saya sedang berkonflik dengan penguasa.

dan ini bukan yang pertama kali.

ini yang kesekian kalinya.

dan saya menikmati.

bedanya sang penguasa masih tetap hepi.

dan saya dengan pikiran kalut.

menikmati kekalutan, adalah ibarat kaki kelindas roda truck dan saya musti tetap tersenyum.

*

desain yang saya bikin, berubah seberubah-rubahnya.

ini biasa.

tetapi kalau yang merubah bukan dari kita sendiri, itu yang membuat kasus menjadi tak biasa.

sang penguasa menilpun saya.

“kamu oke dengan desain yang baru?”, katanya.

bagaimana saya tak oke, karena segala hal telah berubah.

dengan ringan dan gamblang saya katakan bahwa saya oke saja. dengan alasan yang ringan dan gamblang pula, saya utarakan beberapa alasan yang menunjang bahwa saya ok.

walau alasan yang mengada ada, setidaknya agar badai cepat reda.

pernah saya berkata untuk diri saya sendiri bahwa ini bukan masalah siapa yang mendisain apa dan semestinya dibangun saja karena klien sudah approved.

tetapi masalah yang terpenting adalah bahwa ini bukan proyek si A atau si B.

pandanglah ini sebagai proyek bersama, desainlah dengan bagusnya tanpa memandang siapa yang menggarap pertama kalinya.

hasil akhir adalah bahwa inilah hasil kerja payah susah penuh derita dari studio ini.

bukan, ini hasil kerjaku atau hasil revisimu terhadap pekerjaanku.

tetapi, terkadang nasehat bijak yang datang dari hati nurani saya ini, justru membuat saya semaput sendiri.

termenung sendiri.

dan sakit hati sendiri.

memang benar bahwa kita begitu lihai untuk menasehati kesusahan orang lain.

tetapi begitu susah penuh derita saat menasehati diri sendiri.

*

saya sedang ada konflik dengan penguasa.

ada satu lagi desain yang tiba tiba dirubah dengan gamblangnya.

dan dengan seketika juga saya musti membela pekerjaan yang telah jauh melangkah itu.

ujung-ujungnya, sebuah pertanyaan datang dengan gagah, “putu, memang kamu ada ide lain?, boleh saya lihat?”.

saya sendiri tak tahu masalah kenapa musti bongkar sauh dan pergi meningalkan desain yang kita bicarakan sudah bagus itu?.

dengan ringan saya jawab, “emang kamu tidak suka dengan apa yang sudah kita garap selama ini?. yang membuat kamu tidak suka itu, yang mana?”.

begitulah.

diskusi penuh tanya dan kalimat bertubi tubi datang silih berganti.

dan kita bersalaman dan mengerti satu sama lain.

bahwa kita sudah tahu saling kenal telah sekian lama dan sekian proyek telah kita garap bareng bareng.

terbang bareng.

makan bareng.

bikin awan dan sorgapun bareng bareng.

setidaknya ada hal hal yang tidak saya suka dan begitupun sebaliknya.

disanalah inti dari pertemanan.

terkadang tak musti sejalan dan tak musti sependapat.

*

saya sedang berkonflik dengan penguasa.

terkadang proses ini membuat saya sakit perut tak ketulung dan sempet menyebabkan setiap kali melihat manusia seperti melihat seekor anjing.

beruntung bahwa saya sempat mengalaminya sekian kali dan bisa lolos dari proses ini dengan baik.

seperti hari ini.

rasa “like” dan “love” terhadap apa yang saya garap saban hari di studio, selalu membuat saya semakin hidup.

melihat anak anak bekerja mandiri dengan pekerjaannya, membuat saya bahagia bahwa ini pertanda saya berhasil dan berjalan sesuai dengan track.

dalam hidup, terkadang kesialan datang tak diundang.
seakan tuhan sedang meludah dan air ludanya menempel di muka kita.
rejeki yang besar dipandang menjadi sedemikian kecilnya dan tak berarti saat kesialan kecil datang menghujam.

“kita tak mesti menang dalam segala permainan hidup”, saya utarakan ini kepada seorang wanita saat kami terbang bersama ke negeri seberang sana.

Popularity: 1% [?]