalan gelap berselimut kabut pagi.
berharap nasib berubah seketika di itu subuh.

pekerjaanku yang tebal menumpuk,
tak terbilang banyaknya.
merangkak menyeret langkah di setiap hariku.
bebanku bertambah berat saat sepi memberitahu engkau menghilang di purnama ke tujuh di tahun itu.
meninggalkan bonyok luka yang aku toreh.
meninggalkan bau liur yang menempel di tengkuk.
meninggalkan angan yang baru saja terbentuk.
aku memusuhi tuhan,
ia telah memberi jalan dan tempat buatmu bersembunyi.
di kota yng secuilnya gedenya.
dalam subuh yang dingin.

di kota yang secuil gedenya.
aku terhenti melangkah.
telah habis semua lorong,
telah tercentang semua gang,
telah kutelusuri semua jalan tikus yang biasa engkau lalui,
telah habis semua warung di mana biasa kita nikmati pinggiran senja.
telah habis kusaring semua udara tempatmu membuang sendiri.
aku terkulai,
seperti daging tanpa tulang.
habis angan,
dan asa,
peluhpun tak punya, disedot gelap di subuh itu.

aku memusuhi tuhan,
ia telah menyelamatkanmu.
memberi tempat yang tak berdaya aku jangkau.

Popularity: 1% [?]