putu mahendra

saya arsitek autis

Advertisement

DSCN3268

di dubai, saya merasa berada di negeri avatar!

sepulang dari kunjungan dari combodia dan laos,
saya menuju dubai.
ini yang pertama kali saya menuju dubai. mustinya awal januari lalu, klien mengundang rapat dan “perintah” untuk terbang ke dubai datang mendadak.
sekretaris bilang sesaat setelah ia mengontak agent yang selalu mengurusi visa saya, “pak, ndak bisa mendapatkan visa dubai dalam waktu 3 hari, minimal kita butuh seminggu!”.
saya mangut mangut.

tapi cerita jadi lain, bahwa saya musti akhirnya terbang ke dubai.
2 hari setelah datang dari cambodia dan laos, saya terbang ke dubai.
bukan untuk melihat lihat kota dubai, tetapi untuk meeting.
3 malam 4 hari saya di sana.
dari lamanya saya di sana, hampir 90 persen jam luang saya, saya habiskan di dalam kamar.
dari lamanya saya di sana, 90 persen jam kerja saya, saya habiskan di tempat meeting.
artinya, saya ndak punya niat yang begtu membara untuk menelisik kotanya saat saya punya jam luang.
tak ada keinginan yang membara untuk menikmati arsitektur kotanya.
arsitektur yang serba jangkung.
saya merasa berada di negeri antah berantah.
saya merasa berada di negeri di mana penduduknya menghalalkan diri untuk hidup tanpa KTP.
tanpa indentitas.

banyak sekali box serba bentuk dari serba arsitek.
mustinya, saya menyumbang satu karya di “world island” dubai beberapa bulan lalu dengan bangunan api.
tapi bangunan api itu tak lolos dari ketertarikan klien.
syukurlah.

lain sekali dengan hampir seminggu saya berada di cambodia dan laos.
tiap menit adalah bara api untuk melihat kotanya.
tiap menit adalah semangat untuk melihat arsitekturnya.
melihat gaya hidup manusianya.
melihat matahari dan bulannya.
menelisik kelokalannya.
menjerat dan berbaur dengan identitasnya sendiri.
saya orgasme pada keadaan itu.

di dubai,
saya seperti berada di avatar.

memerlukan viagra untuk mendongkrak rasa ruang saya akan sebuah karya arsitektur,
yang tanpa identitas sama sekali.
atau mungkin saya yang terlalu syirik dan dengki terhadap karya seperti itu?.
atau saya yang terlalu tertutup terhadap dunia luar?.
atau saya memang bukan termasuk arsitek yang begitu mengagungkan benda benda kosmik seperti itu?

atau,
saya masih mungil mrengil dan perlu banyak belajar lagi?.
(oke-lah kalo begithuk……………)

Popularity: 3% [?]

Comments

There are no comments for this post.

Write a Comment