putu mahendra

saya arsitek autis

Advertisement

sekali sekali, saya selalu berpikir begini, “begini rasanya bekerja ama orang, kalau kerja untuk diri sendiri pada kantor sendiri mungkin rasanya akan lain”.

beberapa tahun lalu, sedan honda LX tahun 89 saya jual.
ini mobil pertama yang saya miliki sejak saya bekerja, atau sejak saya menjadi manusia.
mobil yang saya beli dari orang yang profesinya jual beli mobil.
mobil yang saya beli dari kantong saya sendiri, dan itupun bayarnya dengan cicil di bank.
beberapa tahun kemudian karena dirasa bisa membeli mobil anyar (dan lagi lagi musti cicil di bank), mobil “tua” honda LX ini saya jual ke orang lain.
kata calon pembeli, “bannya kok sudah aus ya mas?”,
saya mengernyitkan dahi, sebulan lalu, bannya saya gantik. gress semua. kok ada yang bilang sudah aus?.
saya tak menjawab pertanyaannya.
si calon pembeli bertanya lagi, “berapa dilego mas?”,
“35 juta”, saya menjawabnya kali ini.
calon pembeli menelisik sekujur tubuh mobil.
tangannya memegang megang seluruh bagian body.
mesin dihidupkan.
“suaranya mesinnya kok sudah sangar gini ya, boleh tawar?”, katanya lagi.
saya hanya tersenyum. sebelum menjualnya, saya sempet membongkar mesinnya. menggantikan seluruh isi tengah perutnya. setidaknya suaranya semakin halus. tapi, kenapa dia bilang suaranya sangar gituh?.
“bolehlah ditawar mas, sedikit aja”, saya menjawabnya.
“30 ya?, katanya.
saya terkejut.
mata calon pembeli tetap menelisik.
katanya lagi, “ini joknya sudah robek loh, spionnya juga sudah beret beret. plafondnya kotor banget. acnya tak dingin”, ia berkata lagi. “kalo 30 juta mungkin rada mahal, 27.5 juta dah, saya bayar hari ini”, ia melanjutkan.
saya tertegun.
pembeli, di mana mana mempunyai strategi mulut bagai ular. ia cerca sedemikian rupa agar nyali saya turun dan tak berkutik.

teman saya yang bekerja sebagai arsitek, datang ke kantor saya.
ia bilang, “tu, klien saya meminta saran, bagaimana kalau material yang saya pakai, ketebalannya dirubah. dari satu senti menjadi setengah senti”,
saya berpikir.
“memang kamu pakai material apa, buat apa?”, saya bertanya. tangan saya masih tetap menggambar.
“materialnya besi. besi ini mau saya pakai tembok”, ia menjawab.
“saya pikir, boleh saja toh, kan ketebalannya kagak dilihat, yang dilihat cuman finishingnya doang”, saya menjawabnya.
mata rekan saya menatap saya. ia mangut mangut.
saya tetap menggambar.
“okehlah. akan saya iyakan”, ia pergi. badannya menghilang di balik pintu.
saya tetap menggambar.
sebulan kemudian, rekan saya ini datang lagi.
wajahnya merah. tubuhnya menggigil.
“kenapa kau?”, saya tanya dia.
saya suruh office boy memberinya es teh.
rekan saya duduk. mulutnya terkatup.
office boy datang dan memberinya minuman itu.
“minum dulu boi, baru cerita”, saya menghiburnya.
rekan saya menyerupt es teh. tubuhnya lambat laun berubah warna.
wajahnya kini nampak lebih lembut.
“ingat besi itu?”, ia memulai percakapan.
saya berhenti menggambar, “iya, ingat. kenapa?”.
“tadi klien ane bilang mereka ingin besi itu diganti dengan material lain saja!”, matanya mendelik.
“memang kenapa?” saya bertanya.
“dia bilang susah dapatinnya!”, katanya. “susah merawatnya. permukaannya licin, takutnya mereka akan kepleset. lagian kalau ndak dirawat akan karat!. kalao sudah kepleset, takutnya lagi akan membuat luka. kalau sudah luka dan terkena karat, kan tetanus!”, ia melanjutkan lagi.
“dulu dia nawar dari satu senti ke lima mili. ane oke-kan saja. eh..kini mereka mau ganti..!”, matanya membesar.
saya tertawa.
terbahak bahak.
bukan karena tetanusnya. bukana karena karatnya.
tapi jadi ingat dengan pembeli mobil sedan tua saya yang dulu itu.

“lha..bos kamu gimana pendapatnya?”, saya bertanya.
“dia oke-kan juga..”, wajahnya menunduk.
saya tersenyum.
“lha, kan kamu yang mendisain, mustinya kamu bisa kasih pendapat ke bos kamu atau dia yang bertanya dulu ke kamu toh?”, saya bertanya.
mata rekan saya menerawang ke kebun di luar ruang kerja saya. mulutnya menenggak es teh itu kembali.
“yah..ginilah ndak enaknya kerja ama orang”, ia menjawab.
kemudian ia terdiam.

kalimat terakhir yang keluar dari mulut rekan saya itu, menghantam saya.
saya jadi terdiam dan berpikir.

Popularity: 7% [?]

Comments

There is one comment for this post.

  1. hey on March 9, 2010 3:26 am

    ehmm…ehmm..uhukk..uhuukkkkk…

    *ikut diam aja ah..*
    :D

Write a Comment