20100804-20100804-_DSC0287di depan saya ada 2 bule.
mereka architect in house klien.
klien tak menghire arsitek untuk menggarap hotelnya.
ia punya skuad sendiri.
dan studio di sanur menggarap lanskapnya.
saat presentasi beberapa bulan lalu,
kami ubah fasad bangunan mereka.
di presentasi itu,
mereka berbisik pelan, “jangan sentuh arsitektur kami”.
dan,
di presentasi itu,
tubuh landskap kami diberi tepuk tangan.
kami senang.
merekapun senang.
di ujung presentasi, ada kabar bagus;
“mari selesaikan hotel ini dalam 9 bulan”.
wow!.

di meeting itu setelah sekian bulan waktu dari presentasi
ada dua bule di depan saya lagi.
meeting lagi.
membahas segala hal kemajuan.
waktu mendesak.
beton telah mulai dicor.
kontur tanah asli kini telah mulai memudar.
pisau raksasa membagi site bak kue tart.

ada due bule di depan saya.
mereka bilang kini;
“apa guna dua mata di gambar kamu?.
bisa kita delete satu mata? kan masih bisa lihat juga?”.
saya berpikir panjang.
satu mata kini dicongkel.
mereka berkata lagi;
“tangan kamu kebesaran satu, bisa saya ganti dengan tangan yang lebih kecil.
ini kebetulan saya dapat tangan di pasar loak milik boneka barbie. cocok ditubuh lanskapmu”.
saya berujar panjang lebar. mempertahankan tangan saya.
ujung dari diskusi itu, tangan saya dicungkil. diganti dengan tangan barbie.
“lobang hidungmu bisa satu saja kan?. satu saya rasa cukup!’, katanya lagi.
saya bercermin, kini tubuh saya sudah porak poranda.

ada dua bule di depan saya.
mereka merasa pintar dalam mendisain.
“bisa kamu jalan dengan satu kaki?”, katanya di hari yang mulai gerah.
ia mencabut satu kaki saya dari tubuh lanskap tubuh saya.
mulut saya berujar dengan kalimat memanas.
perlahan saya ucap, maklum saya masih merasa manusia bali.
di ujung percakapan, satu dari dua bule itu berkata, “ini ada material tubuh.
pakailah material tubuh ini di lanskap tubuh kamu. apa yang ada di tubuh kamu,
tak saya suka. do what i like!”.
saya tertawa.
meeting hari pertama, begitu memuakkan.

meeting di hari ke dua,
tak ada bule di depan saya.
saya menghabiskan waktu untuk belanja.
minum kopi di gerai.
melihat wanita seliweran di mall mall.
di percakapan akhir di meeting pertama,
mereka hendak mencabut kemaluan saya!.
team apa dalam pelahiran sebuah arsitektur,
hingga lupa ranah masing masing hingga berkeinginan untuk memotong kemaluan orang?

saya balik ke kantor.
kantor melihat tubuh lanskap saya yang kini sudah rusak.
yang masih tersisa hanya kemaluan saya.
manusia tanpa kemaluan adalah manusia tak punyan harga.

beberapa hari setelah meeting yang porak poranda itu,
kantor berkabar ke proyek itu;
“we are resign!, good luck!”.

Popularity: 2% [?]