putu mahendra

saya arsitek autis

Advertisement

IBC

May 14, 2010 | No comments | Arsitektur Tulis

selain singapore, india dan australia,
kini dubai membuka mata saya akan peran sebuah gambar.

dua hari sebelum berangkat ke dubai,
di studio sanur, saya bercakap dengan mas andhika.
tentang job yang akan kita bahas di dubai.
bersama arsitek lokal sana, bersama representative client dan project manager.
beberapa notes sudah dikirim dari dubai untuk kita pelajari.
saya forward ke mas andhika, ia yang bertanggung jawab dengan job ini.
saya membaca sekilas saja.
saya yakin, beberapa notes itu sudah dibalas oleh mas andhika beberapa saat sebelumnya.
dan saya masih berpikir bahwa saya tak terbang sendiri ke dubai, tentunya mas andhika akan memback up saya dalam membaca gambar.
ia lebih tahu isi gambar ketimbang saya sendiri.

dua hari sebelum hari berangkat,
saya bertemu dengan mas andhika di meja kerjanya.
membahas notes yang datang dari dubai,
meyakinkan segala sesuatu dari notes itu, bahwa sudah terbayar.
dan mengingatkan ia akan jam terbang.
“maap, saya tak terbang. khan hanya bli putu yang diberi visa”, andhika berkata.
“weeiikkssss…..apa?”, saya terkesima.
“iya..saya baca surat undangan yang datang dari dubai. di situ hanya tertera nama bli putu”,
“weeiikkssss…..?”, saya tak percaya.
membayangkan rapat sendiri meraba raba gambar.
membayangkan terbang jauh sendiri tanpa rekan.
membayangkan kesendirian lama di negeri orang.
busyet!.

salah saya tak mengechek surat undangan yang datang.
keburu percaya dengan apa yang saya pikir.
langsung menyerahkan ke sekretaris untuk mengurusnyan ke dubes UEA.
dan menyibukkan diri dengan keseharian.
saya hanya terkesima semakin dalam.

kami bercakap.
andhika memberikan keterangan terhadap semua notes dan apa yang sudah dicapainya.
saya hanya mangut mangut.
ada beberapa hal yang mengganggu otak.
tertulis “…ini..ini..ini musti sesuai dengan IBC clausal nomor……?”,
saya tak mengerti.
“IBC itu apaan?”, saya tanya andhika.
“OOOoooo…itu international building code. jadi kalau ada ramp, miringnya ramp musti mengacu ke apa yang distandardkan oleh buku itu”, andhika menjelaskan.
“wweeeiiikkkssss….busyet dah!”, saya berujar. saya ingat singapore.
“lha..kita tak punya bukunya. dari mana kita garuk itu data?”, saya berujar lagi.
“saya sempet google, tapi isinya tak bisa saya baca seutuhnya. mungkin kita perlu beli”, andhika menjelaskan.
“mungkin saya bisa cari nanti di amazon?”, saya berkerut, berharap bisa dapat.
~
pagi itu,
dubai nampak panas.
suhunya tak seperti saat saya berada di dubai beberapa bulan lalu.
waktu berubah, begitu juga tabiatnya.
sesampai di kantor lokal arsitek dubai,
kami bersalaman.
bersenda gurau sebentar. bertanya tentang banyak hal. tentang kegiatan yang dilakukan sebelumnya.
saat berbicara tentang gambar,
arsitek lokal dubai memberikan banyak masukan akan tiap detail yang telah kita buat.
sedikit sedikit musti diukur dengan IBC itu.
“jadi kalau ada tangga dengan ketinggian sampai 75 senti, anda musti memberi railing!”, katanya.
saya nyengir, “anda bercanda?”.
“no…putu. ini musti mengacu ke buku standard internasional. karena akan diserahkan ke “authority” dubai. mereka akan mengechek tiap gambar dan relevansinya dengan acuan standard di buku itu.
saya nyengir.
“tapi saya tak punya bukunya”, saya berujar.
“akan saya beri kopiannya. hard copy dan soft copy. ok?”, dia berkata lagi.
“oke lah kalhok beghituk…”.

kami tertawa.
dubai memberikan banyak penyegaran dalam kebebasan menggambar selama ini.

thanks.

Popularity: 25% [?]

Comments

There are no comments for this post.

Write a Comment