Kritik Arsitektur Category

Posted on 28 Apr 2012 In: Kritik Arsitektur

rokok

mata saya semakin berat. kantuk menyerang. untuk bagian kantor saya, meeting belumlah mulai. arsitek lokal sedang menjelaskan sesuatu. klien mendebatnya. mereka berdiskusi tentang sesuatu hal. saya tak mengerti. mereka tetap sibuk dengan diskusi. bahasa yang asing. dan saya tak mengerti. benar benar tak mengerti. saya ada di hangzhou, china.

Posted on 11 Oct 2011 In: Kritik Arsitektur

editing

ditilik dari kenyamanan, membikin ruang besar lapang, lebih gampang ketimbang membikin ruang yang lebih kecil. klien selalu menginginkan hal begini; kecil. nyaman. terasa lapang. dan yang paling utama, murah!. serta cepat. nah.. ini yang membikin otak melepuh!.

Posted on 4 Oct 2011 In: Kritik Arsitektur

plis deh..

bacalah majalah majalah arsitektur. lokal ataupun luar. pelajari banyak banyak. serap banyak banyak. pun, bacalah buku buku arsitektur. baca juga buku tentang segala hal. pengetahuan tentang arsitektur dan arsitek, tak hanya nyangkut pada majalah atau buku tentang arsitektur belaka. pengetahuan kita akan berarsitektur dan berarsitek, bisa diserap dan digali pada sekian buku. juga bisa didapat […]

Posted on 2 Oct 2011 In: Kritik Arsitektur

tentang batik lagi

saya membeli batik lagi. beberapa hari lalu. saya bersama istri. sementara anak anak saya berlarian di koridor mall. bersama 2 maids. saya beli dua. satu buat teman di kantor. beberapa hari sebelum saya membeli batik ini lagi, ia berpesan siapa tahu ada batik nganggur di rumah. saya tak membongkar lemari. saya belikan ia. sekedar ingin […]

Posted on 30 Sep 2011 In: Kritik Arsitektur

batik kini

hari ini jumat terakhir di bulan ini. saya memakai batik. di luar sana, ada banyak pakaian yang lalu lalang di luar batik. setidaknya, saya ingin memakai batik sekali seminggu. pinginnya, setiap hari saya memakainya. tapi pikir pikir, hidup tak selamanya musti dipaku pada satu titik. bukannya saya tak punya pendirian, atau apapun itu. saya melakukan […]

jun 21 – univ khaerun, ternate josef prijotomo ‘Bangunan panggung dibuat karena adanya ancaman dari binatang buas’, itulah yang kita pelajari dari arsitektur tradisional di Indonesia ini. Kita tidak terlalu mempersoalkan benar-kelirunya pernyataan itu karena telah banyak ditulis seperti itu, juga telah dikatakan oleh demikian banyak ahli dan peneliti. ‘Bangunan adalah tempat untuk berlindung’ juga […]

Posted on 6 Oct 2009 In: Kritik Arsitektur

viagra

dalam perjalanan ke bandara soekarno hatta, seorang teman memperlihatkan sebuah bungkusan kecil. sebagian besar bungkusan plastik itu berwarna hitam. ukurannya kecil, mungkin lebarnya cuman 1.5 senti dan panjangnya sekitar dua setengah senti. saya teliti. bungkusan amat tipis. saya teliti lagi. ada gambar lingkaran dan panah. itu tanda logo laki. saya baru sadar. nih bungkusan sekeluarga […]

Posted on 28 Aug 2009 In: Kritik Arsitektur

ane/nte

“mustinya ane ngomong ke nte!, nte bisa kerja kagak?”. “sejak hari raya kemarin, nte ndak punya kemaluan!”, begitu dia bicara lagi. ane diam. ane mencoba meraba kemaluan ane, masih ada!. untunglah ane. “memang nte sudah kagak ada niatan kerja lagi?”,matanya melotot. bibirnya mengatup. semerbak, bau mulutnya seperti bangkai tikus! ane hanya diam. jejari ane, gerak […]

Posted on 22 Aug 2009 In: Kritik Arsitektur

rumah kumuh saya

tulisan ini diemail ke saya malam ini, oleh profesor josef prijotomo. saya tak menyangka beliau akan menulis tentang apa yang kini saya buat dan belum kelar betul. ibarat bayi, saya merangkak agar bisa menyelesaikan rumah kami di tahun depan. jadi apa yang beliau tulis, baru sebatas apa yang beliau lihat melalui beberapa photo yang saya […]

Posted on 11 Aug 2009 In: Kritik Arsitektur

brazilian’s wax

4 mahasiswa KP dari kampus arsitektur UGM, datang ke ruang saya. siang setelah jam makan siang ; saya memandangi mereka. mereka saling pandang satu sama lainnya. jari tangan mereka saling bermain, mengisi waktu tunggu. matanya larak lirik ke semua sudut ruang kerja saya. “saatnya untuk asistensi, seperti jadwal yang bapak suruh”, satu dari mereka berkata. […]