_dsc1183.jpg

(makalah kuliah tamu untuk jurusan arsitektur universitas petra Surabaya)

Sebuah perjalanan memaknai arsitektur

A for Architecture!

Sejak kita berada dalam kandungan dimana kehidupan pertama dimulai, sampai ke masa di mana kita bisa merasakan kehidupan selanjutnya, tempat di mana kita melakukan segalanya dalam hidup, adalah di arsitektur.

Manusia dikenalkan ke dalam arsitektur sejak amat dini, disadari ataupun tidak, arsitektur telah tumbuh seiring kehidupan awal dimulai. Disadari ataupun tidak, arsitektur ternyata telah dekat di masing masing mahluk sejak amat dini.

Membicarakan ruang, salah satu komponen utama dalam arsitektur, telah kita alami sedari kita amat sangat kecil dan mengalami proses tumbuh kembang dalam ruang yang amat sangat sederhana. Hidup alam adalah hidup arsitektur. Arsitektur dikenal oleh siapa pun yang hidup di alam. Bahkan oleh seekor semut dan seorang abang becak sekalipun.

Alam ini telah terangkai oleh bagian satu dengan bagian yang lainnya, oleh titik satu dengan titik yang lainnya yang saling berhubungan dan mempengaruhi. Mereka tak bisa berdiri sendiri dalam bekerja. Dan arsitektur bukan hanya apa yang ada di alam bhumi, bukan yang ada di planet lain. Arsitektur ini berada di alam yang begitu komplek ini.

Arsitektur musti dipandang secara menyeluruh dalam pengertiannya. Tidak sebagai sebuah pandangan ke apa yang di lihat sebagai bangunan. Tidak juga sebagai apa yang dirancang oleh seorang urban disainer, seorang interior desainer apalagi seorang arsitek lanskap. Tidak juga oleh seorang kuli!.

Arsitektur berada di semuanya.

Semuanya berada di arsitektur.

Arsitektur tidak hanya dilakukan oleh para disainer.
Arsitektur dilakukan secara sederhana oleh orang orang yang berada di luar profesi arsitek. Ataupupun juga, begitu kompleknya oleh orang orang yang berada di luar yang berprofesi sebagai arsitek.

Lantas siapa yang bisa disebut sebagai arsitek?

Anda?

Ando?

Gehry

Sir Norman Foster?

Djuhara yang orang AMI ?

Si Doel?

Atau

Bang Toyib?

……

Para penari diluar sana, gerakan gerakannya, tetabuhan yang mengiringinya, mengisyaratkan ia sedang melakukan arsitektur. Di sana ada batas, yang membentuk ruang. Di sana ada sebuah aktivitas yang dilakukan saat ia berada di “ruang tari”.

Suara, bau dan batas gerak serta elemen yang berada di sekeliling penari, ibarat titik garis, dan bidang yang membentuk sebuah ruang.

Seorang pematung, adalah seorang yang meng-carving ruang dalam sebuah material. Seorang pelukispun adalah seorang desainer ruang dalam tiap lukisannya.

Arsitektur hadir dalam setiap makna dan konteks.

Arsitektur musti dipandang dari segala arah dan hanya kita sebagai mahluk tertinggiNya kemudian memilah milah dan memberi garis batas yang tegas bahwa ini yang disebut sebagai arsitektur dan yang berada di luar adalah bukan disebut arsitektur.

Apakah pengertian arsitektur tiap orang itu (musti) sama? Atau, apakah musti ada makna arsitektur yang standard bagi tiap arsitek atau juga buat semua orang?. Apakah text dalam arsitektur musti selalu dipercaya sebagai sesuatu yang “fixed” ?, yang musti di dewa kan?.

Jadi,

Arsitektur itu katakanlah = bangunan?

Atau

Arsitektur itu = kota Singapore yang tertata rapi

Atau,

Arsitektur itu = Bandara Soekarno Hatta yang mendapat Aga Khan award?

Atau,

Arsitektur itu = kandang kuda?

Siapa yang berhak melabeli ini arsitektur dan itu bukan arsitektur?

Saya mengutip kuliah umum Soekarno tentang agama di Universitas Indonesia pada tahun 1955 sebagai berikut (saya menempatkan bagaimana publik melihat arsitektur pada saat bagaimana publik melihat agama) :
“Saya akan menceritakan kepada saudara saudara sekalian hikayat seekor gajah dan empat orang buta. Pada suatu hari Sri Baginda suatu negara menyuruh mendatangkan se ekor gajah beliau di halaman istana dan memerintahkan pada waktu yang sama mendatangkan pula empat orang buta. Setelah gajah dan empat orang buta tiba, maka Sri Baginda meminta supaya orang orang tuna netra itu masing masing menjawab pertanyaan : Apakah gajah itu?. Untuk menjawab pertanyaan itu, ke empat orang buta tadi diperkenankan secara bergilir mendekati gajah itu sambil meraba raba tubuhnya.

Ke empat orang buta tadi mesing masing memberikan jawaban yang berbeda, yang pertama mendifinisikan gajah sebagai penghalau lalat, besar dan panjang sekaligus agak lunak, karena ia memegang ekor gajah!.

Orang buta ke dua, menyebut gajah sebagai bambu yang amat besar tetapi kok lunak, karena ia memegang kaki gajah!

Orang buta ke tiga menjelaskan gajah sebagai daun besar yang tebal, karena ia memegang telinga gajah!

Orang buta ke empat menjelaskan gajah sebagai pipa karet yang besar karena ia meraba belalai gajah.”

Begitulah, saat kita identikkan bagaimana ke empat orang buta tadi memaknai “gajah” akan sama saat kita memaknai “arsitektur” itu apa?.

Semua jawaban di atas itu pada dasarnya benar, walau jawabannya berlainan.
Jangankan untuk memaknai arsitektur, kita memaknai sebuah “ruang” dalam arsitektur itu apa?, kejadian yang akan ada, mungkin akan masih sama seperti ke empat orang buta tadi men-define apa itu gajah. So what?.
Saat kita memasuki arsitektur, ntah kebun, ntah desa, kota atau rumah, ada sesuatu yang selalu terjadi di saat kita berada di dalamnya. Adanya sebuah aturan. Aturan harus bagaimana kita di dalamnya. Terlepas itu sudah menjadi sebuah kebiasaan hidup ataukah sebuah hal yang baru. Aturan aturan yang telah terbiasa kita jalani atau memang menjadi sesuatu yang baru kita alami.

Sama seperti kita berada dalam sebuah tubuh!.

Ada aturan di dalamnya untuk apa kita ada di dalam tubuh. Segalanya terangkai sebagai sebuah system.

“Chohatsu suru hako”, kata Tadao Ando saat men-define apa itu arsitektur. Kalau di jabarkan lebih lanjut, kata itu identik dengan “the box that provokes”. Ntah “provokes” yang dimaksud dalam artian yang baik atau mengarah ke hal yang buruk?. Tapi lepas dari “provokes” nya ando, arsitektur dibaca sebagai sesuatu yang punya andil besar dalam merubah kehidupan siapa yang memakainya.

Tubuh kota, akan berusaha membawa masyarakat pengisinya ke arah yang lebih baik. Tubuh rumah, tubuh anda, akan berusaha menjadikan tiap pengisinya ke arah yang lebih baik. Apakah musti yang baik baik saja?.

Arsitektur musti di lihat sebagai sesuatu yang tak absolute. Sesuatu yang bukan milik “yang baik” dan juga musti bukan milik “yang buruk”. Musti dipandang sebagai ketidak adaan suatu cara atau gaya yang terbaik, atau landasan yang terbaik atau akhirnya dapat dikatakan bahwa di dalam memandang arsitektur, semuanya mempunyai kesempatan yang sama dalam berkembang dan muncul. Yang musti selalu dikedepankan adalah usaha yang harus mengarah kepada keberagaman pandangan dan tata nilainya.

Selama ini “award” dalam arsitektur, hanya buat mereka yang “terbaik”. Arsitektur telah di artikan sebagai sesuatu yang “baik”. Karena pada yang “baik”, di sana lah yang memakai arsitektur akan ada dalam kehidupannya yang baik.

Betulkah?

Mungkin ada yang salah dengan cara berpikir kita dalam menentukan dan memaknai arsitektur walau secara sederhana?.
Inilah pola pikir metapisika barat, yang selalu menempatkan garis tegas antara mana yang musti dipakai dan mana yang musti dibuang.
Ini yang saya sebut sebagai keadaan di mana kita berada di posisi yang “acute”!, beberapa waktu yang lalu dalam diskusi membahas arsitektur itu apa di forum milis AMI.

Atau mungkin saya yang berada di posisi itu!.
Arsitektur musti bisa di baca melalui 5 indera. Bukan hanya melalui pembacaan melalui mata. Arsitektur tak identik dengan produk sebuah bangunan. Di dalamnya selalu, dan akan selalu ada sebuah ide, gambar, proses, benturan, masa lalu dan kini sampai ke esokan, dan selalu akan ada sebuah usaha mempertanyakan “text” dalam arsitektur.

Di dalamnya selalu akan ada sebuah perubahan.

Seperti kita yang berada dalam sebuah “tubuh”!.

Pertanyaan yang mungkin akan timbul adalah apakah mungkin hal yang positif saja timbul saat kita di-tubuh-kan? atau saat kita di arsitektur-kan?

“Everything is possible!”.

Ini sama artinya saat kita melihat balik dunia pendidikan arsitektur kita (di Indonesia!), ke positif-an barada selalu di “centre”.
Kebohongan publik pada pendidikan kita?

Melihat dunia pendidikan arsitektur kita, mari kita menangis melihat para tamatan arsitek dari semua penjuru kampus di Indonesia . Tak ada yang mendengar, apalagi mengusap air mata mereka.

Dan, siapa yang peduli?

Anda?,

Saya?,

Guru ?,

Dan siapa yang mengulurkan tangan dan meraup tangan tangan belia yang kini tenggelam oleh gelombang gelombang liar yang memangsanya di dunia luar?, menjadikan tamatan tamatan arsitektur meraup rupiah di profesi lain, dan membuatnya merasa beruntung untuk tidak dilahirkan ke dunia luar sebagai seorang arsitek? saat mereka telah terbuai oleh tumpukan rupiah dan kesibukan di profesinya kini.
Inilah kewajaran itu.

Sesuatu yang sudah dianggap amat sangat wajar. Sesuatu yang sudah dipikir “positive”. Bahkan wajar bagi institusi pencetak tamatan arsitektur. Karena yang mereka ingat hanyalah jumlah lulusannya, sudah berapa lulusan arsitektur yang mereka tamatkan. Dan tak pernah ingin tahu, sudah berapa lulusannya berprofesi sebagai arsitek!.

Wajar, karena belum ada yang mempersoalkan alih profesi yang terjadi di tamatan ini. Bahwa nantinya seorang yang tamat di jurusan arsitektur harus dan musti berprofesi sebagai arsitek (?), dengan bekerja di biro konsultan yang telah ada atau berpraktek sendiri.

Bahwa amat sangat wajar, karena hal ini juga terjadi di tamatan lain, selain arsitektur.

Bahwa ini wajar, karena juga terjadi di seluruh kampus di dunia ini!

Ya, karena dunia mengakui kewajaran ini!.

Jadi buat apa kemudian musti di perdebatkan?.

Mungkin telah lebih dari angka 100, jumlah kampus yang mempunyai jurusan arsitektur, di Indonesia. Kalau kita berbicara angka, terlihat memang menampakkan adanya suatu kemajuan. Tidak hanya adanya akademi arsitektur dan program S1, tetapi juga lihatlah kini telah ada diploma D3, magister (S2) sampai program doctoral (S3). Jumlah lulusannya juga telah dilihat sebagai angka ribuan! Menakjubkan!.

Semuanya hanya berbicara tentang kemajuan yang telah didapat melalui pembacaan angka. Kemajuan yang dibaca sebagai sesuatu yang “positive”.

Tidak ada sisi negativenya?.

Saat saya mulai kuliah, ada sekitar 90 an mahasiswa. Saya setidaknya, katakanlah punya sekitar 89-an teman. Cukup banyak memang. Tetapi saat kini telah 15 tahun berlalu, dari 89-an lebih rekan rekan saya, hanya sekitar 2-3 orang yang berprofesi sebagai arsitek!. Adakah yang menyebut ini di angka “kemajuan” tadi?, bila kita melihat prosentase “menjadi” nya tamatan arsitek tiap kampus. They were gone!.

Terlepas dari keinginan masing masing individu untuk bisa menjadi apa kelak, ketersediaan lapangan kerja di luar sana bukanlah menjadi hal utama yang memicu keganjilan ini. Ada faktor internal dan ekternal yang mungkin bisa diurut. Keduanya berdiri sendiri. Tetapi pada satu level duduk yang sama.

Perkuliahan adalah identik dengan pembelajaran tentang “ilmu arsitektur” bukan pembelajaran dalam “membuat arsitektur” (josep prijotomo, pada buku “Dari Lamin dan Bilik Pengakuan Dosa”, halaman 3-13, Berkaca Diri Demi Arsitektur Indonesia yang Mandiri).

Perkuliahan identik dengan pembelajaran text arsitektur; tentang teori dalam arsitektur. Bukan tentang bagaimana “text” itu di hadirkan, dan apa korelasinya dengan arsitektur yang berikutnya.

Tidak ada usaha untuk, “mempertanyakan” “text” dalam arsitektur.

Sebuah kefatalan dalam pembelajaran arsitektur.

Hal ini kemudian, salah satunya, merupakan sebab kenapa tamatan arsitektur menuai rupiah berlimpah dan berbahagia di profesi lain selain sebagai arsitek!.

Dilain pihak,
Perdebatan yang kini ada tentang keganjilan (apa boleh disebut ganjil?), selalu menempatkan posisi kampus sebagai pihak yang berada di posisi aman. Mengingat tujuan pendidikannya bukan untuk mencetak arsitek, melainkan baru sebatas mencetak sarjana arsitektur.

Sebuah kebohongan publik?.

Ini lah kewajaran yang sudah menjajah pendidikan kita!.

“still possible..in architecture!”

Sama saat sebuah konsep rancang tertinggalkan, terlupakan saat proses berlanjut dalam perancangan sebuah proyek.

Apakah konsep akan selalu musti dipertahankan dalam perancangan?.

Bagaimana arsitektur itu hadir?,

Kamasutra- bertektonika
Arsitektur hadir melalui persetubuhan!. Melalui seks. Seks dalam arsitektur.

Persetubuhan site dan ide. Site mewakili mereka yang berduit maupun mereka yang hanya mampu membayar dengan ucapan “terima kasih”. Site mewakili segala sesuatu yang tak bergerak, sesuatu yang passive. Sementara ide mewakili mereka yang punya kreativitas. Ide mewakili segalanya yang bergerak, yang aktif. Kreativitas!.
Persetubuhan 2 hal tersebut, pertemuannya selalu menghasilkan sebuah perubahan, sebuah kekuatan, sebuah tubuh tubuh baru. Langgam langgam baru. Pesetubuhan material dengan segala detailnya. Persetubuhan dalam arsitektur, tak hanya bisa dibaca sebagai persetubuhan dua hal tersebut di atas saja. Perlu juga dilirik bagaimana persetubuhan arsitektur yang akhirnya menempatkan si pemakai arsitektur dengan dirinya sendiri (dengan arsitektur itu sendiri). Kemudian patut juga dibahas bagaimana persetubuhan itu terjadi antara site dimana arsitektur berada dengan site lain, misalnya. Arsitektur, kemudian akan dibaca secara sebuah rangkaian yang begitu komplek.

Sesungguhnya ketika arsitektur ditubuhkan, ia memiliki hal yang positif dan negative. Bisa dirasa melalui 5 indera. Saat ia tak ditubuhkan, ia tak akan mempunyai dua hal itu.

Ia hanya berupa text.

Sama saat manusia ditubuhkan, ia punya kans untuk dilihat dan disentuh. Kita bisa menilainya baik dan buruk, ganteng atupun cantik atau buruk. Untuk bisa dirasa, arsitektur musti dilahirkan, melalui persetubuhan. Melalui seks.

Persetubuhan, dengan demikian kemudian menjadi sebuah alat bagaimana arsitektur itu dihadirkan.. Bagaimana tubuh tubuh lain hadir. Dan bagaimana selanjutnya tubuh tubuh itu melakukan seks dengan yang lainnya, sehingga sekian tubuh lain pun telah hadir lagi.

Disadari ataupun tidak, seks kemudian secara sederhana telah, bukan hanya dilakukan oleh mereka yang disebut “mahluk”, tetapi kemudian seks juga ternyata dilakukan atau terjadi pada arsitektur. Dengan seks, arsitektur berkembang pesat. Dengan seks kemudian arsitektur bisa “terbaca”. Melalui seks, arsitektur mempunyai kritik. Tektonika dalam arsitektur, identik dengan kamasutranya Vatsyayana Mallanaga.

Busyet, masak iya?.

“Kamasutra”, bukan lagi sebuah produk yang hanya bisa dibaca oleh kaum 17-an. Menyebut kamasutra, orang orang akan selalu menghubungkan dengan serba serbi persetubuhan, eksotika teknik bersetubuh!. Dalam kamasutra, begitu amat ditekankan tentang detail persetubuhan, tata cara ciuman, bagaimana mustinya kuku kuku tangan mencengkram kulit lawan jenis, sampai kecepatan irama/gerakan (maap) penis ke (maap) vagina!.

Dalam kamasutra, 5 indera musti merasa!, begitupun dalam arsitektur.

Dalam tektonika arsitektur, bukan saja berbicara bagaimana kusen pintu musti bertemu dengan tembok, bagaimana kita mengelaborasi kaki meja bertemu dengan lantai, apalagi bagaimana balok beton bertemu dengan kolomnya.

Dalam arsitektur, dibahas bagaimana kita dipertemukan ke dalam arsitektur. Bagaimana arsitektur itu dipertemukan ke bhumi. Dan bagaimana arsitektur itu dipertemukan ke arsitektur lainnya.

Pada arsitektur, dipertontonkan bagaimana ruang bersetubuh dengan ruang dan menyetubuhi si pemakai ataupun sebaliknya.

Kesan, rasa dan segala yang timbul saat pertama kali bersetubuh dengan arsitektur, katakanlah saat kaki beradu dengan lantai di porte cochere sebuah rumah, saat itu kita menikmati kata seks dalam arsitektur. Bunyi langkah kaki, adu pandang dengan ruang berserta isinya yang mempertontonkan “seks seks” material pembentuknya.
5 indera terpuasi. Bukan hanya pada mata.

Dalam kata lain, tektonika dalam arsitektur, ataupun pada kamasutra, “kreativitas” amat sangat memegang peranan penting.
Creatifity?,
What is creatifity?

Creativity is not copying!

Saya selalu menyempatkan belajar pada arsitek arsitek yang telah membuat ruang di luar sana. Jarang saya membaca buku tentang arsitektur. Saya tidak percaya akan textbook!. “there is nothing outside the text” (Jacques Derrida).

Ini bukanlah sebuah ajakan untuk menjauhi buku. Setiap orang punya cara tersendiri untuk mengertikan segala sesuatu tentang apa yang ia geluti. Silahkan membaca buku sebanyak banyaknya, tetapi, jangan lupa untuk selalu menanyakan tentang apa yang telah tersirat di dalamnya.

Merasakan ruang secara langsung, membuat kita bisa mempertanyakan segala sesuatu yang ada dalam “textbook”. Tetapi, memang perlu dan kita musti tahu dulu segala sesuatu yang ada di textbook. Text book perlu tetapi kemudian untuk dipertanyakan.

Karena tanda, mencirikan “an absent present”. Manusia menggunakan tanda agar tidak perlu menghadirkan objek secara langsung, meski makna tanda harus ditangguhkan.

Kata kata yang diucapkan manusia segera hadir dalam kesadarannya, sementara tulisan cenderung merampas eksistensi manusia.
Itu sebabnya, merasakan ruang secara langsung, melebihi pengalaman dalam pembacaan “text”.
Belajar ruang secara langsung, membuat kita akan tahu interaksi kita dengan ruang yang terbentuk. Merasakan interaksi kita dengan material, dengan suasana, dengan tektonikanya. Menerjemahkan “text” pembentuk ruang secara langsung. Dengan cara seperti ini, distorsi dalam pembacaan text, bisa diminimalisasi.

Reaksi kita apa?,

Menemukan sebab akibat yang ada di dalamnya. Menemukan bagaimana sang desainer memecahkan masalahnya dalam konteks perancangannya dalam skala proyek tersebut. Mempelajari sifat material, mempelajari karakter ruang yang terbentuk melalui olah ruang dengan cara pe-mandat-an segala jenis material. Mempelajari bagaimana ruang tersebut memperlakukan kita saat berada di dalamnya. Mempelajari tubuh!.

Mempelajari creativitas!.

Ada dua hal yang secara global bisa ditangkap dari sekian tersebut di atas.
Penemuan hal hal yang bersifat buruk dalam sebuah desain si perancang dan penemuan segala sesuatu yang bagus, tentunya.

Terhadap yang pertama, saya selalu menekankan bagaimana caranya agar kita bisa membuatnya lebih baik. Belajar dari kesalahan orang, selalu akan membuat kita bisa mengantisipasi dan bergerak ke hal yang lebih baik. Bukan dengan membuangnya begitu saja, tetapi tetap memakainya sebagai bahan masakan yang mengharuskan kita menjadikannya hal yang bertambah baik untuk dinikmati. Hal ini penting, agar kita terbiasa mengolah sesuatu yang dicap jelek atau biasa saja dalam olah detail dan tidak hanya berpikir bahwa hal yang jelek tidak semestinya untuk dipakai dan diangkat sebagai thema utama.

Pola pikir seperti ini, tak akan bisa menjadikan kita untuk selalu membuat otak kita selalu dan selalu berpikir untuk menghadirkan hal yang bagus dari bahan yang sudah dianggap basi atau jelek.

Terhadap yang ke dua,
Saya selalu menekankan untuk menemukan apa yang baru, apa yang baik dari sebuah rancangan dari disainer lain. Apa yang musti di “highlight”?

Dari hal ini, saya bisa menemukan bagaimana pola pikir sang perancang dalam membebaskan diri dari kemonotonan!

“monotonity is the killer of creativity!”.

Usaha ini bukan untuk membuat kita berada di kondisi “rilex” karena masalah telah terpecahkan begitu saja melalui “someone else”, dan kita hanya kemudian meng-copy paste pada proses perancangan.

Inilah yang orang bilang sebagai plagiator!.

Hal yang bisa kita lakukan adalah, mempelajari “kebaikan” desain mereka.

Mempelajari “kenapa” nya mereka.

Dari sana kita kemudian berangkat untuk memasaknya lagi dengan cara yang lain dan menghadirkannya kembali menjadi sesuatu yang baru.

Tidak ada yang sama, karena kita menghadirkan dengan pola pikir yang berbeda dalam memandang permasalahan yang kemungkinan sama.

Terhadap hal yang jelek dan hal yang buruk dari tiap rancangan dari arsitek lain pada sebuah proyeknya, hal tersebut di atas akan selalu membuat kita meng-upgrade kreativitas kita masing masing. Tidak membiarkan kita hanya sekedar sebagai penonton yang berusaha membicarakan kehebatan perancang perancang lainnya ditiap diskusi arsitektur dan mengkopi paste ide ide mereka secara brutal.

Pembelajaran ruang yang bekerja pada proses ini tak akan menempatkan sang pembelajar pada proses kreativ yang sesungguhnya, tetapi ia akan ditempatkan pada keadaan masa lalu dari desain yang oleh desainer pertama telah ditinggalkanya.

Orang orang yang berlomba lomba merasakan ruang secara langsung, musti selalu berpikir untuk selalu bisa berada di keadaan masa depan walau hanya berangkat dari apa yang dia lihat dari ruang yang telah terbentuk dari seorang desainer, baik melalui material, komposisi, tektonika ataupun hal yang lainnya.

Karena dalam arsitektur, tak ada yang absolute, tidak ada satu cara atau gaya yang terbaik atau landasan hakiki di mana seluruh arsitektur harus berkembang. Gaya klasik, tradisional, modern dan yang lainnya mempunyai posisi dan kesempatan yang sama untuk berkembang.

Memakai apa yang telah dipakai secara utuh tanpa membuatnya berkembang adalah membuat kemonotonan hidup dalam kenikmatan. Dominasi pandangan dan nilai absolute dalam arsitektur harus segera diakhiri, perkembangan arsitektur mustinya bergerak mengarah ke keragaman pandangan dan tata nilai, bukan keseragaman apalagi kesamaan hal yang telah ada di masa lalu di kekinian.

Saya masih ingat, seorang arsitek Bangkok menceritakan tentang kuatnya pengaruh “pengalaman seks” dalam mendisain detail detail dalam arsitektur.

“Putu, apakah anda sudah melakukan seks?”, tanyanya di pelataran gedung Bursa Efek Jakarta, suatu hari.

Saya jawab, belum!.

“Anda musti melaukan seks dulu, untuk mendapatkan detail yang bagus”, begitu dia kemudian melanjutkan.

Saya menanggapinya dengan tertawa.

Apa betul?

Tanpa seks, bentukan tak akan pernah terjadi. Tanpa seks tak mungkin kita merasa melalui 5 indera bahwa arsitektur ternyata 4 dimensional (atau lebih?). Bentukan yang terjadi, baik oleh karena dua material yang sama ataupun dengan material yang berbeda. Tanpa seks, tiada arsitektur!.

Jadi apa betul, seks mempengaruhi rasa kita dalam berolah detail?, menghasilkan detail yang bagus?

Tubuh, sebenarnya didalamnya berisi sekian ilmu tentang tektonika. Kalau berbicara dalam arsitektur, begitu luas cakupan tentang bagaimana menghasilkan akhiran, pertemuan, penggabungan material, penyertaan unsur bunyi, bau dan rasa, bukan sekedar sebuah “cuci mata” dan pertemuan tembok dengan pintu yang menjadikannya pembatas ruang.

It is not that easy lah!.

S, M, L, XL
Posting saya ke forum AMI, 21 agustus, 2006 :
“saya biasanya ke jakarta, menuju karawaci.
ada satu teman yang ikut.
di terminal kedatangan, klien menjemput dengan mercedesnya.

karena bawaan buanyaknya minta ampun, terpaksa hanya boss besar yang naik mercedes dan dalam mercedes tadi ternyata klein menyiapkan satu kendaraan motor roda dua. teman memakainya sekaligus membonceng beberapa barang yang ndak muat di mersedes itu.
saya terpaksa berjalan kaki menuju karawaci!.
mersedes berlalu cepat begitupun teman yang memakai honda supra. mereka berkejaran.

busyet! saya ditinggal!

si boss nyampe di karawaci dalam 1.5jam
teman yang memakai honda supra dalam 2.5 jam
dan saya hampir sehari penuh dengan peluh membasahi tubuh!
sesampainya di karawaci, boss bertanya ke saya, kok lama banget?

“yah namanya jalan kaki boss”, saya jawab sekenanya.
saya bertanya ke boss, gimana rasanya ke karawaci mengendarai mercedes?
“busyet, dingin banget di dalam, jalanan macet!”, katanya
“boss lihat apa saja?” saya bertanya lagi,
“ya mobil macet doang ama gedung gedung!”,
saya bertanya kepada teman yang mengendarai honda supra, apa saja yang dilihat
“wah..betul tuh si boss, jalanan macet, mobil lalu lalang, malah ada jalan kereta api di atas, tumben loh lihat begituan, kan biasanya kereta api jalan di tanah!”, katanya.
mereka bertanya ke saya, kok lama, dan apa yang saya lihat.
“wah, ketemu si sonny di suter, ngobrol tentang arsitektur, trus jalan sebentar eh ada teman se kampus minta tolong digambarin rumah..ya udah saya gambarin dulu rumahnya. selesai itu, yang makan dulu di warteg, ada banyak supir angkot di situ, mereka bercerita tentang susahnya penumpang sekarang, tentang istrinya dan anaknya, tentang perselingkuhan. sampai eneg nih kuping. eh..tau ndak ternyata ada jalan tikus yang bisa membuat gerak kita semakin cepat, ndak ada macet ! dijamin. malah saya temukan masih ada sawah loh di jakarta, kamu bayangin deh! di jakarta ada sawah..hari gini..!tetapi yang paling menarik saat saya membantu melahirkan ibu ibu di kampung apa gitu…………dll dlsb”,

begitulah,
lama…murah, ada sekian hal yang ditangkap,
cepat…mahal dan cuman secuil yang ditangkap!
malah ada yang paling mahal, itu ibaratnya sudah menempuh S3!
saat kita dijemput di soekarno hatta dengan helikopter!
perjalanan dari bandara ke karawaci cuman 4 menit!

apa yang dilihat?
pemandangan alam yang ndak begitu detail, tetapi terlihat begitu indahnya….terasa sudah lengkap hidup ini terbang di atas sana melihat segalanya!
saat saya terbang dari pnomh penh ke siem riap (cambodia) di mana angkor wat berada,
saya dipinjemi buku oleh teman karib, “biar ndak bengong tu”, katanya.
judul buku itu adalah “IT IS NOT HOW BIG YOU ARE, IT IS HOW BIG YOU WANT TO BE”

salam,

putu-belum bisa tidur karena terbiasa dikeloni!”

Proses menjadi arsitek, tak sama seperti kita membeli burger di KFC!. Atau membeli camilan “Taro” snack kegemaran anak saya, what you see what you got.

Begitu halnya dalam membuat arsitektur yang sebenarnya. Segalanya penuh perjuangan. Bukan segampang studio 1 sampai studio 5 pada masa kuliahan. Bukan!.

Ada proses di dalamnya. Ada proses pencarian diri. Mau kemana saya?, ada proses pengujian “fisik-mental”; kenapa saya musti jadi drafter kamu?, apa kamu ndak tahu saya tamat di Harvard? Kenapa musti men-draf pekerjaan mu?.

Ada sekian “pengujian” untuk mereka yang baru tamat.
Dan, itu adalah alami. Menjadi arsitek adalah hanya buat mereka si pemenang. Pemenang segala ujian yang ada di jalan raya. Kesempatan telah ada di sana, segala rekan, segala proyek dari yang type small, medium, large sampai ke XL!
Dan saya telah membuktikan, bahwa menjadi arsitek tak seperti yang kebanyakan orang kira, dimana kekayaan akan materi bisa di dapat, atau bisa juga kita TIDAK temukan.

Relative!.

Ada banyak yang bisa kita raih, di semua profesi, selain menjadi arsitek, kaya, miskin, untung, rugi, sejalan bersama. Ditemukan bisa dimana mana.
Semua profesi berada pada kesempatan yang sama meraih sukses.
Arsitektur di profesinya sebagai arsitek, di dalamnya tertulis akan kaidah bagaimana kita memperlakukan alam.
Arsitek, turut serta dalam membuat “shape” alam ini. Menjadi arsitek, di dalamnya terjadi proses pembelajaran diri juga pembelajaran terhadap orang lain, demi mencapai kehidupan yang lebih baik. Melalui arsitektur, arsitek menghantar kehidupan masyarakat banyak ke arah yang semakin baik.

Jangan bermimpi terlalu tinggi dulu buat mereka yang pemula untuk mendapatkan pekerjaan gede, klien gede dan segalanya serba gede, karena hidup menjadi arsitek, buat asitek pemula ibarat bayi yang baru mulai merangkak, bukan mereka yang sudah bisa berlari dengan kencang.

Saya yakin, mereka yang pemula, akan merambah dunia arsitekturnya dengan berkenalan dulu sesama keluarga. Mendapatkan klien dari keluarga, dari teman sesama masa kecil, dan akhirnya mendapat fee dengan ucapan terima kasih.

Jangan berkecil hati.

Dari kasus tersebut, jangan pernah kemudian menempatkan klien yang dituju adalah mereka para keluarga dan teman itu. Tapi tempatkan buruan yang kita akan cari adalah mereka yang berada di luar sana. Keluarga dan teman adalah jalan menuju mereka yang ada di luar sana.

Tentang nilai rupiah yang semestinya didapat buat mereka yang pemula menapaki dunia arsitektur, 50% for fun dan 50% for producing the works.
Hal ini dipakai agar para klien klien itu tak berujar, “wah, kalau cumin beginian doing mah saya juga bisa gambar!”
Yang musti selalu diingat buat mereka para pemula, adalah penempatan pendidikan arsitektur buat mereka yang awam terhadap arsitektur. Saya menekankan agar selain rupiah yang ingin digapai, selalu tempatkanlah bagaimana kita bisa mendidik klien klien tersebut untuk semakin mengerti terhadap pentingnya hidup kea rah yang lebih baik melalui arsitektur. Kalau kita sudah membicarakan arsitektur, yang ada di dalamnya adalah olah kreatifitas. Kita berbicara disain.

Kreatifitas dalam disain, dipercaya bisa membuat hidup menjadi lebih baik.

Mulailah dari hal hal yang paling kecil, termasuk bagaimana kita musti mendidik seorang tukang sampah sekalipun dalam mendisain rumahnya, kalau kalau anda sebagai arsitek pemula berhadapan dengan klien tukang sampah dan diberi fee ucapan “thank you!” saja.
Kalau saya bisa menemukan pengalaman pengalaman S, M, L, XL di dunia arsitektur, kenapa musti Rem Koolhass saja yang bisa menuliskannya pada bukunya yang tebal?.
Bagaimana dengan anda sekalian-mahasiswa arsitektur Universitas Kristen Petra Surabaya?.

Putu Mahendra, arsitek – www.bensley.com
Grand Hyatt Singapore, #0940November 24, 2006

Popularity: 5% [?]