hari ini ada anjing bercerita kepadaku.
aku menikah dengan seorang lonte, katanya.
aku ingin dia, wanita lonte itu, bisa berhenti menjadikan dirinya santapan kaum laki laki binal, katanya lagi.
aku ingin dia, si wanita lonte itu, berubah menjadi wanita terhormat.
makan dengan uang terhormat, bukan uang hina. walaupun jumlahnya secuil.
aku ingin melupakan masa lalunya, sebagai wanita lonte. penyegar suasana haus kaum laki.
pemberi dahaga sorga bagi kaum pemilik penis.
begitu ia bercerita dalam sebuah bus malam menuju kota malang.
gelap di luar.
desing angin berhembus kencang sesaat ketika bus saling salip dengan kendaraan lainnya.
langit temaram.
bintang bersembunyi di balik gelap, kupingnya mencuri pembicaraan kita.
cita-cita yang begitu tinggi.
*

“wanitamu bahagia?”, aku bertanya.
asap mengepul dari mulutnya.
matanya menerawang.
mulutnya yang moncong, penuh dengan liur.
sekali lagi mengepulkan asap rokok.
“hari pertama kami menjadi suami istri, aku memanggilnya lonte”, katanya.
“hari ke dua, aku memanggilnya lonte”,
“hari ke tiga dan selanjutnya, kapanpun aku melihatnya. aku selalu memanggilnya lonte”, katanya.
terkesima aku.
“aku tak punya nama lain selain lonte, untuk memanggilnya. toh masa lalunya yang melatarbelakangi begitu. salahkah?”, katanya.
terkesima lagi.
“bagaimana kamu bisa membawa wanitamu malupakan masa lalu dengan tetap memanggilnya lonte?” aku bertanya.
anjing itu terkekeh.
“kamu lupa, bahwa aku adalah anjing?”.

Popularity: 1% [?]