ibu saya dan bapak saya, saat saya di SMA dulu masih memakai cincin kawin.

saat saya beranjak kuliah, mereka masih memakai cincin itu.

saat saat saya ada di semester besar dan menuju tugas akhir, cincin itu sudah tak pernah lagi dipakai.

katanya, dijual untuk beaya saya kuliah.

itu mungkin kekayaan terakhir yang mereka jual untuk beaya saya kuliah.
*

saya menikmati jerih payah bapak dan ibu saya kini.

hidup saya serba cukup.

adik adik juga sudah pada bekerja.

saat saya sering bepergian ke china,

ibu saya berpesan untuk dibelikan cincin dari batu giok.

saya belikan saat saya ada di guangzhou.

berwarna hijau.

dan ia pakai sepanjang hari.

saya ingat masa lalu,

saat mereka, orang tua saya, masih memakai cincin kawin.

cumak bedanya, saya hanya menyaksikan cincin berwarna hijau itu di jari ibu saya.

karena bapak sudah hilang, menyatu dengan air dan udara.
*

makanya,

kini saya sering berpikir,

bahwa kekayaan terbesar yang diberi orang tua saya kepada anak anaknya adalah cumak satu.

pendidikan.

ingat pesan bapak saya terhadap saya di hari hari akhir sebelum ia menghilang.

sekolahkan anak anakmu setinggi mungkin.
*

air mata saya sering tergenang.

saat berada di ruang kerja saya.

ditemani sekian arsitek muda untuk sekian job prestisius.

kaki saya tak beralas menyatu dengan lantai.

berasa dingin.

mungkin begini dingin saat berada ditanam di bawah tanah sana.

sama dinginnya saat bapak saat dibalut es.

semoga cincin berwarna hijau yang dipakai ibu saya, membuat ia hidup semakin hangat.
*

amin.

Popularity: 45% [?]