putu mahendra

saya arsitek autis

Advertisement

beijing masih siang, tapi dingin udara luar begitu terasa sampai ke dalam ruang tidur saya.
dalam balutan seprei, saya berusaha untuk mengingat dan membayangkan suasana kantor sanur dan rumah yang berisi anak bini.
dalam keadaan seperti itu, tilpun berdering, yang isi pembicaraan via tilpun itu membuat saya berpikir panjang.
terkadang saya berpikir begini, “busyet, kalau ane makan sendiri, enak neh!”.

hari ini, ada seorang rekan menghubungi saya.
“pak putu, anda kapan bisa ada di jakarta?, saya ada hal yang ingin dibicarakan”, katanya.
“wah pak, sampai hari ini saya tak punya jadwal ke jakarta, ada apa ya?”.
“saya punya tanah di ubud, hendak membuat sesuatu. kalau pak putu tak bisa datang, mungkin saya yang akan ke bali”, katanya lagi.
walah, ini masalah kerjaan toh.

beberapa saat kemudian, ia meng-sms saya.
tulisnya, “ada tanah di ubud. ada tanah di jakarta. ada tanah di cangu yang akan kita kembangkan”.

gile!.

sampai saat ini,
saya tak tertarik untuk menggarap sendiri pekerjaan yang datang via hp saya.
ujung ujungnya, mereka itu semua yang memberi pekerjaan ke saya, saya suruh untuk datang liwat pintu depan, bukan liwat “pintu service”.
hati saya berkata, “be PRO!”.
sehingga dari semua yang datang via “pintu service”, mungkin hanya 1% saja yang lanjut ke pintu depan dan kemudian kita proses secara formal.
sisanya, saya kasih ke teman teman di luar sana.
kalau saya punya waktu senggang, saya paku kuat kuat untuk bermain dengan anak anak saya di rumah. saya pakai untuk bermain sex dengan istri.
dan yang paling asik; belanja!.

mungkin bagi sebagian orang, sikap seperti ini dicap bodoh. atau aneh.
tapi biarlah saya dicap bodoh, asal masih tetap ada yang memberi cap pintar setidaknya oleh 3 anak anak saya yang masih kecil mungil mrengil.

rekan saya yang di jakarta itu, meng-sms saya lagi, “kantornya bisa didatangi hari sabtu ndak?, kalau bisa saya pasti akan ke situ. nanti saya akan hubungi lagi”.
saya balas, “kantor kita terbuka setiap hari. bapak bisa datang kapan saja”.
semoga dia datang via pintu depan. dan berlanjut dengan kerja sama yang lebih formal dan mengasikkan.

nikmati saja semua pilihan hidup yang sudah digenggam, walau terkadang sering menimbulkan berbagai pertanyaan dari orang luar yang memperhatikan kita.
selagi kita masih bisa menikmatinya, kita akan merasa sejalan dengan semboyan SBY; “lanjutkan!”.

Popularity: 4% [?]

Comments

There are no comments for this post.

Write a Comment