anak saya, bhumi.
di tahun lalu, dia mewakili bali untuk lomba seni pantomim di tingkat nasional.
bhumi, bahagia banget.
walau kemudian dia kalah.
tapi senyum dia bersama pasangan pantomimnya tetap lebar.
dadanya tetap busung.
provinsi bali, memberi apresiasi yang tak terhingga.
sekolah dan guru-gurunya berada di tingkat kebahagiaan tertinggi melihat anak didiknya.
saya bergetar hati.
saya kunjungi dia saat ada di palembang, saat festival seni itu dilangsungkan.

*
hari ini,
dia gugur mencari seklolah liwat jalur prestasi.
dengan nem 43 koma sekian, dia telah gugur diterima di sekolah favorit. angka 49 bertebaran dipegang oleh sekian siswa SD.
salah satu jalan yang masih menganga adalah jalur prestasi.
istri saya sibuk menyiapkan berkas-berkas piagam penghargaan dari tingkat kota, dan kabupaten hingga provinsi dan kertas yang diteken pemerintah.
di saat wawancara oleh pihak sekolah, pihak sekolah berujar santai.
“di sekolah ini tak ada extrakurikuler pantomim, nak. kamu melamar sekolah di mana saja?, semoga diterima di sana”, katanya.
kalau memang tak ada extrakurikuler seni pantomim, kenapa negara mengadakan lomba seni pantomim?
tak terbukakah pemikiran para sekolah itu bahwa negara mengapresiasi semua seni yang berkembang?
di semua SD, SMP atau SMA di negeri ini, tak ada extrakurikuler tentang seni pantomim,
lalu kenapa ada sekian anak-anak SD dan SMP berlomba adu tangkas dalam olah seni pantomim di festival seni yang diselenggarakan saban tahun?

ya tuhan…

aku yang salah menuliskan sedu-sedan ini.

 

di tahun 1995,

saya melamar kerja sebagai arsitek di konsultan atelier sad ripu di sanur. salah satu biro ternama yang menurut kata orang adalah cabang dari jakarta. mereka membalas lamaran saya dengan menyuruh saya untuk mengirimkan nilai IPK saya. saya kirimkan. mereka jawab kemudian, bahwa saya tak bisa bergabung. maklumlah, nilai IPK saya cuma 2,5.

hari ini di tahun 2016,

setelah saya berkarya sebagai arsitek, membangun mimpi di tiap titik di planet ini,

kejadian yang menimpa anak saya saat mencari sekolah negeri, membangunkan ingatan saya.

ya tuhan,

aku bersyukur aku tak diterima di konsultan itu.

Popularity: 1% [?]