pagi ini,
jalanan dubai menuju abu dhabi tertutup pasir.
angin berhembus kencang di luar sana.
aspal dihiasi pasir putih gading.
udara kering berhembus.
mata saya semilir semilir hendak menutup.
tim, project manager proyek di abu dhabi menyetir.
saya tak bicara banyak.
dan tak bisa menahan kantuk.
semalam tidur jam 12, dan bangun jam 4 pagi.
kantuk berat menerpa.
pingin tidur, tapi kasihan si tim hidup sendiri di jalanan sepi di tengah padang pasir.
sesekali kami bercakap, setelah itu sepi lagi.
saya tak banyak bicara dan tak bisa bicara banyak.
pikiran kami menggelepar masing masing.
ada dua tempat yang akan dikunjungi.
dua duanya nursery yang akan dipilih untuk menyuplai tanaman di proyek.
lalu lalang kendaraan di sepanjang jalan ini nampak sepi.
sabtu dan jumat adalah hari libur di dubai.
minggu, mereka start kerja lagi.
saya tak bisa membayangkan bagaimana pohon bisa ditanam di daerah tandus ini.
apalagi ada perusahaan supplier tanaman di daerah setandus dubai.
saya dengar, mereka mengexpornya dari jerman, thailand, malaysia.
untuk merubah tabiat tanaman tropis ke daerah kering begini, memerlukan ketelatenan yang luar biasa.
dan sedikit uji coba yang sedemikian besarnya.
saya penasaran.
udara di luar berada di angka 41 derajat.
kulit terasa ditusuk oleh sinar.
mobil melaju kencang.
angin membawa pasir.
kami berhenti di shangrila abu dhabi.
berkenalan dengan kontraktor dan satu supplier tanaman.
duduk di lobby hotel, kelihatan sekali interiornya ala middle east.
saya memesan kopi late.
mereka ngobrol.
saya mendengarkan.
dalam setiap job,
selalu bertemu manusia manusia baru.
tabiat tabiat baru.
dan pengalaman baru.
mereka bercerita tentang mereka.
saya mendengarkan saja.
mereka bercerita tentang manusia lain.
saya mendengarkan.
pengalaman bertemu dengan pengalaman.
cerita bertemu dengan cerita.
seperti perjalanan uang di bursa efek, mengalir deras dari satu tangan ke tangan lainnya.
dalam sekali pertemuan dalam satu meja empat kursi,
pengalaman bertambah deras seiring waktu berjalan.
kopi late tarasa pahit tanpa saya beri gula.
kopi mengalir pelan di kerongkongan. pahit melekat hingga ke otak.
mereka semakin bersemangat berbicara.
tentang mereka.
tentang job yang kita garap.
saya berbicara sedikit. tersenyum sedikit. dan menikmati lobby hotel.
kami bergerak.
“tu, kopi anda tak anda habiskan?”, tanya manusia satu.
saya menyeruput pelan. tak semanis kopi late starbucks.
kami pergi.
menuju nursery si supplier tanaman.
dalam nursery itu;
nampak sekian tanaman.
peopohonan.
palm.
perdu dan penutup tanah.
saya terkesima.
mereka hidup hijau bak kebun di studio sanur.
tas plastik besar dan kecil sebagai media tanamnya.
saya menyentuh batangnya.
menyentuh daunnya.
dalam hati, saya berucap, “kamu sehat baby?”.
antusias saya bertambah kencang.
panas 41 derajat menusuk kulit.
tak membuat rasa senang untuk berjalan di tiap jengkal kebun itu.
supplier tanaman bertambah girang saat membaca raut muka saya.
kami bercakap.
tentang banyak hal.
sesekali dengan bahasa latin tanaman yang tak dimengerti oleh tim dan kontraktor.
manusia dubai punya talenta yang tajam untuk merubah nasib.
tak mau bermuram durja pada padang pasir yang luas.
saya berpikir, kalau mereka bisa merubah dunia, kenapa saya tak ?.
kami meninggalkan kebun itu.
ada perasaan lapang mencuat.
dubai ternyata bisa membuat perubahan tanaman tropis ke keadaan di mana ketandusan adalah juga punya kans untuk hijau.
mobil bergerak ke supplier tanaman lainnya.
aspal tertutup pasir.
angin berhembus kering.
di supplier tanaman ke dua.
hijaunya lebih gila dari supplier pertama.
luasnya lebih gila ketimbang yang pertama.
saya semakin bersemangat.
sama seperti seorang lelaki yang sedang menggauli perempuannya, menuju puncak!.
si suplier melihat wajah saya yang sumringah.
kami bercakap.
ia menjelaskan koleksinya.
berapa banyak koleksi palm.
berapa banyak koleksi pohon.
menjelaskan segala hal tentang tabiat tanaman di daerah tandus.
kami seperti berada dalam satu keluarga.
padahal, saya tak tahu tanaman sama sekali.
dua tempat itu,
menyisakan banyak harapan akan hijaunya job kita nanti.
semegah apapun bangunan kita nantinya,
ia akan tenggelam dalam kerindangan pepohonan.
ia akan nampak kalem dalam pelukan perdu.
seperti angin yang menerbangkan butir pasir yang berat.
kami berpisah.
saya, tim, kontraktor itu dan para supplier.
abu dhabi memberikan sebuah harapan.
kerja yang baik akan menghasilkan sesuatu yang baik.
sesuatu yang baik, didapat dari pertemuan manusia manusia yang mengerti apa yang dikerjakannya dan dengan apa mereka musti mengerjakannya.
door boy hotel shangrila dubai, menyapa saya dan menyilahkan masuk.
perut telah menangis sejak tadi.
kerongkongan telah kering dihembus udara dingin ac mobil.
kamar ada di lantai 37.
saya memesan makanan siang; hainanese chicken rice dan orange juice.
sambil menunggu makanan datang, facebook terbuka.
ada banyak cerita tertulis di atas layar.
satu teman saat kuliah dulu, mengirimkan video mesum dengan belahan paha menganga.
kiriman seperti ini sudah saya terima bebeapa bulan lalu.
saya delete saja.
tapi kali ini lain.
ini teman kuliah, mungkin ia mengirimkan sebuah pesan.
saya klik.
tak menghasilkan apa apa.
beberapa detik kemudian,
otomatis bin ajaib, account saya mengirim video mesum dengan gambar paha tersingkap itu ke beberapa rekan.
tanpa saya suruh!.
weeeiiiiikkkkkssssss…..
“aku ketahuan…..pacaran lagi….!”
Popularity: 29% [?]









Comments
There are no comments for this post.
Write a Comment