putu mahendra

saya arsitek autis

Advertisement

in/out

January 27, 2010 | No comments | Arsitektur Tulis

senin datang lagi. saat hari gelap, ia pergi lagi.
saya bertemu selasa di saat senin pergi.
selasa digantikkan oleh rabu, saat itu saya masih tertidur pulas. rabu datang begitu saja.
kamis datang saat rabu pergi. saya lupa saya telah melakukan apa saja bersama rabu.
jumat datang saat kamis memberi saya pekerjaan yang begitu banyak. belum semua selesai bersama kamis, ia pergi.
sabtu juga begitu. datang begitu saja saat jumat pergi bersama gelap.
minggu datang, saat saya belum habis bersama sabtu.
begitu seterusnya. terasa aneh. tapi menjadi hal biasa.

teman pergi, saat saya bilang gambarnya seperti pantat kebo kena strikaan. mungkin perasaannya berujar, “gilak kau putu, ane gambar ini sampai mata belok bermalam malam, kau datang hanya semili-meter sebelum kelar dan bilang gambar ane kagak beres!. muka gila!”. ia berlalu. saya memandanginya berlalu. hilang ditelan gelap malam.
datang dan pergi memberi pelajaran; mengerti bahwa kita kurang. mengerti bahwa kita hebat tapi tapi tabu untuk berujar kita hebat.

sekian lamaran datang, di saat saya tak butuh pelamar.
porto folionya bertebal tebal kertas. penuh warna.
ada juga lamaran yang hanya terbungkus map merah. poto si pelamar pun ukuran 3×4 jadul. berserakan bersama poto poto postcard hasil kerjaanya di luar sana.
semuanya berakhir di tong sampah.
saya hanya menghela nafas. sedih.
maap.

ada klien datang.
menyampaikan keinginannya untuk didisain oleh studio ini.
saya hanya mangut mangut sambil menahan mulut untuk menguap.
mungkin karena tertahan untk menguap, ia keluar melalui pantat; kentut jadinya!.

email datang membawa kepergian;
katanya, “job ini jangan diteruskan. kayaknya mereka sudah kehabisan dana. krisis ekonomi membuat mereka tak mampu untuk meneruskan”.
saya hanya bisa meghela nafas.
tilpun saya berdering sesaat.
sms masuk, “tu, anak ke tiganya bli kadek sudah lahir kemarin petang di rs ini”.
saya hanya bisa menghela nafas.
rasa bahagia.

ada teman baru bergabung. laki dan perempuan.
ganteng dan cantik. semuanya pintar. dan semuanya mempunyai kekurangan.
mereka akan menjadi bagian dari keluarga sanur. memperkaya garis garis sanur.
memberi inspirasi di hari depan.
bersama tertawa.
bersama menggali kubur ilmu.
bersama menaklukan beban.

suatu pagi di kantor sanur;
perempuan datang ke ruangan.
saya masih menggambar.
“maap pak putu”, begitu ia memulai.
saya menebak nebak. mata kami berhadapan.
“mulai bulan depan, saya hendak resign”, katanya.
baterei saya langsung drop. matahari pergi begitu saja. hitam gelap datang. kebun di luar ruang kerja saya menjadi hitam seketika. saya tak bisa melihat.
“saya akan menikah”, ia melanjutkan.
wajahnya memudar. matanya berlinang. bibirnya berusaha tersenyum. antara bahagia dan duka.
saya lesu. tulang berantakan. seperti dihantam senjata gadanya bima.
antara senang dan duka,
saya hanya menghela nafas. terkadang saya merasakan, di sanur telah sekian banyak memperkosa waktunya.

itulah hidup.
selalu datang dan pergi.
ntah suka ntah duka, pada datang dan pergi memberi pelajaran begitu berarti;
bagaimana mereka akan selalu ada di hati.

Popularity: 6% [?]

Comments

There are no comments for this post.

Write a Comment