saya,

pandangi lautan depan restaurant.

beberapa kapal melayang di atas air.
beberapa lalu lalang.
beberapa bangunan menjulang melayang di atas air.
beberapa dikonstruksi menjulang.
hongkong, siang tadi.
saya,
pandangi sepiring makanan.
piring keramik putih,
dengan segala daging dan kue.
segelas air di sampingnya.
segelas jus wortel juga di sampingnya.
seabreg orang berdesakan di restaurant.
berbicara,
tertawa.
bersantap.
siang yang hingar.
saya,
menatap ke lautan di depan.
sepi.
melamunkan sesuatu;
pekerjaan.
anak anak dan bini.
mobil tua.
studio.
anak anak kantor.
jiwa jiwa yang menunggu untuk dilahirkan,
mereka yang sakit dan kesakitan,
tuhan.
tentu ada maksud kenapa saya musti selalu berada di kejauhan rumah.
berinteraksi dengan mereka yang bisa bernafas lega di lantai lantai bangunan yang menjulang.
menikmati seteguk dua teguk wine cap langit.
menggesek kartu kredit tanpa beban.
dan saya,
terlibat di dalam pekerjaan-pekerjaan yang melangit.
nasib?.
mungkin ada hal lain yang utama selain tertawa,
selain menikmati masakan kelas atas.
menikmati pekerjaan pekerjaan khas langit.
menunjukkan muka di facebook,
update proyek proyek di sosial media lainnya.
mengumbar tawa yang maya.
yang musti selesai dilakukan sebelum pulang.
saya,
sekali lagi menoleh ke arah kerumunan orang orang yang berjubel itu,
sesaat sebelum terduduk,
orang restaurat bertanya, “anda pilih di keramaian di sebelah sana apa di sini. sepi?”.
“di sini. sepi”, saya menjawab.

Popularity: unranked [?]