gramedia1.jpg

hari ini saya terima email dari sahabat di surabaya;
bli…

ini foto gramedia exponya emil.
aku potret pagi setelah berselisih paham dg satpam yg jaga di sana.
dia bilang….. dilarang motret bangunan ini….
saya bilang…saya berdiri di atas trotoar milik negara….saya bebas
melakukan apa saja….anda tidak berhak melarang saya.
ini kejadian kesekian kalinya kala aku motret berbagai gedung…..
saya gak tahu siapa yg salah…satpamnya….pengelolanya…atau
saya….hwakakakak

salam
why

kemarin malam sempet meng SMS nya jikalau dia punya photo photo gramedia exponya emil di surabaya, karena saya tahu, dia sempet berada di reramaian open house saat emil di situ beberapa waktu lalu.

kami pencinta motret me-motret, cuman beda mesin.
begitu juga kami berada di berbeda profesi, saya arsitek, dianya dosen (yang sekali kali melakukan praktek ke-arsitek an!).
minggu lalu, saya sempet melintas malam malam saat kami baru nyampai di surabaya. saat taxi berlalu lalang di sekitaran jalan basuki rahmat melewati patung karapan sapi menuju hotel Sheraton tower surabaya, mata saya sedikit terganggu oleh sebuah façade di sebelah kanan taxi. saya mencoba menguasai keadaan pikiran. berusaha mengingat tentang façade itu. taxi begitu cepat melintas. dan badan ini memang ingin cepat beristirahat.
tapi, façade itu begitu mengganggu pikiran saya.
otak masih tetap berusaha mengingat, ada apa dengan façade itu.
sekelabat pikiran jadi terang, “oh…itu si ridwan kamil liwat!”, begitu pikiran saya mengingatkan.
kini saya berlalu tenang.

ke esokan harinya, saya sempetkan lagi mengulangi untuk melintasi jalan di mana ridwan kamil berada. hanya sekelebat.
saya berlalu.
otak kiri saya bertanya, “kenapa begitu?”,
otak kanan saya menjawab, “mungkin ada maksud lain yang tak tersirat?, tapi apa maksudmu dengan pertanyaan itu?”,
otak kiri saya menjelaskan, “maksud saya kenapa dengan kaki kaki yang ditekuk itu? buat apa mil?”
otak kanan saya berujar lagi, “di mana arah barat di sini?”
sejenak mata saya menerawang ke atas mencari di mana sinar sore meredup.
otak kanan saya berujar lagi, “oh..di sana sinar matahari meredup, pantesan tekukan itu begitu ramai menghujam sisi dinding itu.

taxi berlalu menuju kampus ITS.
saya kangen sekolah dulu.
kangen dengan guru yang hari itu diabhiseka!.

ke esokan harinya lagi,
kami bertiga kembali mengulangi untuk menapaki jalan di mana ridwan kamil berada.
tapi bedanya, kali ini kami masuk ke dalamnya.
mobil memutar ke kanan.
nampak para satpam berjaga jaga di kursi yang terletak di pembatas jalan masuk dan jalan ke luar.

saya bertanya, “apakah kita masuk ke areal pomp bensin?”
situasi desain seperti ini, mengingatkan saya akan bagaimana saya masuk ke pomp bensin di beberapa daerah di bangkok sana. pada salah satu sudut dinding yang ke semuanya kaca, di sana terdapat barang barang yang dijual untuk mendukung keperluan sehari hari masyarakat. istilahnya ada mini market. mini market plus pomp bensin ala bangkok, singapore juga, malaysia juga. tapi tidak di basuki rahmat surabaya.

kami melintasi pak satpam yang matanya terjaga saat kupingnya mendengar deru mobil melintas di areal kekuasaannya. mata pak satpam menelisik siapa gerangan yang ada di dalam mobil.

teman bertanya, “kamu mau motret?”
“ndak!”.

mata menerawang di bawah selangkangan kaki kaki yang berjejer kemudian membelok ditekuk menusuk dinding.
jadi tahu kenapa kaki kaki solid ini menghiasi dinding sebelah itu.
membarrier sinar yang masuk dari arah barat.
membarrier apa? dinding yang di barrier hampir sebagian besar solid.
“untuk menghasilkan efek shadow?”, kata otak kiri saya.
“bukan, setidaknya kita tahu bahwa kita berada di bawah selangkang kaki granit”, otak kanan saya menjawab.
“tapi, di mana letak methapora tumpukan buku itu?”, otak kanan melanjutkan pertanyaannya.
“lha sudah jelas yang kamu pikir sebagai kaki kaki yang ditekuk itu dah di asumsikan sebagai tumpukan buku, deretan buku yang berjejer dan menaungi dinding, jadi orang bisa berjalan di bawahnya. merasakan halusnya granit lantai. merasakan nikmatnya menjadi kaum berpunya dengan lantai lantai mulus berkilat itu”, otak kiri menjawab.
“otak kanan belum menerima, “kenapa musti menaungi dinding yang rata rata solid? kalau mau memamerkan barang, lha kenapa musti menutupi façade yang berhadapan langsung dengan lalu lalang publik?, lantai itu membuat kakiku terpeleset saat hujan, sama halnya seperti udelku yang kurawat bak udel luna maya tapi selalu tersembunyi, berbahan mewah tetapi tersembunyi”,
otak kiri kembali menjelaskan, “lha kamu kalau mau ke mall, mana yang perlu dihias, mukamu yang open to publik atau udelmu yang tertutup T-shirt bermerk?”
“yang jelas muka dong, masak udel ku yang musti juga dihias!, wong sembunyi di balik baju gitu, tapi tuh kaki kaki granit deretannya terlalu banyak dan ramai. ramai menutupi dinding yang hampir solid, buat apa?

diskusi antara otak kanan dan otak kiri saya menjadi terganggu oleh suara teman yang ada di kiri saya dengan pertanyaannya.

teman (kembali) bertanya, “bener neh ndak mau motret?”,
“ndak, ayo kita kemon!”.

ridwan kamil telah memberikan sumbangan besar terhadap facade surabaya!.

mobil berlalu.
satpam kembali tertidur pulas, maklum kanopi yang menaungi tempat di mana dia berada begitu sejuk. dan setidaknya keadaan masih aman karena tak ada yang memotret.
emang motret apa?

sesaat setelah meninggalkan ridwan kamil, udel saya yang sedari tadi dipakai sebagai bahan obrolan, berujar dengan kalem, “terkadang, bentukan dalam arsitektur dicipta dengan tanpa mau dibicarakan lebih jauh kenapa musti begitu kenapa musti begini. sejauh apa yang dilihat bagus, masalah seakan telah selesai”.

Popularity: 19% [?]