ada 3 hal yang ingin saya utarakan.
satu.
saat sonny sutanto datang ke studio sanur atas undangan saya untuk mendiskusikan arsitektur dari sudut pandang SEX, saya memulainya dengan kalimat kalimat sederhana.
bahwa hidup adalah hasil dari sex. manusia adalah sebuah tanda sex itu sendiri, dari bermacam perkawinan dan ia hadir oleh sebuah sex.
saya berpikir sederhana, hanya manusia yang hidup dengan sex yang berdasar akan cinta, ia akan tumbuh berkembang dengan dasar cinta jua.
tubuh manusia adalah sebuah tektonika. sebuah pertemuan. sebuah perkawinan berbagai anggota tubuh.
mereka, anggota anggota tubuh itu, adalah sebuah contoh bagaimana sex alam terjadi.saya belajar bagaimana tubuh manusia tersusun, menjadikannya alat bantu dalam mendisain selama ini.
tak jauh jauh, saya cukup melihat bagaimana tubuh saya bersatu bertautan.
bagaimana kepala bertemu dengan badan. bagaimana kaki bertemu dengan badan. bagaimana kuping menghias kepala.
bagaimana alis memisah mata dengan dahi.
saya berhenti berbicara.
sonny menanggapi.
bahwa cara berpikir ala saya, tergolong sebagai cara berpikir yang amat tradisional, klasik. takutnya hal ini akan selalu melatarbelakangi bagaimana saya berkarya, bagaimana saya menilai sebuah karya. bahwa dengan pemikiran seperti itu, saya akan selalu nantinya membagi bagi mana kepala, mana kaki, mana badan dalam sebuah karya arsitektur.
bahwa suatu saat nanti kalau sebuah karya arsitektur tak mempunyai kepala, apakah masih bisa dikatakan sebagai sebuah karya arsitektur? karena pemikiran saya masih berada dalam pemikiran klasik tradisional seperti itu.
kini, ada banyak gerakan di mana para arsitek membolehkan kepala di kaki, kaki di kepala. bahkan mana kepala mana kakipun tak bisa dilihat kini.
saya menanggapi pemikiran sonny.
pembelajaran tradisional/klasik yang dilontarkan sonny di diskusi itu, hanyalah merupakan sebuah dasar. kalau pengertiannya sudah tertangkap secara jelas, maka dalam penerapannya di lapangan bisa dipakai atau tak dipakai. disain terkadang memerlukan pemikiran tepat waktu dan tempat. pembelajaran mendasar mustinya selalu dipelajari hingga ke akar, sehinga suatu saat nanti kalau memang sebuah karya arsitektur tak mempunya wujud kepala yang jelas, tentunya oleh sebab yang mendasar.
mengetahui bagaimana kepala bertemu dengan badan, bagaimana tangan bertemu dengan kepala, adalah cikal bakal sebuah tektonika yang patut diresapi. bagaimana kemudian hal itu diterapkan di kekinian, diserahkan kepada masing masing kepala.
pembelajaran tentang sex, bukan sekedar untuk mengetahui baik buruknya, tetapi musti juga mengetengahkan sisi seninya melakukan sex itu sendiri.
diskusi berlanjut hingga ke hal hal yang membuat saya lupa untuk menangkap apa yang saat itu kita bicarakan.
sebuah pertanyaan datang;
Q : Jika Arsitektur dikaitkan dengan sex, bagaimana kejujuran berarsitektur dinilai? Mengingat jaman yang serba ‘boleh’, penggunaan bahan tiruan (vibrator untuk laki-laki dan wanita homoseksual), bagaimanakah jika mereka menginginkan anak original?
A : Tergantung dari pilihan yang diambil sang arsitek. Apa mau mengikuti sikap klasik atau mengikuti sikap yang ‘serba boleh’ tadi karena tidak ada benar salah dalam arsitektur, tidak ada baik – kurang baik. 3 hal yang perlu diperhatikan : 1. Dampak yang timbul dari pilihan itu terhadap si arsitek sendiri; 2. Dampak terhadap lingkungannya; dan 3. Dampak untuk semesta.
Selama kita tau dan berani bertanggung jawab terhadap pilihan kita, kita akan tau batas, dan kemudian kembali menjadi sebuah pilihan untuk berada di belakang batas atau berani untuk melampauinya, dan musti siap akan segala konsekuensinya.
Q : Kalau ada 1st dan 2nd Gender (male & female), bisakah diberikan contoh arsitektur yang merupakan the 3rd Gender (kaum homoseksual)?
A : Arsitektur dimasa ini lebih cenderung ke male architecture, karena lebih mementingkan ego, keperkasaan dalam pencapaian.
Contoh Negara-negara yang sedang pesat-pesatnya berlomba membangun pencakar langit, tak lebih hanya sebuah pencapaian yang tidak masuk akal, hanya adu panjang-panjangan penis saja, ini adalah ciri arsitektur yang kelaki-lakian (male architecture).
saya lebih menanggapinya begini;
keadaan di mana serba boleh ini, sex bebas, homo, lesbian dan lainnya (hingga manusia vs hewan) adalah di mana keadaan arsitektur yang banyak terjadi kini oleh starchitects. tak bisa lagi dibedakan mana kepala, kaki, badan. bagaimana kaki dipertermukan dengan badan. bagaimana kuping dipertemukan dengan kulit.
semua site adalah sama. satu arsitek mendapat site di jepang akan sama saat ia mendisain di dubai.
sama seperti seorang laki yang merasa puas dengan orgasme melalui oral, melalui anal. manusia merasa puas dengan olahan sexnya saat bertemu sesama.
saya pikir saya telah menemukan keadaan arsitektur gender ke tiga.
pertanyaan lain mencuat;
prolog: arsitektur adalah mencoba mengcreate sesuatu agar diri kita yang selama ini terkonotasi oleh aktivitas biasa menjadi sesuatu yang baru dan berbeda dari biasanya. misalnya aktivitas mandi: yang terbiasa menggunakan keran air otomatis, yang tanpa di sentuh pun airnya sudah keluar duluan, menjadi sesuatu yang harus menggunakan usaha seperti mengambil gayung, menyiduk air, kemudian menyiramnya ke seluruh tubuh. hal-hal biasa ini lah yang coba diubah menjadi lebih baru. dengan harapan memberikan pengalaman yang baru pula bagi orang lain.
q: adakah batasan mengenai kata baru tersebut? maksud saya, adakalanya kita bilang kepada masyarakat awam bahwa ini baru. ini sesuatu yang belum pernah ada di lingkungan ini. dan secara tidak langsung mereka akan menganggap saya sebagai penemu si “baru” tersebut. padahal di satu sisi, saya hanya mengambil “baru” tersebut dari apa yang saya lihat di buku-buku luar negeri. dan hanya saya yang tahu itu. nah sejauh mana batasan makna baru tersebut mengingat disekitar kita sebenarnya banyak sekali perbuatan plagiatisme arsitektur yang secara sepihak diklaim sebagai barang sendiri dan dihalalkan sebagai kata “baru”?
sonny menaggapi;
menurut beliau (dari apa yang pernah ia baca sepertinya) di dunia ini hanya ada 9 hal yang ia anggap baru:
1. api
2. bahasa
3. alat tukar
4. roda
5. alat perang
6. ….
7. ….
8. teknologi (mohon koreksi)
9. internet
yang lainnya bukanlah produk “baru”. tapi merupakan proses dari “baru” yang diatas tersebut. baru disini dikategorikan sebagai 2 hal: originalitas dan authentic (saya lupa dengan kata yang satu ini,). ke-sembilan hal diatas di sebut sebagai hal-hal yang original. dari yang benar-benar tidak ada hingga akhirnya ada. misal: mengapa orang tiba-tiba mempunyai pemikiran untuk membuat api bukanlah suatu ide yang muncul tiba-tiba. adalah suatu kejadian dimana mereka menyaksikan sesuatu yang terbakar ketika petir menyambar ranting pohon. adalah suatu percobaan ketika mereka menyadari bahwa rasa tumbuhan dan daging yang di diamkan lebih dulu di atas api menjadi lebih baik dibanding dimakan mentah-mentah. adalah suatu kenyamanan ketika mereka melakukan aktivitas di saat yang terang sehingga api menggantikan posisi matahari di saat malam (dua kalimat sebelumnya adalah pendapat saya). maka dari itu mereka memaksa membuat api.
authentic adalah suatu proses yang sebenarnya juga menggunakan hal-hal lama yang di letakkan di masa sekarang untuk kemudian di olah kembali sehingga menjadi sesuatu yang baru. baru di sini bukan satu sifat dengan originalitas. tapi lebih kepada perasaan yang diciptakan ketika kita berdiri di lokasi tersebut.
sambungan vertical dengan horizontal, sambungan kolom dengan lantai bukanlah hal yang baru. sambungan kepala kolom yang lebih besar dengan kaki kolom yang lebih ramping bukanlah barang baru. semua menjadi baru (authentic) saat bill bensley mencoba meletakkan kolom tersebut dengan suatu proses terlebih dahulu sehingga saat kita memandang kolom tersebut itu bukanlah sekedar penyangga bangunan. Atau ketika bill bensley mempermainkan kita dengan ruang-ruang dimana saat kita memandang satu kolom dari tempat yang berbeda kita merasakan pengalaman ruang yang berbeda pula. kita mencoba menciptakan sesuatu yang berbeda melalui perasaan ruang yang bahkan ketika kita berpijak di belahan bumi manapun hanya ada satu tempat dengan “perasaan memandang kolom” seperti di atas.
selama ini kita memandang dekonstruksi adalah hal yang baru. ia lahir setelah jaman post-modern. ia ada setelah runtuhnya salah satu bangunan simbolik (saya lupa nama dan tempatnya) yang menjadi matinya jaman modern dan beralih pada post modern. padahal dekonstruksi juga bersumber dari “barang lama”. kita harus tahu cara mendirikan kolom yang benar terlebih dahulu untuk kemudian merusaknya. kita harus mengerti system tektonik yang berada dalam “zona aman” untuk kemudian menjadi sesuatu yang kurang aman di mata struktur. jadi semua hal yang ada sekarang pastilah sesuatu yang baru secara authentic tapi tak akan bisa dikategorikan sebagai originalitas.
di dunia ini ada 3 kategori masyarakat. pertama: masyarakat yang tahu sejarah (tahu disini belum tentu mengerti). ke dua: masyarakat yang membaca sejarah (ia tahu dan mengerti). ke tiga: masyarakat yang merubah sejarah. misal: masyarakat yang tahu sejarah adalah masyarakat yang tahu mengenai kasus bank century dari kabar burung dan tidak ambil pusing dengan isu tersebut. masyarakat yang membaca sejarah adalah masyarakat yang mengikuti isu bank century dan berusaha menjadi pemain belakang dengan mendukung para jagoan mereka. masyarakat yang merubah sejarah adalah para jagoan tersebut yang mengambil keputusan besar dalam kasus ini. dan arsitektur pastilah merubah sejarah karena ia akan semakin baru dan baru dari masa ke masa. untuk menjadi baru (authentic) ia butuh baru (originalitas) sebagai pondasi mereka.
diantara ke sembilan originalitas diatas, teknologi adalah poin yang memiliki pengaruh paling banyak. saat ia pertama kali ada, ia menjadi sesuatu yang amat langka, susah didapat dan mahal. namun seiring perkembangan jaman, ia menjadi suatu kebiasaan dan murah. teknologi memang harus murah! Dengan ia semakin murah semakin mudah di gunakan. dan kita sangat membutuhkan teknologi untuk menjadi baru (authentic). dengan teknologi kita dapat membuat struktur mustahil mendekati hasil. dengan teknologi kita dapat merubah jaman!
sekian dari saya.
Saya tidak tahu apa yang saya sampaikan ini telah menjawab pertanyaan anda atau malah tidak sama sekali.
saya menanggapi;
bill itu, saat ia membeli semua barang untuk interior. saat ia dengan seenaknya comot sana comot sini, tarik sana sini untuk kemudian diletakkan pada sebuah job interior, ia sebenarnya telah mempelajari benda-benda itu terlebih dahulu. ia tahu kursi yang akan ia letakkan pada bangunannya itu berasal dari tahun berapa, dibuat oleh siapa, dicetuskan oleh siapa, pernah dipakai dimana saja, untuk kemudian dia putuskan pakai barang itu tapi dipuntir, diplintir, digaruk sana sini terlebih dahulu agar ia tampak baru saat ia diletakkan pada tempatnya.
menuju kata baru itu juga merupakan proses. dan proses pastilah butuh hasrat. butuh passion! seseorang yang mencoba membuat sesuatu yang menurut dia baru tapi ia sama sekali tidak sreg saat mengerjakannya, itu sama sekali tidak ada artinya. J
jadi saya selalu mengatakan diawal kepada semua orang, “kalau kamu tidak sreg, tinggalkan sekarang!”
~
dua.
ini diskusi sederhana lagi.
tentang trend. saya ajak profesor prijotomo hadir saat mahasiswa mahasiswi arsitektur universitas tadulako palu datang berkunjung ke studio sanur.
saya bicara tentang trend arsitektur.
ada banyak diskusi tentang trend dan dalam setiap diskusi itu selalu saja tersirat bahwa jangan selalu ikut dalam sebuah trend. karena trend akan mati suatu saat nanti dan penganutnyapun akan kelimpungan sesaat trend yang dipakainya mati.
tap banyak yang tak berani mengungkap bagaimana seharusnya kita menghadapi trend ini. kita boleh saja berujar bahwa saya tak ikut sebuah trend tapi kita musti bisa bersikap yang lebih ekstrem; saya pencipta trend itu sendiri!.
saya lebih segar jika berada dalam sebuah trend. katakanlah minimalis. saya tak akan berada dalam hingar bingar garis minimalis kaum public yang sudah banyak dirasakan oleh masyarakat. seharusnya saya musti bisa berada dalam sebuah minimalis baru yang tak seorangpun berada di sudut itu. lahirkanlah sebuah trend minimalis versi anda sendiri, karena dengan begitu, karya anda telah banyak memberi sebuah sumbangan pemikiran terhadap apa itu minimalis. setidaknya karya anda masih berada dalam sebuah trend dan yang paling penting adalah karya minimalis anda telah berujud sebagai sebuah pakem baru dalam ranah minimalis.
ciptakanlah trend baru, bagaimana kita berminimalis!.
jadi jangan giat giat berucap, “saya tak berada dalam sebuah trend!”.
tapi berusahalah, “menciptakan trend!. be trendsetter!”.
profesor josef prijotomo menambahkan;
bethoven, mozart, osland husein, beatles, rolling stone, beyonce, adalah sekian corak/ragam dunia musik. dari masa ke masa terjadi pergeseran musik sebagai seni ke arah musik sebagai sebuah produk industri(komoditi/komoditas), begitu pula dengan dunia arsitektur.
postmodern = pluralism/majemuk berhubungan dengan segmen pasar yang bervariasi.
segmen pasar arsitek dari kelas bawah sampai atas tak masalah, intinya pada karya yang di hasilkannya.
“putu mahendra itu, karyanya kelas ferrari tapi sosok personnya; suzuki carry.
arsitektur sudah tidak lagi berada pada dunia seni. di dunia barat, hal ini telah terjadi pada saat revolusi industri.
jenks bilang, “arsitektur adalah ilmu dan seni”.
ilmu = singularistik
seni = multi tafsir, pluralistik, sebuah ekspresi
perkawinan antara ilmu dan seni memunculkan postmodern – yang kemudian membawa arsitektur sebagai media informasi dan komunikasi
arsitektur tidak hanya merancang dan menggambar, tapi harus bisa menggunakan media2 informasi, pameran, forum(lisan atau tulisan), publikasi tulis(web, blog).
tentang pemahaman tentang trend, trend bisa berbeda tergantung pada cara pandangnya;
putu mahendra memandang dari sisi seorang praktisi sedangkan prof. josef dari dunia keilmuan,
seseorang yang belajar dunia arsitektur tidak harus berakhir dengan menjadi seorang arsitek. namun dapat menjadi kritikus, dosen, dll.
tentang trend yang kini membahas global warming.
saya berpikir begini;
banyak arsitek yang fasadnya tidak ingin tergangu dengan tanaman,
desain haruslah “down to earth” tidak perlu mem”blow up” dirinya sendiri.
desain bangunan dapat berkompromi pada suatu kondisi alam tertentu. denah massa bangunan tak mesti besar tapi diusahakan sekecil mungkin agar bisa berhimpitan diantara dua tanaman besar. arsitek tak serta merta kemudian membabat lahan hutan sekedar untuk menonjolkan bagunannya yang cantik.
setiap arsitek mempunyai mimpi/ego untuk menunjukkan dirinya oleh sebab itu perlu adanya kontrol diri sebagai seorang arsitek.
profesor josef menambahkan;
sekolah arsitektur merupakan agen peredaran pengetahuan sekaligus pembunuhan pengetahuan yang berasal dari barat.
bangunan menyediakan tirai, alam menyediakan pepohonan.
arsitektur seharusnya menyembunyikan diri. tak menonjolkan diri.
menikmati arsitektur bukan dari kejauhan tapi bagaimana merasakan ruang dari dekat.
hijau merupakan bagian dari perancangan “tropis”,di mana akan selalu ada atap, lantai, dan tirai/pepohonan. arsitektur bukan perlindungan tapi merupakan pernaungan.
tiga.
ini diskusi dengan mahasiswa arsitektur universitas atmajaya jogjakarta.
kita berbicara tentang sketsa. tentang arti di balik sketsa sang arsitek.
saya menjelaskan tentang beberapa sketsa. dan bagaimana saya bekerja dengan anak anak yang membahasakan sketsa saya menjadi bahasa gambar yang lebih komunikatif.
mereka butuh waktu yang lama dan panjang untuk mengertikan setiap titik dan garis yang ada dalam setiap sketsa saya.
mereka tahu ruang ruang yang terjadi. mereka tahu makna titik dan garis yang tersirat dalam setiap gambar. untuk berada di level ini, panjang waktu digaruk.
setiap arsitek mempunyai kekhas-an tersendiri dalam sebuah sketsanya dan mempunyai team tersendiri yang mampu membacanya dengan baik dan benar ibarat pembacaan apoteker yang terbiasa dengan tulisan para dokter yang semrawut.
dalam sebuah sketsa, terekan ruang yang terjadi, terekam material, suasana yang diinginkan.
sektsa seorang arsitek tak serta merta hanya sebuah gambar tak jelas yang tiada arti. hanya mansia manusia yang telah bekerja sama dengan ia yang akan mampu menterjemahkan isi di dalamnya dengan kadar pemikiran dan terobosan yang sama dengan apa yang dipikir oleh si arsitek terhadap sebuah ruang.
Popularity: 28% [?]









sex and the city
or
sex and the architect