pernah saya temukan dalam sebuah job, kesalahan konstruksi akan menjadi sebuah kekuatan. bukan semata mata sebuah kesalahan.
malah, kesalahan ini membuat karya kita semakin “powerfull”.
ini mungkin bisa terjadi dalam satu atau dua job.
tapi tak kali ini.
tukang las ini, mengerti karakter saya kalau memberinya tugas.
namanya fulkin. nama lengkapnya?, saya tak tahu.
itu juga saya baru tahu namanya fulkin, karena ia meminta nomor hp saya. setelah sekian lama menyuruhnya membuat sesuatu.
“sampeyan belum tahu nama saya toh?”, begitu dia berkata saat mencatat nomor hp saya.
“nama saya fulkin”, begitu ia melanjutkan. “kaget toh?”, ia melanjutkan lagi, karena tahu dahi saya berkerut saat mendengar namanya.
selama ini, saya hanya memanggilnya, “boss”. karena ia selalu memanggil saya “boss” juga.
ia, fulkin, mempunyai 4 atau 5 pekerja las di bengkelnya yang berjarak cuman 20 meter dari studio.
suatu hari saat ia saya kasih job untuk rumah saya,
akhirnya ia berterus terang.
“mas, sampeyan kalau memberi saya job, mbok ya yang gampang-gampang saja toh. sampeyan selalu membuat saya menderita. kok ada aja yang sampeyan pikir. aneh aneh. susah lho saya buatnya”, mukanya memelas.
anak buahnya, tersenyum.
kami kemudian tertawa.
saya selalu datang ke bengkelnya. ntah di pagi hari. ntah di sore hari.
mengamati pergerakan besi besi terangkai.
saya musti duduk bersama tukang lasnya, agar pekerjaan tak membelok terlalu keras.
kadang, saya biarkan berimpropisasi. “terserah sampeyan menekuknya”, saya berujar.
terkadang, apa yang sudah dilas, musti dilepas kembali. “salah cuk!”, mulut saya berujar sambil tertawa.
siang itu, pas jam makan siang,
saya ke bengkelnya lagi. menjelaskan jalinan botol yang diikat oleh besi.
saya gambar di atas tanah halamannya. tak ada kertas. tak ada pensil atau pulpen.
“botol ini mas, diikat dulu dengan segitiga. masing masing segitiga kemudian di las dengan segitiga lainnya. sepanjang itu”, tangan saya menunjuk ke kanopi.
tukangnya mangut mangut.
“mengertik?”, saya meyakinkan si tukang lagi.
“okeh boss!”, ia menyahut.
fulkin tersenyum.
pas pemasangan kanopi di rumah;
saya tak bisa mengawasinya.
pekerjaan di sanur begitu galak dan runyam.
saat melintas di depan rumah, sekian tukangnya sedang sibuk memasang pengerek yang terpasang didinding pagar. kanopi terasa berat.
saat sore menjelang, saya melihat pekerjaannya. mereka, fulkin dan tukangnya telah pergi.
“ya.. tuhan.., meraka telah salah buat bracket botol!”.
alamaakk…saya membuat kesalahan!. tak duduk berlama lama bersama mereka.
terkadang, impropisasi tukang terlalu melebar dari perintah.
terkadang, kesalahan yang terjadi dalam desain menjadi kekuatan tersendiri.
tapi, mungkin tak kali ini.
saya musti memperbaikinya. di lain waktu, menunggu uang menumpuk dulu.
Popularity: 14% [?]










salam super-
salam kenal Bli-
wah,, ini kunjungan pertama saya…
langsung saya bookmark blognya…
jangan lupa kunjungan baliknya ya…