putu mahendra

saya arsitek autis

Advertisement

saya bekerja dengan wayan wijaya, seniman kaca lokal yang studionya di desa bona di gianyar.

sama dengan bagaimana saya bekerja dengan mas fulkin, tukang las yang berada sekitar tiga puluh meter dari studio sanur, begitu saya bekerja dengan masing masing supplier yang merealisasikan apa yang ada di benak. saya musti dekat, tak bisa dilepas hanya memberi gambar.
klien sudah membuat sampel untuk apa yang kita gambar, saat inspeksi beberapa waktu lalu, hasilnya tak begitu menohok.
serasa saat kita melakukan sex, tak ada jilatan maka tak enak.
gambar yang ada di kertas dari hasil plotter kita, tak fix. dia musti selalu membuka ruang untuk dipijit beberapa bagian agar lebih sempurna.
pemijitan dilakukan saat dibuat sampelnya.
dipijit atau dijilat, itulah bagaimana kita memadu madankan apa yang di kertas dengan apa jadinya ia nanti.
desain musti dijilat, biar lidah merasakan apa kurang dari gambar yang kita buat.
atau,
disain musti dijilat agar sampel yang dibuat tanpa supervisi kita, kita bisa memberikan gambaran apa yang kurang dari sampel itu.
kalau tak dijilat, tak enak.
itulah sex.
sextecture!.

jam empat pagi saat saya masih lelap, di dubai;
mas andre, tukang las dari bengkelnya mas fulkin menilpun saya.
“busyet, ada apa mas andre?, pagi gini..”, saya lupa saya tak memberi tahu dia bahwa saa ada di dubai.
“anu mas, saya mau minthak gambar pagarnya. boss tak ada di bengkel. saya tak tahu di mana ditaruh gambarnya”, begitu dia menjelaskan. “ini kan sudah siang, jadi tak pikir mas putu sudah ada di sanur”, katanya lagi.
sudah siang?. he..he..

hari apa yang digarap mas andre sudah kelar.
saya ada di bai saat ia mengerjakan.
ia meng-sms saya.
“mas putu, sudah ada di mana sekarang?”.
saya jawab, “di studio boss!”.
dia balas, “bisa ke bengkel?, liat sampelnya. sudah jadi”.
wweeeiiikkksss…., saya terkejut. tanpa supervisi?.
saya bergegas berjalan.
matahari masih bersahabat. hangat sinarnya.

mas fulkin dan mas andre sudah di bengkel.
dia memegang sampel pagar itu.
saya manikmati.
ternyata mereka mengetahui apa yang ada di benak.
maklumlah, kita sudah terlalu sering bekerja dengan tukang las ini.
jadi, apa yang mereka sodorkan dengan sampel pagar ini, saya hanya berkomentar sedikit saja.
secuil, tak banyak.
saya puas dengan apa yang mereka kerjakan.

pagi itu setelah dari bengkel mas fulkin,
wayan wijaya, seniman kaca lokal dari desa bona menilpun.
“di mana ini boss?”, tanyanya.
“di studio boss, nape?, saya jawab.
“weh, kebetulan ini saya sudah ada di depan studio, saya masuk saja ya”, ia berkata lagi.
kami bertemu dan berbicara di kebun.

ada satu job yang memerlukan bantuannya.
memerlukan masukan dari pengalamannya.
saya buta akan kaca.
buta akan dunia itu.
dan saya memerlukan bantuannya untuk merealisasikan apa yang ada di benak.

ada komentar dari klien tantang kaca yang akan kita pasang.
banyak masukan dari klien yang membuat saya juga berpikir.
setidaknya apa yang mereka bawa, masih diterima.
hal ini seperti membuat kita musti bekerja dari nol lagi.
meraba raba lagi.
bereksprimen lagi.
untuk bisa begini,
hal yang paling membantu adalah bekerja dengan manusia yang tahu.
yang tahu masalah kaca.
wayan datang membantu.
tanpa melihat ia akan mendapat pekerjaan atau tidak dari diskusi ini. ia iklas untuk nantinya tak dipilih untuk menyuplai kaca.

masalah sedikit tertanggulangi.

arsitek,
semestinya musti bekerja dengan dekat bersama para seniman.
termasuk tukang las yang tahu masalah besi,
termasuk tukang kaca yang tahu karakter kaca.
bengkel kerjanya seadanya.
tak ber-ac,
lantainya tak bereramik.
dari sana segudang ilmu dan pengalaman menumpuk
jangan malu untuk bertanya.
karena arsitek adalah manusia juga.

sama seperti wayan wijaya,
iklas saja.

Popularity: 34% [?]

Comments

There is one comment for this post.

  1. kepang on June 28, 2010 6:26 am

    Setuju ky…. Lauk jiwa yg segar dr sudut arsitek autis hebat

Write a Comment