putu mahendra

saya arsitek autis

Advertisement

selamat paghik,
baru saja saya datang dari desa saya,
desa kecil mrengil di punuk pulau bali, singaraja.
kami mengadakan ngaben masal.
mereka yang tak mampuk, sepertik kami kami ini, ngaben masal adalah sebuah jalan keluar.
sathuk perempuan kami yang baru beberapa bulan lalu khatam, dimasukkan dalam daftar yang akan diaben.
saya gusung satu bokor silver yang berisi canang sari dan dupa yang berbusa asap, diatas kepala saat dari pura segara ke bale banjar.
semangat membara membawanya bersama ratusan jiwa yang diaben.
manusia bali, hidup selalu dengan “representasi”.

*

beberapa tahun lalu,
saya masuk ke dalam sebuah kamar tidur.
rumahnya yang kecil mrengil di denpasar.
dalam ruangan itu,
nampak satu perempuan tua.
ia kini kurus, mengecil seperti cabe merah yang kering digilas sinar matahari dan waktu.
saat perempuan itu melihat saya datang,
tubuhnya menangis.
matanya berkubang air kehidupan yang semakin surut.
saya duduk di dekatnya.
kami bercerita melalui diam.
ruangan itu seakan ikut berpesta kata kata.
hanya kami berdua yang mendengar kalimat kalimat yang keluar dari mulut semua benda yang ada di ruangan itu.
kami berbicara melalui diam.
saya memegang tubuhnya yang mrengil.
perempuan itu menangis.
dalam hati saya berujar, “tuhan, kalau sampeyan ingin perempuan ini hidup, berilah ia kesembuhan. tapi kalau sampeyan ingin perempuan ini khatam, jangan begini caranya!”.
selang infus melilit di tangan dan masuk ke lobang hidungnya.
satu kaleng besar biruk tabung gas tersambung.
manusiak dalam keadaan meregang nyawa, tuhanpun tak bisa berbuat apa.
esok hari setelah pertemuan dengan perempuan itu,
saya terbang ke colombo-srilangka.
saat presentasi di ruang yang sepi dan lebar, colombo mengundang hujan untuk datang.
awan gelap, burung gagak berseliweran dan menepi.
sesekali petir datang meramaikan.
di suasana yang dingin dan penampilan presentasi kami yang menawan,
perempuan tua yang meregang nyawa itupun benar benar khatam. tuhan mengajaknya pulang.
saya menangis.
colombo basah.
burung gagak menepi.
tunai sudah perjuangan!.

*
ini tentang beberapa bulan laluk;
di siang itu,
perempuan tua sedang tidur di atas sofanya yang lusuh.
ia sendiri.
saya masuk ke ruangan di mana ia tertidur di sofa itu.
ia sendiri.
anak anaknya sedang bepergian mengais rejeki.
merayakan hari dengan bekerja.
saya duduk di sampingnya.
bunyi reyot sofa membangunkan perempuan itu.
ia tersenyum.
saya tersenyum
udara luar membawa kebahagian.
kami bercakap.
tentang banyak hal.
dan tentang rumah seng saya.
“kalau bibikmu ini sehat dan selamat, ingin rasa bibik ikut melaspas rumah kamu tu”, ia berujar.
nafasnya naik turun. matanya menerawang berharap pada tuhannya agar ia diberi umur lagik.
“ya, nanthik saya akan jemput!”, saya berujar membalasnya.

tiga harik setelah pertemuan di sofak reyot itu;
ada sms masuk saat saya sibuk dengan pulpen dan kertas, “bibikmu masuk RS laghik!”.
saya bergegas keluar.
menerjang malam yang dingin.
di rumah sakik itu.
sekian manusia berjubel.
manusia manusia udik yang berharap banyak pada sebuah tempat; rumah sakik.
masuk ke ruangan ICU,
perempuan tua yang saya ajak ngobrol tentang banyak hal beberapa hari lalu itu, kini meregang nyawa.
selang infus melekat erat di lengan.
selang lain menerobos masuk ke lobang hidungnya.
sekian alat mengontrol hidupnya.
sementara, si perempuan tua yang meregang nyawa, mulutnya komat kamit berbicara banyak hal.
bahasanya bahasa yang tak saya kenal; bahasa sorgawi.
sekali laghik tuhan menunjukkan kelemahannya, ia tak bisa berbuat apa apa.
tiga puluh menit kemudian, perempuan tua yang saya ajak ngobrol tentang banyak hal ituk, khatam!.
malam yang dingin, kini ramai oleh tangisan.
saya menatap langit. ia diam seribu bahasa.

ini tentang kemarin;
jasadnya,
kemarin berupa sesajen bali dan dupa yang berbusa asap mengepul menemui langit cerah.
saya berpikir, seburuk buruk perempuan selama hidupnya, niatnya untuk mengasihi kita kita ini adalah setinggi busa asap dupa yang merangkul bhumi hingga ke langit.
representasi jasadnya yang kinik hanya berupa sesajen dan dupa, saya taruk di atas kepala, berjalan gagah dari segara ke bale banjar,
di kemarin siang yang terik itu.

perempuan perempuan tua reyot yang pernah dekat di hatik saya.

anda punya perempuan perempuan tua reyot yang pernah dekat di hatik?
saya punya, perempuan bali menginspirasik.

salam week end.

Popularity: 9% [?]

Comments

There is one comment for this post.

  1. Mahadipa P. Manuaba on July 24, 2010 1:25 am

    Nice Boss!
    semoga perempuan-perempuan itu dapat bersatu dengan IDA sang cahaya dan menyinari semua yang ditinggalkan..

    selamat jalan..

Write a Comment