putu mahendra

saya arsitek autis

Advertisement

baru saja kita diskusi struktur pergola.
job kecil kecilan, buat pergola untuk parkiran.
yang punya tetangga sebelah.
proyek kami kecil kecilan, yang penting dapur ngebul dulu,
yang penting bisa buat bayar gaji dulu,
disuruh buat parkiran, bablas sajah. ambil sajah. jangan malu dengan pekerjaan kecil. kecil dan besar, profesional kita musti selalu tampil prima untuk dua duanya.
termasuk buat struktur pergola. termasuk bikin parkiran.
saya suruh untuk menaruh kolom pergola tak di as plot parkir.
jadi musti terbebas kolom. jadi lot parkir musti diatur lagi karena kita “insert” kolom di antaranya.
jadi kalau saya parkir dengan ferari, saya bisa leluasa membuka pintu.
“delete sajah kolom ditengah, bentangnya jadi 10m?”, mas andika memberi saran.
“hah…10m tanpa kolom?, pakai apa mas?”, saya bertanya. maklum, otak saya tak berisi formula struktur.
“baja!, st regis ajah bisa tuh”, andika menjawab lagi.
saya mangut mangut. bener jugah.

saya memang buta struktur. tak mau mengertikannya secara detail.
saya awam. tak mau juga mempelajari.
istilah kerennya, “bablas sajah”.

hari ini juga saya ngobrol tentang bangunan salon.
di mana nantinya orang orang berbicara tentang manicure, padicure, hair styling.
berbicara tentang perawatan kecantikan.
saya tak mau ribet berbicara struktur.
pinginnya cuman satu, “bablas!”.
jadi kalao pada diskusi tentang bangunan salon selalu saja di”insert” bahwa setiap tiga meter musti ada kolom!,
atau,
setiap empat meter musti ada kolom,
atau,
setiap lima meter musti ada kolom biar balok ada yang menyangga,
maka kepala saya cepat pusing.
cepat panas kayak knalpot ferari.
intinya, saya tak mau terbelenggu.
saya tak mau dibatasi.
karena kreasi jadi mandhek.
karena otak tak mau bergerak bebas bak sperma yang baru disemprotkan.
saya tak bisa begithuk.
ide dulu, beton belakangan.
kalau menuruti kata struktur, kita tak akan pernah bisa melangkah ke hari esok yang lebih hingar bingar.
kalau kita selalu berada dalam tatanan baku, kita tak bisa me-rock and roll dunia.

maka,
kala ada diskusi tentang how to start the works?.
jawabannya cukup simpel;
rules are meant to be broken!.

mas andika, sore itu datang lagi.
“gambar pergolanya sudah siap. bisa dikirim?”, katanya.
“iya. kirim saja ke tetangga kita di DUBAI”, saya menjawabnya.

Popularity: 3% [?]

Comments

There are no comments for this post.

Write a Comment